Anda di halaman 1dari 5

HTUGAS REVIEW JURNAL INTERNATIONAL

“BIOETHANOL PRODUCTION FROM RICE STRAW”

Oleh :

Cici Damayanti (175100600111006)

Amanda Izzah Aulia (175100600111010)

Umi Mianadhiroh (175100601111006)

As Syifa (175100601111006)

Anggraini Wulansari (175100601111012)

Siti Sonia Nur Indarwati (175100601111013)

Linda Roro Ayu (175100601111014)

PROGRAM STUDI TEKNIK BIOPROSES

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2020
1. Kenapa penilitian ini dilakukan
Menurut statistik FAO produksi beras ditahun 2007 sekitar 650 juta ton
pertahun dan menghasilkan jerami padi sekitar 650-975 juta ton pertahun. Akibat dari
jumlah jerami melimpah, sebagian besar kebingungan untuk memanfaatkan jerami dan
mengambil jalan pintas dengan membakar jerami padi tersebut. Pembakaran tersebut
berdampak pada permasalahan baru yang muncul yaitu pencemaran polusi udara. Data
Statistik FAO jerami padi yang melimpah tersebut, peneliti berinovasi mengolah
jerami padi sebagai bioethanol. Jerami padi mengandung beberapa kandungan
diantaranya hemiselulosa dan selulosa yang menjadi komponen utama dalam
pembuatan bioethanol.
2. Kontribusi apa terhadap ilmu pengetahuan
Jerami padi selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan dibakar
begitu saja sehingga bisa menjadi polusi udara. Oleh karena itu, peneliti mengkaji
kandungan apa saja yang terdapat pada jerami tersebut. Komposisi yang terdapat pada
jerami padi mengandung selulosa (32,4%), hemiselulosa (19-27%) dan lignin (5-
24%).Pembuatan bioethanol dari jerami padi dengan menggunakan beberapa tahapan
yaitu pretreatment, hydrolysis dan fermentasi.
3. Bagaimana penelitian dilakukan
Produksi etanol dari jerami padi dimulai dengan proses pretreatment. Tujuan
dilakukan pretreatment adalah untuk menurunkan kristalinitas selulosa,
meninagkatkan volume biomassa, menghilangkan hemiselulosa, dan memecahkan
lapisan lignin. Terdapat tiga jenis teknik pretreatment antara lain secara fisik, kimia,
dan biologi.
1. Pretreatment Secara Fisik
Metode ini terdapat tiga jenis teknik antara lain penggilingan (milling),
Iradiasi berkas elektron, dan pretreatment gelombang mikro (microwave).
Teknik penggilingan merupakan proses penggilingan dengan tujuan untuk
memperkecil ukuran partikel sehingga mempermudah dalam proses
selanjutnya dan mengurangi kristalinitas dari biomassa. Dalam proses
penggilingan terdapat 3 jenis yaitu ball milling, roll milling, dan wet disk
milling.
2. Pretreatment Secara Kimia
Terdapat 5 jenis bahan kimia yang dapat digunakan untuk pretreatmen
jerami padi antara lain:
 Pretreatment dengan Alkali (NaOh atau KOH)untuk menghapus lignin dan
bagian dari hemiselulosa serta meningkatkan efisiensi aksesibilitas enzim
untuk selulosa
 Pretreatment dengan amonia untuk memutus ikatan C – O – C pada lignin
dan juga ikatan eter dan ester dalam kompleks lignin-karbohidrat
 Pretreatment dengan asam, menggunakan asam mineral seperti HCl dan H2O
yang mana dapat melarutkan hemiselulosa sehingga selulosa lebih mudah
diakses oleh enzim
 Pretreatment dengan agen pengoksidasi, melibatkan penambahan senyawa
pengoksidasi seperti hidrogen peroxida atau asam parasetat, yang mana dapat
menghapus hemiselulosa dan lignin untuk meningkatkan aksesibilitas selulosa
 Pretreatment dengan Organosolv meningkatkan daya cerna enzimatik dan
penghapusan hemiselulosa. Biasanya menggunakan pelarut organik seperti
etanol pada pH asam.

3. Pretreatment Secara Biologi


Pretreatment biologis merupakan metode untuk menghilangkan lignin
dari lignoselulosa dengan menggunakan empat jamur busuk putih
(Phanerochaete chrysosporium, Trametes versicolor, Ceriporiopsis
subvermispora, dan Pleurotus ostreatus). Kelebihan dari pretreatment ini yaitu
penggunaan bahan kimia dan energi yang rendah.

4. Pretreatment Gabungan
Beberapa kombinasi pretreatment microwave dari jerami padi bersama
dengan asam dan alkali yang masing-masing dapat menghilangkan
hemiselulosa dan lignin. Namun microwave mampu menghilangkan lebih
banyak lignin dibandingkan dengan pretreatment dengan alkali saja.

5. Hidrolisis
Hidrolisis enzimatik berasal dari lignoselulosa yang mana melibatkan
pemecahan polimer selulosa dan hemiselulosa dengan bantuan enzim yang
menghasilkan glukosa. Kandungan lignin yang tinggi menghalangi akses
enzim, yang menyebabkan penghambatan produk akhir dan mengurangi laju
dan hasil hidrolisis. Hidrolisis jerami padi mendapatkan hasil yang terbaik
pada suhu 100oC dengan H2SO4 10% selama 240 menit. Hidrolisis enzimatik
dengan jerami padi menghasilkan tingkat hidrolisis 2,56 kali lebih tinggi
daripada proses alkali.

6. Fermentasi
Selulosa dan hemiselulosa dari jerami padi dapat dikonversi menjadi
etanol dengan cara sakarifikasi dan fermentasi simultan. Sakarifikasi dan
fermentasi menghasilkan etanol lebih tinggi dibandingkan dengan hidrolisis
dan fermentasi enzimatik dengan meminimalkan penghambatan produk.
Mikroorganisme yang digunkakan adalah mikroorganisme termotoleran seperti
Kluyveromyces marxianus, Candida lusitaniae, dan Zymomonas mobilis atau
kultur campuran beberapa mikroorganisme seperti Brettanomyces clausenii
dan Saccharomyces cerevisiae. Sakarifikasi dan fermentasi jerami padi dengan
pretreatment menggunakan Pachysolen tannophilus dan Candida brassicae, di
mana P. tannophilus menghasilkan hasil etanol yang lebih tinggi daripada C.
Brassicae dan menghasilkan etanol 30%.

4. Apa hasilnya
Jerami padi menjadi salah satu pemanfaatan biomassa lignoselulosa dalam
memproduksi bioetanol dengan biaya yang efektif dan ramah
lingkungan.ketersediaannya yang melimpah dan komposisi yang menarik. Konsentrasi
bioetanol yagdiperoleh terganung pada berbagai faktor yang
mempengaruhi.berdasarkan penelitian yangtelah dilakukan, suhu optimal yang
digunakan untuk memperoleh bioethanol dari bahan jerami padi adalah 45-50C dan
pH optimal sebesar 4,5-5. Selain itu, kondisi pretreatment dan konsentrasi sbstrat
yang dilakukan juga mempengaruhi hasil yang diperoleh. . Hidrolisis enzimatik
photocatalysis dibantu alkali dari jerami padi menghasilkan tingkat hidrolisis 2,5 kali
lebih tinggi dari proses alkali. Peningkatan gula monomer dari 11% menjad 61%
dengan ammonia. Meningkatnya biomassa lignoselulosa dengan hidrolisis yang
efisien seerti selulase, xilanase dan pectinase, namun membuat biaya proses menjadi
meningkat drastic. Dengan Stimultan saccharifikasi dan fementasi (SSF) selulosa dan
hemiselulosa yang dikonversi dari jerami menghasilkan etanol dengan biaya esensinya
yang rendah. Metode lain yang dapat digunakan untuk proses fermentasi adalah
consolidatebioprocess (CPB), dimana proses cellulaproduction, biomassa hidrolisis
dan fermentasi etanol dilakukan dalam satu reactor secara bersamaan.
Mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan dalam metode ini adalah
Clostridiumphytofermentans.

5. Bagaimana perbandingan dengan penelitian sebelumya


Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya (Yulianto dkk., 2009), metode
yang digunakan lebih sederhana, yaitu proses pretreatment secara fisi, kemudian
proses hidrolisa dengan penambahan enzim-substrat yaitu enzim ditambahkan untuk
memulai reaksi hidrolisis, selanjutnya rancangan riset yang digunkan untuk
memperoleh data untuk dianalisis dengan analisis varian menggunakan normal
probability plot, lalu proses fermentasi dilakukan terhadap glukosa yang diperoleh dari
optimasi parameter proses hidrolisa jerami padi secara enzimatis.
Jika dibandingkan dengam penelitian sesudahnya (Said dkk., 2014), tahap
pendahulan lebih sederhana secara fisik yaitu dipotong kasar menjadi bagian yang
lebih kecil dan dijemur dental menginginkan jermai padi dalam keadaan serbuk.
Tahap Hidrolisis tidak menggunakan bantuan enzim dalam pemecahan polimer
selulosa, akan tetapi menggunakan larutan HCL dan dipanaskan dengan suhu 100 0C
selama 2,5 jam. Tahap fermentasi dengan menambahkan larutan NaOH hingga pHnya
menjadi 5 kemudian ditambahkan ammonium sulfat dan dipasteurisasi serta
ditambahkan Saccharomyces cereviseae. Perbedaanya yang paling signifikan lainnya
yaitu pada penelitian selanjutnya terdapat atahp pemisahan atau proses evaporasi yang
dilakukan pemansan dengan suhu 800C.

6. Apa pendapat
Menurut kelompok kami, jurnal ini sudah cukup baik terkait penulisan dan bahasa
yang digunakan serta isi dari penelitian tersebut. Selain itu topik penelitian yang diambil
yaitu pemanfaatan biomassa lignoselulosa untuk produksi bioetanol sangat bermanfaat
dan secara langsung dapat berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan karena
pemanfaatan teknologi produksi yang digunakan menggunakan biaya yang efektif dan
ramah lingkungan. Mengingat evolusi dan kebutuhan biofuel generasi kedua, jerami
padi muncul sebagai kandidat yang menjanjikan dan potensial untuk produksi
bioetanol karena ketersediaan yang melimpah dan komposisi yang menarik. Akan
tetapi, kekurangan dari jurnal ini adalah pada proses pembuatan bioetanol dari jerami
padi tidak dijelaskan pada proses pemurnian sehingga hasil dan pembahasan yang
didapatkan kurang lengkap. Namun dari keseluruhan metode yang digunakan sudah
jelas dan mudah dipahami.