Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

SISTEM PENGHANTAR RANGSANG

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah fisiologi hewan

Disusun oleh :

Femmy Asmaya Hutabalian ( 17507050 )

JUNI

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

2020
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya,
sehingga makalah yang berjudul tentang “sistem penghantar rangsang” ” ini dapat
terselesaikan dengan baik.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami menyadari dalam
penulisan makalah ini ada banyak kesalahan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan
saran untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Sekian dan terima kasih.

Tondano, 31 Maret 2020

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan
rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan
makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan
luar maupun dalam.

Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini
meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan
kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau
sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal
dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan
terhadap rangsangan.

Dalam sel saraf terjadi proses penghantaran impuls secara konduksi. Apabila tidak ada rangsang
maka sel saraf disebut dalam keadaan istirahat. Dalam keadaan ini saraf tidak menghantarkan
impuls. Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut
penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang memanjang dan
meluas Sel saraf disebut neuron dan dalam makalah ini akan membahas tetang materi sistem
penghantaran rangsang.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Potensial Aksi

Spesifikasi komponen penyusun membran sel yang banyak berkaitan dengan fungsi
transport zat, banyak menciptakan lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan
menjadi dua cara yaitu dengan cara transport pasif untuk memindahkan molekul tanpa
mekanisme khusus dan transport aktif untuk memindahkan molekul dengan mekanisme khusus
(dengan bantuan beberapa fungsi protein).

Sebagian besar fungsi transport ini akan menghasilkan aktivitas sel dimana aktivitas sel ini akan
berfokus pada keadaan polarisasi menjadi depolarisasi dan kembali ke polarisasi lagi disertai
dengan terjadinya perubahan pada potensil membran sel. Perubahan tersebut juga dapat
mengakibatkan berubahnya keadaan kenegatifan dari sebuah membran sel, perubahan tersebut
dapat berubah dari negatif berubah menjadi positif dan kemudian kembali ke negatif , perubahan
tersebut akan menhasilkan impuls tegangan yang dinamakan potensial aksi.

Potensial aksi adalah aliran ionik positif dan negatif yang bergerak di membran sel. Langkah
awal pengolahan informasi indra adalah transformasi energi stimulus menjadi potensial reseptor,
lalu menjadi potensial aksi pada serabut saraf. Potensial aksi merupakan suatu perubahan yang
cepat pada membran sel saraf akibat terbukanya saluran ion Natrium dan terjadi influks Natrium
menuruni gradien konsentrasinya. Akibatnya meningkatnya jumlah Natrium di dalam sel,
sedangkan jumlah Kalium tetap maka terjadi perubahan potensial listrik membran dimana
potensial listrik intraseluelr menjadi lebih positif dibandingkan ektraseluler. Setelah terjadi
depolarisasi maka resting membrane potential akan dikembalikan lagi melalui suatu proses yang
disebut dengan repolarisasi. Pada proses ini saluran Natrium yang tadi terbuka akan menutup dan
diikuti dengan terbukanya saluran Kalium. Kalium akan berpindah keluar sel menuruni gradien
konsentrasinya dan mengembalikan potensial membran dalam sel menjadi negatif.
Tahap Dalam Potensial aksi

Tahap polarisasi

Meruapakan tahapan potensial membran istirahat sebelum adanya potensial aksi. Pada
membran negatif sebesar -900 mV. Pada sebuah sel meskipun dalamkeadaan istirahat
masih terdapat beda potensial diantara kedua sisi membran

Tahap depolarisasi

Bila sel yang istirahat diberi rangsangan dengan level yang cukup maka sel tersebut akan berubah
ke keadaan aktif. Dalam keadaan aktif potensial membran sel mengalami perubahan dari negatif
menjadi positif di sisi dalam. Keadaan inilah yang dinamakan depolarisasi. Kejadian ini dimulai
dari satu titik di permukaan membran dan akan merambat ke seluruh permukaan membran.

Pada tahap ini membran sangat permeabel sangat reaktif terhadap ion Na+ sehingga kanal Na+
terbuka sehingga Na+ akan masuk kedalam sehingga potensial membran meningkat sehingga
terjadi overshoot jika potensial berada diatas 0.

Tahap Repolarisasi

Dalam keadaan repolarisasi, potensial membran berubah dari positif di sisi dalam menuju
kembali ke negatif di sisi dalam. Tahapan Repolarisasi diawali dari suatu titik dan merambat ke
seluruh permukaan membran sel. Bila seluruh membran sel sudah bermuatan negatif di sisi
dalam, maka dikatakan sel dalam keadaan istirahat atau keadaan polarisai kembali dan siap untuk
menerima rangsangan berikutnya.
Pada tahap ini kanal Na+ mulai tertutup, kanal ion K+ terbuka dan ion K+ keluar sehingga
membran potensial kembali ke fase istirahat.

Tahap hiperpolarisasi

Jika repolarisasi berlebihan, keadaan potensial membran berada di bawah nilai normal sehinggan
ion Na+ dan K+, kembali pada keadaan normal dan membran sudah selesai melakukan transport
zat.

2.2 Struktur sel saraf

Sel saraf disebut juga sebagai suatu neuron. Setiap neuron terdiri dari badan/soma sel yang
berisi nukleus dan serat saraf berupa lanjutan siitoplasma yang seperti benang.
Serat saraf ada dua macam: dendrit yang membawa impuls menuju ke badan sel dan axon /
neurit yang membawa impuls menjauh dari badan sel.
Dendrit sel saraf sensorik ( yang membawa impuls menuju ke SSS ) berbeda dengan sel
saraf lainnya; bentuknya bisa panjang (terkadang bisa mencapai 1 m), bisa pula pendek tetapi
biasanya mereka tunggal serta tidak mempunyai penampilan yang menyerupai pohon yang
demikian khas seperti dendrit lainnya. Setiap dendrit mempunyai bangunan tertentu yang
dinamakan dengan receptor di mana suatu stimulus diterima dan dorongan sensor mulai.

Sensasi yang melibatkan sel saraf sensor ini seperti rasa sakit, meraba, mendengar, dan
melihat akan dibahas dalam bab lebih lanjut.
Beberapa axon di dalam sistem saraf sentral dan perifer ditutup dengan myelin yaitu
bahan selubung berupa lemak. Pembungkus ini dihasilkan oleh sel khusus yang membungkus
sekitar axon dengan membentuk semacam sarung.
Ruang kecil yang tersisa di antara sel disebut dengan nodus berperan penting dalam
konduksi dorongan saraf. Axon yang dibungkus dengan myelin dinamakan serat putih dan
diketemukan di dalam bahan putih (substansia a!ba) otak dan sumsum tulang belakang
maupun pada saraf di seluruh bagian tubuh. Serat dan badan sel yang membentuk bahan abu-
abu (substanisa grisea) tidak dibungkus dengan myelin.
Axon sistem saraf perifer yang terbungkus myelin dibungkus lagi oleh suatu pembungkus
bagian luar yang tipis yang disebut dengan neurilemma. Neurilemma membantu
memperbaiki serat saraf yang rusak.

2.3 Sinapsis

A. STRUKTUR SINAPSIS

Pada setiap neuron, terminal aksonnya membengkak membentuk suatu tonjolan kecil yang
disebut tombol sinapsis. Permukaan membran tombol sinapsis ini dinamakan membran
prasinapsis yang menghantarkan impuls dari terminal sinapsis menuju dendrit atau badan sel
berikutnya. Impuls tersebut akan diterima oleh permukaan membran dendrit atau badan sel yang
dituju. Membran yang demikian dinamakan membran pascasinapsis. Di antara kedua membran
ini dipisahkan oleh suatu celah yang disebut celah sinapsis.

Di dalam tombol sinapsis terdapat suatu zat kimia yang dapat menghantarkan impuls ke neuron
berikutnya. Zat yang demikian dinamakan neurotransmiter. Saat menghantarkan implus, dalam
sitoplasma neurotransmiter dibawa oleh banyak kantung dalam sitoplasma, yang disebut vesikula
sinapsis. Ada berbagai macam jenis neurotransmiter, contohnya asetilkolin, dopamine,
noradrenalin, dan serotonin. Asetilkolin berada pada seluruh sistem saraf; sementara noradrenalin
berada pada sistem saraf simpatik; sementara dopamine dan serotonin terdapat pada otak.

Asetilkolin dan noradrenalin merupakan salah dua neurotransmiter utama yang terdapat pada
mammalia.

B. PENGHANTARAN IMPULS MELALUI SINAPS


Rangsang yang diterima sel saraf dapat berasal dari dalam tubuh maupun luar tubuh. Rangsang
yang merambat disebut impuls. Impuls diterima oleh reseptor kemudian akan dihantarkan oleh
dendrit menuju badan sel saraf. Saat impuls sampai pada akson, impuls akan diteruskan ke
dendrit neuron lain.

Dalam sel saraf terjadi proses penghantaran impuls secara konduksi. Apabila tidak ada rangsang
maka sel saraf disebut dalam keadaan istirahat. Dalam keadaan ini saraf tidak menghantarkan
impuls. Membran luar sel saraf bermuatan positif karena kelebihan kation atom Na+. Membran
dalam sel saraf bermuatan negatif karena banyak ion K+ yang keluar akson.

Keadaan seperti ini disebut polarisasi. Terjadinya kondisi demikian karena peran pompa Na– K
dan sifat membran akson yang lebih permeabel terhadap K+ dan kurang permeabel terhadap Na +.
Na+ dipompa ke luar. K+ dipompa ke dalam karena sifat membran akson yang permeabel
terhadap K, maka K + dapat keluar lagi.

C.Mekanisme Kerja Sinapsis


Apabila impuls sampai pada tombol sinapsis, segera neuron mengirimkan neurotransmiter.
Selanjutnya, neurotransmiter dibawa oleh vesikula sinapsis menuju membran prasinapsis.
Kedatangan impuls tersebut membuat permeabilitas membran prasinapsis terhadap ion Ca2+
meningkat (terjadi depolarisasi). Sehingga, ion Ca2+ masuk dan merangsang vesikula sinapsis
untuk menyatu dengan membran prasinapsis. Bersama kejadian tersebut, neurotransmiter
dilepaskan ke dalam celah sinapsis melalui eksositosis. Dari celah sinapsis, neurotransmiter ini
berdifusi menuju membran pascasinapsis.
Setelah impuls dikirim, membran pascasinapsis akan mengeluarkan enzim untuk menghidrolisis
neurotransmiter. Enzim tersebut misalnya senzim asetilkolineterase yang menghidrolisis
asetilkolin menjadi kolin dan asam etanoat. Oleh vesikula sinapsis, hasil hidrolisis (kolin dan
asam etanoat) akan disimpan sehingga sewaktu-waktu bisa digunakan kembali.
Gambar 1. Mekanisme penghantaran impuls saraf melalui sinapsis

2.4 Mekanisme Transmisi Kimia

Neuron berkomunikasi melalui sinapsis dan perantaranya adalah substansi kimia yang
dilepaskan oleh terminal button. Substansi kimia ini disebut dengan substansi transmitter atau
neurotransmitter yang berdifusi diantara celah terminal button dengan membran dari neuron
penerima. Macam substansi transmitter ini akan menentukan efek pembangkitan (excitatory) atau
efek penghambatan (inhibitory).

Transmisi sinapsis berlangsung melalui dua macam proses transmisi neurokimia yang
berbeda satu sarna lain, yaitu small-molecule neurotransmitters dan large-molecule
neurotrnsmitters.

a. Small-Molecule Neurotransmitters.
Proses ini dimulai dengan berkumpulnya substansi kimia didalam cisterna yang
akan disimpan di dekat membran presinapsis (membran presinapsis kaya akan kelenjar-
kelenjar yang mengandung kalsium. Bila mendapat stimulasi dari potensial aksi, saluran
kalsium tadi akan terbuka dan ion Ca++akan masuk ke dalam button. Masuknya Ca+
+akan mendorong pembuluh sinapsis untuk melakukan kontak dengan membran
presinapsis dan melepaskan isinya ke dalam celah sinapsis (lihat gambar 3.12.). Proses
ini disebut dengan exocytosis. Proses ini berlangsung pada setiap kali stimulasi dari
potensial aksi terjadi. Ia langsung menyampaikan pesan kepada reseptor postsinapsis
yang ada di sekitarnya (lokal).

b. Large-molecule Neurotransmitters.
Proses exocytosis juga terjadi, namun untuk large- molecule neurotransmitter,
substansi kimia yang dibutuhkan akan berkumpul dalam Badan Goigi dan dialirkan ke
buttons melalui microtubules. Proses exocytosisnya tetap sarna, namun bila
smallmolecule berlangsung pada setiap kali terjadi stimulasi; proses exocytosis large-
molecule akan berlangsung secara bertahap. Large-molecule umumnya juga tidak
dilepaskan pada celah sinapsis, namun dilepaskan pada cairan ekstrasel dan pembuluh
darah. Oleh karena itu proses large-molecule ini biasanya terjadi pada reseptor yang
letaknya jauh dari proses exocytosis dan pengaruh yang disebarkan juga tidak terbatas
pada neuron yang ada disekitarnya tetapi juga neuron-neuron yang letaknya berjauhan.
Oleh karena itu proses large-molecule neurotansmitter umumnya lebih berfungsi sebagai
neuromodulator. Proses large-molecule diperlancar dengan bantuan proses-proses small-
molecule (sebagai second messenger/penyampai pesan sekunder). Neuromodulator
memiliki peranan yang besar dalam mengkontrol emosi dan motivasi.

2.5 Fungsi Sistem Saraf

Sistem syaraf bertanggung jawab dalam mempertahankan homeostasis tubuh


(kesetimbangan tubuh, lingkungan internal tubuh stabil). Saraf sebagai sistem koordinasi atau
pengatur seluruh aktifitas tubuh manusia mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai alat
komunikasi, pengendali atau pengatur kerja, dan pusat pengendali tanggapan.
a) Saraf sebagai alat komunikasi antara tubuh dan dunia di luar tubuh. Hal ini dilakukan
oleh alat indera yang meliputi mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Karena ada indera, dengan
mudah kita dapat mengetahui perubahan yang terjadi di luar tubuh kita.
b) Saraf sebagai pengendali atau pengatur kerja organ tubuh sehingga dapat bekerja serasi
sesuai dengan fungsi masing-masing.
c) Saraf sebagai pusat pengendali tanggapan atau reaksi tubuh terhadap perubahan keadaan
di sekitarnya. karena saraf sebagai pengendali kerja alat tubuh maka jaringan saraf terdapat pada
seluruh alat tubuh.

2.6 Reseptor
Reseptor merupakan unit sensoris yang berfungsi menyampaikan informasi dunia luar
kesusunan menyampaikan informasi dunia luar kesusunan saraf pusat saraf pusat.
Fungsi Reseptor

Adapun yang menjadi tugas dan juga tanggung jawab paling utama dari bagian reseptor pada
tubuh manusia adalah sebagai alat yang mempunyai fungsi untuk menerima berbagai sumber
rangsangan atau pun impuls pada tubuh manusia yang bertindak secara langsung sebagai reseptor
yang pada umumnya adalah organ indra.

Cara Kerja Resptor

Selain mengetahui apa saja fungsi dari reseptor tersebut, ada baiknya sobat semua juga mengerti
akan cara kerjanya

Memberikan Respon Internal dan Eksternal

Reseptor atau bisa disebut sebagai penerima rangsangan adalah sel dalam tubuh manusia yang
memberikan berbagai jensi respon terhadap banyak rangsangan yang ada, baik itu berasal dari
lingkungan internal ( dari dalam tubuh ) maupun dari lingkungan eksternal ( dari luar tubuh ).

Mengubah Rangsangan yang Diterima

Setelah itu, reseptor tersebut akan mengubah rangsangan yang diterima menjadi suatu impuls
saraf ( aliran listrik yang terjadi karena adanya perubahan muatan listrik ) yang nantinya akan
diteruskan melalui neuron ( sel saraf ). Di dalam tubuh manusia, yang berperan sebagai reseptor
adalah panca indera manusia. Yang mana, di dalam alat indera tersebut terdapat ujung – ujung
saraf sensorik yang peka terhadap rangsangan tertentu yang dirasakan oleh tubuh kita. saraf
sensorik tersebut mempunyai fungsi untuk menerima rangsangan serta akan membawanya ke
bagian bagian otak manusia atau ruas tulang belakang.

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Kami menyimpulkan bahwa sistem penghantaran rangsang terdiri dari

Potensial aksi merupakan suatu perubahan yang cepat pada membran sel saraf akibat terbukanya
saluran ion Natrium dan terjadi influks Natrium menuruni gradien konsentrasinya.
Sel saraf disebut juga sebagai suatu neuron. Setiap neuron terdiri dari badan/soma sel yang berisi
nukleus dan serat saraf berupa lanjutan siitoplasma yang seperti benang.

Pada setiap neuron, terminal aksonnya membengkak membentuk suatu tonjolan kecil yang
disebut tombol sinapsis.

Reseptor merupakan unit sensoris yang berfungsi menyampaikan informasi dunia luar kesusunan
menyampaikan informasi dunia luar kesusunan saraf pusat saraf pusat.

sistem penghantaran rangsang terdiri dari sel saraf dan system saraf serta reseptor sebagai
penerus rangsangan untuk disampaikan keluar tubuh. Didalam system ini juga terjadi beberapa
transmisi kimia untuk menghantarkan rangsangan.

Semoga melalui makalah ini para pembaca bisa mengambil maanfaat dalam belajar tentang
system penghantaran rangsang.

B.Saran

Akhir kata, tiada manusia yang sempurna, demikian juga dengan makalah ini. Apabila ada kritik
dan saran yang membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Daftar Pustaka

Lia Amalia.2011.staff.ui.ac.id.anatomi saraf pdf.akses 23 Ags 2015

Anonim,2013,elearning.gunadarma.ac.id,konduksi neural dan transmisi sinapsis, akses 23 ags


2015

Anonim, 2013, staff.uny.ac.id. saraf pdf, akses 23 ags 2015

Elisa, 2011, elisa.ugm.ac.id.sistem saraf. Akses 23 ags 2015


C. Roland Leeson, dkk. Buku Ajar Histologi. 2000. Jakarta : Penerbit EGC http://profitclicking-
mu.blogspot.com/2010/05/penghantaran-impuls-melalui-sinapsis.html http://www.sentra-
edukasi.com/2011/08/mekanisme-proses-penghantaran-impuls.html|