Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENCELUPAN I
Pencelupan Kapas dengan Zat Warna Reaktif
Dingin

KELOMPOK : 4 (EMPAT)
NAMA : 1. M Rashid Algifari (15020041)
2. Regina Yulia Jauhar (15020052)
3. Rehulina Beru Ginting (15020054)
4. Rosi Khoerunnisa (15020056)
GRUP : 2K1/2K2
DOSEN : Hj. Hanny H. K., S.Teks.
ASISTEN : Ikhwanul M.,S.ST
Yayu E.Y.,S.ST.

PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL


POLITEKNIK STTT BANDUNG
BANDUNG
BAB I

MAKSUD DAN TUJUAN

1.1 Maksud

Melaksanakan praktikum proses pencelupan kapas dengan zat warna reaktif


dingin

1.2 Tujuan

 Untuk mengetahui proses pencelupan dengan zat warna reaktif dingin


 Untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pada metoda padd-batching
dengan zat warna reaktif dingin.
 Untuk mengatahui pengaruh pengaruh variasi urea pada metoda pad
steam dengan zat warna reaktif dingin.
 Untuk mengetahui pengaruh variasi NaCl pada metoda Pad bake 2 tahap
dengan zat warna reaktif dingin.

BAB II

TEORI DASAR
2.1 Definisi Serat Kapas

Kapas berasal dari bahasa Hindi  yaitu kapas, sedangkan dari bahasa


Sanskerta yaitu karpasa, kapas adalah serat halus yang
menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut "pohon"
/tanaman kapas), tumbuhan'semak' yang berasal dari daerah tropika
dan subtropika. Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil.
Serat kapas dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk
tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun (benang maupun
kainnya).

Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar


10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila
lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya
adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian
rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan
daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas
(katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala
panas (menyerap keringat).

A. Sifat kapas Serat:


1. Menurut struktur fisik:
a. Kehalusan serat kapas
Kehalusan berhubungan dengan tingkat kematangan
(kedewasaan) serat. Semakin panjangi serat, maka semakin halus
serat dalam kasus serat kapas, yang dinyatakan dalam nilai desiteks
dan bervariasi dari 1,1 sampai 2.3 desiteks.

 India = 2.2-2.3 dtex


 Amerika = 2,1-2,2 dtex
 Mesir = 1,2-1,8 dtex
 Sea Island = 1,0-1,1 dtex
b. Kekuatan
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruh oleh kadar selulosa
dalam serat, panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kapas
per bundel rata-rata adalah 96.700 pound per inci 2 dengan minimum
70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci2. Kekuatan serat
bukan kapas pada umumnya menurut pada keadaan basah, tetapi
sebaliknya kekuatan serat kapas dalam keadaan basah makin tinggi.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa apabila gaya diberikan pada serat
kapas kering, distribusi tegangan dalam serat tidak merata karena
bentuk serat kapas yang terpuntir dan tak teratur. Dalam keadaan
basah serat menggelumbung berbentuk silinder, diikuti dengan
kenaikan derajat orientasi, sehingga distribusi tegangan lebih merata
dan kekuatan seratnya naik.
serat kapas memiliki kekuatan yang cukup diantara serat alam
dalam dengan nilai 3-3.5 g / dtex. Kekuatan tarik kapas ada diantara
wol dan serat sutera
c. Kekuatan mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantaranya serat-
serat selulosa alam, kira-kira dua kali mulur rami.Diantara serat-serat
alam hanya sutera dan wol yang mempunyai mulur lebih tinggi dari
kapas. Mulur serat kapas berkisar antara 4 – 13 % bergantung pada
jenisnya dengan mulur rata-rata 7 %.
d. Keliatan (toughnese)
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu
benda untuk menerima kerja, dan merupakan sifat yang penitng untuk
serat-serat selulosa alam, keliatan serat kapas relatif tinggi tetapi
dibanding dengan serat-serat selulosa yang diregenerasi, sutera dan
wol keliatannya rendah tinggi.  
e. Kekakuan (stiffness)
Kekakuan dapat didefinisikan sebagai daya tahan terdapat
perubahan bentuk, dan untuk tekstil biasanya dinyatakan sebagai
perbandingan antara kekuataan saat putus dengan mulur seat
putus. Kekuatan dipengaruhi oleh berat molekul, kekuatan rantai
selulosa, derajat kristalinitas dan terutama derajat orientasi rantai
selulosa.
f. elastisitas
Pemulihan dari deformasi serat kapas, benang atau kain dari
beban yang diterapkan sangat rendah. Dengan menerapkan panas
pemulihan tidak dapat dicapai. Pemulihan ini dapat dicapai dengan
cara: pertama;.Chemical treatment untuk meningkatkan crease
recovery, tapi masalahnya adalah bahan menjadi lebih keras karena
penggunaan bahan kimia. Kedua;.blending atau pencampuran kapas
dengan serat elastis, misalnya poliester, rasio campuran tergantung
pada penggunaan akhir kain.
g. Dimensi Serat
Dimensi serat kapas yang terpenting adalah panjangnya,
perbandingan panjang dengan lebar serat kapas pada umuknya
bervariasi pada 5000 : 1 sampai 1000 : 1.Kapas yang lebih panjang
cenderung mempunyai diameter lebih halus, lebih lembut dan
mempunyai konvolusi yang lebih banyak.

Panjang serat kapas Secara fisik serat kapas individu terdiri dari
sel tubular tunggal yang panjang. Panjangnya sekitar 1200-1500 kali
dari lebarnya. Panjang serat kapas bervariasi dari 16 mm sampai 52
mm, tergantung pada jenis kapas.

 Kapas India 16-25 mm


 Kapas Amerika 20-30 mm
 Sea Island 38-52 mm
 Kapas Mesir 30-38 mm
Untuk jenis kapas tertentu diameter asli dari serat kapas yang
masih hidup relatif konstan, tetapi tabel dinding sel sanat bervariasi
dan hal ini menimbulkan variasi yang besar baik dalam ukuran
maupun bentuk karakteristik penampang lintang serat-serat kapas
dalam perdagangan.

h. Kedewasaan Serat
Kedewasaan serat kapas dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding
sel. Sel makin dewasa, dinding sel makin tebal.Untuk menyatakan
kedewasaan serat dapat dipergunakan perbandingan antara tebal
dinding dengan diameter serat. Serat dianggap dewasa apabila tebal
dinding lebih besar dari lumenya.
Pada satu biji kapas terdapat banyak sekali serat, yang saat
tumbuhnya tidak bersamaan sehingga menghasilkan tebal dinding
yang tidak sama. Seperlima dari jumlah serat kapas normal adalah
serat serat yang belum dewasa. Serat-serat yang belum dewasa
adalah yang pertumbuhannya terhenti karena sesuatu sebab,
misalnya kondisi pertumbuhan yang jelek, letak buah pada tanaman
kapas, dimana buah yang paling atas tumbuh paling akhir, kerusakan
karena serangga dan udara dingin, buah yang tidak dapat membuka
dan lain-lain. Serat yang belum dewasa kekuatannya rendah apabila
jumlahnya terlalu banyak, dalam pengolahan akan menimbulkan
jumlah limbah yang besar.Kapas yang belum dewasa dalam jumlah
besar, dalam pengolahan juga akan menimbulkan terjadinya nep,
yaitu sejumlah serat kapas yang kuat menjadi satu membentuk
bulatan-bulatan kecil yang tidak dapat diuraikan lagi dalam proses
pengolahan berikutnya.Adanya nep menghasilkan benang yang tidak
rata dan terjadinya bintik-bintik berwarna muda pada bahan yang
telah dicelup.

i. Warna
Warna kapas tidak betul-betul putihi, biasanya sedikit cream,
beberapa jenis kapas yang seratnya panjang seperti kapas mesir dan
rima, warnanya lebih cream dari pada kapas Upland dan Sea Island.
Pigmen yang menimbulkan warna pada kapas belum diketahui
dengan pasti. Warna kapas akan main tua setelah penyimpanan
selama 2 – 5 tahun. Ada pula kapas-kapas yang berwarna lebih tua,
dengan warna-warna dari Caramel, bhakti, sampai beige.
Karena pengaruh cuaca yang lama, debu dan kotoran, akan
menyebabkan warna menjadi keabu-abuah. Tumbuhnya jamur pada
kapas sebelum pemetikan menyebabkan warna putih kebiru-biruan
yang tidak bisa dihilamngkan dalam pemutihan.
j. Moisture regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air
mempunyai pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas
yang sangat kering bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya rendah.
Moisture regain serat bervariasi dengan perubahan kelembaban relatif
atmosfir sekelilingnya. Moisture  regain serat kapas pada kondisi
standar berkisar antara 7 – 8,5 %.
k. Berat jenis dan indeks bias
Berat jenis serat kapas 1,50 sampai 1,56. Indeks bias serat kapas
sejajar sumbu serat 1,58 indeks bias melintang sumbu serat 1,53

2. Sifat-sifat Kimia
Oleh karena kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka
sifat-sifat kimia kapas adalah sifat-sifat kimia selulosa. Serat kapas pada
umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan
pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi atau
penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan
kekuatan. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa
biasanya terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran
dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang lama dalam suhu diatas
1400C.

Asam-asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa, dalam


rental selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan
menyebabkan degradasi yang cepat, sedangkan larutan yang encer
apabila dibiarkan mongering pada serat akan menyebabkan penurunan
kekuatan. Alkali mempunyai sedikit pengaruh pada kapas, kecuali larutan
alkali kuat dengan konsentrasi yang tinggi menyebabkan
penggelembungan yang besar pada serat, seperti dalam proses
mempercerisasi. Dalam proses ini kapas dikerjakan di dalam larutan
natrium hidroksida dengan konsentrasi lebih besar dari 18%. Dalam
kondisi ini dinding primer menahan penggelumbungan serat kapas keluar,
sehingga lumenya sebagian tertutup. Irisan lintang menjadi lebih bulat,
puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau. Hal ini
merupakan alasan uitama mengapa dilakukan proses mencerisasi.
Disamping itu serat kapas menjadi lebih kuat dan afinitas terhadap zat
warna lebih besar.

Pelarut-pelarut yang biasa dipergunakan untuk kapas adalah


kupramonium hidroksida dan kuprietilena diamina. Viskositas larutan
kapas dalam pelarut-pelarut ini merupakan faktor yang baik untuk
memperkirakan kerusakan serat. Kapas mudah diserang oleh jamur dan
bakteri, terutama pada keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.

B. Struktur Kimia Serat Kapas


Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur kimia
yang sama. Hal ini bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan metilasi
yang menunjukan bahwa selulosa pada dasarnya mengandung residu
anhidroglukosa.Subsequent tersebut menyesun molekul glukosa
(monosakarida) dalam bentuk  β-glukopironase dan berikatan bersama-
sama yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4 atom karbon molekulnya.
Formula unit pengulanganya menyerupai selobiosa (disakarida) yang
kemudian membentuk selulosa (polisakarida).

2.2 Pencelupan

Pencelupan adalah pemberian warna pada bahan secara merata dan


permanen. Metode pemberian warna dilakukan dengan berbagai cara,
tergantung dari jenis zat warna dan serat yang akan diwarnai. Proses pewarnaan
secara pencelupan dianggap sempurna apabila sudah tercapai kondisi
kesetimbangan, yaitu zat warna yang terserap ke dalam bahan mencapai titik
maksimum.
2.2.1 Tahap-tahap pencelupan :
1.    Migrasi
Pada tahap ini, zat warna dilarutkan dan diusahakan agar larutan zat
warna bergerak menempel pada bahan. Zat warna dalam larutan
mempunyai muatan listrik sehingga dapat bergerak kian kemari.
Gerakan tersebut menimbulkan tekanan osmosis yang berusaha untuk
mencapai keseimbangan konsentrasi, sehingga terjadi difusi dari
bagian larutan dengan konsentrasi tinggi menuju konsentrasi rendah.
Bagian dengan konsentrasi rendah terletak di permukaan serat, yaitu
pada kapiler serat. Jadi zat warna akan bergerak mendekati
permukaan serat.

2.    Adsorpsi
Peristiwa difusi yang dijelaskan di atas menyebabkan zat warna
berkumpul pada permukaan serat. Daya adsorpsi akan terpusat pada
permukaan serat, sehingga zat warna akan terserap menempel pada
bahan.

3.    Difusi
Peristiwa ini terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi zat warna di
permukaan serat dengan konsentrasi zat warna di dalam serat. Karena
konsentrasi di permukaan lebih tinggi, maka zat warna akan terserap
masuk ke dalam serat.

4.    Fiksasi
Fiksasi terjadi karena adanya ikatan antara molekul zat warna dengan

serat, yaitu ikatan antara gugus auksokrom dengan serat.

2.2.2 Gaya-gaya pengikatan pada pencelupan yaitu :


1.    Ikatan hydrogen
Ikatan hydrogen merupakan ikatan sekunder yang terjadi karena
atom hydrogen pada gugus hidroksi/amino mengadakan ikatan lemah
dengan atom-atom lainnya.
H-O-H         H
    H-O-H----O

2.    Ikatan elektrovalen


Ikatan elektrovalen adalah ikatan antara zat warna dengan serat
yang timbul karena adanya gaya tarik-menarik antara muatan yang
berlawanan. Misalnya ikatan antara serat dengan gugus anion pada
molekul zat warna.
3.    Ikatan Van der Waals
Ikatan Van der Waals terjadi apabila antara zat warna dengan
serat mempunyai gugus hidrokarbon yang sesuai sehingga saat
pencelupan zat warna cenderung lepas dari air dan bergabung dengan
serat.

4.    Ikatan kovalen
Ikatan kovalen terjadi pada pencelupan serat dengan zat warna
reaktif, sifatnya paling kuat dibanding ikatan yang lain. 

2.3. Zat Warna Reaktif


Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan reaksi
dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari pada serat.
Oleh karena itu hasil celupan zat warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang
sangat baik. Demikian pula karena berat molekul zat warna reaktif kecil maka
kilapnya akan lebih baik daripada zat warna direk.
Menurut reaksiyang terjadi, zat warna reaktif dapat dibagi menjadi dua
golongan :
 Golongan I : Adalah zat warna reaktif yang mengadakan reaksi
subtitusi dengan serat dan membentuk ikatan pseudo
ester; misalnya: zat warna procion, cibacron,drimaren
dan levarix.
 Golongan II : Adalah zat warna reaktif yang dapat mengadakan reaksi
adisi dengan serat dan membentuk ikatan eter :
misalnya : zat warna remazol, remalan dan primazin.
Menurut cara pemakaiannya, zat warna reaktif dapat pula dibagi menjadi dua
yaitu reaktif panas dan reaktif dingin.
2.3.1. Zat Warna Reaktif Dingin
Zat warna reaktif dingin merupakan zat warna yang larut dalam air
dan berikatan dengan selulosa melalui ikatan kovalen sehingga tahan
luntur warna hasil celupnya baik. Contoh strukturnya sebagai berikut ,

Gambar
Yang termasuk zat warna reaktif dingin adalah Procion M dengan
sistem reaktif triazin (DCT) dan drimarene K dengan sistem reaktif difluoro
– monokloro-pirimidin. Keduanya termasuk zat warna reaktif yang bereaksi
dengan serat melalui mekanisme subtitusi nukleofilik. Kereaktifan zat
warna reaktif dingin sangat tinggi sehingga proses pencelupannya dapat
dilakukan pada suhu 30°C-40°, oleh karena itu kromogen zat warna reaktif
dingin relatif kecil sehingga warnanya lebih cerah dari zat warna reaktif
panas.
Reaksi fiksasi dan hidrolisis zat warna reaktif dingin adalah sebagai berikut
:

Gambar
Salah satu cara untuk mengurangi terjadinya hidrolisis zat warna
reaktif dingin adalah pada proses persiapan larutan celup, persiapan
larutan alkali dan zat warna dipisah pada tangki yang berbeda, dari resep
pencelupan biasanya dibuat dengan perbandingan 4:1 dan keduanya baru
dicampurkan sesaat ketika hendak dipakai.
Dibanding zat warna rekatif panas, karena lebih reaktif maka
pemakaian alkali untuk zat warna reaktif dingin lebih sedikit (hampir
setengahnya dari jumlah alkali untuk zat warna reaktif panas), selain itu
kecerahan zat warna reajtif dinggin lebih dari zat warna reaktif panas
karena kromogennya (D) lebih kecil dari kromogen zat warna rekatif
panas.
2.3.2. Mekanisme Pencelupan
Dalam proses pencelupan reaksi fiksasi zat warna reaktif dengan serat
terjadi simultan dengan reaksi hidrolisis antara zat warna dengan air. Kereaktifan
zat warna reaktif meningkat dengan meningkatnya ph larutan celup. Oleh karena
itu pada dasarnya mekanisme pencelupan zat warna reaktif terdiri dari dua
tahap. Tahap pertama merupakan tahap penyerapan zat warna reaktif dari
larutan celup kedalam serat. Pada tahap ini tida terjadi reaksi antara zat warna
dengan serat karena belum ditambahkan aklai. Selain itu, karena reaksi hidrolisis
terhadap zat warna lebih banyak terjadi pada ph tinggi, maka pada tahap ini zat
warna akan lebih banyak terserap kedalam serat dari pada terhidrolisis.
Penyerapan ini dibantu dengan penambahan elektrolit.
Tahap kedua, merupakan fiksasi, yaitu reaksi antara zat warna yang sudah
terserap berada dalam serat bereaksi dengan seratnya. Reaksi ini terjadi dengan
penembahan alkai.
D – Cl + Selulosa – OH → D – O – Selulosa + HCl
Na OH + HCl → NaCl + H2O

Reaksi antara gugus OH dari serat selulosa dengan zat warna reaktif dapat
dgolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Reaksi substitusi
Membentuk ikatan pseudo ester (ester palsu) misalnya pada pencelupan
serat selulosa dengan zat warna reakstif Procion, Cibacron dan Levatix.
b. Reaksi adisi
Membentuk ikatan eter, misalnya pada pencelupan serat selulosa dengan
zat warna reaktif remazol.

2.3.3. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pencelupan


Pada pencelupan zat warna reaktif, 4 faktor utama perlu mendapatkan
perhatian agar dapat diperoleh hasil yag memuaskan. Keempat faktor tersebut
dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengaruh ph larutan
Fiksasi zat warna reaktif pada serat selulosa terjadi pada ph 10,5 – 12,0.
Pada ph tersebut zat warna reaktif yang sudah terserap didalam serat akan
bereaksi dengan serat. Seperti itulah diterangkan diatas bahwa reaksi zat
warna reaktif dengan serat selulosa terjadi pada ph tinggi oleh adanya
peambahan alkali. Walapun reaksi hidrolisis zat warna reaktif dengan air
terjadi pada ph yang tingi, namun reaksi hidrolisis tersebut sangat sedikit
kemungkinan terjadinya karena zat warna telah terserap kedalam serat. Oleh
karena itu, penambahan alkali dilakukan pada tahap kedua setelah zat
warna terserap oleh serat. Apabila alkali tersebut dilakukan pada proses
awal, maka kemungkinan besar akan tejadi hidrolisa.
     
b. Pengaruh Perbandingan Larutan Celup
Perbandingan larutan celup artinya perbandingan antara besarnya
larutan terhadap berat bahan tekstil yang diproses, penggunaan
perbandingan larutan yang kecil akan menaikan konsentrasi zat warna
dalam larutan. Kenaikan konsentrasi zat warna dalam larutan tersebut akan
menambah besarnya penyerapan. Maka untuk mencelup warna-warna tua
diusahakan untuk memakai perbandingan larutan yang kecil.

c. Pengaruh Suhu
Pada pencelupan dengan zat warna reaktif maka penambahan suhu
akan meyebabkan zat warna mudah sekali bereaksi dengan air, sehingga
dapat menyebabkan berkurangnya afinitas zat warna dan kemungkinan
terjadi penurunan daya serap (substantivitas) juga lebih besar sehingga
dapat menurunkan efisiensi fiksasi. Kerugian karena penurunan efisiensi
fiksasi ini dapat diatasi dengan pemakaian pH yang terlalu tingi, oleh karena
itu faktor suhu pencelupan dan pH larutan celup memegang peranan penting
didalam proses pencelupan dengan zat warna reaktif. Zat warna reaktif
mempunyai kereaktifan tinggi, dicelup pada suhu kamar akan tetapi zat
warna reaktif yang mempunyai kereaktifan rendah memerlukan suhu
pencelupan minimal 70 .

d. Pengaruh Elektrolit
Pengaruh elektrolit pada pencelupan zat warna reaktif seperti halnya
pada zat warna direk. Makin tinggi pemakaian elektrolit, maka makin besar
penyerapannya. Jumlah pemakaia elektrolit hampir mencapai sepuluh kali
lipat dari pada pemakaian zat warna direk.

2.3.4.  Zat Pembantu Pencelupan Selulosa dengan Zat Warna Reaktif Panas
Zat pembantu yang perlu ditambahkan pada larutan celup antara
lain elektrolit (Na2SO4, NaCl), Na2Co3 dan Pembasah. Selain itu dapat
juga ditambahkan zat pelunak air, zat anti crease mark dan zat anti
reduksi. Untuk metoda pencelupan cara pad diperlukan urea dan untuk
cara pad yang ada proses pengeringan terutama bila menggunakan
mesin pengering “ hot flue dryer” diperlukan juga penambahan zat anti
migrasi ke larutan pada zat warna.
Fungsi masing-masing zat adalah sebagai berikut :
 Na2CO3 berfungsi untuk fiksasi zat warna.
 Pembasah berfungsi untuk meratakan dan mempercepat proses
pembasahan kain.
 Urea sebagai zat higrokopis berfungsi untuk menjaga kelembaban kain
(mencegah terjadinya over drying yang menimbulkan penggerakan zat
warna dipermukaan kain).
 Zat anti migrasi, sebagai pengikat sementara zat warna di permukaan
bahan untuk menghindarkan terjadinya migrasi ketika proses
pengeringan pada mesin pengering hot flue dryer, sehingga tidak
mnimbulkan belang.
 NaCl pada proses pencelupan cara perendaman berfungsi untuk
mendorong penyerapan zat warna, sedangkan pada pencelupan cara
pad 2 tahap (pada larutan alkali) berfungsi sebagai penjenuh larutan
alkali guna mencegah terjadinya pelunturan zat warna reaktif pada
larutan alkali.
 Sabun untuk proses pencucian setelah proses pencelupan guna
menghilangkan zat warna reaktif yang terhidrolisis yang ada dalam
kain hasil celupan.
BAB III

ALAT DAN BAHAN

3.1. Alat yang digunakan

 Piala porselen
 Gelas piala
 Gelas ukur
 Pipet
 Pengaduk
 Timbangan
 Gunting
 Bunsen
 Termometer

3.2. Bahan yang digunakan

 Kain kapas
 Zat warna reaktif
 Pembasah
 Na2CO3
 NaCl
 Zat anti migrasi
 Urea
BAB IV
PERCOBAAN
4.1. Diagram Alir

4.2. Skema Proses

4.3. Resep

4.3.1. Resep Pencelupan

Zat yang
No Variasi I Variasi II Variasi III Variasi IV
digunakan
Pad-dry-
Pad –dry - Pad- Pad-dry- pad
1. Metoda
bake batch steam chemical-
dry-bake
2. Zat warna reaktif 17 g/l
3. Na2CO3 1,5 g/l 10 g/l 10 g/l 10 g/l
4. Pembasah 1 ml/l
5. Urea 50 g/l - 10 g/l 50 g/l
6. Zat anti migrasi 5 g/l - 5 g/l 5 g/l
7. NaCl - - - 200 g/l
8. 70% 70% 70% 70% dan
WPU
80
9. Waktu 15 menit 10 jam 15 menit 15 menit

4.4. Perhitungan resep

4.4.1. Variasi I (Pad-dry-bake)


17
 Zat warna reaktif = x 100 = 1,7 gram
1000
1
 Pembasah = x 100 = 0,1 ml
1000
50
 Urea = x 50 = 5 gram
1000
5
 Zat anti migrasi = x 100 = 0,5 gram
1000
15
 Na2CO3 = x 100 = 1.5 gram
1000

4.4.2. Variasi II ( Pad- batching)

17
 Zat warna reaktif = x 100 = 1,7 gram
1000
1
 Pembasah = x 100 = 0,1 ml
1000
10
 Na2CO3 = x 100 = 1 gram
1000

4.4.3. Variasi III (Pad-steam)

17
 Zat warna reaktif = x 100 = 1,7 gram
1000
1
 Pembasah = x 100 = 0,1 ml
1000
10
 Na2CO3 = x 100 = 1 gram
1000
5
 Zat anti migrasi = x 100 = 0,5 gram
1000
5
 Urea = x 100 = 0,5 ml
1000
4.4.4. variasi IV (Pad bake 2 tahap)
17
 Zat warna reaktif = x 100 = 1,7 gram
1000
1
 Pembasah = x 100 = 0,1 ml
1000
10
 Na2CO3 = x 100 = 1 gram
1000
5
 Zat anti migrasi = x 100 = 0,5 gram
1000
50
 Urea = x 100 = 5 gram
1000
200
 NaCl = x 100 = 20 gram
1000

4.5. Fungsi Zat

 Na2CO3 berfungsi untuk fiksasi zat warna.


 Pembasah berfungsi untuk meratakan dan mempercepat proses
pembasahan kain.
 Urea sebagai zat higrokopis berfungsi untuk menjaga kelembaban kain
(mencegah terjadinya over drying yang menimbulkan penggerakan zat
warna dipermukaan kain).
 Zat anti migrasi, sebagai pengikat sementara zat warna di permukaan
bahan untuk menghindarkan terjadinya migrasi ketika proses
pengeringan pada mesin pengering hot flue dryer, sehingga tidak
mnimbulkan belang.
 NaCl pada proses pencelupan cara perendaman berfungsi untuk
mendorong penyerapan zat warna, sedangkan pada pencelupan cara
pad 2 tahap (pada larutan alkali) berfungsi sebagai penjenuh larutan
alkali guna mencegah terjadinya pelunturan zat warna reaktif pada
larutan alkali.
 Sabun untuk proses pencucian setelah proses pencelupan guna
menghilangkan zat warna

4.6. Data Percobaan

VARIASI I VARIASI II VARIASI III VARIASI IV


4.7. Hasil Evaluasi

1. Ketuaan warna
 Variasi I :1
 Variasi II :3
 Variasi III :2
 Variasi IV :4

Keterangan

1 = muda

2 = sedikit tua

3 = tua

4 = sangat tua

2. Kerataan
 Variasi I : rata
 Variasi II : rata
 Variasi III : rata
 Variasi IV : rata
BAB V

DISKUSI

Pada percobaan kali ini kita dapat mengatahui metoda dan variasi apa
yang bagus dalam pencelupan zat warna reaktif dingin. Zat warna reaktif dingin
merupakan zat warna yang larut dalam air dan berikatan dengan selulosa melalui
ikatan kovalen sehingga tahan luntur warna hasil celupnya baik. Reaksi selulosa
dengan zat warna reaktif dingin sebagai berikut :

GAMBAR REAKSI

Pada kali ini kami melakukan percobaan dengan 4 metoda yang mana
variasi I menggunakan metoda pad-dry- bake, variasi II menggunakan metoda
Pad batch, metoda III menggunakan metoda pad-dry-steam, metoda IV
menggunakan Pad bake 2 tahap.

Nilai Ketuaan Warna


5
4
3
nilai

2 nilai
1
0
1 2 3 4
variasi metoda

Grafik nilai ketuaan warna terhadap metoda dengan Zw Reaktif Dingin

Pada percobaan yang telah dilakukan bahwa ketuaan warna yang bagus
terdapat pada variasi 4 yaitu menggunakan metoda Pad bake 2 tahap hal
tersebut terjadi karena pada metoda ini ditambahkan NaCl sebanyak 200 g/l,
dimana NaCl pada metode Pad Bake 2 tahap berfungsi sebagai penjenuh larutan
alkali guna mencegah terjadinya pelunturan zat warna reaktif pada larutan alkali
sehingga pada permukaan kain terlihat warna lebih tua.
Nilai Ketuaan Warna
5

nilai ketuaan warna


4
3
2 variasi
1
0
1 2 3 4 5 6
Variasi konsentrasi Na2CO3

Grafik nilai ketuaan warna terhadap variasi konsentrasi Na2CO3 menggunakan


metoda Pad-Dry-Bake 1 tahap

Nilai Ketuaan Warna


4.5
4
3.5
nilai ketuaan

3
2.5
2 Series 1
1.5
1
0.5
0
1 2 3 4 5 6
variasi waktu

Grafik nilai ketuaan warna terhadap variasi waktu menggunakan metoda Pad-
Batch

Pada percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan metoda Pad


Batch dengan variasi waktu dihasilkan bahwa terjadi peningkatan ketuaan warna
pada waktu 4 jam sampai 8 jam, tetapi pada saat di tambahkan batch menjadi 10
jam terjadi penurunan warna hal tersebut terjadi karena pada waktu pemeraman
8 jam telah mengalami titik optimum, maka semakin lama waktu batching zat
warna mengalami hidrolisa.
Nilai Ketuaan Warna
7

nilai ketuaan warna


6
5
4
3 Series 1
2
1
0
1 2 3 4 5 6
Variasi Urea

Grafik nilai ketuaan warna terhadap variasi konsentrasi menggunakan metoda


Pad Steam

Nilai Ketuaan Warna


3.5
nilai ketuaan warna

3
2.5
2
1.5 Series 1
1
0.5
0
1 2 3 4

Variasi NaCl

Grafik nilai ketuaan warna terhadap variasi konsentrasi NaCl menggunakan


metoda Pad Bake 2 tahap
BAB VI

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Dede Karyana,S.Teks.M.Si., Dkk., Pedoman Praktikum Teknologi Pencelupan
I, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung, 2004
Ir. Rasjid Djufri M.Sc.,Dkk., Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan
Pencapan, Institute Teknologi Tekstil Bandung, 1976
https://evgust.wordpress.com/2011/07/12/pencelupan-dengan-zat-warna-reaktif
http://borosh.blogspot.co.id/2014/02/zat-warna-raktif panas-smk-tekstil-
texmaco.html

Anda mungkin juga menyukai