Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Minyak atsiri semakin lama semakin dibutuhkan seiring dengan meningkatnya perkembangan
industri modern seperti industri parfum, kosmetik, makanan, aroma terapi dan obat-obatan.
Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatil
oil ) yang dihasilkan oleh tanaman. Minyak atsiri saat ini sudah dikembangkan dan menjadi
komoditas ekspor Indonesia yang meliputi minyak atsiri dari nilam, akar wangi, pala, cengkeh,
serai wangi, kenanga, kayu putih, cendana, lada, dan kayu manis.
Menurut Richards (1944), minyak atsiri bisa didapatkan dari bahan-bahan diatas yang meliputi
pada bagian daun, bunga, batang dan akar. Minyak atsiri mempunyai sifat-sifat mudah menguap
pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir  (pungent taste), berbau
wangi sesuai dengan bau tanamannya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut
dalam air. Minyak atsiri dalam industri digunakan untuk pembuatan kosmetik, parfum,
antiseptik, obat-obatan, “flavoring agent” dalam bahan pangan atau minuman dan sebagai
pencampur rokok kretek serta sebagai aromatheraphy.
Dari sekian bahan atsiri diatas yang selama ini mulai tidak dikembangkan adalah minyak atsiri
dari serai wangi, karena untuk mendapatkan minyak atsiri tersebut membutuhkan waktu yang
relatif lama. Tanaman serai dibagi menjadi tiga jenis yaitu serai wangi (Cymbopogon
winterianus), serai dapur (Cymbopogon flexuosus). Pada penelitian ini digunakan serai wangi
karena sudah umum digunakan oleh peneliti – peneliti terdahulu. Selain itu juga serai wangi
memiliki bau yang khas daripada serai dapur. Karena minyak atsiri sebagai minyak untuk terapi,
karena itu aroma sangat diperlukan pada percobaan kali ini.
Pada percobaan ini, Metote destilasi dan sokletasi dilakukan agar minyak pada sereh terpisah
dari batang dan daun sereh wangi. Air digunakan sebagai pelarut yang mrelarutkan minyak pada
daun dan batang serehn wangi.

   II.         TUJUAN PENELITIAN


Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu:
·         Dapat membuat minyak atsiri sereh dengan metode destilasi uap langsung
·         Dapat menghasilkan minyak sereh dengan harga yang ekonomis

     III.        METODE PENELITIAN


A.      Tempat  dan Waktu Pelaksanaan
Percobaan dilakukan di Pusat Laboratorium Terpadi (PLT) UIN syarif Hidayatullah Jakarta pada
tanggal 8-22 September 2014.
B.     Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan adalah daun dan batang  serai wangi dengan kondisi serai (segar,
setengah layu dan layu) dengan ketentuan segar (belum dalam proses pengeringan ), setengah
layu (di keringkan dengan dijemur selama semalam) dan layu (dikeringkan selama satu minggu)
sedangkan perlakuan bahan dacacah atau dipotong kecil kecil. Bahan yang diperoleh dibeli
langsung di pasar tradisional. 
C.     Deskripsi peralatan  yang Digunakan
Peralatan yang diperlukan untuk pengambilan dan pemisahan minyak atsiri serai wangi dengan
metode destilasi uap dan air, yaitu :
1.     Labu destilasi yang berfungsi sebagai wadah pencampuran serai dan aquades pada saat
proses destilasi berlangsung.

2. Kondensor yang berfungsi sebagai penghubung antara labu destilasi dan Erlenmeyer untuk
mengalirkan uap. Kondensor ini dialiri air untuk menghindari kerusakan kondensor karena suhu
uap tersebut yang tinggi.
3. Erlenmeyer 100 ml yang berfungsi sebagai wadah uap hasil destilasi serai dan aquades
sebelum melakukan tahap akhir pemisahan minyak serai.
4. Statis yang berfungsi untuk membantu menopang alat destilasi selama proses destilasi.
5. Corong pemisah yang digunakan untuk memisahkan minyak serai wangi dengan air.
6. Kertas saring digunakan untuk pengambilan hasil minyak serai yang didapat. Kertas saring
digunakan karena hasil minyak serai yang tidak banyak dan posisi minyak yang menempel pada
corong  pemisah.
7.  Alat pemanas yang digunakan untuk memanaskan serai yang bercampur dengan aquades agar
menghasilkan uap.
8.  Aluminium foil untuk menutup bagian yang menghubungkan kondensor dengan Erlenmeyer
serta kondensor dengan labu destilasi.
9. Vaselina digunakan  untuk membuat ujung alat destilasi menjadi licin, agar dengan mudah
dilepas.
10.  Sentrifuge berfungsi sebagai alat untuk memisahkan air dan minyak.

Selain alat destilasi yang digunakan pada percobaan ini juga digunakan sokletasi. Alat ini
memiliki fungsi yang hampir sama dengan alat destilasi hanya saja pada alat ini posisi kondensor
tegak keatas sehingga hasil destilasi mengalir naik turun pada kondensor.

D.     Prosedur Kerja


       ·     Percobaan  pertama
             Serai dicacah menjadi potongan yang lebih kecil, kemudian batang dan daun sereh yang
telah dipotong-potong ditimbang sebanyak 200 gram. Daun dan batang  yang telah ditimbang
tersebut dimasukkan pada labu distilasi dengan penambahan aquades sebagai pelarut. Kemudian
sereh dan aquadest dipanaskan pada labu destilasi dan mengatur daya sesuai dengan variabel
suhu. Destilat ditampung dalam Erlenmeyer lalu ditunggu sampai rendemen keluar. Hasil
rendemen ditaruh dalam beaker glass dan ditutup dengan aluminium foil lalu disimpan.

  ·         Percobaan kedua


                Pada percobaan kedua serai dalam kondisi telah dipotong dan dikeringkan sealama
satu malam  kemudian serai ditimbang sebanyak 100 gram. Setelah ditimbang di masukan
kedalam labu destilasi namun pada percobaan kedua air yang digunakan adalah air hasil destilasi
sebelumnya  yang telah tercampur dengan serai. Lalu destilat dibiarkan mengalir ke Erlenmeyer.
Setelah hasil destilat keluar, hasil destilat tersebut ditaruh didalam corong pisah lalu dikocok
kocok dan dibiarkan selama semalam agar minyak dan air terpisah. Kemudian karena minyak
serai yang dihasilkan tidak banyak digunakan kertas saring untuk membuktikan adanya minyak
serai yang dihasilkan.

       ·         Percobaan ketiga


              Percobaan ketiga serai dalam kondisi telah dikeringkan selama satu minggu, kemudian
ditimbang sebanyak 50 gram . lalu dilakukan proses sokletasi selama 2 jam dan hasil ekstraksi 
yang diperoleh dimasukan kedalam sentrifuge untuk memisahkan air dan minyak.

        I.        IV      HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


1.1    Hasil Pengamatan
A.      Distilasi dengan Pelarut aquades
·      Berat Sereh           : 100 gr
·      Aquades                : 200 mL
·      Lama Distilasi       : 1,5 jam
·      Hasil Minyak        : -
B.      Distilasi dengan Pelarut Air rebuasan Sereh
·         Berat Sereh           : 100 gr
·         Air rebusan sereh : 200 mL
·         Lama Distilasi      : 2 jam
·         Hasil Minyak       : 60 mg
C.     Sokletasi dengan Pelarut Aquades dan sereh yang telah dikeringkan
·         Berat Sereh        : 50 gr
·         Aquades             : 200 mL
·         Lama Sokletasi   : 2 jam
·         Hasil Minyak      : -

1.2         Pembahasan
A.  Pengaruh Efek Kondisi dan Perlakuan Bahan Terhadap Banyaknya Hasil Rendemen  Minyak
Serai Wangi
Berdasarkan hasil percobaan terlihat bahwa terdapat kecenderungan kenaikan banyaknya minyak
minyak serai wangi mengenai pengaruh kondisi dan perlakuan bahan baku yaitu pada daun dan
batang serai wangi, kondisi bahan yang menghasilkan rendemen besar adalah saat kondisi bahan
telah dijemur selama 1 minggu dibandingkan dengan kondisi bahan segar dan dijemur semalam.
Jadi kondisi dan perlakuan bahan tersebut bisa meningkatkan banyaknya rendemen minyak atsiri
sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa proses pelayuan bertujuan untuk mengurangi
kadar air dalam kelenjar  bahan, sehingga     proses   ekstraksi    lebih    mudah.

B.      Pengaruh Efek Bagian Terhadap Banyaknya Rendemen Minyak Serai Wangi
Berdasarkan hasil percobaan bahwa efek bagian yang menghasilkan rendemen yang besar yaitu
pada bagian daun dibanding pada bagian batang. Data ini berdasarkan percobaan pertama dan
kedua, pada percobaan pertama hanya batang serei wangi saja yang digunakan sedangkan pada
percoban kedua menggunakan btang dan daun sereh. Hasilnya pada percobaan pertama tidak
menghasilkan minyak serai sama sekali sedangkan pada percobaan kedua menghasilkan minyak
sereh sebanyak 60 mg . Hal ini sesuai literatur bahwa rendemen atsiri pada serai terbanyak ada
pada daun dibanding batang.

  IV.    V        KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian proses pengambilan  
minyak atsiri dari daun dan batang serai wangi dengan metode distilasi uap dan air adalah
sebagai berikut :
1.    Pada pengambilan minyak atsiri dari daun dan batang serai wangi (Cymbopogon
winterianus) menggunakan metode distilasi uap minyak yang dihasilkan sebanyak 60mg dari
100gram yaitu sekitar 0.06%.
2.    Pengaruh kondisi bahan dari daun dan batang serai wangi yang menghasilkan rendemen
yang tinggi adalah saat kondisi bahan layu atau kering dibandingkan segar. 
3.    Pengaruh bagian dari sereh wangi adalah pada bagian batang dan daun menghasilkan
rendemen lebih banyak dibandingkan bagian batang saja. 
4.    Pengaruh aroma yang paling banyak terdapat pada bagian batang dibandingkan dengan
bagian daun.

DAFTARPUSTAKA
E, Guenther. 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Penerjemah Ketaren S. Jakarta : Universitas Indonesia
Press.
Furianto, Yuni Eko, dkk. 2013. Pengambilan Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Serai Wangi
(Cymbopogon winterianus) Menggunakan Metode Distilasi Uap dan Air dengan Pemanasan
Microwave. Institut Teknologi sepuluh Nopember. Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539.
Ghifary, Hilman. 2007. Analisa Proses Penyulingan Minyak Atsiri Daun Serai Wangi
(Citronella)   Menggunakan Metode Uap Langsung. Laboratorium Teknik Prosesing Hasil
Pertanian Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya:
Malang.
H, Novita Setya, dkk. 2012. Proses Pengambilan Minyak Atsiri Dari Daun Nilam Dengan
Pemanfaatan Gelombang Mikro (Microwave). Institut Teknologi sepuluh Nopember. Vol. 1, No.
1 (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271         F-25.
R. Arswendiyumna. 2010. Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Tanaman Dua Spesies Genus
Cymbopogon, Famili Gramineae Sebagai Insektisida Alami dan Antibakteri. Surabaya : Jurusan
Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Richards, W. F. 1994. Perfumer's Hand Book and Catalog, New York: Fritzsche Brother Inc