Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN LONELINESS DENGAN KUALITAS HIDUP

LANSIA

PROPOSAL PENELITIAN

Disusun oleh:
Tegar Wira Darmawan
1710201263

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lansia merupakan orang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas.

Lansia sering diidentikkan dengan masa penurunan dan ketidak berdayaan

(Suardiman; Syam’ani; 2011). Lanjut usia tahap akhir rentang kehidupan

dalam perkembangannya mengalami berbagai perubahan fisik, psikis

maupun sosial, menurunnya fungsi organ fisik juga berpengaruh terhadap

masalah sosial maupun masalah psikologis (Fitriana, 2013). Jumlah lanjut

usia terbanyak di Benua Asia sebanyak 508 juta jiwa. Benua Eropa dengan

jumlah penduduk lansia 176 juta jiwa, dan Benua Amerika berada pada

peringkat ketiga dengan jumlah penduduk lanjut usia 74 juta jiwa (United

Nations, 2015).

Kesepian merupakan bentuk kegelisahan subjektif yang dirasakan

pada saat suatu hubungan social kehilangan ciri-ciri pentingnya baik secara

kualitatif maupun kuantitatif (Rahman, 2013).

Secara lebih spesifik, beberapa penelitian membuktikan bahwa

kesepian dikaitkan dengan perilaku bunuh diri pada populasi dewasa umum

(Stickleya & Koyanagic, 2016). Penelitian Victor & Yang (2012) terhadap

subjek berusia 15 tahun ke atas di United Kingdom, menemukan bahwa

depresi berkaitan dengan kesepian untuk semua kelompok umur. Kesehatan

fisik yang buruk berkaitan dengan kesepian pada dewasa muda dan usia

paruh baya tetapi tidak bagi usia selanjutnya. Bagi individu yang berada
pada paruh baya dan lanjut usia, kualitas keterlibatan sosial dapat

melindungi mereka dari kesepian, sedangkan bagi dewasa muda lebih terkait

dengan segi kuantitas keterlibatan sosial. Ini menunjukkan bahwa faktor-

faktor yang berbeda dapat memberikan kerentanan ataupun melindungi

terhadap kesepian pada berbagai tahap kehidupan.

Penelitian pada partisipan di Indonesia, kesepian secara signifikan

dikaitkan dengan sebagian besar variabel kesehatan, termasuk status

kesehatan „tidak sehat‟, fungsi kognitif, memiliki satu atau lebih kondisi

medis kronis, mengalami stroke, gejala depresi, gangguan tidur, gangguan

terkait tidur, kepuasan hidup rendah, pemanfaatan layanan kesehatan rawat

jalan dalam 4 minggu terakhir, penggunaan tembakau saat ini, dan satu hari

atau lebih dalam seminggu mengkonsumsi minuman ringan (Peltzer &

Pengpid, 2019).

Umur harapan hidup di DIY mengalami peningkatan sejak 40 tahun

terakhir. Peningkatan ini terjadi di semua jenis kelamin. Meskipun begitu,

umur harapan hidup perempuan (76 tahun) lebih tinggi dibandingkan laki-

laki (72 tahun). Peningkatan umur harapan hidup yang terjadi di DIY

dipengaruhi oleh banyak hal. Kesehatan menjadi salah satu hal yang

memiliki peran penting dalam peningkatan tersebut. Peran pengaruh

kesehatan dalam meningkatkan usia harapan hidup ditunjukkan dari semakin

menurunnya angka kematian, perbaikan pelayanan kesehatan, dan perbaikan

gizi di masyarakat.

Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) yang merepresentasikan

dimensi umur panjang dan hidup sehat terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selama periode 2010 hingga 2017, D.I. Yogyakarta telah meningkatkan

Umur Harapan Hidup saat lahir sebesar 0,57 tahun atau tumbuh sebesar 0,11

persen per tahun. Pada tahun 2010, Umur Harapan Hidup saat lahir di D.I.

Yogyakarta hanya sebesar 74,17 tahun, dan pada tahun 2017 telah mencapai

74,74 tahun.

Pertama, aspek kepribadian (personality). Kepribadian pada

seseorang terbentuk dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan perilaku

dan cara berpikir pada lingkungan sekitar, artinya seseorang yang merasa

kesepian dapat dilihat dari karakteristik perilaku dan perasaan dalam

kehidupan sehari-hari. Kedua, aspek kepatutan sosial (social desirability).

Dalam hal ini seseorang ingin mendapatkan penerimaan oleh orang lain

ataupun pengakuan dari masyarakat sekitar. Ketiga, aspek depresi

(depression). Depresi merupakan perasaan tidak berdaya dan kehilangan

harapan, yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan,

berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah

lelah yang sangat nyata dan berkurangnya aktivitas. Depresi terjadi akibat

dari adanya tekanan dalam diri.

Pemerintahan di Indonesia mempunyai kewajiban untuk

memperhatikan kesejahteraan lansia. Penanganan permasalahan lanjut usia

yang berkembang selama ini dikenal dengan melalui dua cara, yaitu

pelayanan dalam panti dan luar panti. (UEP) (Depsos RI, 2003). Perhatian

dari orang-orang terdekat lansia dan bantuan dari pemerintah sangat penting

untuk dilakukan, karena banyaknya permasalahan yang dapat dialami lansia,

diantaranya adalah berbagai penyakit dikarenakan ketuaannya. Sedangkan


salah satu penyakit yang sering datang pada saat seseorang memasuki usia

lansia adalah gangguan tidur. Diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa

melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan

tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu

sekitar 67 % dengan gangguan tidur yang paling sering ditemui yakni

insomnia (Amir, 2007).

Dukungan social serta kepedulian pada lansia diperoleh dari

keluarga, kerabat dan masyarakat sangat diperlukan dan berguna bagi lansia

sehingga dapat mempertahankan kemandirian dan seminimal mungkin

memiliki ketergantungan pada orang lain, dengan memberikan dukungan

dan merubah perilaku ketergantungan lansia (Arini. D., Hamiyati., Tarma,

2016).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti merumuskan

permasalahan yaitu “Apakah ada Hubungan Lonliness Dengan Kualitas

Hidup Lansia di PSTW D.I. Yogyakarta?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui Hubungan Lonliness Dengan Kualitas Hidup Lansia di

PSTW D.I. Yogyakarta.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi lonliness pada kualitas hidup lansia.

b. Mengidentifikasi kualitas hidup lansia.

c. Mengidentifikasi hubungan lonliness dengan kualitas hidup lansia.


D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah

wawasan dan memberikan sumbangan untuk pengembangan ilmu

kesehatan khususnya ilmu keperawatan tentang hubungan lonliness

dengan kualitas hidup lansia di PSTW D.I.Yogyakrta.

2. Manfaat praktis

a. Bagi Pengelola Panti Sosial Tresna Werdha

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang terdiri

atas pengelola Panti Sosial Tresna Werdha di DI.Yogyakarta dalam

menyelenggarakan atau mengelola program-program pemberdayaan

bagi lansia.

b. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk

melaksanakan penelitian yang lebih besar dan memberikan

pelayanan nyata tentang pemberdayaan masyarakat khususnya

lansia.

E. Ruang lingkup

1. Ruang Lingkup Materi

Materi pada penelitian ini masuk dalam ruang lingkup ilmu keperawatan

khususnya keperawatan lansia.

2. Ruang Lingkup Responden

Responden dalam penelitian ini adalah responden yang berusia 60 tahun.


3. Ruang Lingkup Tempat

Penelitian ini di lakukan di Panti Sosial Tresna Werdha daerah

Yogyakarta.

4. Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini mempunyai waktu mulai dari penyusunan proposal sampai

laporan hasil penelitian Skripsi.

F. Keaslian Penelitian

1. Safitri N Wijayanti, Kurniasih (2018). Hubungan Lonliness Level Dengan

Kualitas Tidur Lansia Di Panti Social Tresna Werdha Unit Abiyoso Pakem

Sleman Yogyakarta. Lansia secara alami akan mengalami perubahan baik

fisik, social, dan psikologis yang saling berkaitan, salah satunya yaitu

perubahan pola tidur yang menyebabkan kualitas tidur yang buruk.

Prevelensi gangguan tidur lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67%. Salah satu

factor psikologis yang paling mempengaruhi kualitas tidur yaitu lonliness

level. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lonliness

level dengan kualitas tidur lansia di PSTW Unit Abiyoso Pakem Sleman

Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional

dengan pendekatan cross sectional. Tekhnik pengambilan sampel dengan

purposive sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 97 responden yang

tinggal di PSTW Unit Abiyoso Pakem Sleman Yogyakarta. Pengambilan

data mengenai lonliness level menggunakan kuesioner UCLA loneliness

scale sedangkan kualitas tidur menggunakan PSQI. Tekhnik analisis data

menggunakan chi square. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan yang

signifikan lonliness level dengan kualitas tidur lansia di PSTW Unit Abiyoso
Pakem Sleman Yogyakrta dengan keeratan hubungan dalam kategori rendah

(0,366) dan p-value sebesar 0,000<a (0,05).

2. Rismar Julia Utami (2018). Faktor-faktor yang mempengaruhi loneliness

pada para lanjut usia di wisma cinta kasih padang. Penelitian ini merupakan

penelitian yang bertujuan untuk melihat faktor yang mempengaruhi

loneliness pada para lanjut usia. kesepian adalah suatu perasaan yang tidak

menyenangkan disebabkan adanya ketidaksesuaian antara hubungan sosial

yang diharapkan dengan kenyataan kehidupan interpersonalnya akibat

terhambat atau berkurangnya hubungan sosial yang dimiliki seseorang.

Jumlah sampel penelitian ini adalah 24 orang lansia yang terdiri dari 5 orang

lansia laki-laki (20%) dan 19 orang lansia wanita (80%). Pengambilan

sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Pendekatan

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

fenomenologis dengan menggunakan wawancara tidak terstruktur sebagai

teknik pengumpulan data. Data yang diperoleh kemudian dibuatkan ke dalam

verbatim (transkrip) yang kemudian dianalisis dengan melakukan

pengkodean pada setiap hasil wawancara dan menggunakan teknik analisi isi

(content analysis) untuk menyimpulkan hasil penelitian, dalam penelitian ini

diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa faktor dominan yang

mempengaruhi terjadinya loneliness pada para lanjut usia adalah sifat

introvert, yang diperoleh dari subjek penelitian sebanyak 17 orang (33%).

3. May Dwi Yuri Santoso, Dukungan Sosial Meningkatkan Kualitas Hidup

Lansia. : Lansia merupakan salah satu masa perkembangan yang ditandai

dengan menurunnya fungsi fisik, psikologis dan sosial. Penurunan fungsi


tersebut dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Untuk meningkatkan

kualitas hidup lansia diperlukan sebuah dukungan sosial. Dukungan sosial

tersebut bertujuan untuk membantu lansia dalam memenuhi kebutuhan

hidupnya. Tujuan review article ini adalah untuk mengulas berbagai artikel

mengenai dukungan sosial terhadap kualitas hidup lansia sehingga dapat

dijadikan sebagai data informasi agar lansia tidak mengalami masalah kurang

perhatian atau kasih sayang, merasa kesepian, depresi dan merasa tidak

berguna, sehingga terpetuhinya kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Metode

yang digunakan adalah database bibliografi elektronik ilmiah dari artikel

yang telah dipublikasikan melalui Google Scholar sebanyak 2.680.000 artikel

dan dari Google Cendekia sebanyak 6.320 artikel, kemudian dipilih 10

artikel. Hasil review dari 10 artikel yang telah dipilih menyatakan dukungan

sosial meningkatkan kualitas hidup lansia. Dukungan sosial didefinisikan

sebagai keberadaan atau adanya seseorang yang dapat dipercaya, memahami,

memperhatikan dan mencintai, dari orang-orang terdekat seperti anak,

keluarga, maupun masyarakat sangat diperlukan lansia dalam menjalani sisa

hidupnya karena merupakan sistem pendukung bagi lansia untuk dapat terus

aktif ditengah keterbatasan yang dialaminya.