Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gawat darurat dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang
membutuhkan pertolongan segera, karena apabila tidak mendapatkan pertolongan
dengan segera maka dapat mengancam jiwanya atau menimbulkan kecacatan
permanen. Keadaan gawat darurat yang sering terjadi di masyarakat antara lain,
keadaan seseorang yang mengalami henti napas, henti jantung, tidak sadarkan diri,
kecelakaan, cedera misalnya patah tulang, kejang, keracunan dan korban bencana.
Bencana demi bencana sering menimpa bangsa Indonesia. Kerawanan
bencana ini ditandai dengan banyaknya bencana yang terjadi seperti, gempa bumi,
tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan,
kebakaran hutan, dan lahan kegagalan teknologi, konflik sosial, pandemik, yang
mengakibatkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan
dampak psikologis. Upaya penanggulangan bencana telah menjadi perhatian serius
pemerintah dengan mengeluarkan undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana. Namun masalah akibat bencana tidak semuanya bisa
dicegah, sehingga yang dapat dilakukan adalah meminimalisasi dampak bencana
(disaster risk reduction).
Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan dalam situasi khusus ini
merupakan salah satu unsur yang vital dalam pelayanan kesehatan pada keadaan
khusus gawat darurat dan bencana. Oleh karena itu diperlukan adanya persediaan obat
dan perbekalan kesehatan sebagai Buffer bila terjadi keadaan gawat darurat ataupun
bencana.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana menyiapkan obat dalam kondisi khusus gawat darurat?
1.2.2 Bagaimana menyiapkan obat dalam kondisi khusus bencana?
1.3. Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui obat-obatan dalam kondisi khusus gawat darurat
1.3.2 Untuk mengetahui obat-obatan dalam kondisi khusus bencana

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Menyiapkan Obat Dalam Keadaan Khusus Gawat Darurat


Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman.
Caranya adalah perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian
obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap/jelas atau dosis yang
diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Perawat wajib membaca buku – buku
refrensi obat untuk mendapatkan kejelasan mengenai efek terapeutik yang diharapkan,
kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi atau reaksi yang merugikan
dari pengobatan.
Obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat
menjadi salah satu tugas perawat yang paling penting. Perawat dalah mata rantai
terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung
jawab bahwa obat itu diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar. Rencana
perawatan harus mencakup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil
pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat, efek samping, lama kerja,
dan program dokter.
Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obat
Persiapan :
1. Cuci tangan sebelum menyiapkan obat
2. Periksa riwayat alergi obat
3. Periksa perintah pengobatan
4. Periksa label tempat obat sebanyak 3 kali
5. Periksa tanggal kadaluarsa
6. Periksa tanggal kadaluarsa
7. Periksa ulang perhitungan dosis obat dengan perawat lain
8. Pastikan kebenaran obat yang bersifat toksik dengan perawat lain atau ahli farmasi
9. Tuang tablet atau kapsul kedalam tempat obat
10. Tuang cairan setinggi mata
11. Encerkan obat – obat yang mengiritasi mukosa lambung atau berikan Bersama –
sama dengan makanan

2
Pemberian :

1. Periksa identitas pasien melalui gelang identitas


2. Berikan hanya obat yang disiapkan
3. Bantu klien mendapatkan posisi yang tepat tergantung rute pemberian
4. Tetaplah Bersama klien sampai obat diminum/dipakai
5. Jika memberikan obat pada, sekelompok klien, berikan obat terakhir pada klien
yang membutuhkan bantuan ekstra
6. Buang jarum dan tabung suntik pada tempat yang benar
7. Buang obat kedalam tempat yang khusus jangan kedalam tempat sampah
8. Buang larutan yang tidak tepakai dari ampul. Simpan larutan stabil yang tidak
terpakai di dalam tempat yang tepat ( bila perlu masukkan ked ala lemari es). Tulis
tanggal waktu dibuka serta inisial anda anda pada label.

Yang tidak boleh dalam menyiapkan obat

1. Jangan sampai konsentrasi terpecah sewaktu menyiapkan obat


2. Jangan memberikan obat yang dikeluarkan oleh orang lain
3. Jangan mengeluarkan obat dari tempat obat dengan label yang sulit dibaca, atau
yang labelnya yang sebagian terlepas atau hilang
4. Jangan memindahkan obat dari satu tempat ke tempat lain
5. Jangan memberikan obat yang tanggalnya telah kadaluwarsa
6. Jangan menduga – duga mengenai obat dan dosis obat
7. Jangan memakai obat yang telah mengendap, atau berubah warna, atau berawan
8. Jangan tinggalkan obat – obat yang letah dipersiapkan
9. Jangan berikan suatu obat kepada klien jika ia memiliki alergi terhadap obat itu
10. Jangan memanggil nama klien sebagai satu-satunya cara untuk mengidentifikasi
11. Jangan berikan jika klien mengatakan bahwa obat tersebut berlainan dengan apa
yang telah ia terima sebelumnya. Periksa perintah pengobatan
12. Jangan menutup kembali jarum suntik.

Obat – Obat Dalam Gawat Darurat

1) Epinephrin

3
- Indikasi : henti jantung (VF, VT tanpa nadi, asistole, PEA) , bradikardi, reaksi
atau syok anfilaktik, hipotensi.
- Dosis 1 mg iv bolus dapat diulang setiap 3–5 menit, dapat diberikan
intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena. Untuk
reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5 mg sc dapat diulang
setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardi atau hipotensi dapat
diberikan epinephrine perinfus dengan dosis 1mg (1 mg = 1 : 1000) dilarutka
dalam 500 cc NaCl 0,9 %, dosis dewasa 1 μg/mnt dititrasi sampai
menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis dapat mencapai 2-10 μg/mnt
- Pemberian dimaksud untuk merangsang reseptor α adrenergic dan
meningkatkan aliran darah ke otak dan jantung
2) Lidokain (lignocaine, xylocaine)
- Pemberian ini dimaksud untuk mengatasi gangguan irama antara lain VF, VT,
Ventrikel Ekstra Sistol yang multipel, multifokal, konsekutif/salvo dan R on T
- Dosis 1 – 1,5 mg/kg BB bolus i.v dapat diulang dalam 3 – 5 menit sampai
dosis total 3 mg/kg BB dalam 1 jam pertama kemudian dosis drip 2-4
mg/menit sampai 24 jam dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan
dosis 2–2,5 kali dosis intra vena
- Kontra indikasi : alergi, AV blok derajat 2 dan 3, sinus arrest dan irama
idioventrikuler
3) Sulfas Atropin
- Merupakan antikolinergik, bekerja menurunkan tonus vagal dan memperbaiki
sistim konduksi AtrioVentrikuler
- Indikasi : asistole atau PEA lambat (kelas II B), bradikardi (kelas II A) selain
AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III (hati-hati pemberian atropine pada
bradikardi dengan iskemi atau infark miokard), keracunan organopospat
(atropinisasi)
- Kontra indikasi : bradikardi dengan irama EKG AV blok derajat II tipe 2 atau
derajat III.
- Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total 0,03-
0,04 mg/kg BB, untuk bradikardi 0,5 mg IV bolus setiap 3-5 menit maksimal 3
mg. dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis
intra vena diencerkan menjadi 10 cc
4) Dopamin
4
- Untuk merangsang efek alfa dan beta adrenergic agar kontraktilitas miokard,
curah jantung (cardiac output) dan tekanan darah meningkat
- Dosis 2-10 μg/kgBB/menit dalam drip infuse. Atau untuk memudahkan 2
ampul dopamine dimasukkan ke 500 cc D5% drip 30 tetes mikro/menit untuk
orang dewasa
5) Magnesium Sulfat
- Direkomendasikan untuk pengobatan Torsades de pointes pada ventrikel
takikardi, keracunan digitalis.Bisa juga untuk mengatasi preeklamsia
- Dosis untuk Torsades de pointes 1-2 gr dilarutkan dengan dektrose 5%
diberikan selama 5-60 menit. Drip 0,5-1 gr/jam iv selama 24 jam
6) Morfin
- Sebagai analgetik kuat, dapat digunakan untuk edema paru setelah cardiac
arrest.
- Dosis 2-5 mg dapat diulang 5 – 30 menit
7) Kortikosteroid
- Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi dan
untuk mengurangi edema cerebri
8) Natrium bikarbonat (Nabic)
- Diberikan untuk dugaan hiperkalemia (kelas I), setelah sirkulasi spontan yang
timbul pada henti jantung lama (kelas II B), asidosis metabolik karena
hipoksia (kelas III) dan overdosis antidepresi trisiklik.
- Dosis 1 meq/kg BB bolus dapat diulang dosis setengahnya.
- Jangan diberikan rutin pada pasien henti jantung.
9) Kalsium gluconat/Kalsium klorida
- Digunakan untuk perbaikan kontraksi otot jantung, stabilisasi membran sel
otot jantung terhadap depolarisasi. Juga digunakan untuk mencegah transfusi
masif atau efek transfusi akibat darah donor yang disimpan lama
- Diberikan secara pelahan-lahan IV selama 10-20 menit atau dengan
menggunakan drip
- Dosis 4-8 mg/Kg BB untuk kalsium glukonat dan 2-4 mg/Kg BB untuk
Kalsium klorida. Dalam tranfusi, setiap 4 kantong darah yang masuk diberikan
1 ampul Kalsium gluconat
10) Furosemide
- Digunakan untuk mengurangi edema paru dan edema otak
5
- Efek samping yang dapat terjadi karena diuresis yang berlebih adalah
hipotensi, dehidrasi dan hipokalemia
- Dosis 20 – 40 mg intra vena
11) Diazepam
- Digunakan untuk mengatasi kejang-kejang, eklamsia, gaduh gelisah dan
tetanus
- Efek samping dapat menyebabkan depresi pernafasan
- Dosis dewasa 1 amp (10 mg) intra vena dapat diulangi setiap 15 menit

2.2 Menyiapkan Obat Dalam Keadaam Khusus Bencana


A. Jenis Penyakit
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Buku Peta Bencana di Indonesia,
beberapa jenis penyakit dan kelainan yang sering ditemukan pada keadaan
bencana dan di tempat pengungsian adalah sebagai berikut :

 Diare  ISPA  Campak


 Thypoid  Penyakit Kulit  Penyakit MaTA
 Kurang Gizi  Stress  Asma
 Malaria  Hipertensi  DBD
 Gastritis  Myalgia  Tetanus

Dibawah ini beberapa jenis penyakit yang diakibatkan oleh bencana tertentu.

No Jenis Bencana Jenis Penyakit yang sering ditemukan


1 Banjir Diare, Kulit, ISPA
2 Gunung meletus ISPA, Diare, Conjunctivitis, Luka Bakar
3 Kebakaran hutan ISPA, Luka Bakar
4 Kebakaran permukiman ISPA, Luka Bakar
5 Huru hara Luka Sayat, Luka Memar
6 Tanah Longsor Luka Memar, Luka Sayat, Patah Tulang
7 Gelombang Tsunami Diare, ISPA, Luka Memar, Luka Sayat
8 Gempa Bumi Luka Memar, Luka Sayat, Patah Tulang

Selain akibat langsung dari bencana, beberapa penyakit yang sering menjadi penyebab
utama kematian ditempat pengunsian adalah campak, diare, ISPA, dan malaria.
Penyediaan obat untuk keempat jenis-jenis penyakit tersebut perlu mendapat perhatian
tersebut.

6
B. Jenis obat dan kesiapan obat yang harus disediakan
Agar kesiapan obat dan perbekalan kesehatan dapat membantu pelaksanaan
pelayanan kesehatan pada keadaan bencana, maka jenis obat dan perbekalan
kesehatan harus sesuai dengan jenis penyakit dan pedoman yang berlaku.

N Jenis Jenis Penyakit Obat dan Perbekalan Kesehatan yang


o Bencana Dibutuhkan
1 Banjir Diare/ Amubiasis Oralit, Infus R/L, NaCl 0,9%, Metronidazol,
Infus Set, Abocath, Wing Needle
Oralit, Cairan R/L
Dermatitis : CTM Tablet, Prednison, Salep 2-4,
kontak jamur Hidrokorsison Tab, Pradnison Tab, Anti
bakteri bakteri DOEN Salep, Oksitetrasiklin salep
3%. Serbuk PK, Salisi Talk, Larutan
Rivanol Povidon lodin salep, Asiklovir tab,
Asiklovir krim, Amoksisilin tab, Penisilin
Prokain, Griseofulvin Injeksi, Nistatin,
Mikonazol Topikal dan Ketokonazol.
ISPA : Kotrimoksazol 480 mg, 120 mg tab dan
Pneumonia suspensi, Amoksisilin, OBH, Parasetamol,

PILIHAN I PILIHAN II
Kotrimoksazol Amoksisilin
Tablet Anak & Tablet/sirup,
Dewasa, Parasetamol
Kontrimoksazol Tablet/sirup dan
Salbutamol tablet
Gentamisin
Sirup,
Parasetamol
Tablet dan sirup

Dekstrometorfan tab, GG, CTM


Parasetamol tablet & syrup,

Non dekstrometorfan tablet/sirup, efedrin tablet,

7
Pneumonia Asetosal tab, Antibiotik

Asma PILIHAN I PILIHAN II PILIHAN


III
Aminofilin Aminofilin Prednison
tablet, tablet,
Efedrin Salbutamol
Tablet, Tablet
Adrenalin
Inj, Teofilin
tablet
Leptospirosis Amoksisilin 1000 mg tablet, Ampisillin
1000 mg
Penisilin, Tetrasiklin atau Eritromisin
Conjuctivitis : Sulfasetamid t.m, Kloramfenikol salep
Bakteri Virus mata,
Oksitetrasiklin salep mata, tetes mata
Sulfasetamid, Steroid Topikal
Gastritis PILIHAN I PILIHAN II
Antasida tablet/ Metaklopramid
Suspensi ( Al. Tab Kombinasi
Hidroksida, Mg Simetidin
hidroksida) Atau Raniditin

Trauma/Memar Kapas Absorben, kassa steril 40/40, Pov.


Iodin, Fenilbutazon, Metampiron tablet,
Ketoprofen, Parasetamol tablet
2. Longsor Idem dengan
banjir +
 Fraktur tulang Kasa, Perban Elastis, Kasa Elastis, Alkohol
 Luka memar 70%, Pov. Iodin 10%, H2O2 Sol, Ethyl

 Luka sayatan Chloride Sparay, Jarum Jahit, Cat Gut

 hipoksia Chromic, Tabung Oksigen


3. Gempa /  Luka memar Idem
Gelombang  Luka sayatan Idem
Tsunami Idem
8
 ISPA Idem
 Gastritis Pembalut Gips, soft band

 Patah Tulang
 Malaria PILIHAN I PILIHAN II
Artesunate tab+ Kina Terasiklin tab/
Amodiaguin tab + Doksisiklin tab +
Primakuin tab Primakuin tab
Klorokuin tab
Dosis tunggal +
Primakuin tab
 Asma Idem
 Penyakit mata Idem

 Penyakit kulit Idem


4. Konflik  Luka memar Idem
sosial  Luka sayat Idem
(kerusuhan)  Luka bacok Idem
atau  Patah tulang
Huru hara Idem
 Diare
Idem
 ISPA
Idem
 Malaria
Idem
 Gastritis
Idem
Idem
5. Gunung  ISPA Idem + masker
Meletus
 Diare Idem
 Conjunctivitis Idem

 Luka bakar Salep, Sofratule, Abocath, Cairan Infus


( RL, Na, Cl ), Vit C tab
Amoksisilin/Ampicillin tab, Kapas,
Handschoen, Wing needle, Alkohol 70 %
6. Kebakaran : Conjunctivitis Idem
- Hutan
- Permuki
man

9
- Bom
- Asap
Luka bakar Idem
Myalgia Metampiron, Vit B1, B6, B12 oral
Gastritis Idem
Asma Idem
ISPA Idem + masker

C. Penyiapan Obat dan Perbekalan Kesehatan Berdasarkan Tingkat Pelayanan


Kesehatan
Jenis obat dan perbekalan kesehatan yang disiapkan disesuaikan dengan tingkat
kompetensi petugas yang ada. Secara umum WHO dalam nuku New Emergency
Helath KITs membuat klasifikasi penyediaan obat dan perbekalan kesehatan
sebagai berikut:
1) Untuk pos kesehatan (non tenaga medis/non keperawatan) hanya disediakan
obat simptomatik non injeksi
Pertimbangannya:
Tenaga sukarelawan hanya mendapatkan pelatihan yang sangat terbatas dan
tidak pernah dilatih untuk melakukan penyuntikan. Secara umum pasien yang
berkunjung ke pos kesehatan hanya untuk mengeluhkan gejala, sedangkan untuk
pasien yang membutuhkan suntikan atau pengobatan lebih lanjut dikirim ke
puskesmas. Daftar obat dan perbekalan kesehatan untuk pos kesehatan adalah
sebagai berikut:

No
Nama Obat Satuan Terkecil
.
1. Parasetamol tablet 500mg Tablet
2. Parasetamol tablet 100mg Tablet
3. Parasetamol syrup Botol
4. Vit C tablet 50mg Tablet
5. Antasida tablet Tablet
6. Oralit 200ml Sachet
7. Ferrous sulfate tablet Tablet
8. Yod Providone larutan 10% Botol
9. Salep 2-4 Pot
10. Obat batuk hitam Botol
11. Kasa 4x15cm Rol
12. Kapas 250 gram Bungkus
13. Plester Rol
14. Vitamin B kompleks Tablet
15. GG 10 Tablet
16. Balsem. Minyak kayu putih Pot
17. Norit Tablet
2) Untuk pos kesehatan dan Pustu dengan tenaga medis dan tenaga
keperawatan dapat disediakan obat simptomatik, antibiotik tertentu, dan
obat suntik dalam jumlah terbatas
Pertimbangannya:
Dengan tersedianya tenaga medis dan tenaga keperawatan memungkinkan untuk
memberikan tidak hanya obat simptomatik, tetapi juga antibiotik dan obat suntik.
Contoh obat untuk pos kesehatan dan Pustu dengan tenaga medis dan tenaga
keperawatan adalah sebagai berikut:
No Nama Obat Satuan Terkecil
.
1. Antalgin tablet 500mg Tablet
2. Parasetamol tablet 500mg Tablet
3. Parasetamol tablet 100mg Tablet
4. Paracetamol syrup Botol
5. Vit C tablet 50mg Tablet
6. Antasida tablet Tablet
7. Oralit 200ml Sachet
8. ACT Tablet
9. Ferrous sulfate tablet Tablet
10. Yod Providone larutan 10% Botol
11. Salep 2-4 Pot
12. Obat batuk hitam Botol
Anastesi
13. Lidocaine inj Ampul
Anti-Alergi
14. Hidrokortison Krim 2% Tube
15. Prednisolon tab 5mg Tablet
16. Klorfeniramin maleat Tablet
Antikonvulsan
17. Diazepam inj 5mg/ml Ampul
18. Fenobarbital tab 30mg Tablet
Anti Infeksi
19. Amoksisilin Syrup Kering Botol
20. Amoksisilin Kapsul 250mg Kapsul
11
21. Amoksisilin Kapsul 500mg Kapsul
22. Kloramfenikol Kapsul 250mg Kapsul
23. Metronidazole tab 250mg Tablet
24. Kotrimoksazol Tablet
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman.
Caranya adalah perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian
obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap/jelas atau dosis yang
diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Perawat wajib membaca buku – buku
refrensi obat untuk mendapatkan kejelasan mengenai efek terapeutik yang diharapkan,
kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi atau reaksi yang merugikan
dari pengobatan.
Obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat
menjadi salah satu tugas perawat yang paling penting. Perawat dalah mata rantai
terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung
jawab bahwa obat itu diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar. Rencana
perawatan harus mencakup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil
pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat, efek samping, lama kerja,
dan program dokter baik dalam keadaan khusus gawat darurat maupun bencana.
3.2 Saran
Perawat lebih memperhatikan penyediaan obat dan perbekalan kesehatan dalam
situasi khusus ini karena merupakan salah satu unsur yang vital dalam pelayanan
kesehatan pada keadaan khusus gawat darurat dan bencana.

12
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/presentation/326711277/Persiapan-Obat-Obat-Emergency-1. Diakses
Kamis, 21 Februari 2019 Pukul 20.45

https://www.academia.edu/12535039/obat-obat_emergency. Diakses Kamis, 21 Februari


2019 Pukul 21.00

https://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http://jdih.pom.go.id/produk/Keputusan
%2520Menteri/1303967662_Kepmenkes%2520059-2011%2520Pedoman%2520Pengelolaan
%2520Obat%2520dan%2520Perbekalan
%2520Kesehatan.pdf&ved=2ahUKEwiC6p_tps3gAhWLRo8KHePZCGkQFjAAegQIAxAB
&usg=AOvVaw3cI6hMqzTrDJL-O3Nyd7CS. Diakses Jumat, 23 Februari 2019 Pukul 01.05

13

Anda mungkin juga menyukai