Anda di halaman 1dari 40

TUGAS MAKALAH

Keperawatan Gawat Darurat


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Gawat Darurat
Dosen Pengampu :
Andi Budiyanto, S.Kep.,Ns.,M.Kep
Ns Ilhamsyah,S.Kep, M.Kep
Ns Ardian, S.Kep, M.Kep
Ns Eva Yustilawati,S.Kep, M.Kep
Ns. Musdalifah, S.Kep, M.Kep

OLEH:
KELOMPOK III KEPERAWATAN A
Sri windayanti (70300117013)
Hesti wulandari (70300117014)
Gita lestari (70300117015)
Adriana Febriani (70300117016)
Nely alfiani (70300117017)
Nurhikmah (70300117018)

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2020

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang
senantiasa memberikan ilmu serta limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya
sehingga makalah ini yang berjudul “ Asuhan keperawatan Trauma Abdomen ”
bisa terselesaikan. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan penegak
risalahnya, semoga kita tetap menjadi umatnya sampai akhir masa.

Rasa terimakasih juga kami ucapkan kepada dosen pembimbing yang


selalu memberikan dukungan serta bimbingannya, serta ucapan terimakasih
kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya
sehingga tugas ini bisa disusun dengan baik.

Dalam penulisan ini kami berusaha menyajikan bahan dan bahasa yang
sederhana, singkat serta mudah dicerna isinya oleh para pembaca. Kami
menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna serta masih terdapat
kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan makalah ini. Maka kami berharap
adanya masukan berupa kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan
dimasa yang akan datang.

Akhir kata, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
dipergunakan dengan layak sebagaimana mestinya.

Samata, 21 Maret 2020

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................i

DAFTAR ISI...............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

A. Latar belakang.............................................................................................1
B. Tujuan.........................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................3

A. Definisi trauma abdomen...........................................................................3


B. Klasifikasi trauma abdomen.......................................................................4
C. Etologi trauma abdomen.............................................................................5
D. Patofisiologi trauma abdomen....................................................................6
E. Manifestasi klinis trauma abdomen............................................................7
F. komplikasi trauma abdomen.......................................................................8
G. Pemeriksaan penunjang trauma abdomen...................................................8
H. Penatalaksanaan trauma abdomen………………………………………
...................................................................................................................11
I. Farmakologi……………………………………………………………...14

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA ABDOMEN .........................16

A. Pengkajian.................................................................................................16
B. Diagnosa...................................................................................................18
C. Intervensi...................................................................................................18
BAB IV ANALISIS JURNAL…………………………………………………….27

BAB V PENUTUP.....................................................................................................36

A. Kesimpulan ..............................................................................................36
B. Saran ........................................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................38

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dalam era modernisasi kemajuan di bidang teknologi transportasi dan


semakin berkembangnya mobilitas manusia berkendara di jalan raya
menyebabkan kecelakaan yang terjadi semakin meningkat serta angka
kematian semakin tinggi. Trauma pada penduduk Indonesia masih tetap
merupakan penyebab kematian pada seluruh kelompok umur di bawah umur
45 tahun. Lebih dari seper dua pasien-pasien trauma merupakan akibat
kecelakaan lalu lintas, selebihnya akibat terjatuh, luka tembak dan luka tusuk,
keracunan luka bakar dan tenggelam.
Kepala divisi hubungan masyarakat (kadiv Humas) menyatakan,
sebanyak 1.547 jiwa meninggal dunia akibat korban kecelakaan lalu lintas di
seluruh Indonesia sejak awal Januari 2012. Angka kecelakaan lalu lintas
cukup tinggi dan menonjol, datanya selama satu setengah bulan ada 9.884
kasus, meninggal dunia 1.547 jiwa, luka berat 2.562 jiwa dan luka ringan
7.564 jiwa, Salah satu kematian akibat kecelakaan adalah di akibatkan trauma
abdomen. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian 75% trauma
tumpul abdomen, trauma abdomen merupakan penyebab terbanyak
kehilangan nyawa yang bersifat tragis, trauma abdomen yang tidak di ketahui
masih tetap menjadi momok sebagai penyebab kematian yang seharusnya bisa
di cegah. (Depkes RI 2012)
Di Rumah Sakit data kejadian trauma abdomen masih cukup tinggi.
Dalam kasus ini “ Waktu adalah nyawa ” dimana dibutuhkan suatu
penanganan yang professional yaitu cepat, tepat, cermat dan akurat, baik di
tempat kejadian ( pre hospital ), transportasi sampai tindakan definitif di
rumah sakit.
Perawat merupakan ujung tombak dan berperan aktif dalam
memberikan pelayanan membantu klien mengatasi permasalahan yang di

3
rasakan baik dari aspek psikologis maupun aspek fisiologi secara
komprehensif.

B. Tujuan

Dari uraian latar belakang di atas, maka tujuan dari makalah ini adalah
sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui konsep medis trauma abdomen

2. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan trauma abdomen

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Abdomen adalah sebuah rongga besar yang dililingkupi oleh otot-otot


perut pada bagian ventral dan lateral, serta adanya kolumna spinalis di sebelah
dorsal. Bagian atas abdomen berbatasan dengan tulang iga atau costae Cavitas
abdomninalis berbatasan dengan cavitas thorax atau rongga dada melalui otot
diafragma dan sebelah bawah dengan cavitas pelvis atau rongga panggul.
Antara cavitas abdominalis dan cavitas pelvis dibatasi dengan membran
serosa yang dikenal dengan sebagai peritoneum parietalis. Membran ini juga
membungkus organ yang ada di abdomen dan menjadi peritoneum visceralis.
Pada vertebrata, di dalam abdomen terdapat berbagai sistem organ,
seperti sebagian besar organ sistem pencernaan, sistem perkemihan. Berikut
adalah organ yang dapat ditemukan di abdomen: komponen dari saluran
cerna: lambung (gaster), usus halus, usus besar (kolon), caecum, umbai cacing
atau appendix; Organ pelengkap dai saluran cerna seperti: hati (hepar),
kantung empedu, dan pankreas; Organ saluran kemih seperti: ginjal, ureter,
dan kantung kemih (vesica urinaria); Organ lain seperti limpa (lien).
Istilah trauma abdomen atau gawat abdomen menggambarkan keadaan
klinik akibat kegawatan dirongga abdomen yang biasanya timbul mendadak
dengan nyeri sebagian keluhan utama. Keadaan ini memerlukan
penanggulangan segera yang sering berupa tindakan beda, misalnya pada
obstruksi, perforasi atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan

5
cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga
perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis.
Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera
(sjamsuhidayat, 2010).
Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan
cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2011).
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma
tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja
(Smeltzer, 2001).
Trauma abdomen didefinisikan sebagai trauma yang melibatkan
daerah antara diafragma atas dan panggul bawah (Guilon, 2011).
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur
yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul
atau yang menusuk (Ignativicus & Workman, 2006).
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa trauma
abdomen adalah trauma atau cedera pada abdomen yang menyebabkan
perubahan fisiologis yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang
diakibatkan oleh luka tumpul atau tusuk.

B. Klasifikasi

Trauma pada dinding abdomen terdiri dari :


1. Kontusio dinding abdomen

Disebabkan trauma non-penetrasi. Kontusio dinding abdomen tidak


terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi eksimosis atau
penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darah dapat menyerupai
tumor.

2. Laserasi

Jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga


abdomen harus di eksplorasi. Atau terjadi karena trauma penetrasi.

6
Trauma abdomen pada isi abdomen, menurut Suddarth & Brunner
(2005) terdiri dari :

a) Perforasi organ viseral intraperitoneum

Cedera pada isi abdomen mungkin di sertai oleh bukti adanya cedera
pada dinding abdomen.

b) Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen

Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan diagnostik ahli


bedah.

c) Cedera thorak abdomen

Setiap luka pada thoraks yang mungkin menembus sayap kiri


diafragma, atau sayap kanan dan hati harus dieksplorasi.

C. Etiologi

Menurut (Hudak & Gallo, 2001) kecelakaan atau trauma yang terjadi
pada abdomen, umumnya banyak diakibatkan oleh trauma tumpul. Pada
kecelakaan kendaraan bermotor, kecepatan, deselerasi yang tidak terkontrol
merupakan kekuatan yang menyebabkan trauma ketika tubuh klien terpukul
setir mobil atau benda tumpul lainnya.

Trauma akibat benda tajam umumnya disebabkan oleh luka tembak


yang menyebabkan kerusakan yang besar didalam abdomen. Selain luka
tembak, trauma abdomen dapat juga diakibatkan oleh luka tusuk, akan tetapi
luka tusuk sedikit menyebabkan trauma pada organ internal diabdomen.

Trauma pada abdomen disebabkan oleh 2 kekuatan yang merusak,


yaitu :

1. Paksaan /benda tumpul

7
Merupakan trauma abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga
peritoneum. Luka tumpul pada abdomen bisa disebabkan oleh jatuh,
kekerasan fisik atau pukulan, kecelakaan kendaraan bermotor, cedera
akibat berolahraga, benturan, ledakan, deselarasi, kompresi atau sabuk
pengaman. Lebih dari 50% disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.

2. Trauma tembus

Merupakan trauma abdomen dengan penetrasi ke dalam rongga


peritoneum. Luka tembus pada abdomen disebabkan oleh tusukan benda
tajam atau luka tembak.

D. Patofisiologi

Trauma pada abdomen dibagi menjadi trauma tumpul dan


tembus.Trauma tumpul abdomen disebabkan kompresi dan deselerasi.
Kompresi rongga abdomen oleh benda - benda terfiksasi, seperti sabuk
pengaman atau setir kemudi akan meningkatkan tekanan intraluminal dengan
cepat, sehingga mungkin menyebabkan ruptur usus, atau pendarahan organ
padat. Gaya deselerasi (perlambatan) akan menyebabkan tarikan atau
regangan antara struktur yang terfiksasi dan yang dapat bergerak. Deselerasi
dapat menyebabkan trauma pada mesenterium, pembuluh darah besar, atau
kapsul organ padat, seperti ligamentum teres pada hati. Organ padat, seperti
limpa dan hati merupakan jenis organ yang tersering mengalami terluka
setelah trauma tumpul abdomen terjadi (Demetriades, 2007).

Trauma tumpul pada abdomen juga disebabkan oleh


pengguntingan,penghancuran atau kuatnya tekanan yang menyebabkan
rupture pada usus atau struktur abdomen yang lain. Luka tembak dapat
menyebabkan kerusakan pada setiap struktur didalam abdomen.Tembakan
menyebabkan perforasi pada perut atau usus yang menyebabkan peritonitis
dan sepsis.

8
Patofisiologi yang terjadi berhubungan dengan terjadinya trauma abdomen
adalah:

1. Terjadi perpindahan cairan berhubungan dengan kerusakan pada


jaringan,kehilangan darah dan shock.

2. Perubahan metabolic dimediasi oleh CNS dan system


makroendokrin,mikroendokrin.

3. Terjadi masalah koagulasi atau pembekuan dihubungkan dengan


perdarahan massif dan transfuse multiple.

4. Inflamasi, infeksi dan pembentukan formasi disebabkan oleh sekresi


saluran pencernaan dan bakteri ke peritoneum

5. Perubahan nutrisi dan elektrolit yang terjadi karena akibat kerusakan


integritas rongga saluran pencernaan.

6. Limpa merupakan organ yang paling sering terkena kerusakan yang


diakibatkan oleh trauma tumpul. Sering terjadi hemoragi atau perdarahan
masif yang berasal dari limpa yang ruptur sehingga semua upaya
dilakukan untuk memperbaiki kerusakan di limpa.

7. Liver, karena ukuran dan letaknya hati merupakan organ yang paling
sering terkena kerusakan yang diakibatkan oleh luka tembus dan sering
kali kerusakan disebabkan oleh trauma tumpul. Hal utama yang dilakukan
apabila terjadi perlukaan dihati yaitu mengontrol perdarahan dan
mendrainase cairan empedu.

8. Esofagus bawah dan lambung, kadang - kadang perlukaan esofagus bawah


disebabkan oleh luka tembus. Karena lambung fleksibel dan letaknya yang
mudah berpindah, sehingga perlukaan jarang disebabkan oleh trauma
tumpul tapi sering disebabkan oleh luka tembus langsung.

9
9. Pankreas dan duodenum, walaupun trauma pada pankreas dan duodenum
jarang terjadi. Tetapi trauma pada abdomen yang menyebabkan tingkat
kematian yang tinggi disebkan oleh perlukaan di pankreas dan duodenum,
hal ini disebabkan karena letaknya yang sulit terdeteksi apabila terjadi
kerusakan.

E. Manifestasi klinis

Kasus trauma abdomen ini bisa menimbulkan manifestasi klinis


menurut Sjamsuhidajat (2010), meliputi: nyeri tekan diatas daerah abdomen,
distensi abdomen, demam, anorexia, mual dan muntah, takikardi, peningkatan
suhu tubuh, nyeri spontan.

Pada trauma non-penetrasi (tumpul) biasanya terdapat adanya:

1. Jejas atau ruftur dibagian dalam abdomen


2. Terjadi perdarahan intra abdominal.
3. Apabila trauma terkena usus, mortilisasi usus terganggu sehingga fungsi
usus tidak normal dan biasanya akan mengakibatkan peritonitis dengan
gejala mual, muntah, dan BAB hitam (melena).
4. Kemungkinan bukti klinis tidak tampak sampai beberapa jam setelah
trauma.
5. Cedera serius dapat terjadi walaupun tak terlihat tanda kontusio pada
dinding abdomen.
Pada trauma penetrasi biasanya terdapat:
1. Terdapat luka robekan pada abdomen.
2. Luka tusuk sampai menembus abdomen.
3. Penanganan yang kurang tepat biasanya memperbanyak
perdarahan/memperparah keadaan.
4. Biasanya organ yang terkena penetrasi bisa keluar dari dalam andomen.

10
Menurut (Hudak & Gallo, 2001) tanda dan gejala trauma abdomen,
yaitu :

1. Nyeri
Nyeri dapat terjadi mulai dari nyeri sedang sampai yang berat. Nyeri dapat
timbul di bagian yang luka atau tersebar. Terdapat nyeri saat ditekan dan
nyeri lepas.
2. Darah dan cairan
Adanya penumpukan darah atau cairan dirongga peritonium yang
disebabkan oleh iritasi.
3. Cairan atau udara dibawah diafragma
Nyeri disebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limpa. Tanda ini
ada saat pasien dalam posisi rekumben.
4. Mual dan muntah
Penurunan kesadaran (malaise, letargi, gelisah) yang disebabkan oleh
kehilangan darah dan tanda-tanda awal shock hemoragi.

F. Komplikasi

Menurut smaltzer & Bare ( 2013), komplikasi segera dapat terjadi


pada pasien dengan trauma abdomen adalah hemoragi, syok dan cedera.
Sedangkan komplikasi jangka panjangnya adalah infeksi.

G. Pemeriksaan penunjang

Menurut Musliha, 2010, pemeriksaan diagnostik untuk trauma abdomen,


yaitu :

1. Foto thoraks

Untuk melihat adanya trauma pada thorak.

2. Pemeriksaan darah rutin

11
Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-linedata bila terjadi perdarahan
terus menerus. Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000 /mm tanpa terdapatnya infeksi
menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak kemungkinan ruptura
lienalis. Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan
adanya trauma pankreas atau perforasi usus halus. Kenaikan transaminase
menunjukkan kemungkinan trauma pada hepar.

3. Plain abdomen foto tegak

Memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas


retro perineal dekat duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran
usus.

4. Pemeriksaan urine rutin

Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai


hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma
pada saluran urogenital.

5. VP (Intravenous Pyelogram)

Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada persangkaan


trauma pada ginjal

6. Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL)

Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam


rongga perut. Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL inihanya alat
diagnostik. Bila ada keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard).

a) Indikasi untuk melakukan DPL adalah sebagai berikut:

 Nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya


 Trauma pada bagian bawah dari dada

12
 Hipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas
 Pasien cedera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat,
alkohol, cedera otak)
 Pasien cedera abdominal dan cedera medula spinalis (sumsum
tulang belakang)

 Patah tulang pelvis

b) Kontra indikasi relatif melakukan DPL adalah sebagai berikut:

 Hamil
 Pernah operasi abdominal
 Operator tidak berpengalaman

 Bila hasilnya tidak akan merubah penatalaksanaan

7. Ultrasonografi dan CT Scan

Sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi


dan disangsikan adanya trauma pada hepar dan retro peritoneum.

Menurut Musliha (2011), pemeriksaan khusus untuk trauma abdomen


yaitu :

1. Abdomonal Paracentesis

Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk


menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih
dari100.000 eritrosit /mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga
peritoneum setelah dimasukkan 100–200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5
menit, merupakan indikasi untuk laparotomi.

2. Pemeriksaan Laparoskopi

13
Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung
sumber penyebabnya.

3. Bila dijumpai perdarahan dan anus perlu dilakukan rekto-sigmoidoskopi.

H. Penatalaksanaan

Menurut Smeltzer & Bare (2013) penatalaksanaan adalah :

1. Abdominal paracentesis menentukan adanya perdarahan dalam rongga


peritonium, merupakan indikasi untuk laparotomi
2. Pemasangan NGT memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada
trauma abdomen
3. Pemberian antibiotik mencegah infeksi
4. Pemberian antibiotika IV pada penderita trauma tembus atau pada trauma
tumpul bila ada persangkaan perlukaan intestinal.
5. Penderita dengan trauma tumpul yang terkesan adanya perdarahan hebat
yang meragukan kestabilan sirkulasi atau ada tanda-tanda perlukaan
abdomen lainnya memerlukan pembedahan
6. Prioritas utama adalah menghentikan perdarahan yang berlangsung.
Gumpalan kassa dapat menghentikan perdarahan yang berasal dari daerah
tertentu, tetapi yang lebih penting adalah menemukan sumber perdarahan
itu sendiri
7. Kontaminasi lebih lanjut oleh isi usus harus dicegah dengan
mengisolasikan bagian usus yang terperforasi tadi dengan mengklem
segera mungkin setelah perdarahan teratasi.

Sedangkan menurut (Hudak & Gallo, 2001). penatalaksanaannya adalah :

1. Pre Hospital

Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang


mengancam nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi dilokasi
kejadian. Paramedik mungkin harus melihat apabila sudah ditemukan luka

14
tikaman, luka trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani,
penilaian awal dilakukan prosedur ABC jika ada indikasi. Jika korban
tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas.

a) Airway

Dengan kontrol tulang belakang. Membuka jalan napas


menggunakan teknik ‘head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala
dan mengangkat dagu,periksa adakah benda asing yang dapat
mengakibatkan tertutupnya jalan napas, muntahan, makanan, darah
atau benda asing lainnya.

b) Breathing

Dengan ventilasi yang adekuat. Memeriksa pernapasan dengan


menggunakan cara ‘lihat – dengar – rasakan’ tidak lebih dari 10 detik
untuk memastikan apakah ada napas atau tidak. Selanjutnya lakukan
pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat
tidaknya pernapasan).

c) Circulation

Dengan kontrol perdarahan hebat. Jika pernapasan korban


tersengal-sengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapat
dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi
jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan bantuan napas dalam
RJP adalah 30 : 2 (30kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas).

d) Penanganan awal trauma non- penetrasi (trauma tumpul):


 Stop makanan dan minuman
 Imobilisasi

 Kirim kerumah sakit

15
e) Penetrasi (trauma tajam)
 Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam
lainnya) tidak boleh dicabut kecuali dengan adanya tim medis.
 Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan
dengan kain kassa pada daerah antara pisau untuk memfiksasi
pisau sehingga tidak memperparah luka.
 Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut
tidak dianjurkan dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian
organ yang keluar dari dalam tersebut dibalut kain bersih atau bila
ada verban steril.
 Imobilisasi pasien.
 Tidak dianjurkan memberi makan dan minum.
 Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan
menekang.

 Kirim ke rumah sakit.

2. Hospital

a) Trauma penetrasi

Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen,


seorang ahli bedah yang berpengalaman akan memeriksa lukanya
secara lokal untuk menentukan dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat
berguna bila ada luka masuk dan luka keluar yang berdekatan.

b) Skrinning pemeriksaan rontgen

Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan


kemungkinan hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya
udara intra peritonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine)
untuk menentukan jalan peluru atau adanya udara retro peritoneum.

16
c) IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning Ini di lakukan untuk
mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada

d) Uretrografi

Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra.

e) Sistografi
Ini digunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung
kencing, contohnya pada:
 Fraktur pelvis

 Trauma non – penetrasi

3. Penanganan pada trauma benda tumpul dirumah sakit:

a) Pengambilan contoh darah dan urine

Darah di ambil dari salah satu vena permukaan untuk


pemeriksaan laboratorium rutin, dan juga untuk pemeriksaan
laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap, potasium,
glukosa, amilase.

b) Pemeriksaan rontgen

Pemeriksaan rongten servikal lateral, toraks antero posterior dan


pelvis adalah pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita
dengan multi trauma, mungkin berguna untuk mengetahui udara
ekstraluminal di retro peritoneum atau udara bebas di bawah
diafragma, yang keduanya memerlukan laparotomi segera.

c) Study kontras urologi dan gastrointestinal


Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon
ascendensatau decendens dan dubur.
I. Farmakologi

17
Pengobatan dan pertolongan pada pasien trauma abdomen
memerlukan tenaga medis. Untuk pemeriksaan awal, pasien trauma harus
ditanganin sesuai dengan algoritma Advanced Trauma Life Support (ATLS),
yaitu:
A (Airway): Apakah pasien berbicara dalam kalimat penuh?
B (Breathing and Ventilation): Apakah pasien mengalami kesulitan bernapas?
Apakah ada bunyi napas dan gerakan dada saat bernapas?
C (Circulation): Apakah denyut teraba?
D (Disability): Apakah pasien dapat bergerak? apakah pasien dalam keadaan
sadar?
E (Exposure): Apakah terdapat darah?
Jika pemeriksaan awal pasien sudah dilakukan, resusitasi (tindakan
pertolongan selanjutnya) dapat dimulai. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan,
seperti EKG, rontgen dada, rontgen panggul, kateter urine, dan lainnya.
Pada pasien dengan trauma tusuk abdomen, antibiotik bisa diberikan
untuk menghindari infeksi tetanus. Darah harus diberikan sesuai kebutuhan
agar pasien tidak mengalami syok. Pasien dapat diberikan resusitasi cairan
intravena sesuai kebutuhan, biasanya dengan cairan kristaloid, baik larutan
saline 0,9% atau ringer laktat.
Pembedahan juga diperlukan untuk menghentikan pendarahan dan
membersihkan darah yang terkumpul. Jenis operasi yang dibutuhkan
tergantung pada seberapa parah pendarahan, di mana lokasi pendarahan itu,
dan kesehatan pasien secara keseluruhan.Setelah pendarahan berhenti,
perawatan akan fokus pada memperbaiki kerusakan organ yang disebabkan
oleh pendarahan dan menstabilkan tubuh pasien.

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA ABDOMEN

A. Pengkajian

1. Pengkajian primer

a) Airway
Membuka jalan nafas menggunakan teknik head tilt chin lift atau
menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa adakah benda
asing yang mengakibatkan tertutupnya jalan nafas. Muntahan, makanan,
darah atau benda asing lainnya

b) Breathing

Memeriksa pernapasan dengan cara "lihat, dengar, rasakan",


selanjutnya pemeriksaan status respirasi klien.

c) Circulation

Mengecek denyut nadi dan tekanan darah

d) Disability
Dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Yang
dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.
e) Exposure
Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya dengan cara
menggunting untuk memeriksa dan evaluasi penderita. Paparan lengkap
dan visualisasi head-to-toe pasien adalah wajib pada pasien dengan
trauma abdomen penetrasi. Ini termasuk bagian bokong, bagian posterior
dari kaki, kulit kepala, bagian belakang leher dan perineum. Setelah
pakaian dibuka penting penderita diselimuti agar tidak kedinginan.

2. Pengkajian sekunder

19
Dasar pemeriksaan fisik ‘head to toe’ harus dilakukan dengan singkat
tetapi menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki.

Pengkajian data dasar menurut Brunner & Suddart (2002), adalah :

a) Aktifitas/istirahat
 Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas,

 Data Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseim Bangan


cedera (trauma)

b) Sirkulasi

 Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), polanapas


(hipoventilasi, hiperventilasi, dll).

c) Integritas ego
 Data Subyektif : Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau
dramatis)

 Data Obyektif : Cemas, Bingung, Depresi.

d) Eliminasi

 Data Subyektif : Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami


gangguan fungsi.

e) Makanan dan cairan


 Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan Selera
makan.

 Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.

f) Neurosensori.
 Data Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo

20
 Data Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan
status mental,Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.

g) Nyeri dan kenyamanan


 Data Sbyektif : Sakit pada abdomen dengan intensitas dan lokasi yang
berbeda, biasanya lama.

 Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.

h) Pernafasan

 Data Subyektif : Perubahan pola nafas.

i) Keamanan
 Data Subyektif : Trauma baru/ trauma karena kecelakaan.

 Data Obyektif : Dislokasi gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak.

j) Interaksi sosial

 Data obyektif : gangguan motorik atau sensorik

k) Penyuluhan / pembelajaran

 Data subyektif : membutuhkan bantuan dalam pengobatan aktivitas


perawatan diri

B. Diagnosa keperawatan

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan

2. Nyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi


abdomen.

3. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak


adekuatnya pertahanan tubuh

21
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik

5. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake


yang kurang.

C. Intervensi

Intervensi keperawatan menurut NIC (2016) adalah sebagai berikut :

1. Kekurangan volume cairan b/dperdarahan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, volume cairan


tidak mengalami kekurangan.

Kriteria hasil :

 Intake dan output seimbang

 Turgor kulit baik

 Perdarahan (-)

Rencana tindakan keperawatan

a) Kaji tanda-tanda vital.


Rasional : Untuk mengidentifikasi defisit volume cairan.
b) Pantau cairan parenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin
Rasional : Mengidentifikasi keadaan perdarahan, serta Penurunan
sirkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan
pemekatan urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian
cairan segera.
c) Kaji tetesan infus.
Rasional : Awasi tetesan untuk mengidentifikasi kebutuhan cairan.
d) Kolaborasi : Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.

22
Rasional : Cara parenteral membantu memenuhi kebutuhan nuitrisi
tubuh.
e) Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur.
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
f) Pemberian tranfusi darah.
Rasional : Menggantikan darah yang keluar.

2. Nyeri b/d adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, Nyeri klien


teratasi.

Kriteria hasil :

 Skala nyeri 0
 Ekspresi tenang

Rencana tindakan keperawatan

a) Kaji karakteristik nyeri.


Rasional : Mengetahui tingkat nyeri klien.
b) Beri posisi semi fowler.
Rasional : Mengurangi kontraksi abdomen
c) Anjurkan tehnik manajemen nyeri seperti distraksi
Rasional : Membantu mengurangi rasa nyeri dengan mengalihkan
perhatian
d) Managemant lingkungan yang nyaman.
Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat memberikan rasa
nyaman klien
e) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Analgetik membantu mengurangi rasa nyeri

23
3. Resiko infeksi b/d tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan
tubuh

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, infeksi tidak


terjadi.

Kriteria hasil :

 Tanda-tanda infeksi (-)


 Leukosit 5000-10.000 mm3

Rencana tindakan keperawatan

a) Kaji tanda-tanda infeksi


Rasional : Mengidentifikasi adanya resiko infeksi lebih dini.
b) Kaji keadaan luka.
Rasional : Keadaan luka yang diketahui lebih awal dapat
mengurangi resiko infeksi
c) Kaji tanda-tanda vital.
Rasional : Suhu tubuh naik dapat di indikasikan adanya proses
infeksi.
d) Lakukan  cuci tangan sebelum kontak dengan pasien.
Rasional : Menurunkan resiko terjadinya kontaminasi
mikroorganisme.
e) Lakukan pencukuran pada area operasi (perut kanan bawah)
Rasional : Dengan pencukuran klien terhindar dari infeksi post
operasi.
f) Perawatan luka dengan prinsip sterilisasi.
Rasional : Teknik aseptik dapat menurunkan resiko infeksi
nosokomial
g) Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasional : Antibiotik mencegah adanya infeksi bakteri dari luar.

24
4. Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan fisik

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, diharapkan


dapat bergerak bebas.

Kriteria hasil :

 Mempertahankan mobilitas optimal

Rencana tindakan keperawatan

a) Kaji kemampuan pasien untuk bergerak.


Rasional : Identifikasi kemampuan klien dalam mobilisasi.
b) Dekatkan peralatan yang dibutuhkan pasien.
Rasional : Meminimalisir pergerakan kien.
c) Berikan latihan gerak aktif pasif.
Rasional : Melatih otot-otot klien.
d) Bantu kebutuhan pasien.
Rasional : Membantu dalam mengatasi kebutuhan dasar klien.
e) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi.
Rasional : Terapi fisioterapi dapat memulihkan kondisi klien.

5. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, nutrisi klien


terpenuhi.

Kriteria hasil :

 Nafsu makan meningkat


 BB Meningkat
 Klien tidak lemah

Rencana tindakan keperawatan

25
a) Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
Rasional : Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan.
b) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi
sering dan tawarkan pagi paling sering.
Rasional : Adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro
intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
c) Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah
makan.
Rasional : Akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah
baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
d) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional : Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat
meningkatkan pemasukan.
e) Berikan diet tinggi kalori, rendah lemak
Rasional : Glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk
pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk
diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar

26
BAB IV
ANALISIS JURNAL

1. Judul Artikel
“Pengaruh Terapi Distraksi Visual Dengan Media Virtual Reality Terhadap
Intensitas Nyeri Pasien Post Operasi Laparatomi”
2. Kata Kunci (Keywords)
Distraksi visual, Laparatomy, Nyeri, Virtual Reality
3. Penulis
Rahmat Deri Yadi, Ririn Sri Handayani, Merah Bangsawan
4. Instansi Terkait
Jrusan Keperawatan Poltekes Tanjungkarang
5. DOI/ISSN
p-ISSN : 1907-0357
e-ISSN : 2655-2310
6. Nama Jurnal dan Tahun Terbit
Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, Volume 14 Nomor 2.
Tahun terbit 2019.
7. Tujuan Penelitian

27
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh terapi distraksi visual dengan
media virtual reality terhadap intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi
8. Format Isi Artikel
P Pasien post operasi laparatomi yang mengalami nyeri

I Intervensi memberikan terapi distraksi visual dengan media


virtual reality untuk menurunkan nyeri pada pasien post operasi
laparatomi. Pada penelitian ini tidak dijelaskan waktu pemberin
terapi

C Tidak ada intervensi pembanding dalam penelitian ini

O Skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan terapi distrakasi


visual dengan menggunakan media virtual reality

T Tidak dijelaskan waktu pelaksanaanya

9. Telaah Step 1 (Fokus Penelitian)


Problems Pembedahan laparotomi, menurut Jitowiyono (2010)
adalah pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Laparatomi juga dilakukan pada kasus-kasus digestif dan
kandungan, seperti apendiksitis, perforasi, hernia inguinalis,
kanker lambung, kanker colon dan rectum, obstruksi usus,
inflamasi usus kronis, kolestisitis dan peritonitis (Sjamsu
Hidajat & Jong, 2005).

Nyeri merupakan suatu rasa yang tidak nyaman, baik


ringan maupun berat. Asosiasi internasional untuk penelitian
nyeri (International Associatian for The Study of Paint,
IASP, 1997) sebagaimana di kutip dalam Suzanne C.
Smeltzer (2002) mendefinisikan nyeri sebagai suatu sensori
subjektif dan pengalaman emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang

28
aktual, potensial, atau yang dirasakan dalam kejadiaan
kejadian saat terjadi kerusakan.

Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi


nyeri pasca operasi yaitu manajemen farmakologi dan
manajemen non farmakologi. Teknik relaksasi dan distraksi
merupakan salah satu metode manajemen nyeri non
farmakologi. Salah satu tindakan pereda nyeri dengan
menggunakan manajemen nonfarmakologi yaitu dengan
terapi distraksi (Potter & Perry, 2005) Menurut Kozier B.
(2010). Distraksi terdiri dari beberapa teknik, salah satu nya
adalah distrasi visual. Distraksi visual atau penglihatan
adalah pengalihan perhatian selain nyeri yang diarahkan ke
dalam tindakan-tindakan visual atau pengamatan.Dalam
terapi distraksi visual ini peneliti menggunakan media
tambahan yaitu dengan menggunakan media virtual reality.

Menurut Andre KP, (2010). Virtual Reality adalah


teknologi yang membuat pengguna berinteraksi dengan suatu

lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-


simulatedenvironment). Teknologi virtual reality (VR) tak
hanya digunakan untuk menikmati game. Teknologi ini
dikembangkan untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan
pasien.Peneliti Inggris ingin melihat apakah virtual reality
(VR) mampu meringankan rasa sakit dan kecemasan
pasien.Efek analgesik nonfarmakologi ini muncul saat pasien
menggunakan virtual reality (VR) dengan simulasi
lingkungan bersalju bersamaan dengan medikasi luka oleh
dokter (Listiyani, 2017).

Intervention Intervensi memberikan terapi distraksi visual dengan media

29
virtual reality untuk menurunkan nyeri pada pasien post
operasi laparatomi. (Yadi, Handayani, & Merah Bangsawan,
2019)
Comparison Tidak ada intervensi pembanding dalam penelitian ini.
Intervention (Yadi, Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)

Outcome Hasil penelitian dalam pemberian terapi distraksi visual


sebelum dan sesudah di lakukan terapi dengan menggunakan
media virtual reality dalam menurunkan nyeri pada pasien
post operasi laparatomi didapatkan bahwa hasil pengukuran
rata-rata skala nyeri pada pasien post operasi laparatomi
sebelum diberikan terapi distraksi visual dengan media
virtual reality adalah mean 5,18, dengan standar deviasi
0,751, nilai nyeri terendah adalah 4 dan nilai nyeri tertinggi
adalah 6. Pengukuran rata-rata nyeri pada pasien post operasi
laparatomi sesudah diberikan terapi distraksi visual dengan
media virtual reality adalah mean 3,55, dengan standar
deviasi 1,036, nilai nyeri terendah adalah 2 dan nilai nyeri
tertinggi adalah 5. (Yadi, Handayani, & Merah Bangsawan,
2019)
Dapat disimpulkan bahwa distribusi rata-rata nyeri post
operasi sebelum diberikan terapi distraksi visual dengan
media virtual reality adalah 5,18. sedangkan Pada
pengukuran distribusi rata-rata nyeri setelah diberikan terapi
distraksi visual dengan media virtual reality didapatkan rata-
rata nyeri post operasi adalah 3,55. Nilai perbedaan mean
antara nyeri sebelum dan sesudah diberikan terapi distraksi
visual dengan media virtual reality adalah 1,63. (Yadi,
Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)
Berdasarkan Hasil ststistik dengan uji wilcoxon
didapatkan hasil p value sebesar (0,002) <α (0,05), hal ini

30
menunjukkan Ha diterima yang artinya terapi distraksi visual
dengan media virtual reality memiliki pengaruh dalam
menurunkan tingkat nyeri pada pasien post operasi
laparatomi. (Yadi, Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)
Time Tidak disebutkan rentang waktu pelaksanaanya. (Yadi,
Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)
10. Telaah Step 2 (Validitas)
Recruitment 1. Metode Penelitian
Penelitian kuantitatif. Desain penelitian ini
adalah penelitian dengan metode Pra-
Eksperimen dengan menggunakan rancangan
OneGroup Pretest-Posttest Design. (Yadi,
Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)

2. Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pasien post operasi laparatomi yang mengalami
nyeri. Teknik sampling pada penelitian ini
menggunakan teknik purposive sampling.
Penelitian menggunakan 11 responden (Yadi,
Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)
3. Kriteria Inklusi-Eksklusi:
a. Kriteria inklusi: tidak dijelaskan dalam
penilitian tersebut
b. Kriteria Eksklusi: tidak dijelaskan dalam
penelitian tersebut.
Maintenance Pada penelitian ini intervensi distraksi visual
diberikan saat pasien mengalami nyeri, dengan cara
pengalihan perhatian selain nyeri yang diarahkan ke
dalam tindakan-tindakan visual atau pengamatan
Dalam terapi distraksi visual ini peneliti

31
menggunakan media tambahan yaitu dengan
menggunakan media virtual reality. Virtual Reality
adalah teknologi yang membuat pengguna
berinteraksi dengan suatu lingkungan yang
disimulasikan oleh komputer (computer-
simulatedenvironment). Teknologi virtual reality
(VR) tak hanya digunakan untuk menikmati game.
Teknologi ini dikembangkan untuk mengurangi rasa
sakit dan kecemasan pasien ( Andre KP, 2010 ).

Measurement 1. Alat Pengumpul Data/Instrumen


Instrumen yang digunakan pada penelitian ini
adalah lembar observasi dan lembar pengukuran
skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale
(NRS). Di tambah dengan alat dan bahan berupa
handphone dan box virtual reality. (Yadi,
Handayani, & Merah Bangsawan, 2019)
2. Uji Statistik yang Digunakan
Untuk melihat efek terapi distraksi visual dengan
media virtual reality terhadap intensitas nyeri
pada pasien post operasi laparatomi sebelum dan
sesudah diberikan terapi dilakukan uji univariat.
Dan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan
sesudah diberikan terapi dilakukan uji bivariat.
Uji statistik dilakukan menggunakan uji
wilcoxon karena terdapat 2 kelompok sebelum
dan sesudah dilakukan terapi. (Yadi, Handayani,
& Merah Bangsawan, 2019)
3. Hasil Pengukuran
Berdasarkan hasil uji univariat dan bavariat
didapatkan hasil bahwa distribusi rata-rata nyeri

32
post operasi sebelum diberikan terapi distraksi
visual dengan media virtual reality adalah 5,18.
sedangkan Pada pengukuran distribusi rata-rata
nyeri setelah diberikan terapi distraksi visual
dengan media virtual reality didapatkan rata-rata
nyeri post operasi adalah 3,55. Nilai perbedaan
mean antara nyeri sebelum dan sesudah diberikan
terapi distraksi visual dengan media virtual
reality adalah 1,63. Berdasarkan hasi ststistik
dengan uji wilcoxon didapatkan hasil p value
sebesar (0,002) <α (0,05), hal ini menunjukkan
Ha diterima yang artinya terapi distraksi visual
dengan media virtual reality memiliki pengaruh
dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien post
operasi laparatomi. (Yadi, Handayani, & Merah
Bangsawan, 2019).

33
11. Telaah Step 3 (Aplikabilitas)
a. Adanya Sumber Daya Manusia
Pengaplikasian intervensi ini sangat memungkinkan untuk dilakukan
dalam pelayanan pasien di rumah sakit terutama pada pasien yang
mengalami nyeri. perawat sebenarnya dapat mempunyai peranan dalam
tindakan keperawatan mandiri dalam penanganan nyeri secara berkala
sebagai langkah awal dalam meningkatkan kenyamanan pasien dengan
melakukan terapi distraksi visual dengan media virtual reality
b. Biaya
Pemberian intervensi jika ditinjau dari segi biaya juga sangat
memungkinkan. Karena hanya membutuhkan perawat itu sendiri dalam
memberikan dan mengajarkan latihan ini kepada pasien. Terapi distraksi
visual dengan media virtual reality juga ekonomis karena hanya
menggunakan media elektronik seperti haandphone
c. Kebijakan
Distraksi terdiri dari beberapa teknik, salah satu nya adalah distrasi
visual. Distraksi visual atau penglihatan adalah pengalihan perhatian
selain nyeri yang diarahkan ke dalam tindakan-tindakan visual atau
pengamatan.Dalam terapi distraksi visual ini peneliti menggunakan media
tambahan yaitu dengan menggunakan media virtual reality. Virtual
Reality adalah teknologi yang membuat pengguna berinteraksi dengan
suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-
simulatedenvironment). Teknologi virtual reality (VR) tak hanya
digunakan untuk menikmati game. Teknologi ini dikembangkan untuk
mengurangi rasa sakit dan kecemasan pasien.Peneliti Inggris ingin melihat
apakah virtual reality (VR) mampu meringankan rasa sakit dan kecemasan
pasien.Efek analgesik nonfarmakologi ini muncul saat pasien
menggunakan virtual reality (VR) dengan simulasi lingkungan bersalju
bersamaan dengan medikasi luka oleh dokter. Tentunya sebelum

34
dilakukan penerapan intervensi ini, dibutuhkan SOP yang jelas agar dapat
di aplikasikan dalam pelayanan.
d. Hasil
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa hasil penelitian
menunjukkan adanya perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah
diberikan terapi distraksi visual dengan media virtual reality. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi distraksi visual dengan
media virtual reality terhadap intensitas nyeri pada pasien post operasi
laparatomi.
Jadi hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terapi distraksi
visual dengan media virtual reality efektif untuk menurunkan nyeri pada
pasien post operasin laparatomi dan terapi distraksi visual dengan media
virtual reality efektif untuk dijadikan salah satu alternatif intervensi
keperawatan.

12. Kelebihan dan Kekurangan Artikel


Kelebihan :

1. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pelayanan keperawatan


2. Instrumen yang digunakan sangat jelas sumber dan nilai
reliabilitasnya
Kekurangan :

1. Tidak terdapat langkah-langkah prosedur pelaksanaan intervensi


(SOP Jelas)
2. Tidak terdapat saran bagi peneliti selanjutnya yang ingin
mengembangkan intervensi ini
3. Tidak dituliskan inklusi dan eksklusi dalam penelitian.
4. Tidak menjelaskan secara menyuluruh tentang alat yang digunakan
untuk pengumpulan data

35
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Trauma abdomen adalah pukulan / benturan langsung pada rongga


abdomen yang mengakibatkan cidera tekanan/tindasan pada isi rongga
abdomen, terutama organ padat (hati, pancreas, ginjal, limpa) atau
berongga (lambung, usus halus, usus besar, pembuluh – pembuluh
darah abdominal) dan mengakibatkan ruptur abdomen. Trauma
abdomen disebabkan oleh Kecelakaan lalu lintas, penganiayaan,
kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian.

2. Dalam konsep asuhan keperawatan trauma abdomen saat melakukan


pengkajian dibagi menjadi dua yaitu pengkajian primer dan pengkajian
sekunder. Pengkajian primer terdiri dari airway, breathing, circulation,
disability dan exposure. Sedangkan, pengkajian sekunder adalah
pengkajian terhadap aktifitas/istirahat, sirkulasi, integritas ego,
eliminasi, makanan dan cairan, neurosensori, pernafasan, keamanan,
interaksi sosial dan penyuluhan / pembelajaran. Diagnosa terdiri dari
lima diagnosa yaitu kekurangan volume cairan b/d perdarahan, nyeri
b/d adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen, resiko
infeksi b/d tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan tubuh,
gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan fisik dan gangguan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang.

B. Saran

1. Bagi petugas kesehatan atau instansi kesehatan agar lebih


meningkatkan pelayanan kesehatan terutama pada trauma abdomen
untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal dan sebaiknya
proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.

2. Bagi klien dan keluarga, Perawatan tidak kalah pentingnya dengan


pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa
perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak

36
tercapai, oleh sebab itu perlu adanya penjelasan pada klien dan
keluarga mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan.

3. Bagi mahasiswa keperawatan, diharapkan mampu memahami dan


menerapkan asuhan keperawatan yang benar pada klien dengan trauma
abdomen.

37
DAFTAR PUSTAKA

Andre K.P. (2010). Mudah Membuat Game Augmented Reality (AR) dan Virtual
Reality (VR) dengan Unity 3D . Jakarta: Elex Media.

Dorland WA, Newman.2010. Kamus Kedokteran Dorland edisi 31. Jakarta :


penerbit Buku Kedokteran EGC. P. 702, 1003.
Guillon, F. 2011. Epidemiology of Abdominal Trauma. CT of the Acute
Abdomen, Medical Radiology. Diagnostic Imaging. Berlin: Springer-
Verlag p.15-2
Ignatavicus & Workam. 2006 . Medical surgical nurshing critical thingking for
collaborative care. Vol.2 Elseiver sauders : Ohia
Hudak & Gallo. 2001. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC

Jitowiyono, S. (2010). Asuhan Keperawatan Post Operatif. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Kozier, B. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses, dan


praktik. Jakarta: EGC.

Listiyani, D. (2017). Peneliti Gunakan Virtual Reality (VR) untuk Kurangi Rasa
Sakit Pasien. diperoleh dari
https://techno.okezone.com/read/2017/06/15/207/1717236/peneliti-
gunakan-vr-pasien pada tanggal 18 mei 2018.

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI :


Jakarta
Musliha. 2010 . Keperawatan Gawat Darurat . Yogyakarta : Nuha Medika

Perry & Potter. (2005). Buku Ajar Fndamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik, Vol 2. Edisi 4.Jakarta: EGC.

Sjamsuhidajat. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta : EGC

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta: EGC.

38
Smeltzer, Suzane C. (2002). Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth :
Edisi 8. Alih Bahasa Agung Waluyo. (et al) ; editor edisi bahasa
Indonesia Monica Ester. (et al). Jakarta : EGC

Smeltzer &Bare (2013), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta :


Nuha Medika
Suddarth & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC

Yadi, R. D., Handayani, R. S., & Bangsawan, M. (2019). Pengaruh Terapi


Distraksi Visual Dengan Media Virtual Reality Terhadap Intensitas
Nyeri Pasien Post Operasi Laparatomi. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai
Betik, 14(2), 167-170.

Wilkinson, J.,& Ahern, n. R.(2013), Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 9


diagnosis NANDA, intervensi NIC,kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC

39