Anda di halaman 1dari 12

Nama: Qurratu Aini Alya Adzkia

NIM: 1801188
KIMIA C/2018
UTS Kimia Analitik Instrumen

1. Chloroquine
a. MSDS Chloroquine
Jawab:
Chemical
 Senyawa non polar
 Molecular formula = C18H26ClN3 . 2 H3PO4
 Molecular Weight = 515.86
 Senyawa yang stabil
 Kondisi saat tidak stabil = panas berlebih
 Bahan yang tidak kompatibel = oksidator kuat
 Mudah larut dalam air, tidak larut dalam etanol, tidak larut dalam etanol, dan
tidak larut dalam eter
 pH = 4.0 – 5.0
Safety
 Harus menuruti ketentuan pakai. Harus makan sebelum menggunakannya dan
jeda beberapa menit sebelum menggunakannya. Hindari makan, minum, dan
merokok saat menggunakannya.suita Jika dosis terlalu tinggi dapat menyebabkan
gangguan pencernaan. Jika terjadi, hubungi toxic center dan jangan dipaksakan
muntah.
 Dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Saat menyentuh, gunakan sarung tangan.
Setelah setelai, cuci tangan dengan air dan sabun.
 Bahaya jika mata terpapar. Gunakan kacamata pelindung yang sesuai. Jangan
menggunakan kontak lens. Jika terpapar, bilas bersih dengan air selama minimal
15 menit.
 Hindari terhirup. Gunakan masker. Jika terhirup, pindah ke tempat terbuka dan
hirup udara segar. Jika terjadi sesak nafas, konsultasikan ke dokter.
Security
 Jauhkan dengan sumber panas dan sumber api. Media pemadam yang cocok =
semprotan air, karbon dioksida, bahan kimia kering, dan busa tahan alkohol.
 Pastikan ventilasi udara memadai pada tempat-tempat dimana debu terbentuk.
 Limbah harus diklasifikasikan dengan baik oleh generator limbah kimia dan
dikonsultasikan dengan lokal, regional, dan peraturan limbah berbahaya nasional
untuk memastikan efeknya terhadap lingkungan. Patuhi semua peraturan
lingkungan federal, negara bagian, dan lokal. Tidak boleh dibuang bersama
dengan sampah rumah tangga.
 Cegah kebocoran atau ketumpahan. Jangan biarkan produk masuk ke saluran
pembuangan.

b. Prediksi berapa panjang gelombang serapan yang dapat digunakan apabila akan dianalisis
dengan menggunakan Teknik Spektrometri. Apakah dapat menggunakan
Spektrofotometri UV atau visible? Berikan penjelasannya.

Gugus induk = 214 nm


Substituen-R (4 x 5)nm = 20 nm
Endo - ekso = 5 nm
Ekstra C = C (2 x 30)nm = 60 nm +
320 nm
Maka, panjang gelombang maksimum Chloroquine sebesar 302 nm, dimana untuk
menganalisisnya dapat menggunakan Spektrofotometri UV karena Chloroquine berada
pada rentang panjang gelombang 200 – 460 nm. Sedangkan Spektrofotometri Visible
rentang panjang gelombangnya berada pada 400 – 800 nm. Larutan Chloroquine
berwujud tidak berwarna, sehingga Spektrofotometri UV lebih tepat untuk dilakukan.

c. Jenis transisi orbital apa sajakah yang terjadi dalam molekul chloroquine phospate?
Berikan penjelasannya.
Jawab: Jenis transisi orbital yang terjadi dalam molekul chloroquine phospate adalah n -
π * karena chloroquine phospate adalah senyawa hidrokarbon aromatik dimana
karakterisasainya oleh tiga pita serapan yang diakibatkan oleh transisiπ−¿ π *. Namun
dapat pula mengalami jenis transisi orbital n - π * dimana jenis transisi orbital ini
memerlukan energi kecil pada rentang panjang gelombang maksimumnya sebesar 200 –
700 nm. Sehingga jenis transisi orbital n - π * dapat terjadi sesuai dengan panjang
gelombang maksimum yang didapatkan yaitu 302 nm.
d. Hitung kadar chloroquine phospate (dalam persen massa/massa) untuk rata-rata setiap
tabletnya.
Jawab:
Diketahui : Massa Klorokuinolin fosfat = 0,1 gram  100 mg
Volume air = 1L
Massa Sampel 1 = 1,2304 g  1230,4 mg
Massa Sampel 2 = 1,3420 g  1342 mg
0,19 chloroquine dilarutkan dalam 1 L air
0,1 gram = 100 mg
100 mg
= 100 ppm
1L
1 mL
M1 . V1 = M2 . V2
100 ppm x 1 mL = M2 . 10 mL
M2 = 10 ppm
2 mL
M1 . V1 = M2 . V2
100 ppm x 2 mL = M2 . 10 mL
M2 = 20 ppm
3 mL
M1 . V1 = M2 . V2
100 ppm x 3 mL = M2 . 10 mL
M2 = 30 ppm
4 mL
M1 . V1 = M2 . V2
100 ppm x 4 mL = M2 . 10 mL
M2 = 40 ppm
5 mL
M1 . V1 = M2 . V2
100 ppm x 5 mL = M2 . 10 mL
M2 = 50 ppm

No Konsentrasi absorbansi rata-rata


1 10 0,2040
2 20 0,4107
3 30 0,6023
4 40 0,8017
5 50 0,9803
Konsentrasi vs Absorban
1.2000
f(x) = 0.19 x + 0.02
1.0000 R² = 1
0.8000
0.6000
0.4000
0.2000
0.0000
0 1 2 3 4 5 6 7 8

Larutan Data serapan (absorbansi)


No terukur 1 2 3 Rata-rata
Larutan standar seri dengan volume larutan tidak
1 1 ml 0,2050 0,2050 0,2020 0,2040
2 2 ml 0,4100 0,4120 0,4100 0,4107
3 3 ml 0,6020 0,6030 0,6020 0,6023
4 4 ml 0,8010 0,8010 0,8030 0,8017
5 5 ml 0,9800 0,9790 0,9820 0,9803
6 Sample 1 0,8010 0,8030 0,8010 0,8017
7 Sample 2 0,8060 0,8080 0,8070 0,8070

 Konsentrasi sample
- Sampel 1
y = 0,0194x + 0,0167
0,8017 = 0,0194x + 0,0167
0,8017−0,0167
x =
0,0194
= 40,4639 ppm
- Sampel 2
y = 0,0194x + 0,0167
0,8070 = 0,0194x + 0,0167
0,8070−0,0167
x =
0,0194
= 40,7371 ppm
- Rata – rata konsentrasi sample
konsentrasi sample 1+ konsentrasi sample 2
=
2
40,4639+ 40,7371
= 2
= 40,6005 ppm

 Kadar sample
250 ml
- Faktor pengenceran = = 10
25 ml
- Massa rata rata sample
massa sample 1+ massa sample 2
=
2
1230,4 mg+ 1342mg
= 2
= 1286,2 mg

- Kadar sample
ppm sample x FP x volume
= x 100 %
massa sample
40,6005 ppm x 10 x 0,25 L
= x 100 %
1286,2mg
= 7,8915 %

2. Air bersih
a. Ambang batas kadar besi untuk keperluan minum, air rumah tangga.
Jawab:
 Berdasarkan Permenkes Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Standar Baku Mutu
Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk keperluan higiene
sanitasi,kolam renang, SPA, MCK/pemandian umum, dan air bersih bahwa syarat
maksimum kadar besi yaitu 1 mg/L.
 Berdasarkan Permenkes 416/MENKES/PER/IX/1990 syarat maksimum kadar besi
untuk air minum yaitu 0.3 mg/L.

b. Penetapan kadar besi dalam air sumur melalui teknik/metode apa, uraikan juga prinsip
dan langkah tahapan pengerjaannya, serta reaksi kimia yang terlibat. Setiap metode
cukup satu prosedur. Jelaskan pula mengapa tahapan atau penambahan pereaksi tertentu
dilakukan dalam metode tersebut.
Jawab:
 Metode konvensional: Gravimetri Penentuan Kadar Fe Sebagai Fe2O3
Prinsip dasar dari metode ini adalah pengukuran berat yang melibatkan
pembentukan isolasi dan pengukuran berat suatu endapan. Sedangkan prinsip
kerjanya adalah pelarutan, pengendapan, penyaringan, pengeringan, pengabuan,
dan pemijaran. Metode gravimetri memiliki prosedur sebagai berikut:
1) Cawan krus dipanaskan sampai pijar, kemudian didinginkan dalam desikator,
selanjutnya ditimbang. Ulangi pekerjaan sampai diperoleh berat cawan krus
tetap (selisih penimbangan tidak lebih dari 3.10-4).
Tujuan pemanasan cawan krus yaitu agar steril. Pendinginan cawan bertujuan
agar dapat segera ditimbang karena penimbangan tidak boleh dalam keadaan
panas dimana akan berpengaruh pada massa cawan. Penginginan dilakukan
dalam desikator karena desikator memiliki silika gel yang mampu mengikat
uap air yang masih terdapat pada cawan.
2) Pipet 10 mL larutan cuplikan kemudian masukkan ke dalam gelas kimia 400
mL dan tambahkan 10 mL HCl 1:1 dan 1-2 mL HNO3 pekat.
Penambahan HCl adalah sebagai pembentuk suasana asam dan melarutkan
besi dalam bentuk Fe3+, pembentukan suasana asam ini agar Fe 2+ tidak mudah
teroksidasi oleh oksigen dan atmosfer serta agar tidak mengalami hidrolisis
sehingga harus dilarutkan dalam suasana asam dengan persamaan reaksi
sebagai berikut:
Fe (aq) + 2HCl (aq)  Fe2+ (aq) + 2Cl- (aq) + H2 (g)
Sedangkan penambahan HNO3 pekat adalah untuk mengoksidasi Fe2+
menjadi Fe3+ dan untuk mengusir oksida-oksida nitrat dengan persamaan
reaksi sebagai berikut:
Fe (aq) + HNO3 (aq) + 3H+  Fe2+ (aq) + NO (g) + 2H2O (l)

3) Didihkan larutan sampai larutan berwarna kuning.


Proses pemanasan larutan hingga mendidih bertujuan agar reaksi oksidasi
berlangsung lebih cepat.
4) Encerkan larutan hingga 200 mL dan panaskan hingga mendidih kemudian
tambahkan ammonia 1:1 tetes demi tetes sampai semua Fe mengendap.
Pengenceran dilakukan agar proses pengendapan dapat lebih mudah diamati
dan tidak akan berpengaruh pada jumlah ion Fe3+, lalu dilakukan pemanasan
agar endapan yang terbentuk dapat lebih banyak. NH 3 digunakan sebagai
pereaksi pengendapan karena pada pereaksi berlebih, NH3 dapat
mengendapkan ion Fe3+ dan ion Fe2+ (yang tidak ikut terendapkan) akan
terendapkan sebagai Fe(OH)3 yang dapat mempengaruhi massa endapan yang
dihasilkan. Penambahan NH3 dilakukan tetes demi tetes agar pengendapan
lebih mudah teramati.
Fe3+ (aq) + 3 NH3 (aq) + 3 H2O (l)  Fe(OH)3 (s) + 3 NH4+ (aq)
5) Saring larutan dengan kertas saring bebas abu, kemudian dilipat lalu
diletakkan pada corong kaca panjang.
Digunakan kertas saring bebas abu agar pada akhir proses pemijaran endapan
agar tidak akan dihasilkan abu yang dapat mempengaruhi hasil penimbangan
tidak akan akurat. Kertas saring bebas abu dilipat lalu diletakkan diatas corong
kaca panjang. Pelipatan kertas saring ini dilakukan dengan tujuan agar proses
penyaringan berlangsung lebih cepat karena semakin banya celah untuk udara
dapat mendorong larutan. Bentuk lipatannya sendiri disesuaikan dengan
ukuran mulut corong kaca panjang. Proses penuangan larutan dari gelas kimia
ke corong harus ditahan dengan bantuan batang pengaduk agar cuplikan tidak
berceceran kemana-mana. Pada saat penyaringan, larutan didiamkan beberapa
saat agar Fe(OH)3 dapat mengendap dengan sempurna.
6) Cuci endapan dengan akuades sampai bebas klorida. Lakukan tes bebas
klorida menggunakan Pb(CH3COO)2.
Dicuci menggunakan akuades dengan tujuan agar endapan dapat terbebas dari
klorida dan untuk mencegah terjadinya peptisasi. Peptisasi adalah proses
dispersinya endapan menjadi sistem koloid dengan penambahan zat pemecah.
Akuades akan menghilangkan klorida dan pengotor lainnya yang lolos dalam
penyaringan yang mana akan larut dalam akuades, sedangkan endapannya
tidak akan larut. Hasil pencucian oleh akuades ditampung dalam tabung
reaksi yang kemudian diuji dengan cara meneteskan satu tetes Pb(CH3COO)2
untuk mengetahui pakah masih ada ion klorida apa tidak. Larutan dalam
tabung reaksi akan berubah warna menjadi putih karna terbentuk endapan
putih yang menandakan bahwa endapan masih mengandung ion klorida.
Proses pencucian ini dilakukan hingga endapan bebas klorida. Dibuat suatu
larutan pembanding, yaitu dimasukkan akuades kedalam tabung reaksi lalu
diteteskan Pb(CH3COO)2 sebanyak satu tetes. Jadi, setiap tabung reaksi hasil
pencucian endapan oleh akuades, warnanya dibandingkan dengan tabung
reaksi pembanding, jika sudah sama maka endapan sudah bebas ion klorida.

7) Pijarkan, kemudian dinginkan dalam desikator, selanjutnya timbang sampai


bobotnya tetap.
Pada proses pemijaran, kertas saring dan endapan dikeringkan terlebih dahulu
karena air dalam endapan dapat mengganggu proses pengabuan atau
pemijaran. Kertas saring dan endapan dimasukkan kembali ke dalam cawan
krus kemudian diabukan di furnace untuk menghilangkan asap yang mungkin
dihasilkan pada proses pengabuan dan pemijaran endapan.
2 Fe(OH)3 (s)  Fe2O3 (s) + 3 H2O (g)

 Metode modern: Menentukan Kadar Fe(II) Dalam Sampel Menggunakan


Spektrofotometer UV-VIS
Prinsip dasar metode ini adalah berdasarkan Hukum Lambert-Beer dimana bila
ada suatu cahaya monokromatik melalui suatu media maka sebagian lagi
dipancarkan. Sedangkan prinsip kerjanya adalah cahaya yang berasal dari lampu
deuterium maupun wolfram yang bersifat polikromatis diteruskan melalui lensa
menuju ke monokromator pada spektrofotometer. Metode Spektrofotometri UV-
Vis memiliki prosedur sebagai berikut:
1) Pembuatan larutan induk Fe(II) 100 ppm. Fe(NH 4)2(SO4).6H2O ditimbang
sebanyak ± 0.07 gram, dalam labu takar 100 ml dilarutkan dan ditambahkan 5
mL asam sulfat 2M.
2 Fe3+ + 4 NH2OH + 2 OH-  2 Fe2+ + N2 + 4 H2O
2 Fe + 3 H2SO4 + 6 H+  2 Fe3+ + 3 SO4 + 6 H2O
2) Pembuatan larutan standar Fe(II) 10 ppm. Larutan Fe(II) 100 ppm dipipet 10
mL ke dalam labu ukur 100 mL. Lalu diencerkan.
Larutan standar adalah larutan standar yang konsentrasinya sudah diketahui
dengan pasti. Pembuatan larutan standar Fe(II) 10 ppm bertujuan untuk
selanjutnya membuat deret standar. Pengenceran dilakukan untuk
mencampurkan larutan pekat Fe(II) 100 ppm dengan penambahan akuades.
Yang pertama ditambahkan ke dalam labu takar adalah akuades, baru larutan
Fe(II) 100 ppm karena biasanya ketika suatu senyawa pekat diencerkan, ada
sejumlah panas yang dilepaskan. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan
aman, maka yang di tambahkan pertama adalah akuades.
3) Preparasi deret standar dan sampel. Dibuat larutan deret standar Fe(II) 1 ppm;
1.5 ppm; 2 ppm; 2.5 ppm; 3 ppm ke dalam labu takar 25 mL. Ditambahkan
masing-masing pada deret standar dan sampel 1 mL larutan hidroksilamin-
HCl 5%, 8 mL CH3COONa 5%, 5 mL 1,10 Fenantrolin 0.1% diencerkan dan
didiamkan selama 10 menit.
Deret larutan standar dibuat dengan tujuan untuk membuat kurva kalibrasi
yang akan digunakan untuk menghitung kadar besi dalam sampel.
4) Larutan sampel sangobion. Ditambahkan sampel 1 mL larutan hidroksilamin-
HCl 5%, 8 mL CH3COONa 5%, 5 mL 1,10 Fenantrolin 0.1% diencerkan dan
didiamkan selama 10 menit.

Penjelasan no 3) dan 4): Hidroksilamin klorida berfungsi agar ion besi tetap
stabil berada pada keadaan bilangan oksidasi 2+. Sehingga kompleks yang
terbentuk bersifat sangat stabil dan dapat diukur absorbansi menggunakan
spektrofotometer. Natrium asetat merupakan suatu garam bersifat basa yang
merupakan buffer. Keberadaan natrium asetat dalam larutan menyebabkan
larutan tidak berubah pHnya secara signifikan jika larutan tersebut
ditambahkan larutan lain yang asam maupun basa. Dengan kata lain, natrium
membantu menjaga larutan pada pH yang tetap optimal. Fenantrolin berfungsi
untuk membentuk senyawa kompleks sehingga dalam bentuk senyawa
kompleks, ion besi dapat memberikan warna yang memberikan warna yang
dapat dianalisis dengan metode Spektrofotometri dengan memperhitungkan
absorbansinya.
Fe2+ (aq) + 3 C12H8N2 (aq)  [(C12H8N2)3Fe]2+
Fe2+  +  3 phen H+  ⇌  Fe(phen)32+  +  3 H+

Fe2+ + 1,10 Fenantrolin 

5) Akuades sebagai blanko.


Blanko sendiri digunakan untuk mengetahui besarnya serapan oleh zat yang
bukan analit.
6) Lakukan analisis menggunakan Spektrofotometer UV-Vis hingga didapatkan
panjang gelombang maksimum.

c. Penetapan besi dengan Spektrofotometri akan memperoleh gangguan dari ion logam
aluminium, bila keduanya bersama-sama ada dalam suatu contoh.
- Mengapa keberadaan ion aluminium sangat mengganggu penetapan besi dalam suatu
contoh?
Jawab: Menurut Permenkes, kadar maksimum aluminium pada air bersih yaitu
sebesar 0,2 mg/L. Ion pengganggu dapat mempengaruhi analisa besi menggunakan
metode spektroskopi sinar tampak. Ion aluminium dan besi memiliki kesamaan,
seperti mempunyai muatan sama, dan ukuran setara. Sehingga densitas muatan antara
ion aluminium dan besi pun sama yang mengakibatkan keduanya mempunyai
beberapa sifat kimiawi yang sama, sebagai contoh dalam fase gas, kedua ion
membentuk senyawa klorida. Kesamaan ion logam ini dalam air berkaitan dengan
konfigurasi elektronik 3d5 yang sistematis untuk besi (3+). Sehingga kesulitan dalam
pengomplekan ion besi dan sulit untuk menentukan kadarnya.
- Berikan penjelasan bagaimana cara menghilangkan gangguan tersebut!
Jawab: Salah satu cara untuk menghilangkan gangguan ion aluminium dalam
penetapan kadar besi yaitu menggunakan metode Spektrometri UV-Vis,
pengkompleksan ion Aluminium, dan juga koagulasi.
Prinsip koagulasi kimiawi adalah destabilasi, agregsi dan pengikatan partikel-partikel
koloid secara bersama. Proses ini menyangkut pembentukan flok yang mengadsorbsi
dan mengikat partikel koloid dalam air sehingga membentuk flok yang lebih besar
agar mudah diendapkan dan disaring. Koagulasi kimia dapat dilakukan dengan
penambahan bahan kimia. Bahan kimia yang umum digunakan adalah Aluminium
Sulfat (Al2(SO4)3 .18H2). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Al2(SO4)3 .18H2O  2Al+3 + 3SO4 -2 + 18H2O
2 Al+3 + 6 OH-  Al2O3 . xH2O
Al2O3 . xH2O akan mengendap bersama partikel koloid yang diikat didalam flok yang
terbentuk, karena ion Aluminium mengikuti ion OH- maka pH air akan turun.

3. Pilihlah diantara instrumen yang telah anda pelajari (Spektrometri UV-Vis dan
Spektrometri AAS) untuk menjelaskan bagaimana kalibrasi dilakukan. Berilah
penjelasan bagaimana hasil kalibrasinya agar instrument dapat digunakan (tergolong
terkalibrasi). Anda bisa gunakan parameter akurasi, presisis, dan lain lain.
Jawab:
Kalibrasi spektrofotometer dilakukan dengan cara mebandingkan penunjukan alat ukur
yang dikalibrasi dengan alat ukur standar yang lebih tinggi atau sama kelas/ketelitiannya
dan telah diketahui kesalahan ukurnya. Dengan melakukan kalibrasi pada setiap alat
ukur, dapat ditentukan penyimpangan atau deviasi penunjukan alat ukur tersebut,
sehingga ketelitian atau akurasi alat yang telah dikalibrasi terhadap alat ukur standar
dapat dijamin.

Kalibrasi Panjang Gelombang


1) Keterulangan panjang gelombang / wavelength repeatability
Adalah ukuran kemampuan suatu spektrofotometer untuk kembali pada posisi
spektral yang sama yang ditentukan berdasarkan pita absorpsi dari suatu pitaa (band)
dari panjang gelombang yang telah diketahui bila alat di reset atau dibaca pada
panjang gelombang yang telah ditentukan.
2) Akurasi panjang gelombang / wavelength accuracy
Adalah besarnya penyimpangan (bias) dari rata-rata pembacaan panjang gelombang
pada suatu pita (band) absropsi dari gelombang yang telah ditentukan.

Dapat dilakukan dengan cara:


a. Menggunakan filter gelas holium oksida yang mempunyai panjang gelombang acuan
(nm)
b. Pasang filter gelas holium oksida pada kompartemen sampel dan kompartemen
pembanding dibiarkan kosong (udara)
c. Scan spektrum serapan holium oksida, bandingkan panjang gelombang spektrum
yang diperoleh dengan data panjang gelombang acuan.
Kalibrasi Absorbansi
1) Konsentrasi analit yang mengabsorpsi berbanding lurus dengan absorbansi yang
terukur
2) Linearitas skala fotometrik harus diperiksa
3) Stabilitas pembacaan fotometrik harus cukup baik sehingga variansi selama
pengukuran tidak berpengaruh pada ketelitian
Dapat dilakukan dengan cara:
a. Buat larutan kalium dikromat 50 + 0,5 mg dalam 1 liter 0,005 mol/L asam sulfat
(larutan A)
b. Buat larutan kalium dikromat 100 + 1 mg dalam 1 liter 0,005 mol/L asam sulfat
(larutan B)
c. Buat larutan 0,005 mol/L asam sulfat sebagai pembanding dan bandingkan hasilnya
dengan data acuan (± 2%)
d. Konsentrasi analit

Sinar Sesatan
Dilakukan dengan cara:
a. Dilakukan dengaan larutan blangko (berisi pelarut murni yang digunakan dalam
sampel) dimasukkan dengan kuvet yang sama (yang akan digunakan).
b. Setiap perubahan panjang gelombang diusahakan dilakukan proses kalibrasi.
c. Proses kalibrasi pada pengukuran dalam waktu yang lama untuk satu macam panjang
gelombang, dilakukan secara periodik selang waktu per 30 menit.

Daftar Pustaka
Andreana, R dan Djarot S.K.S. (2013). Pengaruh Penambahan Al3+ dalam Penentuan
Analisa Fe2+ pada pH 4,5 dengan Pengompleks 1,10-Fenantrolin secara
Spektrofotometri Sinar Tampak. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November
CaymanChemical. (2016). Safety Data Sheet Chloroquine (phosphate). California: Santa
Cruz Biotechnology.
InvivoGen. (2018). Product Chloroquine. Hong Kong: Bio-Informatics Center 2 Science
Park West Avenue.
Menteri Kesehatan. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32
Tahun 2017 Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan
Kesehatan Air.
Skoog, D.A dan D.M West. (1971). Principles of Instrumental Analysis. New York: Holt,
Rinehart and Winston, Inc.