Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM PENENTUAN KOEFISIEN DISTRIBUSI I 2 DALAM CCl4

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia Fisika
Dosen Pengampu:
Fitri Khoerunnisa, S.Pd., M.Si. Ph.D
Dr. Galuh Yuliani, S.Si., M.Si.

Disusun Oleh:
Qurratu Aini Alya Adzkia (1801188)

PROGRAM STUDI KIMIA


DEPARTEMEN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2020
Penentuan Koefisien Distribusi I2 dalam CCl4
A. Tujuan
1. Menentukan koefisien distribusi I2 dalam sisten H2O-CCl4

B. Dasar Teori
Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua
pelarut yang tak-dapat-campur, maka pada suatu temperatur yang konstan untuk setiap spesi
molekul terdapat angka banding distribusi ini tidak bergantung pada spesi molekul lain apapun
yang mungkin ada. Harga angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat dasar
zat terlarut, dan temperatur.
(Vogel, 1985)
Bila suatu zat terlarut tidak saling bercampur maka akan membentuk 2 fasa dan diantara fasa
tersebut ada hubungannya dengan konsentrasi zat terlarut dalam dua fasa pada kesetimbangan.
Hukum distribusi terkadang disebut juga Hukum Nernst. Bila substansi ekstraksi pelarut
mengambil bagian dan kesetimbangan-kesetimbangan lain dalam salah satu (atau kedua) fasa itu,
suatu angka banding dapat dimanfaatkan, dimana konsentrasi dijumlahkan untuk semua spesies
yang relevan dalam kedua fasa tersebut.
(Underwood, 2002)
Menurut hukum distribusi Nernst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur
dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelaruut tersebut maka akan terjadi pembagian
kelarutan. Dalam praktek solut akan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam kedua pelarut
tersebut tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut distribusi atau
koefisien distribusi.
(Purwani, 2008)
Bila larutan encer atau zat terlarut bersifat ideal maka aktifasi (α) dapat diganti c, sehingga
koefisien distribusi dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
CA
K=
CB
Dimana:
K: Koefisien distribusi
CA: Konsentrasi zat terlarut pada pelarut organik
CB: Konsentrasi zat terlaut pada pelarut anorganik
(Purwani, 2008)
Dalam distribusi Nernst untuk dua pelarut yang tidak saling melarutkan, seperti air dan
karbontertraklorida, ketika dicampurkan maka akan terbentuk dua fasa yang terpisah. Jika
kedalamnya ditambahkan zat terlarut yang dapat larut di kedua asa tersebut, seperti iodium yang
dapat larut dalam CCl4, maka zat terlarut akan terdistribusi di kedua pelarut (yang berbeda fasa)
tersebut, sampai tercapai keadaan kesetimbangan. Hukum distribusi Nernst terutama digunakan
pada proses ekstraksi. Di laboratorium ekstraksi seringkali dilakukan untuk menghilangkan atau
memisahkan zat terlarut dalam larutan dengan pelarut air yang diekstraksi dengan pelarut lain
seperti eter, kloroform, karbondisulfida, atau benzene. Dalam proses ini penting untuk diketahui
berapa banyak pelarut dan berapa kali ekstraksi harus dilakukan agar diperoleh derajat
pemisahan yang diinginkan. Jika zat terlarut terdistribusi diantara dua pelarut yang tidak saling
melarutkan dan zat terlarut tersebut tidak mengalami asosiasi, disosiasi, atau reaksi dengan
pelarut maka dimungkinkan untuk menghitung jumlah terlarut yang dapat diambil atau
diekstraksi melalui sekian kali ekstraksi.
(Mulyani, S. dan Hendrawan, 2014)
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solut) diantara 2 fasa cair yang
tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan
“bersih” baik untuk zat organik maupun anorganik. Cara ini juga digunakan untuk analisis makro
maupun mikro. Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk
pekerjaan-pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia, dan anorganik di
laboratorium.
(Soebagio, 2002)
Ekstraksi merupakan proses pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kelarutan suatu zat.
Proses ekstraksi dilakukan dengan cara menambahkan pelarut yang mudah melarutkan zat yang
diekstrak. Pelarut yang ditambahkan akan melarutkan senyawa yang diekstrak. Sehingga
senyawa tersebut terpisah dari campuran.
(Tim Smart Nusantara, 2017)
Zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan
pelarut-pelarut yang lain. Lagipula bila cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air jika
dikocok bersama-sama dalam suatu bejana dan campuran itu kemudian didiamkan, maka kedua
cairan akan memisah menjadi dua lapisan. Jika iod dikocok bersama suatu campuran karbon
disulfida dan air kemudian didiamkan, maka iod akan dijumpai terbagi dalam kedua pelarut itu.
Suatu keadaan kesetimbangan terjadi antara larutan iod dalam air dan larutan iod dalam karbon
disulfida.
(Svehla, 1985)
Gaya tarik antarmolekul I2 lebih besar daripada gaya tarik antarmolekul CCl4. Oeh sebab itu,
kelarutan I2 dalam CCl4 relatif rendah. Sehingga dapat dikatakan larutan immiscible. Larutan
immiscible adalah saat dua cairan tidak saling bercampur sehingga membentuk dua fasa.
(Tony, 1987)
Tiga metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi bertahap (batch), ekstraksi
kontinu, dan ekstrasi counter current. Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana.
Caranya cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan
pelarut semula, kemudian dilakukan pengocokkan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi
zat yang akan diekstraksi dengan pada kedua lapisan, setelah ini tercapai lapisan didiamkan dan
dipisahkan. Metode ini sering digunakan dalam pemisahan analitik. Kesempurnaan ekstraksi
tergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Hasil yang baik diperoleh jika jumlah
pelarut sedikit.
(Milama, 2014)
Tiga metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi bertahap (batch), ekstraksi
kontinu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling
sederhana. Caranya cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur
dengan pelarut semula, kemudian dilakukan pengocokkan sehingga terjadi kesetimbangan
konsentrasi zat yang akan diekstraksi dengan pada kedua lapisan, setelah ini tercapai lapisan
didiamkan dan dipisahkan. Metode ini sering digunakan dalam pemisahan analitik.
Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Hasil yang baik
diperoleh jika jumlah pelarut sedikit.
(Milama, 2014)

C. Perhitungan dan Analisis Data


Data hasil pengamatan
Titrasi:
Volume awal sampel lapisan atas : 5 mL
Volume awal sampel lapisan bawah : 5 mL
Percobaan Volume titrasi lapisan atas Volume titrasi lapisan bawah
1. 10 tetes 7 mL
2. 8 tetes 7 mL

Ekstraksi (menggunakan corong pisah):


Volume I2 dalam CCl4 = 20 mL
Volume aquadest 150 mL

Konsentrasi I2 dalam H2O


10 tetes = 0.5 ml
8 tetes = 0.4 ml
 Titrasi I
Valensi x M I2 x V I2 = Valensi x M Na2S2O3 x M Na2S2O3
6 x M 12 x 5 = 3 x 0.5 x 0.1
M I2 = 0.05 M
 Titrasi II
Valensi x M I2 x V I2 = Valensi x M Na2S2O3 x M Na2S2O3
6 x M 12 x 5 = 3 x 0.4 x 0.1
M I2 = 0.04 M
 Konsentrasi I2 rata-rata
0.05+0.04
M I2 =
2
M I2 = 0.045
 Konsentrasi I2 dalam CCl4
Volume titrasi I = volume titrasi II
Valensi x M I2 x V I2 = valensi x M Na2S2O3 x V Na2S2O3
6 x M I2 x 5 = 0.1 x 7 x 3
0.1 x 7 x 3
M I2 = = 0.07 M
6 x5

 Menentukan Koefisien Distribusi


C CCl 4
KD =
C H 2O
0.07 M
= = 15.5556
0.0045 M

D. Pembahasan
Percobaan Penetapan Koefisien Distribusi I2 pada CCl4 bertujuan untuk menentukan
koefisien distribusi I2 dalam sistem H2O-CCl4. Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat
terlarut I2 ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur, yaitu air dan CCl4. Dimana menurut
hukum distribusi Nernst, jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur
dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian
kelarutan. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan merupakan
suatu ketetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut adalah koefisien distribusi.
Digunakan metode ekstraksi cair-cair dan titrasi, dimana campuran tersebut dimasukkan dan
dipisahkan menggunakan corong pisah. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan aktivitas
zat terlarut dalam suatu pelarut jika aktifitas zat terlarut dalam pelarut lain diketahui, asalkan
kedua pelarut tidak bercampur sempurna satu sama lain. Waktu pengocokan corong pisah
ditentukan selama 60 menit karena lamanya pengocokan dapat berpengaruh pada distribusi
larutan, dimana terjadinya perpindahan massa dari fasa air dan fasa organik terjadi lapisan antar
muka dengan ketebalan imajiner tertentu yang merupakan hambatan laju perpindahan massa dari
fasa air ke fasa organik atau sebaliknya. Besarnya tebal lapisan tipis antar muka ini bergantung
pada kecepatan pengocokan. Semakin cepat pengocokan, maka semakin tipis lapisan untuk
terjadinya perpindahan massa. Lapisan ini dapat diperkecil dengan bertambahnya intensitas
pengocokan. Harga Kd akan bertambah besar dengan kenaikan kecepatan pengocokan, karena
intensitas terjadinya tumbukan antara reaktan semakin banyak dan semakin cepat. Proses
pengocokan dengan corong pisah ini akan membantu pencampuran fasa air dan fasa organik
dimana proses pengocokan ini akan menebarkan solut ke dalam larutan fasa organik sehingga
terjadi kontak antar fasa. Peristiwa ini akan meningkatkan perpindahan massa solut dari umpan
ke dalam larutan fasa organik.

Hasil pengocokan dengan corong pisah atau hasil ekstraksi cair-cair adalah terbentuknya 2
lapisan pada corong pisah yang tidak saling melarutkan. Menurut hukum distribusi Nernst, bila
ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam
kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Namun, jika kedalamnya
ditambahkan zat terlarut yang dapat larut di kedua fasa tersebut, seperti iodium yang dapat larut
dalam air dan CCl4 maka zat terlarut akan terdistribusi di kedua pelarut (yang berbeda fasa).
Lapisan atas adalah campuran I2 dalam H2O-CCl4, sedangkan lapisan bawah adalah I2 dalam
CCl4. Hal ini dapat ditentukan berdasarkan massa jenisnya, dimana massa jenis untuk lapisan
atas lebih rendah daripada lapisan bawah. Air bersifat polar sehingga dapat melarutkan larutan
polar, yakni CCl4. Tidak dapat tercampurnya larutan dikarenakan, untuk memperoleh larutan
suatu solven harus mengalahkan ikatan yang kuat pada solut sehingga molekul-molekul solven
mendapatkan tempat. Sebaliknya pada saat yang bersamaan molekul-molekul solven itu sendiri
harus dapat dipisahkan satu dengan lainnya oleh molekul-molekul solut dimana terjadi saat gaya
tarik menarik antara molekul kedua komponen tersebut sama. Jika gaya tarik menarik cukup
berbeda, maka molekul-molekul yang gaya tarik menariknya lebih kuat akan terikat bersama dan
memisahkan diri dari molekul-molekul yang gaya tarik menariknya lebih lemah, dimana hasilnya
adalah cairan yang tidak dapat tercampur homogen (immiscible liquids).
Dilakukan titrasi pada kedua lapisan dengan Na2S2SO3 sebagai titran. Kemudian dicatat
volume Na2S2SO3 yang dipakai hingga mencapai titik akhir titrasi, yaitu perubahan warna hingga
analit bening dengan menggunakan amilum sebagai indikator. Berdasarkan analisis data,
diperoleh konsentrasi iodoform sebesar 0.05 M dan 0.04 M sehingga konsentrasi rata-ratanya
adalah 0.045 M, dimana diperoleh koefisien distribusinya adalah 15.5556.

E. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan, maka dapat disimpulkan bahwa hasil ekstraksi cair-cair terbentuknya
2 lapisan pada corong pisah, pada lapisan atas adalah campuran I 2 dalam H2O-CCl4, sedangkan
lapisan bawah adalah I2 dalam CCl4. Didapatkan koefisien distribusi I2 dalam sisten H2O-CCl4
adalah 15.5556.

F. Pertanyaan
a. Jelaskan kelarutan I2 dalam air dan dalam CCl4?
Jawab: I2 sedikit larut dalam air dan lebih mudah larut dalam CCl 4. Hal ini disebabkan karena
I2 bersifat non-polar sehingga lebih mudah larut dalam pelarut non-polar dalam hal ini yaitu
CCl4 sedangkan di dalam air hanya sedikit larut karena air bersifat polar.
b. Tuliskan persamaan reaksi kimia yang berlangsung dalam titrasi?
Jawab: I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S4O6
c. Mengapa digunakan indicator amilum dalam proses titrasi tersebut?
Jawab: Karena amilum merupakan pereaksi yang sensitif terhadap iodin, sehingga walaupun
iodin hanya ditambahkan sedikit, tetap akan lebih mudah terdeteksi titik akhir titrasinya.
d. Jelaskan komponen yang berada pada lapisan atas dan lapisan bawah dalam proses ekstraksi!
Jawab: Lapisan atas adalah campuran I2 dalam H2O-CCl4, sedangkan lapisan bawah adalah I2
dalam CCl4.
G. Daftar Pustaka
Milama, Burhanuddin. (2014). Panduan Praktikum Kimia Fisika 2. Jakarta: UIN FTIK-Press.
Mulyani, S. dan Hendrawan. (2014). Kimia Fisika II. Bandung: UPI.
Purwani, dkk. (2008). Ekstraksi Konsentrat Neodimium Memakai Asam di-2-etil heksil. Jurnal
Penelitian Sains dan Teknologi.
Soebagio. (2002). Kimia Analitik II. Malang: Universitas Negeri Malang.
Svehla. (1985). Buku Teks Analitik Universitas Indonesia. Jakarta: Kaiman Media Pertaka Press.
Tim Smart Nusantara. (2017). Strategi Kuasai Kimia SMP/MTS Kelas VII, VIII, IX. Jakarta:
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tony, Bird. (1987). Kimia Fisika untuk Universitas. Jakarta: Gramedia
Underwood, A.L. dan R.A.Day,JR. (2002) Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Vogel. (1985). Buku Teks Analisis Secara Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta: PT. Kalman
Media Pustaka.