Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

DISTRIBUSI DAN EKSKRESI TETES MATA KLORAMFENIKOL


AnisaDheaSafera,MetanoiaSimarmata,NadiyahNisrina,RohmaSyaktifiani
Program Studi Farmasi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sriwijaya

ABSTRAK

Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam
lingkaran bertulang berfungsi untuk member perlindungan maksimal dan sebagai
pertahanan yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi
mata, iritasi mata, mata memar dan glaucoma. Mata mempunyai pertahanan terhadap
infeksi karena secret mata mengandung enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada
bakteri dan dapat membantu mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal
terdiri atas beberapa bentuk sediaan dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat
mata dibuat khusus. Salah satu sediaan mata adalah obat tetes mata. Obat tetes mata ini
merupakan obat yang berupa larutan atau suspensi steril yang digunakan secara local
pada mata.Karena mata merupakan organ yang paling peka dari manusia maka
pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan
obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan
kemasan yang tepat.

Obat-obat yang dikonsumsi dapat saling mempengaruhi yang dampaknya bisa


negatif dan bisa juga positif bagi kesehatan. Saling pengaruh yang terjadi bila kita
menggunakan lebih dari 1 macam obat disebut juga interaksi obat. Dalam praktek
sehari-hari, interaksi obat jarang dikatakan sebagai akibat kegagalan pengobatan.
Sesungguhnya pemberian obat kepada pasien yang terlampau banyak jenisnya,
misalnya lebih dari 4 macam, sangat potensial menimbulkan efek yang tidak
diinginkan akibat interaksi obat. Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat
diubah atau dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan.

Kata Kunci : Distribusi obat, Ekskresi, Tetes mata kloramfenikol, Farmakokinetika obat.

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

I. PENDAHULUAN proses, yaitu proses absorpsi (A), distribusi


(D), metabolisme (M), dan ekskresi (E).
Tetes mata adalah sediaan steril yang
Metabolisme atau biotransformasi dan
berupa larutan atau suspensi yang
ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif
digunakan dengan cara meneteskan obat
merupakan proses eliminasi obat.
pada selaput lendir mata disekitar kelopak
(Gunawan, 2009).
mata dari bola mata. Tetes mata adalah
larutan berair atau larutan berminyak yang Distribusi Distribusi obat adalah proses
idealnya harus memiliki sifat-sifat sebagai obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke
berikut: 1. Sediaan harus steril. 2. Sediaan jaringan dan cairan tubuh. Distribusi obat
bebas dari efek iritan. 3. Sediaan sebaiknya yang telah diabsorpsi tergantung beberapa
mengandung pengawet yang cocok untuk faktor: 1 Aliran darah Setelah obat sampai
mencegah pertumbuhan dari ke aliran darah, segera terdistribusi ke
mikroorganisme yang dapat berbahaya organ berdasarkan jumlah aliran darahnya.
yang dihasilkan selama penggunaan. 4. Organ dengan aliran darah terbesar adalah
Jika dimungkinkan larutan berair harus Jantung, Hepar, Ginjal. Sedangkan
isotonis dengan sekresi lakrimal konsentrasi distribusi ke organ lain seperti kulit, lemak
ion hidrogen sebaliknya cocok untuk obat dan otot lebih lambat. 2. Permeabilitas
khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari kapiler Tergantung pada struktur kapiler
netral. 5. Sediaan harus stabil secara dan struktur obat. 3. Ikatan protein Obat
kimia. yang beredar di seluruh tubuh dan
berkontak dengan protein dapat terikat atau
Kloramfenikol merupakan salah satu tetes
bebas. Obat yang terikat protein tidak aktif
mata yang sering digunakan, Kloramfenikol
dan tidak dapat bekerja. Hanya obat bebas
diisolasi pertama kali pada tahun 1974 dari
yang dapat memberikan efek. Obat
Streptomyces Venezuelae. Ternyata
dikatakan berikatan protein tinggi bila
Kloramfenikol mempunyai daya
>80% obat terikat protein (Gunawan,
antimikroba yang kuat maka penggunaan
2009).
Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai
pada tahun 1950. Kloramfenikol merupakan
kristal putih yang sukar larut dalam air
II. METODE PENELITIAN
(1:400) dan rasanya sangat pahit. Rumus
molekul kloramfenikol ialah R= -NO2. 2.1 Waktu dan Tempat

Farmakokinetik atau kinetika obat adalah Tempat dilakukannya penelitian


nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh (praktikum) pada mata kuliah Praktikum
terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

Biofarmasetika- Farmakokinetika di 15 - -
Laboratorium Biofarmasetika, Jurusan
30 - + -
Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya.
45 + -
Pada tanggal 5 September 2018 pukul 13 :
00 WIB sampai selesai.
60 + + -
2.2 Alat dan Bahan
70 + -
Alat yang digunakan pada praktikum ini
terdiri dari pipet tetes, test tube, pot salep,
90 + + -
tabung reaksi. Sedangkan bahan yang
digunakan berupa tetes mata kloramfenikol
105 + -
5%, etanol 95%, KCl, Aquadest, Na Asetat
Anhidrat, serbuk Zn, Benzoil klorida,
120 + + -
FeCl3,HCl 0,1 N.

2.3 Prosedur Kerja 135 + -

Sebelum menggunakan tetes mata diambil


urine dan saliva terlebih dahulu, diteteskan 150 + + -

tetes mata kloramfenikol dan diambil urin


dan saliva setiap 15 m3nit dan air mata 165 + -

setiap 30 menit, dihitung waktu antara


kehilangan dan pemulihan righting reflex. 180 - + -

III. HASIL DAN PEMBAHASAN b. Sampel di ambil dari laki laki

3.1 Hasil Waktu Sampel


(menit)
a. Sampel di ambil dari perempuan
Air mata urine saliva
Waktu Sampel 15 - -
(menit) 30 - + -
45 + -
Air mata urine
60 + + -

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

70 + 90 + + -

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

105 + 120 + + -

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

135 + hasil kesamaan signifikan pada kedua


150 + + sampel, hal ini di karenakan yang di

165 + lakukan oleh praktikan berupa pengujian


terhadap kualitas adanya kloramfenikol di
180 - +
dalam sampel. Yang selanjutnya mungkin
ternyata di dapatka perbedaan jumlah
3.2 Pembahasan kuantitas keduanya dalam perbedaan
gender.
Praktikum kali ini dilakukan
percobaan mengenai perlakuan penilitian
distribusi dan ekskresi kloramfenikol, pada
IV. KESIMPULAN
percobaan di lakukan pengambilan sampel
berupa urine, saliva dan air mata, obat 1. Distribusi obat adalah transfer obat
kloramfenikol ini sendiri jalur ekskresi dari darah ke jaringan/organ lain.
utamanya berada pada jalur urine sehingga Prosesnya reversibel, misalnya
dapat di katakan kloramfenikol akan distribusi obat klorokuin dari
terdistribusi menyeluruh dalam tubuh. jaringan lemak akan kembali lagi
ke darah.
Sampel di dalam tubuh peserta
2. Faktor yang mempengaruhi
yang di gunakan setelah di lakukan
distribusi obat adalah Kecepatan
penambahan reagen dapat terlihat bahwa
distribusi yang meliputi
sampel mengalami perubahan warna yang
Permeabilitas membran dan perfusi
signifikan, hal ini dapat membuktikannya
darah dan Seberapa jauh obat
bahwa larutan sampel yang di ekskresikan
didistribusikan. 
yang sebelumnya telah di beri obat tetes
3. Ekskresi adalah proses
mata kloramfenikol memiliki nilai ekskresi,
pembuangan sisa metabolisme dan
artinya obat yang di masukkan dapat di
benda yang tidak berguna lagi bagi
keluarkan di dalam tubuh melalui jalur
tubuh.
ekskresi yang telah ada.
4. Terdapat perbedaan dari
Pada ekskresi air mata yang di pengamatan distribusi dan eksresi
ambil juga di ambil peserta dengan gender kloramfenikol pada pria dan wanita
yang berbeda hal ini di karenakan praktikan yang menunjukkan hasil bahwa
agar dapat mampu membedakan bagaimana pada pria lebih lama waktu yang
pengaruh gender kelamin terhadap diperlukan untuk dapat
pendistribusian obat dan ekskresi obat yang mendistribusikan obat keseluruh
di lakukan. Hasil yang di dapatkan berupa tubuh.

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

5. Pada wanita dan pria kurang atau menjadi referensi bagi pembaca mengenai
tidak ditemukan adanya distribusi obat tetes mata kloramfenikol dan distribusi
obat kloramfenikol didalam saliva. serta eksresinya didalam tubuh kita.
Sampel kloramfenikol hanya dapat
ditemukan di urin dan air mata.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (2000). Ilmu Meracik Obat


V. SARAN Teori Dan Praktek. Cetakan ke- 9.
Yogyakarta: Gajah Mada
Dengan adanya pengamatan mengenai University- Press, Halaman 32 – 80.
distribusi dan eksresi tetes mata
kloraamfenikol diharapkan mahasiswa atau
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi, edisi
praktikan mampu mengetahui apa saja keempat. Jakarta : UI-Press.
faktor dan penghambat distribusi dan
Dirjen POM. 1979. Farmakope
eksresi dari obat tetes mata kloramfenikol.
Indonesia Edisi III . DepKes RI.
Dan semoga dengan adanya hasil dari Jakarta
pengamatan ini dapat membantu untuk

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika
Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2018

Jurnal Biofarmasetika-Farmakokinetika