Anda di halaman 1dari 8

Pendapat & Gagasan Tentang Wabah COVID-19 dan Pengelolaan Rantai Pasok

Berkelanjutan pada PT PLN (Persero)

Disusun oleh:
Yodi Saputra (452590)

Fakultas Ekonomika dan Bisnis


Magister Manajemen
Universitas Gadjah Mada
2020

I. PROFIL KASUS PLN

PT PLN (Persero) (PLN) adalah Badan Usaha Milik Negara dibidang ketenagalistrikan yaitu usaha
penyediaan energi listrik kepada masyarakat. Dalam proses bisnis PLN dapat dibagi menjadi 3 bagian
utama yaitu Unit Pembangkitan yang bertugas untuk membangkitkan dan memproduksi tenaga listrik, Unit
Transmisi yaitu unit penyaluran dan pengaturan tenaga listrik dari pembangkit sampai ke Gardu Induk (GI)
melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).
Bagian terakhir adalah Unit Distribusi sebagai unit yang bertugas menyalurkan tenaga listrik dari GI sampai
ke ke konsumen melalui Saluran Tegangan Menengah (SUTM) dan Saluran Udara Tegangan Rendah,
termasuk melakukan tugas transaksi penjualan tenaga listrik. Selain itu, PLN juga mempunya beberapa unit
penunjang yang fungsinya melayani unit – unit utama diantaranya adalah Unit Pusat Pendidikan dan
Pelatihan, Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan dan Pusat Penelitian dan Pengembangan.

I.1 Penjualan Listrik PLN

Berdasarkan Data Statistik PLN tahun 2019, daya tersambung listrik pada konsumen PLN meliputi
kelompok pelanggan rumah tangga, pelanggan industri, pelanggan usaha, pelanggan sosial, pelanggan
gedung kantor pemerintah dan penerangan jalan umum. Daya tersambung pada tahun 2018 sebesar
130.280,55 MVA dengan persentase masing-masing per kelompok jenis pelanggan dapat dilihat pada
Gambar 1. Daya tersambung 2018 mengalami peningkatan sebesar 6,77% dari tahun 2017. Rata-rata
kenaikkan jumlah daya tersambung pada tahun 2018 sebesar 6,95%.
Daya tersambung pada tahun 2018
RUMAH TANGGA/
Residential
1% INDUSTRI/
3% Industrial
4%
USAHA/
21% Commercial
49% SOSIAL/
Social
GEDUNG KANTOR
22% PEMERINTAH/
Government Build
PENERANGAN
JALAN UMUM/
Public Street Lighting

Gambar 1. Daya Tersambung per Sektor Pelanggan Tahun 2018


Sumber: Data Statistik PLN Tahun 2019

Pada rencana jangka panjang PLN sesuai yang tertuang pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik (RUPTL) PLN tahun 2019 – 2028, proyeksi rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik sebesar
6,42% dengan total rencana pembangunan pembangkit listrik sebesar 56.395 MW dalam waktu 10 tahun.
Tentu saja rencana tersebut belum mempertimbangkan faktor terjadi pandemic COVID-19.

I.2 Penyediaan Listrik IPP

Dalam penyediaan listrik PLN bekerjasama dengan sektor swasta dalam membangun pembangkit
listrik melalui kontrak jual beli listrik. Kepemilikan pembangkit swasta ini biasa disebut Independent Power
Producer (IPP) dan kontrak jual beli listrik kepada PLN disebut Power Purchase Agreement (PPA). Dalam
kontrak PPA, sudah umum digunakan metode Take or Pay dimana PLN akan dikenakan denda jika
membeli listrik di bawah Availability Factor yang telah ditetapkan dalam PPA. Sebagai analogi, andaikan
kapasitas pembangkit 100 MW, Availability Factor 75%, maka PLN harus membeli setidaknya 75 MW.
Jika tidak mampu menyerap hingga 75 MW, PLN harus membayar denda Take or Pay kepada IPP atau
yang lebih sederhana PLN diwajibkan menyerap listrik dalam jumlah persen minimal dari kapasitas total
pembangkit listrik yang beroperasi.

Pada tahun 2018, terdapat 13,287,47 MW (atau 26%) dari total 51.185,88 MW pembangkit listrik
di Indonesia merupakan pembangkit listrik swasta, dimana 7,784 MW menyuplai khusus di pulau Jawa dan
Bali. Dengan adanya rencana penambahan 7,365 MW pembangkit IPP di tahun 2021 membuat rencana ini
menjadi sangat tidak layak sebagai akibat dari pengaruh pandemic COVID-19 yang menyebabkan
penurunan prediksi pertumbuhan demand.

Selain itu, sebagian besar dari kontrak pembangkit IPP yang sudah beroperasi ini menggunakan
pembayaran tarif acuan USD/kWh. Hal ini memperburuk keadaan dimana nilai tukar Rupiah terhadap USD
semakin memburuk sebagai akibat pandemic COVID-19.

II. DAMPAK PANDEMI COVID-19

COVID-19 merupakan salah satu jenis corona virus yang pertama kali teridentifikasi pada akhir
Desember 2019 di Wuhan, ibukota provinsi Hubei, Tiongkok. Sejak kemunculan virus ini sudah lebih dari
1 juta orang telah terinfeksi di lebih 200 negara dan teritori dan menyebabkan kematian pada lebih dari
52.000 jiwa.

Dalam rangka membatasi penyebaran virus ini, Pemerintah Indonesia telah memberikan arahan
untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mencakup pembatasan kerumunan dan
melakukan penutupan sekolah, transportasi public dan tempat kerja. Selain itu, untuk membantu masyarakat
yang terdampak kebijakan PSBB, Pemerintah juga memberikan program – program bantuan langsung yang
salah satunya adalah pembebasan dan diskon tarif listrik untuk pelanggan dengan kriteria tertentu.

Tercatat terjadi penurunan konsumsi listrik industri yang cukup tajam di kota – kota besar dan kota
industri sebagai dampak besar dari penyebaran COVID-19 di Indonesia sejak awal Maret 2020. Walaupun,
pada sisi konsumen listrik rumah tangga terjadi kenaikan akibat WFH, kenaikan ini tidak akan sebanding
dengan penurunan konsumsi listrik industri yang mungkin akan cukup besar. Untuk itu, PLN perlu untuk
melakukan adjustment terhadap pertumbuhan demand sebagai dampak jangka panjang dari pandemic
COVID-19.

Seperti terlihat pada gambar 1 di atas, konsumen PLN yang terdampak COVID-19 cukup besar
adalah pada sektor Industri dan Usaha dengan total keduanya mencapai 43% dari total keseluruhan daya
tersambung. Dampak yang terlihat pada bulan Maret dari data pada Tabel 1 menunjukkan penjualan listrik
pada unit wilayah besar di pulau Jawa dan Bali, terjadi penurunan konsumsi listrik sebesar -3,9% jika
dibandingkan penjualan bulan Februari 2020. Hal ini terjadi akibat penurunan aktivitas usaha karena
terdapat pembatasan kegiatan masyarakat untuk mencegah penyebaran virus corona. Selain itu, industri
pengolahan atau manufaktur yang mengalami kendala dan terganggu value change juga mengalami
penurunan penggunaan listrik.
Tabel 1. Data Penjualan Listrik PLN bulan Februari dan Maret 2020

Data Penjualan Listrik (dalam kWh)


Unit Wilayah
Februari 2020 Maret 2020 %
Jawa Timur 86.823.474 84.470.534 -2,7%
Jawa Tengah dan DIY 63.061.918 60.639.875 -3,8%
Jawa Barat 116.709.517 112.108.420 -3,9%
Jakarta Raya 76.618.118 73.690.204 -3,8%
Bali 11.461.048 10.347.108 -9,7%
Banten 56.158.870 53.429.137 -4,9%
Total 410.832.945 394.685.278 -3,9%
Sumber: Data olahan internal PLN

III. TEORI DAN GAGASAN

III.1 Pengelolaan Rantai Pasok Berkelanjutan melalui Perencanaan Penjualan dan Operasi

Manajemen rantai pasok berkelanjutan didefinisikan sebagai pengelolaan material, informasi, dan
arus modal serta kerja sama di antara perusahaan di sepanjang rantai pasokan sambil mengambil sasaran
dari 3 dimensi pembangunan berkelanjutan (ekonomi, lingkungan, dan sosial), kedalam perhitungan yang
berasal dari persyaratan pelanggan dan pemangku kepentingan. Tujuan dari manajemen rantai pasok itu
sendiri adalah untuk menyusun rantai pasokan dalam rangka memaksimalkan keunggulan kompetitif dan
manfaatnya bagi konsumen (Turban et al., 2005).

Gambar 2. Model pengelolaan rantai pasok (Turban et al., 2005)


Perencanaan Penjualan dan Operasi

Perencanaan Penjualan dan Operasi dapat diartikan suatu proses menyeimbangkan sumber daya
dan forecast demand, menyelaraskan tuntutan bersaing suatu organisasi dari rantai pasokan ke konsumen
akhir, sambil menghubungkan perencanaan strategis dengan operasi di semua cakrawala perencanaan
(Heizer et al., 2017).

Salah satu fungsi dari Perencanaan dan Operasi adalah untuk menentukan perencanaan operasi
yang layak untuk dilakukan seiring berjalannya perusahaan dalam menyesuaikan dengan keadaan nya
dengan perubahan input parameter dan asumsi baik dari internal maupun eksternal perusahaan.

Keluaran dari Perencanaan Penjualan dan Operasi ini disebut rencana agregat (aggregate plan).
Rencana agregat berkaitan dengan menentukan kuantitas dan waktu produksi untuk masa depan menengah,
umumnya dari 3 hingga 18 bulan mendatang. Dalam penyusunan rencana agregat ini berhubungan dengan
pilihan perubahan Kapasitas/Produksi dan pilihan perubahan Permintaan (demand).

Pada kasus ini, penyusunan rencana agregat menghadapi kondisi resesi akibat pandemic COVID-
19 terhadap perusahan perlu dilakukan. Strategi yang sangat mungkin digunakan adalah strategi perubahan
kapasitas yang mencakup 2 hal sebagai berikut:

1. Perubahan level inventory: pada kondisi low demand saat ini PLN perlu untuk melakukan
penyesuaian level inventory yang ada terutama yang berhubungan dengan penyimpanan sumber
energi primer pembangkitan seperti jumlah penyimpanan stok batu bara, BBM atau gas.
Penyesuaian ini dilakukan akibat adanya perubahan prediksi operasi pembangkit dan kemudahan
dalam memperoleh inventory tersebut. Penggunaan Low-cost strategy supply chain inventory perlu
dilakukan dimana perusahaan perlu meminimalisasi level persediaan untuk menekan biaya
produksi.

2. Memvariasikan tingkat produksi melalui lembur atau waktu menganggur:


Sesuai dengan arahan adanya WFH, perlu dilakukan perencanaan kepegawaian yang seoptimal
mungkin agar tidak mengganggu operasional pelayanan utama yaitu penyediaan listrik dalam
jumlah dan kualitas yang baik. Untuk itu, fungsi operasional di unit – unit strategis diperlukan
pengecualian sistem WFH dengan tetap memperhatikan keselamatan dan keamanan pegawai yang
harus tetap bekerja di kantor. Pengoptimalan pemakaian teknologi video conference dalam proses
koordinasi sehari – hari selama menggunakan sistem WFH juga perlu dilakukan.
III.2 Renegosiasi Kontrak PPA

Dalam setiap kontrak PPA terdapat pasal tentang terjadinya kondisi kahar (force majeur), dimana
salah satu peristiwa kahar adalah terjadi nya bencana alam atau acts of God. Pada keadaan pandemi
COVID-19 ini tentu saja sudah dapat diperhitungkan dalam keadaan kahar.

Sebagai akibat dari keadaan kahar maka masing – masing pihak dimungkinkan untuk dibebaskan
dalam hal pembayaran denda atau penalty dan dimungkinkan untuk melakukan negosiasi ulang kontrak IPP
yang sehubungan dengan hal – hal berikut:

1. Untuk kontrak pembangkit yang sudah beroperasi, perlu dilakukan negosiasi terhadap penurunan
level jaminan kapasitas (capacity payment) Take or Pay sebagai akibat dari penurunan demand.
2. Untuk kontrak pembangkit IPP yang masih dalam masa konstruksi, maka PLN bisa mengajukan
penghentian sementara pekerjaan atau mengusulkan perubahan jadwal operasi komersial tanpa
diberlakukan denda atau penalty apapun.

III.3 Merevisi data demand forecast

Data perkiraan pertumbuhan konsumen dan pertumbuhan penjualan listrik selalu dihubungkan
dengan pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020
adalah 2,3% sebagai asumsi dasar. Adapun prediksi dari S&P dan Moody’s dapat dilihat pada table berikut:

Data pertumbuhan demand yang digunakan sampai dengan saat ini adalah rata-rata 6,5% per tahun. Angka
ini sudah tidak relevan dan dapat menyebabkan kesalahan memprediksi perencanaan penambahan
pembangkit listrik dan saluran transimisi dan distribusi.
IV. PENUTUP

Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia memberikan dampak yang sangat besar terhadap prediksi
konsumsi listrik konsumen dengan indikasi terjadi penurunan konsumsi sebesar -3,9% dari Februari ke
Maret 2020. Untuk menghadapi kondisi resesi ini, PLN perlu menyusun strategi jangka pendek, jangka
menengah dan jangka panjang.

Solusi jangka pendek yang dapat dilakukan adalah menyusun rencana agregat terkait Perubahan level
inventory dan perencanaan WFH yang optimal agar tidak mengganggu operasional perusahaan. Selanjutnya
untuk solusi jangka menengah adalah perlu dilakukan re-negoisasi kontrak IPP untuk menyesuaikan
pertumbuhan permintaan. Terakhir untuk solusi jangka panjang adalah melakukan revisi data perkiraan
demand forecast yang menyesuaikan dengan kondisi perekonomian di masa dating.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, M. (IEEFA. org. (2020). PLN in Crisis-Time for Independent Power Producers to Share the
Pain?

Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2020). Operations Management, Sustainability and Supply Chain
Management, 13e. Essex: Pearson Education Limited.

McKinsey & Company. (2020). COVID-19: Briefing Materials, Global Health and Crisis Response;
Updated March 25, 2020. New York City: Mc Kinsey & Company.

PT PLN (Persero). (2019). Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019 - 2028.

PT PLN (Persero). (2019). Statistik Ketenagalistrikan Tahun 2018.

Turban, E., Volonino, L., & Wood, G. R. (2015). Information Technology For Management, 10th
Edition. John Wiley & Sons, Inc.