Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

GLOMERULONEFRITIS AKUT (GNA)

Disusun Guna Memenuhi Tugas Matakuliah Keperawatan Anak


Dosen Pengampu : Ns. Nurona Azizah, S.Kep, M.Biomed

Di Susun Oleh Kelompok 2 :

RAHANI AYU AMALIA 195070209111011


NAZLA ASRIN DWI P 195070209111012
ANIS MAHRUNIYA 195070209111027
NABILAH ALWAFI TALI S 195070209111028
ROBBY HAFIDH 195070209111029
SUSANA HANDAYANI 195070209111041
SYAHDA JUVENIL P 195070209131001

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan limpahan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan Asuhan
Keperawatan Glumerulonefritis Akut. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui dan
mempelajari Asuhan Keperawatan Glumerulonefritis Akut.
Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapatkan banyak pengarahan dan
bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini kami tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing kami dan semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami sangat harapkan kritik dan saran
untuk perbaikan dimasa mendatang.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan semua pihak yang membaca makalah ini.

Malang, 10 November 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

COVER..............................................................................................................1
KATA PENGANTAR............................................................................................2
DAFTAR ISI........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
BAB II LAPORAN PENDAHULUAN GNA.............................................................6
A. DEFINISI............................................................................................6
B. ETIOLOGI...........................................................................................6
C. FAKTOR RESIKO.................................................................................6
D. PATOFISIOLOGI.................................................................................7
E. MANIFESTASI KLINIS.........................................................................8
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK..............................................................8
G. TATA LAKSANA MEDIS......................................................................10
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GNA................................................12

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................21

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di negara berkembang, glomerulonefrotik akut pasca infeksi streptokokus (GNAPS)
masih sering dijumpai dan merupakan penyebab lesi ginjal non supuratif terbanyak pada
anak. Sampai saat ini belum diketahui faktor-faktor yang menyebabkan penyakit ini
menjadi berat, karena tidak ada perbedaan klinis dan laboratoris antara pasien yang
jatuh ke dalam gagal ginjal akut (GGA) dan yang sembuh sempurna.
Manifestasi klinis yang bervariasi menyebabkan insiden penyakit ini secara statistik
tidak dapat ditentukan. Diperkirakan insiden berkisar 0- 28% pasca infeksi streptokokus.
Pada anak GNAPS paling sering disebabkan oleh Streptococcus beta hemolyticus group A
tipe nefritogenik. Tipe antigen protein M berkaitan erat dengan tipe nefritogenik.
Serotipe streptokokus beta hemolitik yang paling sering dihubungkan dengan
glomerulonefritis akut (GNA) yang didahului faringitis adalah tipe 12, tetapi kadang
kadang juga tipe 1,4 ,6 dan 25. Tipe 49 paling sering dijumpai pada glomerulonefritis
yang didahului infeksi kulit / pioderma, walaupun galur 53,55,56,57 dan 58 dapat
berimplikasi. Protein streptokokus galur nefritogenik yang merupakan antigen antara
lain endostreptosin, antigen presorbing (PA-Ag), nephritic strain-associated protein
(NSAP) yang dikenal sebagai streptokinase dan nephritic plasmin binding protein (NPBP).
Glomerulonefritis akut pasca infeksi streptokokus dapat terjadi secara epidemik atau
sporadik,15 paling sering pada anak usia sekolah yang lebih muda, antara 5-8 tahun.
Perbandingan anak laki-laki dan anak perempuan 2 : 1.
Berdasarkan hasil penelitian di RSCM Jakarta yang dikutip oleh Sari Pediatri (2008)
didapatkan data selama 5 tahun (1998-2002), didapatkan 45 pasien glomerulonefritis
akut (26 laki-laki dan 19 perempuan) yang berumur antara 4 – 14 tahun dengan umur
paling sering adalah 6-11 tahun. Riwayat infeksi saluran nafas akut didapatkan pada 36
pasien, dan infeksi kulit 14 pasien. Hematuria makroskopik didapatkan pada 29 pasien,
anuria/ oliguria 31 pasien, dan edem pada 39 pasien. Hipertensi dijumpai pada 39
pasien, 19 di antaranya merupakan hipertensi krisis. Proteinuria dan hematuria
mikroskopik didapatkan pada semua pasien, leukosituria 29 pasien. Penurunan fungsi
ginjal didapatkan pada 21 pasien, peningkatan titer ASO 21 pasien, dan komplemen C3
yang menurun 32 pasien.

1
Upaya pencegahan maupun pengobatan secara medis sangat diperlukan dalam
penangan klien dengan Glomerulonefritis Akut. Sebagai perawat kita harus melakukan
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Glumerulonefritis Akut. Diharapkan Klien
dengan Glumerulonefritis Akut bisa tertangani dengan memberikan Asuhan
Keperawatan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas bagaimana konsep dasar dan asuhan keperawatan
pada Klien dengan Glumerulonefritis Akut.

1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi Glumerulonefritis Akut
2. Mengetahui etiologi Glumerulonefritis Akut
3. Mengetahui faktor resiko Glumerulonefritis Akut
4. Mengetahui patofisiologi Glumerulonefritis Akut
5. Mengetahui manifestasi klinis Glumerulonefritis Akut
6. Mengetahui pemeriksaan diagnostik Glumerulonefritis Akut
7. Mengetahui tata laksana medis Glumerulonefritis Akut
8. Mengetahui konsep askep klien dengan Glumerulonefritis Akut

1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
keperawatan anak 2 dan membantu pemahaman tentang Glumerulonefritis Akut.

2
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN GNA

A. Definisi
Glumerulonefritis Akut (GNA) adalah reaksi imunologi pada ginjal
terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang sering terjadi adalah akibat infeksi
kuman streptococus dan sering ditemukan pada anak usia 3 – 7 tahun (Taqiyyah
& Mohammad, 2013).
Glomerulonefritis Akut (GNA) merupakan peradangan pada ginjal yang
melibatkan glomerulus, terjadi akibat proses imun yang terjadi 1-6 minggu pasca
infeksi streptokokus (di faring, kulit, telinga, gigi karies), ditandai dengan edema
kenyal, hipertensi, oliguria, proteinuria, hematuria, silinduria, umumnya
membaik setelah 1-3 bulan (Sunarto, 2017).

B. Etiologi
Glumerulonefritis akut ini biasanya terjadi pada segala usia, meskipun
lebih sering terjadi pada anak-anak daripada dewasa, tetapi sekarang jarang
dijumpai di negara maju. Keadaan ini umumnya mengikuti infeksi akut
streptococci hemolitikus Grup A – paling sering faringitis (termasuk demam
scarlet), tetapi kadang dapat berasal dari infeksi pada telinga tengah atau kulit
(Simon, 2016).

C. Faktor Resiko
1. Sering ditemukan pada anak usia 3 – 7 tahun
2. Pernah terinfeksi akut streptococci hemolitikus Grup A – paling sering
faringitis (termasuk demam scarlet), tetapi kadang dapat berasal dari infeksi
pada telinga tengah atau kulit.

3
D. Patofisiologi

4
E. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis pada pasien anak dengan Glumerulonefritis Akut :
a. Hematuria
b. Oliguria
c. Edema ringan sekitar mata atau seluruh tubuh
d. Gangguan gastrointestinal
e. Sakit kepala
f. Merasa lemah
g. Nyeri pinggang menjalar sampai ke abdomen (Taqiyyah & Mohammad,
2013).

F. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan Urin
Pemeriksaan urin sangat penting untuk menegakkan diagnosis nefritis akut.
Volume urin sering berkurang dengan warna gelap atau kecoklatan seperti
air cucian daging. Hematuria makroskopis maupun mikroskopis dijumpai
pada hampir semua pasien. Eritrosit khas terdapat pada 60-85% kasus,

5
menunjukkan adanya perdarahan glomerulus. Proteinuria biasanya
sebanding dengan derajat hematuria dan ekskresi protein umumnya tidak
melebihi 2gr/m2 luas permukaan tubuh perhari. Sekitar 2-5% anak disertai
proteinuria masif seperti gambaran nefrotik. Umumnya Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) berkurang, disertai penurunan kapasitas ekskresi air dan
garam, menyebabkan ekspansi volume cairan ekstraselular. Menurunnya
Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) akibat tertutupnya permukaan glomerulus
dengan deposit kompleks imun.
2. Pemeriksaan Darah Lengkap
Sebagian besar anak yang dirawat dengan GNA menunjukkan peningkatan
urea nitrogen darah dan konsentrasi serum kreatinin. Anemia sebanding
dengan derajat ekspansi volume cairan esktraselular dan membaik bila
edem menghilang. Beberapa peneliti melaporkan adanya pemendekan masa
hidup eritrosit. Kadar albumin dan protein serum sedikit menurun karena
proses dilusi dan berbanding terbalik dengan jumlah deposit imun kompleks
pada mesangial glomerulus.
3. Pemeriksaan Titer ASTO
Bukti yang mendahului adanya infeksi streptokokus pada anak dengan GNA
harus diperhatikan termasuk riwayatnya. Pemeriksaan bakteriologis apus
tenggorok atau kulit penting untuk isolasi dan identifikasi streptokokus. Bila
biakan tidak mendukung, dilakukan uji serologi respon imun terhadap
antigen streptokokus. Peningkatan titer antibodi terhadap streptolisin-O
(ASTO) terjadi 10- 14 hari setelah infeksi streptokokus. Kenaikan titer ASTO
terdapat pada 75-80% pasien yang tidak mendapat antibiotik. Titer ASTO
pasca infeksi streptokokus pada kulit jarang meningkat dan hanya terjadi
pada 50% kasus. Titer antibodi lain seperti antihialuronidase (Ahase) dan
anti deoksiribonuklease B (DNase B) umumnya meningkat. Pengukuran titer
antibodi yang terbaik pada keadaan ini adalah terhadap antigen DNase B
yang meningkat pada 90-95% kasus. Pemeriksaan gabungan titer ASTO,
Ahase dan ADNase B dapat mendeteksi infeksi streptokokus sebelumnya
pada hampir 100% kasus. Penurunan komplemen C3 dijumpai pada 80-90%
kasus dalam 2 minggu pertama, sedang kadar properdin menurun pada 50%
kasus. Penurunan C3 sangat nyata, dengan kadar sekitar 20-40 mg/dl

6
(normal 80-170 mg/dl). Kadar IgG sering meningkat lebih dari 1600 mg/100
ml pada hampir 93% pasien.
4. Pemeriksaan Radiologi
Pada awal penyakit kebanyakan pasien mempunyai krioglobulin dalam
sirkulasi yang mengandung IgG atau IgG bersama-sama IgM atau Hampir
sepertiga pasien menunjukkan pembendungan paru. Penelitian Albar dkk.,
di Ujung Pandang pada tahun 1980-1990 pada 176 kasus mendapatkan
gambaran radiologis berupa kardiomegali 84,1%, bendungan sirkulasi paru
68,2 % dan edem paru 48,9% . Gambaran tersebut lebih sering terjadi pada
pasien dengan manifestasi klinis disertai edem yang berat. Foto abdomen
menunjukkan kekaburan yang diduga sebagai asites (Sari Pediatri, 2003).

G. Tatalaksana medis
1. Perawatan Suportif dan simtomatik
Penanganan pasien adalah suportif dan simtomatik. Perawatan dibutuhkan
apabila dijumpai penurunan fungsi ginjal sedang sampai berat ( klirens kreatinin
< 60 ml/1 menit/1,73 m2), BUN > 50 mg, anak dengan tanda dan gejala uremia,
muntah, letargi, hipertensi ensefalopati, anuria atau oliguria menetap. Pasien
hipertensi dapat diberi diuretik atau anti hipertensi. Bila hipertensi ringan
(tekanan darah sistolik 130 mmHg dan diastolik 90 mmHg) umumnya
diobservasi tanpa diberi terapi. Hipertensi sedang (tekanan darah sistolik > 140 –
150 mmHg dan diastolik > 100 mmHg) diobati dengan pemberian hidralazin oral
atau intramuskular (IM), nifedipin oral atau sublingual. Dalam prakteknya lebih
baik merawat inap pasien hipertensi 1-2 hari daripada memberi anti hipertensi
yang lama. Pada hipertensi berat diberikan hidralazin 0,15-0,30 mg/kbBB
intravena, dapat diulang setiap 2-4 jam atau reserpin 0,03-0,10 mg/kgBB (1-3
mg/m2) iv, atau natrium nitroprussid 1-8 m/kgBB/menit. Pada krisis hipertensi
(sistolik >180 mmHg atau diastolik > 120 mmHg) diberi diazoxid 2-5 mg/kgBB iv
secara cepat bersama furosemid 2 mg/kgBB iv. Plihan lain, klonidin drip 0,002
mg/kgBB/kali, diulang setiap 4-6 jam atau diberi nifedipin sublingual 0,25-0,5
mg/kgBb dan dapat diulang setiap 6 jam bila diperlukan. Retensi cairan
ditangani dengan pembatasan cairan dan natrium. Asupan cairan sebanding
dengan invensible water loss (400-500 ml/m2 luas permukaan tubuh/hari )

7
ditambah setengah atau kurang dari urin yang keluar. Bila berat badan tidak
berkurang diberi diuretik seperti furosemid 2mg/ kgBB, 1-2 kali/hari. Pemakaian
antibiotik tidak mempengaruhi perjalanan penyakit. Namun, pasien dengan
biakan positif harus diberikan antibiotik untuk eradikasi organisme dan
mencegah penyebaran ke individu lain. Diberikan antimikroba berupa injeksi
benzathine penisilin 50.000 U/kg BB IM atau eritromisin oral 40 mg/kgBB/hari
selama 10 hari bila pasien alergi penisilin. Pembatasan bahan makanan
tergantung beratnya edem, gagal ginjal, dan hipertensi. Protein tidak perlu
dibatasi bila kadar urea N kurang dari 75 mg/dL atau 100 mg/dL. Bila terjadi
azotemia asupan protein dibatasi 0,5 g/kgBB/hari. Pada edem berat dan
bendungan sirkulasi dapat diberikan NaCl 300 mg/hari sedangkan bila edem
minimal dan hipertensi ringan diberikan 1-2 g/m2/ hari. Bila disertai oliguria,
maka pemberian kalium harus dibatasi. Anuria dan oliguria yang menetap,
terjadi pada 5-10 % anak. Penanganannya sama dengan GGA dengan berbagai
penyebab dan jarang menimbulkan kematian (Sari Pediatri, 2003).

8
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GNA

1. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Identitas
Biasanya ditemukan pada anak dengan jenis kelamin lebih sering mengenai
anak laki-laki dibandingan perempuan, dan sering terjadi ditemukan pada
anak usia 3 – 7 tahun.
2) Keluhan utama
Biasanya pasien mengeluh bengkak (edema) terutama pada daerah
periorbital, wajah, ektremitas, dan bahkan seluruh tubuh. Edema ini
disebabkan oleh retensi natrium dan air karena kerusakan glomeulus
sehingga mengakibatkan kelebihan cairan.
3) Riwayat penyakit sekarang
Kaji adakah hematuria, gejala gangguan saluran kemih, penurunan berat
badan, mual, muntah, anoreksia, bengkak pada tungkai, wajah, dan kencing
berwarna seperti cucian daging, peningkatan tekanan darah, terdapat nyeri
pinggang menjalar sampai perut.
4) Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah pasien memiliki riwayat penyakit anak sebelumnya, apakah
pernah dirawat di rumah sakit, pengobatan yang digunakan sebelumnya,
adakah riwayat alergi terhadap obat, dan riwayat operasi sebelumnya /
kecelakaan dan imunisasi dasar.
5) Riwayat penyakit keluarga
Kaji apakah keluarga klien memiliki penyakit turunan (DM, hipertensi) dan
adakah yang mengalami penyakit yang sama seperti pasien atau riwayat
penyakit penyakit ginjal dalam keluarga.
6) Riwayat psikososial
Adanya kelemahan fisik, wajah dan kaki bengkak akan memberikan dampak
rasa cemas dan koping maladaptif pada pasien.

9
b. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Pemeriksaan tingkat kesadaran, tanda-tanda vital yaitu tekanan darah, nadi,
RR, dan suhu pada anak. Pada anak dengan glomerulusnefritis akut biasanya
terjadi peningkatan tekanan darah disebabkan akibat terinduksinya sistem
renin-angiotensin. Hipertermi dikarenakan adanya inflamasi oleh
streptokokus.
2) Pengukuran antropomerti
Pengukuran fisik yang menngunakan alat ukur seperti timbangan dan pita
meter, meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar dada, dan lingkar lengan.
Pada anak dengan glomerulus nefritis akut biasanya terjadi penurunan berat
badan karena anak mengalami penurunan nafsu makan.
3) Breathing
Biasanya tidak didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan nafas walau
sercara frekuensi mengalami peningkatan terutama pada fase akut. Pada fase
lanjut sering didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan napas yang
merupakan respons terhadap edema pulmoner dan adanya sindrom uremia.
4) Brain
Didapatkan edema wajah terutama periorbital, konjungtiva anemis, sklera
tidak ikterik, dan mukosa mulut tidak mengalami peradangan. Status
neurologik mengalami perubahan sesuai dengan tingkatnya azotemia pada
sistem saraf pusat. Pasien berisiko kejang sekunder gangguan elektrolit
5) Blood
Salah satu tanda khas glomerulonefritis adalah peningkatan tekanan darah
sekunder dari retensi natrium dan air yang memberikan dampak pada fungsi
sistem kardiovaskular dimana akan terjadi penurunan perfusi jaringan akibat
tingginya beban sirkulasi. Pada kondisi azotemia berat, pada auskultasi
perawat akan menemukan adanya friction rub yang merupakan tanda khas
efusi perikardial sekunder dari sindrom uremik.
6) Bladder
Inspeksi : perubahan warna urine output seperti warna urine berwarna kola /
cucian daging dari proteinuria dan hematuria
Palpasi : didapatkan nyeri tekan ringan pada pinggang

10
Perkusi : perkusi memberikan stimulus nyeri ringan lokal disertai suatu
penjalaran nyeri ke pinggang sampai perut
7) Bowl
Didapatkan adanya mual dan muntah / anoreksia sehingga didapatkan
penurunan intake nutrisi dari kebutuhan
8) Bone
Didapatlan adanya kelemahan fisik secara umum sekunder dari edema
tungkai atau edema wajah terutama pada periorbital.

2. Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH KEPERAWATAN

DS:- Gangguan pada ginjal Ketidakefektifan perfusi jaringan



DO: Tidak mampu
- TD: 170/100 mmHg mensekresikan hormon
eritropoietin
- Hasil lab ureum: 80 
mg/dl Penurunan
pembentukan sel darah
Hasil lab kreatinin: 3 merah
mg/dl 
Jumlah Hb turun

Oksihemoglobin turun

Suplai oksigen ke
jaringan menurun

Ketidakefektifan perfusi
jaringan

DS:- Gangguan pada ginjal Kelebihan volume cairan



DO: Tidak dapat berfungsi
- Edema pada kedua sebagai pengatur
hemodinamik
mata dan kaki 
kanan. Aliran darah ke ginjal
menurun
- TD: 170/100 mmHg 
- Hb: 7 mg/dl GFR menurun

RR: 26 x/m Pelepasan renin-

11
angiotensin

Vasokonstriksi, retensi
Na & H2O

Peningkatan TD

Peningkatan tekanan
hidrostatik kapiler

Mendorong cairan
keluar dari intravaskuler
ke interstitial

edema

Kelebihan volume
cairan

Gangguan pada ginjal


DS: -  Ketidakseimbangan nutrisi
DO: Tidak mampu kurang dari kebutuhan tubuh
mengekskresikan zat-zat
- Hasil lab: sisa (urea)
Hb: 7 mg/dl 
Urea tertahan dalam
Ureum: 80 mg/dl darah
Kreatinin 3 mg/dl 
Uremia
- penurunan berta 
badna 20% Gangguan
keseimbangan asam-
basa

Produksi asam
meningkat

Asam lambung
meningkat

Stomatitis, gastristis

Nausea,vomitus

resiko perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan

tubuh

12
DS:- Gannguan fungsi ginjal ansietas

DO:- Ekspresi wajah Hospotalisasi
Nampak pucat 
Kurang informasi
- pasien 
Nampak tidak Stress psikologi

tenang cemas
(ketakutan)
- pasien
gelisah, cemas

3. Diagnosis keperawatan
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d asupan garam tinggi
b. Kelebihan volume cairan b.d kelebihan asupan cairan
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d asupan diet kurang
d. Ansietas b.d ancaman pada status terkini (hospitalisasi)

13
4. Intervensi
Dx. Keperawatan No. 1 :
Ketidakefektifan perfusi jaringan (renal) perifer b.d asupan garam
Tujuan :
Setelah mendapatkan perawatan selama .....x 24, perfusi jaringan kembali
efektif
NOC : NIC
Perfusi Jaringan : Perifer
Denganskala outcome : Monitor tanda-tanda vital
Skala outcome 1 2 3 4 5 1. Monitor tekanan darah, nadi, RR, dan suhu
Tekanan darah sistolik
Tekanan darah diastolik
Edema perifer Monitor ekstermitas bawah
1. Inspeksi adanya edema pada ektermitas
Keterangan penilaian: bawah
1. Berat dari kisaran normal / berat 2. Tentukan status mobilisasi (misal, mampu
2. Cukup besar dari kisaran normal / cukup berat berjalan tanpa bantuan, menggunakan alat
3. Sedang dari kisaran normal / sadang bantu, atau tidak bisa berjalan)
4. Ringan dari kisaran normal / ringan
5. Tidak ada dari kisaran normal / tidak ada

14
Dx. Keperawatan No. 2 :
Kelebihan volume cairan b.d kelebihan asupan cairan
Tujuan :
Setelah mendapatkan perawatan selama .....x 24, kelebihan volume cairan
teratasi
NOC : NIC
Keparahan Cairan Berlebih
Denganskala outcome : Manajemen cairan
Skala outcome 1 2 3 4 5 1. Monitor intake dan output cairan
Edema periorbital
2. Monitor hasil laboratorium (misalnya,
Edema tangan
Edema kaki peningkatan BUN, peningkatan berat jenis,
Asites peningkatan kadar osmolalitas urin)
Peningkatan tekanan darah
Penurunan warna urin 3. Monitor indikasi kelebihan cairan / retensi
(misalnya, edema, asites)
Keterangan penilaian: 4. Kaji lokasi dan luasnya edema
1. Berat 5. Dukung klien dan keluarga untuk membantu
2. Cukup berat dalam pemberian makan dengan baik
3. Sedang 6. Kolaborasi pemberian obat diuretik
4. Ringan 7. Konsultasikan dengan dokter jika ada tanda
5. Tidak ada dan gejala kelebihan volume cairan yang
menetap atau memburuk

15
Dx. Keperawatan No. 3 :
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d asupan diet kurang
Tujuan :
Setelah mendapatkan perawatan selama .....x 24, status nutrisi pasien
seimbang
NOC : NIC
Status Nutrisi : Asupan Nutrisi
Denganskala outcome : Manajemen nutrisi
Skala outcome 1 2 3 4 5 1. Monitor kalori dan asupan makanan
Asupan kalori
2. Monitor kecenderungan terjadinya
Asupan protein
Asupan serat penurunan dan kenaikan berat badan
Asupan vitamin 3. Identifikasi adanya alergi pada pasien
4. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang
Keterangan penilaian:
dibutuhkan
1. Sepenuhnya adekuat
5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet yang
2. Sebagian besar adekuat
mencakup makanan tinggi kandungan serat
3. Cukup adekuat
untuk mencegah konstipasi
4. Sedikit adekuat
5. Tidak adekuat

Dx. Keperawatan No. 4 :

16
Hambatan eliminasi urine b.d penyebab multipel
Tujuan :
Setelah mendapatkan perawatan selama .....x 24, hambatan eliminasi urine
teratasi
NOC : NIC
Eliminasi Urin
Denganskala outcome : Monitor cairan
Skala outcome 1 2 3 4 5 1. Monitor warna, kuantitas, dan berat jenis urin
Jumlah urine
2. Monitor asupan dan pengeluaran
Warna urine
Kejernihan urine 3. Masukkan kateter urine
Intake cairan
Darah terlihat dalam darah
Kateterisasi urine

Keterangan penilaian: 1. Jelaskan prosedur dan rasionalisasi katerisasi

1. Sangat terganggu 2. Ajarkan klien dan keluarga mengenai

2. Banyak terganggu perawatan kateter yang tepat

3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu

Dx. Keperawatan No. 5 :


Ansietas b.d ancaman pada status terkini (hospitalisasi)
Tujuan :

17
Setelah mendapatkan perawatan selama .....x 24, kecemasan berkurang /
hilang

NOC : NIC
Tingkat Rasa Takut Anak
Denganskala outcome : Terapi trauma anak
Skala outcome 1 2 3 4 5 1. Gunakan relaksasi dan prosedur
Peningkatan denyut jantung
desensitisasi untuk membantu anak
Menarik diri
gelisah menggambarkan kejadian
2. Gunakan seni dan bermain untuk
Keterangan penilaian: meningkatkan ekspresi
1. Berat 3. Edukasi orangtua dalam rangka proses
2. Cukup berat terapi dan respon anak terhadap trauma
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

5. Implementasi Keperawatan

18
Implementasi adalah serangkai kegiatan yang di lakukan oleh perawat untuk
membantu klien dari status masalah kesehatan yang di hadapi ke status kesehatan
yang lebih baik yang menggambarkan kreteria hasil yang di harapkan.

6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan. Jenis
evaluasi sebagai berikut :
 Formatif
Evaluasi yang dilakukan saat memberikan intervensi
 Sumatif
Rekapitulasi dan hasil observasi status pasien pada waktu tertentu
berdasarkan tujuan yang direncanakan pada tahap perencanaan

DAFTAR PUSTAKA

19
Bararah Taqiyyah, Mohammad Jauhar. 2013. Asuhan Keperawatan : Panduan Lengkap
Menjadi Perawat Profesional Jilid 2. Jakarta: Prestasi Pustaka
Bulechek, Gloria M dkk (Ed). 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi 6. S
ingapore: Elsevier
Herrington, Simon (Ed). 2016. MUIR Buku Ajar Patologi (Muir’s Text Book of Pathology).
Jakarta: EGC
Keliat Budi Anna, Henny Suzana, Teuku Tahlil. 2018. NANDA-I Diagnosis
Keperawatan:Definisi dan Klasifikasi 2018-2019 Edisi 11. Jakarta: EGC
Lumbanbatu, Sondang Maniur. 2003. Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus Pada
Anak . Sari Pediatri Vol. 5 No. 2 Hal 58-63
Moorhead, Sue dkk (Ed). 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi 5. Singapore:
Elsevier
Sacharin, Rosa M. 1996. Principles of Paediatric Nursing Edisi 2. Jakarta; EGC
Sunarto, Prof. (Ed). 2017. Kamus Kedokteran Pediatri. Jakarta: EGC

20