Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH AKUNTANSI FORENSIK & AUDIT INVESTIGATIF

“AUDIT INVESTIGATIF DENGAN MENGANALISIS UNSUR


PERBUATAN MELAWAN HUKUM”

Disusun oleh:

- Mathew Agape Sitorus ( 24216295 )


- Tri Indriyanti (27216428 )
- Vella Masrianti ( 27216508 )

Kelas: 4EB08

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya baik itu berupa
sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan
makalah sebagai tugas dari mata kuliah Akuntansi Forensik & Audit Investigatif. Penulis tentu
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan
serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca
untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah ini penulis mohon maaf
yang sebesar – besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih

Depok, 19 Maret 2020

Tim penyusun

Kelompok 11

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL.........................................................................................................i
KATA PENGANTAR.................................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................iii
DAFTAR TABEL...........................................................................................................iv

BAB 1 PENDAHULUAN ...............................................................................................1


1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................1
1.1 Tujuan Masalah.......................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................2
2.1 Dasar Hukum...........................................................................................2
2.2 Jenis Tindak Pidana Korupsi.................................................................11
2.3 Tindak Pidana Lain Berkaitan Dengan Tipikor.....................................14
2.4 Unsur – Unsur Tindak Pidana Korupsi..................................................15
2.5 Konsep Undang-Undang.......................................................................25
2.6 Analisis Beberapa Kasus Korupsi.........................................................34

BAB III KESIMPULAN...............................................................................................39


DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................40

iii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 16.1.........................................................................................................................2
Tabel 16.2.........................................................................................................................6
Tabel 16.3.........................................................................................................................8
Tabel 16.4.......................................................................................................................10
Tabel 16.5.......................................................................................................................12

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akuntansi forensik bekerja sama dengan hukum dalam menyelesaikan masalah hukum.
Karena itu, akuntan forensik perlu memahami hukum pembuktian sesuai dengan masalah
hukum yang dihadapi, seperti pembuktian untuk tindak pidana hukum (dimana beberapa
pelanggaran dan kejahatan mengenai fraud diatur ), tindak pidana khusus (seperti korupsi,
pencucian uang, perpajakan, dan lain-lain), pembuktian dalam hukum perdata, pembuktian
dalam hukum administrasi, dan sebagainya. Akuntan forensik mengenal teknik analisis dari
pengalamannya sebagai auditor.

Bab ini membahas teknik analisis dengan menggunakan rumusan mengenai perbuatan-
oerbuatan melawan hukum seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jucto
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
(selanjutnya disingkat Undang-Undang Tipikor).

Perbuatan melawan hukum dirumuskan dalam satu atau beberapa kalimat yang dapat
dianalisis atau dipilah-pilah ke dalam bagian yang lebih kecil. Unsur- unsur ini dikenal
dengan istilah Belanda, bestanddeed (tunggal) atau bestanddeelen (jamak). Penyidik atau
akuntan forensik mengumpulkan bukti dan barang untuk setiap unsur tersebut. Bukti dan
barang bukti yang dikumpulkan setiap unsur akan mendukung atau membantah adanya
perbuatan melawan hukum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja Jenis Tindak Pidana Korupsi ?
2. Apa saja Tindak Pidana Lain Berkaitan Dengan Tipikor ?
3. Sebutkan Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi
4. Sebutkan beberapa Konsep Undang-Undang ?
5. Apa saja Analisis Korupsi ?

1.3 Tujuan Masalah


1. Mengetahui Jenis Tindak Pidana Korupsi
2. Mengetahui Tindak Pidana Lain Berkaitan Dengan Tipikor
3. Mengetahui Unsur – Unsur Tindak Pidana Korupsi
4. Mengetahui Konsep Undang-Undang
5. Mengetahui Analisis korupsi

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Dasar Hukum

Berikut ini disajikan empat matriks yang masing-masing menunjukkan unsur-unsur


(bestanddeelen) dari Pasal 2, Pasal 5 ayat (1) huruf a, Pasal 11, dan Pasal 13 Undang-
Undang Tipikor. Lihat pada Tabel 16.1 sampai 16.4. Contoh-contoh diambil dari buku
panduan yang diterbitkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Matriks ini juga
menyajikan uraian mengenai fakta perbuatan yang dilakukan beserta bukti dan barang bukti
yang dikumpulkan. Pada contoh-contoh ini, KPK menggunakan istilah “alat bukti yang
mendukung”.

Pada Tabel 16.1 menyajikan matriks mengenai unsur-unsur dan pembuktian Pasal 2
Undang-Undang Tipikor yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut.

Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 :

1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau sesuatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, di pidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (duapuluh) tahun dan
denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
2) Dalam pidana korupsi dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu,
pidana mati dapat dijatuhkan.

Tabel 16.1

Unsur – unsur dan Pembuktian Pasal 2 dalam Undang-Undang Tipikor

No Unsur Tindak Pidana Fakta Perbuatan yang Alat Bukti yang


. Dilakukan dan Kejadian Mendukung
1. Setiap orang B adalah seorang Dirut - Keterangan dari
BUMN Terdakwa B
- KTP A/n B
- SK
pengangkatan B
sebagai Dirut

2
BUMN

2. Memperkaya diri sendiri, - Pada tanggal 10 - Keterangan dari


orang lain, atau suatu Januari 2005, B Terdakwa B
korporasi mendapat transfer - Keterangan dari
uang sebesar Rp. saksi F
15 M dari F - Keterangan dari
- F telah mendapat petugas bank
kekayaan berupa - Print – out
aset tanah seluas 50 rekening bank
Ha dengan harga
dibawah NJOP/
harga pasar.
3. Dengan cara melawan hukum - B telah menjual - Keterangan dari
tanah negara aset saksi F.
perusahaan - Keterangan dari
(BUMN) yang Panitia penaksir
dipimpinnya harga.
kepada F seluas 50 - Keterangan dari
Ha. Panitia
- Sebelum menjual B penjualan.
mengadakan - Keterangan dari
beberapa kali Kantor PBB.
pertemuan dengan - Keterangan dari
F untuk melakukan Perusahaan
negosiasi harga dan Appraisal.
tata cara - Keterangan dari
pembayaran. Komisaris
- Setelah tercapai Perusahaan.
kesepakatan, B - Keterangan dari
mengupayakan Para Direksi.
penurunan harga - Keterangan dari
NJOP atas tanah Notaris.
sehingga sesuai - Surat, seperti
dengan dokumen yang
kesepakatannya berhubungan
dengan F. dengan
- B meminta F penjualan, NJOP

3
mencari 2 tanah, SK
perusahaan lain Panitia.
untuk melengkapi - SK Menetri
persyaratan Keuangan.
administrasi - SK Meneg
penjualan secara BUMN.
lelang. - Akta Jual Beli.
- B menunjuk panitia - Sertifikat Tanah
penaksir harga dan - Kuitansi
panitia penjualan Penjualan.
untuk memenuhi - Print –out
formalitas Rekening Koran
administrasi proses Perusahaan
penjualan secara BUMN.
lelang serta telah
menetapkan harga
tanah dan
pembelinya serta
sistem pembayaran
secara bertahap.
- Padahal, menurut
SK Menkeu, proses
penjualan harus
dengan prosedur
lelang terbuka
untuk umum dan
pembayarannya
harus secara tunai.
- Pada tanggl 10
Januari 2005, aset
tanah tersebut
dijual dengan
hyarga Rp. 100 M.
Padahal, menurut
SK Meneg BUMN,
penjualan tanah
aset BUMN sesuai
dengan NJOP
tertinggi tahun
berjalan dan atau

4
harga pasar
sehingga aset
tersebut sehingga
aset tersebut
seharusnya dijual
dengan harga Rp.
150 M.
4. Dapat merugikan keuangan Negara dirugikan sebesar - Keterangan dari
negara atau perekonomian Rp. 50 M Ahli BPKP
negara - Surat berupa
laporan hasil
perhitungan
kerugian
keuangan negara.

KESIMPULAN

Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20
Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh B adalah
sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. Tahun
20 Tahun 2001 sehingga B dituntut untuk dipidana penjara.

Tabel 16.2 menyajikan matriks mengenai unsur-unsur dan pembuktian Pasal 5 ayat (1)
huruf a Undang-Undang Tipikor yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut.

Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 :
1. Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1(satu) dan paling lama 5 (lima) tahun
dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang
yang :
a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara
negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara tersebut
berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan
dengan kewajibannya; atau
b. ..........

Tabel 16.2

5
Unsur – Unsur dan Pembuktian

Pasal 5 ayat (1) huruf a dalam Undang – Undang Tipikor

No Unsur Tindak Pidana Fakta Perbuatan yang Alat Bukti yang


Dilakukan dan Mendukung
Kejadian
1. Setiap orang - W adalah seorang - Keterangan dari
pejabat di sebuah Terdakwa W
lembaga negara. - KTP a/n W
- W adalah ketua - SK sebagai ketua
panitia/penanggun panitia.
g jawab proyek
pengadaan barang
di lembaga
tersebut.
2. Memberi sesuatu atau - W memberi - Keterangan dari
menjanjikan sesuatu uang RP. 300 Terdakwa W dan
juta kepada S keterangan dari
- S melaporkan Saksi S.
kepada Penyidik - Keterangan dari
tentang rencana Petugas Penyidik
pemberian uang yang melakukan
oleh W penangkapan.
- Alat bukti
petunjuk berupa :
I. Hasil
perekaman
oleh
Penyidik
tentang
rekaman
peristiwa
pemberian
uang dari
Terdakwa
W kepada
Saksi S.
II. Uang
tunai Rp.
300 juta.

6
3. Kepada pegawai negeri atau - S adalah seorang - Keterangan dari
penyelenggara negara pegawai negeri saksi S.
di salah satu - SK S sebagai
lembaga negara pegawai Negeri.
yang berfungsi - Surat Tugas S
sebagai untuk melakukan
pemeriksa pemeriksaan di
keuangan lembaga W.
negara. - Keterangan dari
- S sedang atasan S.
melakukan
pemeriksaan
pertanggung
jawaban
keuangan atas
pelaksanaan
pengadaan
barang yang
dilakukan oleh
W
4. Dengan maksud supaya berbuat - Pemberian uang - Keterangan dari
atau tidak berbuat sesuatu dalam oleh W kepada Terdakwa W dan
jabatannya sehingga S dimaksudkan Keterangan dari
bertentangan dengan agar S dalam Saksi S.
kewajibannya. membuat - Keterangan dari
laporan hasil Anggota Tim S.
pemeriksaan - Keterangan dari
tidak Atasan S
mencantumkan - Surat berupa
temuan tentang Laporan Hasil
adanya indikasi Pemeriksaan
penyimpangan Keuangan.
dalam
pengadaan
barang
- W mengetahui
bahwa hal
tersebut
bertentangan
dengan
kewajiban S
7
selaku
pemeriksa.

KESIMPULAN
Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 5 ayat (1) hruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo.
UU No. 20 Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan
oleh W adalah sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31
Tahun 1999 jo. UU No. 21 Tahun 2001 sehingga W dituntut untuk dipidana penjara.

Tabel 16.3 berikut ini menyajikan matriks mengenai unsur – unsur dan pembuktian
Pasal 11 Undang-Undang Tipikor.

Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun
dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juga rupiah) dan paling
banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahl diketahui atau patut diduga,
bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang
berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah
atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.

Tabel 16.3

Unsur – unsur dan Pembuktian

Pasal 11 dalam Undang –Undang Tipikor

No Unsur Tindak Pidana Fakta Perbuatan Alat Bukti yang


. yang Dilakukan dan Mendukung
Kejadian
1 Pegawai negeri atau penyelenggara Si “ X” selaku - Keterangan
negara Panitera Pengadilan dari Saksi A
Negeri dan Saksi Y.
- Keterangan
dari
Terdakwa X.
- SK
Pengangkatan
selaku

8
Panitera.

2. Menerima hadiah atau janji Pada tanggal 10 - Keterangan


Januari 2006, X dari Saksi Y.
menerima uang - Keterangan
sejumlah Rp. 500 dari
juta dari isi “Y” Terdakwa X.
diruang kerjanya. - Keterangan
dari Saksi-
saksi lain.
- Sebagian dari
uang Rp. 500
juta.

3. Diketahuinya Si “Y” mengetahui Keterangan dari


Saksi Y

4. Patut diduga bahwa hadiah atau janji Dengan uang Rp. 500 - Keterangan
tersebut diberikan karena kekuasaan juta tersebut, “X” dari Saksi Y
atau kewenangan yang berhubungan selaku Panitera dapat dan Saksi A.
dengan jabatannya, dan menurut pikiran melakukan - Keterangan
orang yang memberikan hadiah atau pendekatan/melobi dari
janji tersebut ada hubungan dengan hakim yang Terdakwa X.
jabatannya. memeriksa
perkaranya untuk
memenangkan
perkaranya.

KESIMPULAN

Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No, 21
Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh X adalah
sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20
Tahun 2001 sehingga X dituntut untuk dipidana penjara.

Tabel 16.4 menyajikan mantriks mengenai unsur-unsur dan pembuktian Pasal 13


Undang-Undang Tipikor yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut.

Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 :

9
Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat
kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatannya atau kedudukannya, atau oleh
pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

Tabel 16.4

Unsur – Unsur dan Pembuktian

Pasal 13 dalam Undang- Undang Tipikor

No Unsur Tindak Pidana Fakta Perbuatan Alat Bukti yang


yang Dilakukan dan Mendukung
Kejadian
1 Setiap orang Si “ Y” - Keterangan
dari Saksi X.
- Keterangan
dari Saksi
lain.
- Keterangan
dari
Terdakwa Y.
2 Memberi hadiah atau janji Pada tanggal 10 - Keterangan
Januari 2006, Y dari Saksi X.
memberikan uang - Keterangan
sejumlah Rp. 500 dari
juta kepada X di Terdakwa Y.
ruang kerja X. - Keterangan
dari Saksi –
saksi lain.
- Sebagian dari
uang Rp. 500
juta.

3. Kepada pegawai negeri X selaku Panitera - Keterangan


Pengadilan Negeri. dari Saksi X.
- Keterangan
dari Saksi

10
lain.
- SK
pengangkatan
selaku
Panitera.

4. Dengan mengingat kekuasaan atau Y mengetahui selaku Keterangan dari


wewenang yang melekat pada jabatan Panitera yang Terdakwa Y.
atau kedudukannya, atau oleh pemberi memegang
hadiah atau janji dianggap melekat perkaranya dapat
pada jabatan atau kedudukan tersebut. melobi Ketua Majelis
Hakim yang
menangani
perkaranya untuk
membebaskan Y
dalam perkara
penipuan yang telah
dilakukannya.

KESIMPULAN

Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20
Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh Y adalah
sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20
Tahun 2001 sehingga X di tuntut untuk dipidana penjara.

2.2 Jenis Tindak Pidana Korupsi

Undang- Undang merumuskan 30 jenis atau bentuk tindak pidana korupsi yang terbagi
dalam tujuh kelompok. Tabel 16-5 meringkaskan ke 30 bentuk tindak pidana korupsi dan
pengelompokannya.

Tabel 16.5

Perincian 30 Bentuk Tindak Pidana Korupsi

Menurut Undang – Undang Nomor 31 Tahun 1999

Jo. Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2001

Pidana Pidana

11
penjara D/ Denda (juta
No Kelompok Keterangan Pidana (tahun) DA rupiah)
penjara Min. Maks Min. Mak
. s.
Kerugian Keuangan Negara
1. Pasal 2 Memperkaya Seumur 4 20 D 200 1.000
diri hidup
2. Pasal 3 Menyalahgunak Seumur 1 20 DA 50 1.000
an wewenang hidup
Suap menyuap
3. Pasal 5, ayat Menyuap 1 5 DA 50 250
(1), a Pegawai Negeri
4. Pasal 5, ayat Menyuap 1 5 DA 50 250
(1), b Pegawai Negeri
5. Pasal 13 Memberi hadiah 3 DA 150
kepada Pegawai
Negeri
6. Pasal 5, ayat Pegawai Negeri 1 5 DA 50 250
(2) menerima suap
7. Pasal 12,a Pegawai Negeri Seumur 4 20 D 200 1.000
menerima suap hidup
8. Pasal 12, b Pegawai Negeri Seumur 4 20 D 200 1.000
menerima suap hidup
9. Pasal 11 Pegawai Negeri 1 5 DA 50 250
menerima
hadiah
10. Pasal 6, ayat Menyuap hakim 3 15 D 150 750
(1),a
11. Pasal 6, ayat Menyuap 3 15 D 150 750
(1), b advokat
12. Pasal 6, ayat Hakim dan 3 15 D 150 750
(2) advokat
menerima suap
13. Pasal 12, c Hakim Seumur 4 20 D 200 1.000
menerima suap hidup
14. Pasal 12,d Advokat Seumur 4 20 D 200 1.000
menerima suap hidup
Penggelapan dalam Jabatan
15. Pasal 8 Pegawai Negeri 3 15 D 150 750
menggelapkan
uang atau
membiarkan

12
penggelapan
16. Pasal 9 Pegawai Negeri 1 5 D 50 250
I memalsukan
buku
17. Pasal 10,a Pegawai Negeri 2 7 D 100 350
merusakkan
bukti
18. Pasal 10,b Pegawai Negeri 2 7 D 100 350
membiarkan
orang lain
merusakkan
bukti
19. Pasal 10,c Pegawai Negeri 2 7 D 100 350
merusakkan
bukti
Perbuatan Pemerasan
20. Pasal 12,e Pegawai Negeri Seumur 4 20 D 200 1.000
memeras hidup
21. Pasal 12,g Pegawai Negeri Seumur 4 20 D 200 1.000
memeras hidup
22. Pasal 12,f Pegawai Negeri Seumur 4 20 D 200 1.000
memeras hidup
Perbuatan Curang
23. Pasal 7, ayat Pemborong 2 7 DA 100 350
(1),a berbuat curang
24. Pasal 7, ayat Pengawas 2 7 DA 100 350
(1), b proyek
membiarkan
perbuatan
curang
25. Pasal 7, ayat Rekanan 2 7 DA 100 350
(1), c TNI/Polri
berbuat curang
26. Pasal 7, ayat Pengawas 2 7 DA 100 350
(1), d rekanan
TNI/Polri
berbuat curang
27. Pasal 7, ayat Penerima 2 7 DA 100 350
(2) barang
TNI/Polri
membiarkan
perbuatan

13
curang
Pegawai Negeri
28. Pasal 12,h menggunakan Seumur 4 20 D 200 1.000
tanah negara hidup
Benturan Kepentingan dalam Pengadaan
Pegawai Negeri Seumur
29. Pasal 12, i turut serta dalam hidup 4 20 D 200 1.000
pengadaan yang
diurusnya
Gratifikasi

30. Pasal 12B jo.


Pegawai Negeri Seumur 4 20 D 200 1.000
12C menerima hidup
gratifikasi
Dalam Tabel 16.5 diatas, ada kolom D-DA. Dalam kolom ini, tertulis D (yang berarti
dan) atau DA (yang berarti dan/atau).

2.3 Tindak Pidana Lain Berkaitan Dengan Tipikor

Selain ke 30 bentuk tindak pidana korupsi, Undang-Undang Tipikor Bab III mengatur
beberapa tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi berikut.

I. Mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung


penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka,
terdakwa, atau saksi dalam perkara korupsi.
II. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar.
III. Dalam perkara korupsi, melanggar KUHP Pasal 220 (mengadukan perbuatan pidana,
padahal ia tahu perbuatan itu tidak dilakukan), Pasal 231( menarik barang yang
disita), Pasal 421 (pejabat menyalahgunakan kekuasaan, memaksa orang melakukan
paksaan untuk memeras pengakuan atau mendapat keterangan), Pasal 439 (pejabat
melampaui kekuasaan ... memaksa masuk ke dalam rumah atau ruangan atau
pekarangan tertutup ... atau berada disitu secara melawan hukum) atau Pasal 430
(pejabat melampaui kekuasaan menyuruh memperlihatkan kepadanya atau merampas
surat, kartu pos, barang atau paket ... atau kabar lewat kawat).

2.4 Unsur – Unsur Tindak Pidana Korupsi


Tabel 16.5 diatas menyajikan pasal-pasal dan ayat-ayat dari Undang-Undang Tipikor
yang berisi 30 jenis tindak pidana berdasarkan tujuh kelompok. Pada pembahasan
dibawah ini, pasal-pasal dan ayat-ayat tersebut diuraikan ke dalam unsur-unsurnya
(bestanddeelen).

14
TPK – KERUGIAN KEUANGAN NEGARA :
TPK – 1
Pasal 2 :
I. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau cabang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana
penjara palung singkat 4 (empat), tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
II. Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

No Unsur Tindak Pidana


1. Setiap orang
2. Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi
3. Dengan cara melawan hukum
4. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

TPK – 2
Pasal 3 :
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakann kewenangan, kesempatan atau saran yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp, 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

No. Unsur Tindak Pidana


1. Setiap orang
2. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi
3. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana
4. Yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan
5. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

TPK SUAP MENYUAP


TPK – 3
Pasal 5 ayat (1) huruf a :
I. Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juga rupiah)

15
dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh rupiah) setiap orang
yang:
a) Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara
negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut
berbuat atu tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan
kewajibannya atau
Penjelasan undang – undang : cukup jelas.
b) .....

No. Unsur Tindak Pidana


1. Setiap orang
2. Memberi atau menjanjikan sesuatu
3. Kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
4. Dengan maksud supaya berbuat atau tidak sesuatu dalam jabatannya,
sehingga bertentangan dengan kewajibannya.

TPK – 4

Pasal 5 ayat (1) huruf b :

a. Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) setiap orang yang :
 ......
 Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena
berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya, dilakukan
atau tidak dilakukan dalam jabatannya.
Penjelasan undang – undang : Cukup jelas

No. Unsur Tindak Pidana


1. Setiap orang
2. Memberi sesuatu
3. Kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
4. Karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan
kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

TPK – 5

Pasal 13 :

16
Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri denga mengingat
kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh
pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak
Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

Penjelasan undang – undang : Cukup jelas

No. Unsur Tindak Pidana


1. Setiap orang
2. Memberi hadiah atau janji
3. Kepada pegawai negeri
4. Dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau
kedudukannya atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap, melekat pada
jabatan atau kedudukannya tersebut.

TPK – 6

Pasal 5 ayat (2)

a. Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) setiap orang yang :
 .....
 ......
b. Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji
sebagaimana dimaksud dalam ayat huruf a atau huruf b, pidana dengan pidana yang
sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pegawai negeri atau penyelenggara negara
2. Menerima pemberian atau janji
3. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b

TPK – 7

Pasal 12 huruf a :

I. Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda pidana paling sedikit
Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juga rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah) :

17
 Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji,
padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya ;
Penjelasan undang – undang : Cukup jelas
 .......

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pegawai negeri atau penyelenggara negara
2. Menerima hadiah atau janji
3. Diketahuinya bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakannya agar melakukan atau tidak melakukan dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
4. Patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakannya agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya yang bertentangan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

TPK – 12

Pasal 6 ayat (2) :

i. Bagi hakim yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) huruf a atau advokat yang menerima pemberian atau janji sebagaimaan dimaksud
dalam ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1).
Penjelasan undang-undang : Cukup jelas.

No. Unsur Tindak Pidana


1. Hakim atau advokat
2. Yang menerima pemberian atau janji
3. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a atau huruf b

TPK – 13

Pasal 12 huruf c

Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.

18
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah) :

 ......
 Hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang
diserahkan kepadanya untuk diadili :
Penjelasan undang – undang : Cukup jelas
 ......

No. Unsur Tindak Pidana


1. Hakim
2. Menerima hadiah atau janji
3. Diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili

TPK – 14

Pasal 12 huruf d :

Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah) :

 ......
 Seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan ditentukan
menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan, menerima hadiah atau janji,
padahl dikethui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk
mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengan
perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili :
 ........

No. Unsur Tindak Pidana


1. Advokat yang menghadiri sidang di pengadilan
2. Menerima hadiah atau janji
3. Diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk
mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan
perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili

19
TPK – PENGGELAPAN DALAM JABATAN

TPK – 15

Pasal 8 :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tuga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana dendan paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah),
pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu
jabatan umum secara terus menerus atas untuk sementara waktu, dengan sengaja
menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau
membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain,
atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut.

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan
menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara
waktu
2. Dengan sengaja
3. Menggelapkan atau membiarkan orang lain mengambil atau membiarkan
orang lain menggelapkan atau membantu dalam melakukan perbuatan itu

TPK – 8

Pasal 12 huruf b :

Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.
2000.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,000 (satu
miliar rupiah) ;

 ....
 Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal
diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang
bertentangan dengan kewajibannya ;
Penjelasan undang – undang : Cukup jelas
 .......

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pegawai negeri atau penyelenggara negara

20
2. Menerima hadiah
3. Diketahuinya bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakannya agar melakukan atau tidak melakukan dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
4. Patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakannya agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya yang bertentangan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

TPK – 9

Pasal 11 :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima )
tahun dan pidana dendan paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 250.000.000,000 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri
atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut
didugam bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan
yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang pikiran orang yang memberikan hadiah
atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pegawai negeri atau penyelenggara negara
2. Menerima hadiah atau janji
3. Diketahuinya
4. Patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan
atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya dan menurut pikiran
orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan
jabatannya.

TPK – 10

Pasal 6 ayat (1) huruf a :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tuga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana dendan paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)
setiap orang yang :

 Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk


mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili atau
 .........

21
No. Unsur Tindak Pidana
1. Setiap orang
2. Memberi atau menjanjikan sesuatu
3. Kepada hakim
4. Dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan
kepadanya untuk diadili

TPK – 11

Pasal 6 ayat (1) huruf b :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tuga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana dendan paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)
setiap orang yang :

 .....
 Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan
peraturan perundang – undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri
sidang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang
akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk
diadili.

No. Unsur Tindak Pidana


1. Setiap orang
2. Memberi atau menjanjikan sesuatu
3. Kepada advokat yang menghadiri sidang pengadilan
4. Dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat yang akan diberikan berhubung
dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.

TPK : PEMERASAN

TPK – 20

Pasal 12 huruf e :

Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,000 (satu
miliar rupiah) ;

 ....

22
 Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri
sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima
pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri
 ......

No. Unsur Tindak Pidana

1. Pegawai negeri atau penyelenggara negara

2. Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain

3. Secara melawan hukum

4. Memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar atau menerima


pembayaran dengan potongan atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya

5. Menyalahgunakan kekuasaan

TPK – PERBUATAN CURANG

TPK – 23

Pasal 7 ayat (1) huruf a :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah ) dan
paling banyak Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) :

 Pemborong, ahli bangunan yang pada waktu menbuat bangunan, atau penjual bahan
bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan, melakukan perbuatan
curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan
negara dalam keadaan perang :
 .....

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pemborong, ahli bangunan, atau penjual bahan
2. Melakukan perbuatan curang
3. Pada waktu membuat bangunan atau menyerahkan bahan bangunan
4. Yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan
negara dalam keadaan perang

23
TPK – 24

Pasal 7 ayat (1) huruf b :

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah ) dan
paling banyak Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) :

 .....
 Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan
bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam
huruf a :
 .....

No. Unsur Tindak Pidana


1. Pengawas bangunan atau pengawas penyerahan bahan bangunan
2. Membiarkan dilakukannya perbuatan curang pada waktu membuat bangunan
atau menyerahkan bahan bangunan
3. Dilakukan dengan sengaja
4. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a

2.5 Konsep Undang-Undang

Konsep-konsep ini akan dibahas secara singkat dan dimaksudkan untuk membantu
akuntan forensik yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan hukum. Dalam analisis
kasus (bagian terakhir bab ini), pembaca dapat melihat penerapan sebagian konsep-konsep
ini.

Dibawah ini ada catatan mengenai beberapa konsep, baik yang secara umum dikenal
dalam KUHP dan KUHAP maupun yang khas untuk tindak pidana korupsi. Konsep-konsep
itu adalah :

1. Alat Bukti yang Sah

Penjelasan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan :

Ketentuan perluasan ini mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah yang
berupa “petunjuk “ selain diperoleh dari keterangan saksi, surat, dan keterangan

24
terdakwa, juga diperoleh dari alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan,
dikirim, diterima atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa
dengan itu tetapi tidak terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data
interchange), surat elektronik (e-mail), telegram, teleks dan faksimili, dan dari
dokumen, yakni setiiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca dan atau
didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang
tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas maupun yang terekam secara
elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda,
angka, atau perforasi yang memiliki makna.

Ini merupakan perluasan pengertian alat bukti yang sah dalam KUHAP sesua dengan
perkembangan teknologi. Rumusannya sendiri dapat dilihat dalam Pasal 26 A undang-
undang Nomor 31 Tahun 1999 berikut :

Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 188 ayat
(2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khususnya
untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :

a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima atau
disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan,
b. Dokumen yakni setiap rekaman data atau informasiyang dilihat, dibaca dan atau
didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suat sarana, baik yang
tertuang diatas kertas, benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam
secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf,
tanda, angka atau perforasi yang memiliki makna.

Penjelasan dari pasal ini berbunyi sebagai berikut :

Huruf a
Yang dimaksud dengan “disimpan secara elektronik” misalnya data yang disimpan
dalam mikrofilm, Compact Disk Read Only Memory (CD-ROM), atau Write Once
Read Many (WORM).

25
Yang dimaksud dengan “alat optik atau yang serupa dengan itu” dalam ayat ini tidak
terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data interchange), suara
elektronik (e-mail), telegram, teleks, dan faksimili.

Huruf b
Cukup Jelas

Ketentuan serupa mengenai alat bukti yang sah juga terdapat dalam Undang-
Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003.

2. Beban Pembuktian Terbalik

Penjelasan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan :

Ketentuan mengenai “Pembuktian terbalik” perlu ditambahkan dalam undang-undang Nomor


31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai ketentuan yang
bersifat “premium remidium” dan sekaligus mengandung sifat prevensi khusus terhadap
pegawai negeroi sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 2 atau terhadap penyelenggara
negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 Tentang
Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari korupsi, Kolusi, dan Nepotisme untuk
tidak melakukan tindak pidana korupsi.

Pembuktian terbalik diberlakukan pada tindak pidana baru tentang gratifikasi dan terhadap
tuntutan perampasan harta benda terdakwa yang diduga berasal dari salah satu tindak pidana
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 115, dan Pasal
16 undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan
Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 undang-undang ini.

Penggunaan istilah “pembuktian terbalik” sebenarnya kurang tepat; istilah yang


seharusnya digunakan adalah pembalikan beban pembuktian (omkering van bewijslast).

3. Gugatan Perdata atas Harta yang Disembunyikan

Penjelasan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan :

26
Dalam undang-undang ini diatur pula hak negara untuk mengajukan gugatan perdata
terhadap harta benda terpidana yang diisembunyikan atau tersembunyi dan baru diketahui
setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap. Harta benda yang
disembunyikan atau tersembunyi tersebut diduga atau patut diduga berasal dari tindak pidana
korupsi. Gugatan perdata dilakukan terhadap terpidana atau ahli warisnya. Untuk melakukan
gugatan tersebut, negara dapat menunjuk kuasanya untuk mewakili negara.

Ketentuan mengenai hal ini dapat dilihat dalam Pasal 38 C dari undang-undang
nomor 31 Tahun 1999 yang berbunyi sebagai berikut :

Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoeh kekuatan hukum tetap, diketahui masih
terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga juga beraasal dari tindak
pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 ayat (2), maka negara dapat melakukan gugatan perdata terhadap terpidana
dan atau ahli warisnya.

Penjelasan pasal ini berbunyi seperti berikut :

Dasar pemikiran ketentuan dalam pasal ini adalah untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat
terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang menyembunyikan harta benda yang diduga atau
patut diduga berasal dari tindak pidana korupsi.

Harta benda tersebut diketahui setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum
tetap. Dalam hal tersebut negara memiliki hak untuk melakukan gugatan perdata kepada
terpidana atau ahli warisnya terhadap harta benda yang diperoleh sebelum putusan
pengadilan memperoleh kekuatan tetap baik putusan tersebut didasarkan pada undang-
undang sebelum berlakunya undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi atau setelah berlakunya undang-undang tersebut. Untuk melkukan
gugatan tersebut negara dapat menunjuk kuasanya untuk mewakili negara.

4. Perampasan Harta Benda yang Disita

Ketentuan ini dapat dilihat dalam pasal 38 ayat 5 dari Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 yang berbunyi sebagai berikut :

Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan terdapat bukti yang cukup
kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana korupsi maka hakim atas

27
tuntutan penuntut umum menetapkan perampasan barang-barang yang telah disita.

Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan terdapat bukti
yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana korupsi maka
hakim atas tuntutan penuntut umum menetapkan perampasan barang-barang yang telah
disita.

Dan penjelasannya yang berbunyi sebagai berikut : “Ketentuan dalam ayat ini,
dimaksudkan pula untuk menyelamatkan kekayaan Negara”

Karena orang itu telah meninggal dunia, kesempatan banding baginya tidak ada.
Setelah ia meninggal, pertanggungjawabannya dibatasi sampai pada perampasan harta
benda yang teah disita. Inilah peluang yang diberikan kepada negara dibawah pasal ini.

Pasal 38 ayat 7 dari undang-undang tersebut memberi kesempatan kepada yang


berkepentingan untuk mengajukan keberatan. Ayat ini sekaligus memberi kepastian
mengenai batas waktunya. Ayat ini berbunyi :

Setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan yang telah
menjatuhkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dalam waktu 30 (tiga puluh)
hari terhiitung sejak tanggal pengumuman sebagaimana dimaksud didalam ayat (3).

Dan penjelasannya yang berbunyi sebagai berikut : “Ketentuan dalam ayat ini
dimaksudkan untuk melindungi pihak ketiga yang beritikad baik. Batasan waktu 30
(tiga puluh) hari dimaksudkan untuk menjamin dilaksanakannya eksekusi terhadap
barang-barang yang memang berasal dari tindak pidana korupsi”.

5. Pemidanaan secara in Absentia

Gugatan kepada ahli waris dapat dilihat dapat dilihat dalam kasus korupsi pengadaan
alat berat dan ambulans oleh Pemda Jawa Barat.

Ahli Waris Yusuf Digugat

Jaksa menyusun berkas gugatan perdata untuk ahli waris almarhumah Yusuf Seiawan. Jaksa
Agung Muda perdata dan Tata Usaha Negara Edwin Pemimpin Situmorang, Kamis (18/6),
mengatakan, berkas gugatan perdata itu segera dilimpahkan ke pengadilan. Besarnya ganti
rugi yang diajukan sebesar kerugian negara dalam perkara tersebut, yakni Rp 48,82 miliar.
Yusuf Setiawan adalah Direktur PT Setiajaya Mobilinde, terdakwa korupsi pengadaan alat
berat dan ambulans dari APBD Jawa Barat 2003, IA meninggal dunia saat perkaranya
disidangkan di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi. (idr)

28
Sumber: Kompas, 20 Juni 2009

Pengalaman mengenai koruptor yang melarikan diri atau tidak hadir dalam
persidangan, diatasi dengan ketentuan mengenai pemidanaan secara in absentia. Hal ini
diatur dalam pasal 38 ayart 1, 2, 3 dan 4. Dari undang-undang Nomor 31 Tahun 1999
yang berbunyi sebagai berikut :

(1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir disidang pengadilan
tanpa alasan yang sah maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa kehadirannya.
(2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan, maka
terdakwa wajib diperiksa dan segala keterangan saksi dan surat-surat yang dibacakan
dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkan dalam sidang yang sekarang.
(3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh pemimpin umum
pada papan pengumuman pengadilan kantor pemerintah daerah atau diberitahukan
kepada kuasanya.
(4) Terdakwa atau penguasanya dapat mengajukan banding atas putusan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).

6. Memperkaya versus Menguntungkan

Perumusan TPK dalam pasal 2 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1999 berbeda dari
perumusan dalam pasal 3. Dalam pasal 2, digunakan istilah “memperkaya diri sendiri
atau orang lain”. Sementara itu, dalm pasal 3, digunakan istilah “menguntungkan diri
sendiri atau orang lain”.

Mengapa pembuktian “memperkaya” lebih daripada “menguntungkan”?

Memperkaya bermakna danya tambhan kekayaan. Menguntungkan bermakna


keuntungan materiil (tambahan kekayaan, uang, harta) dam immateriil (timbulnya
goodwill, utang budi, dan lain-lain).

Seorang pejabat menerima suap dari seorang pengusaha dan seluruh jumlah itu
diberikan kepada atasannya. Pejabat itu tidak memperkaya dirinya, tetapi tetap
menuntungkan dirinya. Dengan meneruskan seluruh suap itu kepada atasannya, ia
menguntungkan diri karena bisa mendapat keistimewaan (favor) dalam bentuk kenaikan
pangkat, jabatan, gaji dst.

7. Pidana Mati

29
Banyak orang menginginkan ketentuan pidana mati terhadap para koruptor dalam
hal jumlah yang dikorupsi besar. Namun, berapa jumlah korupsi yang dikategorikan
besar?

Dalam pasal 2 ayat 2 dari Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 dikatakan :


“Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.” Penjelasannya berbunyi sebagai
berikut :

Yang dimaksud dengan keadaan tertentu dalam ketentuan ini adalah keadaan yang
dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi yaitu
apabila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana-dana yang dipruntukkan untuk
penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam, penanggulangan akibat krisis ekonomi
dan moneter dan pengulangan tindak pidana korupsi.

Lihat pandangan Andi Hamzah di bawah ini mengenai beban pembuktian terbalik
dan pidana mati, serta pembahasan dalam Pansus di DPR. Dari catatan Andi Hamzah
ini, kita dapat mempunyai gambaran nuansa pembahasan di DPR dan pandangan Andi
Hamzah sendiri.

Sewaktu pembahasan pidana mati dan penghapusan ketentuan tentang pembalikan


beban pembuktian yang disusun oleh penulis ini. Penulis tidak hadir sehingga tidak
sempat mempertahankannya juga tentang ketentuan pidana mati dalam keadilan
tertentu. Penulis merasa kurang tepat. Dengan demikian, undang-undangNomor 31
Tahun 1999 adalah undang-undang yang paling kerasdan berada di ASEAN Sayang.
Ketentuan rentang pembalikan beban pembuktian tidak diterima. Andaikan diterima,
tidak perlu diciptakan ancaman pidana demikian beratnya selama semua pelanggan
dapat diajukan ke pengadilan dan semua kerugian negara dapat dikembalikan ke kas
negara, sebagaimana berlaku di Malaysia dan Hongkong.

8. Nullum Delictum

Dalam bahasa latin, asas ini selengkapnya berbunyi :

1. ‘nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali’,


2. ‘nullum crimen, nulla poena sine praevia lege poenali’, atau
3. ‘nullum crimen, nulla poena sine lege praevia’
Yang disingkat menjadi :

1. ‘nullum delictum’,
2. ‘nulla poena sine lege’, atau
3. ‘nullum crimen, nulla poena sine lege’.

30
Maknanya dapat dilihat pada Pasal 1 ayat (1) KUHP yang berbunyi “suatu
perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan-ketentuan
perundang-undangan pidana yang telah ada”

Dalam kaitan dengan TPK, asas ini dikemukakan dalam dua kasus. Pertama, untuk
kasus-kasus TPK yang dilakukan sebelum keluarnya suatu undang-undang,tetapi diadili
sesudah keluarnya undang-undang tersebut.

Hal ini misalnya terlihat dalam perdebatan di DPR ketika membahas Rancangan
Undang-Undang (yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971).
Meskipun ada keinginan yang kuat dari beberapa fraksi untuk menerapkan undang-
undang itu secara retroaktif (berlaku surut), perumusan Pasal 36 dari undang-undang
yang disahkan menunjukkan dipertahankannya asas nullum delictum ini. Berikut ini
kutipan dari pasal tersebut: “terhadap segala tindak pidana korupsi yang telah dilakukan
sebelum saat undang-undang ini berlaku, tetapi diperiksa dan diadili setelah undang-
undang ini berlaku maka diperlukan undang-undang yang berlaku pada saat tindak
pidana dilakukan.”

Timbulnya berbagai interpretasi tentang berlakunya Undang-Undang Nomor 31


Tahun 1999 juga dicatat dalam penjelasan undang-undang itu.

Sejak undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana


Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 diundangkan, sehingga
timbul suatu anggapan adanya kekosongan hukum untuk memproses tindak pidana
korupsi yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.
Kedua, sewaktu KPK menangani kasus yang terjadi sebelum keuarnya Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan TPK, ada orang yang
mempertanyakan wewenang KPK dengan menggunakan asas nullum delictum ini.
Dalam kasus semacam ini, asas ini sebenarnya tidak dilanggar karena substansi
hukumnya sudah diatur dalam undang-undang yang mendahului TPK itu. Yang terjadi

31
kemudian adalah perluasan dari aparat yang menanganinya, yakni dari polisi dan jaksa
ke KPK.

9. Concursus Idealis

Konsep concursus idealis berkenaan dengan satu perbuatan yang tercakup dalam
lebih dari satu aturan pidana. Hal ini terlihat dalam Pasal 63 yang berbunyi sebagai
berikut:

(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang dikenakan
hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbeda-beda, yang dikenakan yang memuat
ancaman pidana pokok yang paling berat.

(2) Jika suatu perbuatan masuk dalam suatu aturan pidana yang umum, diatur pula dalam
aturanpidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang diterapkan.

10. Concursus Realis

Konsep concursus realis ini berkenaan dengan beberapa perbuatan yang


dilakukan berbarengan. Hal ini terdapat dalam KUHP Pasal 65 yang berbunyi
sebagai berikut.

a. Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai


perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan,
yang diancam dengan pidana pokokyang sejenis, maka dijatuhkan hanya
satu pidana.
b. Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang
diancam terhadap perbuatan itu, tetapi boleh lebih dari maksimum pidana
yang trerberat ditambah sepertiga.

11. Perbuatan Berlanjut

Perbuatan berlanjut ini diatur dalam Pasal 64 ayat 1 KUHP yang berbunyi

32
sebagai berikut.

(1) Jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan


kejahatan ataupelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus
dipandang sebagai satuperbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan satu aturan
pidana; jika berbeda-beda, yangditerapkan yang memuat ancaman pidana pokok
yang paling berat.

12. Lepas dari Tuntutan Hukum versus Bebas


Putusan bebas (vrijspraak) atau bebas murni (zuivere vrijspraak) diatur dalam
KUHAP Pasal 191 ayat 1 yang berbunyi: “Jika pengadilan berpendapat bahwa
dari hasil pemeriksaan di sidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang
didakwaan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan maka terdakwa
diputus bebas.”

“Lepas dari segala tuntutan hukum” (ontslag van alle rechtsvervolging) diatur
dalam KUHAP Pasal 191 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut: “Jika pengadilan
berpendapat bahwa perbuatan yang didakwaan kepada terdakwa terbukti, tetapi
perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas
dari segala tuntutan hukum.”

2.6 Analisis Beberapa Kasus Korupsi

Para akuntan forensik dapat menarik pelajaran berharga dari pendapat dan
komentar para ahli hukum mengenai kasus-kasus yang sudah ada putusan hakim. Prof.
Dr. Jur. Andi Hamzah adalah salah satu seorang di antara para ahli hukum pidana dan
hukum acara pidana yang banyak menulis tentang kasus-kasus korupsi.

Analisis berikut disarikan dari tulisan beliau. Beliau memberikan pendapat dalam
kasus-kasus korupsi, seperti dalam kasus Akbar Tandjung di Pengadilan Tinggi.
Selanjutnya pendapat beliau digunakan oleh Mahkamah Agung meskipun tidak secara
utuh.

Dalam bukunya, Profesor Andi Hamzah mencantumkan posisi dan analisis kasusnya
secara terperinci. Analisis di bawah merupakan ringkasan untuk menonjolkan hal-hal
penting bagi akuntan forensik. Para akuntan forensik sebaiknya mempelajari
33
dokumentasi dari suatu kasus secara utuh, yaitu sejak surat dakwaan yang diajukan
penuntut umum, sampai kepada Mahkamah Agung.

KASUS AKBAR TANDJUNG

Ringkasan posisi kasus ini adalah sebagai berikut. Pada tanggal 10 februari 1999, ada
pertemuan terbatas antara Presiden B.J Habibie,Akbar Tandjung(Sekretaris Negara),
Rahadi Ramelan (pejabat sementara Kepala Bulog), dan Haryono Soyono (Menteri
Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan) di Istana Merdeka.
Pertemuan itu membahas krisis pangan. Rahadi Ramelan melaporkan kepada Presiden
Habibie, ada dana non-budgeter untuk membeli sembako bagi rakyat miskin sebesar
Rp 40 miliar.

Dadang Sukandar (Ketua Yayasan Islam Raudatul Jannah) mengajukan permohonan


kepada Haryono Suyono untuk melaksanakan pengadaan dan menyalurkan sembako.
Dadang sukandar memperkenalkan Winfried Simatupang (selaku mitra kerjanya)
kepada Akbar Tandjung. Didepan Akbar Tandjung dan staffnya, mereka berdua
melakukan pemaparan.

Akbar Tandjung menyetujui rencana pengadaan dan penyaluran sembako. Rahadi


Ramelan membuat nota kepada Ruskandar (Deputi Keuangan Bulog) dan Jusnadi
Suwarta (Kepala Biro Pembiayaan Bulog). Selanjutnya, Ruskandar dan Jusnadi
Suwarta membuat dan menandatangani beberapa cek.

Pada tanggal 2 Maret 1999, mereka menyerahkan dua cek (Bank Bukopin dan Bank
Ekspor Impor Indonesia) masing-masing sebesar Rp10miliar (jumlah seluruhnya
Rp20miliar) kepada Akbar Tandjung, yang kemudian diserahkannya lagi kepada
Dadang Sukandar.

Pada tanggal 19 April 1999, mereka menyerahkan delapan cek BankBukopin


berjumlah Rp20miliar, juga kepada Akbar Tandjung yang menyerahkannya lagi

34
kepada Dadang Sukandar, empat cek @Rp3miliar dan empat cek lagi @Rp2miliar.

Penyerahan cek-cek diatas sejumlah Rp40miliar dilakukan tanpa bukti tertulis.


Dadang Sukandar menyerahkan uang pencairan cek itu kepada Winfried Simatupang.
Pengadaan dan penyaluran sembako tidak pernah terlaksana.

Dakwaan Primair

Pasal 1 ayat (1) sub b. juncto pasal 28, juncto pasal 34c. undang-undang nomor 3
tahun 1971, juncto

Pasal 43A Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto

Pasal 55 ayat (1) 1 juncto pasal 65 KUHP.

Dakwaan Subsidiair

Pasal 1 ayat (1) sub a, juncto pasal 28, juncto pasal 34c Undang-Undang Nomor 3
tahun 1971 juncto

Pasal 43A undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan
undang-undang nomor 20 tahun 2001, juncto pasal 55 ayat (1) 1 juncto pasal 65
KUHP.

KASUS SAMADIKUN HARTONO

Penuntut Umum mendakwa Samadikun Hartono (Presiden Komisaris PT Bank


Modern Tbk), bersama-sama dengan Bambang Trianto (Presiden Direktur PT Bank
Modern Tbk).

Dakwaan primair

Secara berlanjut (voortgezette handeling) melakukan perbuatan memperkaya diri


sendiri atau orang lain atau suatu badan secara melawan hukum atau secara tidak
patut menggunakan uang atau menyalurkan dana BLBI atau bertentangan dengan
peruntukannya yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara
sebesar Rp169.492.986.461,54.
35
Dakwaan subsidair

Perbuatan itu juga menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan
dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan, yang langsung atau tidak langsung dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara.
Menarik sekali apa yang dikatakan Andi Hamzah mengenai putusan Pengadilan
Negeri dan Mahkamah Agung dalam kasus Samadikun Hartono, serta tragedi pada
akhirnya.

Dalam pertimbangan Pengadilan Negeri, perbuatan terdakwa tidak dapat


dikualifikasikan sebagai perbuatan melangar hukum. Karena itu terdakwa dibebaskan
dari segala dakwaan baik yang primair maupun yang subsidair.

Nyata sekali kekeliruan hakim karena pada dakwaan subsidair yang terdakwa juga
dibebaskan, tidak ada bagian inti (bestanddeel) melawan hukum sehingga tidak perlu
dibuktikan.

Hak terdakwa dan penasihat hukumnya untuk membuktikan bahwa tidak ada unsur
melawan hukum, dan jika hakim menerima alasan tersebut, putusannya harus lepas
dari segala tuntutan hukum dan bukan bebas (vrispraak). Putusan macam inilah yang
disebut oleh doktrin sebagai bebas murni atau niet zuivere vrijspraak yang sama
dengan lepas dari segala tuntutan hukum terselubung (verkapte ontslag van alle
rechtsvervolging).

Oleh karena itu, benar putusan mahkamah agung yang menerima permohonan kasasi
jaksa penuntut umum karena putusan tersebut seharusnya lepas dari segala tuntutan
hukum yang dapat diajukan dalam tingkat kasasi.

Mahkamah Agung memutuskan bahwa terdakwa Samadikun Hartono terbukti secara


sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan
secara bersama-sama dan berlanjut. Terdakwa dipidana dengan pidna penjara empat
tahun dan denda sebesar Rp20.000.000,00 subsidair tiga bulan kurungan.

36
KASUS DJOKO S. TJANDRA

Djoko S. Tjandra melakukan kontrak cessie dengan Rudi Ramli (bank Bali). Karena
perbuatan itu dilakukan pada tahun 1998, penuntut umum mendakwa Djoko Tjandra
dengan Pasal 1 ayat 1 huruf a dari undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Nomor 3 Tahun 1971.

Menurut Andi Hamzah:

Kurang tepat mendakwa perbuatan cessie sebagai merupakan perbuatan melawan hukum
memperkaya diri sendiri sehingga Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung membebaskan
Djoko S. Tjandra dengan alasan perbuatan melakukan cessie adalah perbuatan pendata
bukan pidana.

Yang menjadi soal sebenarnya ialah mengapa pencairan uang hasil cessie itu berjalan cepat
dan mulus. Mengapa kalua orang lain yang membuat cessie, hasil cessienya sulit
dicairkan? Jadi seharusnya Djoko S.Tjandra didakwa memberi suap kepada pejabat negara
dan BPPN primair pasal 209 KUHP juncto pasal 1 ayat (1) huruf c undang-undang
3/1971:, subsidiair pasal 1 ayat (1) huruf diundang-undang 3/1971, yang sekarang menjadi
pasal 13 UU PTPK 1999.
Uang suapan dapat ditelusuri aliran dananya melalui bank atas nama Djoko S. Tjandra
kepada pejabat-pejabat tertentu. Mengapa aliran dana itu tertuju kepada pejabat tersebut,
apa andilnya membuat cessie?

Pandangan professor Andi Hamzah tadi sejalan dengan pendekatan dalam audit investigasi
yang dikenal dengan sebutan ikuti jalannya uang atau follow the money.

Kasus Joko S. Tjandra berjalan dengan Keputusan Mahkamah Agung atas PK (peninjauan
kembali) yang diajukan kejaksaan. Dalam keputusan MA tersebut, Joko S. Tjandra
dipidana penjara dua tahun.

37
38
BAB III

KESIMPULAN

Kesimpulannya adalah terdapat beberapa pasal pada dasar hokum yang ada di undang-
undang tipikor tentang tindak pidana korupsi yaitu Pasal 2, Pasal 5 ayat (1) huruf a, Pasal 11, dan
Pasal 12. Adapun juga unsur-unsur tindak pidana korupsi dan jenis/ bentuk tindak pidana korupsi
yang telah dikelompokkan menurut undang-undang dan unsur-unsur tindak pidana korupsi itu
meliputi kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, dan
perbuatan curang. Terdapat beberapa konsep, baik secara umum dikenal KUHP dan KUHAP
maupun yang khas untuk tindak pidana korupsi. Konsep-konsep tersebut terdiri dari alat bukti
yang sah, beban pembuktian terbalik, gugatan perdata atas harta yang disembunyikan,
pemidanaan secara in absentia, memperkaya versus menguntungkan, pidana mati, nullun
delictum, concursus idealis, concursus realis, perbuatan berlanjut dan lepas dari tuntutan hukum
versus bebas. Terdapat juga beberapa kasus korupsi yaitu kasus korupsi Akbar Tandjung, kasus
Korupsi Samadikun Hartono, dan juga kasus Djoko S. Tjandra.

39
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, Theodorus M. 2019. Akuntansi Forensik & Audit Investigatif. Edisi 2. Jakarta:
Salemba Empat

40