Anda di halaman 1dari 74

BAB 3

PERENCANAAN

3.1 Pengorganisasian
Pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan Profesional dalam
mementukan kebijakan-kebijakan internal yang sifatnya umum, kelompok
menyusun struktur organisasi sebagai berikut:
Ketua : Intan Ayu Agustin
Sekretaris 1 : Afifa Dwi Mas’udah
Sekretaris 2 : Leli Laysia Larasatai
Bendahara 1 : Jati Dara Anragani
Penanggung Jawab Kegiatan
1. MAKP : Zahrotul Camelia
2. Penerimaan Klien Baru : Riskhi Maulidya
3. Timbang Terima : Dhinda Yulia Puspitasari
4. Sentralisasi Obat : Aisyah Dyni
5. Ronde Keperawatan : Rizky Ivan Perdana
6. Supervisi : Arina Fitri
7. Discharge Planning : Tias Noradiyatul
8. Pendokumentasian Kep. : Arif Kurniawan
9. Penyuluhan RS : Intan Ayu Agustin
Leli Laysia Larasati

Adapun dalam pengelolaan ruang rawat akan diselenggarakan


pengorganisasian dalam pembagian peran sebagai berikut:
1. Kepala Ruangan
2. Perawat Primer (PP)
3. Perawat Associate (PA)

Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan, setelah pelaksanaan


Model Asuhan Keperawatan Profesional di ruangan.

70
3.2 Strateri Kegiatan
3.2.1 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
Setelah dilakukan analisis dengan metode SWOT maka kelompok
praktik klinik manajemen keperawatan di Ruang Seruni A menerapkan
Model Asuhan Keperawatan Profesional modifikasi Tim-Primer.
1. Bagan Organisasi MAKP Modifikasi Tim Primer

Kepala Ruangan

Perawat Primer 1 Perawat Primer 2

P. Associate P. Associate

P. Associate P. Associate

P. Associate P. Associate

P. Associate P. Associate

7-8 pasien 7-8 pasien


Gambar 3.1 Bagan Organisasi MAKP Modifikasi Tim-Primer
(Nursalam, 2015).

2. Peran dan Tugas Masing-Masing Perawat dalam MAKP Metode


Tim Primer (Nursalam, 2015)
1) Tugas Perawat Primer :
a. Mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif
b. Membuat tujuan dan rencana keperawatan
c. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dinas

71
d. Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan
yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain
e. Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
f. Menerima dan menyesuaikan rencana
g. Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
h. Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan
lembaga sosial di masyarakat
i. Membuat jadwal perjanjian klinis
j. Mengadakan kunjungan rumah
2) Ketenagaan Metode Primer :
a. Beban kasus pasien 7-8 orang untuk satu perawat primer
b. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
c. Perawat primer dibantu oleh perawat professional lain
maupun professional sebagai perawat asosiate
3) Peran Kepala Ruangan/Bangsal dalam Metode Tim Primer :
a. Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer
b. Orientasi dan merencanakan karyawan baru
c. Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada
perawat asisten
d. Mengevaluasi kerja
e. Merencanakan/ menyelenggarakan pengembangan staf
3. Kriteria Hasil
1) Evaluasi Struktur :
a. Penghitungan jumlah tenaga perawat
b. Penghitungan jumlah kebutuhan perawat.
c. BOR.
d. Pembagian kriteria pasien : minimal care, partial care,
total care.
1. Kriteria minimal care : kegiatan sehari-hari dapat
dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak
ada reaksi emosional, pasien memerlukan orientasi

72
waktu, tempat dan pergantian shift, tindakan
pengobatan biasanya ringan dan sederhana.
2. Kriteria partial care : Kegiatan sehari-hari untuk
makan dibantu, mengatur posisi waktu makan, memberi
dukungan agar mau makan, eliminasi dan kebutuhan
diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar
mandi. Penampilan pasien sakit sedang. Tindakan
perawatan pada pasien ini monitor tanda – tanda vital,
periksa urin reduksi, fungsi fisiologis, status emosional,
kelancaran drainase atau infuse.
3. Kriteria total care : Kebutuhan sehari-hari tidak
bisa dilakukan sendiri,semua dibantu oleh perawat,
penampilan sakit berat dan memerlukan observasi
secara intensive.

2) Evaluasi Proses :
a. Terbentuk struktur organisasi perawat primer di ruang
saraf A (Karu, PP, dan PA).
b. Terdapat diskripsi tugas dan tanggung jawab perawat
primer, perawat associate, kepala ruangan
3) Evaluasi Hasil :
Diterapkannya model asuhan keperawatan profesional
Modifikasi Tim Primer
3.2.2 Penerimaan Klien Baru
Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri keperawatan
profesional melalui kerjasama berbentuk kolaborasi dengan klien dan
tenaga lain dengan memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
lingkungan wewenang dan lingkungan tanggung jawabnya. Menurut
Nursalam (2016), keperawatan sebagai pelayanan yang profesional
yang bersifat humanistik, menggunakan pendekatan holistik, dilakukan
berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berorientasi kepada kebutuhan

73
obyektif klien, mengacu pada standar asuhan keperawatan dan
menggunakan etika keperawatan sebagai tuntunan utama.
Penerimaan klien baru adalah salah satu bentuk pelayanan yang
melibatkan klien dan keluarga. Proses penerimaan klien baru
merupakan hal yang sangat mempengaruhi mutu kualitas pelayanan.
Menurut Nursalam (2015) penerimaan klien baru adalah metode dalam
menerima kedatangan klien baru (klien dan atau keluarga) di ruang
pelayanan keperawatan. Khususnya pada rawat inap atau keperawatan
intensif. Dalam proses penerimaan klien baru disampaikan beberapa hal
mengenai orientasi ruangan, perawatan, medis, dan tata tertib ruangan
serta penyakit klien (Nursalam, 2015).
1. Tahap penerimaan klien baru antara lain:
1) Tahap Pra Penerimaan Klien Baru
a. Menyiapkan kelengkapan administrasi
b. Menyiapkan kelengkapan kamar sesuai pesanan
c. Menyiapkan format penerimaan klien baru
d. Menyiapkan buku status klien dan format pengkajian
keperawatan
e. Menyiapkan informed consent sentralisasi obat.
f. Menyiapkan nursing kit.
g. Menyiapkan lembar tata tertib klien, keluarga, dan
pengunjung ruang
2) Tahap Pelaksanaan Penerimaan Klien Baru
a. Klien datang diruangan diterima oleh kepala ruangan atau
perawat primer atau perawat yang diberi delegasi
b. Perawat memperkenalkan diri pada klien dan keluarganya

c. Perawat menunjukkan kamar/tempat tidur klien dan


mengatur ke tempat yang telah ditetapkan.
d. Perawat bersama karyawan lain memindahkan klien ke
tempat tidur (apabila klien datang dengan branchard/kursi
roda) dan berikan posisi yang nyaman).
e. Perkenalkan klien baru dengan klien yang sekamar.

74
f. Kaji keadaan umum klien.
g. Perawat melakukan pengkajian data awal sesuai format.
h. Barang-barang untuk klien diinventaris, yang diletakkan di
lemari klien yang tidak diperlukan klien dibawa pulang oleh
keluarganya.
i. Setelah klien tenang dan situasi sudah memungkinkan
perawat memberikan informasi kepada klien dan keluarga
tenang:
a) Letak kamar perawat, dokter, kamar mandi/WC dan
dapur
b) Jam berkunjung:
 Senin s/d Minggu pukul 16.00-17.00 WIB
 Minggu dan Hari Libur pukul 10.00-112.00 WIB
dan sore hari pukul 16.00-18.00
c) Persyaratan menunggu apabila diperlukan: penunggu
adalah keluarga yang terdekat dan masing-masing klien
hanya boleh satu penunggu.
d) Administrasi ruangan yang perlu diketahui: santralisasi
obat dan tata cara pembayaran jasa RS.
e) Dokter, nama kepala ruangan, perawat penanggung
jawab klien dan tenaga non keperawatan yang akan
berhubungan dengan klien.
f) Tunjukkan alat-alat yang dapat digunakan klien (tempat
tidur, lampu, kipas angin, toilet).
g) Perawat menanyakan kembali tentang kejelasan
infromasi yang telah disampaikan.
h) Apabila klien atau keluarga sudah jelas, maka diminta
untuk menandatangani informed consent.
i) Perawat mempersilahkan anggota keluarga yang lain
untuk keluar.
2. Penerapan penerimaan klien baru:
1) Penanggung jawab: Riskhi Maulidya

75
2) Tujuan:
Diharapkan setelah dilakukan praktek manajemen oleh
mahasiswa program studi DIV Keperawatan Gawat Darurat
Poltekkes Surabaya di Ruang Seruni A mampu menerapkan
penerimaan pasien baru secara baik.
3) Waktu: Minggu II – Minggu III
4) Rencana Strategi
a. Melaksanakan penerimaan klien baru secara lengkap
sesuai format yang ada.
b. Membuat welcom book yang berisi tata tertib dan denah
ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
c. Optimalisasi identifikasi dan pemasangan gelang pada
klien baru.
5) Kriteria Evaluasi
a) Evaluasi struktur
(1) Sarana dan prasarana yang menunjang antara lain
lembar penerimaan klien baru, informed consent
sentralisasi obat, format pengkajian, nursing kit,
status, buku panduan klien, dan kartu pengunjung.
(2) Penerimaan klien baru pada shift pagi dilakukan oleh
PJ Unit, PP, dan PA, sedangkan pada shift sore
dilakukan oleh PP dan PA.
b) Evaluasi proses
(1) Klien baru disambut oleh PJ Unit, PP, dan PA.
(2) PP melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik
dengan dibantu oleh PA.
(3) Klien baru diberi penjelasan tentang orientasi
ruangan, perawatan (termasuk sentralisasi obat),
medis, serta tata tertib ruangan.
(4) Perawat melakukan komunikasi terapeutik dengan
klien dan keluarga.
c) Evaluasi hasil

76
(1) Hasil penerimaan klien baru didokumentasikan
dengan benar.
(2) Klien mengetahui tentang fasilitas ruangan,
perawatan, medis, serta tata tertib ruangan.
(3) Klien sudah menandatangani persetujuan sentralisasi
obat.
3.2.3 Timbang Terima
Timbang terima klien (hand over) merupakan cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu laporan yang berkaitan dengan
kondisi klien. Timbang terima harus dilakukan seoptimal mungkin
dengan menjelaskan secara singkat, jelas, dan lengkap tentang tindakan
mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan /belum dan
perkembangan klien saat itu. Informasi yang disampaikan harus akurat
sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan
sempurna (Nursalam, 2015).
Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan
menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang
terima merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian
shift yang disampaikan secara tertulis dan lisan oleh perawat primer
yang bertanggungjawab. Timbang terima klien harus dilakukan
seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan
lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang
sudah dilakukan atau belum, dan perkembangan pasien saat itu
(Nursalam,2015).
Timbang terima (hand over) merupakan teknik atau cara untuk
menyampaikan laporan yang berkenaan dengan keadaan klien.
1. Metode pelaporan
1) Perawat yang bertanggung jawab terhadap klien melaporkan
langsung kepada perawat penanggung jawab berikutnya dengan
membawa laporan timbang terima.
2) Pelaksanaan timbang terima dapat dilakukan di ruang perawat,
kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi klien satu-persatu

77
terutama pada klien yang memiliki masalah khusus serta
memerlukan observasi lebih lanjut.
2. Prosedur timbang terima
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi :
1) Persiapan
a. Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift atau
operan.
b. Prinsip timbang terima, semua klien baru masuk dan klien
yang dilakukan timbang terima khususnya klien yang
memiliki permasalahan yang belum atau dapat teratasi
serta yang membutuhkan observasi lebih lanjut.
c. PA/PP menyampaikan timbang terima kepada PP (yang
menerima pendelegasian) berikutnya, hal yang perlu
disampaikan dalam timbang terima:
a) Aspek umum yang meliputi M1 sampai dengan M5
b) Jumlah klien
c) Identitas klien dan diagnosis klien
d) Data (keluhan atau subjektif dan objektif)
e) Masalah keperawatan yang masih muncul
f) Intervensi keperawatan yang sudah dan belum
dilaksanakan (secara umum)
g) Intervensi kolaboratif dan dependen
h) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan
(persiapan operasi, pemeriksaan penunjang, dan
program lainnya)
2) Pelaksanaan
Timbang terima dilaksanakan oleh perawat primer kepada
perawat primer yang mengganti jaga pada shift berikutnya :
Nurse Station
a. Kedua kelompok dinas sudah siap (shift jaga)
b. Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
c. Kepala ruangan membuka acara timbang terima

78
d. Penyampaian yang jelas, singkat dan lengkap oleh
perawat jaga bedasarkan NIC
e. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5
menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan
penjelasan yang lengkap dan rinci
f. Perawat jaga shift selanjutnya dapat melakukan
klarifikasi, Tanya jawab dan melakukan validasi
terhadap hal – hal yang telah ditimbang terimakan dan
berhak menanyakan mengenai hal – hal yang kurang
jelas
Bed Klien
a. Kepala ruangan menyampaikan salam dan PP
menanyakan kebutuhan dasar klien
b. Perawat jaga selanjutnya mengkaji secara penuh
terhadap masalah keperawatan, kebutuhan, dan tindakan
yang telah atau belum dilaksanakan, serta hal – hal
penting lainnya selama masa keperawatan.
c. Hal – hal yang sifatnya khusus dan memerlukan
perincian yang matang sebaiknya dicatat secara khusus
untuk kemudian berserah terimakan kepada petugas
berikutnya.
3) Post Timbang Terima
a. Diskusi
b. Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara
langsung pada format timbang terima yang
ditandatangani oleh PP yang jaga saat itu dan PP yang
jaga berikutnya diketahui oleh kepala ruangan
c. Ditutup oleh kepala ruangan

79
3. Alur timbang terima

SITUATION

Data Demografi Diagnosis Diagnosis Keperawatan (Data)


Medis

Background

Riwayat Keperawatan

Assessment; KU; TTV; GCS; Skala


Nyeri; Skala Resiko Jatuh; ROS
(poin yang penting)

Recommendation :
Tindakan yang sudah
Dilanjutkan
Stop
Modifikasi
Strategi baru

80
Gambar 3.2 Diagram Alur Pelaksanaan Timbang Terima

4. Penerapan timbang terima


1) Penanggung jawab : Dhinda Yulia Puspitasari
2) Tujuan:
Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan timbang terima
dengan baik.
3) Waktu : Minggu II
4) Rencana Strategi:
(1) Mendiskusikan teknik timbang terima bersama-sama
dengan staf perawatan di Ruang Seruni A RSUD Dr.
Soetomo Surabaya.
(2) Timbang terima dapat dilakukan secara lisan dan tertulis
dalam buku timbang terima.
(3) Merevisi materi timbang terima dengan berfokus pada
masalah keperawatan.
(4) Melaksanakan timbang terima bersama dengan kepala
ruangan dan staf keperawatan.
(5) Dilaksanakan pada setiap pergantian shift yaitu oleh
perawat primer maupun Nurse in Charge.
(6) Dipimpin oleh kepala ruangan.
(7) Diikuti perawat, mahasiswa yang berdinas atau akan
berdinas.

81
(8) Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat,
sistematis yang menggambarkan kondisi saat ini dengan
tetap menjaga kerahasiaan klien.
(9) Timbang terima berorientasi pada permasalahan
keperawatan, rencana keperawatan, tindakan dan
perkembangan kesehatan klien.
(10) Mendokumentasikan hasil timbang terima klien pada buku
operan.

5) Kriteria Evaluasi:
(1) Struktur
a. Menentukan penanggung jawab timbang terima
b. Menyusun teknik timbang terima bersama-sama dengan
staf keperawatan.
c. Menentukan materi timbang terima
d. Status klien disiapkan
e. Persiapan buku laporan timbang terima.
(2) Proses
a. Melaksanakan timbang terima bersama
dengan Karu dan staf keerawatan pada pergantian shift.
b. Timbang terima dipimpin oleh perawat
primer sebagai penanggung jawab shift
c. Timbang terima diikuti oleh perawat,
mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas.
(3) Hasil
a. Perawat mampu
melaporkan timbang terima yang berisi (identitas,
diagnosis medis, masalah keperawatan, intervensi yang
sudah dan belum dilaksanakan, intervensi kolaboratif,
rencana umum klien).

82
b. Perawat dapat
mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
c. Dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi antar perawat.
d. Menjalin hubungan
kerja sama yang bertanggung jawab antar perawat.
e. Pelaksanaan asuhan
keperawatan dapat berjalan berkesinambungan.
3.2.4 Sentralisasi Obat
Sentralisasi obat adalah pengelolaan seluruh obat yang sepenuhnya
dilakukan oleh perawat sebelum obat diberikan kepada pasien
(Nursalam, 2015). Teknik pengelolaan obat kontrol penuh (sentralisasi)
adalah pengelolaan dimana seluruh obat yang akan diberikan pada
pasien diserahkan sepenuhnya kepada perawat termasuk pengeluaran
dan pembagian obat. Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta
mengontrol penggunaan obat. Obat yang telah diresepkan dan telah
diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat dengan menerima
lembar serah terima obat (Hidayah, 2014).
1. Teknik Sentralisasi Obat
Pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya dilakukan oleh
perawat.
1) Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan
yang secara operasional dapat didelegasikan kepada staf yang
ditunjuk.
2) Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol
penggunaan obat.
3) Penerimaan obat.
a. Obat yang telah diresepkan ditunjukkan kepada perawat dan
obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada
perawat dengan menerima lembar terima obat.
b. Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat,
jumlah dan sediaan (bila perlu) dalam kartu kontrol, dan

83
diketahui (ditanda tangani) oleh keluarga atau pasien dalam
buku masuk obat keluarga atau pasien selanjutnya
mendapatkan penjelasan kapan atau bilamana obat tersebut
akan habis. Serta penjelasan tentang 10B (pasien, obat,
dosis, waktu, rute/cara pemberian, pengkajian,
dokumentasi, Pendidikan kesehatan medikasi, evaluasi,
penolakan).
c. Pasien atau keluarga selanjutnya mendapatkan salinan obat
yang harus diminum beserta kartu sediaan obat
d. Obat yang telah diserahkan selanjutnya disimpan oleh
perawat dalam kotak obat (Nursalam, 2013).

4) Pembagian obat.
a. Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam
buku daftar pemberian obat.
b. Obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh
perawat dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam
buku daftar pemberian obat; dengan terlebih dahulu
dicocokkan dengan terapi yang diinstrusikan dokter dan
kartu obat yang ada pada pasien.
c. Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan macam
obat, kegunaan obat, jumlah obat dan efek samping.
Usahakan tempat/wadah obat
d. Kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi. Pantau efek
samping pada pasien.
e. Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi
oleh kepala ruang atau petugas yang ditunjuk dan
didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat-obatan
yang hampir habis akan diinformasikan kepada keluarga
kemudian dimintakan resep (jika masih perlu dilanjutkan)
kepada dokter penanggung jawab pasien (Nursalam, 2013).
5) Penambahan obat baru.

84
a Bilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis
atau perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini
akan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus
dilakukan perubahan dalam kartu sediaan obat.
b Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu
saja) maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk
obat dan selanjutnya diinformasikan kepada keluarga
dengan kartu khusus obat (Nursalam, 2013).
6) Obat khusus.
a Obat dikategorikan khusus apabila sediaan memiliki harga
yang cukup mahal, menggunakan alur pemberian yang
cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar atau
hanya diberikan dalam waktu tertentu/sewaktu saja.
b Pemberian obat khusus menggunakan kartu khusus obat,
dilaksanakan oleh perawat primer.
c Informasi yang diberikan kepada pasien atau keluarga;
nama obat, kegunaan obat, waktu pemberian, efek samping,
penanggung jawab pemberi, dan wadah obat sebaiknya
diserahkan atau ditunjukkan kepada keluarga setelah
pemberian. Usahakan terdapat saksi dari keluarga saat
pemberian obat (Nursalam, 2013). Seorang manager
keperawatan dapat mendidik staf mengenai obat dengan
cara-cara berikut ini :
a) Membuat catatan mengenai obat-obatan yang sering
dipakai, jelaskan penggunaan obat dan efek samping,
kemudian berikan salinan kepada semua staf.
b) Tuliskan dosis yang tepat obat-obatan yang sering
digunakan dan gantungkan di dinding.
c) Adakan pertemuan staf untuk membahas penyebab
pemborosan obat.
d) Beritahu kepada semua staf mengenai harga bermacam-
macam obat.

85
e) Aturlah kuliah atau program diskusi dan bahaslah
mengenai satu jenis obat setiap minggu pada pertemuan
staf.
f) Sediakan satu atau lebih eksemplar buku farmakologi
sederhana di perpustakaan.

2. Alur Pelaksanaan Sentralisasi Obat

Dokter
Koordinasi dengan perawat

Pasien/ Keluarga

Farmasi/ Apote k

Pasien/Keluarga

PP/ Perawat yang menerima  Surat perset ujuan sentralisasi


obat dari perawat
 Lembar serah terima obat
Pengaturan dan pengelolaan  Buku serah terima/ masuk
oleh perawat

Pasien/Keluarga

86
Gambar 3.3 Bagan Alur Pelaksanaan Sentralisasi Obat (Nursalam,
2015)

3. Penerapan Sentralisasi
1) Penanggung jawab : Aisyah Dyni Tribiyantoro
2) Tujuan:
Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan sentralisasi obat
dengan baik.
3) Waktu : Minggu II
4) Kriteria Evaluasi

a. Evaluasi struktur
(1) Sarana dan prasarana yang menunjnag antara lain
lembar informed consent sentralisasi obat.
(2) Pelaksanaan sentralisasi obat klien dilakukan oleh PJ
unit, PP, dan PA

b. Evaluasi proses
(1) Klien baru diberi penjelasan tentang sentralisasi obat
(2) Perawat melakukan komunikasi terapeutik dengan
klien dan keluarga
c. Evaluasi hasil
(1) Hasil pelaksanaan sentralisasi obat didokumentasikan
dengan benar
(2) Klien mengetahui tentang sentralisasi obat
(3) Klien sudah menandatangani persetujuan sentralisasi
obat

87
3.2.5 Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk
mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat
di samping melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan
asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu, harus dilakukan oleh perawat
primer dan/atau konselor, kepala ruangan, dan perawat associate yang
perlu juga melibatkan seluruh anggota tim kesehatan (Nursalam, 2016).
1. Peran Masing-Masing
Anggota Tim
1) Peran perawat primer dan perawat associate
a. Menjelaskan data klien yang mendukung masalah klien.
b. Menjelaskan diagnosis keperawatan.
b. Menjelaskan intervensi yang dilakukan.
c. Menjelaskan hasil yang didapat.
d. Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang
diambil.
b. Menggali masalah-masalah klien yang belum terkaji.
2) Peran perawat konselor
a. Memberikan justifikasi.
b. Memberikan reinforcement.
Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi
keperawatan serta rasional tindakan.
c. Mengarahkan dan koreksi.
d. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari.
2. Penerapan Ronde
Keperawatan
1) Penanggung jawab : Jati Dara Anragani
2) Tujuan:

88
Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan ronde keperawatan
dengan baik.
3) Waktu : Minggu III
4) Rencana Strategi:
i. Persiapan anggota dalam kegiatan ronde keperawatan
terutama yang akan menyampaikan materi Ronde
Keperawatan.
ii. Pembukaan acara dilakukan oleh Kepala Ruangan dan
penyampaian materi oleh Perawat Primer jaga pagi.
iii. Diskusi tentang masalah yang belum terselesaikan dari
validasi data antar tim ronde
iv. Menyimpulkan dan merekomendasikan solusi yang
dilakukan dalam mengatasi masalah
5) Kriteria Evaluasi
(1) Struktur
a. Persyaratan administratif (informed consent, alat, dll).
b. Tim ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan
ronde keperawatan.
c. Persiapan dilakukan sebelumnya.
(2) Proses
a. Seluruh anggota tim ronde keperawatan mengikuti
kegiatan dari awal hingga akhir.
b. Seluruh anggota tim ronde keperawatan berperan aktif
dalam kegiatan ronde sesuai peran yang telah
ditentukan.

(3) Hasil
a. Klien merasa puas dengan hasil pelayanan.
b. Masalah klien dapat teratasi.
c. Perawat dapat:
 Menumbuhkan cara berfikir yang kritis.

89
 Meningkatkan cara berfikir yang sistematis.
 Meningkatkan kemampuan validasi data klien.
 Meningkatkan kemampuan menentukan dan
memodifikasi diagnosis keperawatan.
 Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan
keperawatan yang berorientasi pada masalah klien.
3. Alur Ronde
Keperawatan

TAHAP PRA
RONDE PP

Penetapan Pasien

Persiapan Pasien :
Informed Concent
Hasil Pengkajian/
Validasi data

Apa diagnosis keperawatan?


TAHAP PELAKSANAAN DI NURSE STATION
Data apa yang mendukung?
Penyajian Bagaimana intervensi yang sudah
Masalah dilakukan?
Apa hambatan yang ditemukan?

TAHAP RONDE DI BED PASIEN


Validasi data

TAHAP PASCA RONDE Diskusi PP-PP,


Konselor-,KARU, dokter,
ahli gizi

Lanjutan diskusi di
Nurse Station

Simpulan dan
rekomendasi solusi
masalah

90
Gambar 3.4 Bagan Alur Ronde Keperawatan
3.2.6 Discharge Planning
Discharge planning / Perencanaan pulang merupakan suatu proses
yang dinamis dan sistematis dari penilaian, persiapan, serta koordinasi
yang dilakukan untuk memberikan kemuahan pengawasan pelayanan
kesehatan an pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang (Swenberg,
dalam Nursalam, 2015).
1. Komponen Perencanaan Pulang
1) Perawatan di rumah; meliputi pemberian pengajaran atau
pendidikan kesehatan (health education) mengenai : diet,
mobilisasi, waktu dan tempat kontrol. Pembelajaran
dilaksanakan sesuai dengan tingkat pemahaman klien dan
keluarga mengenai perawatan selama klien di rumah nanti.
2) Obat-obatan yang masih dikonsumsi klien dan dosisnya;
penjelasan mengenai obat-obatan klien yang masih harus
diminum, dosis, cara pemberian dan waktu yang tepat untuk
minum obat.
3) Obat-obatan yang dihentikan; meskipun ada obat-obatan yang
tidak diminum lagi oleh klien, obat-obatan tersebut tetap
dibawa oleh klien atau dan ditentukan siapa yang akan
menyimpan obat tersebut.
4) Hasil pemeriksaan; hasil pemeriksaan luar sebelum MRS dan
hasil pemeriksaaan selama MRS dibawakan ke klien waktu
pulang.

5) Surat-surat seperti: surat keterangan sakit, surat kontrol, dll


2. Penerapan Pelaksanaan Discharge
Planning
1) Penanggung jawab : Tias Noradiyatul
2) Tujuan:
Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan discharge planning
dengan baik.

91
3) Waktu : Minggu III
4) Rencana Strategi:
a) Mengkaji kebutuhan klien (fisiologis, psikologis, social dan
cultural)
b) Mengembangkan rencana keperawatan yang sudah
diterapkan dan mendokumentasikan strategi discharge
c) Memberi pendidikan kepada keluarga dan klien
(Patrice.1999)
5) Kriteria Evaluasi
a) Stuktur
a. Persiapan dilakukan saat pasien masuk ruang Seruni A
b. Koordinasi dengan pembimbing klinik dan akademik.
c. Menyusun proposal
d. Menetapkan kasus.
e. Pengorganisasian peran
f. Penyusunan leaflet, kartu discharge planning.
b) Proses
a. Kelancaran kegiatan.
b. Peran serta perawat yang bertugas
c) Hasil
Informasi yang disampaikan dapat diterima oleh klien dan
keluarga.

92
3. Alur Discharge Planning

Dokter dan tim PP dibantu PA


kesehatan

Keadaan pasien :
Klinis dan pemeriksaan
lain
Tingkat ketergantungan
pasien

Perencanaan Pulang

Penyelesaian Program HE : Lain-lain


administrasi Kontrol dan
obat/perawatan
Gizi
Aktivitas dan istirahat
Gaya hidup

Monitor oleh : keluarga


dan petugas kesehatan

Gambar 3.5 Bagan Alur Discharge Planning

3.2.7 Supervisi
Guna pemenuhan dan peningkatan pelayanan pada klien dan
keluarga yang berfokus pada kebutuhan, keterampilan dan kemampuan
perawat dalam melaksanakan tugas, maka perlu dilakukan supervisi.

93
Supervisi adalah suatu tehnik pelayanan yang tujuan utamanya
adalah mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama
(Huber,2000). Supervisi keperawatan adalah suatu proses pemberian
sumber-sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaikan tugas
dalam rangka mencapai tujuan.

1. Langkah-Langkah
Supervisi
1) Pra Supervisi
a. Supervisior menetapkan kegiatan yang akan disupervisi
b. Supervisior menetapkan tujuan dan kompetensi yang akan
dinilai
2) Pelaksanaan Supervisi
a. Supervisior menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur
atau instrumen yang telah disiapkan
b. Supervisior mendapat beberapa hal yang memerlukan
pembinaan.
c. Supervisior memanggil PP dan PA untuk mengadakan
pembinaan dan klarifikasi permasalahan.
d. Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara, dan
memvalidasi data sekunder.
a) Supervisior mengklarifikasi permasalahan yang ada
b) Supervisior melakukan tanya jawab dengan perawat
3) Pasca Supervisi 3F
a Supervisior memberikan penilaian supervise (F-Fair).
b Supervisior memberikan feedback dan klarifikasi ( Sesuai
hasil laporan supervisi)
c Supervisior memberikan reinforcement dan follow up
perbaikan

94
2. Alur Supervisi

Kepala Bidang Keperawatan

Kepala per IRNA

PRA Menetapkan kegiatan dan tujuan


Serta instrument/alat ukur Kepala per IRNA

Kepala Ruangan
Menilai kinerja perawat :
PELAKSANAAN Responsibility-Accountabillity- Supervisi
Authorithy (R-A-A)
PP 1 PP 2

Pembinaan (3-F) PA PA
Penyampaian penilaian (Fair)
PASCA Feed Back (Umpan Balik)
Follow Up (Tindak Lanjut), Kinerja perawat dan
Pemecahan masalah dan reward kualitas pelayanan

95
Keterangan: kegiatan supervisi
Supervisi
Gambar 3.6 Bagan Alur Pelaksanaan Supervisi
3. Penerapan
Pelaksanaan Supervisi
1) Penanggung jawab : Arina Fitri
2) Tujuan:
Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan supervisi dengan
baik.
3) Waktu : Minggu II
4) Rencana Strategi:
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang
sedang berlangsung, dimana supervisor dapat terlibat dalam
kegiatan, feed back dan perbaikan. Adapun prosesnya adalah :
a. Perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu
tindakan keperawatan didampingi oleh supervisor.
b. Selama proses, supervisor dapat memberi dukungan,
reinforcement dan petunjuk.
c. Setelah selesai, supervisor dan perawat pelaksana
melakukan diskusi yang bertujuan untuk menguatkan yang
telah sesuai dan memperbaiki yang masih kurang.
Reinforcement pada aspek yang positif sangat penting
dilakukan oleh supervisor.
5) Kriteria Evaluasi
a) Evaluasi Struktur
a. Persiapan proposal dilakukan satu hari sebelum
pelaksanaan
b. Koordinasi dengan pembimbing klinik dan akademik
c. Persiapan alat dan pasien
b) Evaluasi Proses

96
a. Pelaksanaan supervisi dilaksanakan oleh Karu kepada
PP dan PA
b. PP dan PA melaksanakan tugas sesuai dengan diskripsi
tugas masing-masing
c. Karu mengisi lembar penilaian sesuai petunjuk teknis
pengisian
c) Evaluasi Hasil
a. Supervisi dilaksanakan sesuai dengan rencana
b. Evaluasi hasil supervisi dapat diterima oleh PP dan PA

97
BAB 4
PELAKSANAAN

Pada bab ini akan diuraikan pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan


Profesional (MAKP) yang dilaksanakan dalam Praktik Mahasiswa Profesi
manajemen Keperawatan di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada
tanggal 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019. Pelaksanaan MAKP ditekankan
pada komponen utama yaitu 1) pengorganisasian 2) Sistem MAKP, 3)
Penerimaan Paisen Baru 4)Sentralisasi Obat 5) Ronde Keperawatan 6) Timbang
Terima 7) Supervisi 8) Discharge Planning 9) Dokumentasi Keperawatan. Selain
itu, pada bab ini akan diuraikan tentang pelaksanaan role play keperawatan .

4.1 M1 (Man)
1. Persiapan
Persiapan dan pengawasan M1 (Man) pada perawat ruang Seruni A
dilakukan pada tanggal 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019. Penilaian dan
pengawasan dilakukan dengan menghitung kebutuhan tenaga perawat
berdasarkan metode Douglas, Gilies, Analisa Beban Kerja (ABK) dan Depkes
RI pasien di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
2. Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan MAKP (Model Asuhan Keperawatan Profesional) dimulai
tanggal sejak tanggal 15 Desember 2018 – 04 Januari 2019. MAKP dilakukan
oleh mahasiswa praktik profesi sejumlah 13 orang dengan pembagian shift
pagi,sore, dan malam.
Proses pelaksanaan kegiatan perhitungan kebutuhan tenaga perawat
dilakukan oleh mahasiswa praktik profesi manajemen kepada pasien di ruang
Seruni A RSUD Dr. Soetomo Surabaya menggunakan metode Douglas
Gilles, Analisa Beban Kerja (ABK) dan Depkes RI dengan rekapitulasi
sebagai berikut :

Tabel 4.1 Kebutuhan Tenaga Di Ruang Seruni A pada 15 Desember 2018 –


04 Januari 2019

98
No Tanggal Pasien Perawat Kebutuhan Perawat BOR %
Douglas Gillies
1 15/12/2018 7 11 7 7 64%
2 16/012/2018 8 11 7 7 64%
3 17/12/2018 8 11 7 7 64%
4 18/12/2018 8 11 7 7 64%
5 19/12/2018 9 11 8 8 73%
6 20/12/2018 9 11 8 8 73%
7 21/12/2018 9 11 8 8 73%
8 29/12/2018 9 11 8 8 73%
9 30/12/2018 9 11 8 8 73%
10 31/12/2018 10 11 10 10 91%
11 01/01/2019 11 11 10 10 100%
12 02/01/2019 11 11 10 10 100%
13 03/01/2019 10 11 10 10 91%
14 04/01/2019 10 11 10 10 91%
Rerata 9 11 8 8 100%

Tabel 4.1 menunjukkan perbedaan hasil rerata kebutuhan tenaga perawat di


Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo menurut metode Douglas, Gillies. Jumlah
tempat tidur pasien kelolaan mahasiswa praktik manajemen di ruang seruni A
pada tanggal 15 Desember 2018 – 04 Januari 2019. Menurut metode Douglas
didapatkan rerata kebutuhan tenaga perawat sebesar 6 orang , sedangkan
menurut metode Gillies didapatkan 6 orang. Menurut kedua metode tersebut,
perbandingan antara rerat BOR dengan tenaga perawat sudah seimbang dan
sesuai standart.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Selama pelaksanaan MAKP oleh mahasiswa praktik profesi
manajemen keperawatan di Ruang Seruni A RSUD Sr. Soetomo pada 15
Desember 2018 – 04 Januari 2019, mahasiswa tidak mengalami hambatan
dalam ketenagaan karena jumlah pasien kelolaan dan mahasiswa
seimbang sehingga pelayanan kesehatan kesehatan dapat diberikan secara
optimal. Selain itu, pelaksanaan pelaksanaan kegiatan role play dan
penyuluhan tidak mengganggu dalam pemberian asuhan keperawatan
pada pasien karena setiap mahasiswa diberikan tanggung jawab secara

99
merata sehingga setiap kegiatan telah terencana dengan baik dan berjalan
dengan lancar.

b. Dukungan
Dukungan praktik manajemen terutama dalam ketenagaan pada
pelaksanaan MAKP di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diberikan
oleh Kepala Ruang dan perawat Ruang Seruni A dalam bentuk saran,
masukan, dan bantuan tenaga untuk memberikan asuhan keperawatan
yang terbaik pada pasien kelolaan.

4.2 M2 (Material)
1. Persiapan
Persiapan pelaksanaan praktik manajemen di Ruang Seruni A dimulai dari
persiapan ruangan yang digunakan sebagai ners station, serta melengkapi
sarana dan prasarana berupa rekam medis, alat pelindung diri,papan struktur
organisasi kelompok, papan struktur MAKP, pin peran, poster jadwal dinas
dan poster gan chart
Pengamatan sarana dan prasarana dilakukan dengan melakukan
pengecekan setiap hari, baik maupun yang tidak tersedia di Ruang Seruni A.
Kemudian kelompok memaksimalkan agar sarana dan prasaranan tersebut
dapat maksimal.
2. Pelaksanaan
Proses pelaksanaan praktik manjemen di Ruang Seruni A RSUD Dr.
Soetomo berjalan degan baik. Sarana dan prasarana pendukung telah
disediakan oleh kelompok seperti rekam medis yang terpakai untuk 10 pasien,
welcome book untuk penerimaan pasien baru , leaflet tentang personal
hygiene dan pemberian nutrisi melalui ngt.
Proses pelaksanaan observasi dan pengecekan sarana dan prasarana di
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo dilakukan dengan melihat jumlah
kondisi alat yang tersedia dan melakukan tes pada setiap alat apakah masih
berfungsi dengan baik atau tidak. Selain itu pelaksanaan juga dilakukan
dengan melihat apakah perawat di ruangan dapat menggunakan alat yang

100
tersedia secara optimal dan melakukan pemeliharaan alat setiap hari. Sarana
dan prasarana yang rusak atau kurang akan dilaporkan setiap hand over,
kemudian dilaporkan ke penanggung jawab sarana prasarana agar segera
ditindak lanjut.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Hambatan yang ditemukan pada mahasiswa praktik manajemen
keperawatan di ruang seruni A pada 15 Desember 2018 – 04 Januari
2019 terutama dalam sarana dan prasaranan antara lain:
Tabel 4.3 Hambatan dan Dukungan M2 (Material) Di Ruang Seruni A
Tanggal 15 Desember 2018 – 04 Januari 2019

No Hambatan Sebab Rekomendasi


.
1 Pengadaan sarana dan Pengadaan untuk Adanya perawat
prasarana saran dan prasaranan yang bertanggung
membutuhkan waktu baru membutuhkan jawab mengurusi
yang lama laporan kepada bagian dan memelihara
sarana dan prasaranan semua alat yang
serta tim pengadaan ada. Apabila terjadi
alat kesehatan baru, kerusakan alat
kemudian dilaporkan diharapkan
pada bagian keuangan memberikan
yang terkait dengan laporan ke
pendanaan dari rumah penanggung jawab
sakit. alat tersebut.

b. Dukungan
Dukungan yang didapatkan mahasiswa praktek manajemen di
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo pada proses MAKP tanggal 15
Desember 2018 – 04 Januari 2019 berupa kemudahan akses saat alat

101
kesehatan tersebut dibutuhkan, kemudahan dalam melaksanakan segala
tindakan dan kegiatan yang dibantu oleh bimbingan .

4.3 M3 (Method)
4.3.1 Penerapan MAKP
1. Persiapan
Berdasarkan hasil pengkajian, kelompok menerapkan model asuhan
keperawatan primer sesuai dengan bagan MAKP Tim Primer. Kelompok
mempersiapkan jadwal dinas dengan peran masing-masing personel yaitu
sebagai Kepala Ruang, Perawat Primer, dan Perawat Pelaksana dan uraian
tugas sesuai masing-masing peran.
2. Pelaksanaan
Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) dilaksanakan sesuai
jadwal dinas dari minggu ke 2 (hari ke-1) sampai dengan minggu ke 3
praktek manajemen keperawatan. Masing-masing anggota kelompok
berperan sebagai Kepala Ruangan, PP, PA, pelaksanaan MAKP
dilaksanakan oleh kelompok secara menyeluruh. Pelaksanaan asuhan
keperawatan mulai dibagi menjadi 3 shift (pagi, siang, malam) dengan peran
sebagai Kepala Ruangan, PP dan PA.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Dalam pelaksanaan penerapan model primary nursing kelompok tidak
mendapatkan hambatan yang berarti. Hal ini dikarenakan anggota
kelompok telah mengetahui tugas, fungsi dan perannya masing-masing.
b. Dukungan
Adanya dukungan Kepala Ruangan beserta staff Ruang Seruni A.
Kesulitan ditemui saat mahasiswa tidak lagi melaksanakan praktika
senior keperawatan secara menyeluruh di Ruang Seruni A, sehingga
jumlah tenaga perawat yang bertugas kurang memenuhi kebutuhan.
4.3.2 Penerimaan Pasien Baru
1. Persiapan
Penerimaan pasien baru dilaksanakan pada saat ada pasien yang baru saja
datang dari IRD atau ICU, pasien yang merupakan pindahan dari ruang

102
perawatan intensif di Seruni A bukan termasuk pasien baru. Berikut ini
persiapan yang dilakukan ketika penerimaan pasien baru :
a. Menetapkan penanggung jawab penerimaan pasien baru, kemudian
menyusun format discharge planning
b. Menyusun skenario pelaksanaan penerimaan pasien baru.
c. Menyiapkan pelaksanaan penerimaan pasien baru.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan penerimaan pasien baru dilakukan pada hari Senin
tanggal 18 Desember 2018. Penerimaan pasien baru yang dilakukan ketika
mendapat telepon bahwa akan ada pasien baru dan sebelum pasien datang
meliputi lembar klien masuk RS, lembar pengkajian, lembar inform consent,
status klien, nursing kit, lembar tata tertib klien, dan lembar kepuasan klien
pengenalan ruangan, serta prosedur pemberian obat dan perawat juga harus
menyiapkan tempat tidur baru untuk pasien yang rapi dan bersih.
Ketika pasien datang yang harus dilakukan perawat adalah
menjelaskan mengenai beberapa hal yang tercantum dalam lembar
penerimaan klien baru, menjelaskan dokter yang menangani klien dan
jadwal kunjungan, menjelaskan fasilitas yang ada, serta aturan yang ada di
rumah sakit, kemudian 6 SKP, perawat juga harus mengorientasikan
keluarga klien pada ruang /lingkungan rumah sakit. Perawat lalu melakukan
pengkajian keperawatan dan pemeriksaan fisik pada klien dan menanyakan
kembali pada klien dan keluarga mengenai hal hal yang belum di mengerti.

3. Hambatan dan Dukungan


a. Hambatan
Dalam pelaksanaan penerapan penerimaan pasien baru kelompok tidak
mendapatkan pasien baru sehingga roleplay dilaksanakan antar teman.
Tidak ada kesulitan tertentu dikarenakan anggota kelompok telah
mengetahui tugas, fungsi dan perannya masing-masing.

103
c. Dukungan
Adanya dukungan Kepala Ruangan beserta staff Ruang Seruni A dalam
penerimaan pasien baru sehingga pasien baru dan keluarga tidak
kebingungan dengan penempatan ruangan.
4.3.3 Sentralisasi Obat
1. Persiapan
Persiapan yang dilakukan antara lain:
a. Setelah dibentuk penanggung jawab dari pelaksanaan sentralisasi
obat kemudian mulai disusun proposal sentralisasi obat
b. Menyusun skenario pelaksanaan sentralisasi obat pada penerimaan
pasien baru.
c. Menyiapkan pelaksanaan sentralisasi obat pada pasien baru.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan sentralisasi obat di ruang Seruni A sudah dilaksanakan
sepenuhnya oleh Depo Farmasi rumah sakit, meliputi pencatatan jenis obat
dan penghitungan jumlah obat yang dipakai sehari. Depo farmasi juga yang
menyiapkan obat termasuk alat kesehatan untuk pagi, sore dan malam sesuai
dengan kebutuhan yang telah dituliskan oleh dokter. Sedangkan obat-obat
sisa (jika pasien pindah atau meninggal dikelola oleh depo farmasi untuk
dikembalikan ke depo).
Perawat melaksanakan penjadwalan obat dalam sehari sesuai dengan
advis dokter dan memberikan obat yang tersedia sesuai dengan prinsip 6T
(tepat obat, waktu, cara pemberian, pasien, dosis dan tepat
pendokumentasian). Jika dalam melaksanakan asuhan keperawatan
didapatkan pasien memerlukan tambahan obat penting perawat segera
meminta resep kepada dokter dan kemudian menyerahkan resep langsung ke
depo farmasi dan langsung mengambil obat yang diperlukan untuk pasien.
Pelaksanaan sentralisasi obat dilakukan pada hari Rabu tanggal 19
Desember 2018 oleh mahasiswa praktika manajemen keperawatan dengan di
bimbing oleh pembimbing pendidikan dan pembimbing rumah sakit.
Pelaksanaan roleplay sentralisasi obat dilakukan antar teman dimana ada
yang berperan sebagai pasien baru.

104
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Kesulitan dalam ODD adalah obat-obatan yang diberikan dokter
satu berbeda dengan dokter lainnya sehingga perlu mengkonfirmasikan
pemberian tersebut kepada masing-masing dokter sehingga kurang
efisien dalam waktu. Hambatan lain adalah banyaknya tugas yang
menyulitkan melakukan pengecekan terhadap obat-obat yang telah
diserahkan depo farmasi kepada pasien.
b. Dukungan
Dukungan yang didapatkan mahasiswa pada proses penerimaan pasien
baru dan sentralisasi obat tanggal 19 Desember 2018 berupa
keikutsertaan apoteker dalam membimbing roleplayini. Selain itu, pasien
dan keluarga yang kooperatif sangat mendukung dalam pelaksanaan role
play
4.3.4 Supervisi
1. Persiapan
Pada tahap ini kelompok mempersiapkan hal-hal sebagai berikut :
a. Menetapkan kegiatan supervise pada evaluasi kinerja injeksi
intravena
b. Menetapkan alokasi waktu untuk pelaksanaan kegiatan supervisi
tentang injeksi intravena
c. Penanggung jawab kegiatan menyusun proposal supervisi
kegiatan kegiatan injeksi intravena
d. Menetapkan instrument supervisi dan format lainnya yang
berhubungan dengan kegiatan supervisi kegiatan injeksi intravena

2. Pelaksanaan
Supervisi keperawatan meliputi konsep supervisi, materi supervisi dan
administrasi penunjang yang meliputi instrument supervisi lengkap dengan

105
parameter penilaian, laporan hasil kegiatan supervisi serta
pendokumentasian hasil supervisi.
Kegiatan supervisi perawatan di praktek manajemen Ruang Seruni A
dilakukan pada hari Jumat tanggal 21 Desember 2018 yang dibimbing oleh
CI ruangan. Pelaksanaan role play supervisi pelaksanaan injeksi intravena
dilaksanakan pada Ny. S yang masing-masing mahasiswa melaksanakan
peran sebagai Karu, PP dan PA. Dalam pelaksanaan role play penerimaan
pasien baru karu memberikan masukan kepada PP dan PP membantu PA
untuk mempersiapkan injeksi intravena.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Dalam pelaksanaan supervisi pada pasien kelolaan mahasiswa praktik
manajemen di Ruang Seruni A, tidak ditemukan hambatan.
b. Dukungan
Dukungan yang didapatkan mahasiswa praktik profesi manajemen dalam
pelaksanaan supervisi di Ruang Seruni A pada 21 Desember 2018
berupa kepercayaan sepenuhnya yang diberikan oleh pembimbing
kepada mahasiswa untuk melakukan supervisi dengan pemberian
penjelasan terlebih dahulu tentang alur supervisi dan hal apa yang harus
dilakukan oleh supervisor.
4.3.5 Discharge Planning
1. Persiapan
Persiapan yang dilakukan antara lain :
a. Menetapkan penanggung jawab discharge planing kemudian
menyusun format discharge planning
b. Menyusun skenario pelaksanaan discharge planing.
c. Menyiapkan pelaksanaan discharge planning.

2. Pelaksanaan
Selama proses pelaksanaan MAKP, dilaksanakan satu kali role play
kegiatan discharge planning yang diadakan pada hari Kamis tanggal 03

106
Januari 2019. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pembimbing akademik,
pembimbing klinik, dari RSUD Dr. Soetomo. Rekomendasi untuk kegiatan
tersebut yakni sebelum melakukan discharge planning memberikan
informasi lebih jelas terutama dalam hal penjelasan tentang obat dan
pengobatan selama dirumah. Penjelasan pelaksanaan kegiatan secara jelas
terlampir dalam lampiran kegiatan role play discharge planning
Pada pasien Tn.M dengan Discharge planning perawatan klien
dengan stroke trombotik + HT emergency. Discharge planning yang
diberikan meliputi obat-obatan yang perlu diminum, cara minum obat dan
hal-hal yang perlu diwaspadai setelah minum obat, diet/makanan yang
boleh/tidak boleh dimakan, aktivitas dan istirahat.
3. Hambatan dan Dukungan
1. Hambatan
Dalam pelaksanaan discharge planning pada pasien kelolaan mahasiswa
praktik manajemen di Ruang Seruni A, tidak ditemukan hambatan.
2. Dukungan
Dukungan dari Kepala ruangan Seruni A, pembimbing dan perawat
ruangan sangat membantu kelompok dalam menyusun format discharge
planning dan melaksanakan discharge planning pasien pulang dilakukan
di ruangan Seruni A yang dilaksanakan pada tanggal 03 Januari 2019.
4.3.5 Timbang Terima Pasien
1. Persiapan
Persiapan timbang terima mulai direncanakan pada minggu kedua (uji coba
pertama). Persiapan yang dilakukan antara lain:
a. Setelah dibentuk penanggung jawab dari pelaksanaan timbang terima
keperawatan kemudian mulai disusun proposal timbang terima
d. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaksanaan
timbang terima keperawatan.
e. Menyiapkan kasus kelolaan yang akan dilakukan timbang terima
keperawatan dan pelaksanaan timbang terima
2. Pelaksanaan

107
Pelaksanaan timbang terima dilaksanakan secara penuh pada minggu
kedua dan tiga, saat dinas penuh (shift pagi, siang dan malam) dilaksanakan.
Dilakukan pada pergantian shift pagi kepada shift sore, shift sore ke shift
malam dan dari shift malam ke shift pagi. Untuk mendapatkan persepsi yang
sama dan peningkatan ketrampilan, pengetahuan dan sikap mengenai
pelaksanaan timbang terima yang benar, kelompok mempraktekkan satu kali
timbang terima pada pergantian pergantian shift pagi ke shift siang dengan
dibimbing dan diarahkan oleh pembimbing klinik, untuk selanjutnya
dipraktekkan sendiri oleh mahasiswa setiap pergantian shift.
Dalam pelaksanaan timbang terima mahasiswa menyebutkan kondisi
pasien, masalah keperawatan yang belum teratasi dan yang sudah teratasi,
rencana intervensi keperawatan, implementasi yang dilakukan, evaluasi dan
catatan khusus yang meliputi kejadian-kejadian khusus yang tidak tercantum
dalam rencana keperawatan. Pelaksanaan timbang terima dari shift malam
ke shift pagi dilakukan bersama dengan perawat ruangan, sedangkan untuk
timbang terima dari shift pagi ke shift siang dan dari shift siang ke shift
malam dilakukan sendiri antar mahasiswa.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Mahasiswa mengalami kesulitan dalam hal waktu karena
mahasiswa belum terbiasa melakukan timbang terima yang sesuai
dengan standar sehingga penyampaian hal-hal yang ditimbangterimakan
lebih dari 5 menit.
b. Dukungan
Kepala ruangan, pembimbing serta perawat ruangan sabar menanti
timbang terima dan mengikuti timbang terima yang dilakukan oleh
mahasiswa D IV Keperawatan, dimulai dari pasien kelolaan mahasiswa
D IV Keperawatan kemudian ke pasien kelolaan ruangan.

4.3.6 Ronde Keperawatan


1. Persiapan
Persiapan ronde keperawatan yang dilaksanakan antara lain:

108
a. Menentukan penanggung jawab kegiatan menyusun proposal ronde
keperawatan.
b. Menetapkan pasien yang akan dilakukan ronde keperawatan dengan
persetujuan pembimbing.
c. Menyiapkan materi dan skenario pelaksanaan ronde keperawatan.
2. Pelaksanaan
Selama praktika manajemen keperawatan di Ruang Seruni A, ronde
keperawatan dilaksanakan sekali yaitu hari Jumat tanggal 04 Januari 2019
pada pasien Tn.M. dengan Neuplasma Cerebri dengan masalah keperawatan
ketidakefektifan bersihan jalan nafas, resiko penurunan kapasitas adaptif
intracranial, defisit perawatan diri, resiko jatuh, dan gangguan mobilisasi
fisik yang belum teratasi selama 5 hari sejak pasien dikaji. Kegiatan ronde
keperawatan diikuti oleh Kepala Bidang Keperawatan, Kepala Sie
Keperawatan, Kepala Ruang Seruni A, Wakil Kepala Ruang Seruni B,
pembimbing akademik dan pembimbing klinik, dokter, fisioterapi,
perwakilan perawat ruang Seruni A dan Seruni B serta mahasiswa D IV
Keperawatan yang melaksanakan praktika manajemen keperawatan di
Ruang Seruni A.
Ronde keperawatan dilaksanakan di Ruang Kuliah H.R.M.
Soedjonoes, dibuka oleh mahasiswa Achmad Rizky yang berperan sebagai
kepala ruang, dilanjutkan oleh mahasiwa lainnya sebagai PP dan PA yaitu
menyampaikan masalah keperawatan pasien yang sulit diatasi berikut
rencana tindakan dan tindakan yang sudah dilakukan dan data-data yang
mendukung masalah tersebut patut dirondekan. Kemudian dilanjutkan
dengan diskusi antara PP untuk membahas masalah yang terjadi pada pasien
dan mendengarkan masukan dari Kabid Keperawatan, Ka.Sie Keperawatan,
Karu, pembimbing, perawat ruangan dan dokter. Beberapa saran yang
disampaikan antara lain :

1. Melanjutkan intervensi dalam pemberian nebul


2. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik dilanjutkan
selama 8 minggu

109
3. Kolaborasi dengan dokter bedah saraf untuk dilakukan operasi kembali
(setelah 8 minggu pemakaian antibiotik dan tidak ada perubahan)
4. Kolaborasi dengan fisioterapi untuk postural drainage dan memantau
keluarga dalam melakukan fisioterapi dada.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Dalam pelaksanaan ronde keperawatan pada pasien kelolaan mahasiswa
praktik manajemen di Ruang Seruni A, mahasiswa awalnya kesulitan
mengkaji pasien dikarenakan kurang kooperatifnya keluarga pasien.
b. Dukungan
Dukungan yang diperoleh mahasiswa dalam pelaksanaan role play ronde
keperawatan di Ruang Seruni A yaitu berupa partisipasi Kaper, Ka.sie
keperawatan, dokter dan fisioterapi yang mau ikut terlibat dalam
pelaksanaan ronde keperawatan.

4.3.7 Dokumentasi Keperawatan


1. Persiapan
Pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan pada minggu kedua.
Dengan mempersiapkan kelengkapan format asuhan keperawatan yang
terdiri dari format pengkajian dengan pendekatan Body of System dan
catatan keperawatan dengan model PIE (Problem, Intervensi, Evaluasi) yang
isinya disesuaikan dengan format SAK dengan kasus terbanyak di Ruang
Seruni A dan dimodifikasi dengan sistem centangdanessai dengan harapan
memudahkan perawat dalam mengisinya. Format observasi (flow sheet),
discharge planning dan resume keperawatan, informed consent sentralisasi
obat, format penerimaan pasien baru dan format persetujuan tindakan medis.
2. Pelaksanaan
Proses pelaksanaan dokumentasi dilakukan bersama oleh PP dan PA.
Pelaksanaan pengkajian, perencanaan dan pengisian catatan keperawatan
dilakukan oleh PP sedangkan pelaksanaan tindakan keperawatan, pengisian
lembar observasi klien, lembar alur asuhan keperawatan dilakukan oleh PA.

110
Kelompok menerapkan sistem pendokumentasian PIE dengan
pertimbangan format ini tepat digunakan untuk sistem pemberian Asuhan
keperawatan primer pada keadaan pasien yang akut, PP dapat melaksanakan
dan mencatat pengkajian waktu klien masuk dan dilakukan evaluasi setiap
shift. PA melaksanakan tindakan sesuai yang didelegasikan PP. Jika pasien
datang pada shift sore dimana PP tidak dinas, maka penentuan masalah
keperawatan dilakukan oleh PA sore yang diberi wewenang oleh PP sebagai
penanggung jawab kemudian besok pagi penanggung jawab tersebut
melaporkan kepada PP tentang masalah keperawatan yang diambil. Selain
itu mahasiswa juga mengisi dokumentasi keperawatan di status pasien pada
DMK 7.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Hambatan yang dialami dalam pelaksanaan adalah sebagai berikut :
1) Pengisian pendokumentasian kadang tidak lengkap dikarenakan
tingginya mobilitas perawat dan banyaknya format dokumentasi
yang harus diisi.
2) Selain format dokumentasi yang dibuat oleh kelompok, kelompok
juga harus mengisi format DMK 7 pada status pasien sehingga
kelompok mengerjakan pengisian duplikasi lembar obervasi yang
tidak efisien waktu
Selain itu, kelompok juga melakukan penelitian mini yaitu melakukan
perlakuan pada pasien kelolaan dengan mengisi dokumentasi
keperawatan secara lengkap dan menjadikan beberapa pasien yang
dikelola perawat ruangan sebagai kontrol.
b. Dukungan
Staf ruangan mendukung dengan dibuktikan bahwa perawat ruangan
bersedia membantu mengisi tindakan pasien ke status pasien dari rumah
sakit maupun status yang dibuat mahasiswa meskipun sempat
mengalami kebingungan dan tidak semua perawat mengisi.

4.4 M5 (Mutu)

111
1. Persiapan Persiapan pelaksanaan peningkatan mutu (M5) yang dilakukan pada
Ruang Seruni A, diantaranya:
a. Pembuatan angket pengkajian nyeri, risiko jatuh, phlebitis, risiko
dekubitus, infeksi saluran kemih, infeksi luka operasi, tingkat kemandirian
pasien, kecemasan, kepuasan dan pengetahuan pada di rekam medis.
b. Membuat welcome book yang berisi tata terbit ruangan dan informasi
mengenai cuci tangan.
2. Pelaksanaan
Proses pelaksanaan peningkatan mutu di Ruang Seruni A dilakukan dengan
mengisi secara lengkap rekam medis mutu yang terdiri dari penilaian nyeri,
risiko jatuh, tingkat perawatan diri dan pengetahuan. Semua penilaian tentang
mutu dituliskan dalam buku handover ruangan dan direkaptulasi setiap hari
oleh PJ mutu ruangan. Proses pelaksanaan peningkatan mutu oleh mahasiswa
praktik manajemen didokumentasikan dalam bentuk form penilaian untuk
mutu pelayanan, antara lain nyeri, risiko jatuh, survey kepuasan pasien,
kecemasan, tingkat kemandirian, phlebitis, dekubitus, infeksi saluran kemih,
infeksi luka operasi, serta pendokumentasian untuk BOR dan LOS yang diisi
setiap pasien dan setiap harinya. Pengisian form dilakukan perawat primer
shift pagi dan di cek kembali oleh perawat penanggungjawab shift sore dan
perawat penanggung jawab shift malam. Perawat penanggungjawab shift
malam akan menuliskan hasil rekaptulasi semua form penilaian sebagai
akumulasi selama 24 jam pasien dan melaporkannya kepada Kepala Ruangan
pada keesokan harinya. Kepala ruangan bertugas mengevaluasi hasil
rekaptulasi peningkatan mutu. Penilaian nyeri dilakukan oleh perawat setiap
shift oleh perawat primer dibantu oleh perawat associate yang bertugas
melanjutkan pengisian form nyeri. Form kepuasan diberikan ketika discharge
planning pasien pulang.
Ada pun pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan asuhan diberikan
beberapa format mutu di setiap pasein, antara lain:

a. Nyeri

112
Pendokumentasian nyeri di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo dilakukan
di RM 05a dengan Wong Baker Face Scale untk anak > 3 tahun dan
dewasa serta skala FLACC untuk anak < 3 tahun. Penilaian nyeri di Ruang
Seruni A pada RM 05a hanya dilakukan pada saat penerimaan pasien baru.
Penilaian nyeri setiap shiftnya didokumentasikan pada RM 08. Penilaian
skala nyeri pada pasien kelolaan mahasiswa manajemen dilakukan pada
awal penerimaan pasien baru dan didokumentasi pada RM 11a dengan
Wong Baker Face Scale untk anak > 3 tahun dan dewasa serta skala
FLACC untuk anak < 3 tahun. Penilaian skala nyeri ditulis berdasarkan
PQRST dan didokumentasikan setiap hari oleh perawat. Penilaian nyeri
pada pasien dengan kesadaran menurun yaitu menggunakan pengkajian
CPOT :
KONDISI SKOR KETERANGAN
INDIKATOR
Ekspresi Rilek 0 Tidak ada ketegangan otot
wajah Kaku 1 Mengerutkan kening,
mengangkat alis, orbit
menegang (misalnya
membuka mata atau
menangis selama prosefur
nosiseptif)
Meringis 2 Semua gerakan wajah
sebelumnya ditambah
kelopak mata tertutup rapat
(Pasien dapat mengalami
mulut terbuka, mengigit
selang ETT)
Gerakan tubuh Tidak ada 0 Tidak bergerak (tidak
gerakan kesakitan) atau posisi
abnormal normal (tidak ada gerakan
lokalisasi nyeri)
Lokalisasi 1 Gerakan hati-hati,
nyeri menyentuh lokasi nyeri,
mencari perhatian melalui
gerakan
Gelisah 2 Mencabut ETT, mencoba
untuk duduk, tidak
mengikuti perintah,
mencoba keluar dari tempat
tidur
Aktivasi alarm Pasien 0 Alarm tidak berbunyi
ventilator kooperatif

113
mekanik terhadap
(Pasien kerja
diintubasi) ventilator
mekanik

Alarm aktif Batuk, alarm berbunyi


tapi mati 1 tetapi berhenti secara
sendiri spontan

Alarm selalu
2 Alarm sering berbunyi
aktif

Berbicara jika Berbicara


pasien dalam nada
diekstubasi normal atau 0 Bicara dengan nada pelan
tidak ada
suara

Mendesah,
1 Mendesah, mengerang
mengeran

Menangis 2 Menangis, berteriak

Ketegangan Tidak ada


otot ketegangan 0 Tidak ada ketegangan otot
otot

Tegang, kaku 1 Gerakan otot pasif

Sangat
tegang atau 2 Gerakan sangat kuat
kaku

b. Risiko jatuh
Pendokumentasian risiko jatuh di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
dilakukan di RM 05b dan dinilai saat penerimaan pasien baru serta setelah
operasi. Penilaian risiko jatuh pada pasien kelolaan mahasiswa manajemen
dilakukan setiap hari dan didokumentasi pada RM 11 dengan
menggunakan morse fall score untuk pasien dewasa
c. Perawatan diri

114
Penilaian perawatan diri di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo dilakukan
setiap hari dan di catat di buku laporan.. Penilaian perawatan diri pada
pasien kelolaan mahasiswa manajemen dilakukan setiap hari dan
didokumentasi pada RM 11f dengan Indeks Katz. penilaian perawatan diri
diisi oleh perawat setiap hari sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien
dari A hingga G.
d. Phlebitis
Pendokumentasian phelebitis di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
dilakukan di RM 08 dan dinilai jika ada kejadian. Penilaian phlebitis pada
pasien kelolaan mahasiswa manajemen didokumentasi pada RM 11b.
Penilaian phelebitis terdiri atas 6 poin yang diisi setiap hari oleh perawat
dan dilakukan pada pasien yang terpasang infus sampai infus dilepas.
e. Dekubitus
Pendokumentasian dekubitus di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
dilakukan di RM 08 dan dinilai jika ada kejadian. Penilaian dekubitus pada
pasien kelolaan mahasiswa manajemen dilakukan setiap hari dan
didokumentasi pada RM 11c.

115
f. ISK (Infeksi Saluran Kemih)
Pendokumentasian infeksi saluran kemih (ISK) di Ruang Seruni A RSUD
Dr. Soetomo dilakukan di RM 08 dan dinilai jika ada kejadian. Penilaian
infeksi saluran kemih (ISK) pada pasien kelolaan mahasiswa manajemen
dilakukan setiap hari dan didokumentasi pada RM 11d.
g. ILO (Infeksi Luka Operasi)
Pendokumentasian pengetahuan pasien / keluarga di Ruang Bedah Seruni
A RSUD Dr. Soetomo dilakukan di RM 08 dan dinilai jika ada kejadian.
Penilaian infeksi luka operasi (ILO) pada pasien kelolaan mahasiswa
manajemen dilakukan setiap hari dan didokumentasikan pada RM 11e.
h. BOR Penilaian
BOR di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo dilakukan pada shift malam
dan ditulis buku laporan. Penilaian BOR pada pasien kelolaan mahasiswa

116
praktek manajemen dilakukan pada kapasitas bed kelolaan yaitu 12.
Pendokumentasian dilakukan setiap shift malam dan ditulis pada buku
laporan.
i. Patient Safety
Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu variabel untuk
mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan keperawatan yang
berdampak terhadap pelayanan kesehatan. Program keselamatan pasien
adalah suatu usaha untuk menurunkan angka kejadian tidak diharapkan
(KTD) yang sering terjadi pada pasien selama di rawat di rumah sakit.
Adapun pelaksanaan sasaran keselamatan pasien (SKP) di Ruang Seruni A
RSUD Dr. Soetomo sesuai dengan Standar Akreditas Rumah Sakit Edisi 1
(Kemenkes, 2011) dan JCI Acreditation antara lain:
1) Ketepatan identifikasi pasien
Identifikasi pasien dilakukan untuk menghindari kesalahan pasien
dengan menggunakan gelang untuk identitas. Gelang terdiri dari 4
warna yang memiliki definisi tersendiri pada masing-masing warna,
yakni:
a) Gelang biru digunakan untuk pasien laki-laki.
b) Gelang merah muda digunakan untuk pasien perempuan.
c) Gelang kuning digunakan untuk pasien risiko jatuh.
d) Gelang merah digunakan untuk pasien alergi.
Gelang identitas pasien terdiri dari beberapa komponen di dalamnya,
meliputi nama lengkap pasien, nomor rekam medik, alamat, jenis
kelamin, dan tanggal lahir. Identifikasi pasien dilakukan dengan
mencocokan gelang identitas yang dipakai pasien. Beberapa hal yang
perlu dikonfirmasi antara lain nama pasien, nomor register, alamat dan
usia. Identifikasi pasien dilakukan ketika penerimaan pasien baru,
sebelum pemberian terapi, sebelum melakukan prosedur / tindakan,
dan discharge planning. Pelaksanaan identifikasi pasien dilakukan
setiap ada tindakan kepada pasien.
2) Peningkatan komunikasi yang efektif

117
Komunikasi efektif yang digunakan adalah metode SBAR (Situation,
Background, Assesment, Recommendation). SBAR digunakan pada
saat berkomunikasi dengan tim kesehatan yang lain, timbang terima,
berkomunikasi dengan teman sejawat, konsultasi pasien, dan
melaksanakan inform concent. SBAR juga digunakan pada saat
komunikasi atau perintah secara verbal atau telepon, staf yang
menerima pasien harus menuliskan dan membacakan kembali kepada
pemberi pesan dan dalam pemberi pesan harus menandatangani dalam
waktu 1 x 24 jam. Kolom communicator yang ditandatangani oleh
perawat yang menerima dan kolom advisor yang ditandatangani oleh
dokter yang memberikan advice. Berdasarkan pelaksanaan yang
dilakukan, komunikasi efektif yang sudah diterapikan di Ruang Seruni
A RSUD Dr. Soetomo menggunakan metode SBAR. Situation
dituliskan nama pasien, usia, nomor RM, lama hari perawatan, dan
dokter yang merawat. Background dituliskan mengenai hal yang sudah
di implementasikan dari tindakan mandiri dan kolaboratif perawat
serta hasil laborat yang ada. Assessment dituliskan bedasarkan
pengkajian terakhir pada pasien sebelum handover. Recommendation
dituliskan rekomendasi dari dokter dan implementasi keperawatan
yang belum dilaksanakan atau yang dipertahankan.
3) Peningkatan keamanan obat yang diperlu diwaspadai
Obat high alert adalah obat yang memerlukan kewaspadaan tinggi,
terdaftar dalam kategori obat berisiko tinggi, dapat menyebabkan
cedera serius pada pasien jika terjadi kesalahan dalam penggunaannya.
Kewaspadaan terhadap obat high alert sudah dilakukan dengan
memisahkan tempat obat high alert (obat-obatan Look alike, Sound
alike), cairan pekat seperti KCL, D40 dan sebagainya dengan obat
lainnya. Pemberian elektrolit pekat harus dengan pengenceran dan
penggunaan label khusus, setiap penerapan obat menerapkan prinsip 8
benar. Salah satu cara mewaspadai pemberian obat, perawat
menggunakan double crosscheck mulai dari proses persiapan, sampai
pemberian ke pasien. Berdasarkan hasil pelaksanaan, didapatkan

118
kewaspadaan tentang obat yang perlu diwaspadai sudah dilakukan
dengan memisahkan obat-obat high alert pada tempat yang telah
disediakan. Pemberian labeling dan double crosscheck juga sudah
dilakukan di Seruni A RSUD Dr. Soetomo.
4) Kepastian tepat lokasi, tepat pasien dan tepat prosedur
Ketepatan sebelum melakukan tindakan operasi terdiri dari tiga hal,
yakni tepat lokasi, tepat pasien, dan tepat prosedur. Proses untuk
memastikan tepat lokasi yang dilakukan yaitu menggunakan SPO
pemberian marker atau penanda lokasi operasi yang diberikan oleh
dokter operator menggunakan spidol permanen. Proses untuk
memastikan tepat pasien yang dilakukan di ruangan yaitu
menggunakan crosscheck pada gelang identifikasi, sedangkan tepat
prosedur dilakukan di ruang operasi menggunakan check list untuk
mencegah kesalahan prosedur. Prosedur pembedahan dilakukan
melalui tiga tahap, yaitu:
a) Sign in, dilakukan sebelum pasien di anestesi konfirmasi ke pasien,
keluarga, dan tim anestesi.
b) Time out, dilakukan sebelum melakukan insisi, dikonfirmasikan
kepada tim bedah.
c) Sign Out, dilakukan sebelum ruang operasi.
Berdasarkan pelaksanaan di Ruang Seruni A RSUD Dr.
Soetomo, pelaksanaan penandaan lokasi dilakukan kebanyakan di
Ruang Operasi. Namun sebelumnya, perawat mengkonfirmasi kepada
dokter operator apakah penandaan lokasi akan dilakukan di ruangan
atau di ruang operasi. Beberapa kasus, seperti kasus kepala dan leher
dan kasus bedah mulut, dilakukan penandaan lokasi operasi di
ruangan. Persiapan operasi di Ruang Seruni A yaitu mempersiapkan
jalur IV line, pemasangan kateter urine, menganjurkan pasien untuk
puasa, mempersiapkan lokasi yang perlu di cukur, dan memberikan
tampon pada anus.
5) Pengurangian risiko infeksi terkait dengan pelayanan kesehatan

119
Pengurangan risiko infeksi di Ruang Seruni A dilakukan dengan
penerapan lima momen mencuci tangan dan penggunaan alat
pelindung diri oleh saat melakukan tindakan invasif. Perawat
melakukan tindakan invasif antara pasien satu dengan pasien lainnya
dengan menggunakan satu handscoon pada satu pasien. Mahasiswa
praktik manajemen keperawatan juga mensosialisasikan kembali
program mencuci tangan pada pasien dan keluarga yang dilakukan
pada PKRS (Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit), penerimaan pasien
baru, dan discharge planning. Selain itu, keluarga dan pasien selalu
diberikan health education mengenai cara mencuci tangan yang benar
setiap penerimaan pasien baru dan pada kegiatan PKRS (Penyuluhan
Kesehatan Rumah Sakit).
6) Pengurangan risiko jatuh
Berdasarkan data yang diperoleh dari pelaksana selama 2 minggu di
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo, tidak ditemukan kejadian pasien
jatuh. Pengkajian risiko jatuh pada pasien dilakukan setiap hari
menggunakan form sesuai dengan usia. Pemberian intervensi pada
pasien disesuaikan dengan kriteria tidak risiko, risiko rendah, atau
risiko tinggi berdasarkan SPO yang telah ada. Intervensi yang
dilakukan dalam penanggulangi pasien dengan risiko jatuh yaitu
adanya orientasi lingkungan, memastikan tempat tidur berada dalam
posisi terkunci, naikkan pagar pengaman tempat tidur, posisikan
tempat tidur pada posisi terendah, pastikan pencahayaan pada malam
hari, memberikan edukasi pasien, dan pastikan kebutuhan pribadi
dalam jangkauan.
3. Hambatan dan Dukungan
a. Hambatan
Hambatan yang ditemukan pada mahasiswa praktik manajemen
keperawatan di Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari
2019 terutama dalam pelaksanaan pendokumentasian tidak
didapatkan.
b. Dukungan

120
Dukungan yang didapatkan oleh mahasiswa praktik manajemen di
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo pada 07 Desember 2018 – 11
Januari 2019 berupa fasilitas dan bimbingan yang diberikan secara
komprehensif.

121
BAB 5
EVALUASI

Pada bab ini akan diuraikan evaluasi dalam pelaksanaan Model


Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) yang dilaksanakan dalam Praktik
Manajemen Keperawatan di Ruang Seruni A RSUD Dr.Soetomo Surabaya
pada tanggal 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019. Evaluasi MAKP
ditekankan pada komponen utama yaitu 1) Pengorganisasian, 2) Pelaksanaan
MAKP, yang meliputi Penerimaan Pasien Baru, Sentralisasi Obat, Supervisi,
Discharge Planning, Timbang Terima, Ronde Keperawatan, Dokumentasi
Keperawatan, dan penyuluhan kesehatan. Selain itu pada bab ini akan
diuraikan tentang evaluasi pelaksanaan role play.
5.1 M1 (Man)
1. Evaluasi Struktur
Pelaksanaan pengorganisasian praktek manajemen di Ruang Seruni
A RSUD Dr.Soetomo telah disusun berdasarkan kepada penanggung
jawab ruangan serta perawat penanggung jawab setiap pasien. Terdapat 3
perawat primer yang membawahi tim masing-masing. Pembuatan jadwal
dinas telah dibuat sebulan sebelumnya oleh Kepala Ruangan dengan
pemerataan jam dinas. Pelaksanaan pengorganisasian mahasiswa praktek
profesi manajemen keperawatan di Ruang Seruni A RSUD Dr.Soetomo
telah disusun berdasarkan penanggung jawab pasien setiap harinya.
Terdapat 2 perawat primer pada shift pagi dan 1 Perawat Penanggung
Jawab pada shift sore dan shift malam. Selain itu, jadwal dinas telah dibuat
seminggu sebelumnya oleh Ketua dengan pemerataan jam dinas.
2. Evaluasi Proses
Pelaksanaan pengorganisasian praktek manajemen di Ruang Seruni
A RSUD Dr. Soetomo menyesuaikan dengan MAKP Primer Setiap hari,
Kepala Ruang memimpin timbang terima yang dilaksanakan pada
pergantian shift malam ke shift pagi. Perawat yang bertugas pada shift
malam kemudian menyampaikan timbang terima pada perawat primer
shift pagi. Perawat associate bertugas melaksanakan implementasi

116
keperawatan kepada pasien. Perawat primer bertanggung jawab atas
perawatan pasien yang dikelola sekaligus bertanggung jawab atas
pendokumentasian pasien. Pengorganisasian dalam satu hari terdiri atas 1-
4 perawat primer pada shift pagi dibantu dengan 2 perawat associate, serta
4 perawat asociate pada shift siang dan malam.
Pelaksanaan pengorganisasian mahasiswa praktik profesi
manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo menyesuaikan dengan
MAKP Primer. Kepala Ruang bertugas dalam memberi penugasan pada
perawat dan mengevaluasi kinerja perawat. Sementara perawat associate
bertugas melaksanakan implementasi keperawatan kepada pasien. Dan
perawat primer bertanggung jawab atas perawatan pasien yang dikelola
sekaligus bertanggung jawab atas pendokumentasian pasien.
Pengorganisasian dalam satu hari terdiri atas 1 perawat primer pada shift
pagi dibantu oleh 1 – 2 PA, 1 perawat penanggung jawab pada shift sore
dibantu oleh 1 – 2 perawat associate, dan 1 perawat penanggung jawab
pada shift malam dengan dibantu oleh 2 perawat associate.
3. Evaluasi Hasil
Pelaksanaan pengorganisasian pada pasien kelolaan mahasiswa
praktik profesi manajemen Ruang Seruni A RSUD Dr.Soetomo Surabaya
telah sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing.

5.2 M2 (Material)
1. Evaluasi Struktur
Inventarisasi peralatan kesehatan di Seruni A RSUD Dr.Soetomo
Surabaya yang dilakukan oleh mahasiswa praktik manajemen telah
dilakukan dengan cara pengecekan/observasi, wawancara pada perawat.
Inventaris sarana dan prasarana di Ruang Seruni A dapat memberikan
informasi mengenai jumlah dan kondisi sarana prasarana yang rusak atau
baik, serta peralatan apa yang dibutuhkan oleh ruangan dalam menunjang
tindakan perawat dengan ketentuan berdasarkan standart Kepmenkes No.
1204/Menkes/SK/X/2004, Peraturan Menteri Kesehatan Republik

117
Indonesia (Permenkes RI) No. 340/MENKES/III/2010, dan Depkes RI
2006.
Berdasarkan hal tersebut, masih ada beberapa material yang belum
sesuai dengan standart. Maka dari itu, mahasiswa membuat strategi untuk
mengusulkan pengadaan peralatan kesehatan (EKG, Infuse pump, kursi
pasien) dan mengadakan renovasi ruangan atau bangunan.
2. Evaluasi Proses
Selama proses pelaksanaan dan penggunaan sarana prasarana serta
fasilitas pada Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo, mahasiswa tidak
mengalami hambatan yang berarti. Hanya saja dalam pelaksanaan usulan
untuk pengadaan alat kesehatan mengalami hambatan karena untuk
pengadaan alat kesehatan tersebut harus melalui proses pengajuan yang
panjang.
3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan sistem MAKP Primer yang dilaksanakan oleh
mahasiswa praktik manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, pengusulan untuk pengadaan
alat kesehatan di Ruang Seruni A belum dapat dilaksanakan karena harus
melalui proses pengajuan yang panjang.

5.3 M3 (Method)
5.3.1 Penerapan MAKP
1. Evaluasi Struktur
Penerapan MAKP pada mahasiswa praktik manajemen
keperawatan telah dilaksanakan dengan pembentukan struktur
organisasi kelompok, Gann Chart kegiatan, jadwal dinas, daftar uraian
tugas Kepala Ruang, Perawat Primer (PP) dan perawat Associate (AN),
serta mekanisme/alur kegiatan MAKPPrimer. Setiap kegiatan tersebut
telah ditentukan penanggung jawab yang bertanggung jawab dalam
pelaksanaan kegiatan, mulai dari tahap persiapan hingga melakukan
evaluasi atas kegiatan tersebut.
2. Evaluasi Proses

118
Proses pelaksanaan sistem MAKP Modular Nursing yang
dilaksanakan oleh mahasiswa praktik manajemen di Ruang Seruni A
RSUD Dr. Soetomo pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019 sudah
menjalankan tugasnya sesuai peran masing-masing secara maksimal
seperti pada petunjuk uraian tugas dan jadwal dinas serta peran yang
ada. Hambatan yang didapatkan dalam pelaksanaan MAKP adalah
keharusan dalam merangkap tanggung jawab dalam melaksanakan
persiapan role play dan peran saat sedang dinas secara sekaligus,
sehingga beberapa kali mahasiswa harus meninggalkan dinas untuk
mempersiapkan role play. Namun hal ini dapat ditangani dengan
adanya kerjasama oleh mahasiswa lainya.
3. Evaluasi Hasil
Pelaksanaan MAKP pada pasien di Seruni A RSUD Dr.Soetomo
Surabaya sudah dilaksanakan sesuai dengan peran masing-masing.
Hambatan dapat diatasi dari dukungan pembimbing klinik dan perawat
ruangan, bimbingan dari para pembimbing akademik terutama adanya
kerjasama yang baik antar anggota kelompok. Model asuhan
keperawatan yang dilakukan oleh mahasiswa di ruangan ini adalah
MAKP Primer sesuai dengan perencanaan yang sebelumnya dibuat.
Evaluasi mencakup evaluasi setelah pelaksanaan sosialisasi pada tenaga
perawat Ruang Seruni A tentang MAKP Primer. Struktur MAKP
Primer sudah terbentuk di Ruang Seruni A dan berfungsi baik.
5.3.2 Penerimaan Pasien Baru
1. Evaluasi Struktur
Pada pelaksanaan penerimaan pasien baru di Ruang Seruni A
RSUD Dr Soetomo, diperoleh data bahwa perawat telah menetapkan
pasien yang akan dilakukan penerimaan pasien baru, kemudian perawat
mempersiapkan format dan kelengkapan berkas penerimaan pasien baru
diantaranya format penerimaan pasien masuk, lembar serah terima
pasien baru, format pengkajian, dan nursing kit.
Selama pelaksanaan MAKP Modular Nursing pada pasien kelolaan
di Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,

119
diketahui bahwa mahasiswa telah menyiapkan ruangan terlebih dahulu
sebelum melakukan penerimaan pasien baru, format dan kelengkapan
penerimaan pasien baru sudah dipersiapkan diantaranya catatan serah
terima pasien, lembar penerimaan pasien baru, lembar pengkajian
keperawatan pasien rawat inap, nursing kit, dan welcome book yang
berfungsi sebagai media penyampaian informasi mengenai hak dan
kewajiban pasien.
2. Evaluasi Proses
Selama pelaksanaan MAKP Modular Nursing pada pasien kelolaan
di Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,
mahasiswa melakukan satu kali role play mengenai penerimaan pasien
baru yang dilaksanakan pada hari Rabu, 19 Desember 2018 pukul
09.00. Pelaksanaan role play penerimaan pasien baru sudah
dilaksanakan dengan lancar. Namun, terdapat beberapa saran-saran
yang diberikan oleh para pembimbing untuk dapat meningkatkan
pelaksanaan penerimaan pasien baru. Evaluasi pelaksanaan kegiatan
role play penerimaan pasien baru selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran. Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di
Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,
penerimaan pasien baru berjalan dengan lancar. Mahasiswa melakukan
edukasi kepada pasien baru dan keluarga mengenai tata tertib ruangan,
hak dan kewajiban pasien, cara cuci tangan, dan pengelolaan sampah.
3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,mahasiswa
melakukan satu kali role play penerimaan pasien baru yang di hadiri oleh
pembimbing akademik yaitu Hepta Nur A., S.Kep.,Ns., M.Kep, serta
pembimbing klinik yaitu Choirul Anam S.Kep,. Ns. Kegiatan role play
penerimaan pasien baru berjalan dengan lancar dan pasien telah
mengetahui perawat, dokter, dan tenaga non keperawatan yang
bertanggung jawab. Selain itu, pasien dan keluarga mengetahui tentang
Ruang Seruni A dan tata tertibnya. pasien juga telah mengetahui hak dan

120
kewajibannya, 5 waktu untuk mencuci tangan dan langkah yang benar
saat cuci tangan, penggolongan sampah, dan jalur evakuasi saat terjadi
kebakaran.
5.3.3 Sentralisasi Obat
1. Evaluasi Struktur
Pada pelaksaan sentralisasi obat di Ruang Seruni A RSUD Dr.
Soetomo, diperoleh data bahwa perawat telah menyiapkan lembar
sentralisasi obat. Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien
kelolaan di Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,
diketahui bahwa mahasiswa telah menyiapkan lembar persetujuan
sentralisasi obat yang berfungsi sebagai bukti bahwa pasien telah
mengetahui tentang obat - obat yang akan diberikan.
2. Evaluasi Proses
Selama pelaksanaan MAKP Modular pada pasien kelolaan di
Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play mengenai sentralisasi obat yang
dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Desember 2018 pukul 09.30 WIB.
Pelaksanaan role play sentralisasi obat sudah dilaksanakan dengan
lancar. Namun, terdapat beberapa saran-saran yang diberikan oleh para
pembimbing untuk dapat meningkatkan pelaksanaan sentralisasi obat.
Evaluasi pelaksanaan kegiatan role play sentralisasi obat selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran. Selama pelaksanaan MAKP Modular
Primer pada pasien kelolaan di Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018
– 11 Januari 2019, dan sentralisasi obat berjalan dengan lancar.

3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play sentralisasi obat yang di hadiri oleh
pembimbing akademik yaitu Hepta Nur A., S.Kep.,Ns., M.Kep, serta
pembimbing klinik yaitu Choirul Anam S.Kep,. Ns. Kegiatan role play

121
sentralisasi obat berjalan dengan lancardan pasien telah mengetahui
kegunaan obat yang diberikan. Selain itu, pasien dan keluarga
mengetahui tentang Ruang Seruni A dan tata tertibnya. pasien juga telah
mengetahui hak dan kewajibannya.

5.3.4 Supervisi
1. Evaluasi Struktur
Pada pelaksaan MAKP Primer pasien kelolaan mahasiswa praktik
manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo pada 07 Desember
2018 – 11 Januari 2019, diketahui bahwa persiapan supervisi mulai
dilaksanakan pada minggu kedua. Persiapan yang dilakukan diantaranya
membentuk penanggung jawab dari pelaksanaan supervisi keperawatan,
membuat proposal supervisi, membuat SOP supervisi dan SOP tindakan,
menyiapkan format supervisi, dan menyiapkan pelaksanaan supervisi.
2. Evaluasi Proses
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play supervisi yang dilakukan pada Jumat, 21
Desember 2018. Pelaksanaan role play supervisi sudah dilaksanakan
dengan lancar. Namun, terdapat beberapa saran-saran yang diberikan
oleh para pembimbing untuk dapat meningkatkan pelaksanaan supervisi.
Evaluasi pelaksanaan kegiatan role play supervisi selengkapnya dapat
dilihat pada laporan kegiatan. Selama periode pelaksanaan MAKP
Primer di Ruang Seruni A, perawat di Ruang Seruni A sudah pernah
dilakukan supervisi secara formal yang terjadwal.
3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play supervisi yang di hadiri oleh pembimbing
akademik yaitu Hepta Nur A., S.Kep.,Ns., M.Kep, serta pembimbing
klinik yaitu Choirul Anam S.Kep,. Ns. Kegiatan role play supervisi

122
berjalan dengan lancar. Mahasiswa mampu melakukan supervisi dengan
menjalankan tugasnya sesuai peran masing-masing.

5.3.5 Discharge Planning


1. Evaluasi Struktur
Pada pelaksaan MAKP Primer pasien kelolaan mahasiswa praktik
manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo pada 07 Desember
2018 – 11 Januari 2019, diketahui bahwa persiapan discharge planning
mulai dilaksanakan dengan membentuk penanggung jawab dari
pelaksanaan discharge planning keperawatan, membuat proposal
kegiatan discharge planning, membuat leaflet tentang penyakit, diet
nutrisi dan perawatan yang dilakukan selama di rumah, serta
menyiapkan berkas discharge planning yang meliputi form discharge
planning, form resume medis, kartu discharge planning, berkas hasil
laboratorium, obat-obatan selama perawatan di rumah dan leaflet, dan
menyiapkan pelaksanaan discharge planning.
2. Evaluasi Proses
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play discharge planning yang dilakukan pada
Kamis, 03 Januari 2018 pukul 10.00 WIB. Pelaksanaan role play
discharge planning sudah dilaksanakan dengan lancar. Namun, terdapat
beberapa saran-saran yang diberikan oleh para supervisor untuk dapat
meningkatkan pelaksanaan discharge planning. Evaluasi pelaksanaan
kegiatan role play supervisi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan discharge planning sejak awal pasien masuk hingga
menjelang pulang. Discharge planning dilakukan oleh perawat primer
yang dibantu oleh perawat associate. Pelaksanaan discharge planning
mencakup pemberian pendidikan kesehatan menggunakan leaflet
kepada pasien yang hendak pulang.

123
Pelaksanaan discharge planning di Ruang Seruni A dilaksanakan
oleh perawat yang bertanggung jawab. Discharge planning tidak selalu
dilakukan oleh perawat primer. Pelaksanaan discharge planning
mencakup pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien yang hendak
pulang yang dilakukan hanya secara lisan.
3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play discharge planning yang di hadiri
pembimbing klinik Choirul Anam S.Kep,. Ns. Kegiatan role play
discharge planning berjalan dengan lancar. Mahasiswa mampu
melakukan discharge planning dengan menjalankan tugasnya sesuai
peran masing-masing. Mahasiswa juga mampu mengkomunikasikan
hal-hal yang penting untuk perawatan pasien selama di rumah. Kegiatan
dilaksanakan sesuai dengan jadwal pada gannchart. Pasien dan
keluarga mendapatkan pendidikan kesehatan dan leaflet tentang
penyakit, pengobatan dan perawatan pasien selama di rumah.

5.3.6 Timbang Terima


1. Evaluasi Struktur
Pada pelaksaan MAKP Primer pasien kelolaan mahasiswa praktik
manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo pada 07 Desember
2018 – 11 Januari 2019, diketahui bahwa persiapan timbang terima
mulai dilaksanakan pada minggu pertama. Persiapan yang dilakukan
diantaranya membentuk penanggung jawab dari pelaksanaan timbang
terima keperawatan, menyusun teknik timbang terima, menyusun
format timbang terima dalam metode SBAR, dan menyiapkan
pelaksanaan timbang terima.
2. Evaluasi Proses
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play timbang terimayang dilakukan pada 15

124
Desember 2018-04 Januari 2019. Pelaksanaan role play timbang terima
sudah dilaksanakan dengan lancar. Namun, terdapat beberapa saran-
saran yang diberikan oleh para pembimbing untuk dapat meningkatkan
pelaksanaan timbang terima. Evaluasi pelaksanaan kegiatan role play
timbang terima selengkapnya dapat dilihat pada laporan kegiatan.
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, proses timbang
terima dilakukan setiap pergantian shift. Pada shift pagi, timbang terima
mengikuti proses timbang terima Ruang Seruni A. Timbang terima
dipimpin oleh Kepala Ruang Seruni A yang di diawali dengan
pembacaan doa Kemudian mahasiswa yang bertugas sebagai perawat
primer diberikan kesempatan untuk membacakan rekam medis dalam
metode SBAR. Setelah timbang terima pasien telah dilaksanakan,
Kepala Ruang Seruni A mempersilakan Kepala Ruangan Mahasiswa
untuk melakukan validasi atau memberikan informasi. Setelah itu,
mahasiswa melakukan validasi kepada pasien masing-masing dengan
waktu 5 menit pada setiap pasien.
Timbang terima pada shift sore dipimpin oleh Kepala Ruang
Mahasiswa yang diawali dengan pembacaan doa. Selanjutnya perawat
primer melakukan pelaporan mengenai M1 hingga M5. Kegiatan
dilanjutkan dengan melakukan timbang terima secara langsung kepada
pasien yang dipimpin oleh perawat primer. Timbang terima dilakukan 5
menit di setiap pasien. Kemudian proses timbang terima dilanjutkan
dengan proses klarifikasi di nurse station, sebelum selanjutnya ditutup
oleh Kepala Ruangan. Sementara timbang terima pada shift sore
dipimpin oleh perawat primer.
Pelaksanaan timbang terima di Ruang Seruni A dilaksanakan oleh
perawat primer. Timbang terima yang dipimpin oleh Kepala Ruangan
hanya dilakukan pada shift pagi. Sementara timbang terima pada shift
sore dan shift malam hanya dilakukan antara perawat primer.

125
3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play timbang terima yang di hadiri oleh
pembimbing akademik Hepta Nur A., S.Kep.,Ns., M.Kepdan
pembimbing klinik yaitu Choirul Anam S.Kep,. Ns. Kegiatan role play
timbang terima berjalan dengan lancar. Selama pelaksanaan MAKP
Primer pada 15 Desember 2018-04 Januari 2019, mahasiswa
melaksanakan timbang terima sesuai dengan konsep komunikasi
SBAR, mahasiswa dapat bertugas sesuai dengan peran masing-masing,
mahasiswa dapat melakukan kemampuan kerjasama dan komunikasi
antar mahasiswa sesuai dengan peran masing-masing.
5.3.6 Ronde Keperawatan
1. Evaluasi Struktur
Pada pelaksanaan MAKP Primer pasien kelolaan mahasiswa
praktik manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo pada 07
Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa melakukan satu kali
ronde keperawatan yang dilaksanakan pada Kamis, 01 Februari 2018.
Persiapan dilaksanakan sejak minggu pertama. Persiapan yang
dilakukan meliputi pemilihan penanggung jawab, pembuatan proposal,
pembuatan resume asuhan keperawatan, dan lembar persetujuan untuk
dilakukan ronde keperawatan.

2. Evaluasi Proses
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di
Ruang Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,
mahasiswa melakukan satu kali role play ronde keperawatan yang
dilakukan pada Jumat 04 Januari 2019. Pelaksanaan role play ronde
sudah dilaksanakan dengan lancar. Kegiatan role play ronde
keperawatan dilaksanakan pada pasien Tn. M dengan diagnose medis
neoplasma cerebri high grade astrocytoma. Kegiatan role play
didukung dengan kehadiran dari perawat dan dokter Ruang Seruni A,

126
Ruang Seruni B, Ruang Stroke Unit, Bidang Keperawatan Bu Kus
Namun, terdapat beberapa saran-saran yang diberikan oleh para
supervisor untuk dapat meningkatkan pelaksanaan ronde keperawatan.
Kegiatan ronde keperawatan berjalan dengan lancar dan tertib sesuai
yang diharapkan. Susunan acara runtut dari mulai pembukaan,
pemaparan materi ronde (kasus), diskusi sampai pengambilan
keputusan intervensinya.
3. Evaluasi Hasil
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di
Ruang Seruni A 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan satu kali role play ronde keperawatan yang di hadiri oleh
pembimbing pembimbing klinik yaitu Choirul Anam, S,Kep.,Ns.
Kegiatan role play ronde keperawatan berjalan dengan lancar.
Mahasiswa mampu melakukan ronde keperawatan dengan
menjalankan tugasnya sesuai peran masing masing.

5.3.7 Dokumentasi Keperawatan


1. Evaluasi Struktur
Selama proses pelaksanaan sistem MAKP Primer yang
dilaksanakan oleh mahasiswa praktik manajemen di Ruang Seruni A 07
Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa telah mendiskusikan
format pengkajian dan pendokumentasian yang sesuai dengan
pembimbing akademik, mahasiswa juga telah mempersiapkan format
pendokumentasian tersebut sesuai dengan hasil diskusi dengan
pembimbing klinik, dan pembagian job desk dalam pendokumentasian
telah dijelaskan untuk mempermudah pengisian dokumentasi setiap
pasien.
2. Evaluasi Proses
Proses pelaksanaan sistem MAKP Primer yang dilaksanakan
oleh mahasiswa praktik manajemen di Ruang Seruni A 07 Desember
2018 – 11 Januari 2019, pelaksanaan pendokumentasian pada klien
kelolaan melibatkan seluruh perawat baik perawat primer maupun

127
perawat associate. Perawat associate didelegasikan untuk melakukan
implementasi kepada pasien, selanjutnya diminta untuk menuliskan
implementasinya pada catatan integrasi, lembar observasi, dan lembar
pemberian obat.

3. Evaluasi Hasil
Pada pelaksanaan sistem MAKP Primer yang dilaksanakan oleh
mahasiswa praktik manajemen di Ruang Seruni A 07 Desember 2018 –
11 Januari 2019, sistem pendokumentasian telah dilakukan dengan
baik. Namun, sesekali antar mahasiswa harus saling mengingatkan
untuk mengisi rekam medis dengan lengkap.

5.4 M5 (Mutu)
1. Evaluasi Struktur
Format penilaian nyeri, tingkat ketergantungan perawatan diri,
resiko jatuh, phlebitis, dekubitus, ILO (Infeksi Luka Operasi), dan ISK
(Infeksi Saluran Kemih) sudah disiapkan di rekam medis, begitu juga
dengan format kepuasan sudah disiapkan didalam rekam medis dan
diberikan ketika discharge planning.
2. Evaluasi Proses
Peningkatan mutu dalam pelaksanaan MAKP di Ruang Seruni A
07 Desember 2018 – 11 Januari 2019,sudah berjalan sesuai dengan
rencana. Format penilaian nyeri, tingkat perawatan diri, resiko jatuh,
phlebitis, dekubitus, ILO (Infeksi Luka Operasi), dan ISK (Infeksi
Saluran Kemih) sudah diisi setiap hari oleh perawat primer pagi dan
dicek ulang oleh perawat primer sore dan malam. Pengendalian infeksi
dilakukan dengan cara mensosialisasikan cuci tangan kepada pasien
saat penerimaan pasien baru, pada saat PKMRS dan discharge
planning. Selain itu, pengendalian infeksi juga dilakukan dengan
sosialisasi etika batuk dan pemilahan sampah untuk pasien dan
keluarga pasien pada saat penerimaan pasien baru dan dilakukan
PKMRS Personal hygine dan Pemberian makan lewat NGT. Upaya

128
penurunan kejadian phlebitis terutama secara mekanik dilakukan
dengan cara memberitahukan pasien dan keluarga untuk tidak
melakukan banyak manipulasi pada selang infus. Peningkatan kepuasan
dan penurunan kecemasan pasien sudah dilaksanakan dengan adanya
pemberian penjelasan mengenai hak dan kewajiban pasien serta tata
tertib ruangan yang diberikan melalui welcome book. Selain itu,
pemberian penjelasan mengenai penyakit pasien diberikan untuk
meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga
3. Evaluasi Hasil
Pelaksanaan hasil peningkatan mutu sudah berjalan sesuai
dengan rencana, adapun hasil penilaian mutu antara lain:
a. Jumlah BOR Harian pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019di
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo.
Tabel 5.1 Jumlah BOR Harian pada 07 Desember 2018 – 11
Januari 2019di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
No Waktu BOR (%)
1. Saat Pengkajian (2 hari) 100%
2. Saat Pelaksanaan (2 minggu) 100%
Berdasarkan tabel 5.1, didapatkan bahwa jumlah rata-rata BOR
harian pada pasien kelolaan tanggal 07 Desember 2018 – 11 Januari
2019di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo adalah sebanyak
100%.
b. Jumlah Kasus Terbanyak pada 07 Desember 2018 – 11 Januari
2019 di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
Tabel 5.2 Jumlah Kasus Terbanyak pada 07 Desember 2018 – 11
Januari 2019 di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
Pelaksanaan
No Jenis kasus
(2 minggu)
1. Stroke Trombotik 9 (37,5%)
2. ICH 4 (16,7%)
3. Stroke Infark 2 (8,3%)
4. Neoplasma cerebri 2 (8,3%)
5. Malformasi Vaskuler 2 (8,3%)

129
Berdasarkan tabel 5.1, didapatkan bahwa Jumlah Kasus Terbanyak
pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019di Ruang Seruni A
RSUD Dr. Soetomo adalah stroke trombotik sebanyak 37,5%.
Berikut ini adalah hasil rekaptulasi peningkatan mutu dan
keselamatan pasien kelolaan di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
Surabaya:
a. Resiko Jatuh
Tabel 5.3Kategori Resiko Jatuh Pada Pasien Kelolaan di Ruang
Seruni A RSUD Dr. Soetomo tanggal 22 Januari - 2 Februari 2018
No. Risiko Jatuh Pelaksanaan(2 Minggu)
1. Resiko Tinggi 20 (57%)
2. Risiko Rendah 15 (43%)
Total 35 (100%)
Berdasarkan tabel 5.5, dapat dapat diketahui bahwa selama
pelaksanaan MAKP mahasiswa praktik manajemen di Ruang
Seruni A RSUD Dr. Soetomo tanggal 07 Desember 2018 – 11
Januari 2019didapatkan 57% pasien kelolaan terkategori resiko
tinggi dan 43% resiko rendah. Hal ini mendorong mahasiswa untuk
melakukan intervensi pengurangan resiko jatuh dengan cara
melakukan pengkajian resiko jatuh, memberikan tanda pasien
resiko jatuh pada bed pasien, memasang pengaman tempat tidur
dan meminta keluarga untuk menemani pasien

b. Resiko Dekubitus
Tabel 5.4 Kategori Resiko Dekubitus Pada Pasien Kelolaan di
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo 07 Desember 2018 – 11
Januari 2019
No. Risiko dekubitus Pelaksanaan(2 Minggu)
1. Tidak beresiko 30 (86%)
2. Resiko dekubitus 5 (24%)
Total 35 (100%)
Berdasarkan tabel 5.4, dapat dapat diketahui bahwa selama
pelaksanaan MAKP mahasiswa praktik manajemen di Ruang
Seruni A RSUD Dr. Soetomo tanggal 07 Desember 2018 – 11

130
Januari 2019 didapatkan 86% pasien kelolaan tidak beresiko
dekubitus. Namun 24% pasien masih beresiko terjadi dekubitus.
c. Plebitis
Tabel 5.3Kategori Plebitis Pada Pasien Kelolaan di Ruang Seruni
A RSUD Dr. Soetomo tanggal 07 Desember 2018 – 11 Januari
2019
No. Kejadian Plebitis Pelaksanaan (2 Minggu)
1. Tidak 30 (86%)
2. Ya 5 (24%)
Total 35 (100%)
Berdasarkan tabel 5.5, dapat dapat diketahui bahwa selama
pelaksanaan MAKP mahasiswa praktik manajemen di Ruang
Seruni A RSUD Dr. Soetomo tanggal 07 Desember 2018 – 11
Januari 2019didapatkan 86% pasien kelolaan tidak terjadi plebitis.
Namun 24% pasien masih terjadi plebitis.
d. Infeksi Luka Operasi (ILO)
Pada pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan mahasiswa
praktik manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
tanggal07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, tidak ditemukan
pasien yang mengalami infeksi luka operasi.
e. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Pada pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan mahasiswa
praktik manajemen di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo
tanggal07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, tidak ditemukan
pasien yang mengalami infeksi saluran kemih.
f. Patient Safety
Sasaran keselamatan pasien dilaksanakan oleh mahasiswa praktik
manajemen keperawatan, antara lain selalu melakukan identifikasi
pasien, melakukan komunikasi efektif dengan teknik SBAR,
pengecekan ulang pasien yang akan di operasi,peningkatan
kewaspadaan obat-obatan high alert seperti insulin, pengurangan
resiko jatuh dengan cara melakukan pengkajian resiko jatuh,
memberikan tanda pasien resiko jatuh pada bed pasien, memasang
pengaman tempat tidur dan meminta keluarga untuk menemani

131
pasien,pencegahan infeksi dengan melakukan cuci tangan 6
langkah dan five moments, penyuluhan cuci tangan, pemantauan
terhadap luka operasi, etika batuk, dan pemilahan sampah.

132
BAB 6
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Pelaksanaan keperawatan manajemen telah berjalan dengan lancar yang
sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Kegiatan tersebut adalah roleplay penerimaan pasien baru, sentralisasi obat,
discharge planning, timbang terima, supervisi dan ronde keperawatan, serta
pelaksaan penyuluhan kesehatan rumah sakit (PKRS).
6.1.1. M1 (Man)
Pelaksanaan pengorganisasian di Ruang Seruni ARSUD Dr. Soetomo
telah disusun berdasarkan kepada penanggung jawab ruangan serta
perawat penanggung jawab setiap pasien. Terdapat 3 perawat primer
yang membawahi tim masing-masing.Terdapat 1 perawat primer pada
shift pagi dan 1 Perawat Penanggung Jawab pada shift sore dan shift
malam. Selain itu, jadwal dinas telah dibuat seminggu sebelumnya oleh
Ketua dengan pemerataan jam dinas.Mahasiswa praktik manajemen
keperawatan di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo sudah
menjalankan tugas sebagai kepala ruang, perawat primer dan perawat
asosiate sesuai dengan ketentuan.
6.1.2. M2 (Material)
Selama proses pelaksanaan dan penggunaan sarana prasarana serta
fasilitas pada Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo, mahasiswa tidak
mengalami hambatan yang berarti.
6.1.3. M3 (Method)
1. Penerimaan Pasien Baru
Selama pelaksanaan MAKP Modular pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, diketahui
bahwa mahasiswa telah menyiapkan ruangan terlebih dahulu
sebelum melakukan penerimaan pasien baru, format dan
kelengkapan penerimaan pasien baru sudah dipersiapkan diantaranya
catatan serah terima pasien, lembar penerimaan pasien baru, lembar

133
pengkajian keperawatan pasien rawat inap, nursing kit, dan welcome
book yang berfungsi sebagai media penyampaian informasi
mengenai hak dan kewajiban pasien.
2. Sentralisasi Obat
Sentralisasi obat selama praktek manjemen keperawatan sudah
dilaksakan sesuai dengan prosedur.
3. Discharge planning
Selama pelaksanaan MAKP Primer pada pasien kelolaan di Ruang
Seruni A pada 07 Desember 2018 – 11 Januari 2019, mahasiswa
melakukan discharge planning sejak awal pasien masuk hingga
menjelang pulang.
4. Timbang terima
Mahasiswa melaksanakan timbang terima sesuai dengan konsep
komunikasi SBAR, mahasiswa dapat bertugas sesuai dengan peran
masing-masing, mahasiswa dapat melakukan kemampuan kerjasama
dan komunikasi antar mahasiswa sesuai dengan peran masing-
masing. Timbang terima oleh mahasiswa maupun ruangan Seruni A
RSUD Dr. Soetomo sudah dilakukan dengan baik, dan sudah sesuai
dengan prosedur timbang terima.
5. Supervisi
Supervisi berjalan dengan lancar. Mahasiswa mampu melakukan
supervisi dengan menjalankan tugasnya sesuai peran masing-masing.
6. Ronde keperawatan
Ronde keperawatan oleh mahasiswa praktek manajemen
keperawatan dilaksanakan dengan baik dengan berkolaborasi dengan
dokter, perawat, dan fisioterapi karena ada pasien dengan masalah
keperawatan yang belum teratasi dan perlu dirondekan. Semua tim
kesehatan yang diperlukan dalam kegiatan ronde dapat hadir.
Namun, terdapat beberapa saran-saran yang diberikan oleh para
supervisor untuk dapat meningkatkan pelaksanaan ronde
keperawatan. Kegiatan ronde keperawatan berjalan dengan lancar
dan tertib sesuai yang diharapkan. Susunan acara runtut dari mulai

134
pembukaan, pemaparan materi ronde (kasus), diskusi sampai
pengambilan keputusan intervensinya.
Setelah roleplay ronde keperawatan di selenggarakan, belum ada
pelaksanaan ronde keperawatan kembali oleh perawat ruangan.
6.1.4. M5 (Mutu)
Sasaran keselamatan pasien dilaksanakan oleh mahasiswa praktik
manajemen keperawatan, antara lain selalu melakukan identifikasi
pasien, melakukan komunikasi efektif dengan teknik SBAR,
pengecekan ulang pasien yang akan di operasi,peningkatan
kewaspadaan obat-obatan high alert seperti insulin, pengurangan resiko
jatuh dengan cara melakukan pengkajian resiko jatuh, memberikan
tanda pasien resiko jatuh pada bed pasien, memasang pengaman tempat
tidur dan meminta keluarga untuk menemani pasien,pencegahan infeksi
dengan melakukan cuci tangan 6 langkah dan five moments, penyuluhan
cuci tangan, pemantauan terhadap luka operasi, etika batuk, dan
pemilahan sampah.
6.1.5. Pendokumentasian
Proses pelaksanaan dokumentasi sudah dilakukan secara benar di
Rekam Medis dari lembar identitas pasien sampai dengan discharge
planning. Namun dalam perencanaan terkadang tidak sesuai dengan
implementasi yang dilakukan. Dan kurangnya kelengkapan tanda
tangan pada beberapa shift.

6.2. Saran
6.2.1. M1 (Man)
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat
memaksimalkan pemanfaatan tenaga kerja yang terbatas sehingga tetap
bisa memberikan pelayanan asuhan keperawatan dengan optimal dan
holistik.
Mahasiwa praktik profesi manajemen keperawatan periode
selanjutnya diharapkan mampu mengoptimalkan tenaga melalui
perhitungan kebutuhan yang sesuai dengan kondisi pasien kelolaan.

135
6.2.2. M2 (Material)
Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat melakukan
inventaris secara berkala dan melakukan pengadaan terhadap alat
kesehatan yang belum lengkap.
Mahasiswa praktik profesi manajemen keperawatan periode selanjutnya
diharapkan mampu melakukan inventaris kembali pada sarana dan
prasarana secara lebih seksama agar mampu mengidentifikasi dan
mengoptimalisasi sarana dan prasana di Ruang Seruni A.
6.2.3. M3 (Method)
1. Perawat di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat
melaksanakan penerimaan pasien baru sesuai dengan protap,
melakukan pengorientasian ruangan sesuai dengan form penerimaan
pasien baru.
2. Perawat di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat
bekerjasama dengan farmasi dalam melaksanakan sentralisasi obat
sesuai dengan protap.
3. Perawat di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat
melaksanakan discharge planning sejak pasien masuk rumah sakit
sampai sebelum pulang.
4. Perawat di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat
melakukan timbang terima sesuai dengan alur dan protap yang telah
ditetapkan RSUD Dr. Soetomo.
5. Mahasiswa praktik profesi manajemen keperawatan periode
selanjutnya dapat bekerjasama dengan kepala ruangan untuk
pengajuan pembuatan jadwal supervisi perawat primer dan perawat
asosiate diRuang Seruni A RSUD Dr. Soetomo.
6. Perawat di Ruang Seruni A RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat
melakukan ronde keperawatan secara rutin dan terjadwal.

136
6.2.4. M5 (Mutu)
Bagi mahasiswa praktik manajemen keperawatan periode selanjutnya
diharapkan dapat tetap melaksanakan 6 sasaran keselamatan pasien
untuk mencapai mutu yang lebih baik.

137

Anda mungkin juga menyukai