Anda di halaman 1dari 13

NOTULEN HASIL DISKUSI

“METAMORFISME SEBAGAI SUATU PROSES GEOKIMIA”

Hari/Tanggal : Selasa, 14 April 2020


Waktu : 14.30 – 16.30 Wib
Tempat : Diskusi dilaksanakan secara darling dalam grup telegram
Pemateri : Amir Hasim (4311418003)
Richa Anjarwati (4311418015)
Denisa Fitri Salsabila (4311418030)
Dwika Dewi Pramesti (4311418003)
Lu`lu` Ulfah Salsabila A. T. (4311418055)
Febriyanto Kurniawan (4311418065)
Moderator : Taufik Dwi Jayanto (4311418063)
Notulen : Mia Nur Alia Rahmawati (4311418028)

Penyampaian Materi

1. Disampaikan oleh Amir Hasim (4311418003)


Batuan Metamorfosisme berasal dari 2 kata yaitu meta dan mophi . Meta berarti
lain dan morphi artinya bentuk sehingga metamorfosisme artinya batuan yang telah
berubah bentuk ke bentuk lain.
Batuan metamorfosisme dibagi menjadi 3, yaitu:
1. METAMORFOSA THERMAL
Temperatur merupakan faktor utama, tekanan berperan kecil.
a. Pyrometamorfosa > temperatur sangat tinggi.
b. Pneumatolisa > gas dari magma yang baru naik mampu mengubah batuan yang
disentuhnya.
2. METAMORFOSA DYNAMO
Tekanan merupakan faktor utama, yang umumnya berarah, dan terdapat dibagian
atas kerak bumi.
3. METAMORFOSA REGIONAL
Tekanan dan temperatur yang tinggi merupakan faktor utama, sehingga terjadi
perubahan batuan di daerah luas.
Ciri-ciri batuan metamorfisme
1. Tekstur: kristalin, dengan bentuk sisik, batang, atau lembaran.
2. Struktur: Foliasi, Non Foliasi, atau Masif.
3. Mineral karakteristik: Kuarsa, Feldspar, Mika, Amfibol, Piroksin, Kalsit, Dolomit,
Turmalin dan Magnetit.
Pengertian Metamorfosisme
Metamorfosisme yaitu Jumlah proses-proses yang bekerja dibawah zona cuaca yang
menyebabkan rekristalisasi material batuan
Penyebab terjadinya metamorfosisme : batuan padatan suatu hasil perubahan suhu,
tekanan, dan lingkungan Kimia.
Akibat dari metamorfosisme : stabilitas kimia, fisika, dari kumpulan mineral yang
menghasilkan keseimbangan dan Terciptanya (stuktur & mineral) baru.

2. Disampaikan oleh Richa Anjarwati (4311418015)


Derajat Metamorfosa

Jika batuan asal diberikan suatu perubahan tekanan dan temperatur yang tinggi,
maka pada kondisi tersebut batuan akan melakukan penyesuaian setelah batas
kestabilannya terlampaui. Penyesuaiannya mengarah kepada sifat mekanis dan kimiawi
yang akan membentuk mineral baru yang dalam pembentukannya tergantung pada
batuan asal tersebut dan juga kondisi suhu-tekanan-kimia pada saat proses yang terjadi.
Selain itu proses metamorfisme (pembentukan batuan metamorf) itu memiliki tingkatan
tingkatan berdasarkan derajat suhu dan tekanannya. Dan tiap tingkatan itu memiliki
mineral mineral penciri masing masing. Untuk lebih jelas lagi bisa dilihat pada gambar
dibawah ini, yaitu tentang zona derajat metamorfisme dan juga mineral khas atau
pencirinya.

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa berdasarkan tekanan dan temperatur
yang berada diatas diagenesa, maka ada 3 tingkat derajat metamorfosa yang dapat kita
pelajari, yaitu derajat metemorfosa rendah, sedang, dan tinggi..

 Metamorfosa derajat rendah terjadi pada temperatur antara 200° – 320° C


dan tekanan yang relatif rendah. Batuan metamorf derajat rendah dicirikan
oleh berlimpahnya mineral-mineral hydrous, yaitu mineral-mineral yang
mengandung air (H2O) didalam struktur kristalnya).
 Metamorfosa derajat tinggi terjadi pada temperatur lebih besar dari 320° C
dan tekanan yang relatif tinggi. Seiring dengan meningkatnya derajat
metamorfosa, maka mineral-mineral hydrous akan semakin kurang hydrous
dikarenakan hilangnya unsur H2O dan mineral-mineral non-hydrous menjadi
bertambah banyak.

Adapun batas antara metamorfosa dan peleburan sangat dipengaruhi oleh jenis
batuan dan jumlah air yang terdapat dalam batuan. Pada gambar dibawah ini akan
diperlihatkan hubungan antara P, T, kedalaman (D), dan tipe/jenis metamorfisme.

Kecepatan dimana suatu batuan akan mengalami perubahan dari sekumpulan


mineral-mineralnya untuk mencapai keseimbangan pada kondisi tekanan dan
temperatur yang baru tergantung pada 3 (tiga) faktor, yaitu:

1. Kandungan fluida (terutama air) yang ada dalam batuan. Air yang ada
dalam batuan berfungsi sebagai katalisator dalam mentransformasi
mineral-mineral yang terdapat dalam batuan.
2. Temperatur, reaksi kimia akan terjadi lebih cepat pada temperatur yang
lebih tinggi.
3. Waktu, untuk dapat tumbuhnya kelompok mineral mineral metamorfik
yang baru pada suatu batuan sangat dipengaruhi oleh tekanan dan
temperatur yang bekerja terhadap batuan tersebut, oleh karena itu batuan
tersebut harus mendapat tekanan dan temperatur yang cukup lama
(umumnya ribuan hingga jutaan tahun).

Perubahan yang terjadi didalam kelompok mineral mencerminkan suatu


peningkatan dalam derajat metamorfosa (contoh, burial sedimentary atau penebalan
kerak akibat tektonik) yang dikenal dengan "prograde metamorphism". Perubahan
yang disebabkan oleh suatu penurunan dalam derajat metamorfosa ( contoh, adanya
pengangkatan tektonik dan erosi) dikenal dengan "retrograde". Perubahan dalam
kelompok mineral pada suatu batuan metamorf didorong oleh komponen-komponen
kimiawinya untuk mencapai konfigurasi energi yang terendah pada kondisi tekanan dan
temperatur yang ada. Jenis jenis mineral yang terbentuk tergantung tidak saja pada T
dan P tetapi juga pada komposisi mineral yang terdapat dalam batuan. Apabila suatu
tubuh batuan mengalami peningkatan tekanan dan atau temperatur maka batuan
tersebut berada dalam keadaan prograde metamorphism atau batuan mengalami
peningkatan derajat metamorfosanya. Jadi, Derajat metamorfosa adalah istilah yang
umum yang dipakai untuk menjelaskan kondisi tekanan dan temperatur dimana batuan
metamorf terbentuk.
Metamorfisme Retrogresif

Batuan yang berada jauh didalam perut bumi dapat mengalami penurunan
tekanan dan temperatur apabila mengalami erosi sebagai akibat dari pengangkatan
secara tektonik. Peristiwa tersingkapnya batuan akibat erosi ini memungkinan batuan
mengalami pembalikan proses metamorfosa, yaitu batuan kembali pada kondisi awal
sebelum mengalami metamorfosa. Pembalikan proses metamorfosa seperti ini dikenal
dengan istilah metamorfosa retrogresif. Apabila proses metamorfosa retrogresif
merupakan sesuatu yang bersifat umum, maka batuan jenis ini seharusnya juga umum
dijumpai dipermukaan bumi, namun demikian kenyataannya bahwa batuan
metamorfosa retrogresif jarang dijumpai tersingkap dipermukaan bumi.
Alasan alasan mengapa batuan retrogresif tidak umum dijumpai adalah:
• Reaksi kimia akan melambat seiring dengan menurunnya temperatur.

• Selama proses metamorfosa retrogresif, larutan fluida seperti H2O dan


CO2 menjadi bersifat pasif, padahal fluida diperlukan dalam pembentukan
mineral-mineral hydrous yang bersifat stabil di permukaan bumi.

• Reaksi kimia juga akan dipercepat dengan hadirnya fluida, tetapi jika fluida
tidak berfungsi sebagai pendorong pada proses metamorfosa retrogresif, maka
percepatan reaksi kimia tidak terjadi selama proses metamorfosa retrogresif
berlangsung
Faktor yang mempengaruhi metamorfisme:

1. Temperatur, naiknya temperatur seiring dengan kedalaman bumi sesuai dengan


gradient geothermal. Dengan demikian temperatur semakin tinggi dapat terjadi
pada batuan yang berada jauh didalam bumi. Temperatur dapat juga meningkat
karena adanya intrusi batuan.
2. Tekanan, tekanan juga akan meningkat dengan kedalaman bumi, dengan
demikian tekanan dan temperatur akan bervariasi disetiap tempat di kedalaman
bumi. Tekanan didefinisikan sebagai gaya yang bekerja kesegala arah secara
seimbang dan tekanan jenis ini disebut sebagai “hydrostatic stress” atau
“uniform stress”. Jika tekanan kesegala arah tidak seimbang maka disebut
sebagai “differential stress”. Dibawah ini ada gambar tentang arah dari
hydrostatic stress dan differential stress.
Jika tekanan diferensial hadir selama proses metamorfosa, maka tekanan ini
dapat berdampak pada tektur batuan
3. Fasa Fluida, keberadaan setiap rongga antar butir dalam suatu batuan menjadi
potensi untuk diisi oleh larutan fluida, dan umumnya larutan fluida yang paling
dominan adalah H2O, tetapi berisi material mineral. Fase fluida adalah fase
yang penting karena rekasi kimia yang melibatkan sau mineral padat berubah
menjadi mineral padat lainnya hanya dapat dipercepat oleh adanya fluida yang
berfungsi sebagai pembawa ion-ion terlarut. Dengan naiknya tekanan pada
proses metamorfosa, maka ruang antar butir tempat fluida mengalir menjadi
berkurang dan dengan demikian fluida menjadi tidak berfungsi sebagai
penggerak reaksi. Dengan demikian tidak ada larutan fluida ketika temperatur
dan tekanan berkurang sehingga metamorfosa retrogresif menjadi sulit terjadi.
4. Waktu, reaksi kimia yang terlibat dalam metamorfosa, selama re-kristalisasi,
dan pertumbuhan mineral-mineral baru terjadi pada waktu yang sangat lambat.
Hasil uji laboratorium mendukung hal tersebut dimana dibutuhkan waktu yang
lama dalam proses metamorfosa untuk membentuk butiran butiran mineral yang
ukurannya cukup besar. Jadi, batuan metamorf yang berbutir kasar akan
memerlukan waktu yang lama, diperkirakan membutuhkan waktu hingga jutaan
tahun.
3. Disampaikan oleh Denisa Fitri Salsabila (4311418030)
Jika batuan asal diberikan suatu perubahan tekanan dan temperatur yang tinggi,
maka pada kondisi tersebut batuan akan melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang
terjadi mengarah kepada sifat mekanis dan kimiawi yang akan membentuk mineral baru
yang dalam pembentukannya sangat tergantung pada batuan asal dan kondisi suhu-
tekanan-kimia pada saat proses terjadi.
Berdasarkan pola penyusunan satuan dasar tetrahedron-SiO4, umumnya grup
silikat yang penting yang erat kaitannya dengan tanah ada empat grup silikat, yaitu
orthosilikat (nesosilikat), inosilikat (tunggal dan ganda), filosilikat dan tektosilikat.
Berikut merupakan tabel beberapa sifat mineral silikat pembentukkan batuan:
Pertama, ditemukan mineral dari kelompok inosilikat yang melimpah dalam batuan
metamorfik. Ada dua jenis silikat rantai, yaitu rantai tunggal ([SiO3]2-) dan yang
memiliki rantai ganda ([Si4O11] 6-). Contohnya yaitu pthoxenes dan amphiboles.
 Amphiboles adalah tipe batuan metamorfik terbentuk pada temperatur rendah
dan termasuk silikat rantai ganda.
 Pthoxenes adalah tibe batuan metamorfik yang terbentuk pada suhu lebih tinggi
dan termasuk silikat rantai tunggal.
Kedua, phyllosilicates memiliki mineral dengan struktur silikat berlapis (yaitu
mengandung Si2O5. Mereka umumnya lunak, dengan kerapatan yang relatif rendah.
Mineral dengan kisi lapisan yaitu phyllosilikat adalah sifat yang utama dari batuan
metamorfik. Karena batuan mineralnya umum dan tesebar luas. Contoh batuan
mineralnya yaitu talk, chlorites dan chloritoids, dan muscovite dan biotite.
Dan terakhir struktur silikat paling sederhana adalah nesosilikat yang merupakan unit
SiO4- tunggal. Kelompok neosilikat yang melimpah pada batuan metamorfik
contohnya ialah garnet, epidote dan alumunium silikat. Berikut adalah gambar grup
silikat yang terdapat pada batuan metamorf dan contoh batuan mineralnya :
Pada alumunium Silikat yaiu kyanite, sillimanite dan andalusite didapatkan
dalam batuan metamorf dengan kandungan alumunium yang tinggi. Hubungan
stabilitas dari tiga polimorfik ini digambarkan dalam gambar berikut.

4. Disampaikan oleh Dwika Dewi Pramesti (4311418003)

Kurva tersebut menunjukkan Temperatur (T0 C) sebagai absis dan tekanan (P)
sebagai ordinat.

Kyanite adalah batu permata aluminum silicate yang kadang-kadang disebut sebagai
Disthene, Rhaeticite, atau Cyanite. Kiyanite (Al2SiO5) adalah trimorphous dengan
andalusite (Al2SiO5) dan sillimatite (Al2SiO5). Kyanite sering di temukan pada batuan
metamorf, kyanite terbentuk oleh pengaruh dominan dari tekanan yang sangat besar.
Andalusit adalah mineral alumunium nesosilikat dengan rumus kimia Al2SiO5.
Andalusit memiliki hubungan trimorfik dengan kyanit dan silimanit, sebagai polimorf
yang terbentuk pada tekanan lebih rendah dan temperatur menengah. Pada temperatur
yang lebih tinggi, andalusit dapat berubah menjadi silimanit.
Silimanit adalah salah satu dari 3 polimorf aluminosilikat. Dua lainnya adalah
andalusit dan kyanit. Metamorfisme tingkat Tinggi, temperatur tinggi
Batuan metamorf akan rekristalisasi pada kondisi yang beraneka ragam, komposisi
kimia yang sama akan mengalami proses yang berbeda tergantung pada lingkungan yang
beda. Maka dari itu pengamatan seharusnya secara mikroskopik.
Rekristalisasi adalahn Proses yang dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, di sini
terjadi penyusunan kembali kristal-kristal dimana elemen-elemen kimia yang sudah ada
sebelumnya.
Komposisi mineralogi normatif oleh Barth dibedakan menjadi
1. Catanorm : Batu Metamorfisme tingkat Tinggi
2. Mesonorm : Batu Metamorfisme tingkat Sedang
3. Epinorm : Batu Metamorfisme tingkat Rendah
TERMODINAMIKA METAMORFISME
Adanya perubahan asosiasi mineral satu menjadi asosiasi mineral lain.

Termodinamika Metamorfisme dapat dinyatakan dalam simbol transformasi gabungan


mineral A+B+C..... Menjadi gabungan yang berbeda L+M+N.... Sesuai dengan
persamaan A+B+C+.... = L+M+N....

Pada perubahan yang berlangsung energi bebas L+M+N.... Harus lebih kecil daripada
A+B+C+....,maka perubahan energi bebas harus negatif.
A+B+C+..... = L+M+N+......
∆G = (GL+GM+GN+...)-(GA+GB+GC+...)<0

∆G = ∆H- T ∆S (hukum termodinamika 2)’


Secara umum perubahan energi bebas dicapai secara tidak langsung. Reaksi ini akan
kompleks karena pengaruh P dan T, nah untuk mempelajari ini kita memerlukan data
daya tekanan, spesific heat, pemuaian panas untuk tiap fase yang berbeda.
Batuan metamorf dipengaruhi oleh tekanan sesuai prinsip le Chatelier. Dimana:
meningkatnya tekanan pada suhu tetap menggeser kesetimbangan ke arah zat yang
volumenya lebih kecil dan kerapatannya lebih besar.
Reaksi metamorfik dapat dibagi menjadi 4 tipe umum:
1. Reaksi padat-padat tidak melibatkan pembebasan dan penambahan materi yang
mudah menguap.
2. Reaksi hidrasi-dehidrasi melibatkan pelepasan H2O dengan kenaikan temperatur.
3. Reaksi dekarbonisasi melibatkan kehilangan CO2
4. Reaksi reduksi seiring berakibat pelepasan oksigen pada zat yang menguap CO dan
CO2 dari karbon yang tereduksi.
5. Disampaikan oleh Lu`lu` Ulfah Salsabila A. T. (4311418055)
Efek tekanan pada kesetimbangan padatan - padatan seperti CaCO3 dapat dilihat
dalam nilai ∆G=0. Menurut persamaan clapeyron bentuk padatan yang lebih rapat
(volume lebih kecil) dalam CaCO3 adalah aragonit memiliki bagian tekanan cukup
tinggi.
Jika produk dalam reaksi berupa gas, maka efek tekanan lebih besar, seperti pada
dolomit + kuarsa = diopsida + karbondioksida.
Kurva tersebut menunjukkan nilai ∆G=0. Reaksi yang hanya melibatkan padatan
sebagian besar kurang bergantung pada padatan, sehingga menunjukkan kurva garis
lurus kesetimbangan antara rekatan dan produk. (garis yang atas). Sedangkan pada fase
gas tekanan lebih berpengaruh pada pemampatan CO2 yang dihasilkan sehingga garis
sedikit melengkung. (garis yang bawah).

6. Disampaikan oleh Febriyanto Kurniawan (4311418065)


Siklus Batuan Metamorf

Secara singkat, siklus batuan metamorf adalah jenis batuan yang berasal dari
batuan sedimen yang terbenam jauh di bawah permukaan bumi. Karena hal ini, ia akan
dipengaruhi oleh suhu panas dari dalam bumi dan tekanan tinggi lalu akan berubah
menjadi batuan metamorf itu sendiri.
Dapat dikatakan dengan kata lain bahwa batuan metamorf adalah batuan
sedimen yang dimasak sendiri oleh energi panas bumi. Diibaratkan pula seperti
perbedaan adonan kue dan kue, keduanya memiliki bahan yang sama hanya saja tekstur
yang dihasilkan berbeda. Contohnya yaitu batuan pasir dan batuan kuarsit yang mana
kuarsit merupakan hasil olahan dari batuan pasir atau metamorfosis.

Batu serpih (shale)


Batu serpih (shale) adalah batuan sedimen klastik berbutir halus yang terdiri
dari lumpur yang merupakan campuran dari serpihan mineral - mineral lempung dan
fragmen -e fragmen kecil (partikel - partikel berukuran lanau) dari mineral lainnya,
terutama kuarsa dan kalsit. Rasio antara lempung dengan mineral - mineral lainnya
bervariasi. Batuserpih dicirikan dengan sela di sepanjang lamina tipis atau perlapisan
paralel yang memiliki ketebalan kurang dari satu sentimeter, yang biasa
disebut fissility.
Batuan slate

merupakan batuan yang dilihat dari cara terbentuknya dari suatu proses batuan
sedimen atau mudstone di suhu dan tekanan yang sangat renah. Batuan Slite memiliki
struktur folliasi yang terdiri dari berbagai macam butir yang sangat halus. Batuan slite
sebelumnya merupakan jenis batuan Shale dan Mudstone. Warna dari batuan slate
adalah abu-abu, hijau, merah, hitam, coklat, dan kekuning-kuningan. Tekstur ukuran
butir batuan slite mempunyai butir yang sangat halus. Batuan slite mudah membelah
menjadi lembaran tipis. Fungsi dari batuan slate yang tipis digunakan untuk sabak kalau
yang berukuran tebal akan digunakan sebagai atap atau trotoar.
Batuan filit( Phyllite)

Batuan filit( Phyllite) adalah salah satu jenis dari batuan metamorf yang
tersusun dari kuarsa, klorit, dan sericite mica. Batuan filit berasal dari proses peralihan
dari batuan slate. Karena batuan filit ini berasal dari batuan slate, pembentukan batuan
filit material utamanya yaitu batuan shale. Warna batuan filit yaitu perak, merah, putih,
coklat, ungu, dan kehijauan. Ukuran butir dari batuan filit halus dibandingkan dengan
batuan slate. Komposisi bahanya dari mika dan kuarsa, struktur batuan filit berfoliasi.
Tekanan dan suhu saat oembentukan batuan filit dari rendah ke menengah. Batuan filit
mempunyai ciri-ciri yang membelah mengikuti permukaan gelombang. Batuan filit
digunakan untuk bahan isolator atau bahan penghantar listrik yang baik. Juga bisa
dihunakan sebagai bahan penambahan konstruksi bangunan, lantai, atap, dan lain-lain.
Schist (sekis)

Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit,
horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas
bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.
Asal : Metamorfisme siltstone, shale, basalt
Warna : Hitam, hijau, ungu
Ukuran butir : Fine – Medium Coarse
Struktur : Foliated (Schistose)
Komposisi : Mika, grafit, hornblende
Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi
Ciri khas : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet
Batuan gneiss
merupakan batuan yang bermetamorvosis dari batuan beku didalam tekanan dan
suhu yang tinggi. Batuan gneiss mempunyai warna abu-abu, coklat, hitam, perak, biru,
kekuningan, dan kehijauan. Ukuran dari butir batuan gneiss cenderung ke menengah
atau medium dan strukturnya berfoliasi. Komposisi dari batuan gnesiss yaitu feldspar
dan kuarsa. Karakteristik yang paling jelas dari batuan gneiss yaitu kuarsa dan feldspar
terlihat selang-seling dengan lapisan yang mirip mika. Batuan gneiss sering digunakan
untuk bahan bangunan.
Magma (Molten Rock)

Merupakan batu-batuan cair yang terletak di dalam kamar magma di


bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan larutan silika bersuhutinggi yang
kompleks dan merupakan asal semua batuan beku. Magma berada dalam tekanan tinggi
dan kadang kala memancut keluar melalui pembukaan gunung berapi dalam bentuk
aliran lavaatau letusan gunung berapi. Hasil letupan gunung berapi ini mengandung
larutan gas yang tidak pernah sampai ke permukaan bumi. Magma terkumpul dalam
kamar magma yang terasing di bawah kerak bumi dan mengandung komposisi yang
berlainan menurut tempat magma itu didapati.

Sesi Tanya Jawab


1. Nama : Rima Asyaka
NIM : 4311418012
Pertanyaan : apabila batuan sebelumnya mengalami metamorfisme, apakah mineral
yang menyusun batuan tersebut masih sama seperti sebelumnya?
Jawab :
Di jawab oleh oleh Denisa Fitri Salsabila (4311418030)
Proses metamorfisme adalah proses yang mengubah mineral suatu batuan pada
fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisik dan kimia dalam kerak bumi, dimana
kondisi tersebut berbeda dengan kondisi sebelumnya. Jadi mineralnya tidak sama,
karena jika mengalami metamorfisme, kondisinya mengalami perubahan didalam
tekstur. Perubahan dalam kelompok mineral pada suatu batuan metamorf didorong oleh
komponen komponen kimiawinya untuk mencapai konfigurasi energi yang terendah
pada kondisi tekanan dan temperatur yang ada. Jenis-jenis mineral yang terbentuk
tergantung tidak saja pada T dan P tetapi juga pada komposisi mineral yang terdapat
dalam batuan sebelumnya. Apabila suatu tubuh batu mengalami peningkatan tekanan
atau temperatur maka batuan tersebut berada dalam keadaan “prograde metamorphism”
atau batuan mengalami peningkatan derajat metamorfnya.

Tambahan oleh Amir Hasim (4311418003)


Jika suatu batuan mengalami metamorfisme, kondisinya mengalami perubahan
didalam tekstur. Perubahan dalam kelompok mineral pada suatu batuan metamorf
didorong oleh komponen-komponen kimiawinya untuk mencapai konfigurasi energi
yang terendah pada kondisi tekanan dan temperatur yang ada.

Tambahan oleh Mia Nur Alia Rahmawati (4311418028)


Proses-proses metamorfisme mengubah mineral-mineral suatu bahan pada fase
padat karena pengaruh atau respons terhadap kondisi fisika dan kimia di dalam kerak
bumi yang berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Tambahan dari ibu Ella Kusumastuti


METAMORF dari kata meta yang artinya lain dan morfi yang berarti bentuk
yang dimana metamorf merupakan batuan yang telah berubah.
Metamorfisme adalah proses dimana gabungan mineral, struktur dan teksture yang
telah ada sebelumnya pada batuan diubah oleh suhu dan tekanan pada kerak bumi.
Perubahan tersebut meliputi perubahan kristal dan formasi mineral baru. Maka
parameter yang berubah ialah struktur, mineral, dan tekturnya menghasilkan perubahan
kristal serta mineralnya.
Batuan yang ada terjadi malihan, karena gabungan mineral-mineral dan tekstur
pada batuan adalah tidak stabil pada tekanan dan temperatur pada kondisi yang ada
sekarang. Akhirnya mineral dan tekstur malih menjadi mineral dan tekstur baru yang
stabil kondisi pada temperatur dan tekanan yang baru tersebut.
Perubahan batuan dibagi dua yakni komposisi bisa berubah dapat pula tak berubah, jika
komposisi mineral sama maka prosesnya disebut isokemikal, namun jika berubah maka
dinamakan metamorfise. Perubahan ini maksudnya bisa bertambah atau berkurang, jadi
komposisinya berubah.
Adanya “ aliran cairan” maksudnya komposisi mineral tertentu apabila mengalami
proses larut dalam cairan dan mengalir, dengan kondisi tekanan dan suhu tertentu pun
dapat berubah komposisinya.

2. Nama : Annisa Nur Hasanah


NIM : 4311418042
Pertanyaan :apakah batuan metamorf dapat terbentuk dari gabungan batuan, dan
dapat kembali menjadi batuan awal? Misalnya gabungan batuan sedimen? Dan
dapatkah batuan metamorf kembali menjadi magma?
Jawab :
Di jawab oleh Lu`lu` Ulfah Salsabila A. T. (4311418055)
Batuan metamorf dapat kembali menjadi magma, seperti siklus tersebut apabila
dipengaruhi oleh tekanan dan suhu yang tinggi sehingga mengalami pelelehan. Batuan
sedimen dapat berubah menjadi batuan metamorf.
Tambahan dari ibu Ella Kusumastuti
Garis putus-putus pada siklus menandakan alternatif lain proses-proses yang dapat
terjadi. Yang mengalami metamorfisme bukan hanya batuan sedimen, namun batuan
beku pun dapat mengalami metamorfisme akibat adanya suhu dan tekanan yang
berubah

3. Nama : Laelatul mutoharoh


NIM : 4311418074
Pertanyaan : apakah maksud dari “general trends” pada tabel?
Jawab :
Di jawab oleh Denisa Fitri Salsabila (4311418030)
Yang dimaksud dari “general trends” itu setiap grup silikat seperti orthosilikat
(nesosilikat), inosilikat (tunggal dan ganda), filosilikat dan tektosilikat terdapat batuan
mineralnya. Batuan mineral yang terbentuk pada grup silikat tersebut meiliki sifat
masing-masing sesuai terbentuknya batuan tersebut yang dipengaruhi oleh tekanan dan
temperatur. Contohnya pada amphiboles yang terdapat pada grup silikat inosilikat. Tipe
batuan metamorfik terbentuk pada temperatur rendah dan seperti kyanite yang
mempunyai densitas yang besar dan terbentuk pada tekanan yang tinggi. Tanda panah
kebawah menunjukkan semakin kebawah semakin rendah. Contohnya neosilikat yang
memiliki densitas terbesar contohnya seperti batuan mineral yang terdapat pada grup
silikat neosilikat yaitu kyanite. Kyanite memiliki densitas yang besar dan juga terbentuk
pada tekanan yang tinggi.