Anda di halaman 1dari 3

6.

Cara mengadakan Hipotik

Menurut pasal 1171 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Hipotik hanya dapat
diadakan dengan akta autentik, begitupula dengan penjualan, penyerahan serta pemberiannya
hanya dapat diadakan dengan akta autentik (Pasal 1172 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata).

Akan tetapi, ketentuan tersebut diatas, di Indonesia tidak pernah berlaku, karena
menurut ketentuan Pasal OV Peraturan Peralihan Perundang-undangan (staatsblaad). 1848
No. 10 yang menyatakan bahwa, bahwa satu sama lain harus dilakukan dengan cara membuat
suatu akta kehakiman (gerechtelijke acte). Berdasarkan staatsblaad 1997 No. 53 Pasal 31 OV
(Peraturan Peralihan Perundang-undangan) tersebut kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi,
yang menyatakan bahwa hipotik harus dibuat dengan akta yang dibuat di muka kepada kantor
tanah, dan setelah itu hipotik harus didaftarkan. Jadi kepala kantor tanah (kadaster)
mempunyai kedudukan rangkap, disamping sebagai kepala seksi pendaftaran tanah, juga
sebagai pegawai balik nama. Begitupula dengan kewajibannya, disamping berkewajiban
untuk melakukan pendaftaran atau pembukuan juga berkewajiban membuat akta.

Dengan berlaku Undang-undang Pokok Agraria, pembebanan hipotik harus dibuat


dengan akta yang autentik yang dibuat oleh dan dihadapan pejabat yang dirujuk oleh Menteri
Agraria (Pasal 19 Peraturan Pemerintahan No. 10 tahun 1961) sedangkan pejabat yang
dimaksud itu disebut Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Adapun yang dapat diangkat Pejabat Pembuat Akta Tanah adalah :

1. Notaris

2. Pegawai dalam lingkungan Departemen Agraria

3. Pamong Praja yang pernah melakukan tugas-tugas pejabat

4. Orang yang lulus ujian yang diadakan oleh Menteri Agraria (Pasal 3 Peraturan
Menteri Agraria No. 10 tahun 1961)

Untuk suatu kecamatan atau daerah yang disamakan dengan kecamatan, diangkat
seorang pejabat yang bertugas membuat akta yang dimaksud dalam pasal 10 Peraturan
Pemerintah No. 10 tahun 1961. Seorang pejabat hanya berwenang membuat akta mengenai
tanah yang terletak dalam daerah kerja (Pasal 2 ayat 1 Peraturan Menteri Agraria No. 10
tahun 1961).

Berhubung grose (salinan pertama) akta hipotik mempunyai kekuatan eksekutorial


seperti putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, sesuai dengan
keputusan Direktorat Jenderal Agraria No. SK 67/DDA/1968 tertanggal 12 Juni 1968, kepala
Hipotik tersebut berbunyi DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHAN YANG
MAHA ESA.

Akta pemberian hipotik dibuat dua rangkap, kedua-duanya ditanda tangani bukan saja
oleh pejabat pembuat akta tanah tetapi juga oleh para pihak (debitor dan kreditor) dan para
saksi. Satu lembar dari akta tersebut disimpan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah dan satu
lembar lainnya b eserta sertifikat hak atas tanah dan suratbsurat lainnya yang
diperlukan,disampaikan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah atau Kreditor kepada kantor
pendaftaran tanah untuk didaftarkan dalam bukiu tanah.

Oleh kantor pendaftaran tanh sehubung dengan diterimanya satu lembar aktapemberian
hipotik beserta sertifikat hak atas tanah dan surat surat lain yang diperlukan disampaikan oleh
Pejabat Pembuat Akta Tanah atau kreditor,kemudian:

a) Membuat buku tanah untuk hipotik yang bersangkutan.


b) Membuat sertifikat hipotik yang terdiri atas salinan buku tanah dan salinan akta
pemberian hipotik.
c) Mencatat adanya hipotik pada buku tanah serta sertifikat hak atas tanah yang
dibebani.

Setelah selesai semua dilakukan oleh kepala kantor pendaftaran tanah, maka sertifikat hak
atas tanah kemudian diberikan kepada pemberian hipotik. Tetapi pada umumnya sertifikat
hak atas tanah disimpan oleh penerima hipotik(hypoteheeknemer atau hypoheekhouder)
sampai pemberi hipotik (hypoteheekgever)melunasi utangnya.

Dengan selesainya pendaftaran hipotik ini,maka selesai pula proses pembebanan hipotik
tersebut,dan sejak itu penerima hipotik(hypoteheeknemer atau hypoteheekhouder) sebagai
kreditor mempunyai kedudukan istimewa dalam pelunasan piutangnya dari pada kreditor
lainnya.

7. Isi Akta Hipotik

Pada umunya , isi dari akta hipotik dapat dibagi atas dua bagian,yaitu:

a) Isi yang wajib


b) Isi yang fakultatif.

Ad a. Isi yang wajid, wajib berisikan hal hal yang wajib dimuat,misal seperti benda apa
yang dibebani hipotik itu (tanah,rumah,dan lain lain),luasnya /ukurannya berapa,letaknya
dimana, berbatasan dengan miliki siapa, jumlah benda dan lain-lain.

Ad. B. Isi yang fakultatif, yaitu berisikan hal-hal yang secara fakultatif dimuat, misalnya
berisi janji-jani (beeding) yang diadakan antara pemberi hipotik (hypoteheekgever) sebagai
debitor dengan penerima hipotik (hypoteheeknemer atau hypoteheekhouder) sebagai kreditor.

Adapun janji-janji itu biasanya :

1. Janji untuk menjual dengan kekuasaan sendiri (beeding van eigenmetige verkoop)

2. Janji tentang sewa (huurbeding)

3. Janji tentang asuransi (asurantiebeeding)

4. Janji untuk tidak dibersihkan (beeding van neidzuivering)


8. Kuasa memasang Hipotik

Berdasarkan pasal 1178 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Surat Kuasa
memasang hipotik ini harus dibuat dalam bentuk akta autentik yaitu akta notaris bukan
PPAT. Surat kuasa memasang hipotik ini lazimnya tidak dapat dicabut kembali oleh debitor,
maksudnya agar supaya kreditor setiap saat diperlukan dapat melakukan pemasangan hipotik,
dalam istilah perbankan disebut pemasangan nyata.

Sebenarnya pemberian kuasa yang tidak dapat dicabut kembali ini secara yuridis
bertentangan dengan pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berbunyi
pemberian kuasa berakhir dengan ditariknya kembali surat kuasa,dengan pemberitahuan
penghentiankuasanya oleh sikuasa,dengan meninggal pengampunya,atau pailit pemberian
kuasa maupun si kuasa dengan perkawinan perempuan yang memberikan atau menerima
kuasa.

9. Hipotik Untuk Benda yang Akan Ada

Berdasarkan Pasal 1813 Kitab Undang Undang Hukum Perdata, yang berbunyi
hipotik hanya dapat diletakkan atas benda benda yang sudah ada,dimana hipotik atas benda
benda yang akan ada kemjudia adalah batal,dapat kita ketahui bahwa hipotik hanya dapat
diletakkan atas benda benda yang sudah ada saja ,sedangkan hipotik untuk benda benda yang
akan ada kemudia adalah batal,namun demikian,menurut yurisprudensi melalui figuur kredit
hipotik,dimungkinkan ada hipotik untuk benda benda yang akan ada kemudia ini.

Pemberian kredit dengan jaminan hi[potik atas benda benda yang akan ada kemudia
ini sering diberikan untuk pembangunan perumahan,yaitu jaminan rumah yang masih akan
dibangun. Kredit yang diberikan sebagian demi sebagian sesuai dengan kemajuan
pembangunan rumah tersebut,sampai akhir jumlah maksimum kredit tercapai,dan rumah
yang dijadikan jaminan yang tadinya belum ada menjadi ada (selesai) yang kemudian
merupakan jaminan seluruh jumlah maksimum utang debitor. Pengecualian lain adalah
seperti yang disebutkan dalam pasal 1166 Kitab Undang Undang Hukum Perdata yang
menyatakan bahwa bagian yang tidak terbagi dalam suatu benda tidak bergerak yang menjdi
kepunyaan beberapa orang bersama-sama,dapat dibebani hipotik,setelah benda-benda hipotik
itu dibagi,maka hipotik hanya tetap melekat diatas bagian yang jatuh pada dubitor yang
memberikan hipotik dengan tidak mengurangi pasal 1341 Kitab Undang Undang Hukum
Perdata.