Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II

“JEMBATAN WEATSTONE”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Praktikum Fisika Dasar II

Yang dibimbing oleh bapak Dr. Nasikhudin M.Sc, S.Pd.

Disusun oleh:

Nama : Sandy Elrico Faxsy

NIM : 190322623704

Offering : AM2

Kelompok :6

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


A. TUJUAN
Dengan dilaksanakannya materi praktikum jembatan weatstone ini diharapkan
mahasiswa mampu:
1. Mahasiswa mampu memahami fungsi hambatan (resistansi) listrik dalam suatu
rangkaian listrik.
2. Mahasiswa dapat menyusun rangkaian listrik
3. Mahasiswa dapat menentukan besarnya hambatan listrik dengan menggunakan
metoda jembatan wheatstone.
4. Mahasiswa dapat menguji kebenaran rumus untuk hubungan seri dan hubungan
paralel dari hambatan-hambatan listrik.

B. DASAR TEORI

Hambatan listrik digunakan untuk mengatur besarnya arus listrik dalam suatu
rangkaian. Hambatan listrik dari suatu penghantar (konduktor) adalah perbandingan dari
beda potensial antar ujung-ujung konduktor dengan arus listrik yang melaluinya. Dari sebab
itu, salah satu cara untuk mengukur besar hambatan listrik dari konduktor adalah mengukur
beda potensial dari ujung-ujungnya dengan voltmeter (V) dan juga mengukur arus listrik
yang melaluinya dengan amperemeter (A).

Cara lain untuk mengukur besar hambatan listrik yang belum diketahui ialah dengan
metoda “Jembatan Wheatstone”. Mengukur besarnya hambatan listrik yang belum diketahui
dengan metoda Jembatan Wheatstone pada dasarnya ialah membandingkan besar hambatan
yang belum diketahui dengan besar hambatan listrik yang sudah diketahui nilainya. (Modul
Praktikum Fisika Dasar 2, 2020)
Jembatan Wheatstone, diciptakan oleh Samuel Hunter Christie dan dipopulerkan oleh
Charles Wheatstone, dan digunakan untuk mengukur resistensi. Hal ini dibangun dari empat
resistor, dua nilai yang dikenal R1 dan R3 (lihat gambar 1), salah satu yang tahan akan
ditentukan Rx, dan salah satu yang variabel dan dikalibrasi R2 . Dua simpul berlawanan
terhubung ke sumber arus listrik, seperti baterai, dan galvanometer tersambung di dua
simpul lainnya. Variabel resistor disesuaikan sampai galvanometer membaca nol. Hal ini
kemudian diketahui bahwa rasio antara resistor variabel dan tetangganya R 1 adalah sama
dengan rasio antara resistor yang tidak diketahui dan tetangganya R 3, yang memungkinkan
nilai resistor yang tidak diketahui untuk dihitung. (Clarence, 2007: 43-44)
Jembatan wheatstone merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mengukur
hambatan yang belum diketahui. Jembatan Wheatstone juga bisa digunakan untuk
mengkoreksi kesalahan yang dapat terjadi dalam pengukuran hambatan menggunakan
hukum ohm. (Herman, 2013: 28-29).

Berikut ini adalah gambar rangkaian jembatan Wheatstone:


i2 i2
i1

Gambar 6.1 Jembatan Wheatstone (Modul Praktikum Fisika Dasar 2, 2020)


Dengan menggeser-geserkan kontak geser C pada kawat hambatan AB atau mengubah-
ubah Rb, dapat dicapai keadaan hingga potensial titik C sama dengan potensial titik D, yang
dalam hal ini ditunjukkan oleh tidak menyimpangnya jarum dari galvanometer G. Jika hal
ini telah dicapai, maka X dapat dinyatakan dengan persamaan,
L2
X= Rb . ........................................................(2)
L1

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat dan Bahan
1) Sumber Tegangan DC (Battrey kering) secukupnya, dalam percobaan ini kami
menggunakan baterai sebesar 1,5 Volt.
2) Kontak geser C pada kawat R1 dan R2 berfungsi mengubah-ubah Rb dengan cara
menggeser-geserkannya.
3) Komutator, berfungsi untuk membalikkan arah arus rangkaian.
4) Enam hambatan keramik yang sudah diketahui nilainya, berfungsi untuk
mengatur besar kecilnya arus listrik yang lewat (penghambat).
5) Dua hambatan listrik X1 dan X2 yang belum diketahui besarnya, berfungsi sebagai
hambatan yang akan dicari nilainya.
6) Galvanometer, berfungsi untuk melihat nilai simpangan yang dihasilkan dari
digeser-gesernya kontak geser C dan sebagai alat pengukur arus.
7) Perangkat Jembatan Wheatstone yang berupa mistar disertai kawat lurus serba
sama, berfungsi sebagai alat untuk mengukur nilai hambatan yang tidak diketahui
besarnya dengan cara mengatur nilai simpangan pada galvanometer ≤ 1.
8) Penghubung arus, berfungsi sebagai alat untuk memutus atau menghubungkan
arus pada rangkaian.
9) Kabel-kabel, berfungsi sebagai berfungsi menyalurkan tegangan dari sumber
tegangan (baterai) ke semua perangkat yang digunakan dalam percobaan Jembatan
Wheatstone

2. Desain

Rangkaian Jembatan Wheatstone (Modul Praktikum Fisika Dasar 2, 2020)

D. PROSEDUR PERCOBAAN
Dalam percobaan ini, yang pertama dilakukan yaitu menyusun rangkaian
percobaan seperti pada gambar rangkaian pada desain di atas dengan X1 (hambatan
keramik pertama yang belum diketahui besarnya) pada posisi DB dengan memperhatikan
penghubung arus S masih tetap terbuka dan belum boleh menghubungkan rangkaian ke
sumber arus. Yang kedua yaiu memeriksakan rangkaian pada pembimbing dan jika sudah
disetujuo maka mulai menghubungkan rangkaian ke sumber tegangan arus searah. Yang
ketiga yaitu memulai dengan kontak geser C berada di tengah-tengah kawat hambatan
dan mulai menggeser-geser kontak geser C sampai galvanometer menunjukkan angka
nol, kemudian mencatat L1, L2, dan hambatan Rb yang digunakan. Yanag keempat
mengganti hambatan X1 dengan X2 (hambatan keramik kedua yang belum diketahui
besarnya) dan mengulangi langkah yang ketiga. Yang kelima yaitu menghubungkan
secara seri X1 dengan X2 pada posisi DB, kemudian melakukan percobaan seperti pada
langkah yang ketiga. Begitu juga langkah yang keenam yaitu menghubungkan secara
paralel X1 dengan X2 pada posisi DB, kemudian melakukan percobaan seperti pada
langkah yang ketiga.
E. DATA PENGAMATAN

No Posisi DB Rb (Ώ) L1 (cm) L2 (cm)

1 X1 3,9 22,1 77,9


2 X2 3,9 52,4 47,6
3 X1 dan X2Seri 3,9 29,4 70,6
4 X1 dan X2Paralel 3,9 65,3 34,7
Dengan nst
Mistar = 0,1 cm
Multimeter = 0,1 Ω
Galvanometer = 0,05 A

F. ANALISIS DATA
1) Metode Analisis
Dalam percobaan tentang Jembatan Wheatstone ini menggunakan metode ralat
rambat dalam melakukan perhitungan data hasil pengukuran.

Dalam mencari besar nilai hambatan X dalam percobaan ini, digunakan


persamaan :
L2
RX= × Rb
L1
Dengan metode ralat rambat menggunakan persamaan :

2 2 2

∆ RX=
−L2
√|
( L1 )2
2
∙ R b ∙ ∙ ∆ L1 +
3
Rb 2
|| L2 2
∙ ∙ ∆ L2 + ∙ ∙ ∆ R b
L1 3 L1 3 || |
∆ RX
Dengan ralat relatifnya: Ralat relatif = × 100 %
RX

Perbandingan hasil percobaan untuk hambatan X 1 dan X 2 seri dan X 1 dan X 2 paralel
dengan perhitungan secara teori digunakan persamaan:

 Susunan seri

R X seri =R X 1 + R X 2

2 2

∆ R Xseri = |∆ R X 1| +|∆ R X 2|
∆ R Xseri
Ralat relatif = × 100 %
R Xseri
 Susunan paralel

1 1 1
= +
R X paralel RX1 RX 2

2 2

√|
2 2
Rx 2 Rx 1
∆ R Xparalel= (
Rx 1 + Rx2
) ∆ Rx1 + ( ||
Rx 1+ Rx 2
) ∆
Rx 2
|
∆ R Xparalel
Ralat relatif = ×100 %
R Xparalel

Dengan kesalahan relative :

- Kesalahan relatif = |Nilai percobaan−Nilai


Nilai teori
teori
× 100 %|

2) Sajian Hasil
a. Percobaan 1 (X1)
L2 77,9
R X 1= R b= ( 3,9 )=13,7 Ω
L1 22,1
2 2 2

∆ R X 1=
L1√|
−L2 2
2
R b ∆ L1 +
3
Rb 2
L1 3||
2
∆ L2 +
L2 2
||
L1 3
∆ Rb

2
|
2
¿
√|
−77,9
( 22,1 )2
2
(3,9) (0,05) +
3

¿ √ 0,014581
3,9 2
||
22,1 3
(0,05) +
77,9 2
||
22,1 3
(0,05) |
¿ 0,12076 Ω

∆ RX 1
Ralat Relatif = ×100 %
RX 1

0,12076
¿ ×100 %=0,008814 %( 4 AP)
13,7

Jadi besar nilai hasil hambatan X 1 yaitu ( 13,7 ± 0,12076 ) Ω dengan ralat relatif
0,008814 % ( 4 AP)

b. Percobaan 2 (X2)

L2 47,6
R X 2= R b= ( 3,9 )=3,54 Ω
L1 52,4

2 2 2

∆ R X 2=
√|
−L2 2
L1 2
R b ∆ L1 +
3
Rb 2
L1 3 ||
∆ L2 +
L2 2
L1 3
∆ Rb
|| |
2 2 2
¿
√|−47,6
(52,4 ) 2
2
(3,9) (0,05) +
3
3,9 2
||
47,6 3
( 0,05) +
47,6 2
||
52,4 3
( 0,05) |
¿ √ 0,000928106

¿ 0,03046 Ω

∆ RX 1
Ralat Relatif = ×100 %
RX 1

0,03046
¿ ×100 %=0,008604 %( 4 AP)
3,54
Jadi besar nilai hasil hambatan X 2 yaitu (3,54 ± 0,03046)Ω dengan ralat relatif
0,008604 % ( 4 AP).
c. Percobaan 3 (X1 dan X2 Seri)

L2 70,6
R Xseri = R b= ( 3,9 )=9,36 Ω
L1 29,4

2 2 2

∆ R Xseri =
√|
−L2 2
L1 2
R b ∆ L1 +
3
Rb 2
L1 3 ||
∆ L2 +
L2 2
L1 3
∆ Rb
|| |
2 2 2
¿
√|
−70,6
( 29,4 ) 2
2
(3,9) (0,05) +
3
3,9 2
||
29,4 3 ||
(0,05) +
70,6 2
29,4 3 |
(0,05)

¿ √ 0065395577

¿ 0,08087 Ω

∆ R Xseri
Ralat Relatif = ×100 %
R Xseri

0,08087
¿ ×100 %=0,008639% ( 4 AP )
9,36

Jadi besar nilai hasil hambatan X seri yaitu (9,36 ± 0,08087)Ω dengan ralat relatif
0,008639% ( 4 AP)

 Berdasarkan Teori
R Xseri =R X 1 + R X 2=13,7+3,54=17,24 Ω

2 2

∆ R Xseri = |∆ R X 1| +|∆ R X 2|

= √|0,12076|2+|0,03046|2

= √ 0 , 015510789

= 0 , 1245 𝛺

∆ R Xseri
Ralat relatif = × 100 %
R Xseri
0,1245
= ×100 %
17,24

= 0,007221 % (4 AP)

Jadi besar nilai hambatan X seri secara teori adalah (17,24 ± 0,1245 ) 𝛺 dengan ralat
relatif 0,007221 % ( 4 AP)

Kesalahan relatif nilai hasil percobaan adalah :

Ralat Relatif = |nilai percobaan−nilai


nilai teori
teori
×100 %|

|9,36−17,24
¿
17,24
× 100 %|

¿ 0,457 % (3 AP)

a. Percobaan 4 (X1 dan X2 Paralel)

L2 34,7
R Xparalel= Rb = (3,9 )=2,0724 Ω
L1 65,3

2 2 2

∆ R Xparalel=
L12
√|
−L2 2
R b ∆ L1 +
3
Rb 2
L1 3 ||
∆ L2 +
L2 2
L1 3 ||
∆ Rb
|
2 2 2
¿
√| −34,7
( 65,3 ) 2
2
(3,9) (0,05) +
3
3,9 2
||
65,3 3 ||
( 0,05) +
34,7 2
65,3 3 |
(0,05)

¿ √ 0,000318837

¿ 0,017856 Ω

∆ R Xparalel
Ralat Relatif = × 100 %
R Xparalel

0,017856
¿ ×100 %=0,008616 %(4 AP)
2,0724
Jadi besar nilai hasil hambatan X paralel yaitu (2,0724 ± 0,017856) Ω dengan ralat relatif
0,008616 % ( 4 AP)

 Berdasarkan Teori
1 1 1 1 1
= + = +
R Xp R X 1 R X 2 13,7 3,54
R Xp=¿ 2,813

2 2

√|
2 2
Rx 2 Rx1
∆ R Xparalel= (
Rx 1 + Rx2 ||
) . ∆Rx 1 + (
Rx1 + Rx 2
) .∆ |
Rx 2

2 2


3,54
¿
|( )
13,7+3,54 |
.0,12076
2
2
13,7
+|(
13,7+3,54 )
.0,03046|

= √ 0 , 00039591707453

=0 , 019897665 𝛺

∆ R Xparalel
Ralat Relatif = × 100 %
R Xparalel

0,019897665
= ×100 %
2,813

= 0,007073 % (2 AP)

Jadi, besar hambatan X paralel secara teori adalah (2,813 ± 0,01989) 𝛺 dengan ralat
relatif 0,007073% ( 4 AP )

Kesalahan relatif nilai hasil percobaan adalah :

Ralat Relatif = |nilai percobaan−nilai


nilai teori
teori
×100 %|

¿|2,0724−2,813
2,813
×100 %|
¿ 0,2632 % (4 AP)

G. TUGAS
Perbandingan Nilai Hambatan Hasil Percobaan dengan Perhitungan Teoritis
Hasil Percobaan Perhitungan Teoritis
Posisi Ralat Ralat
No
DB Hambatan (Ω ¿ Relatif Hambatan (Ω ¿ Relatif
(%) (%)
1. X1 ( 13,7 ± 0,12076 ) 0,008814 - -
2. X2 (3,54 ± 0,03046) 0,008604 - -
3. X 1 dan X 2
(9,36 ± 0,08087) 0,008639(17,24 ± 0,1245) 0,007221
seri
4. X 1 dan X 2
(2,0724 ± 0,01785) 0,008616(2,813 ± 0,01989) 0,007073
paralel

1. Bandingkan nilai susunan seri X1 dengan X2 yang diperoleh dari hasil percobaan dengan
nilai susunan seri X1 dengan X2 dari hasil perhitungan menurut teori. Apakah nilainya
sama atau tidak? Jelaskan jawaban saudara.
Jawaban :
Perbandingan nilai hambatan susunan seri X1 dengan X2 hasil percobaan dengan
perhitungan teoritis yaitu diperoleh nilai hambatan X 1 dengan X 2 seri hasil percobaan
sebesar (9,36 ± 0,08087)𝛺 dengan ralat relative 0,008639 % (4 AP), sedangkan menurut
hasil perhitungan teori diperoleh sebesar (17,24 ± 0 , 1245) 𝛺 dengan ralat relatif
0,007221 % (4 AP) dan diperoleh juga kesalahan relatif nilai hasil percobaan dengan
perhitungan teoritis sebesar 0,457 % (3 AP). Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa
nilai hambatan susunan seri X1 dengan X2 hasil percobaan dengan perhitungan teoritis
berbeda dengan selisih sebesar 7,88 Ω. Hal ini dapat terjadi karena penjepit pada
sumber tegangan DC (baterai) tidak langsung dikaitkan pada kawat, sedangkan nilai
hambatan yang diukur berasal dari kawat yang berperan sebagai hambatan, sehingga
dapat memperkecil hambatan secara keseluruhan dalam rangkaian Jembatan
Wheatstone.

2. Bandingkan nilai susunan paralel X1 dengan X2 yang diperoleh dari hasil


percobaan dengan nilai susunan paralel X1 dengan X2 dari hasil perhitungan menurut
teori. Apakah nilainya sama atau tidak? Jelaskan jawaban saudara.
Jawaban :
Perbandingan nilai hambatan susunan paralel X1 dengan X2 hasil percobaan dengan
perhitungan teoritis yaitu diperoleh nilai hambatan X 1 dengan X 2 paralel hasil
percobaan sebesar ( 2,0724 ± 0 , 01785 ) Ω dengan ralat relatif 0,008616 % (4 AP),
sedangkan menurut hasil perhitungan teoritis diperoleh sebesar ¿) 𝛺 dengan ralat
relatif 0,007073 % (4 AP) dan diperoleh juga kesalahan relatif nilai hasil percobaan
dengan perhitungan teoritis sebesar 0.2632 % (4 AP). Dari hasil tersebut dapat
diketahui bahwa nilai hambatan susunan paralel X1 dengan X2 hasil percobaan dengan
perhitungan teoritis berbeda dengan selisih sebesar 0,7406 Ω. Hal ini dapat terjadi
karena penjepit pada sumber tegangan DC (baterai) tidak langsung dikaitkan pada
kawat, sedangkan nilai hambatan yang diukur berasal dari kawat yang berperan
sebagai hambatan, sehingga dapat memperkecil hambatan secara keseluruhan dalam
rangkaian Jembatan Wheatstone.
3. Buatlah kesimpulan dan saran berdasarkan hasil percobaan anda ini!
Jawaban :
Dari perbandingan antara hasil percobaan dan perhitungan teoritis dari nilai hambatan
seri dan nilai hambatan parallel pada no.1 dan no.2 dapat diketahui jika perbandingan
nilai antara hasil percobaan dan perhitungan teoritis yaitu berbeda atau selisihnya jauh.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa percobaan yang kami lakukan kurang
akurat, sehingga tidak menghasilkan nilai yang relatif sama. Hal ini dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, seperti faktor suhu, kurang telitinya kami dalam merangkai
rangkaian, dan keterbatasan fungsi dari alat yang digunakan, serta penjepit pada
sumber tegangan DC (baterai) tidak langsung dikaitkan pada kawat, sedangkan nilai
hambatan yang diukur berasal dari kawat yang berperan sebagai hambatan. Hal yang
perlu dilakukan saat percobaan adalah sebaiknya memastikan bahwa rangkaian
terhubung dengan baik, memperhatikan dengan baik nilai simpang pada galvanometer
sehingga dapat memperoleh data yang baik.

H. PEMBAHASAN
Jembatan wheatstone merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mengukur
hambatan yang belum diketahui. Jembatan Wheatstone juga bisa digunakan untuk
mengkoreksi kesalahan yang dapat terjadi dalam pengukuran hambatan menggunakan
hukum ohm.

Dengan melakukan perhitungan menggunakan rumus seperti pada teori dan pada metode
analisis data diatas maka nilai Rx (hambatan) yang akan dihitung nilainya dapat diketahui,
dimana dalam percobaan ini diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Nilai hasil hambatan X 1 =( 13,7 ±0,12076 ) Ω dengan ralat relatif 0,008814 % ( 4 AP )


2. Nilai hasil hambatan X 2 =( 3,54 ± 0,03046 ) Ω dengan ralat relatif 0,008604 % ( 4 AP)
3. Nilai hasil hambatan X seri
 Hasil percobaan :
X seri =( 9,36 ± 0,08087 ) Ω dengan ralat relatif 0,008639 % ( 4 AP)
 Hasil berdasarkan perhitungan teoritis :
X seri = (17,24 ± 0 , 1245) 𝛺 dengan ralat relatif 0,007221 % ( 4 AP )

Dengan kesalahan relatif nilai hasil percobaan dengan hasil perhitungan teoritis yaitu
0.2632 %

4. Nilai hasil hambatan X paralel


 Hasil percobaan
X paralel =( 2,0724 ± 0 ,01785 ) Ω dengan ralat relatif 0,008616 % ( 4 AP )
 Hasil berdasarkan perhitungan teoritis
X paralel =¿) 𝛺 dengan ralat relatif 0,007073 % ( 4 AP )
Dengan kesalahan relatif nilai hasil percobaan dengan hasil perhitungan teoritis yaitu
0.2632 %
Pada teori yang ada, seharusnya nilai hasil percobaan dan perhitungan teoritis dari nilai
hambatan seri dan nilai hambatan parallel yaitu sama. Tetapi dari data diatas, dapat
diketahui jika perbandingan antara hasil percobaan dan perhitungan teoritis dari nilai
hambatan seri dan nilai hambatan parallel yaitu berbeda atau selisihnya pada hambatan seri
sebesar 7,88 Ω dan selisih pada hambatan parallel tergolong sedikit sebesar 0,7406 Ω.
Selisih ini dapat disebut juga dengan kesalahan relatif. Dimana kesalahan relatif ini
menunjukkan kedekatan hasil antara percobaan dan perhitungan secara teori. Semakin keccil
kesalahan relatifnya, semakin akurat suatu percobaan tersebut, dan begitu juga sebaliknya.
Karena dalam percobaan kami antara hasil percobaan dan perhitungan teoritis dari nilai
hambatan seri dan nilai hambatan parallel memiliki selisih yang berbeda maka dapat
dikatakan percobaan yang kami lakukan memiliki keakuratan yang rendah.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor suhu, kurang telitinya kami
dalam merangkai rangkaian, dan keterbatasan fungsi dari alat yang digunakan, serta penjepit
pada sumber tegangan DC (baterai) tidak langsung dikaitkan pada kawat, sedangkan nilai
hambatan yang diukur berasal dari kawat yang berperan sebagai hambatan.
Hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi kesalahan saat percobaan agar hasil
percobaan sesuai dengan teori maka yang dilakukan sebaiknya yaitu, memastikan bahwa
rangkaian terhubung dengan baik, memperhatikan dengan baik nilai simpang pada
galvanometer sehingga dapat memperoleh data yang baik.

I. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa, fungsi
dari hambatan (resistansi) listrik dalam rangkaian listrik adalah mengatur besarnya kuat
arus yang mengalir di dalam suatu rangkaian listrik. Dimana ketika suatu hambatan tidak
diketahui nilainya maka dapat digunakan Jembatan Wheatstone.
Ketika menyusun rangkaian listrik, yang pertama kali dilakukan yaitu
menyiapkan segala alat dan bahan yang akan digunakan dalam merangkai rangkaian.
Setelah menyiapkan semuanya, mulai memahami gambar rangkaian yang akan dibuat
agar nanti ketika perangkaian tidak ada yang salah. Kemudian merangkai rangkaian
sesuai gambar yang ada. Selanjutnya yaitu memastikan rangkaian yang telah dibuat sudah
benar sebelum nanti dihubungkan dengan sumber tegangan. Terakhir jika rangkaian
sudah terangkai dengan benar, maka dapat dihubungkan dengan sumber tegangan.
Besarnya hambatan listrik yang dihitung menggunakan metode jembatan
wheatstone, menggunakan persamaan:

L2
RX= × Rb
L1

Uji kebenaran rumus untuk hubungan seri dan hubungan paralel dari hambatan-
hambatan listrik dapat dilakukan dengan cara membandingkan hasil perhitungan
percobaan menggunakan metode Jembatan Wheatstone dengan hasil perhitungan teoritis
atau menggunakan teori yang ada.

J. DAFTAR PUSTAKA
Clarence W. De Silva. 2007. Vibration monitoring, testing, and instrumentation.
China: CRC Press.
Herman. 2013. Penuntun Praktikum Elektronika Dasar 1. Makassar: UIN Press
Tim Praktikum Fisika Dasar 2. 2020. Modul Praktikum Fisika Dasar 2.
Malang: Universitas Negeri Malang.