Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Keperawatan
Perawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan yang di dasarkan ilmu dan kiat keperawatan,
berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spritual yang komprehensif serta di tujukan
kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang
mencakup seluruh siklus kehidupan manusia (Lokakarya keperawatan Nasional
1986).

B. Ciri-Ciri Keperawatan ( Shortridge, ( 1985 ))


Adapun ciri-ciri keperawatan adalah sebagai berikut:
a. Berorientasi pada pelayanan masyarakat
Hal ini berarti kepentingan masyarakat akan pelayanan keperawatan ada diatas
kepentingan pribadi agar kebutuhan klien ( individu, keluarga, dan masyarakat )
akan asuhan keperawatan terpenuhi. Keperawatan merupakan suatu pelayanan
sosial yang esensial dank lien mempunyai hak menggunakan pelayanan
keperawatan dari perawat secara professional.
b. Pelayanan keperawatan yang diberikan didasarkan pada ilmu
Hal ini berarti perawat harus mempunyai ilmu pengetahuan yang kokoh
sebagai dasar pemberian asuhan keperawatan. sebagai suatu profesi, keperawatan
mempunyai badan ilmu body of knowledge yaitu ilmu terapan sebagai sintesa dari
berbagai disiplin ilmu.
Ciri utama pelayanan keperawatan didasari ilmu pengetahuan, bila asuhan
keperawatan dilakukan dengan menggunakan metode pemecahan masalah yaitu
proses keperawatan. meliputi pengkajian, diagnose keperawatan, pelaksanaan,
evaluasi. Manfaatnya adalah menjamin efektifitas dan efisiensi asuhan
keperawatan serta menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat.
c. Adanya otonomi
Artinya profesi keperawatan mempunyai kemandirian, wewenang, dan
tanggung jawab untuk mengatur kehidupan profesi, mencakup otonomi dalam
menetapkan standar baku penyelenggara pendidikan, pelayanan keperawatan serta

1
praktik keperawatan dalam bentuk legislasi keperawatan. hal ini penting artinya
agar perkembangan profesi keperawatan terarah dan terencana sehingga
memudahkan proses evaluasi terhadap kemajuan yang telah dicapai.
d. Memiliki kode etik
Kode etik adalah seperangkat norma dan peraturan yang diyakini oleh profesi
dan menjadi pedoman dan acuan perawat dalam melakukan aktifitas
keperawatan sesuai kewenangan dan tanggung jawab yang diembannya.

C. Landasan Prinsip-Prinsip Asuhan/Pelayanan dan Praktik Keperawatan


a. Berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan
Artinya, pelayanan keperawatan harus dilandasi dan menggunakan ilmu
keperawatan dan kiat keperawatan yang mempelajari bentuk dan sebab tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia serta upaya perawatan dan penyembuhan.
Kiat keperawatan (Nursing Arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat
untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan
seni dalam arti menggunakan kiat-kiaat tertentu dalam upaya memberikan
kepuasan dan kenyamanan pada klien.
b. Bersifat komprehensif
Pelayanan keperawatan dikatakan bersifat komprehensif jika asuhan
keperawatan yang diberikan berifat menyeluruh meliputi aspek biologi, psikologi,
sosial dan spiritual.
c. Ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat sehat maupun sakit
Sesuai dengan ilmu keperawatan yang melandasi praktek keperawatan, asuhan
keperawatan dapat diberikan kepada individu pada institusi pelayanan kesehatan
seperti puskesmas, poliklinik, klinik keperawatan mandiri dan rumah sakit.
d. Merupakan bagian integral pelayanan kesehatan
Pada hakekatnya pelayanan kesehatan meliputi pelayanan medis (kedokteran),
pelayanan keperawatan dan pelayanan penunjang kesehatan ( gizi, farmasi,
laboratorium, dsb). Sebagai bagian integral pelayanan kesehatan, pelayanan
keperawatan tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan lain. Hal ini
bertujuan pemberian asuhan keperwatan sejalan dengan tujuan pemberian
pelayanan kesehatan.

2
e. Mencakup siklus hidup manusia
Artinya, asuhan keperawatan dapat diberikan kepada klien sejak dalam
kandungan sampai tutup usia. Yaitu sejak konsepsi (pertemuan sperma dan
ovum), setelah lahir (bayi), anak, remaja, dewasa, usia lanjut sampai menjelang
kematian.

D. Fokus Praktek Keperawatan Profesional


Praktek keperawatan tidak boleh terlepas dari upaya kesehatan masyarakat
dunia dan sistem kesehatan nasional. focus utama keperawatan saat ini adalah
kesehatan masyarakat dengan target populasi total. Manusia tidak hanya
dipandang dari aspek fisik tetapi manusia dipandang sebagai makhluk bio-psiko-
sosio-spiritual. tujuan praktek keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985)
harus diupayakan pada pencegahan primer, peningkatan kesehatan pasien,
keluarga dan masyarakat, perawatan diri dan peningkatan kepercayaan diri.
Praktik keperawatan meliputi empat area yang terkait dengan kesehatan
(Kozier, Erb,1990) :
a. Peningkatan kesehatan (Health Promotion).
Dalam kegiatan ini, perawat membantu masyarakat mengembangkan sumber–
sumber atau meningkatkan kesejahteraan/kesehatan. Tujuannya adalah mencapai
kesehatan yang optimal, dengan contoh menjelaskan manfaat program latihan
bagi pasien.
b. Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance).
Perawat melakukan aktivitas untuk membantu masyarakat mempertahankan
status kesehatannya. Contoh kegiatan disini adalah mengajarkan atau
menganjurkan seseorang usia lanjut melakukan latihan untuk mempertahankan
kekuatan dan mobilitas otot.
c. Pemulihan Kesehatan (Health restoration).
Perawat membantu pasien meningkatkan kesehatan setelah pasien memiliki
masalah kesehatan atau penyakit. Sebagai contoh adalah mengajarkan pasien
merawat luka atau membantu orang cacat mempertahankan kekuatan fisik
seoptimal yang dapat dilakukan.

3
d. Perawatan orang yang menjelang ajal.
Perawat memnerikan rasa nyaman dan merawat orang dalam keadaan
menjelang ajal. kegiatan dapat dilakukan dirumah sakit, rumah, dan fasilitas
kesehatan yang lain.

E. Hakekat Keperawatan
a) Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang
dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses,
dan hasil bisnis (Acmad Sanusi, 1994).
b) Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang
baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
c) Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki
kehidupan (Zimmerer. 1996).
d) Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha
(start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro,
1997).
e) Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru
(creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi
nilai lebih.
f) Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan
mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk
memenangkan persaingan.

F. Pengertian Enterpreneur
Entrepreneurship atau kewirausahaan, berasal dari entrepreneur
(wirausahawan) berasal dari bahasa Perancis entreprende yang berarti mengambil
pekerjaan (to undertake). Konsep mengenai entrepreneur adalah: the entrepreneur
is one who undertakes to organize, manage, and assume the risk of business.
Kewirausahaan / Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola
sesuatu yang ada pada diri kita untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih
optimal, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup kita.

4
Kewirausahaan juga berarti, proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan
mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung risiko
keuangan, kejiwaan, sosial dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan
kepuasan pribadinya.
Secara konseptual Nursepreneur memiliki ciri sebagai berikut :
1. Pengerahan Diri : Pendisiplinan diri dan secara menyeluruh merasa
nyaman bekerja untuk diri sendiri.
2. Pengasuhan Diri : Antusiasme tak terbatas untuk ide-ide Anda saat tak
seorang pun memilikinya.
3. Orientasi pada Tindakan : Hasrat menyala untuk memujudkan,
mengaktualisasi kan dan mengubah ide – ide Anda menjadi kenyataan.
4. Energi Tingkat Tinggi : Mampu bekerja dalam waktu lama secara
emosional, mental dan fisik.
5. Toleransi atas Ketidakmenentuan : Secara psikologis mampu menghadapi
resiko

Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship,


entrepreurial dan entrepreneur yaitu:
1) Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk
menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship
meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga
kemampuan manajerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur.
2) Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di
dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu
dengan keinginan pasar.
3) Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya
berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang
menambahkan nilai yang lebih besar dari pada sebelumnya, dan juga
dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi dan aturan baru.

5
4) Entrepreurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.

Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi:


1) Pengambilan inisiatif
2) Mengorganisasi dan reorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi untuk
mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis.
3) Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan.
Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian
timbul pengertian baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan
dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu
yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, dan resiko sosial, dan
akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian
personal. Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang dimiliki oleh
seorang wirausahawan yaitu:
1) Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan
menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh
wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil
kreasi tersebut.
2) Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang
diberikan. Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha
ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam
kewirausahaan.
3) Memperkirakan resiko yang mungkin terjadi, dalam hal ini resiko yang
mugkin terjadi pada resiko keuangan, fisik dan resiko sosial.
4) Memperoleh reward, dalam hal ini reward terpenting adalah independensi
atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reeward
berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan
usahanya.
Model Entrepreneurship secara sederhana dimulai dengan diketahui adanya
peluang, mampu menggunakannya, kemudian jika terdapat hambatan, mampu
mengatasi hambatan yang ada. Diperlukan juga kemampuan cara melakukan

6
entrepreneurship itu sendiri sehingga tercipta usaha baru (peluang menjadi usaha
baru).

Peluang perawat menjadi entrepreneur dibagi menjadi:


1. Trend demografi : Jumlah lansia yang semakin banyak tentunya
memerlukan perawatan dalam menjalani hidupnya. Dalam menjalani
pengobatan mungkin beberapa klien memerlukan penjagaan atas privacynya
sehingga memerlukan pelayanan secara khusus.
2. Kesempatan di falitas kesehatan : Terlibat dalam produksi atau
pendistribusian suplemen yang baik untuk pasien di rumah sakit. Mungkin
kedepannya tidak menutup kemungkinan rumah sakit akan melakukan
outsourcing tenaga perawat untuk memotong besarnya biaya rumah sakit, hal
ini tentunya rumah sakit tidak akan memaksakan tenaga perawat yang sedikit
untuk merawat pasien yang sangat banyak dan sebaliknya jika pasien sedikit
rumah sakit bisa menyesuaikan kebutuhan tenaga perawat.
3. Trend sosial : Gaya hidup yang sibuk berdampak buruk terhadap
kesehatan seseorang sehingga untuk tetap sehat membutuhkan perawatan
untuk mempertahankan kesehatanny, dalam hal ini focus kepada kelompok –
kelompok tertentu seperti klub jantung sehat.

Peluang – peluang diatas sangat mungkin dimanfaatkan oleh perawat karena


perawat di rumah sakit sangat dekat dengan pasien, namun untuk memanfatkan
peluang tersebut perawat sering menghadapi hambatan – hambatan diantaranya:
isu malpraktek, tidak punya hak istimewa dari rumah sakit, padangan skeptis dari
beberapa dokter tentang peran independen perawat, dan ketakutan rumah sakit
akan menurunnya kedisiplinan perawat.
1. Aspek legal : Perawat dalam menjalankan entrepreneurship-nya sering
dihantui oleh sangsi hukum, oleh karena itu banyak perawat berharap untuk
disahkannya RUU praktik keperawatan. Tetapi tentunya aspek hukum yang
harus dikuasai bukan hanya tentang perawat tentunya undang – undang atau
peraturan hukum lainnya juga harus dikuasai oleh perawat.

7
2. Etik dan konflik personal : Banyak perawat beranggapan bahwa berbisnis
bertentangan dengan kode etik dan nilai perawat dimana berbisnis maka akan
menurunkan penilaian masyarakat terhadap perawat. Dan untuk menghindari
terjadinya konflik personal perawat lebih suka bekerja di klinik tempat praktek
dokter, hal ini menyebabkan fungsi mandiri dari perawat dinilai tidak ada oleh
masyarakat atau dengan kata lain tidak kompeten dan menjadi perawat tidak
survive untuk menunjukan eksistensi tindakan keperawatan mandiri.
3. Hambatan dari pengetahuan : Kemampuan perawat dalam memulai bisnis
belum terlihat hal ini disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan
perencanaan bisnis (akutansi, pemasaran, manajeriar, asuransi, hukum,
perencanaan, insurance, anggaran, pendanaan, negosiasi, penagihan,
keterampilan klinik dan keperawatan). Manajemen perawat lebih difokuskan
kepada manajemen pasien tidak kepada manajemen perusahaan dan masih
banyak perawat beranggapan bahwa masyarakat hanya membutuhkan rumah
sakit dan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan, kalau berbisnis
mempunyai risiko yang tinggi. Hal ini berdampak banyak perawat kesulitan
dalam memulai usaha baru.
Solusi : Untuk mengatasi masalah diatas diantaranya dengan cara :

G. Pendidikan Kewirausahaan
Anggapan lama mengatakan “ Entrepreneurship are born not made” sehingga
kewirausahaan tidak dapat dipelajari atau diajarkan. Sementara anggapan
sekarang “ Entrepreneurship are not only born also made”. Sehingga
kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman di
lapangan saja, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat dipelajari.
Transformasi pengetahuan kewirausahaan telah berkembang pada akhir-akhir
ini. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan tumbuh pesat. Mata kuliah
kewirausahaan diberikan dalam bentuk kuliah umum ataupun bentuk konsentrasi
program studi.
Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena berisi:
a. Body of knowledge yang utuh dan nyata, ada objek, konsep dan modelnya.

8
b. Kewirausahaan memiliki dua konsep, posisi venture start up dan venture
growth, tidak memisahkan antara manajemen dan kepemilikan usaha.
c. Merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan
untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
d. Merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dan pendapatan atau
kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
e. Kewirausahaan telah dijadikan kompetensi inti dalam menciptakan perubahan,
perbaharuan dan kemajuan.
f. Objek studi kewirausahaan adalah kemampuan merumuskan bertujuan hidup,
memotivasi diri, berinisiatif, membentuk modal, mengatur waktu, dan
membiasakan diri untuk belajar dari pengalaman.
g. Kewirausahaan pada hakikatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang
memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia
nyata secara kreatif.

H. Motivasi Berwirausaha
Teori 3 kebutuhan David McClelland:
1) N’Ach, need for achievment, wirausaha yang memiliki motivasi ini selalu
ingin berprestasi/ meraih yang terbaik, umumnya memiliki ciri-ciri:
a. Ingin mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan dan persoalan-persoalan yang
timbul pada dirinya.
b. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk dapat mengukur
keberhasilan atau kegagalan.
c. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
d. Berani menghadapi resiko dengan penuh tantangan.
e. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.
2. N’Pow, need for power, yaitu hasrat untuk mempengaruhi, mengendalikan
dan menguasai orang lain. Ciri umum adalah senang bersaing, berorientasi
pada status dan menguasai orang lain.
3. N’Aff, need for affilitation, yaitu hasrat untuk dapat diterima dan disukai oleh
orang lain. Wirausaha yang berfiliasi tinggi lebih menyukai persahabatan,
bekerjasama, dan saling pengertian.

9
I. Prinsip-Prinsip Kewirausahaan
a. Prinsip Wirausaha I
Kekuatan yang mendorong kesuksesan perusahaan strart up terdiri dari tiga
macam: peluang, tim dan sumber daya. Proses kewirausahaan diawali bukan dari
ketersediaan uang, strategi, network, tim ataupun rencana bisnis, melainkan dari
adanya peluang. Peluang yang berpotensi tinggi terkadang memiliki kekuatan
yang jauh lebih besar dari pada ketersediaan sumbe daya atau tim pada saat itu.
Peran entrepreneur dan tim adalah menjaga keseimbangan antara tiga kekuatan
tersebut dalam lingkungan yang terus berubah. Ketidakpastian dan resiko menjadi
teman sejati para entrepreneur.
Adanya keseimbangan akan membantu entrepreneur dalam mencapai
keberlanjutan atau sustanbility perusahaan tanpa harus merusak lingkungan,
komunitas atau masyarakat. Rencana bisnis berfungsi sebagai komunikator
kualitas dan keseimbangan kekuatan pada saat tertentu.
b. Prinsip Wirausaha II
Dunia kewirausahaan bersifat dinamis, cair, ambigu, dan chaos. Perubahan
yang konstan terjadi menyebabkan dunia kewirausahaan berkaitan erat dengan
paradoks.
1) Untuk bisa sukses, jangan takut untuk gagal.
Kasus yang biasanya terjadi adalah jika perusahaan pertama gagal,
entrepreneur belajar dari pengalaman dan kemudian membentuk perusahaan lagi
yang ternyata sangat sukses di masa depan.
2) Rencana bisnis akan cepat menjadi uang.
Kondisi persaingan, teknologi, dan pasar yang sangat dinamis menyebabkan
kita kesulitan untuk mengetahui semua kondisi kompetisi. Hasilnya adalah
rencana bisnis cepat menjadi uang begitu ia selesai dicetak. Entrepreuneur harus
melatih kebiasaan berencana dan bereaksi secara cepat, mengkombinasikan logika
dan intuisi sampai kebiasaan ini menjadi sesuatu yang refleks.

10
3) Agar kreativitas dan inovasi berhasil, harus ada disiplin ilmu yang
mengimbangi.
Penemuan- penemuan produk harus dibarengi dengan ilmu mengenai
komersialiasi teknologi atau produk, jika tidak, maka penemuan ini tidak akan
mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan masyarakat.
4) Entrepreneur harus bisa bertindak cepat, tetapi juga harus sabar.
Sementara kompetitor bergerak cepat, entrepreneur harus belajar menentukan
kapan ia harus bertindak dan kapan ia harus bertahan.
5) Semakin besar ukuran dan kontrol terhadap perusahaan, semakin
rendah kinerja.
Kewirausahaan memerlukan fleksibilitas tingggi dalam strategi dan taktik.
Kontrol dan keteraturan yang berlebih dapat menghambat kemajuan perusahaan

c. Prinsip Wirausaha III


Setiap manusia akan menghadapi resiko dalam hidupnya. Begitupun dengan
entrepreneur, berikut adalah beberapa resiko yang umum di hadapi entrepreneur
yaitu:
1) Resiko Finansial
Pada perusahaan yang baru berdiri, entrepreneur memberikan sebagian
simpanannya untuk modal. Uang ataupun aset lain yang disimpan ini akan hilang
jika perusahaan ternyata gagal. Entrepreneur akan bertangggung jawab
menanggung kewajiban perusahaan yang nilainya mungkin jauh melebihi jumlah
simpanan. Oleh karena itu, entrepreneur beresiko kebangkrutan.
2) Resiko karir
Pertanyaan yang sering ada di benak entrepreneur adalah apakah mereka akan
menemukan pekerjaan atau kembali ke pekerjaannya yang dulu jika bisnisnya
gagal. Resiko ini merupakan pertimbangan utama bagi manajer yang bekerja di
perusahaan besar dengan gaji yang menarik.
3) Resiko keluarga dan social
Memulai usaha baru akan menyerap banyak energi dan waktu dari
entrepreneur. Konsekuensinya adalah bidang kehidupan yang lain akan
dikorbankan. Entrepreneur yang sudah menikah, terutama yang memiliki anak,

11
akan beresiko tidak bisa hadir sepenuhnya untuk keluarganya. Kehidupan
sosialnya mungkin akan terganggu juga.
4) Resiko kesehatan
Jam kerja yang panjang menyebabkan terancamnya kesehatan entrepreneur.
Uang dapat digantikan, keluarga dapat beradaptasi, namun kesehatan yang
terganggu lebih sulit untuk diperbaiki.

J. Langkah Perawat Menjadi Nursepreneur (Perawat Pengusaha)


Isu kesejahteraan perawat saat ini masih gencar dihembuskan selain isu
profesionalisme. Kesejahteraan perawat yang berbanding lurus dengan gaji
perawat konon berbanding terbalik dengan beban kerja perawat. Mengharapkan
pemerintah untuk melihat hal itu, rasanya tidak mungkin (tampak pada
ketidakjelasan RUU Keperawatan) karena saat ini perawat di Indonesia masih
belum memiliki bargaining position di mata pemerintah.
Salah satu solusi yang bisa diambil untuk membackup kesejahteraan perawat
tanpa perlu menggantungkan pada gaji dari pemerintah, adalah dengan menjadi
Nursepreneur (Perawat Pengusaha). Konsep Nursepreneur sudah lama muncul
dalam dunia keperawatan. Namun, di Indonesia konsep ini belum begitu familiar.
Ada satu hal yang sangat menarik dari konsep ini, yaitu untuk menjadi perawat
pengusaha atau perawat pebisnis kita hanya perlu 5 langkah. Uniknya 5 langkah
ini sangat sering dilakukan oleh perawat. 5 langkah itu adalah bagian dari
PROSES – KEPERAWATAN yang terdiri dari (1) pengkajian, (2) diagnosa, (3)
perencanaan, (4) implementasi, dan (5) evaluasi. Jika dikaitkan dengan
NURSEPRENEUR, proses keperawatan itu akan menjadi 5 langkah awal untuk
menjadi perawat pengusaha atau perawat pebisnis, yaitu :
1. PENGKAJIAN : Langkah pertama untuk memulai berbisnis adalah kita
melakukan pengkajian. Masalah adalah hal pertama yang kita ingin dapatkan
dari proses pengkajian. Maka untuk memulai bisnis, kita harus mengetahui
masalah apa yang terjadi. Saat ini yang paling berkuasa dalam dunia bisnis
adalah pasar (market). Maka pengkajian yang kita lakukan untuk memulai
berbisnis adalah mengkaji kebutuhan pasar. Pasar memerlukan apa? Ada
masalah apa?.

12
2. DIAGNOSA : Langkah kedua setelah melakukan pengkajian adalah
menetapkan diagnosa. Dalam dunia bisnis, setelah kita mengetahui kebutuhan
pasar maka yang selanjutnya dilakukan adalah memetakan potensi yang bisa
kita masuki untuk menjawab kebutuhan pasar. Pemetaan potensi itu dalam
langkah ini adalah tahap diagnosa.
3. PERENCANAAN : Setelah kita mengetahui potensi pasar yang bisa kita
masuki, maka langkah selanjutya adalah menyusun rencana untuk bisa masuk
kedalam pasar yang sesungguhnya. Tahap perencaan ini merupakan tahap
ketika kita harus memiliki konsep usaha yang jelas dan detail. Apa yang kita
jual? Apa yang kita berikan kepada konsumen? Apa solusi yang bisa
dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar?
4. IMPLEMENTASI : Langkah ini adalah tahap bagi kita untuk take action.
Konsep usaha yang jelas harus diwujudkan dalam bentuk nyata. Tahap ini
merupakan tahap yang paling inti dalam proses berbisnis dan tentu saja
merupakan tahap yang paling sulit. Semua orang bisa punya ide, namun tidak
semua orang berani take action.
5. EVALUASI : Dalam sistem apapun, evaluasi merupakan bagian penting
dan tidak boleh terlupakan. Dari evaluasi ini, kita bisa mengetahui apakah
implementasi yang kita lakukan berhasil atau tidak. Sama dalam dunia bisnis,
evaluasi akan memberikan gambaran kepada kita apakah konsep yang sudah
kita jalankan berhasil atau tidak. Jika berhasil, maka kita bisa lakukan
peningkatan, namun jika tidak, perubahan rencana dan strategi bisa dilakukan.

13
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN.
I. Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard
Castillon pada tahun 1755. Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau
Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa
visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang,
cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses
tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko
atau ketidakpastian.
II. Ciri-ciri kewirausahaan adalah :
a. Percaya diri.
b. Berorientasi tugas dan hasil.
c. Pengambil resiko.
d. Kepemimpinan.
e. Keorisinilan.
f. Berorientasi kemasa depan.
g. Jujur dan tekun.
III. Tantangan dan hambatan wirausaha yang sering dialami adalah :
1) Ketidakmampuan Manajemen.
2) Kurang Pengalaman.
3) Lemahnya Kendali Keuangan.
4) Gagal Mengembangkan Perencanaan Strategis.
5) Pertumbuhan Tak Terkendali.
6) Lokasi yang buruk.
7) Pengendalian Persediaan yang Tidak Baik.
8) Ketidakmampuan Membuat Transisi Kewirausahaan.

14
B. SARAN.
Dengan membaca dan memahami karakteristik, tantangan dan sikap mental
kewirausahaan diatas hendaknya kita mampu mempraktekkannya dalam
berwirausaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

15

Anda mungkin juga menyukai