Anda di halaman 1dari 6

Mata kuliah : KMB II

Nama dosen : Ns. SYAMSYURIANA SABAR

Tugas individu : kasus 1 (ganjil)

MAKALAH LEGAL ETIK KEPERAWATAN DAN KASUS

Sukma umasangadji : 183145105037


KLS : A KEPERAWATAN ANGKATAN 2018

Program Studi S1 Keperawatan

Fakultas Keperawatan Dan Kebidanan

Universitas Mega Rezky

MAKASSAR

T.A 2019/2020
KASUS

TN. M berkunjung ke RS untuk memeriksakan istrinya. Pemeriksaan


di lakukan karena semenjak melahirkan anak pertamanya 2 minggu si ibu
sering,gatal gatal di kulit dan kemaluan,keputihan,sering
mengantuk,kesemutan dan mudah lelah tiba beraktivitas. Dari hasil
pemeriksaan dokter mengatakan istrinya menderita GDM (gastasional
diabetes melitus). Dokter mejelaskan GDM adalah salah satu jenis diabetes
melitus (kencing manis) yang terjadi pada ibu hamil. Tuan M pun menjadi
marah marah dan tidak terimah pada saat istrinya mengidap GDM. Dengan
suara keras tuan M mengatakan “mana mungkin istri saya mengidap penyakit
gula” keluarga besar istri saya tak ada satu pun yang mengidap sakit, istri saya
pun selalu menjaga proporsi makanya setiap hari.

Hal tersebut adalah reaksi yang normal bagi seorang suami yang
mengetahui istrinya mengidap DM. Marah, kecewa, kesal, menyangkal
bahkan berpinda-pindah dokter untuk memastikan bahwa apakah istrinya
benar benar mempunyai penyakit diabetes.

Dari kasus di atas bahas secara konseptual dari prinsip prinsip etika
keperawatan di antarnya:

1. Otonomi
2. Beneficience
3. Justice
4. Non maleficience
5. Moral right
Contoh :

Nilai dan normal masyarakat.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat nilai dan normal masyarakat


sangat penting dan perlu ada pada diri masing masing malah masyarakat yang
sadar tentang nilai dan norma masyarakat berusaha keras dalam mengukuhkan
nilai-nilai masyakat
Dalam kasus ini pesien merasa benar karena pasien mengetahui bahwa DM
bisa melalui turunan dari keluarga dan pasien meraskan tidak ada keluarga
yang menderita DM sebelumnya.
Defenisikan masing masing legal etik keperawatan tersebut dan bersangkutan
dengan kasus

1. Otonomi
Prinsip otonom di dasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan memutuskan. Orang dewasa di anggap kompeten dan
memiliki kekuatan untuk membuat keputusan sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang di hargai. Prinsip otomi ini adalah
bentuk rspek terhadap seseorang, juga di pandang sebgai persetujuan tidak
memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian
dan kebebasab individu yang menurut pembedaan diri. Praktek profrsional
merefleksikan otonomi saat perawat mengahargai hak hak pasien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Dalam kasus ini suami pasien merasa kesal,kecewa,marah dan
menyangkal bahkan berpinda pindah dokter untuk memastikan pernyataan
dokter mengenai istrinya mengidap GDM tidak benar
Tetapi sebagai seorang perawat, kita juga mempunyai kewajiban untuk
meberikan motifasi dan penjelasakn kepada pasien dan suami pasien agar
tidak putus asa.

2. Beneficience (berbuat baik)


Beneficience berarti hanya mengerjakan suatu yang baik. Kebaikan
juga memerlukan pencegahan dan kesalahan atau kejahatan. Penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Kadang kadang dalam situasi pelayanan kesehatan kabaikan menjadi konflik
dengan otonomi
kasus tersebut perawat harus memberikan penghargaan kepada pasien
dan suami pasien agar lebih tenang sehingga bisa menemukan jalan terbaik
atas masalah yang sedang di hadapi, sehingga mereka tak usah pindah pidah
dokter.

3. Justice (keadilan)
Prinsip keadilan di butuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap
orang lain yang menjunjung prinsip prinsip moral, legal dan kemanusiaan.
Nilai ini di refeleksikan dalam praktek profesional ketika perawat bekerja
untuk terapi yang benar sesuai dengan hukum, standar praktek dan keyakianan
yang benar untuk memperoleh kalitas pelayanan kesehatan.
Justice (keadilan) berhubungan dengan kasus Suami pasien menyangkal dan
meminta keadilan atas peryataan dokter mengenai penyakit DM yang di derita
istrinya karena dalam keluarga istrinya tidak ada riwayat penyakit DM dan di
masa kehamilan isrinya selalu menjaga proporsi makanannya.
Dengan kasus yang terjadi di atas, perawat seharunya bisa menyikapi
dan mengerti atas masalah yang sedang di hadapi pasien dan suami pasien
misalnya perawat membantu memberikan dukungan dan memberikan rasa
nyaman dan tenang pada psikologis orang tua pasien

4. Non maleficience (tidak merugikan)


Prinsip ini berarti segalah tindakan yang di lakukan kepada klien tidak
menimbulkan bahaya/cedera secara fisik dan psikologis
Adanya penolakan dan kurangnya pengetahuan suami pasien terhadap
penyakit yang di derita istrinya bisa mengakibatkan psikologis orang tua
pasien terganggu.
Atas adanya kasus di atas wajar apabila suami menolak pernyataan
dari dokter apalgi suami pasien tidak begitu mengetahui penyakit DM. Tetapi
kita sebgai seorang perawat bisa memberikan asuhan keperawatan untuk
menenagkan orang tua pasien agar psikologis suami pasien bisa terkendali
sehingga pengobatan untuk istrinya tidak terganggu dan sekaligus meberikan
pendidikan kesehatan untuk menambah pengetahuan tentang penyakit DM
pada pasien maupun suaminya.

5. Moral right
Teori moral mencangkup bentuk pengetahuan yang kompleks luas yang
melebihi cakupan pendahuluan ini pada etik perawatan kesehatan, namun
terdapat teori moral dasar yang memainkan peran penting dalam proses
pertimbangan.
 Teori pertama, sering di kenal sebagai deontologi. Lebih fokus pada
tindakan atau kewajiban yang harus di lakukan dari pada hasil atau
konsekuensi dari tindakan itu sendiri. pemikiran seperti ini mengarah
seseorang untuk mempertimbangkan kebenaran dan kesalahan bawaan
dari suatu tindakan dan kewajiban tersebut. Kemudian jika tindakan
tersebut salah tidak akan di lakukan dan jika tindakan tersbut benar
atau baik, seseorang akan memiliki kewajiban moral untuk
melakukanya
 Terori kedua teori teleologis. Teori ini teologis umumnya
mempertimbangkan konsekuensi suatu tindakan teori moral semacam
ini “memulai” suatu yang baik dengan melihat pada situasi untuk
menentukan apa yang harus di lakukan, berdasarkan konsekuensi apa
yang di alami orang yang terlibat jika tindakan tersebut di lakukan,
seseorang yang menggunakan pertimbangan teologis mungkin akan
berpendapat bahwa situasi tertentu akan membuat kematian seseorang
dapat di terima jika hasilnya akan lebih menguntungkan, seperti dalam
kasus di mana sesorang yang berkompeten minta bantuan karena
kematianya telah dekat dan menyebabkan rasa sakit yang tidak
bertahankan.
Adanya kurang pengetahuan, pemikiran dan pendapat yang
berbeda, dalam kasus ini mengakibatkan konflik dan permasalahan
baru yang akan timbul.
Seperti tidakan suami pasien untuk berpindah pindah dokter sehingga
dapat menganggu proses pengobatan pasien. Walaupun keluarga
pasien berhak untuk berpindah pindah dokter untuk memaskikan
apakah istrinya benar benar terkena penyakit DM , namum tindakan
tersebut juga dapat menimbulkan suami pasien menjadi putus asa
apabila hasilnya sama sehingga akan mengakibatkan spikologi
terganggu.
Seorang perawat berhak menyarankan kepada suami pasien untuk
mendengarkan penjelasan lebih lanjut agar suami pasien tidak
berpindah pindah dokter sehingga suami pasien tidak lebih kecewa
apabila hasinya sama sperti dokter pertama