Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM PENENTUAN BEBERAPA KOMPONEN DALAM SAMPEL

PERTALITE, PERTAMAX, DAN PERTAMAX PLUS MENGGUNAKAN


KROMATOGRAFI GAS
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia Pemisahan dan
Pengukuran
Dosen Pengampu:
Dr. Wiji, M.Si.

Tanggal Percobaan:
Awal: 24 Februari 2020
Akhir: 24 Februari 2020

Disusun Oleh:
Qurratu Aini Alya Adzkia (1801188)
Rekan Kerja:
Rai Octy Mega (1800720)

PROGRAM STUDI KIMIA


DEPARTEMEN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2020
A. Tanggal Praktikum: Awal: 24 Februari 2020
Akhir: 24 Februari 2020

B. Judul
PENENTUAN BEBERAPA KOMPONEN DALAM SAMPEL PERTAMAX, PERTAMAX
PLUS, DAN PERTALITE MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS

C. Tujuan
1. Dapat mengenal cara pengoperasian instrumen GC.
2. Dapat memahami cara kerja instrumen GC untuk analisis kualitatif.
3. Dapat menentukan beberapa komponen dalam sampel pertamax, pertamax plus, dan pertalite.

D. Tinjauan Pustaka
Kromatografi merupakan metode pemisahan yang didasarkan pada perbedaan
kesetimbangan komponen campuran diantara fasa gerak (mobile phase) dan fasa diam (stationer
phase). Apabila fasa gerak yang digunakan berupa gas maka disebut kromatografi gas. Pada
kromatografi gas, fasa diam dapat berupa padat atau cair. Zat terlarut nantinya akan terpisah
sebagai uap. Pemisahan akan tercapai dengan partisi bila fasa diam yang digunakan berupa
cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat
penunjangnya.
(Hendayana, 1994)
Gas Chromatography (GC), adalah metoda yang digunakan dalam kimia analitik untuk
memisahkan dan menganalisis senyawa yang dapat menguap. Kelebihan dari GC adalah GC
dapat melakukan pengujian kemurnian suatu zat tertentu, atau memisahkan berbagai komponen
campuran (jumlah relatif dari komponen tersebut juga dapat ditentukan). Dalam beberapa situasi,
GC dapat membantu dalam mengidentifikasi senyawa. Namun, kelemahan teknik kromatografi
gas terbatas untuk zat yang mudah menguap, kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk
memisahkan campuran dalam jumlah besar, fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak
bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.
(Soebagio, 2005)
Ada beberapa kelebihan dari kromatografi gas, diantaranya dapat menggunakan kolom yang
lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi, gas dan uap memiliki
viskositas yang rendah, demikian juga kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung
cepat, sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi. Fasa gas dibandingkan sebagian
besar fasa cair tidak bersifat reaktif terhadap fasa diam dan zat terlarut. Kelemahannya adalah
teknik ini terbatas untuk zat yang mudah menguap. Kromatografi gas merupakan metode yang
tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan untuk
pemisahan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran sederhana hingga berjamjam
untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen. Komponen campuran dapat
diidentifikasikan dengan menggunakan waktu retensi yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu
tambat adalah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom.
Waktu tambat diukur dari jejak pencatat pada kromatogram dan serupa dengan volume tambat
pada KCKT dan Rf dalam KLT. Dengan kalibrasi yang sesuai banyaknya kuantitas komponen
campuran dapat pula diukur secara teliti. Kekurangan utama kromatografi gas adalah bahwa ia
tidak mudah dipakai untuk pemisahan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat
mg mudah dilakukan, akan tetapi untuk jumlah tingkat pon atau ton sukar dilakukan, kecuali jika
ada metode lain.
(Adnan, 1997)
Fasa diam pada kromatografi gas adalah penyalut partikel atau dinding kolom. Gas
pembawa adalah fasa gerak.
(Munson, 1991)
Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa
padatan (kromatografi gas padat) atau cairan (kromatografi gas cair). Umumnya untuk
kromatografi gas padat sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, silika gel, atau
saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10m) dan tipis.
Senyawa yang kurang larut pada fasa diam akan keluar terlebih dahulu.
(James, 2003)
Mekanisme kerja kromatografi gas adalah sebagai berikut. Gas dalam silinder baja
bertekanan tinnggi dialirkan melalui kolom yang berisi fasa diam. Cuplikan berupa campuran
yang akan dipisahkan, biasanya dalam bentuk larutan, disuntikkan kedalam aliran gas tersebut.
Kemudian cuplikan dibawa oleh gas pembawa kedalam kolom dan didalam kolom terjadi proses
pemisahan. Komponen-komponen campuran yang terlah terpisahkan satu persatu meninggalkan
kolom. Suatu detektor diletakkan diujung kolom untuk mendeteksi jenis maupun jumlah tiap
komponen campuran. Hasil pendeteksian direkam dengan rekorder dan dinamakan kromatogram
yang terdiri dari beberapa puncak. Jumlah peak yang dihasilkan menyatakan jumlah komponen
(senyawa) yang terdapat dalam campuran. Karena peak-peak dalam kromatogram berupa
segitiga maka luasnya dapat dihitung berdasarkan tinggi dan lebar peak tersebut.
(Budhiraja, 2004)
Data-data yang dihasilkan dari kromatogram selanjutnya dianalisis untuk keperluan
analisis kualitatif dan kuantitatif.
Analisis Kualitatif
Tujuab utama kromatografi adalah memisahkan komponen-komponen yang terdapat dalam suatu
sampel. Dengan demikian, jumlah puncak yang terdapat dalam kromatogram menunjukkan
jumlah komponen yang terdapat dalam suatu sampel. Untuk mengidentifikasi tiap puncak adalah
kromatogram dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
a. Membandingkan waktu retensi analit dengan waktu retensi standar
Waktu retensi suatu komponen pada suatu kolom dan kondisi kromatografi tertentu
bersifat
karakteristik bagi komponen tersebut. Jika waktu retensi suatu zat standar sama dengan waktu
retensi suatu komponen tertentu maka dapat diduga bahwa kedua senyawa tersebut adalah sama.
Oleh karena itu, identifikasi suatu komponen dalam sampel dapat dilakukan dengan cara
membanidngkan waktu retensi komponen yang dianalisis dengan waktu retensi zat standaar yang
diinjeksikan kedalam kolom dibawah kondisi kromatografi yang sama.
b. Melakukan ko-kromatografi
Pada kromatografi gas, waktu retensi untuk satu komponen didalam satu sampel saja sulit
untuk mendapatkan waktu retensi yang sama persis pada pengulangan berikutnya. Sehingga cara
ini lebih teliti. Standar ditambahkan pada sampel, kemudian dilakuka pengukuran dengan
kromatografi gas. Bila ada luas atau tinggi salah satu puncak bertambah maka analit yang
mengalami pertambahan luasnya identik dengan standar.
c. Menghubungkan kromatografi gas dengan detektor spektometer massa atau IR
Metode ini daat digunakan untuk analit yang belum ada standarnya, digunakan untuk
mengidentifikasi puncak kromatografi gas. Ketika analit memasuki spektrometer massa maka
molekul senyawa tersebut ditembaki dengan elektron berenergi tinggi. Molekul tersebut pecah
menjadi molekul-molekul yang lebih kecil dan terdeteksi berdasaarkan massanya yang
digambarkan sebagai spektra massa. Spektra analit yang tidak diketahui dapat dibandingkan
dengan spektra yang ada di data base komputer atau diinterpretasi sendiri.
d. Menghubungkan kromatografi gas ddengan detektor NMR
Setiap komponen yang telah keluar dari kolom kemudian dikondensasikan dan
selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan spektrometri NMR. Cara ini
dapat dilakukan apabila detektor tidak bersifat dekstruktif, misalnya TCD.

Analisis Kuantitatif
Didasarkan pada salah satu pendekatan, tinggi pundak atau luas puncak analit dan
standar. Tinggi dan luas puncak analit dan standar. Tinggi dan luas puncak berbanding lurus
dengan konsentrasi analit yang diinjeksikan. Penggunaan tinggi puncak lebih mudah diukur dan
lebih teliti dibandingkan luas puncak. Metode analisis kuantitatif pada kromatografi gas:
a. Metode standar kalibrasi
Mempersiapkan sederet larutan standar yang komposisinya sama dengan analit kemudian
tiap larutan standar diukur dengan kromatografi gas sehingga diperoleh kromatogram untuk tiap
larutan standar. Selanjutnya diplot luas atau tinggi puncak sebagai fungsi konsentrasi larutan
standar. Plot data harus diperoleh garis lurus yang memotong titik nol. Selanjutnya tinggi atau
luas puncak yang didapatkan dari pungukuran sampel diplotkan dalam kurva kalibrasi sehingga
ditentukan konsentrasi analit dalam sampel.
b. Metode standar internal
Digunakan apabila tinggi dan luas puncak kromatogram tidak hanya dipengaruhi oleh
banyaknya sampel, tetapi juga oleh fluktuasi laju aliran gas pembawa, suhu kolom, detektor, dan
sebagainya, yang mempengaruhi kepekaan dan respon detektor.
c. Metode normalisasi area
Cara kuantitatif tanpa menggunakan larutan standar untuk menghitung konsentrasi
komponen-komponen dalam sampel dalam % dengan cara mengukur luas puncak setiap
komponen dan membaginya dengan luas puncak total seluruh komponen. Metode normalisasi
area dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan yang berhubungan dengan injeksi sampel.
(Adnan, 1997)
Komponen-komponen utama dalam instrumentasi kromatografi gas terdiri dari gas
pembawa, injector, kolom, detektor, dan rekorder sebagai berikut:

1. Gas pembawa
Gas yang digunakan sebagai fasa gerak dalam kromatografi dalam gas harus bersifat inert
(tidak bereaksi) dengan cuplikan maupun fasa diam. Gas-gas biasa digunakan adalah gas helium,
argon, nitrogen, dan hidrogen. Karena gas disimpan dalam silinder baja bertekanan tinggi, maka
gas tersebut akan mengalir dengan sendirinya secara cepat sambil membawa komponen-
komponen campuran yang akan atau yang sudah dipisahkan. Dengan demikiran gas tersebut
disebut juga gas pembawa (carrier gas). Oleh karena gas pembawa mengalir dengan cepat, maka
pemisahan dengan teknik kromatografi gas hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Gas
pembawa memberikan HETP yang sama tapi pada kecepatan alir yang berbeda.
Solut berdifusi lebih cepat melalui H2 dan He daripada melalui N2, maka H2 dan He
memberikan resolusi yang lebih baik pada kecepatan alir tinggi, sesuai dengan mekanisme
perjalanan solut melalui kolom. Semakin cepat solut kesetimbangan diantara fasa gerak dan fasa
diam maka semakin kecil pula faktor transfer massa. Difusi solut yang cepat dalam H 2 dan He
membantu mempercepat kesetimbangan diantara fasa gerak dan fasa diam sehingga
meningkatkan efisiensi atau menurunkan harga HETP. H 2 merupakan gas pembawa paling
efisien. Jika percobaan dilakukan pada tekanan tetap, kecepatan alir akan berkurang ketika suhu
dinaikan. Gas pembawa H2 memberikan efisiensi relatif stabil dengan perubahan kecepatan alir.
Bahaya H2 yaitu mudah meledak bila berkontraksi dengan udara. Oleh karena itu, He banyak
digunakan sebagai pengganti H2. Kotoran yang terdapat dalam gas pembawa dapat merusak
kolom secara perlahan karena fasa diam bereaksi dengan kotoran tersebut. Oleh karena itu, gas
berkualitas tinggi harus digunakan untuk merawat kolom dari kerusakan. Untuk menghilangkan
kotoran dalam gas pembawa, biasanya gas dialirkan melalui saringan yang disebut molecular
seive untuk menghilangkan air dan hidrokarbon.
(Hendayana, 2006)
Gas pembawa pada kromatografi gas harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) Bersifat inert, tidak bereaksi dengan sampel, solvent, dan material dalam kolom
2) Kemurnian tinggi, mudah diperoleh, dan murah
3) Cocok atau sesuai dengan detektor
4) Dapat mengurangi difusi gas
(Adnan, 1997)
Gas pembawa yang digunakan biasanya gas Helium, Nitrogen, Hidrogen, dan Argon.
Pemilihan gas pembawa tergantung pada penggunaan spesifik dan jenis detektor yang
digunakan. Hidrogen dan Helium resolusinya lebih baik pada kecepatan alir tinggi dibandingkan
dengan Nitrogen dan Argon. Tetapi, Hidrogen cenderung mudah meledak. Sehingga Helium
adalah gas pembawa yang umum digunakan.
(Hendayana, 2010)

2. Injektor/Pemasukan Cuplikan
Berbeda dengan kromatografi kertas, lempeng tipis, dan kolom, cuplikan yang dapat
dianalisis dengan teknik kromatogafi gas dapat berupa zat cair atau gas. Dengan syarat cuplikan
tersebut mudah menguap dan stabil (tidak rusak pada kondisi operasional). Ditempat pemasukan
cuplikan terdapat pemanas yang suhunya dapat diatur untuk menguapkan cuplikan. Suhu tempat
penyuntikan cuplikan biasanya sekitar 50˚C diatas titik didih cuplikan. Bila cuplikan rusak pada
suhu tersebut maka cuplikan tersebut tidak dapat dianalisis dengan teknik kromatografi gas.
Jumlah cuplikan yang disuntikan ke dalam aliran fasa gerak sekitar 5 ml. tempat pemasukan
cuplikan cair kedalam peak kolom biasanya terbuat dari tabung gelas di dalam blok logam panas.
Cuplikan disuntikkan dengan bantuan alat suntik melalui karet septum kemudian diuapkan
didalam tabung gelas. Gas pembawa meniup uap cuplikan melalui kolom kromatografi. Untuk
kolom analitik memerlukan antara 0,1-10 ml cuplikan cair sedangkan kolom preparatif
memerlukan antara 20-1000 ml. Cuplikan berbentuk gas dapat dimasukkan dengan bantuan alat
suntik gas (gas-tight-syringe). Kolom analitik biasanya memerlukan 0,5-10 ml sedangkan kolom
preparatif dapat menampung sampai 1 L gas. Untuk jenis kolom terbuka diperlkan alat
pemasukan yang lebih rumit. Alat pemasukan cuplikan untuk kolom terbuka mengandung pipa
gelas dan gelas wool yang secara perlahan dapat terkontaminasi oleh cuplikan yang tidak dapat
menguap dan dapat terurai, harus diganti berkala.
(Hendayana, 2006)

Metode injeksi pada kromatografi gas terdiri dari tiga cara pada proses penginjeksiannya,
antara lain:
1) Split Injection
Suatu metode injeksi pada kromatografi gas yang paling tua, sederhana, dan mudah
menggunakan teknik injeksi. Sampel yang diinjeksikan lebih cepat menguap dan hanya sebagian
kecil dan biasanya 1-2% dari uap sampel yang masuk ke kolom. Suhu dalam injeksi port
mencapai 350˚C. Sisa dari sampel akan menguap dan besar aliran gas pembawa akan
membagikan melalui split atau katup pembersihan. Metode split untuk menganalisis suatu
sampel dengan konsentrasi tinggi (> 0,1%). Berbeda dengan metode splitless yang cocok pada
konsentrasi rendah, yaitu 0,01%.

2) Splitless Injection
Sampel diinjeksikan ke dalam bejana kecil yang dipanaskan menggunaka syringe melalui
septum panas memfasilitasi penguapan dalam injektor. Gas pembawa kemudian mengangkut
keseluruhan sampel ke dalam kolom karena katup pemecah ditutup dan akan terbuka setelah
waktu yang ditentukan untuk membersihkan unsur-unsur yang lebih berat yang berpotensi
mengkontaminasi sistem. Suhu pada injektor dalam metode ini mencapai 220˚C. Sampel akan
menguap perlahan terbawa ke arah kolom dengan aliran laju skeitar 1 ml/menit.

3) On-Column Injection
Metode ini, ujung split dimasukkan kedalam kolom. Teknik ini digunakan untuk
senyawa-senyawa yang mudah menguap, jika menyuntikan melalui lubang suntik secara
langsung dikhawatirkan akan terjadi perurairan senyawa karena suhu tinggi.
(Hendayana, 2010)

4) PTC Injector
Sampel suhu terprogram pertama kali diperkenalkan oleh Vogt pada 1979 dengan
mengembangkan teknik ini sebagai metode untuk mengintroduksi sampel dalam volume besar
dalam kapiler KG. Vogt mengintroduksi sampel ke dalam jalur dengan laju injeksi terkendali.
Suhu pada jalur diatur sedikit dibawah titik didih pelarut. Pelarut bertitik didih menguap secara
kontinyu dan dikeluarkan melalui jalur terpisah.

5) Purge and Trap Injection System


Suatu gas inert digelembungkan ke dalam larutan sampel sehingga menyebabkan bahan
kimia yang mudah menguap tetapi tidak mudah larut dari matriks. Uap kemudian “diperangkap”
pada kolom absorbent pada temperatur ambien. Perangkap kemudian dipanskan dan uapnya
diarahkan kedalam aliran gas pembawa.
(Poole, 2012)

Berdasarkan gambar diatas, cuplikan disuntikan melalui septum kedalam daerah


penguapan cuplikan sementara kran 1 ditutup. Gas pembawa dari pengontrol aliran cuplikan ke
dalam gelas wool sehingga terjadi penguapan sempurna dan pencampuran yang baik terjadi.
Selanjutnya sisanya dibuang melalui kran 2. Bagian cuplikan yang dibuang melalui kran 2.
Bagian cuplikan yang dibuang melalui kran 2 dikontrol oleh pengatur tekanan. Bila suhu injector
terlalu tinggi maka penguraian cuplikan dapat terjadi sehingga beberapa komponen hilang dan
komponen baru terbentuk. Jenis injeksi split tidak berguna untuk analisis renik karena
kebanyakan cuplikan dibuang. Untuk keperluan analisis kuantitatif yang baik dan untuk analisis
renik maka injeksi jenis splitless lebih cocok. Dalam hal ini, larutan encer cuplikan dalam pelarut
yang mudah menguap disuntikan ke dalam tempat pemasukan cuplikan dengan keadaan kran 1
dan 2 tertutup. Suhu kolom mula-mula 20-25˚C lebih rendah daari titik didih pelarut. Sehingga
berkondensasi pada permukaan kolom. Ketika solute tersebut terkumpul yang masih berbentuk
uap dekat septum akan menyebabkan tailing (pelebaran peak). Oleh karena itu, setelah 20-60
detik kran 1 dibuka untuk mengeluarkan uap dekat septum. Dengan injeksi splitles,
menyebabkan cuplikan (sekitar 80%) masuk ke dalam kolom alternative lain untuk
mengkondensasi solute pada permukaan kolom disebut perangkat dingin. Suhu kolom mula-
mula 150˚C lebih rendah dari titik didih di elusi secara cepat. Tapi cuplikan yang dapat terurai
pada pemanjangan diatas titik didihnya selama injeksi. Larutan mula-mula mendekati titik didih
pelarut yang mudah menguap untuk mengkondensasi dan mengumpulkan solute solute. Proses
kromatografi terjadi ketika suhu kolom dinaikkan.
3. Kolom
Dalam kromatografi gas, kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan. Untuk
kromatografi gas dikenal dua jenis kolom, yaitu jenis pak (packed column) dan jenis terbuka
(open tubular column).

 Kolom pak (packed column)


Terbuat dari stainless steel atau gelas dengan garis tengah 3-6 nm dan Panjang 1-5 m. kolom
diisi dengan serbuk zat padat halus atau zat padat sebagai zat pendukung yang dilapisi zat cair
kental yang sukar menguap sebagai fasa diam. Jenis kolom ini lebih disukai untuk tujuan
preparatif karena dapat menampung jumlah cuplikan yang banyak.

 Kolom terbuka (open tubular column)


Lebih kecil dan lebih panjang daripada kolom pak. Diameter kolom terbuka berkisar antara
0,1-0,7 mm dan panjangnya berkisar antara 15-100 m. Jenis kolom ini disebut juga kolom
kapiler. Untuk mempermudah penyimpanan, biasanya kolom terbuka dibentuk spiral dengan
garis tengah 18 cm. Kolom terbuka tidak dapat menampung volume cuplikan yang banyak.

Semakin panjang kolom, maka semakin efisien. Semakin panjang kolom, maka perbedaan
waktu retensi senyawa satu terhadap lainnya akan bertambah yang akan memberi dampak pada
peningkatan selektivitas. Tiga faktor yang mempengaruhi resolusi diantaranya adalah efisiensi,
selektivitas, dan retensi. Dengan kolom terbuka, factor-faktor tersebut akan bertambah. Jadi,
pada penggunaan kolom terbuka waktu analisis lebih pendek daripada penggunaan kolom pak
karena fasa gerak tidak mengalami hambatan ketika melewati kolom. Kolom terbuka terdiri dari
tiga jenis, yaitu wall coated open tubular column, fasa diam cairan kental dilapiskan secara
merata pada dinding pada kolom dengan rancangan support-coated open tubular column (scot).
Partikel zat padat pendukung seperti silika atau aluminum ditempelkan pada dinding dalam
kolom. Partikel pendukung ini telebih dauhulu dilapisi zat cair kental sebagai fasa diam untuk
meningkatkan luas permukaan. Pada rancangan ketiga, porous-layer open tubular column (plot),
partikel zat padat yang ditempelkan pada dinding dalam kolom bertindak sebagai fasa diam.
 Zat padat pendukung
Kolom pak mengandung zat cair kental yang sukar menguap yang dilapiskan pada partikel
yang tidak bereaksi (inert) yang disebut zat padat pendukung. Zat pendukung harus berupa
partikel halus, kuat dan berbentuk sama serta memiliki luas permukaan besar. Kebanyakan zat
padat pendukung terbuat dari tanah diatomeus, silika yang berasal dari rangka alga.
4. Detector
Berbagai jenis detector dapat digunakan untuk mendeteksi komponen-komponen yang telah
terpisahkan di dalam kolom, kromatografi gas. Jenis detector meliputi detector daya hantar
panas, detector ionisasi nyala, detector penangkap electron, detector fotometri nyala, dan
detector nyala alkali. Setiap detector mempunyai karaktaristik tersendiri.
Detektor Perkiraan Batas Deteksi Rentang
Daya Hantar Panas 400 pg/ml (propan) > 105
Ionisasi Nyala 2 pg/s > 107
Penangkap Elektron 5 pg/s 104
Fotometrik Nyala < 1 pg/s (fosfor) > 104
Nyala Alkali < 10 pg/s (belerang) > 103
 Detector Daya Hantar Panas (Thermal Conductivity Detector)
Mengukur kemampuan zat dalam memindahkan panas dan daerah panas ke daerah dingin.
Semakin besar daya hantar panas maka semakin cepat pula panas yang di pindahkan. Detector
ini terdiri dari filamen panas yang ditempatkan pada aliran gas yang datang dari arah kolom
kromatografi.
 Detector Ionisasi Nyala (Flame Ionization Detector)
Solute yang keluar dari kolom dicampur H 2 dan udara kemudian dibakar pada nyala di
bagian dalam detector. Atom karbon senyawa organic dapat menghasilkan radikal CH yang
selanjutnya menghasilkan ion CHO+ dalam nyala hydrogen udara.

 Detector Penangkap Electron (Electron Capture Detector)


Detector penangkap electron mengukur kehilangan sinyal ketika analit terelusi dari kolom
kromatografi sebagai gas pembawa, gas Nitrogen yang memasuki detector di ionisasikan oleh
electron berenergi tinggi (sinar beta) yang di emisikan dari radio aktif 63Ni atau 3H.

 Detector Fotometri Nyala


Fotometri emisi optic yang berguna untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang mengandung
fosfor atau belerang seperti pestisida dalam polutan udara. Solute yang terelusi memasuki nyala
Hidrogen udara seperti dalam detector ionisasi nyala.
 Detector Nyala Alkali
Detector jenis ini merupakan jenis detector yang paling terkenal dan mutakhir dalam
kromatografi gas. Spectrometer massa disambungkan dengan keluaran kromatografi gas. Ketika
gas solute memasuki spectrometer maka molekul senyawa organic di tembaki dengan electron
berenergi tinggi sehingga molekul tersebut pecah menjadi molekul-molekul yang lebih kecil.
5. Recorder
Alat untuk mencetak hasil percobaan pada sebuah kertas yang hasilnya disebut kromatogram
(kumpulan puncak grafik). Hasil akan direkam sebagai urutan puncak-puncak, setiap puncak
mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detector.
(Hendayana, 2006)

E. Alat dan Bahan


Alat :
1. Perangkat GC
2. Botol vial
3. Gelas ukur
Bahan :
1. Standar Heksana p.a
2. Standar Toluena p.a
3. Standar Xilene p.a
4. Sampel Pertamax
5. Sampel Pertamax Plus
6. Sampel Pertalite

F. Prosedur Kerja Praktikum


 Persiapan lautan
Disiapkan larutan standar Heksana, Toluena, dan Xilene masing-masing 0,5 ml,
kemudian dicampurkan. Disiapkan larutan sampel pertamax, pertamax plus dan pertalite masing-
masing di pipet sebanyak 1 ml. Disiapkan larutan sampel dan standar campuran dengan masing-
masing 0,5 ml.
 Operasi GC
Menyimak operator mengoprasikan instrument GC. Setting gas pembawa dan gas
pembakar. Kemudian GC dinyalakan, diikuti menyalakan computer. Selanjutnya parameter
operasional GC diatur dengan suhu injector 150˚C, suhu detector 250˚C, suhu awal kolom pada
40˚C kemudian di program dengan kenaikan 8˚C per menit. Detektor FID, kolom DB-5, gas
pembawa H2 tekanan 4-5 Barr.

Mengukur larutan standar
Ukur larutan standar, sampel, dan campuran yang sudah di siapkan dengan instrument
GC. Ambil sebanyak 0,5 ml larutan yang akan diukur dengan syringe dan di injeksikan pada GC.
 Simak operator mengukur dan mencetak hasil lalu diskusikan hasil pengukuran.

Spesifikasi Bahan

 Material Safety Data Sheet


N
Nama Bahan Sifat Fisika Sifat Kimia
o
Hexana
1 cairan tak berwarna, seperti berbuih Stabil dibawah suhu & tekanan
(C6H14)
normal
   = 2,97
  Titik Didih : 68°C Reaktif dengan oksidator
  Titik Leleh = -95°C Cairan dan uap sangat mudah
  Mr = 86,18 g/mol terbakar

  Larut dalam dietil eter, aseton  


Tidak larut dalam air dingin dan
   
panas
  Bahaya Penanggulangan
  Berbahaya jika terkena kulit, Bilas dengan air dan sabun
  pencernaan dan pernafasan. Hirup udara segar
    Mudah terbakar Simpan dalam wadah rapat
2 Toluene (C7H8) Sifat Fisika Sifat Kimia
  Cairan tak berwarna, berbau Stabil dibawah suhu & tekanan
  aromatik normal

   = 0,87 Polar = 2,4


  Mr = 92,14 g/mol Bereaksi hebat dengan oksidator
  Titik Didih = 110,6°C kuat dan dengan beberapa halogen

  Titik Leleh = -85°C Pelarut


Tidak larut dalam air, larut dalam
   
etanol, eter dan aseton
  Bahaya Penanggulangan
  Iritasi pada mata dan kulit, saluran Bilas dengan air dan sabun
  pernapasan, pencernaan dan mudah Hirup udara segar
  terbakar Jauhkan dari panas dan sumber api
3 Xilene (C8H10) Sifat Fisika Sifat Kimia
  Cairan tak berwarna, berbau pelarut produk pembersih
  aromatik campuran senyawa organik
  Mr = 106,17 g/mol Polar = 2,5
  Titik Didih = 135,14°C  
  Titik Leleh = -47°C  
  Bahaya Penanggulangan
  Oksidator kuat Jauhkan dari zat pemicu ledakan
  Beresiko meledak dan mudah jauhkan dari panas dan sumber api
  terbakar bilas dengan air dan sabun
    iritasi pada mata dan kulit  
4 Pertalite Sifat Fisika Sifat Kimia
  Cairan berwarna biru berbau Campuran hidrokarbon kompleks
  hidrokarbon
mengandung hidrokarbon
  Titik Didih = 230°C teroksigenasi

  Titik Leleh = -60°C mengandung beberapa zat aktif


  Densitas = 715,775 kg/cm  
 
  Bahaya Penanggulangan
  cairan dan uap mudah menyala jauhkan dari panas api
  menyebabkan isitasi pada kulit hindari pelepasan kelingkungan
  toksik pada kehidupan perairan siram dengan air mengalir
5 Pertamax Sifat Fisika Sifat Kimia
    Cairan berwarna biru berbau Cairan hidrokarbon kompleks
    hidrokarbon
mengandung hidrokarbon
    Titik Didih = 24-215°C teroksigenasi

    Titik Leleh = -60°C mengandung beberapa zat aditif


    Densitas = 715,0-770 kg/cm  
    Bahaya Penanggulangan
    Cairan dan uap mudah menyala Semprot cairan nitrogen
    menyebabkan isitasi pada kulit Bilas dengan air mengalir
    toksik pada kehidupan perairan Hindari pelepasan kelingkungan
6 Pertamax plus Sifat Fisika Sifat Kimia
  Cairan berwarna merah, bau Campuran hidrokarbon kompleks
  hidrokarbon mengandung beberapa zat aromatik
  Titik Didih = 25-275°C dapat teroksidasi
  Titik Leleh = -60°C  
  Densitas = 715-770 kg/cm  
  Bahaya Penanggulangan
  cairan dan uap mudah menyala semprot cairan nitrogen
  menyebabkan isitasi pada kulit bilas dengan air mengalir
    toksik pada kehidupan perairan  
G. Hasil dan Analisis Data
Pada praktikum “Penentuan Beberapa Komponen Dalam Sampel Pertamax, Pertamax
Plus, dan Pertalite Menggunakan Kromatografi Gas” yang bertujuan untuk dapat mengenal cara
pengoperasian instrumen GC, dapat memahami cara kerja instrumen GC untuk analisis kualitatif,
dan dapat menentukan beberapa komponen dalam sampel pertamax, pertamax plus, dan pertalite.
Kromatografi gas adalah proses pemisahan campuran menjadi komponen-komponennya
dengan menggunakan gas sebagai fase gerak dan liquid sebagai fase diam. Prinsip dasar
kromatografi gas adalah perbedaan kesetimbangan komponen-komponen campuran diantara fasa
gerak dan fasa diam. Senyawa yang digunakan pada kromatografi gas adalah senyawa yang
mudah menguap dan juga stabil pada suhu pengoperasian. Stabil disini maksudnya adalah
senyawa tidak akan berubah menjadi senyawa lain atau senyawa yang baru pada suhu
pengoperasian.
Gas yang digunakan dalam percobaan ini adalah gas H2 sebagai gas pembakar, dan N2
sebagai gas pembawa. Sampel standard yang digunakan adalah n-heksana, toluena, dan xylene.
N-heksana dapat dideteksi dikarenakan senyawa ini merupakan senyawa organik yang memiliki
titik didih cukup rendah dan bersifat volatil.
Kromatografi gas adalah sebutan umum untuk kromatografi Gas-Cair. Oleh karena itu,
fasa gerak pada kromatografi ini berupa gas sedangkan fasa diamnya berupa cairan yang melekat
pada fasa pendukung. Fasa diam yang digunakan adalah DB-5 yang komposisinya terdiri dari
5% fenil 95% dimetilpolisiloksan dan bersifat nonpolar, sedangkan fasa geraknya adalah gas
Nitrogen.
Dilakukan pengoperasian instrumen GC yaitu gas harus dialirkan terlebih dahulu sebelum
menyalakan instrumen GC agar kolom tidak rusak saat alat dalam keadaan panas. Gas
bertekanan tinggi dialirkan ke dalam kolom yang berisi fase diam yang berupa larutan teradropsi,
kemudian sampel standard diinjeksikan kedalam aliran gas dan ikut terbawa oleh gas ke dalam
kolom. Tetapi sebelum melakukan injeksi, terlebih dahulu dilakukan pengkondisian alat dengan
mengatur parameter operasional pada kromatografi gas. Setelah instrumen GC bertuliskan
“Ready” pada komputer, maka dilakukan penginjeksian senyawa pada injector melalui syringe
dengan cara disuntik. Penyuntikan dilakukan secara hati-hati dengan dipegang bagian suntiknya
agar tidak bengkok atau bahkan patah. Sampel yang sudah diinjeksikan kemudian dibawa oleh
gas pembawa ke kolom. Di dalam kolom akan terjadi proses pemisahan dari suatu sampel
standard menjadi komponen-komponen penyusunnya. Komponen-komponen tersebut satu per
satu akan keluar kolom dan mencapai detektor yang diletakkan di ujung akhir kolom. Komponen
yang keluar terlebih dahulu adalah komponen yang paling cepat mencapai titik didihnya.
Detektor yang dipilih adalah Flame Ionization Detector (FID) karena detektor ini lebih
peka terhadap senyawa yang digunakan dibandingkan dengan detektor lainnya. Pada umumnya,
senyawa organik ketika dipirolisis menghasilkan intermediet ionik dan elektron yang terlibat
dalam mekanisme, dimana spesies yang bermuatan ini akan tertarik dan dikumpulkan dalam
collector dan aliran ion yang dihasilkan akan terbaca. Detector FID adalah detektor yang sering
digunakan karena sensitivitasnya tinggi (sekitar 10-13 g/ml ), range responnya besar (sekitar
107), tidak berisik.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil data informasi sampel yang
didapat dari pembacaan kromatogram. Dari kromatogram dapat dilihat bahwa waktu retensi
masing-masing komponen senyawa dalam larutan standar mempunyai waktu retensi yang
konstan.
 Analisis Kromatogram Larutan Standar
Pada kromatogram larutan standar yang terdeteksi 5 puncak dengan 3 puncak yang
dominan (tinggi) dan jarak antar peak yang cukup jauh, dapat dikatakan sebagai puncak heksana,
toluena, dan xylena. Heksana merupakan komponen pertama yang keluar dari kolom dan
terdeteksi oleh kolom karena Heksana memiliki titik didih yang paling rendah sehingga memiliki
waktu retensi yang paling sebentar pula. Data yang didapat meliputi:
Komponen Nomor Peak Waktu Retensi % Area
n-heksana 1 1.871 23.6651
Toluena 2 2.533 38.9126
Xylena 4 3.371 36.4125
Puncak yang terdeteksi selain puncak komponen standar diduga akibat zat lain yang
disebabkan oleh zat pengotor dalam standar standar. Berdasarkan 3 puncak tersebut, untuk
menentukan urutan komponen yang terdeteksi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu:
1. Kepolaran
Fasa diam yang digunakan dalam kolom kapiler DB-5 yang bersifat non polar.
Komponen yang lebih non polar akan lebih lama bereaksi dengan fasa diam dan komponen yang
lebih polar akan terlebih dahulu keluar dari kolom.
2. Titik Didih
Pemisahan dalam kolom senyawa dengan titik didih terendah akan terbawa oleh fasa
gerak terlebih dahulu karena komponen dengan titik didih rendah akan lebbih cepat denguao
dengan bertambahnya suhu kolom. Dimana titik didih n-heksana adalah 69˚C, titik didih toluena
adalah 110,6˚C dan titik didih xylene adalah 138,5˚C.
3. Massa Molekul Relatif
Semakin kecil berat molekulnya, semakin rendah titik didihnya, sehingga senyawa
dengan titik didih rendah lebih cepat menguap dan terbawa oleh gas pembawa. Dimana Mr n-
heksana adalah 86,18 g/mol, Mr toluena sebesar 92,14 g/mol, Mr xylene adalah 106,16 g/mol.

 Analisis Kromatogram Sampel Pertalite


Analisis kualitatif sampel pertalite dilakukan dengan membandingkan waktu retensi
sampel dengan waktu retensi standar. Hasil yang diperleh adalah terdapat 24 peak yang
didalamnya terdapat komponen lain selain komponen-komponen standar (heksana, toluena, dan
xylene) dalam sampel pertalite. Berdasarkan data yang diperoleh, waktu retensi yang mendekati
waktu retensi standar, yaitu:
Komponen standar Kromatogram Sampel
Komponen Selisih
Nomor Peak Waktu retensi Nomor Peak Waktu Retensi
Heksana 1 1.871 4 1.824 0.047
Toluena 2 2.533 11 2.545 0.012
Xylene 4 3.371 15 3.282 0.089
Berdasarkan data diatas, selisih waktu retensi standar dengan sampel yaitu lebih besar
dari 0.01, sehingga dapat dipastikan bahwa berdasarkan metode perbandingan waktu retensi,
senyawa heksana, toluena, dan xylene belum dapat dipastikan keberadaannya dalam pertalite.
Sehingga dilakukan ko-kromatografi, yaitu metode analisis kualitatif yang dilakukan dengan cara
menambahkan larutan standar terhadap sampel untuk diukur dengan kromatografi gas. Bila area
salah satu puncak bertambah, dapat dipastikan analit sama dengan standar.

 Analisis Kromatogram Sampel Pertalite + Standar (Ko-kromatografi)


Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan peak pada kromatogram sampel
dengan peak kromatogram sampel pertalite + standar. Apabila peak pada kromatograam sampel
pertalite + standar mengalami pertambahan dari peak pada kromatogram sampel, dapat
disimpulkan bahwa sampel pertalite terdapat komponen yang ada dalam standar, yaitu heksana,
toluena, dan xylene. Apabila dalam sampel mengandung komponen yang ada dalam standar,
maka akan muncul peak baru.
Kromatogram Sampel Pertalite + Standar Pertambahan
Area
Komponen
Nomor Waktu Area Nomor Waktu Area
Peak Retensi Peak Retensi
Heksana 4 1.824 490317 5 1.780 12483245 7577928
Toluena 11 2.545 937188 10 2.435 22952772 22015524
Xylene 15 3.282 1227013 12 3.261 20835349 8565211
8
Berdasarkan data diatas, diperoleh pertambahan luas area yang sangat besar pada ketiga
komponen yaitu heksana, toluena, dan xylene. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel
pertalite terdapat komponen heksana, toluena, dan xylene.

H. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diketahui bahwa sampel pertalite mengandung
heksana, toluena, dan xylene dengan selisih waktu retensi sebesaar 0.047, 0.012, dan 0.089. Dari
campuran sampel pertalite dan standar juga mengandung komponen heksana, toluena, dan
xylene.
I. Daftar Pustaka
Adnan, Mochamad. (1997). Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. Yogyakarta:
Andi Offset
Budhiraja, R.P. (2004). Separation Chemistry. New Delhi: New Age International.
Hendayana, Sumar. (1994). Kimia Analitik Instrumen. Semarang: IKIP Semarang Press.
Hendayana, Sumar. (2006). Kimia Pemisahan: Metode Kromatografi dan Elektroforesis Modern.
Bandung: PT. Remaja Rasdakarya Offset.
Hendayana, Sumar. (2010). Kimia Pemisahan: Metode Kromatografi dan Elektroforesis Modern.
Bandung: ITB.
James, D. (2003). Chemistry: A World of Choices. New York: Avenue of the Americas.
Munson, J.W. (1991). Analisis Farmasi Metode Modern. Surabaya: Universitas Airlangga Press.
Poole, S.K. (2012). Chromatography Today. Detroit: Wayne State University.
Soebagio, dkk. (2005). Kimia Instrumen. Malang: UM Press.
J. Lampiran

G1. Preparasi standar dan sampel

G2. Instrumen GC
G3. Proses injeksi senyawa

G4. Proses pemisahan komponen


Kromatogram Standar
Kromatogram Pertalite
Kromatogram Pertalite + Standar