Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KLIEN DI IGD

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunikasi Dalam Keperawatan II


Dosen Pembimbing: Yuyun Sarinengsih S.Kep., Ners, M.Kep

Disusun Oleh:

Bioseffa Oktavia 191FK03127


Dini Oktaviani 191FK03126
Inda Wulandari 191FK03117
Nisa Rahmawati 191FK03123
Muhammad Fadhil Fadhlurrahman AK118111

Kelompok 3 Kelas Kecil I


Kelas C Tingkat I

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Komunikasi
Dalam Keperawatan II yang berjudul ”Makalah Komunikasi Terapeutik pada Klien
di IGD”
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya dosen
pembimbing kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bandung, 22 April 2020

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................3
1.1 Latar Belakang...................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................4
1.3 Tujuan................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................6
2.1 Pengertian Komunikasi .....................................................................................6
2.2 Pengertian komunikasi terapeutik .....................................................................9
2.3 Komponen komunikasi .....................................................................................9
2.4 Factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi ..............................................10
2.5 Tipe komunikasi ..............................................................................................12
2.6 Aplikasi komunikasi dalam keperawatan ........................................................15
2.7 Komunikasi dalam hubungan terapeutik perawat-klien ..................................16
2.8 Pengertian gawat darurat .................................................................................18
2.9 Konsep dasar keperawatan gawat darurat .......................................................18
2.10 Komunikasi dalam SPGDT ...........................................................................20
2.11 Tujuan komunikasi pada gawat darurat .........................................................21
2.12 Fase-fase dalam komunikasi terapeutik gawat darurat ..................................22
2.13 Prinsip komunikasi gawat darurat...............................................................24
2.14 Teknik komunikasi gawat darurat ................................................................24
BAB III PENUTUP................................................................................................30
3.1 Kesimpulan......................................................................................................30
3.2 Saran.................................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................31

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi terapeutik merupakan salah satu cara untuk memberikan informasi
yang akurat dan membina hubungan salng percaya dengan klien sehingga klien
akan merasa puas dengan pelayanan keperawatan yang diterimanya. Pada pasien
gawat darurat perlu memperhatikan teknik-teknik dan tahapan baku komunikasi
terapeutik yang baik dan benar.
Komunikasi terapeutik merupakan cara yang efektif unntuk mempengaruhi
tingkah laku manusia dan bermanfaat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
di rumah sakit, sehingga komunikasi harus di kembangkan secara terus menerus
(kariyo,1998). Hubungan antara perawat dan klien yang terapeutik bisa terwujud
dengan adanya interaksi yang terapeutik antar keduanya, interaksi tersebut harus
di lakukan sesuai dengan tahapan-tahapan baku interaksi terapeutikperawat klien,
tahapan itu adalah tahap preorientasi, thap orientasi, tahap kerja dan tahap
terminasi (atuart and sunden 1998). Pelayanan kesehatan menggunakan
komunikasi yang langsung sepperti pelayanan kesehatan, rumah sakit merupakan
tempat untuk mendpatkan pelayanan baik yang bersifat medic maupun
keperawatan.
Gawat Darurat adalah keadan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis
segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut (UU no
44 thn 2009). Gawat darurat adalah suatu keadaan yang terjadinya mendadak
mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan atau
pertolongan segera dalam arti pertolongan secara secara cermat, tepat dan cepat.
Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu maka korban akan mati atau
cacat / kehilangan anggota tubuhnya seumur hidup.
Dalam pelaksanaan tindakan dengan klien gawat darurat perawat perlu
melakukan komunikasi terapeutik pada klien harus dengan jujur, memberikan

3
gambaran situasi yang sesungguhnya sedang terjadi dengan tidak menambahkan
kecemasan dan memberikan support verbal maupun non verbal. Klien dapat
merasakan puas ataupun tidak puas apabila klien sudah mendapat pelayanan
kesehatan yang di berikan petugas di IGD, baik yang bersifat fisik, kenyamanan
dan keamanan serta komunikasi terapeutik yang baik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian komunikasi ?
2. Apa pengertian komunikasi terapeutik?
3. Apa saja komponen komunikasi?
4. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi?
5. Apa saja tipe komunikasi?
6. Bagaimana aplikasi komunikasi dalam keperawatan?
7. Bagaimana komunikasi dalam hubungan terapeutik perawat-klien?
8. Apa pengertian gawat darurat?
9. Bagaimana konsep dasar keperawatan gawat darurat?
10. Bagaimana komunikasi dalam SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu)?
11. Apa tujuan komunikasi pada gawat darurat?
12. Bagaimana fase-fase dalam komunikasi terapeutik gawat darurat?
13. Bagaimana prinsip komunikasi gawat darurat?
14. Bagaimana teknik komunikasi gawat darurat?

4
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian komunikasi.
2. Untuk mengetahui pengertian komunikasi terapeutik.
3. Untuk mengetahui komponen komunikasi.
4. Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi.
5. Untuk mengetahui jenis komunikasi.
6. Untuk mengetahui aplikasi komunikasi dalam keperawatan.
7. Untuk mengetahui komunikasi dalam hubungan terapeutik perawat-klien.
8. Untuk mengetahui pengertian gawat darurat.
9. Untuk mengetahui konsep dasar keperawatan gawat darurat.
10. Untuk mengetahui komunikasi dalam SPGDT (Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu).
11. Untuk mengetahui tujuan komunikasi pada gawat darurat.
12. Untuk mengetahui fase-fase dalam komunikasi terapeutik gawat darurat.
13. Untuk mengetahui prinsip komunikasi gawat darurat.
14. Untuk mengetahui teknik komunikasi gawat darurat.

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare –


communicatio dan communicatus yang berarti suatu alat yang berhubungan
dengan sistem penyampaian dan penerimaan berita, seperti telepon, telegraf,
radio, dan sebagainya. Secara sederhana komunikasi dapat diartikan sebagai
suatu proses pertukaran, penyampaian, dan penerimaan berita, ide, atau
informasi dari seseorang ke orang lain. Dalam berkomunikasi, diperlukan
ketulusan hati antara pihak yang terlibat agar komunikasi yang dilakukan
efektif. Pihak yang menyampaikan harus ada kesungguhan atau keseriusan
bahwa informasi yang disampaikan adalah penting, sedangkan pihak penerima
harus memiliki kesungguhan untuk memperhatikan dan memahami makna
informasi yang diterima serta memberikan respons yang sesuai.
Dalam kata communis terdapat makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik
bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau
kesamaan makna. Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi
(pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya,
komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua
belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh
keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik
badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala,
mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal. Komunikasi
dapat terjadi jika ada persamaan antara penyampaian pesan dengan orang yang
menerima pesan.
Pengertian Komunikasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI
terbitan Balai Pustaka, 2002), komunikasi adalah: (1) Pengiriman dan
penerimaan pesan antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud

6
dapat dipahami, hubungan, kontak. (2). Perhubungan.
Berikut saya lampirkan pandangan beberapa ahli tentang pengertian
komunikasi:

1) Ross (1974), “communication is a transactional process involving a


cognitive sorting, selecting, and sending, of symbols in such a way as to help
a listener elicit from his own mind a meaning or response similar to that
intended by communicator”
2) McCubbin dan Dahl (1985), “komunikasi merupakan suatu proses tukar
menukar perasaan, keinginan, kebutuhan dan pendapat”.
3) Yuwono (1985), “komunikasi merupakan kegiatan mengajukan pengertian
yang dikirimkan dari pengirim pesan kepada penerima pesan dan
menimbulkan respon tingkah laku yang diinginkan dari penerima pesan”.
4) Burgerss (1988), “ komunikasi adalah proses penyampaian informasi, makna
dan pemahaman dari pengirim pesan kepada penerima pesan”.
5) Taylor, dkk (1993), “komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau
proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti”.
6) Hafield Cangara, “komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau
lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada
gilirannya akan tiba pada saling pengertian”.
7) Everett M. Rogers,“Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan
dari sumber kepada suatu penerima, dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku mereka atau penerima”.
8) Onong Uchjana Effendy, Ia mengungkapkan pengertian dari komunikasi
adalah “proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada
orang lain”. Pikiran tersebut bisa merupakan informasi, gagasan, opini, dll
yang muncul dari pikirannya sendiri.
9) Deddy Mulyana (2005) mengkategorikan definisi-definisi tentang

7
komunikasi dalam tiga konseptual yaitu:
Komunikasi sebagai tindakan satu arah
Suatu pemahaman komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari
seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya,
baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat
(selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Pemahaman
komunikasi sebagai proses searah sebenarnya kurang sesuai bila diterapkan
pada komunikasi tatap muka, namun tidak terlalu keliru bila diterapkan pada
komunikasi publik (pidato) yang tidak melibatkan tanya jawab. Pemahaman
komunikasi dalam konsep ini, sebagai definisi berorientasi-sumber. Definisi
seperti ini mengisyaratkan komunikasi semua kegiatan yang secara sengaja
dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk
membangkitkan respon orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap
suatu tindakan yang disengaja untuk menyampaikan pesan demi memenuhi
kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau
membujuk untuk melakukan sesuatu.
Beberapa definisi komunikasi dalam konseptual tindakan satu arah:

A. Everet M. Rogers: komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan


dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk
mengubah tingkah laku.
B. Gerald R. Miller: komunikasi terjadi ketika suatu sumber
menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari
untuk mempengaruhi perilaku penerima.
C. Carld R. Miller: komunikasi adalah proses yang memungkinkan
seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya
lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain
(komunkate).
D. Theodore M. Newcomb: Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai

8
suatu transmisi informasi terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari
sumber kepada penerima.

2.2 Komunikasi Terapeutik


Komunikasi telah dilakukan manusia, sejak bayi berada dalam kandungan
sampai dengan kematian, sehingga bisa dikatakan komunikasi mempunyai
umur yang sama tuanya dengan umur kehidupan manusia. Semua tingkah laku
merupakan komunikasi (verbal maupun non verbal) dan semua komunikasi
akan mempengaruhi tingkah laku, sehingga komunikasi pada dasarnya dapat
menjadi suatu alat untuk memfasilitasi hubungan terapeutik atau malahan dapat
berfungsi sebagai penghalang terhadap tumbuhnya hubungan yang terapeutik.
Fasilitas komunikasi bertujuan untuk memulai, membangun dan membina
keterlibatan dan hubungan saling percaya (Wilson & Kneist,1983).
Hakekat komunikasi

a. Komunikasi merupakan alat untuk membangun hubungan terapeutik.

b. Komunikasi merupakan alat bagi perawat untuk mempengaruhi tingkah


laku klien dan kemudian untuk mendapatkan keberhasilan dalam intervensi
keperawatan.
c. Komunikasi merupakan hubungan itu sendiri, dimana tanpa komunikasi
tidak mungkin terjadi hubungan terapeutik perawat-klien.

2.3 Komponen Komunikasi

9
Komunikasi mempunyai 6 komponen yaitu (Potter & Perry, 1993):

A. Komunikator : penyampai informasi atau sumber informasi.

B. Komunikan : penerima informasi, pemberi respon terhadap stimulus.

C. Pesan : gagasan, pendapat, stimulus, fakta, informasi.

D. Media : saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan.

E. Kegiatan “encoding” : perumusan pesan oleh komunikator.

F. Kegiatan “decoding” : penafsiran pesan oleh komunikan.


2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

Proses komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor (Potter & Perry, 1993):

A. Perkembangan

Agar dapat berkomunikasi efektif dengan perawat harus mengerti pengaruh


perkembangan usia baik dari sisi bahasa, maupun proses berpikir dari orang
tersebut. Cara berkomunikasi pada usia remaja dengan usia balita tentunya
berbeda, pada usia remaja, anda barangkali perlu belajar bahasa “gaul” mereka
sehingga remaja yang kita ajak bicara akan merasa kita mengerti mereka dan
komunikasi diharapkan akan lancar.
B. Persepsi

Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau


peristiwa. Persepsi ini. dibentuk oleh harapan atau pengalaman. Perbedaan
persepsi dapat mengakibatkan terhambatnya komunikasi.
C. Nilai

“Nilai adalah bandar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi


perawat untuk menyadari nilai seseorang. Perawat perlu berusaha untuk
mengetahui dan mengklarifikasi nilai sehingga dapat membuat keputusan dan
interaksi yang tepat dengan klien. Dalam hubungan profesionalnya diharapkan

10
perawat tidak terpengaruh oleh nilai pribadinya.
D. Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat
dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya juga akan membatasi cara bertindak dan
berkomunikasi seseorang.
E. Emosi

Emosi merupakan perasaan subyektif terhadap suatu kejadian, seperti marah


dan sedih akan dapat mempengaruhi perawat dalam berkomunikasi dengan
orang lain. Perawat perlu mengkaji emosi klien dan keluarganya sehingga
perawat mampu memberikan asuhan keperawatan dengan tepat. Selain itu
perawat juga perlu mengevaluasi emosi pada dirinya agar dalam
memberikan asuhan keperawatan tidak terpengaruh oleh emosi dibawah
sadarnya.
F. Jenis Kelamin

Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda-beda.


Tanned (1990) menyebutkan bahwa wanita dan laki-laki mempunyai
perbedaan gaya komunikasi. Dari usia 3 tahun wanita ketika bermain dalam
kelompoknya menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan,
meminimalkan perbedaan, serta membangun dan mendukung keintiman,
sedangkan laki-laki menggunakan bahasa untuk mendapat kemandirian diri
aktivitas bermainnya, di mana jika mereka ingin berteman maka mereka
melakukannya dengan bermain.
G. Pengetahuan

Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan.


Seseorang yang tingkat pengetahuannya rendah akan sulit merespon
pertanyaan yang mengandung bahasa verbal dibanding dengan tingkat
pengetahuan tinggi. Perawat perlu mengetahui tingkat pengetahuan klien
sehingga perawat dapat berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat
memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien.

11
H. Peran dan hubungan

Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang
berkomunikasi. Cara komunikasi seseorang perawat dengan koleganya,
dengan cara komunikasi seorang perawat pada klien akan berbeda
tergantung perannya. Demikian juga antara guru dengan murid.
I. Lingkungan

Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif.


Suasana bising, tidak ada privacy yang tepat akan menimbulkan kerancuan,
ketegangan dan ketidaknyamanan.
J. Jarak

Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu menyediakan


rasa aman dan kontrol. Dapat dimisalkan dengan individu yang merasa
terancam ketika seseorang tidak dikenal tiba-tiba berada pada jarak yang
sangat dekat dengan dirinya. Hal itu juga yang dialami oleh klien pada saat
pertama kali berinteraksi dengan perawat. Untuk itu perawat perlu
memperhitungkan jarak yang tepat pada saat melakukan hubungan dengan
klien.

2.5 Tipe Komunikasi

Ada beberapa tipe komunikasi yang sering digunakan oleh seorang


komunikator dalam berkomunikasi.
Berdasarkan penggunaan kata, pesan yang disampaikan oleh pengirim
kepada penerima dapat dikemas secara verbal dengan kata-kata atau nonverbal
tanpa kata-kata. Komunikasi yang pesannya dikemas secara verbal disebut
komunikasi verbal, sedangkan komunikasi yang pesannya dikemas secara
nonverbal disebut komunikasi nonverbal.
a. Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan

12
maupun tulisan. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar
manusia. Melalui kata-kata, komunikator mengungkapkan perasaan, emosi,
pemikiran, gagasan, atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi
serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat.
b. Komunikasi Non-verbal

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam


bentuk nonverbal, tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh
lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara
otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunikasi nonverbal
bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal biasanya bersifat spontan dan
lebih jujur mengungkapkan hal yang mau disampaikan. Termasuk pada komunikasi
non verbal seperti penampilan fisikm sikap tubuh, cara berjalan, ekspresi wajah, dan
sentuhan.

Berdasarkan media yang digunakan, komunikasi dapat berbentuk dua:

a. Komunikasi langsung

Komunikasi langsung merupakan komunikasi yang tidak menggunakan alat,


komunikasi berbentuk kata-kata, gerakan-gerakan yang berarti khusus dan
penggunaan isyarat, misalnya saat seseorang berbicara langsung pada orang lain
di hadapannya.
b. Komunikasi tidak langsung

Biasanya menggunakan alat dan mekanisme untuk melipatgandakan


jumlah penerima pesan (sasaran) ataupun untuk menghadapi hambatan
geografis dan waktu, misalnya menggunakan radio, buku, dll. Contoh:
Penggunaan poster ‘Buanglah Sampah pada Tempatnya’.

Berdasarkan jumlah orang yang terlibat dalam komunikasi, terdapat


empat tipe komunikasi, yaitu:

13
a. Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapersonal merupakan komunikasi yang dilakukan pada diri


sendiri yang terdiri atas sensasi, persepsi, memori, dan proses berpikir (Rahmad J.,
1996). Seorang individu menjadi pengirim pesan sekaligus penerima pesan dan
memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang
berkelanjutan.
b. Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal merupakan proses pengiriman dan penerimaan


pesan di antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang dengan berbagai
efek dan umpan balik yang bersifat langsung. Tipe komunikasi ini memiliki
karakteristik seperti, bersifat dua arah yang berarti melibatkan dua orang dalam
situasi interaksi, ada unsur dialogis dan ditujukan kepada sasaran terbatas dan
dikenal.
c. Komunikasi Publik

Cangara, H. (2004) mengatakan bahwa komunikasi publik merupakan suatu


prises komunikasi di mana pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara dalam
situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar dengan tujuan
menumbuhkan semangat kebersamaan, memberikan informasi, mendidik, serta
mempengaruhi orang lain dalam upaya menumbuhkan semangat. Pada tipe
komunikasi ini jarang dijumpai feedback, karena komunikasi bersifat searah.
d. Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah komunikasi yang berlangsung di mana pesan yang


dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang bersifat massal
melalui alat-alat yang bersifat mekanis. Komunikasi antara sumber dan
penerima tidak terjadi dengan kontak langsung. Unsur yang terkandung dalam
komunikasi untuk menyiarkan informasi, mendidik, dan menghibur. Pesan
yang disampaikan berlangsung cepat, serempak, luas, mampu mengatasi jarak

14
dan waktu, serta tahan lama bila didokumentasikan.

Berdasarkan sikap dan perilaku pemberi pesan, komunikasi dapat


berbentuk tiga tipe seperti berikut:

a. Komunikasi Agresif

Tipe komunikasi ini dapat mengurangi hak orang lain dan cenderung
merendahkan/ mengendalikan orang lain.
b. Komunikasi Pasif

Komunikasi ini merupakan lawan dari komunikasi agresif, di mana


seseorang cenderung untuk mengalah dan tidak mempertahankan
kepentingannya sendiri. Bahkan hak mereka cendrung dilanggar namun
dibiarkan.
c. Komunikasi Asertif

Komunikasi asertif adalah komunikasi yang terbuka, menghargai diri


sendiri, dan orang lain. Komunikasi ini tidak menaruh perhatian hanya pada
hasil akhir, tetapi juga hubungan perasaan antarmanusia.

2.6 Aplikasi Komunikasi dalam Praktik Keperawatan


Komunikasi dalam Praktik keperawatan profesional merupakan unsur
utama bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan untuk mencapai
hasil yang optimal. Kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi
meliputi :
K. Timbang terima/operan;

L. Interview/ anamnesa;

M. Komunikasi melalui komputer;

N. Komunikasi rahasia klien;

15
O. Komunikasi melalui sentuhan;

P. Komunikasi dalam pendokumentasian;

Q. Komunikasi antara perawat dan profesi kesehatan lainnya;

R. Komunikasi antara perawat dan pasien, pada saat melakukan tindakan


keperawatan atau pendidikan kesehatan.
Prinsip yang harus diterapkan oleh perawat pada komunikasi ini adalah:

A. Hindari komunikasi yang terlalu formal atau tidak tepat. Ciptakan suasana
yang hangat, kekeluargaan.
B. Hindari interupsi, atau gangguan yang timbul akibat dari lingkungan yang
gaduh.
C. Hindari respon dengan kata hanya “ya atau tidak”. Respon tersebut akan
mengakibatkan tidak berjalannya komunikasi dengan baik, karena perawat
kelihatan kurang tertarik dengan topik yang dibicarakan dan enggan untuk
berkomunikasi.
D. Jangan memonopoli pembicaraan.
E. Hindari hambatan personal. Jika perawat sebelum komunikasi
menunjukkan rasa tidak senang kepada klien, maka keadaan ini akan
berdampak terhadap hasil yang didapat selama proses komunikasi.

2.7 Komunikasi dalam Hubungan Terapeutik Perawat-Klien

Pada dasarnya sebelum suatu hubungan terjalin perlu sekali melakukan


analisa diri, khususnya perawat di sini terdapat 4 fokus analisa diri: kesadaran
diri, eksplorasi perasaan, klarifikasi nilai role model dan rasa tanggung jawab
Yang akan dibahas hanya kesadaran diri saja, selebihnya akan dibahas pada
hubungan terapeutik perawat-klien. Seorang Perawat perlu menyadari tentang
“siapa dirinya” atau kesadaran diri, di mana pada tingkatan ini diperlukan
komunikasi intrapersonal. Untuk menuju kesadaran diri diperlukan:

16
mempelajari diri sendiri, belajar dari orang lain, dan membuka diri, ini secara
tidak langsung akan mendorong seseorang untuk melakukan komunikasi
dengan orang lain/ komunikasi interpersonal.
Upaya meningkatkan kesadaran diri kadang menyakitkan dan tidak mudah,
khususnya jika ditemukan konflik dengan ideal diri seseorang. Untuk itulah kita
membutuhkan komunikasi sebagai alat. Perawat disini perlu memahami 4 fokus
analisa diri :
1. Kesadaran diri.

Kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri baik perilaku,


perasaan maupun pikirannya sendiri. Kesadaran diri dapat dilakukan dengan :
a. Mempelajari diri sendiri.

b. Belajar dari orang lain.

c. Membuka diri.

2. Eksplorasi perasaan

Eksplorasi perasaan dilakukan terhadap hubungan seseorang dengan


lingkungan luar/interaksinya dengan orang lain. Dengan menyadari perasaan
kita sebelum bertemu dengan orang lain kita akan menyadari bahwa kita
mungkin merasa cemas, bahwa nanti kecemasan itu akan membuat kita
berkeringat sangat banyak, sehingga kita perlu mengantisipasinya dengan
membawa saputangan misalnya. Bagi perawat, eksplorasi perasaan merupakan
hal yang perlu dilakukan agar perawat terbuka dan sadar terhadap perasaannya
sehingga dia dapat mengontrol perasaanya agar ia dapat menggunakan dirinya
secara terapeutik
3. Klarifikasi nilai.

Nilai adalah konsep dimana seseorang memiliki standar mengenai hal-hal


yg pantas dilakukan (Stuart&Sundeen, 1995). Klarifikasi nilai perlu dilakukan
karena nilai itu bermacam-macam, dan dari sinilah seorang yang proaktif

17
mendasarkan pemilihan responnya. Pemilihan respon perlu didasarkan pada
nilai, nilai/standar perilaku yg pantas tersebut bila ditetapkan sebagai prinsip
maka nilai akan menjadi pusat kehidupan.
4. Role model dan rasa tanggung jawab.

Perawat dapat menjadi model apabila perawat tersebut dapat memenuhi


dan memuaskan kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, distress
atau pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang
sehat. Perawat dituntut dapat bertanggung jawab dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan berdasarkan kode etik yang ditetapkan.

2.8 Pengertian Gawat Darurat


Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan
medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut
(UU no 44 tahun 2009). Gawat darurat adalah Suatu keadaan yang terjadinya
mendadak mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan
penanganan / pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan
cepat. Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu maka korban akan
mati atau cacat / kehilangan anggota tubuhnya seumur hidup.

2.9 Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat


A. Klien Gawat Darurat

Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi
gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat)
bila tidak mendapat pertolongan secepatnya misalnya :sumbatan jalan napas
atau distress napas, luka tusuk dada/perut dengan shock dan sesak, hipotensi /
shock.

B. Pasien Gawat Darurat


Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan
terancam nyawanya dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak

18
mendapatkan pertolongan secepatnya. Bisanya di lambangkan dengan label
merah. Misalnya AMI (Acut Miocart Infac).

C. Pasien Gawat Tidak Darurat


Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan
darurat. Bisanya di lambangkan dengan label biru. Misalnya pasien dengan Ca
stadium akhir.

D. Pasien Darurat Tidak Gawat


Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa
dan anggota badannya. Bisanya di lambangkan dengan label kuning. Misalnya :
pasien Vulnus Lateratum tanpa pendarahan.

E. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat


Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Bisanya di
lambangkan dengan label hijau. Misalnya : pasien batuk, pilek.

F. Pasien Meninggal
Label hitam ( Pasien sudah meninggal, merupakan prioritas terakhir).
Adapun petugas triage di lakukan oleh dokter atau perawat senior yang
berpengalaman dan petugas triage juga bertanggung jawab dalam
operasi,pengawasan penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu.

Selain dari penjelasan di atas di butuhkan pemahaman dampak atau


psikologis pada saat keadaan gawat darurat. Aspek psikologis pada situasi gawat
darurat :

1. Cemas
Cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut
ditandai oleh rasa ketakutan, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala
otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya.
Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervariasi,
pada setiap orang tidak sama.

2. Histeris
Dalam penggunaan sehari-hari nya histeria menjelaskan akses emosi
yang tidak terkendali. Orang yang "histeris" sering kehilangan kontrol diri
karena ketakutan yang luar biasa karena suatu kejadian atau suatu kondisi.

19
3. Mudah marah
Hal ini terjadi apabila seseorang dalam kondisi gelisah dan tidak
tahu apa yang harus di perbuat

2.10 Komunikasi dalam SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat


Terpadu)
SPGDT (sistem penanggulangan gawat darurat terpadu) adalah suatu
sistem pelayanan penderita gawat darurat yang terdiri dari unsur pelayanan
pra rumah sakit, pelayanan di rumah sakit dan pelayanan antar rumah sakit.
Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is
life saving. yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum, awam
khusus, petugas medis, pelayanan ambulan gawat darurat dan sistem
komunikasi.

 Fase pra rumah sakit

Fase pelayanan pra rumah sakit adalah pelayanan kepada penderita gawat
darurat yang melibatkat masyarakat atau orang awam dan petugas kesehatan.
Pada umunya yang pertama yang menemukan penderita gawat darurat di
tempat musibah adalah masyarakat yang dikenal oleh orang awam. Oleh
karena bermanfaat bila orang awam diberi dan dilatih pengetahuan dan
keterampilan penanggulanganan gawat darurat. Komunikasi yang dilakukan
pada fase pra rumah sakit yaitu dengan meyakinkan warga bahwa seorang
perawat, mengecek kesadaran korban dengan memanggil nama korban,
menghubungi organisasi gawat darurat terdekat untuk pertolongan lanjut ke
rumah sakit.

Contoh : di jalan terjadi kecelakaan kemudian penderita gawat darurat


ditolong masyarakat yang telah mendapatkan pelatihan untuk gawat darurat,
warga tadi menolong penderita gawat darurat mengamankan korban di tempat
yang lebih aman, melakukan pertolongan di tempat kejadian seperti menolong
menghentikan pendarahan, kemudian melaporkan korban ke organisasi
pelayanan kegwatdaruratan terdekat, pengangkutan untuk pertolongan lanjut
dari tempat kejadian ke rumah sakit.

 Fase pelayanan rumah sakit

Fase pelayanan rumah sakit adalah fase pelayanan yang melibatkan

20
tenagan kesehatan yang dilakukan di dalam rumh sakit seperti pertolongan di
unit gawat darurat. Komunikasi yang dilakukan pada tahap ini sama dengan
komunikasi terapeutik, tetapi dalam hal ini tindakan yang cepat dan tepat
lebih utama dilakukan kepada korban.

Contoh : ada korban kecelakaan yang menglami pendarahan masuk ke


UGD, perawat menayakan identitas klien kemudian melakukan pemasangan
infus untuk menganti cairan yang keluar, dengan menjelaskan tujuan
pemasangan infus dengan sigkat dan jelas.

 Pelayanan antar rumah sakit ( rujukan )

Fase pelayanan antar rumah sakit ( rujukan ) adalah fase pelayanan


yang melibatkan petugas kesehatan dengan petugas kesehatan rumah sakit
lain atau rumah sakit satu dengan rumah sakit yang lain sebagai rujukan.
Tindakan ini dilakukan apabila korban membutuhkan penanganan lebih lanjut
tetapi rumah sakit yang pertama tidak bisa memberi pertolongan sehinga
dirujuk ke rumah sakit lain yang bisa menanggani korban tersebut.

Contoh : korban kecelakaan parah di bawa ke salah satu rumah sakit


tetap dirumahsakit tersebut tidak terdapat peralatan yng harus digunakan
segera untuk pertolongan, kemudian rumahsakit tersebut menghubungi rumah
sakit lain yang lebih cepat menangani, setelah itu pasien di kirim ke rumah
sakit yang telah di hubungi tadi.

2.11 Tujuan Komunikasi pada Klien Gawat Darurat


Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan
kerjasama antar perawat dan klien melalui hubungan perawat dan klien.
Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji
masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan
(Purwanto, 1994). Tujuan komunikasi terapeutik pada klien gawat darurat
menciptakan kepercayaan antara perawat dengan klien yang mengalami
kondisi kritis atau gawat darurat dalam melakakan tindakan, sehingga klien
cepat tertolong dan tidak terjadi hal yang fatal. Upaya pelayanan komunikasi
medik untuk penangguangan penderita gawat darurat pada dasarnya pelayanan
komunikasi di sektor kesehatan terdiri dari:

21
1. Komunikasi kesehatan

Sistem komunikasi ini digunakan. untuk menunjang pelayanan kesehatan


di bidang administrative.

2. Komunikasi medis
Sistem komunikasi ini digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan
di bidang teknis-medis.

a. Tujuan

Untuk mempermudah dan mempercepat penyampaian dan


penerimaan informasi datam rnenanggulangi penderita gawat darurat.

b. Fungsi komunikasi medis dalam penanggulangan penderita gawat darurat


adalah:

1.Untuk memudahkan masyarakat dalam meminta pertolongan kesarana


kesehatan (akses kedalam sistim GD)

2.Untuk mengatur dan membimbing pertolongan medis yang diberikan di tempat


kejadian dan selama perjalanan kesarana kesehatan yang lebih memadai.

3.Untuk mengatur dan memonitor rujukan penderita gawat darurat dan


puskesmas ke rumah sakit atau antar rumah sakit.

4.Untuk mengkordinir penanganan medik korban bencana.


2.12 Fase-Fase Dalam Komunikasi Terapeutik Gawat Darurat
Fase komunikasi terapeutik terdiri dari 4 fase, yaitu :
1. Fase Pra-Interaksi
Fase pra-interaksi dimulai sebelum kontak pertama dengan klien.
Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya sehingga
kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien
dapat dipertanggungjawabkan. Pra-interaksi :

22
A. Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri.
B. Analisa kekuatan-kelemahan professional.
C. Dapatkan data tentang klien jika mungkin.
D. Rencanakan pertemuan pertama.

2. Fase Orientasi
Tahap dimana seorang perawat menggali keluhan-keluhan yang
dirasakan oleh klien atau pasien dengan tanda dan gejala yang lain untuk
memperkuat diagnosa keperawatan. Fase orientasi terdiri dari:

A. Pengenalan
B. Persetujuan Komunikasi
C. Program Orientasi yang meliputi :
- Penentuan batas hubungan
- Pengidentifikasian masalah
- Mengkaji tingkat kecemasan diri sendiri dan pasien
- Mengkaji apa yang diharapkan

3. Fase Kerja
Fase kerja ini perawat mengimplementasikan rencana keperawatan yang
dibuat pada tahap orientasi, perawat juga membantu klien mengatasi
kecemasan, meningkatan kemandirian dan tanggungjawab diri sendiri.

4. Fase Terminasi
Fase terminasi merupakan fase persiapan mental untuk membuat
perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang telah didapatkan. Dan
juga berfungsi untuk mengantisipasi masalah yang akan timbul. Pada tahap
ini interaksi akan diakhiri.

23
2.13 Prinsip Komunikasi Gawat Darurat
Ciptakan lingkungan terapeutik dengan menunjukan prilaku dan sikap seperti:

a. Caring ( sikap pengasuhan yang ditunjukan peduli dan selalu


ingin memberikan bantuan)
b. Acceptance (menerima pasien apa adanya)
c. Respect (hormati keyakinan pasien apa adanya)
d. Empaty (merasakan perasaan pasien)
e. Trust (memberi kepercayaan)
f. Integrity (berpegang pada prinsip profesional yang kokoh)
g. Identifikasikan bantuan yang diperlukan
h. Terapkan teknik komunikasi: terfokus, bertanya, dan validasi
i. Bahasa yang mudah dimengerti
j. Pastikan hubungan profesional dimengerti oleh pasien/keluarga
k. Motivasi dan hargai pendapat & respon klien
l. Hindari: menyalahkan, memojokkan, dan memberikan sebutan yang negatif.

2.14 Teknik Komunikasi Gawat Darurat


1. Mendengar aktif
Adalah konsentrasi aktif dan persepsi terhadap pesan orang lain yang
menggunakan semua indra. Menurut Ellis (1994) mendengarkan orang lain
dengan penuh perhatian akan menunjukkan pada orang lain bahwa apa
yang dikatakannya adalah penting dan dia adalah orang penting.
Mendengarkan juga menunjukkan pesan “anda bernilai untuk saya” dan
“saya tertarik padamu”.

2. Mendengar pasif
Adalah kegiatan mendengar dengan kegiatan non verbal untuk klien.
Misalnya dengan kontak mata, menganggukkan kepala dan juga
keikutsertaan secara verbal, misalnya “uh huuh”, ‘mmhumm”, “yeah”.

24
3. Penerimaan
Adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku
yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan
berarti persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar
tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Dikarenakan hal
tersebut, perawat harus sadar terhadap ekspresi non verbal. Bagi perawat
perlu menghindari : memutar mata keatas, menggelengkan kepala,
menurut/memandang dengan muka masam pada saat berinteraksi dengan
klien.
Beberapa cara untuk menunjukkan penerimaan (Potter & Perry,1993) :
a. Mendengar tanpa memotong pembicaraan
b. Menyediakan umpan balik yang menunjukkan pengertian
c. Yakin bahwa tanda non verbal sesuai dengan verbal
d. Hindari mendebat, mengekspresikan keraguan atau usaha untuk
merubah pikiran klien.

Tujuh cara untuk memfasilitasi agar memperoleh kemampuan


“penerimaan” (Bolton cit. Rungapadiachy, 1999) :
a. Tidak seorangpun dapat diterima secara sempurna

b. Beberapa orang cenderung lebih diterima daripada orang lain

c. Tingkat penerimaan seseorang terus menerus berganti

d. Adalah sangat alami untuk mempunyai sesuatu yang difavoritkan.


e. Setiap orang dapat lebih menerima
f. Penerimaan yang berpura-pura adalah suatu hal yang berbahaya untuk
suatu hubungan interpersonal.
g. Penerimaan tidak sama dengan persetujuan. Contoh :
Klien :“Saya telah melakukan beberapa kesalahan”
Perawat :“Saya ingin mendengar tentang itu. Tidak apa-apa jika anda

25
ingin mendiskusikan hal ini dengan saya.”
4. Klarifikasi
Klarifikasi sama denga validasi yaitu menanyakan pada klien apa
yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada.
Misalnya :
Klien :“Saya seperti patung saja disini.”
Perawat :“Mari kita lihat apakah saya mengerti apa yang bapak maksud
dengan “patung”.
5. Focusing
adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area
diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti (Stuart
& Sundeen, 1995).
6. Observasi
Observasi merupakan kegiatan mengamati klien, kegiatan ini
dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.
7. Menawarkan informasi
Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan
respon lebih lanjut. Keuntungan dari tehnik ini adalah akan memfasilitasi
komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan dan memfasilitasi klien
untuk mengambil keputusan. Perawat sebaiknya menghindari pemberian
nasehat pada saat pemberian informasi.
8. Diam (memelihara ketenangan)
Diam dilakukan dengan tujuan untuk mengorganisir pemikiran,
memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk
menunggu respon.

9. Assertive
Kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman
mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai

26
hak orang lain.
Komunikasi assertive (Smith, 1992) :
a. Mampu menggunakan berbagai strategi komunikasi untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tertentu yang secara
terus menerus melindungi hak diri dan orang lain.
b. Memiliki perilaku yang positif mengenai komunikasi dengan jujur/terus
terang dan adil.
c. Merasa nyaman dalam mengontrol perasaan negatif misalnya cemas,
tegang, malu atau takut.
d. Merasa yakin bahwa anda dapat melakukan sendiri dengan jalan tetap
menghormati diri dan orang lain.
e. Menjaga hak diri dan orang lain sama pentingnya.

Tahap – tahap menjadi lebih assertive :


a. Menggunakan kata “tidak” sesuai kebutuhan
b. Mengkomunikasikan maksud dengan jelas
c. Mengembangkan kemampuan mendengar
d. Pengungkapan komunikasi disertai bahasa tubuh yang tepat
e. Meningkatkan kepercayaan diri dan gambaran diri
f. Menerima kritik dengan ramah
g. Belajar terus menerus
10. Menyimpulkan
a. Membawa poin – poin penting dari diskusi untuk meningkatkan
pemahaman
b. Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama
dengan ide dalam pikiran (Varcarolis,1990)
11. Giving recognition (memberi pengakuan/penghargaan.
Memberi penghargaan merupakan tehnik untuk memberikan

27
pengakuan dan menandakan kesadaran (Schult & Videbeck,1998).
Misalnya, Perawat : “Saya melihat anda sudah bisa memakai baju dengan
rapi hari ini”, “Saya melihat anda tampak segar dan bersih hari ini”.
12. Offering self (menawarkan diri)
adalah menyediakan diri tanpa respon bersyarat atau respon yang
diharapkan (Schult Videbeck,1998).
Misalnya, Perawat : “Aku akan duduk menemanimu selama 15 menit.”
13. Offering general leads (memberi petunjuk umum)
Mendukung klien untuk meneruskan (Schult &
Videbeck,1998). Misalnya : “Dan kemudian?”, “Teruskan…”.
14. Giving broad opening (memberi pertanyaan terbuka)
Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi
topik yang akan dibicarakan.
Misalnya : “Darimana anda akan mulai?”Apa yang anda pikirkan pagi ini?”.
Kegiatan ini akan bernilai apabila klien menunjukkan penerimaan dan nilai
dari inisiatif klien dan akan menjadi non terapeutik apabila perawat
mendominasi interaksi dan menolak respon klien.
15. Placing the time in time (menempatkan urutan/waktu)
Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu
kejadian dengan kejadian lain (Schult & Videbeck,1998). Misalnya : “Hal
itu terjadi sebelum atau sesudah?…Apa yang terjadi sebelumnya?”.
16. Encourage descrip. of perception (mendukung deskripsi dari persepsi)
Meminta pada klien mengungkapkan secara verbal apa yang
dirasakan atau diterima (Schult & Videbeck,1998). Misalnya : “Apa yang
terjadi?Ceritakan apa yang anda alami?”
17. Encourage comparison (mendukung perbandingan)
Menanyakan pada klien mengenai kesamaan atau perbedaan (Schult
& Videbeck, 1998). Misalnya: “Apakah hai ini pernah terjadi sebelumnya?
Apakah hal ini mengingatkanmu pada sesuatu hal?”

28
18. Restating (mengulang)
Pengulangan pikiran utama yang diekspresikan klien (Stuart &
Sundeen, 1995). Misalnya: “Anda berkata bahwa ibu Anda meninggalkan
Anda saat Anda berumur 5 tahun”. Teknik ini bernilai terapeutik ditandai
dengan perawat mendengar dan melakukan validasi, mendukung klien dan
memberikan perhatian terhadap apa yang baru saja dikatakan klien. Teknik
ini juga bisa digunakan pada saat kita akan klarifikasi, misalnya :

Klien: “Saya benci tempat ini. Saya tidak betah di sini!”

Perawat: “Anda tidak ingin ada di sini?”


19. Reflecting (refleksi)
Mengembalikan pikiran dan perasaan klien (Schult & Videbeck,
1998). Mengembalikan ide, perasaan dan pertanyaan kepada klien (Stuart &
Sundeen, 1995). Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat
tentang penilaian atau persetujuan. Misalnya: Klien: “haruskah saya pulang
akhir minggu ini?” Perawat: “menurut Anda haruskah Anda pulang akhir
minggu ini?”
20. Exploring (eksplorasi)
Mempelajari suatu topik lebih mendalam. Misalnya: “ceritakan pada
tentang apa yang telah Anda gambarkan tadi”.
21. Presenting reality (menghadirkan realitas/ kenyataan)
Menyediakan informasi dengan perilaku yang tidak menilai.
Misalnya: “Saya tidak mendengar seorang pun bicara”, “Saya adalah yang
merawat Anda”, “Ini adalah rumah sakit”.
22. Voucing doubt (menyelipkan keraguan)

Menyelipkan persepsi perawat mengenai realitas. Misalnya: “Saya


melihat bahwa hal itu sulit untuk dipercaya.” Teknik ini digunakan pada
saat perawat ingin member petunjuk pada klien mengenai penjelasan lain.

29
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi yang dilakukan kepada pasien yang dalam kondisi gawat
darurat yaitu dengan komunikasi seperti komunikasi terapiotik lain, tetapi
dalam hal ini yang lebih di utamakan dalam mengatasi gawat darurat adalah
tindakan yang akan diberikan kepada pasien harus lebih cepat dan tepat.
Komunikasi terapeutik yang dilakukan pada keadaan gawat darurat juga juga
perlu untuk memperhatika prinsip dan teknik untuk mencapai tujuan dari
komunikasi dalam keadaan gawat darurat..

3.2 Saran
Diharapkan kita sebagai calon perawat bisa professional dalam melakukan
komunikasi terapeutik pada saat dilapangan. Sehingga pasien yang kita tangani
merasa nyaman saat kita rawat.

30
DAFTAR PUSTAKA
Devito,Joseph. 1997. Komunikasi Antar manusia. Jakarta : Professional Book.

Djuarsa, sasa. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta : Universitas Terbuka Effendy,

Onong. 2000. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi.Bandung : PT.Rosdakarya

Farouk.2004. Praktik Ilmu Komunikasi. Teraju

Freska, Windy. Maisa, Estika Mariani. Sarfika, Rika. 2018. Buku Ajar Keperawatan
Dasar 2 Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan. Padang: Andalas University Press.

31
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

32
DAFTAR PUSTAKA

33