Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
ini. Shalawat beriringan salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang
membawa kita dari zaman kebodohan menuju alam yang berlimpah ilmu
pengetahuan.
Dalam penyusunan tugas ini, kami mengalami banyak rintangan dan
hambatan. Akan tetapi berkat bantuan dari berbagai pihak, rintangan dan
hambatan tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan tugas ini.
Dengan segala kerendahan hati kami menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan dalam penyusunan tugas ini. Oleh karena itu, kami senantiasa ikhlas
dan terbuka menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan tugas ini.

Makassar, 10 September 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................1
C. Tujuan Penelitian..........................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3
A. Etika Praktik Perpajakan (Ethic Tax Application)........................................3
B. Kerugian Pajak (Tax Losses)........................................................................4
C. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) Dan Penyelundupan Pajak (Tax
Evasion)................................................................................................................5
D. Sifat & Cara Pendekatan Perencanaan Pajak (Tax Planning).......................9
E. Ekonomi Perencanaan Pajak.......................................................................10
F. Tahapan Dalam Membuat Perencanaan Pajak...........................................11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Suatu sistem manajemen pajak yang efektif merupakan hal yang vital bagi
suatu usaha yang berorientasi kepada keuntungan, dan malahan predikat
seorang manajer yang sukses kadang-kadang ditentukan pula oleh tidaknya
penyusunan suatu perencanaan pajaknya (Tax Planing), perencanaan pajak
adalah perbuatan yang sifatnya mengurangi beban pajak secara legal dan
bukan mengurangi kesanggupan memenuhi kewajiban perpajakannya
melunasi utang-utang pajak.
Perencanaan pajak itu sendiri sesungguhnya merupakan tindakan
penstrukturan yang terkait dengan konsekuensi potensial pajaknya, yang
tekanannya kepada pengendalian setiap transaksi yang ada konsekuensi
pajaknya. Tujuannya adalah bagaimana pengendali tersebut dapat
mengefisienkan jumlah pajak yang akan ditransfer pemerintah, melalui apa
yang disebut sebagai penghindaran pajak (Tax Avoidance).
Penghindaran pajak merupakan usaha meminimalkan beban pajak dengan
cara penggunaan alternatif yang rill dan dapat diterima oleh fiskus, bukan
penyelundupan pajak (Tax Evasion) yang merupakan tindakan pidana fiskal
yang tidak akan ditoleransi yang merupan perbuatan tercela yang dilakukan
oleh Wajib Pajak atau penasihat para ahli yang bertujuan dengan sengaja
melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana etika praktik perpajakan?
2. Apa itu kerugian pajak?
3. Bagaimana penghindaran pajak dengan penyelundupan pajak?
4. Bagaimana sifat dan cara pendekatan perencanaan pajak?

1
5. Apa ekonomi perencanaan pajak?

C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, dapat disimpulkan tujuan penulisan
makalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui etika praktik perpajakan.
2. Untuk mengetahui kerugian pajak.
3. Untuk mengetahui penghindaran pajak dengan penyelundupan pajak.
4. Untuk mengetahui sifat dan cara pendekatan perencanaan pajak.
5. Untuk mengetahui ekonomi perencanaan pajak.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etika Praktik Perpajakan (Ethic Tax Application)


Pada dasarnya, tidak seorang pun yang senang membayar pajak dan potensi
untuk bertahan terhadap pembayaran pajak sudah melekat pada diri wajib pajak
sesuai asumsi Leon Yudkin yang mengatakan:
1. Bahwa wajib pajak selalu berusaha untuk membayar pajak yang terutang
sekecil mungkin, sepanjang hal itu dimungkinkan oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
2. Bahwa para wajib pajak cenderung untuk menyelundupkan pajak (tax
evasion) yaitu usaha penghindaran pajak terutang secara ilegal, sepanjang
wajib pajak tersebut mempunyai alasan yang meyakinkan bahwa akibat dari
perbuatannya tersebut, kemungkinan besar mereka tidak akan dihukum serta
yakin pula bahwa rekan-rekannya melakukan hal yang sama.
Ukuran kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan, biasanya diukur dan
dibandingkan dengan besar kecilnya penghematan pajak (tax saving),
penghindaran pajak (tax avoidance) dan penyelundupan pajak (tax evasion) yang
bertujuan untuk meminimalkan beban pajak, melalui beberapa cara yaitu
pengecualian-pengecualian, pengurangan-pengurangan, insentif pajak,
penghasilan yang bukan objek pajak, penangguhan pengenaan pajak, pajak
ditanggung negara sampai kepada kerja sama dengan aparat perpajakan, suap-
menyuap dan pemalsuan.
Perencanaan pajak (tax planning) adalah proses mengorganisasi usaha wajib
pajak atau kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga utang pajaknya, baik
pajak penghasilan maupun pajak-pajak lainnya, berada dalam posisi yang paling
minimal sepanjang hal ini dimungkinkan baik oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan maupun secara komersial.
Penghindaran pajak merupakan usaha meminimkan beban pajak dengan cara
penggunaan alternatif-alternatif yang riil dan dapat diterima oleh fiskus.
Penyelundupan pajak merupakan perbuatan yang tercela yang dilakukan oleh

3
wajib pajak atau penasihat ahlinya yang bertujuan dengan sengaja melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku, misalnya dalam bentuk tidak memberitahukan fiskus keadaan yang
sebenarnya.

B. Kerugian Pajak (Tax Losses)


Kerugian pajak adalah selisih antara potensi pajak dan realisasi penerimaan
pajak. Kerugian pajak dapat terdiri dari:
1. Kerugian karena ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Kerugian ini disebut juga sebagai pengeluaran pajak (tax expenditure),
merupakan subsidi terselubung yang diberikan oleh Pemerintah diluar
pengontrol Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui
pengecualian-pengecualian (exemptions) dan pengurangan-pengurangan
(deductions) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
2. Kerugian karena aparat pajak
Kerugian ini disebabkan oleh ekstensifikasi, intensifikasi dan
penyelundupan bilateral (bilateral evasion).
3. Kerugian karena wajib pajak
Kerugian ini disebabkan oleh persinggahan pajak (tax haven),
penghindaran pajak (tax avoidance) dan penyelundupan pajak (tax evasion)
baik secara unilateral maupun bilateral.
Dari ketiga macam kerugian pajak tersebut, dari sudut pandang ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, kerugian dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Kerugian karena materi ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
2. Kerugian karena pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
3. Kerugian karena pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.

4
4. Kerugian karena materi ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Yang termasuk dalam pengertian kerugian karena materi ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan adalah selain subsidi pajak, juga perbuatan atau
usaha pembayar pajak untuk membayar pajak seefisien mungkin melalui celah-
celah (loopholes) yang terdapat dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Hal ini dilakukan dengan cara penghindaran pajak (tax avoidance)
dan penghematan pajak (tax saving) yang sama sekali tidak dapat dianggap
sebagai pelanggaran hukum.
1. Kerugian karena pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan
Naluri pembayar pajak yang selalu berusaha untuk membayar pajak
sekecil mungkin atau pun tidak membayar pajak sama sekali, menyebabkan
pekerjaan instansi pajak dalam rangka pengelolaan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan menjadi lebih sulit.
Akibatnya, usaha-usaha untuk menjangkau seluruh subjek pajak
(ekstenfikasi) dan meliputi semua objek pajak (intensifikasi) sering kali
memenuhi harapan dan bahkan terperangkap dalam kegiatan penyelundupan
pajak bilateral (bilateral tax evasion).
2. Kerugian karena pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Yang termasuk dalam kerugian karena pelanggaran ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan, tidak saja sebatas pada kecurangan dan
penggelapan dalam segala bentuknya (penyelundupan pajak unilateral =
unilateral tax evasion), tetapi menurul Oliver Oldman juga meliputi kelalaian
memenuhi kewajiban perpajakan yang disebabkan oleh ketidaktahuan
(ignorance), kesalahan (error), kesalahpahaman (misunderstanding) dan
kealpaan (negligence).

C. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) Dan Penyelundupan Pajak (Tax


Evasion)

5
Pada dasarnya antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak
mempunyai sasaran yang sama yaitu mengurangi beban pajak, akan tetapi car
penyelundupan pajak jelas-jelas merupakan perbuatan ilegal dalam usaha
mengurangi beban pajak tersebut.
1. Pengertian Penyelundupan Pajak dan Penghindaran Pajak.
a. Menurut Harry Graham Balter
1) Penyelundupan pajak merupakan usaha yang dilakukan oleh wajib
pajak “apakah berhasil atau tidak” untuk mengurangi atau sama sekali
menghapus utang pajak yang berdasarkan ketentuan yang berlaku
sebagai pelanggaran terhadap perundang-undangan perpajakan.
2) Penghindaran pajak merupakan usaha yang sama yang tidak
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
b. Menurut Ernest R. Mortenson
1) Penyelundupan pajak adalah usaha yang tidak dapat dibenarkan
berkenaan dengan kegiatan wajib pajak untuk lari atau menghindarkan
diri dari pengenaan pajak.
2) Penghindaraan pajak berkenaan dengan pengaturan sesuatu peristiwa
sedemikian rupa untuk meminimkan atau menghilangkan beban pajak
dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat pajak yang
ditimbulkannya. Oleh karena itu, pengindaran pajak tidak merupakan
pelanggaran atas perundang-undangan perpajakan atau secara etik
tidak dianggao salah dalam rangka usaha wajib pajak untuk
mengurangi, menghindari, meminimkan atau meringankan beban pajak
dengan cara-cara yang dimungkinkan oleh undang-undang pajak.
c. Menurut N.A. Barr, S.R. James, A.R. Prest
1) Penyelundupan pajak mempunyai arti sebagai manipulasi secara
ilegal atas penghasilannya untuk memperkecil jumlah pajak yang
terutang.
2) Penghindaran pajak diartikan sebagai manipulasi penghasilannya
secara legal, yang masih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.
d. Menurut Robert H. Anderson

6
1) Penyulundupan pajak adalah penyulundupan pajak yang melanggar
undang-undang pajak.
2) Penghindaran pajak adalah cara mengurangi pajak yang masih dalam
batas ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan dapat
dibenarkan, terutama melalui perencanaan pajak.
2. Pengertian Penghematan Pajak (Tax Saving)
Cara lain untuk mengefisienkan beban pajak adalah melalui penghematan
pajak (tax saving) yaitu suatu cara yang dilakukan oleh wajib pajak dalam
mengelakkan utang pajaknya dengan jalan menahan diri untuk tidak membeli
produk-produk yang ada pajak pertambahan nilainya, pajak penjualannya atau
dengan sengaja mengurangi jam kerja atau pekerjaan yang dapat
dilakukannya sehingga penghasilannya menjadi kecil dan terhindar dari
pengenaan pajak penghasilan yang besar.
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, Oliver Oldman menegaskan bahwa
pengertian penyelundupan pajak tidak saja terbatas pada kecurangan dan
penggelapan dalam segala bentuknya tetapi juga meliputi kelalaian memenuhi
kewajiban perpajakan yang disebabkan oleh:
 Ketidaktahuan (ignorance), yaitu wajib pajak tidak sadar atai tidak tahu
akan adanya ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
tersebut.
 Kesalahan (error), yaitu wajib pajak paham dan mengerti mengenai
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tetapi salah hitung
datanya.
 Kesalahpahaman (misunderstanding), yaitu wajib pajak salah menafsirkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
 Kealpaan (negligence), yaitu wajib pajak alpa unuk menyimpan buku
beserta bukti-buktinya secara lengkap.
Dengan demikian penyelundupan pajak dapat pula didefinisakan sebagai
suatu tindakan atau sejumlah tindakan yang merupakan pelanggaran terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan seperti:
 Tidak dapat memenuhi pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) tepat pada
waktunya.

7
 Tidak dapat memenuhi pembayaran pajak tepat pada waktunya.
 Tidak dapat memenuhi pelaporan penghasilan dan pengurangannya secara
lengkap dan benar.
 Tidak dapat memenuhi kewajiban memelihara pembukuan.
 Tidak dapat memenuhi kewajiban menyetorkan paja penghasilan para
karyawan yang dipotong dan pajak-pajak lainnya yang telah dipungut.
 Tidak dapat memenuhi permintaan fiskus akan informasi pihak ketiga.
 Pembayaran dengan cek kosong bagi negara yang dapat melakukan
pembayaran pajaknya dengan cek.
 Melakukan penyuapan terhadap aparat perpajakan dan atau tindakan-
tindakan lainnya.
Sesuai dengan Pasal 38 dan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah,
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 bab Ketentuan Pidana
adalah sebagai berikut :
1. Pasal 38
Setiap orang yang karena kealpaanya:
 Tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau
 Menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak
lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar.
Sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling tinggi 2
(dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar.
2. Pasal 39
a. Setiap orang dengan sengaja:
 Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan tanpa hak Nomor
Pokok Wajib Pajak atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pasal 2: atau
 Tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau
 Menyampaikan Surat Pemberitahuan dan atau keterangan yang isinya
tidak benar atau tidak lengkap; atau

8
 Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, tidak memperlihatkan atau
tidak meminjamkan buku, catatan. Atau dokumen lainnya; atau
 Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut;
Sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda
paling tinggi 4 (empat) kali pajak terutang yang tidak atau kurang bayar.
b. Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilipatkan 2 (dua) apabila
seseorang melakukan lagi tindak pidana dibidang perpajakan sebelum
lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara
yang dijatuhkan.
c. Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib
Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf a, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan atau
keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf c dalam rangka mengajukan permohonan
restitusi atau melakukan kompensasi pajak, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat) kali
jumlah restitusi yang dimohon dan atau kompensasi yang dilakukan oleh
Wajib Pajak.

D. Sifat & Cara Pendekatan Perencanaan Pajak (Tax Planning)


Seperti diketahui, perencanaan pajak adalah suatu proses yang mendeteksi
cacat teoritis dalam ketentuan peraturan perundang-undanan perpajakan
tersebur, untuk kemudian diolah sedemikian rupa sehingga ditemukannya suatu
cara penghindaran pajak yang dapat menghemat pajak akibat cacat teoritis
tersebut.
Adanya kekurangan yang konseptual dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan tidaklah berarti bahwa ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan harus direvisi, karena perubahan suatu ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan memerlukan banyak pertimbangan dan kriteria-
kriteria yang tidak konsisten dan bertentangan sama lainnya.

9
Dari sudut pandang teoritis yang sangat sederhana, sesungguhnya suatu
penghasilan telah diperoleh pada saat timbulnya perbedaan harga (kenaikan
harga) suatu aset. Namun apabila ditinjau, baik dari segi ketentuan peraturan
perundang-undnagan perpajakan maupun dari segi praktik akuntansi, bahwa
pebghasilan tersebut bari direkognisi sebagai penghasilan pada saat aset tersebut
dijual atau dipindahtangankan. Menunda rekognisi penghasilan sampai dengan
pengalihan aset tersebut, secara praktis dapat digunakan sebagai alasan untuk
membenarkan perbuatan penghematan pajak.
Perencanaan pajak merupakan suatu lapangan pekerjaan yang tidak seja
mengisyaratkan pengetahuan mengenai ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, tetapi juga ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya seperti Undang-Undnag Perusahaan (Company Law) dan beberapa aspek
dari Undang-Undang Perdagangan (Comercial Law), begitu pula pengetahuan
dan pemahaman tentang praktik akunting, praktik bisnis, dan perdagangan.
Perencanaan pajak tidak pula terlepas dari sistem pemungutan yang dianut di
Indonesia setelah reformasi pajak, yaitu sistem self-asessment. Ciri dan cara
tersendiri dri sistem pemungutan pajak tersebut adalah:
 Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian keajiban
dan peran serta wajib pajak untuk secara langsung dan bersama-sama
melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan
negara dan pembangunan nasional.
 Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pajak, sebagai pencerminan
kewajiban di bidang perpajakan berada pada anggota wajib pajak sendiri.
 Wajib pajak diberikan kepercayaan untuk dapat melaksanakan kegotong-
royongan nasional melalaui sistem menghitung, memperhitungkan, dan
membayar sendiri pajak yang terutang (self-assessment).

E. Ekonomi Perencanaan Pajak


Hasrat untuk melakukan perencanaan pajak pada dasarnya didorong oleh dua
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, yaitu:
1. Ketentuan pertama menyangkut maslah Pajak Penghasilan itu sendiri yang
bukan merupakan biaya yang fiskal dapat dikurangkan dalam menentukan

10
Penghasilan Kena Pajak (Pasal 9 ayat (1) huruf h UU PPh). Sebagai
konsekuensinya, apabila terdapat pengurangan pembayaran PPh, maka tidak
akan terjadi penurunan dalam jumlah biaya fiskal yang dapat dikurangkan
dan oleh karena itu juga tidak akan menimbulkan kenaikan Penghasilan Kena
Pajak.
2. Ketentuan kedua menyangkut kemungkinan dapat dikurangkannya biaya
yang ada kaitannya dengan penentuan besarnya pajak yang terutang, yang
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersebut sebagai
biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan (Pasal 6
ayat (1) huruf a UU PPh) . Oleh karena perencanaan pajak terkait dengan
penentuan besarnya pajak yang terutang, maka biaya yang dikeluarkan untuk
perencanaan pajak tersebut merupakan biaya yang fiskal dapat dikurangkan.
Biaya neto rancangan perencanaan pajak adalah biaya bruto dikurangi dengan
jumlah-jumlah pajak yang dapat dihemat, atau dengan kata lain biaya setelah
pajak (after tax cost). Suatu perencanaan pajak dapat dinyatakan sebagai
berikut:

ATC = BTC x (1-MTR)


Keterangan :
ATC = After Tax Cost
BTC = Before Tax Cost
MTR = Marginal Tax Rate

Apabila kedua ketentuan tersebut dikaitkan dengan rancangan perencanaan


pajak, terbukti kemudian bahwa rancangan tersebut akan mengasilkan
keunggulan ekonomis, bila dibandingkan dengan kegiatan mencari laba (profit
seeking activities). Evaluasi atas seluruh proyek investasi, didasarkan kepada
perbandingan antara keuntungan setelah pajak (after tax benefits) terhadap biaya
setelah pajak (after tax cost). Khusus bagi proyek perencanaan pajak, hasilnya
akan bebas dari pengenaan pajak sehingga dengan demikian untuk kegiatan
perencanaan pajak tersebut yang dibandingkan adalah antara keuntungan
sebelum pajak (pre tax benefits) dan biaya setelah pajak (after tax cost).

11
F. Tahapan Dalam Membuat Perencanaan Pajak
Agar perencanaan pajak dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka
rencana itu seharusnya dilakukan melalui berbagai urutan tahap-tahap sebagai
berikut :

1. Menganalisis Informasi (Basis Data) Yang Ada


Tahap pertama dari proses pembuatan perencanaan pajak adalah
menganalisis komponen yang berbeda atas pajak yang terlibat dalam suatu
proyek dan menghitung seakurat mungkin beban pajak yang harus
ditanggung.
Seorang manajer perpajakan harus memperhatikan faktor-faktor baik
internak maupun eksterna yaitu :
 Fakta yang relevan
 Faktor pajak
 Faktor nonpajak lainnya.
2. Membuat satu model atau lebih rencana kemungkinan besarnya
pajak.
Dalam membuat model pengaturan yang paling tepat, penting sekali untuk
mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
 Apakah kepemilikan dari berbabagai hak, surat berharga, dan lain-lain
harus dikuasakan kepada satu atau lebih perusahaan, trust, atau kombinasi
dari semua itu.
 Hubungan antara berbagai individu dan entitas.
 Oleh karena belum ditentukan lebih dahulu di mana entitas tersebut harus
ditempatkan.
3. Evaluasi atas Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak sebagai suatu perencanaan yang merupakan bagian
kecil dari seluruh perencanaan strategis perusahaan, oleh karena itu perlu
dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana hasil pelaksanaan suatu
perencanaan pajak terhadap beban pajak, perbedaan laba kotor, dan
pengeluaran selain pajak atas berbagai alternatif perencanaan. Variabel-

12
variabel tersebut akan dihitung seakurat mungkin dengan hipotesis sebagai
berikut :
 Bagaimana jika rencana tersebut tidak dilaksanakan
 Bagaimana jika rencana tersebut dilaksanakan dan berhasil dengan baik.
 Bagaimana jika rencana tersebut dilaksanakan tetapi gagal.
4. Mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali rencana
pajak (Debugging the tax plan).
Hasil suatu perencanaan pajak bisa dikatakan baik atau tidak tentunya
harus dievaluasi melalui berbagai rencana yang dibuat. Dengan demikian
keputusan yang terbaik atas suatu perencanaan pajak harus sesuai dengan
bentuk transaksi dan tujuan operasi perbandingan berbagai rencana harus
dibuat sebanyak mungkin sesuai bentu perencanaan pajak yang diinginan.
Kadang suatu rencana harus diubah mengingat adanya perubahan peraturan
perundang-undangan. Walaupun diperlukan penambahan biaya atau
kemungkinan keberhasilan sangat kecil. Sepanjang masih besar penghematan
pajak yang bisa diperoleh, rencana tersebut harus tetap dijalankan. Karena
begaimanapun juga kerugian yan ditanggung merupakan kerugian minimal.

5. Memutakhirkan rencana pajak (Updating the tax plan)


Meskipun suatu rencana pajak telah dilaksanakan dan proyek juga telah
berjalan, namun juga masih perlu mempertimbangkan setiap perubahan yang
terjadi baik undang-undang maupun pelaksanaannya di negara dimana
aktivitas tersebut dilakukan yang mungkin mempunyai dampak terhadap
komponen dari suatu perjanjian, yang berkenaan dengan perubahan yang
terjadi di luar negeri atas berbagai macam pajak maupun aktifitas informasi
bisnis yang tersedia sangat terbatas. Pemutakhiran dari suatu rencana adalah
konsekuensi yang perlu dilakukan sebagaimana dilakukan oleh masyarakat
yang dinamis. Dengan memberikan perhatian terhadap perkembangan yang
akan datang maupun situasi yang terjadi saat ini, seorang manajer akan
mampu mengurangi akibat yang merugikan dari adanya perubahan, dan pada
saat yang bersamaan mampu mengambil kesempatan untuk memperoleh
manfaat yang potensial.

13
Rumus untuk Menghitung Laba dan Rugi atas Suatu Perencanaan Pajak
dan Aplikasinya
A = Estimasi laba kotor suatu proyek jika tidak dilaksanakan perencanaan pajak.
B = Estimasi laba kotor suatu proyek jika dilaksanakan perencanaan pajak.
C = Estimasi beban pajak jika perencanaan pajak tidak dilaksanakan.
D = Estimasi beban pajak jika perencanaan pajak dilaksanakan dengan baik.
E = Estimasi beban pajak jika perencanaan pajak dilaksanakan tetapi gagal.
F = Estimasi biaya (selain pajak) dari proyek jika perencanaan pajak tidak
dilaksanakan.
G = Estimasi biaya (selain pajak) dari proyek jika perencanaan pajak
dilaksanakan.

Formulasi ini bisa dipakai dengan kombinasi berikut ini :


1. Jika (A – F) > (B – G) rencana tersebut jangan dilaksanakan, kecuali jika
perbedaan lebih kecil dari (C – D).
2. Jika E dianggap lebih material dari C, maka keputusan untuk melaksanakan
atau tidak melaksanakan suatu perencanaan pajak tergantung pada
kemungkinan keberhasilan dari perencanaan tersebut. Jika tidak ada
perbedaan material (A-F) dan (B-G), maka bandingkan antara (C-D) dan (E-
C) untuk memutuskan dilaksanakan atau tidak perencanaan pajak tersebut.
3. Jika terdapat perbedaan material antara (A-F) dan (B-G), maka keputusan
untuk dilaksanakan atau tidaknya perencanaan adalah dengan
membandingkan antara :
{B – (D + G)} – {A – (C + F)} – {B – (E + G)}

14
DAFTAR PUSTAKA

Suandy, Early. 2011. Perencanaan Pajak. Edisi Revisi 5. Jakarta: Salemba


Empat.

Zain, Mohammad. 2007. Manajemen Perpajakan. Edisi 3. Jakarta: Salemba


Empat.

www.pajak.go.id

http://riskymahira.blogspot.com/2013/01/tahapan-dalam-membuat-perencanaan-
pajak.html?m=1

15