Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA LANSIA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunikasi Dalam Keperawatan II


Dosen Pembimbing: Raihany Sholihatul Mukaromah S.Kep., Ners, M.Kep

Disusun Oleh:

Bioseffa Oktavia 191FK03127


Dini Oktaviani 191FK03126
Inda Wulandari 191FK03117
Nisa Rahmawati 191FK03123
Muhammad Fadhil Fadhlurrahman AK118111

Kelompok 3 Kelas Kecil I


Kelas C Tingkat I

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Komunikasi
Dalam Keperawatan II yang berjudul ”Makalah Komunikasi Terapeutik pada
Lansia”
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya dosen
pembimbing kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bandung, 20 April 2020

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................3
1.1 Latar Belakang...................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................4
1.3 Tujuan................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................5
2.1 Prinsip Komunikasi Terapeutik pada Klien Lansia...........................................5
2.2. Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Lansia....................................................5
2.3 Strategi Komunikasi pada Klien Lansia dan Keluarga......................................6
2.3 Strategi Komunikasi pada Klien Lansia.............................................................9
BAB III PENUTUP................................................................................................13
3.1 Kesimpulan......................................................................................................13
3.2 Saran.................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................14

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan
seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan kontrak
dengan oran lain karena komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang
seringkali salah  berpikir bawa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun
sebenarnya adalah proses yang kompleks yang melibatkan tingkah laku dan
hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi dengan orang lain dan
dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus
berlangsung secara dinamis yang maknanya dipacu dan ditransmisikan. Untuk
memperbaiki interpretasi pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru
dan mengurangi kebisingan dan distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah
dimengerti dipakai untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali
telah lupa atau ada kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran.
Instruksi yang berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien
dan sering sangat membantu. (Bruner & Suddart, 2001: 188). Mengingat usia
individu tidak dapat dielakkan terus bertambah dan berlangsung konstan dari lahir
sampai mati, sedangkan penuaan dalam masyarakat tidak seperti itu,  proporsi
populasi lansia relatif meningat di banding populasi usia muda. Pertumbuhan
jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di
dunia. Jumlah lansia yang kini sekitar 16 juta orang, akan menjadi 25,5 juta pada
tahun 2020, atau sebesar 11,37 persen dari jumlah penduduk. Itu berarti jumlah
lansia di Indonesia akan berada di peringkat empat dunia, di bawah Cina, India,
dan Amerika Serikat. Terdapat banyak bukti bahwa kesehatan yang optimal pada
pasien lanjut usia tidak hanya  bergantung pada kebutuhan biomedis akan tetapi
juga tergantung dari perhatian terhadap keadaan sosial, ekonomi, kultural dan
psikologis pasien tersebut. Walaupun pelayanan kesehatan secara medis pada

3
pasien lanjut usia telah cukup baik tetapi mereka tetap memerlukan komunikasi
yang baik serta empati sebagai bagian penting dalam  penanganan persoalan
kesehatan mereka. Komunikasi yang baik ini akan sangat membantu dalam
keterbatasan kapasitas fungsional, sosial, ekonomi, perilaku emosi yang labil pada
pasien lanjut usia (William et al  2007). Seseorang yang mengalami kepikunan,
mungkin mengalami kesulitan untuk mengerti apa yang dikatakan orang lain atau
untuk mengatakan apa yang pasien pikirkan dan inginkan. Hal ini sangat
mengecewakan dan membingungkan pasien dan pemberi asuhan.

1.2 Rumusan masalah


1 Apa saja Prinsip Komunikasi Terapeutik pada Klien Lansia?
2. Bagaimana Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Lansia?
3 Bagaimana Strategi Komunikasi pada Klien Lansia dan Keluarga?
3 Bagaimana Strategi Komunikasi pada Klien Lansia?

1.3 Tujuan
1.untuk mengetahui Prinsip Komunikasi Terapeutik pada Klien Lansia.
2.untuk mengetahui Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Lansia.
3.untuk mengetahui Strategi Komunikasi pada Klien Lansia dan Keluarga.
4.untuk mengetahui Strategi Komunikasi pada Klien Lansia.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip Komunikasi Terapeutik Pada Klien Lansia

1. Komunikasi pada lansia memerlukan pendekatan khusus. Pengetahuan


yang dianggapnya benar tidak mudah digantikan dengan pengetahuan baru
sehingga kepada orang lansia, tidak dapat diajarkan sesuatu yang baru.
2. Dalam berkomunikasi dengan lansia diperlukan pengetahuan tentang sikap-
sikap yang khas pada lansia. Gunakan perasaan dan pikiran lansia, bekerja
sama untuk menyelesaikan masalah dan memberikan kesempatan pada lansia
untuk mengungkapkan pengalaman dan memberi tanggapan sendiri terhadap
pengalaman tersebut.
3. Berkomunikasi dengan lansia memerlukan suasana yang saling hormat
menghormati, saling menghargai, saling percaya, dan saling terbuka

4. Penyampaian pesan langsung tanpa perantara, saling memengaruhi dan


dipengaruhi, komunikasi secara timbal balik secara langsung, serta
dilakukan secara berkesinambungan, tidak statis, dan selalu dinamis.
5. Kesulitan dalam berkomunikasi pada lanjut usia disebabkan oleh
berkurangnya fungsi organ komunikasi dan perubahan kognitif yang
berpengaruh pada tingkat intelegensia, kemampuan belajar, daya
memori, dan motivasi klien.

2.2 Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Klien Lansia

Teknik komunikasi terapeutik yang penting digunakan perawat menurut


Mundakir (2006) adalah asertif, responsif, fokus, supportif, klarifikasi, sabar, dan
ikhlas. Pada pasien lanjut usia, di samping karakteristik psikologis yang harus
dikenali, perawat juga harus memperhatikan perubahan-perubahan fisik,

5
psikologis atau sosial yang terjadi sebagai dampak proses menua. Penurunan
pendengaran, penglihatan dan daya ingat akan sangat mempengaruhi
komunikasi, dan hal ini harus diperhatikan oleh perawat.
Suasana komunikasi dengan lansia yang dapat menunjang tercapainya
tujuan yang harus anda perhatikan adalah adanya suasana saling menghormati,
saling menghargai, saling percaya, dan terbuka. Komunikasi verbal dan
nonverbal adalah bentuk komunikasi yang harus saling mendukung satu sama
lain. Seperti halnya komunikasi pada anak-anak, perilaku nonverbal sama
pentingnya pada orang dewasa dan juga lansia. Ekspresi wajah, gerakan tubuh
dan nada suara memberi tanda tentang status emosional dari orang dewasa dan
lansia.
“Lansia memiliki pengetahuan, pengalaman, sikap, dan ketrampilan
yang menetap dan sukar untuk dirubah dalam waktu singkat.”
“Memberi motivasi dan memberdayakan pengetahuan/pengalaman dan
sikap yang sudah dimiliki adalah hal yang penting untuk melakukan
komunikasi dengan lansia”

2.3 Strategi Komunikasi Pada Klien Lansia dan Keluarga

Stratetgi komunikasi pada lansia harus menggunakan pendekatan -


pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan fisik

Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif,


kebutuhan, kejadian kejadian yang dialami pasien lanjut usia semasa
hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang
masih bisa dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah
atau ditekan progresivitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi pasien
lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni pasien lanjut usia yang
masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan

6
orang lain sehingga untuk kebutuhan sehari-hari masih mampu
melakukan sendiri; pasien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun,
yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus
mengetahui dasar perawatan pasien lanjut usia ini terutama tentang hal-
hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk
mempertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan (personal
hygiene) sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan,
mengingat sumber infeksi dapat timbul bila keberihan kurang mendapat
perhatian.
2. Pendekatan Psikis

Perawat harus mempunyai peranan penting untuk mengadakan


pendekatan edukatif pada lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai
supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, dan sebagai
sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian
dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk
menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas.
Perawat harus selalu memegang prinsip “Triple S”, yaitu sabar, simpatik,
dan service. Bila perawat ingin mengubah tingkah laku dan pandangan
mereka terhadap kesehatan, perawat bisa melakukannya secara perlahan
dan bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah
pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak
menambah beban, bila perlu diusahakan agar dimasa lanjut usia ini mereka
dapat merasa puas dan bahagia.
3. Pendekatan Sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah
satu upaya perawat dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk
berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia berarti menciptakan
sosialisasi mereka. Pendekatan sosial ini merupakan suatu pegangan bagi

7
perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang
membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaannya, perawat dapat
menciptakan hubungan sosial antara lanjut usia dan lanjut usia maupun
lanjut usia dan perawat sendiri. Para lanjut usia perlu dirangsang untuk
mengetahui dunia luar, seperti menonton tv, mendengar radio, atau
membaca majalah dan surat kabar. Dapat disadari bahwa pendekatan
komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya
pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para
pasien lanjut usia.
4. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin
dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya, terutama
bila pasien lanjut usia dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.
Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi pasien lanjut usia yang
menghadapi kematian, Dr. Tony Setyabudhi mengemukakan bahwa
maut seringkali menggugah rasa takut. Rasa takut semacam ini didasari
oleh berbagai macam faktor, seperti tidakpastian akan pengalaman
selanjutnya, adanya rasa sakit atau penderitaan yang sering
menyertainya, kegelisahan untuk tidak kumpul lagi dengan keluarga atau
lingkungan sekitarnya.
Adapun 4 (empat) keharusan yang harus dimiliki oleh seorang
perawat, yaitu pengetahuan, ketulusan, semangat dan praktik. Dalam usaha
berkomunikasi dengan baik, seorang perawat harus mempunyai
pengetahuan yang cukup, sehingga memudahkan dalam melaksanakan
tugasnya setiap hari. Untuk ketulusan, jika seseorang telah memutuskan
sebagai perawat harus dapat dipastikan mempunyai ketulusan yang
mendalam bagi para pasiennya siapa pun itu. Semangat serta pantang
menyerah harus selalu dikobarkan setiap harinya agar para pasiennya selalu

8
ikut bersemangat pada akhirnya terutama bagi para pasien lansia yang
terkadang suka merasa dirinya “terbuang” dan “sakit karena tua”.
Sedangkan untuk praktiknya, seorang perawat harus dapat berbicara
komunikatif dengan para pasiennya, sehingga tidak saja hanya jago dalam
teori namun praktiknya pun harus bisa melakukan dengan baik dan benar.

2.4 Strategi Komunikasi Terapeutik Pada Klien Lansia

Kondisi Pasien Pasien ibu Sofi umur 68 tahun masuk rumah sakit (MRS)
dengan peradangan hati (hepar). Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan suhu
badan 380 C, banyak keluar keringat, kadang-kadang mual dan muntah. Palpasi
teraba hepar membesar. Pasien mengatakan bahwa diagnosis dokter salah,
“Dokter salah mendiagnosa, tidak mungkin saya sakit yang demikian karena saya
selalu menjaga kesehatan”, Pasien menolak pengobatan dan tidak mau dirawat.
Pasien yakin bahwa dia sehat-sehat saja dan tidak perlu perawatan dan
pengobatan.
Diagnosis/Masalah Keperawatan: Denial (Penolakan)
Rencana Keperawatan:
a. Istirahatkan pasien di atas tempat tidur (bedrest).

b. Tingkatkan pemahaman pasien terkait kesehatannya.

c. Diskusikan masalah yang dihadapi dan proses terapi selama di Rumah


Sakit (RS).
Tujuan : Pasien menerima sakitnya dan kooperatif selama perawatan dan
pengobatan.

Strategi Komunikasi

1. Fase Orientasi

Salam terapeutik:

Perawat : “Selamat pagi. Saya Ibu Tri. Apa benar saya dengan Ibu Sofi?”

9
(mendekat ke arah pasien dan mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan).
Pasien menjabat tangan perawat dan menjawab “selamat pagi”.
Evaluasi dan Validasi :

Perawat : “Apa kabar Ibu? Bagaimana perasaan hari ini? Ibu sepertinya
tampak lelah?”
Pasien : “Saya sehat-sehat saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan terhadap
diri saya”.

Perawat : Tersenyum sambil memegang tangan pasien.

Kontrak:

Perawat : “Ibu, saya ingin mendiskusikan masalah kesehatan ibu supaya kondisi
ibu lebih baik dari sekarang”.
Pasien : “Iya, tapi benarkan saya tidak sakit? Saya selalu sehat”.

Perawat : (Tersenyum)...”Nanti kita diskusikan. Waktunya 15 menit saja ya”. “Ibu


mau tempatnya yang nyaman di mana? Baik di sini saja ya”.

2. Fase Kerja:

(Tuliskan kata-kata sesuai Tujuan dan Rencana yang Akan Dicapai/


Dilakukan)
Perawat : “Saya berharap sementara ini, ibu mau istirahat dulu untuk beberapa
hari di rumah sakit. Batasi aktivitas dan tidak boleh terlalu lelah”.
Pasien : “Saya kan tidak apa-apa... kenapa harus istirahat? Saya tidak bisa
hanya diam/duduk saja seperti ini. Saya sudah biasa beraktivitas dan
melakukan tugas-tugas soasial di masyarakat”.
Perawat : “Saya sangat memahami aktivitas ibu dan saya sangat bangga
dengan kegiatan ibu yang selalu semangat”.
Pasien : (mendengarkan) Perawat : “Ibu juga harus memahami bahwa setiap

10
manusia mempunyai keterbatasan kemampuan dan kekuatan (menunggu
respons pasien)”.
Perawat : “Saya ingin tahu, apa alasan keluarga membawa ibu ke rumah sakit ini?”

Pasien : “Badan saya panas, mual, muntah dan perut sering kembung. Tapi itu
sudah biasa, tidak perlu ke rumah sakit sudah sembuh”.
Perawat : “Terus, apa yang membuat keluarga khawatir sehingga ibu diantar
ke rumah sakit?” Pasien : “Saya muntah muntah dan badan saya lemas
kemudian pingsan sebentar”.
Perawat : “Menurut pendapat ibu kalau sampai pingsan, berarti tubuh ibu
masih kuat atau sudah menurun kekuatannya?”
Pasien : “Iya, berarti tubuh saya sudah tidak mampu ya, berarti saya harus
istirahat?” Perawat : “Menurut ibu, perlu istirahat apa tidak?”
Pasien : “Berapa lama saya harus istirahat? Kalau di rumah sakit ini jangan
lamalama ya?”
Perawat : “Lama dan tidaknya perawatan, tergantung dari ibu sendiri”. “Kalau
ibu kooperatif selama perawatan, mengikuti anjuran dan menjalani terapi
sesuai program, semoga tidak akan lama ibu di rumah sakit”.
Pasien : “Baiklah saya bersedia mengikuti anjuran perawat dan dokter, dan
akan mengikuti proses terapi dengan baik”.
Perawat : “Terima kasih, ibu telah mengambil keputusan terbaik untuk ibu sendiri.
Semoga cepat sembuh ya”.

3. Fase Terminasi:

Evaluasi subjektif/objektif : “Bagaimana perasaan ibu sekarang?” “Sekarang


Jelaskan kenapa ibu harus istirahat dulu untuk sementara ini!”

Rencana tindak lanjut : “Saya berharap ibu bisa kooperatif selama di rawat.
Ibu harus istirahat dan tidak boleh banyak aktivitas, makan sesuai dengan diet

11
yang disediakan, dan minum obat secara teratur”.
Kontrak yang akan datang : “Satu jam lagi saya akan kembali untuk
memastikan bahwa Ibu telah menghabiskan makan ibu dan minum obat sesuai
program. Sampai jumpa nanti, ya. Selamat siang”.

12
BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan

Kesehatan yang optimal pada pasien lanjut usia atau selanjutnya penulis
sebut sebagai lansia tidak hanya bergantung kepada kebutuhan biomedis semata
namun juga bergantung kepada kondisi disekitarnya, seperti perhatian yang lebih
terhadap keadaan sosialnya, ekonominya, kulturalnya bahkan psikologisnya dari
pasien tersebut. Hubungan saling memberi dan menerima antara perawat dan
pasien dalam pelayanan keperawatan disebut sebagai komunikasi terapeutik
perawat yang merupakan komunikasi profesional perawat. Komunikasi antara
perawat dan pasien lansia harus berjalan efektif terutama bagi pasien lansia karena
mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan dari pasien lansia tersebut.
Komunikasi yang baik dengan pasien adalah kunci keberhasilan untuk masalah
klinisnya. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan
secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi
terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi
antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya
menangkap reaksi orang lain sacara langsung, baik secara verbal dan nonverbal.

3.2 Saran
Setelah membuat makalah ini, agar pembaca menjadi tahu tentang
perkembangan yang terjadi pada lansia. Lansia adalah masa dimana seseorang
mengalami kemunduran, dimana fungsi tubuh kita sudah tidak optimal lagi. Oleh
karena itu sebaiknya sejak muda kita persiapkan dengan sebaik – sebaiknya masa
tua kita. Gunakan masa muda dengan kegiatan yang bermanfaat agar tidak
menyesal di masa tua.

13
DAFTAR PUSTAKA
Freska, Windy. Maisa, Estika Mariani. Sarfika, Rika. 2018. Buku Ajar Keperawatan
Dasar 2 Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan. Padang: Andalas University Press.

14