Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

ANALISA KASUS KEBUTUHAN PERAWATAN PASIEN


(KEBUTUHAN JUMLAH TENAGA PERAWAT
DI RUANG RAWAT INAP)

Di Susun Oleh :

IKKE SEPTYAGUSTI

(D0019029)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


Jl. Cut Nyak Dien Kalisapu, Slawi- Kab. Tegal
2020
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Rumah Sakit sebagai organisasi penyedia
pelayanan kesehatan, dituntut untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan
kepada masyarakat, baik itu melalui peningkatan sumber daya alamnya maupun
mengenai peningkatan sumber daya manusianya (Hartanti, 2013). Menurut DepKes RI,
perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan secara konsisten dan terus-menerus selama 24 jam kepada klien.

Menurut Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2003 disebutkan bahwa rasio perawat dengan
jumlah penduduk masih rendah yaitu 1: 2850 (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Kementerian dan Kebudayaan, 2010). Semakin bertambahnya jumlah penduduk setiap
tahunnya maka jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan akan semakin banyak demi
memenuhi rasio ideal perawat sesuai indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu sebanyak
117,5 perawat per 100.000 penduduk (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian
dan Kebudayaan, 2010).

Jumlah penduduk sebesar 237.556.363 orang, maka dibutuhkan jumlah perawat sebanyak
278.728 orang yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Banyaknya selisih antara
jumlah perawat yang ada saat ini (data terakhir tahun 2009) dengan kebutuhan tenaga
perawat yaitu sebesar 104.780 tenaga keperawatan. Angka ini dapat diketahui bahwa
kebutuhan tenaga perawat masih sangat banyak (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Kementerian dan Kebudayaan, 2010).

Di Rumah Sakit, perawat memiliki peran yang besar dalam memberikan pelayanan
kesehatan karena memiliki jumlah profesi yang paling dominan yaitu sekitar 55% - 65%
(Agus, 2013). Kekurangan tenaga perawat dalam segala bentuk akan mempengaruhi
mutu pelayanan kepada pasien yang berdampak pada citra mutu pelayanan di rumah
sakit. Salah satu bagian yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan
rumah sakit yaitu pelayanan keperawatan. Perawat merupakan bagian dari integral
pelayanan kesehatan yang mempunyai kontribusi yang besar terhadap pelayanan
kesehatan, selain itu perawat merupakan armada terbesar dalam pelayanan kesehatan
disuatu rumah sakit sehingga perawat mempunyai posisi yang sangat penting dan
strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Dan salah
factor utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan adalah tenaga perawat
yang efektif dan efisien sebagai sumber daya manusia. Efektifitas dan efisien ketenagaan
dalam perawat sangat ditunjang oleh pemberian asuhan keperawatan yang tepat dan
kompetensi perawat yang memadai. Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan perencanaan
yang strategis dan sistematis dalam memenuhi kebutuhan tenaga perawat. Dan
perencanaan yang baik mempertimbangkan : klasifikasi klien berdasarkan tingkat
ketergantungan, metode pemberian asuhan keperawatan, jumlah dan kategori tenaga
keperawatan serta perhitungan jumlah tenaga keperawatan.  Untuk mengetahui kebutuhan
tenaga kesehatan yang diperlukan oleh unit pelayanan kesehatan, ada beberapa metode
yang dapat digunakan, yaitu berdasarkan keperluan (need) pelayanan kesehatan,
berdasarkan permintaan (demand) pelayanan kesehatan, berdasarkan sasaran pelayanan
yang ditetapkan, berdasarkan rasio tenaga kesehatan dan jumlah penduduk, berdasarkan
rasio tenaga dan tempat tidur, berdasarkan daftar susunan pegawai, indikator kebutuhan
tenaga berdasarkan beban kerja/ workload indicator staf need (WISN), (Depkes 2010).

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan umum
laporan ini adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan jumlah tenaga perawat diruang
rawat inap rumah sakit kota B
1.2.2 Tujuan khusus
1.2.2.1 Mengidentifikasi Kebutuhan jumlah tenaga perawat di ruang rawat inap
1.2.2.2 Mengidentifikasi kebutuhan jumlah tenaga perawat pershift
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Kasus
Diruang rawat inap salah satu rumah sakit kota B, terdapat ruang rawat inap dengan 9
kamar, 5 kamar berisi masing-masing 6 pasien dan sisanya 4 kamar diisi oleh 8 pasien
dengan total semua pasien berjumlah 62 pasien. Dari semua pasien yang berjumlah 62
pasien, pasien dengan kebutuhan minimal ada 22 pasien, 35 pasien dengan kebutuhan
parsial dan 5 pasien dengan kebutuhan total. Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat
yang melayani seluruh kebutuhan pasien, pada saat perawat dinas ,Pasien akan dirawat oleh perawat
yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang
sama pada hari berikutnya. Pada penugasan kasus biasanya diterapkan satu pasien satu perawat,
namun banyaknya pasien dengan jumlah perawat yang ada belum mampu menerapkan 1
pasien 1 perawat padahal dalam metode ini kelebihanya jika satu pasien di pegang oleh satu
perawat, perawat akan lebih memahami kasus pasien dan juga pearawat bisa mengevaluasi dan
memantau pasien dengan lebih mudah, namun dalam kasus ini belum dapat diidentifikasi perawat
penanggung jawab. maka kebutuhan tenaga perawat diruangan rawat inap dan jumlah
pershift

2.2 Cara Menentukan Kebutuhan Jumlah


2.2.1 Cara penghitungan kebutuhan jumlah tenaga ruang rawat inap diperlukan terlebih
dahulu gambaran jenis pelayanan yang diberikan kepada klien selama di rumah
sakit. Dalam penerapan sistem klasifikasi klien dengan tiga kategori tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Kategori I : Self Care / Perawatan Mandiri
Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak ada
reaksi emosional, klien memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian shift,
tindakan pengobatan biasanya ringan dan sederhana. 

b. Kategori II : Intermediate Care/ perawatan Sedang


Kegiatan kebutuhan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan,
eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk kekamar mandi.
Penampilan klien sakit sedang. Tindakan perawatan pada klien ini memonitor tanda-tand
avital, periksa urine reduksi, fungsi fisiologis, status emosional, kelancaran drainage dan
infus. Klien memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5 – 10
menit/shift. Tindakan dan pengobatan 20 – 30 menit atau 30 – 60 menit per shift untuk
observasi side effek obat atau reaksi alergi. 

c. Kategori III : Intensive Care / Perawatan total


Kebutuhan sehari-hari tidak dapat dilaksanakan sendiri, semua dibantu oleh perawat,
penampilan sakit berat. Klien memerlukan observasi terus menerus.
 
Dalam penelitian Douglas (1975) tentang jumlah tenaga perawat di rumah sakit,
didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore, dan malam tergantung pada
tingkat ketergantungan klien seperti tabel dibawah ini :

Klasifikasi Klien

Minimal Partial Total

Pag Sor Mala Pag Sor Mala Pag Sor Mala


i e m i e m i e m

0,1 0,1 0,07 0,2 0,1 0,10 0,3 0,3 0,20


7 4 7 5 6 0

0,3 0,2 0,14 0,5 0,3 0,20 0,7 0,6 0,40


4 8 4 0 2 0

0,5 0,4 0,21 0,8 0,4 0,30 1,0 0,9 0,60


2.2.2 Perhitungan
1 2 1 5 8 0
Analisa
Kebutuhan
Perawat dengan Metode douglas
a. Kebutuhan jumlah perawat per shift
shift pagi: shift siang: shift malam:
22 ps minimal x 0, 17 = 3,74 22 ps minimal x 0, 14 = 3,08 22 ps minimal x 0,07 = 1,54
35 ps partial x 0, 27 = 9,45 35 ps partial x 0, 15 = 5,25  35 ps partial x 0, 10 = 3,50
5 ps total x 0, 36 = 1, 80 + 5 ps total x 0, 30 = 1, 50 + 5 pstotal x 0, 20 = 1,00 + 
total tenaga pagi = 14,99 total tenaga siang = 9,83 total tenaga malam = 2,20

b. Kebutuhan jumlah perawat diruang rawat inap


Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan adalah : 14,99 + 9, 83 + 6,04 = 30,86 = 31
Perawat diruang rawat inap

2.3 Pembahasan
Pengembangan tenaga kesehatan khususnya perawat sudah menjadi tanggung jawab
pihak rumah sakit untuk memiliki tenaga perawat yang bermutu karena keperawatan
adalah suatu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan
upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit (Aditama, 2009).
Perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan merupakan fungsi manajemen yang
merupakan dasar pelaksanaan kegiatan keperawatan. Perhitungan tenaga perawat
sangatlah berhubungan dengan beban kerja perawat (Julia et al. 2014).

Menurut Suyanto (2010) perhitungan tenaga kerja perawat perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tenaga keperawatan.

a) Faktor klien meliputi : tingkat kompleksitas perawat, kondisi pasien sesuai


dengan jenis penyakit dan usianya, jumlah pasien dan fluktuasinya, keadaan sosial
ekonomi dan harapan pasien dan keluarga.
b) Faktor tenaga meliputi : jumlah dan komposisi tenaga keperawatn, kebijakan
pengaturan dinas, uraian tugas perawat, kebijakan personalia, tingkat pendidikan
dan pengalaman kerja, tenaga perawat spesialis dan sikap ethis professional.
c) Faktor lingkungan meliputi : tipe dan lokasi rumah sakit, layout keperawatan,
fasilitas dan jenis layanan yang diberikan, kelengkapan peralatan medik atau
diagnostik, pelayanan penunjang dari instalasi lain dan macam kegiatan yang
dilaksanakan.
d) Faktor orgnisasi meliputi : mutu pelayanan yang ditetapkan dan kebijakan
pembinaan dan pengembangan.

BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan
Salah satu aspek penting tercapainya mutu pelayanan di suatu rumah sakit adalah
tersedianya tenaga keperawatan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Untuk hal
ini dibutuhkan kesiapan yang baik dalam membuat perencanaan terutama tentang
ketenagaan. Perencanaan ketenagaan ini harus benar-benar diperhitungkan sehingga
tidak menimbukan dampak pada beban kerja yang tinggi sehingga memungkinkan
kualitas pelayanan akan menurun. Bila hal ini dibiarkan akan menyebabkan angka
kunjungan klien ketempat pelayanan kesehatan akan menurun sehingga pendapatan
rumah sakit juga akan menurun.

Seorang menajer keperawatan harus mampu membuat perencanaan ketenagaan dengan


baik, yaitu dengan memanfaatkan hasil perhitungan yang didasarkan pada data-data
kepegawaian sesuai dengan yang ada di rumah sakit tersebut. Dalam melakukan
penghitungan kebutuhan tenaga perawat di rumah sakit, kita dapat menggunakan
beberapa rumus dimana tiap metode penghitungan pada prinsipnya hampir sama akan
tetapi memiliki kekhasan bagi situasi dan kondisi tertentu dari sistem pemberian
layanan asuhan keperawatan kepada klien.

3.2 Saran
Diharapkan bagi perawat agar tidak hanya meningkatkan keterampilan dalam
memberikan praktik asuhan keperawatan (care giver), tetapi juga meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan dalam hal manajerial (koordinator) baik dalam
manajemen kasus atau mengorganisasi pelayanan kesehatan sehingga perawat dapat
memberikan asuhan keperawatan yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, Candra Yoga. (2004). Manajemen Administrasi Rumah sakit/ Tjandra Yoga Aditama-
Ed.2. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Agus, D. M. (2013). Keperawatan : Penuntun Praktik. EGC : Jakarta

Depkes RI. 2002. Standar Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit, Direktorat Pelayanan
Keperawatan Direktoral Jenderal Pelayanan Medik. Depkes

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian dan Kebudayaan. 2010. Potret Ketersediaan
dan Kebutuhan Tenaga Perawat. Jakarta: HPEQ Project.

Douglas. (1984). Rinciples Of Language Learning And Teaching. Englewood Cliffs. Prentice-
Hall.

Hartati. (2013). Gambaran kinerja perawat dalam pelaksanan asuhan keperawataan. Makasar:
Unhas

Suyanto. (2008). Mengenal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatn di Rumah Sakit. Jakarta
: Mitra Cendikia Offset