Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal. Hemoroid sangat umum
terjadi. Hemoroid atau “wasir” merupakan vena varikosa pada kanalis ani dan dibagi menjadi 2
jenis yaitu, hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena
hemoroidalis superior dan media, sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena
hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang digunakan, hemoroid eksterna timbul disebelah luar
otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul disebelah atas (atau disebelah proksimal) sfingter.

Hemoroid merupakan penyakit yang umum terjadi. Pada usia sekitar 50 tahun, Sekitar 50
persen individu mengalami berbagai tipe hemoroid. Pasien dengan gangguan hemoroid
umumnya mencari pertolongan medis terutama akibat nyeri dan perdarahan rectal. Walaupun
tidak mengancam jiwa, penyakit ini dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman.

Menurut data WHO, jumlah penderita hemoroid di dunia pada tahun 2008 mencapa ilebih dari
230 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2030. Di
Indonesia sendiri penderita hemoroid terus bertambah. Menurut data Depkes tahun2008,
prevalensi hemoroid di Indonesia adalah 5,7 persen, namun hanya 1,5 persen saja
yangterdiagnosa. Jika data Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 menyebutkan ada 12,5 juta
jiwa penduduk Indonesia mengalami hemoroid.
Penatalaksanaan hemoroid pada umumnya meliputi modifikasi gaya hidup, perbaikan
pola makan dan minum dan perbaikan cara defekasi. Diet seperti minum 30–40 ml/kgBB/hari
dan makanan tinggi serat 20-30 g/hari. Perbaikan pola defekasi dapat dilakukan dengan berubah
ke jongkok pada saat defekasi. Penanganan lain seperti melakukan warm sits baths dengan
merendam area rektal pada air hangat selama 10- 15 menit 2-3 kali sehari.
Penatalaksanaan farmakologi untuk hemoroid adalah Obat-obatan yang dapat memperbaiki
defekasi. Serat bersifat laksatif memperbesar volume tinja dan meningkatkan peristaltik. Obat
simptomatik yang mengurangi keluhan rasa gatal dan nyeri. Bentuk suppositoria untuk hemoroid
interna dan ointment untuk hemoroid eksterna, Obat untuk menghentikan perdarahan campuran
diosmin dan hesperidin, Obat analgesik dan pelembut tinja mungkin bermanfaat. Terapi topikal
dengan nifedipine dan krim lidokain lebih efektif untuk menghilangkan rasa sakit daripada
lidokain (Xylocaine).
Pasien hemoroid yang datang ke puskesmas akan ditatalaksana dengan pemberian
edukasi mengenai perbaikan pola makan dan minum serta pemberian terapi farmakologi berupa
suppositoria untuk hemoroid interna maupun hemoroid eksterna. Obat asam mefenamat untuk
simtomatik yang mengurangi nyeri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat keterbatasan pengetahuan
dalam memberikan terapi terutama pasien dengan keluhan benjolan di anus atau riwayat keluar
darah dari anus. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelusuran literatur mengenai
keefektifan pemberian terapi oral dibandingkan terapi pemberian suppositoria dengan dosis yang
sesuai serta melihat efek samping yang muncul.