Anda di halaman 1dari 3

Praktikum ke – 2 M. K.

Klimatologi Tropika
Nama : Fakhri Labib Chusaini Asisten Praktikum
NIM : G24170003 1. Muhammad Reyhan R (G24160052)
Tanggal : 3 Februarui 2020 2. Edward David RS (G24160064)

PETA ISOPLET
Karakteristik iklim, khususnya perilaku curah hujan di P. Sumatera dapat
dianalisis secara akurat berdasarkan data iklim dari stasiun meteorologi. Namun untuk
analisis spasial, hal ini sangat ditentukan oleh kerapatan jaringan penakar hujan. Untuk
daerah-daerah dengan jaringan penakar hujan yang cukup rapat dan merata seperti di P.
Jawa hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun untuk wilayah-wilayah seperti
Sumatera, kerapatan jaringan penakar hujan tidak sama untuk seluruh propinsi dan juga
tidak sebanyak jaringan yang ada di P. Jawa. Disini terlihat bahwa Indonesia merupakan
satu kawasan daerah tropis yang unik dimana dinamika atmosfernya dipengaruhi oleh
kehadiran angin pasat, aliran angin monsunal, iklim marine dan pengaruh berbagai
kondisi lokal. Cuaca dan iklim di Indonesia mempunyai karakteristik khusus yang hingga
kini mekanisme proses pembentukannya belum banyak diketahui (Hermawan 2010).
Pembuatan peta isoplet dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan
menggunakan aplikasi. Peta isoplet dengan manual dapat dilakukan dengan interpolasi.
Interpolasi adalah metode atau cara mencari sebuah nilai yang berada diantara dua buah
titik yang berbeda angkanya. Aplikasi Surfer (Surface Mapping System) merupakan salah
satu aplikasi yang digunakan untuk pembuatan peta kontur dan pemodelan peta tiga
dimensi spasial darat maupun lautan berdasarkan pada grid (Burrough 1986).
Peta unsur-unsur meteorologi di antaranya meliputi peta isobar, isoterm,
isodrosoterm, isogon, dan isotach. Peta isobar adalah peta dengan garis-garis yang
menghubungkan tempat dengan nilai tekanan yang sama. Nilai isobar yang semakin
rendah ditunjukkan dengan warna putih, sedangkan nilai isobar yang semakin tinggi
ditunjukkan dengan warna coklat. Semakin melebar perubahan warna semakin berubah
mendekati warna coklat yang menunjukkan wilayah tersebut memiliki tekanan tinggi atau
disebut sebagai anti siklon (tekanan tinggi) yang berupa wilayah lautan. (Irianto 2003).

Gambar 1 Peta isotherm dan isogon pada pulau Sumatera


Gambar 1 menunjukkan isoterm dan isogon pada pulau Sumatera. Peta diatas
dibuat menggunakan perangkat lunak Surfer. Isogon pada peta tersebut ditunjukkan
dengan tanda panah dan tempat dengan nilai suhu udara yang sama atasu disebut dengan
peta isotherm. Peta isotherm adalah peta dengan garis yang menghubungkan tempat-
tempat dengan nilai suhu rata-rata yang sama. Anak panah pada peta tersebut
menunjukkan arah angina yang terjadi di sekitar pulau Sumatra. Berdasarkan gambar 1
terlihat bahwa arah angin menuju ke wilayah tekanan rendah atau merupakan daerah
tekanan tinggi. Terdapat keterkaitan antara suhu dengan angina, angina bergerak dari
tekanan tinggi ke tekanan rendah. Suhu tinggi menyebabkan suhu udara di atasnya
memuai sehingga tekanan menjadi rendah dan juga sebaliknya sehingga angin bergerak
dari suhu rendah ke tinggi (Strahler 2010).

Gambar 2 Peta isodosoterm dan isotherm pada pulau Sumatra.

Gambar 2 diatas menunjukkan gambar garis isotherm dan isodoterm. Peta


isodrosoterm adalah peta berupa kontur yang menghubungkan tempat yang memiliki nilai
titik embun yang sama. Peta isotach merupakan peta yang menghubungkan garis-garis
wilayah dengan kecepatan angin yang sama, sedangkan peta isogon yaitu peta yang
menghubungkan wilayah dengan arah angin yang sama (Tjasyono 2004). Grafik antar
suhu udara dengan suhu titik embun menyatakan hubungan yang berbanding lurus, yaitu
dtinjukkan dengan garis isodoterm yang berwarna biru dan isotherm yang berwarna hitam
terlihat dua garis tersebut mengikuti pola garis yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Burrough PA. 1986. Principles of Geographical Information Systems for Land Resources
Assesment. New York (US): Oxford University Press
Hermawan E. 2010. Pengelompokkan pola curah hujan yang terjadi di beberapa kawasan
P.Sumatera berbasis hasil analisis teknik spectral. Jurnal Meteorologi dan
Geofisika. 11(2): 75-85.
Irianto S. 2003. Implikasi Penyimpangan Iklim Terhadap Tataguna Lahan. Makalah
Seminar Nasional Ilmu Tanah. KMIT Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UGM.
Yogyakarta.
Strahler AH. 2010. Introducing Physical Geography 5th ed. New York (US): John Wiley.
Tjasyono B. 2004. Klimatologi. Bandung (ID): ITB Press.