Anda di halaman 1dari 14

PANDUAN HAND HYGIENE

RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SOERYA


Jl. Raya Kalijaten No. 11-15 Taman Sidoarjo 61257
Telp. (031) 7885011 Fax. (031) 7873633
BAB I
DEFINISI

Health care associated infection (HCAI) merupakan sebuah isu global


pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Diestimasikan lebih dari 1,4 juta pasien di
seluruh dunia baik di negara maju maupun di negara berkembang yang terkena
HCAI4. Infeksi yang terkait pelayanan kesehatan (HCAI) adalah problem utama
untuk keselamatan pasien dan HCAI mengakibatkan pasien dirawat lebih lama
di rumah sakit, mengalami disabilitas permanen, meningkatnya resistensi kuman
terhadap antibiotik, beban keuangan yang berat, biaya perawatan tinggi dan
berakibat kematian. Insiden HCAI di negara maju terdapat 5-15% dari pasien
rawat inap, dan 9-37% terjadi pada pasien Intensive Care Unit (ICU). Di Eropa,
prevalensi rate HCAI adalah 4,6%-9,3%, data dari Hospitals in Europe Link for
Infection Control (HELICS), lebih kurang 5 juta HCAI per tahun di ICU yang
membawa dampak ekstra 25 juta hari rawat inap dengan tambahan beban/biaya
ekonomi 13-24 milyar Euro. Kematian di Eropa disebabkan HCAI adalah 2,7%
dari kasus (135.000 kematian per tahun).
Di negara berkembang, ribuan infeksi, terutama hepatitis B, C dan transmisi
HIV, tidak saja berasal dari pasien, melainkan juga ditularkan dari pekerja
kesehatan melalui pemakaian jarum suntik yang tidak aman, produk kesehatan
dan darah yang terkontaminasi, prosedur bedah yang tidak adekuat dan
defisiensi pada manajemen pembuangan limbah biomedik.1
Pada satu dekade terakhir, terjadi tren peningkatan HCAI akibat organisme
resisten antibiotik. Pada akhir tahun 2007, WHO (World Health Organization)
membentuk Tim Tantangan Keselamatan Pasien Global untuk membuat
Guideline (Panduan) on Hand hygiene in Health Care. Pada awal 2009 WHO
mencanangkan Clean Care is Safer Care (Pelayanan Bersih adalah Pelayanan
Aman) setelah melakukan berbagai riset dan metode untuk mengatasi HCAI.
Buku WHO Guidelines on Hand hygiene in Health Care (2009) menjadi acuan
pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan Dalam Panduan ini,
digarisbawahi pentingnya upaya pencegahan dengan memprioritaskan pelayanan
kesehatan yang lebih aman. Tindakan preventif yang telah dibuktikan efektif
adalah tindakan yang sederhana untuk dilakukan yaitu HAND HYGIENE (cuci
tangan). Hand hygiene adalah istilah umum yang merujuk pada semua tindakan
cuci tangan.
BAB II
RUANG LINGKUP

Panduan ini ditujukan kepada semua petugas dan staf termasuk dokter,
perawat, petugas pelaksana, tenaga outsourcing dan manajemen di Rumah Sakit.

2.1 SIAPA YANG WAJIB MELAKUKAN HAND HYGIENE


a. Setiap orang yang kontak langsung dengan pasien seperti: dokter, perawat
dan petugas kesehatan lainnya (fisioterapi, laboratorium)
b. Setiap orang yang kontak tidak langsung dengan pasien seperti ahli gizi,
farmasi dan petugas teknik
c. Setiap personil yang berkontribusi dengan prosedur yang dilakukan
terhadap pasien
d. Setiap orang yang bekerja di Rumah Sakit
e. Setiap pasien, keluarga pasien dan pengunjung pasien

2.2 BATASAN OPERASIONAL


Hand hygiene (cuci tangan) adalah suatu tindakan melakukan cuci tangan
sesuai panduan World
Health Organization (WHO) memakai sabun cair (handwash) atau
desinfektan (handrub

2.3 LANDASAN HUKUM


Landasan hukum yang digunakan adalah:
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
c. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
d. Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 270/Menkes/2007 tentang
Pedoman Manajerial PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan lain
e. Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 382/Menkes/2007 tentang
Pedoman PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain
f. Surat Edaran Dirjen Bina Yanmed nomor HK.03.01/III/3744/08 tentang
Pembentukan Komite PPI Rumah Sakit & Tim PPI Rumah Sakit (Revisi)

2.4 TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KESELAMATAN PASIEN DI


UNIT/ SUB UNIT KERJA
Semua Penanggung Jawab Keselamatan Pasien di tiap Unit Kerja bertugas
untuk:
a. Menyebarluaskan dan menerapkan Panduan ini secara optimal di unit
tanggung jawabnya
b. Memastikan staf untuk melakukan Hand hygiene secara tepat dan akurat
sesuai Panduan WHO
c. Melakukan monitoring dan evaluasi bulanan terhadap pelaksanaan Hand
Hygiene
d. Melaporkan evaluasi bulanan dengan lembar Monitoring dan Evaluasi ke
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit /Komite Mutu
e. Menerapkan tindakan yang diperlukan atau pelatihan tambahan untuk
menangani ketidakmampuan petugas untuk melakukan Hand Hygiene

2.5 WAKTU MELAKUKAN HAND HYGIENE


a. Untuk petugas Kesehatan cuci tangan dilakukan pada saat:
1) Sebelum kontak dengan pasien.
2) Sebelum melakukan tindakan aseptik atau kontak dengan benda yang
yang terkontaminasi cairan tubuh pasien.
3) Setelah kontak dengan pasien.
4) Setelah melakukan tindakan aseptik atau setelah kontak dengan benda
yang terkontaminasi cairan tubuh pasien.
5) Setelah meninggalkan lingkungan/ ruang perawatan pasien.
b. Untuk pasien dan pengunjung cuci tangan dilakukan pada saat:
1) Sebelum dan sesudah berkunjung ke rumah sakit
2) Sebelum dan sesudah menyentuh pasien
3) Setelah menyentuh lingkungan pasien
4) Setelah dari toilet
5) Setelah batuk/ bersin
6) Sebelum dan sesudah makan
BAB III
TATA LAKSANA

3.1 Hand wash (cuci tangan dengan sabun cair): 40-60 detik
1) Lepaskan cincin, gelang atau jam tangan yang dipakai (kuku jari tangan
harus dipotong pendek)
2) Lakukan cuci tangan memakai sabun cair (hand wash) bila tangan dalam
kondisi kotor
3) Basahi tangan dengan air mengalir, kemudian tutup keran
4) Semprotkan secukupnya sabun cair di telapak tangan
5) Gosok kedua telapak tangan dengan gerakan memutar sebanyak 8 kali
6) Gosok telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dengan
menjepit jari-jari, dan lakukan sebaliknya masing-masing 8 kali.
7) Satukan kedua telapak tangan melalui sela-sela jari, kemudian gosok
sela-sela jari sebanyak 8 kali.
8) Gosok ruas tangan dengan jari saling mengunci (tangan kanan di atas
tangan kiri) dan lakukan sebaliknya, masing-masing sebanyak 8 kali
9) Genggam jempol kiri dengan telapak tangan kanan, kemudian gosok
dengan gerakan memutar, dan lakukan sebaliknya masing-masing 8 kali
10) Gosok secara melingkar ujung jari tangan kanan yang menguncup di atas
telapak kiri (dan sebaliknya) masing-masing 8 kali.
11) Buka keran
12) Bilas kedua tangan dengan air sampai sabun cair hilang
13) Keringkan tangan dengan tisu, gunakan tisu untuk menutup keran

3.2 Handrub (cuci tangan dengan larutan desinfektan): 20-30 detik


1) Gosok kedua telapak tangan dengan gerakan memutar sebanyak 4 kali
2) Gosok telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dengan
menjepit jari-jari (dan lakukan sebaliknya) masing-masing 4 kali.
3) Satukan kedua telapak tangan melalui sela-sela jari, kemudian gosok
sela-sela jari sebanyak 4 kali.
4) Gosok ruas tangan dengan jari saling mengunci (tangan kanan di atas
tangan kiri) dan lakukan sebaliknya, masing-masing sebanyak 4 kali
5) Genggam jempol kiri dengan telapak tangan kanan, kemudian gosok
dengan gerakan memutar (dan sebaliknya) masing-masing 4 kali.
6) Gosok secara melingkar ujung jari tangan kanan yang menguncup di atas
telapak kiri (dan sebaliknya) masing-masing 4 kali

3.3 PENERAPAN HAND HYGIENE PADA UNIT KERJA


a. Keperawatan
b. Bidan
c. Rawat Jalan
d. Rawat Inap
e. Gawat Darurat
f. Laboratorium

Semua Penanggung Jawab Keselamatan Pasien di tiap Unit Kerja melakukan


evaluasi hand hygiene minimal 2 kali dalam sebulan kepada seluruh pelaksana
yang berada di lingkungan kerjanya.
KKPRS mengumpulkan laporan monitoring dan melakukan analisis laporan
setiap 1 bulan sekali.
Laporan monitoring evaluasi menggunakan formulir dibawah ini:
CEKLIS MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN HAND
HYGIENE
3.4 PENYEBAB KETIDAKPATUHAN MELAKUKAN HAND HYGIENE
a. Tidak tersedia sarana/fasilitas hand hygiene
b. Bila sering cuci tangan, maka tangan rusak
c. Sikap tidak peduli
d. Pemahaman salah dari petugas yang berfikir bahwa pasienlah yang
membawa kuman di badan pasien
e. Petugas kurang pengetahuan/infomasi mengenai manfaat hand hygiene
f. SPO tidak dipatuhi
g. Tidak ada dukungan, kontroling, monitoring
3.5 TINDAKAN MENGATASI KETIDAKPATUHAN
a. Melakukan edukasi, informasi dan komunikasi dengan mengadakan
pelatihan dan up date informasi tentang hand hygiene, baik internal
maupun eksternal.
b. Memberi umpan balik kepada petugas
c. Evaluasi kepatuhan secara kontinyu dengan sensus harian
d. Melakukan kampanye hand hygiene dengan pengadaan banner, brosur,
video tarian hand hygiene.
BAB IV
DOKUMENTASI
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2008. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient
Safety) Edisi 2. Jakarta: Depkes RI

Dirjen Bina Upaya Kesehatan. 2011. Standar Akreditasi Rumah Sakit. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan Komisi Akreditasi
Rumah Sakit.

Komisi Akreditasi Rumah Sakit. 2012. Workshop Keselamatan Pasien dan


Manajemen Risiko ,Klinis. Surabaya: 3-5 Juli 2012

World Health Organization. 2009. WHO Guidelines on Hand hygiene in Health Care
LAMPIRAN
a. Teknik Desinfeksi Tangan yang Efektif memakai sabun cair (handwash)
b. Teknik Desinfeksi Tangan yang Efektif memakai desinfektan (handrub)
c. 5 Moment Hand Hygiene