Anda di halaman 1dari 10

PERSETUJUAN

TINDAKAN KEDOKTERAN
BETHA CANDRA SARI
bcandrasari@gmail.com
ISTILAH PENTING YANG WAJIB
DIKETAHUI
1. Tindakan kedokteran adalah tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
berupa preventif, diagnostic, terapetik atau rehabilitative yang dilakukan oleh
tenaga medis yaitu Dokter atau Dokter Gigi terhadap pasien
2. Tindakan invasive adalah tindakan medis yang langsung dapat
mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien
3. Tindakan kedokteran risiko tinggi adalah tindakan medis invasive yang
berdasar probabilitas tertentu dapat mengakibatkan kematian atau
kecacatan.
4. Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan lengkap tentang
tindakan kedokteran/kedokteran gigi.
PRINSIP DASAR
1. Semua tindakan kedokteran harus mendapat persetujuan
2. Persetujuan dapat dilakukan secara tertulis, lisan atau gerakan
3. Persetujuan tertulis wajib dilakukan pada kasus : tindakan kedokteran risiko tinggi, atau tindakan
invasive yang dimungkinkan memberi dampak kerugian dan risiko tinggi bagi pasien.
4. Dalam kondisi Gadar untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan maka TIDAK
perlu persetujuan tindakan kedokteran. Keputusan ini harus diputuskan oleh Dokter/dokter gigi dan
dicatat dalam RM, dan wajib SEGERA menginformasikan setelah pasien sadar atau keluarga
terdekat.
5. Informasi diberikan sblm tindakan kedokteran dilakukan
6. Informasi diberikan pada pasien yang kompeten atau keluarga terdekat yang kompeten.
7. Persetujuan Tindakan Kedokteran dilakukan secara SUKA RELA
8. Persetujuan yang sudah diberikan dapat ditunda atau dicabut oleh pasien/keluarga terdekat
sebelum tindakan kedokteran dilakukan
9. Penundaan persetujuan, pembatalan persetujuan dan penolakan persetujuan dapat dilakukan oleh
pasien/keluarga terdekat dan harus dalam bentuk pernyataan TERTULIS.
INFORMASI YANG HARUS DIBERIKAN
■ Pasien/keluarga terdekat harus mendapat informasi sebelum tindakan
kedokteran/kedokteran gigi diberikan
■ Informasi yang diberikan MINIMAL meliputi :
1. Diagnosis dan tata cara tindakan medis
2. Tujuan tindakan medis yang dilakukan
3. Alternatif tindakan lain dan risikonya
4. Risiko (Efek samping) dan Komplikasi yang mungkin terjadi
5. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
SIAPA YANG BERHAK MEMBERIKAN
PERSETUJUAN
1. Pasien/Keluarga terdekat yang kompeten, usia lebih dari 18 tahun dalam kesadaran
penuh, tidak mengalami syok, nyeri hebat, dalam pengaruh obat tertentu.
2. Pasien usia 16 tahun dapat memberikan persetujuan untuk tindakan kedokteran yang tidak
berisiko tinggi
3. Pasien/Keluarga terdekat yang berusia 21 tahun atau lebih atau telah menikah
4. Yang masuk dalam Keluarga terdekat adalah suami/istri, orang tua sah, anak yg kompeten,
saudara kandung.
5. BUKAN keluarga terdekat : paman, bibi, kakek, mertua, ipar, menantu, keponakan dan lain
lain.
6. Bukan keluarga terdekat dalam keadaan tertentu dapat diikutsertakan dalam proses
pemberian informasi dan proses pembuatan keputusan.
METODE PERSETUJUAN
TINDAKAN KEDOKTERAN
1. Implied consent yaitu dengan gerakan, misalnya
pasien mengangguk, pasien menyodorkan lengan
untuk diperiksa TD nya, pasien buka mulut untuk
pemeriksaan gilut
2. Express consent dapat dilakukan dengan cara
LISAN atau TULISAN.
KAPAN PERSETUJUAN TINDAKAN
KEDOKTERAN HARUS TERTULIS?
■ Pasal 45 (5) UU 29/2004 “ setiap tindakan kedokteran/kedokteran gigi yang mengandung
risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan”
■ Merujuk pada General Medical Council (GMC) di Inggris dalam Buku Manual Persetujuan
Kedokteran KKI, 2008 disebutkan : PERSETUJUAN TERTULIS WAJIB DIBERIKAN pada
keadaan sbb :
1. Bila tindakan terapetik bersifat kompleks atau menyangkut risiko atau efek samping
bermakna
2. Bila tindakan kedokteran tersebut bukan dalam rangka terapi
3. Bila tindakan kedokteran tersebut memiliki dampak bermakna bagi kedudukan
kepegawaian atau kehidupan pribadi dan social pasien
4. Bila tindakan yang dilakukan adalah bagian dari suatu penelitian
CONTOH FORM
REFERENSI PUSTAKA

1. Undang –Undang 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran


2. Permenkes 290 tahun 2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran
3. Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran, KKI, 2008

Bila memerlukan informasi lebih detil dan lengkap SILAHKAN MEMBACA


Referensi Pustaka di atas
TERIMA KASIH
Semoga Bermanfaat
www.badanmutu.or.id