Anda di halaman 1dari 41

Dr.Mahanani Tri Asri, M.Si.

I. 1 Difinisi Limbah
Bahan untuk
pemeliharaan
alat
Kemasan
bekas

Sisa/hasil
samping

Bahan awal Proses


Bahan kimia
kadaluarsa

Limbah
Definisi Limbah
Limbah = produk buangan
yang telah dipakai
Limbah bahan kimia =
buangan bahan kimia yang
telah dipakai, campuran
bahan kimia, barang yang
belum dipakai namun
sudah rusak
I. 2 Jenis Limbah

B3 (Bahan
Non-B3
beracun dan
berbahaya)
KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM
PENGENALAN B3
(Bahan Berbahaya dan Beracun)

Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 :


Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya
disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat
dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,
dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lainnya.
Checklist Jenis Limbah
Limbah Bahan Kimia
Penggunaan Bahan Kimia
Merupakan salah satu sumber penghasil limbah cair,
padat dan gas yang berbahaya bila tidak ditangani
secara benar.
Sumber Limbah
 Bahan baku kadaluarsa
 Bahan habis pakai (medium biakan yang tidak
terpakai)
 Produk proses di laboratorium (sisa spesimen)
 Produk upaya penanganan limbah (jarum
suntik sekali pakai setelah disterilkan)
laboratorium klinik
Tahapan Identifikasi Limbah
Mencocokkan jenis limbah B3 atau bukan.
Bila tidak cocok, periksa karakteristik limbah;
- Mudah meladak (organik,peroksida)
- Mudah terbakar (flash point <600C)
- Reaktif
- Beracun (LD 50 <50mg/kg BB)
- Menyebabkan Infeksi
- Bersifat Korosif
Bila tidak cocok, lakukan uji toksikologi dengan LD50
dibawah ambang batas yang telah ditetapkan
Limbah B3
UURI No.23 th.1997 Ps.1 Bt.17 dan PP No. 18 jo PP 85 th.1999

Adalah setiap limbah yang mengandung B3 karena:

Sifatnya (Hg)
Konsentrasinya (Cu)
Jumlahnya (kuantitas)

Langsung Tidak langsung

dapat mencemari, merusak,


membahayakan: lingkungan hidup,
kesehatan dan kelangsungan
hidup manusia/ makhluk hidup lain
II.1 Karakteristik limbah B3
 Mudah meledak (eksplosif) (misal : bahan peledak)
 Mudah terbakar ( misal: bahan bakar, solven) pengamatan secara
 Bersifat reaktif (misal: bahan-bahan oksidator) langsung, yang dapat
 Menyebabkan infeksi : (limbah bakteri/rumah sakit) seketika maupun
 Bersifat korosif (asam kuat) menunggu beberapa
 Bersifat irritatif (basa kuat) waktU

 Berbahaya/harmful (misal logam berat)


 Beracun (HCN, Cr(VI)) uji toksikologi
 Karsinogenik, Mutagenik dan Teratogenik uji sifat akut
(merkuri, turunan benzena) uji sifat kronis
 Bahan Radioaktif (Uranium, plutonium,dll)
Penyimpanan dan Penanganan Bahan Kimia Berbahaya
dan Beracun
Kagori Bahan Kimia Peyimpanan/Penanganan
Simpan asam kuat dan bassa secara terpisah dalam pemisah terbuat dari
Zat Asam dan Bassa
bahan anti korosif.
Bahan Kimia
Bahan Kimia Simpan pengoksidasi jauh dari alkali, azida, nitrit, bahan organik
yang saling
Pengoksidasi (termasuk asam aseton), bubuk logam dan carbon aktif.
berlawanan
Campuran Air- Simpan secara terpisah dari bahan-bahan kimia tersebut selama
pereaksi penyimpanan dan pemakaian.
Pada saat cairan azide dimasukkan kedalam saluran, campuran cairan
bisa bereaksi dengan pipa timah dan tembaga dan akan menimbulkan lead
Logam Azides
explosive atau copper azide salts. Apabila anda harus menggunakan
cairan azide, ganti pipa logan dengan bahan PVC atau bahan pipa selain

Bahan kimia Eter dan bahan


Bahan in adalah bahan kimia yang sangat berbahaya, dan disarankan
yang kimia pembentuk
untuk tidak menggunakannya
cenderung Peroksida lainnya
mudah
Logam Picrats and
meledak idem
Asam Picric

Asam Perchloric idem

Cairan Pembersih
idem
Ammonical Siver
III. 1 Fase Limbah B3
Cair
Gas Padat

Sludge, protein,
asam, basa, zat warna,
Endapan kimia, adsorben
SO2, NO2 ,H2S, NH3, solven organik, ion logam,
Bahan kimia kadaluarsa
Debu C, Pb atau Hg anion, zat organik
III. 2 Sumber/penghasil Limbah B3

Kendaraan bermotor Domestik


Industri

Pertambangan Rumah sakit Laboratorium


III. Dampak Limbah B3 (seringkali
senyawa/unsur ini ada di laboratorium)

No Unsur Sumber dan cara penyebaran Efek yang ditimbulkan


logam Alamiah Kegiatan manusia
1 Arsen Pelapukan batuan Proses pertambangan, Sangat beracun
(As) sulfida dan emisi gas Industri insektisida
panas bumi arsenik, dan Pembakaran
bahan bakar minyak dan
gas
2 Barium Pelarutan mineral barit Limbah industri cat dan Konsumsi dalam waktu lama
(Ba) (BaSO4) kertas, dan proses menyebabkan gangguan otot
pengeboran dan jantung, dan merusak
ginjal
3 Besi (Fe) Pelarutan kulit bumi dan Air limbah elektroplating Menurunkan estetika (air
bijih besi keruh dan bau amis, warna
coklat pada baju )
4 Kadmium Pelepasan dari sel Limbah industri cat, Menyebabkan karapuhan
(Cd) mikroorganisme baterai, dan plastik, dan tulang dan nyeri dengan
proses elektroplating intensitas tinggi, serta
beracun
5 Kobal - Air limbah industri cat dan Konsentrasi tinggi beracun
(Co) tekstil, dan emisi
pembakaran mineral
No Unsur Sumber dan cara penyebaran Efek yang
logam Alamiah Kegiatan manusia ditimbulkan

6 Kromium - Air limbah elektroplating, Gangguan kulit,


heksavalen penyamakan kulit, kerusakan liver dan
(Cr (VI)) industri tekstil dan karsinogenik
pembuatan cat.
7 Mangan Pelarutan mineral Industri pembuatan -
(Mn) baterai
8 Merkuri (Hg) Emisi gas panas bumi Limbah industri Beracun dan merusak
pembuatan termometer, sistem syaraf
lampu, baterai,
pembasmi serangga, dan
soda kostik, dan
ekstraksi emas dan perak
9 Nikel (Ni) Pelarutan kulit bumi Air limbah proses Karsinogenik
elektroplating, dan
pembuatan baterai
kering
10 Tembaga Pelarutan mineral Air limbah proses Beracun bagi biota
(Cu) kalkopirit (CuFeS) dan elektroplating, industri dan ikan. Konsentrasi
atau malasit pembuatan soda kostik, tinggi menyhebabkan
(Cu(OH)2CuCO3) cat, dan pestisida, dan iritasi
kegiatan pertambangan
No Unsur logam Sumber dan cara penyebaran Efek yang
ditimbulkan
Alamiah Kegiatan manusia

11 Timbal (Pb) Pelarutan Industri pembuatan Kerusakan otak dan


batuan galena cat dan soda kostik, ginjal
(PbS) dan kegiatan
pertambangan,
serta emisi
kendaraan
bermotor

12 Selenium - Industri pembuatan Beracun jika dihirup


(Se) komponen listrik

13 Zenk (Zn) Pelepasan dari Air limbah proses Tidak beracun bagi
sel biota elektroplating, manusia dan ikan
industri pembuatan
cat, baterai, dan
soda kostik
Pembuangan limbah tanpa ijin dan menimbulkan pencemaran
lingkungan

Udara Tanah
Air

 Adalah tindakan kriminal !

Limbah harus dikelola dengan benar !


Cara zat kimia menyakiti manusia
•Inhalation/Menghirup
•Kontak dengan kulit
•Tertelan
IV Pengelolaan Limbah B3
 PP 18 jo PP 85 th 1999 :
 Meliputi :
 Reduksi/pengurangan limbah B3.
 Penyimpanan limbah B3
 Pengumpulan limbah B3
 Pengangkutan limbah B3
 Pemanfaatan limbah B3
 Pengolahan limbah B3
 Perlakuan/treatmen hasil pengolahan limbah B3
IV.1 Pengelolaan Limbah Laboratorium

 Reduksi limbah :
 Pengurangan Jumlah zat kimia yang
digunakan  resep yang lebih kecil
 Pengurangan Jenis B3  pemilihan
prosedur yang sesuai
dalam kegiatan praktikum, penelitian,
dan pelayanan analisis
Pemanfaatan : 3 R
 Pemanfaatan : 3 R
 Reuse : penggunaan kembali
 Recovery : perolehan kembali
 Recycle : daur ulang
Tujuan :
mengubah limbah B3 menjadi produk yang dapat
digunakan namun tetap aman bagi lingkungan dan
kesehatan

PENGOLAHAN LIMBAH B3
 Gas
 Cair
 Padat
 Gas
 Partikel debu :

Dust collector
 Limbah Cair

Koagulasi -Flokulasi -Sedimentasi

koagulan

jernih
koloid
Flok

•Limbah yang keruh oleh koloid/padatan


yang sangat halus sulit terdeposit
•Jenis B3 dalam limbah tidak spesifik
•Penambahan koagulan : tawas atau polimer
 Adsorpsi
Adsorben :

Jenis limbah : ion logam berat,


zat warna, polutan organik

Adsorben

Zeolit

Jernih
Karbon aktif

Zat warna

Resin
Tempurung kelapa

Limbah zat warna

Air bersih
 Limbah padat anorganik : Solidifikasi/Stabilisasi

Tujuan :
Mengubah sifat fisik
dan kimia limbah B3
Limbah padat
Cara :
Penambahan
senyawa pengikat B3
agar pergerakan
senyawa B3 ini
terhambat atau
Lempung terbatasi dan
semen membentuk massa
monolit dengan
struktur yang kekar.
Monolit
 Limbah padat organik : insenerasi  pembakaran
terkontrol
Gas

Tanur pembakaran
Standar opersional prosedur
(SOP)
 Standar operasional prosedur (SOP) adalah suatu
standar atau pedoman tertulis yang dipergunakan
untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok
untuk mencapai tujuan organisasi.
 SOP merupakan tatacara atau tahapan yang
dibakukan dan yang harus dilalui untuk
menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.
Tujuan SOP
 Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan
tingkat kinerja petugas/pegawai atau tim dalam
organisasi atau unit kerja.
 Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-
tiap posisi dalam organisasi.
 Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung
jawab dari petugas/pegawai terkait.
 Melindungi organisasi atau unit kerja dan
petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan
administrasi lainnya.
 Untuk menghindari kegagalan atau kesalahan,
keraguan, duplikasi dan inefisiensi.
Tujuan SOP
 Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit
kerja.
 Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
 Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan
mudah dilacak.
 Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama
disiplin dalam bekerja.
 Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan
rutin.
Keuntungan Adanya Standar
Operasional Prosedur (SOP)
 SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana,
menjadi alat komunikasi dan pengawasan dan
menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten.
 Para petugas/pegawai akan lebih memiliki percaya diri
dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai dalam
setiap pekerjaan.
 SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat
trainning dan bisa digunakan untuk mengukur kinerja
petugas/pegawai.
Contoh SOP Pembelian Bahan Kimia
 Pembelian bahan kimia kepada petugas atau laboran.
 Tanyakan dulu apakah ada bahan kimia yang
dimaksud.
 Selanjutnya petugas akan menimbang/menakar sesuai
dengan pesanan.
 Membayar sejumlah harga yang telah ditentukan
dalam daftar.
 Petugas berhak membatasi jumlah pembelian
Contoh SOP Penitipan Alat atau Barang
 Guru dan siswa diperbolehkan menitipkan barang di
laboratorium IPA dengan ketentuan sebagai berikut :
 Barang atau alat yang dititipkan masih ada
hubunganya dengan kegiatan laboratorium, seperti
bahan kimia, larutan, alat-alat lab dan sebagainya.
 Setiap alat atau bahan yang dititipkan harus diberi
label meliputi
 Nama bahan atau alat
 Nama penitip yang bersangkutan
 Tanggal barang mulai dititipkan
Contoh SOP Penitipan Alat atau Barang
 Lanjutan:
 Jangka waktu penitipan maksimal 1(satu) bulan
terhitung mulai saat penitipan. apabila tidak ada
keterangan setelah jangka waktu 1 bulan, pihak lab
tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan
bahan/alat tersebut.
 Lab berhak menolak titipan bahan atau alat karena
berbagai pertimbangan.
Contoh SOP yang ada di lab Biologi (lihat buku
panduan laboratorium yang di punyai jurusan
Biologi)
1. SOP Bebas Lab Biologi
2. SOP Keselamatan Kerja Laboratorium
3. SOP Pemberian Sanksi Pelanggaraa Di Laboratorium
4. SOP Peminjaman Alat Untuk Kegiatan Praktikum
5. SOP Peminjaman Alat Untuk Penelitian
6. SOP Pengajuan Bahan Untuk Penelitian
7. SOP Pengajuan Bahan Untuk Praktikum
8. SOP Penggunaan Lab Untuk Penelitian
9. SOP Penggunaan Lab Untuk Praktikum’
No SOP:
Tanggal Pembuatan:
PROGRAM STUDI BIOLOGI/PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI FMIPA UNESA Tanggal Revisi :

Tanggal Efektif:
Disahkan oleh:
SOP
Ketua Jurusan Biologi
KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM

1. TUJUAN
Menunjukkan langkah-langkah yang benar yang harus dilakukan untuk menangani
terjadinya kecelakaan di laboratorium

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini menjelaskan tindakan yang harus dilakukan oleh semua pihak yang
terlibat dalam kegiatan laboratorium apabila terjadi kecelakaan

3. TANGGUNG JAWAB
3.1. Kepala Laboratorium bertanggung jawab atas keselamatan kerja di laboratorium
3.2. Masing-masing Ka Sub Laboratorium bertanggung jawab terhadap keselamatan
kerja di laboratorium sesuai dengan jenis laboatorium yang dikelolanya
3.3. Laboran bertugas membantu sepenuhnya atas keselamatan kerja di laboratorium
yang menjadi tanggung jawabnya.
Lanjutan SOP Keselamatan Kerja Laboratorium

1. ACUAN
1.1. Buku Pedoman Keselamatan Kerja di Laboratorium

5. DEFINISI ISTILAH
Keselamatan kerja di laboratorium adalah tindakan-tindakan yang tepat yang harus
dilakukan untuk menangani kasus kecelakaan kerja di laboratorium sehingga eek
kecelakaan dapat diminimalisasi

6. PELAKSANAAN
6.1. Melakukan tindakan yang tepat untuk menghindarkan para praktikan dari
bahaya kecelakaan lebih lanjut
6.2. Melakukan pertolongan pertama secara tepat untuk menyelamatkan jiwa dari
bahaya kecelakaan lebih lanjut
6.3. Melakukan tindakan lanjut yang tepat sebagai langkah selanjutnya dari
pertolongan pertama yang telah diberikan

7. DOKUMEN PENDUKUNG
7.1. Cara penanganan pada berbagai jenis kecelakaan kerja di laboratorium
Diagram Alir Keselamatan kerja di laboratorium

MULAI

TINDAKAN PENGHINDARAN DARI BAHAYA KECELAKAAN LEBIH


LANJUT

PEMBERIAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA


KECELAKAAN

KORBAN GAWAT KORBAN TIDAK GAWAT

DIBERIKAN PERTOLONGAN LANJUT KE RUMAH


SAKIT/DOKTER

SELESAI