Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

ABSORPSI OBAT PER ORAL SECARA IN SITU

Ditujukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Biofarmasi

Disusun Oleh:

DWI PUJANGGA RAMADHAN


191FF04016
FA 1 MATRIKULASI

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA

PROGRAM PENDIDIKAN STRATA 1

FAKULTAS FARMASI

2020
I. Judul
Absorpsi Obat per Oral secara In Situ

II. Tujuan
Dapat menentukan tetapanan nilai Papp (tetapan permeabilitas semu) pada CUB dan
CLB yang dipengaruhi PH terhadap absorbsi obat di saluran pencernaan, yang diabsorbsi
melalui difusi pasif dan percobaan dilakukan secara in situ.

III. Prinsip
Pengujian absorpsi obat Paracetamol secara in situ melalui usus halus didasarkan atas
penentuan kecepatan hilangnya obat dari lumen usus halus setelah larutan obat dengan kadar
tertentu dilewatkan melalui lumen usus halus secara perfusi dengan kecepatan tertentu.

IV. Dasar Teori


Untuk dapat memberikan efek, suatu obat harus berada di tempat aksinya dan darah
adalah satu-satunya alat transpotasi yang dapat menghantarkan obat ke tempat aksinya
tersebut. Sedangkan untuk mencapai peredaran darah, suatu obat harus mengalami
serangkaian proses absorbsi. Abrobsi merupakan proses masuknya obat dari tempat
pemberian ke dalam darah. Absorbsi bergantung pada cara pemberiannya. Menurut Ansel
(1989) obat yang diberikan secara oral harus menembus membran lambung usus (lambung-
usus halus dan usus besar). Absorpsi obat melalui saluran cerna pada umumnya terjadi secara
difusi pasif. Absorpsi obat di usus halus selalu lebih cepat dibandingkan di lambung karena
permukaan epitel usus halus jauh lebih luas dibandingkan epitel lambung.
Setiap proses absorbsi /penyerapan memiliki limiting step (langkah pembatasan) atau
fase yang paling dominan. Fase ini bisa menjadi fase disintegrasi, permease pembubaran,
atau kombinasi dari fase-fase yang tergantung pada tahap yang mengambil terpanjang.
Tingkat langkah membatasi ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu sifat fisiko kimia dari
obat dan faktor formulasi.
Metode Uji In Situ adalah metode tes yang dilakukan pada organ target tertentu yang
masih dalam sistem organisme hidup. Perbedaan dengan uji in vivo adalah karena tes dalam
organ target in situ dibudidayakan tidak dipengaruhi oleh organ-organ lainnya sehingga profil
dari obat yang diamati hanya didasarkan pada sebuah proses yang terjadi pada organ-organ
ini tanpa dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi di organ lainnya. Sementara berbeda
dalam uji in vitro untuk menguji organ di situ masih menyatu dengan. sistem organisme
hidup, masih mendapat pasokan darah dan suplai oksigen.
Studi tentang absorbsi obat sangat penting untuk dapat memprediksi profil intensitas
efeknya. Banyak variasi metode yang digunakan untuk meneliti absorpsi obat, diantaranya
adalah metode in situ. Metode ini adalah metode yang paling dekat dengan sistem in vivo.
Percobaan absorbsi obat secara in situ melalui usus halus didasarkan atas penentuan
kecepatan hilangnya obat dari lumen usus halus setelah larutan obat dengan kadar tertentu
dilewatkan melalui lumen usus halus secara perfusi dengan kecepatan tertentu. Cara ini
dikenal pula dengan nama teknik perfusi, karena usus dilubangi untuk masuknya ujung kanul,
satu kanul di bagian ujung atas usus untuk masuknya sampel cairan percobaan dan satu lagi
bagian bawah untuk keluarnya cairan tersebut. Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa obat
yang dicobakan stabil, tidak mengalami metabolisme dalam lumen usus, sehingga hilangnya
obat dari lumen usus tersebut adalah karena proses absorbsi.
Bagi obat-obat yang berupa asam lemah atau basa lemah, pengaruh pH terhadap
kecepatan absorbsi sangat besar, karena pH akan menentukan besarnya fraksi obat dalam
bentuk tak terionkan. Bentuk ini yang dapat terabsorbsi secara baik melalui mekanisme difusi
pasif.
Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari berbagai faktor yang dapat
berpengaruh pada permeabilitas dinding usus dari berbagai macam obat. Pengembangan lebih
lanjut dapat digunakan untuk merancang obat dalam upaya mengoptimalkan kecepatan
absorbsinya melalui pembentukan prodrug, khususnya untuk obat-obat yang sangat sulit atau
praktis tidak dapat terabsorbsi. Melalui metode ini akan dapat diungkapkan pula besarnya
permeabilitas membran usus terhadap obat melalui lipoid pathway, pori, dan aqueous
boundary layer.
Metode Trough and Trough merupakan salah satu cara pengobatan in situ. Cara ini
dilakukan dengan menentukan fraksi obat yang terabsorbsi, setelah larutan obat dialirkan
melalui lumen intestine yang panjangnya tertentu dan kecepatan alirnya tertentu pula. Dalam
keadaan tunak proses absorbsi dapat dinyatakan dengan persamaan :

Papp = In (C(1))/(C(0)) x Q/2rl


Dimana :
C(0) = kadar larutan obat mula-mula
C(1) = kadar larutan obat setelah dialirkan melalui intestine sepanjang 1 cm
r = jari-jari usus
l = panjang usus dalam cm
Q = kecepatan alir larutan obat dalam mL/menit
Papp = tetapan permeabilitas semu

V. Alat dan Bahan

Alat : Bahan : Hewan :


1. Seperangkat alat infus 1. Parasetamol Tikus putih
beserta tiangnya jantan
2. Seperangkat alat bedah 2. KH2PO4
3. Benang 3. NaOH
4. Spektrofotometer UV-Vis 4. HCl
5. Kuvet 5. NaCl
6. Alat gelas yang digunakan 6. Asalm
sulfamat
di laboratorium 7. NaNO2
8. Kertas lensa

VI. Prosedur
a. Petunjuk Umum

Percobaan dilakukan dalam 2 (dua) kondisi pH cairan mukosal yang berbeda yaitu
menggunakan cairan lambung buatan (CLB) pH 1,2 dan cairan usus buatan (CUB)
yang mempunyai pH 7,4.

Dilakukan penetapan kadar parasetamol dengan menggunakan metode kolorimetri


b. Petunjuk Khusus
1. Pembuatan CUB dan CLB

Cairan Usus Buatan (CUB) dan Cairan Lambung Buatan (CLB) dibuat sebanyak 1
liter tanpa enzim

Pembuatan CUB

Dilarutkan 6,8 gram kalium fosfat monobasa P dalam 250 ml air, kemudian dicampur dan tambahkan
190 ml natrium hidroksida 0,2 N dan 400 ml air.

Ditambahkan 10,0 gram pankreatin P kemudian dicampur dan pH diatur hingga


7,5 ± 0,1 dengan natrium hidroksida 0,2 N. Encerkan dengan air hingga 1000 ml.
Pembuatan CLB

Sebanyak 2,0 gram natrium klorida P dan 3,2 Pepsin P dilarutkan dalam 7,0 ml
asam klorida P dan air secukupnya hingga 1000 ml.

Larutan mempunyai pH lebih kurang 1,2.

2. Pembuatan larutan parasetamol dalam CUB dan CLB


Masing-masing Paracetamol 500 mg dimasukkan ke CUB & CLB :

500 ml CUB pH 7,4 500 ml CLB pH 1,2

3. Penetapan kadar parasetamol dalam CUB dan CLB sebagai konsentrasi awal
(C0)

Masing-masing larutan parasetamol dipipet sebanyak 1,0 ml dan dimasukkan ke


dalam tabung reaksi dan diberi label

Kemudian ditambahkan pereaksi warna dan absorbannya diukur pada panjang


gelombang 435 nm

Kadar parasetamol dihitung dengan menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang


didapat pada modul 3
4. Percobaan absorpsi (Catatan: Hewan percobaan harus tetap hidup selama
percobaan dan pembuluh darah terutama yang melewati usus tikus tidak putus)

Digunakan dua tikus putih jantan. Tikus pertama dan kedua masing-masing
digunakan untuk percobaan CUB dan CLB

Tikus dipuasakan selama 20-24 jam dengan tetap memberinya minum


Tikus dibius dengan menggunakan eter atau dengan cara lain

Perut tikus dibedah disepanjang linea mediana sampai jelas terlihat bagian
ususnya dan dicari bagian lambung

Diukur 15 cm dari arah lambung ke arah anal dengan bantuan benang

Dari tempat itu, dengan hati-hati, usus dilubangi dengan menggunakan selang
infus yang terhubung dengan labu infus yang berisi CUB atau CLB kea rah anal
dan ikat dengan menggunakan benang

Sekitar 20 cm dari lokasi tersebut, dibuat lubang kembali menggunakan selang


infus yang terhubung ke dalam gelas kimia ke arah lambung yang kemudian diikat

Kran infus dibuka dan dibiarkan CUB atau CLB mengalir melalui usus dan keluar
sampai ke gelas kimia, sampai cairan yang keluar jernih

Labu infus diganti dengan CUB atau CLB yang mengandung parasetamol. Usus
dialiri selama 30 menit

Volume CUB dan CLB yang tertampung dalam gelas kimia dicatat dan ditentukan
kecepatan alirnya (Q) = volume terukur/30 menit

Usus tikus dipotong diantara kedua ujung dan panjangnya diukur menggunakan
penggaris. Data yang terukur sebagai I
Ujung usus diikat dan dimasukkan aquades melalui ujung yang lain sampai usus
menggelembung

Diameter usus diukur dengan jangka sorong dan ditentukan jari-jarinya (r)

5. Penetapan kadar parasetamol dalam CUB atau CLB yang tertampung sebagai
konsentrasi akhir (C1)

Dipipet sebanyak 1,0 ml CUB atau CLB yang tertampung dalam gelas kimia

Ditambahkan kedalamnya pereaksi warna seperti pada prosedur di modul 3

Absorban diukur pada panjang gelombang 435 nm

Kadar parasetamol dihitung dengan menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang


didapat dari pekerjaan nomor 3

6. Penambahan pereaksi warna

Pereaksi warna ditambahkan ke masing-masing tabung reaksi tersebut

Sebanyak 0,5 ml HCl 6N dan 10 ml NaNO2 10 % ditambahkan kedalam tabung


reaksi dan dicampur baik-baik didiamkan selama 5 menit
Dengan hati-hati ditambahkan 10 ml asam aminodosulfat 15 %, dan kemudian 2,5
ml NaOH 10 %. Setelah itu, didiamkan tiga menit sambil direndam di air es

7. Perhitungan Papp

Papp (CUB) dan Papp (CLB) dihitung dengan menggunakan data yang telah
didapat dengan memasukkan pada persamaan

Kedua Papp tersebut dibandingkan dan dilakukan analisis data

VII. Data Pengamatan dan Hitungan

DATA PENGAMATAN ABSORPSI OBAT SECARA IN SITU :


Hitunglang nilai Papp CUB dan CLB dari data dengan masukan pada persamaan.
Bandingkan kedua Papp tersebut.
CUB 
1. Persamaan kurva kalibrasi : Y = 0,067x-0,012
2. Panjang usu tikus = 22 cm 
3. Jari- jari tikus = 0,29 cm 
4. Absorban C0 = 0,458 (pengenceran 200x)
5. Absorban C1 = 0,331 (pengenceran 200x)
6. Volume CUB yg terukur/tertampung selama 30 menit = 50 mL
Jawab :
Perhitungan
1) Perhitungan C0
Perhitungan C0’
Absorban C0 = 0,458
Y = 0,067x-0,012
0,458 = 0,067x-0,012
0,458+0,012
X = = 7,0149 µg/ml
0,067
Perhitungan C0 sebenarnya
C0 sebenarnya = C0’ x Fp
= 7,0149 x 200 = 1402,9800 µg/ml
2) Perhitungan C1
Perhitungan C1’
Absorban C1 = 0,331
Y = 0,067x-0,012
0,331 = 0,067x-0,012
0,331+ 0,012
X = = 5,1194 µg/ml
0,067
Perhitungan C1 sebenarnya
C1 sebenarnya = C1’ x Fp
= 5,1194 x 200 = 1023,8800 µg/ml
3) Perhitungan Q
Volume CUB yang terukur tertampung selama 30 menit = 50 ml
Q = 50ml/30menit = 1,6667 ml/menit

4) Perhitungan Papp
C (1) −2 x r x I
In = x Papp
C(0) Q
−2 x 0,29 x 22 cm
1023,8800 x Papp
In µg /ml = ml
1402,9800 1,6667
menit
In 0,7298 = - 7,6559 x Papp
-0,3150 = - 7,6559 x Papp
Papp = -0,3150/-7,6559
Papp = 0,0411 cm/menit

CLB 
1. Persamaan kurva kalibrasi : Y = 0,0613x-0,0665
2. Panjang usu tikus = 22 cm 
3. Jari- jari tikus = 0,35 cm 
4. Absorban C0 = 0,409 (pengenceran 200x)
5. Absorban C1 = 0,515 (pengenceran 200x)
6. Volume CUB yg terukur/tertampung selama 30 menit = 50 mL
Jawab :
Perhitungan
1) Perhitungan C0
Perhitungan C0’
Absorban C0 = 0,409
Y = 0,0613x-0,0665
0,409 = 0,0613x-0,0665
0,409+0,0665
X = = 7,7569 µg/ml
0,0613
Perhitungan C0 sebenarnya
C0 sebenarnya = C0’ x Fp
= 7,7569 x 200 = 1551,3800 µg/ml
2) Perhitungan C1
Perhitungan C1’
Absorban C1 = 0,515
Y = 0,0613x-0,0665
0,515 = 0,0613x-0,0665
0 ,515+ 0,0 665
X = = 9,4861 µg/ml
0,0 613
Perhitungan C1 sebenarnya
C1 sebenarnya = C1’ x Fp
= 9,4861 x 200 = 1897,2200 µg/ml
3) Perhitungan Q
Volume CUB yang terukur tertampung selama 30 menit = 50 ml
Q = 50ml/30menit = 1,6667 ml/menit

4) Perhitungan Papp
C (1) −2 x r x I
In = x Papp
C(0) Q
−2 x 0 , 35 x 22 cm
1897,2200 x Papp
In µg /ml = ml
1551,3800 1,6667
menit
In 1,2230 = - 9,2398 x Papp
0,2013 = - 9,2398 x Papp
Papp = 0,2013/-9,2398
Papp = -0,0218 cm/menit

VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan absorbsi paracetamol peroral.
Percobaan dilakukan dalam dua kondisi uji yaitu pada kondisi asam menggunakan cairan
lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dan pada kondisi basa menggunakan cairan usus
buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4. Kadar paracetamol diukur menggunakan metode
spektrofotometri.
Percobaan ini dilakukan untuk mengamati pengaruh pH terhadap absorbsi
parasetamol melalui difusi pasif dan percobaan dilakukan secara in situ. Metode in situ
merupakan suatu metode uji yang dilakukan dalam organ target tertentu yang masih berada
dalam sistem organisme hidup. Bedanya dengan uji in vivo, ialah karena pada uji in situ
organ target diusahakan tidak dipengaruhi oleh organ lain sehingga profil obat yang diamati
hanya berdasarkan pada proses yang terjadi pada organ tersebut tanpa dipengaruhi oleh
proses yang terjadi pada organ lain. Sedangkan bedanya dengan uji in vitro ialah organ pada
uji in situ masih menyatu dengan sistem organisme hidup, masih mendapat suplai darah dan
suplai oksigen.
Metode in-situ memiliki kelebihan dibandingkan metode in-vitro. Walaupun hewan
percobaan sudah dianastesi dan dimanipulasi dengan pembedahan, suplai darah mesentris,
neural, endokrin, dan limpatik masih utuh sehingga mekanisme transpor seperti yang terdapat
pada mahluk hidup masih fungsional. Sebagai hasilnya, laju dari metode ini lebih realistik
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan metode in-vitro).
Metode absorbsi in situ sering disebut teknik perfusi karena usus dilubangi satu untuk
memasukkan sampel dan dilubangi satu lagi untuk keluarnya sampel. Cara ini didasarkan
asumsi bahwa hilangnya obat dari lumen usus dikarenakan proses absorbsi, obat dianggap
stabil dan tidak mengalami metabolisme di usus. Metode in situ digunakan untuk
mempelajari faktor yang mempengaruhi permeabilitas usus, untuk mengoptimalkan
kecepatan absorbsi pada sediaan prodrug dan pada obat yang sangat sulit atau praktis tidak
dapat terabsorbsi. Pada percobaan kali ini absorbsi obat melalui difusi pasif, artinya absorbsi
tidak menggunakan energi, terjadi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dan tidak
melawan gradien konsentrasi.
Paracetamol mengalami mekanisme absorpsi secara difusi pasif berdasarkan sifat
asam lemah. Difusi pasif adalah proses perpindahan obat atau senyawa dari kompartemen
yang berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, yang merupakan mekanisme transpor
sebagian besar obat.

Difusi pasif tergantung pada :

a. Ukuran dan bentuk molekul obat.


b. Kelarutan obat dalam lemak.
c. Derajat ionisasi obat.

Difusi pasif terjadi dari kondisi dengan konsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi rendah.
Absorpsi obat secara difusi pasif tergantung dari derajat ionisasinya. Untuk dapat terabsorpsi,
obat harus bereaksi dalam bentuk tak terionkan karena cenderung bersifat non polar sehingga
lebih mudah menembus membrane biologis yang dimana tersusun atas lapisan lipid (lemak).
Pada percobaan ini organ yang digunakan adalah usus tikus, digunakan usus halus karena
usus merupkan tempat absorbsi obat dalam tubuh. Kotoran pada usus dibersihkan
menggunakan spuit karena dapat mempengaruhi absorbsi, namun juga dapat mempengaruhi
data karena perbedaan kecepatan alir dan gravitasi. PAPP menunjukkan tingkat permeabel
dan membran, semakin tinggi maka waktu obat dalam membran lama, sebaliknya jika rendah
maka obat akan cepat keluar dan efek yang diinginkan tidak tercapai. Praktikum ini dilakukan
untuk mengetahui absorbsi obat per oral secara in situ. Pada praktikum ini, melakukan
percobaan absorbsi parasetamol menggunakan dua kondisi saja, yaitu pada kondisi asam
menggunakan CLB tanpa enzim dengan pH 1,2 atau kondisi normal-basa menggunakan CUB
tanpa enzim pH 7,4. Proses yang dilakukan pada paktikum ini umumnya sama, yang
membedakan hanyalah kondisi uji yang digunakan dengan menyesuaikan kondisi saluran
cerna asli tempat dimana obat diabsorbsi. Kondisi uji berupa cairan lambung buatan (CLB)
tanpa enzim pH 1,2 dancairan usus buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4. Cairan lambung
buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dibuat dengan mencampurkan 2 gram natrium klorida
dengan 7 ml asam klorida pekat, kemudian ditambahkan aquadest ad 1 liter. Sedangkan untuk
cairan usus buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4 dibuat dengan cara mencampurkan 6,8 ml
Kalium Hidrogen Fosfat dengan 250 ml air suling kemudian menambahkan 190 ml NaOH
0,2 N yang diencerkan hingga 400 ml. Selanjutnya pH campuran diatur hingga mendekati 7,4
dengan penambahan NaOH 0,2 N. Setelah itu menambahkan air suling hingga 1 liter.

Selanjutnya membuat kurva baku parasetamol dalam CUB dan CLB tanpa enzim
dengan kadar yang telah ditentukan. Sebelum mencari panjang gelombang maksimum
parasetamol dalam CUB dan CLB tanpa enzim, yaitu 435 nm. Karena pada Panjang
gelombang tersebut merupakan panjang gelombang visible serta adanya tambahan perekasi
warna agar terdeteksi meskipun kadar sedikit. Kemudian dilakukan perhitungan dari kurva
baku sehingga didapatkan persamaan regresi sebagi berikut :

CUB : Persamaan kurva kalibrasi : Y = 0,067x-0,012

CLB : Persamaan kurva kalibrasi : Y = 0,0613x-0,0665

Tikus yang digunakan adalah satu ekor tikus jantan, dimana tikus dipuasakan dulu selama 24
jam dan hanya boleh diberiminum. Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang
berat tikus untuk menentukan dosis pemberian anastesi. Kemudian menunggu hingga injeksi
anastesi bekerja sehingga tikus menjadi tidak sadar. Apabila efek anastesi terlalu lama, maka
tikus diberi anastesi menggunakan kapas yang sudah diberi eter. Setelah tikus teranastesi,
maka membedah perut tikus sepanjang linea medina perut sampai jelas terlihat bagian
ususnya. Mencari bagian lambung, mengukur 15 cm dari lambung ke arah anal menggunakan
benang, dengan hati-hati dibuat lubang dan selang dimasukkan dan ditali dengan benang.
Pemasangan selang sedemikian rupa sehingga ujungnya mengarah ke bagian anal. Digunakan
15 cm dari lambung untuk menghindari pengaruh dari lambung. Selang akan menuju labu
infuse berisi CUB. Dari ujung selang ini usus diukur lagi dengan menggunakan benang ke
arah anal sepanjang 20 cm, dan disitu dibuat lubang kedua. Selanjutnya dipasang pula selang
kedua yang mengarah ke bagian oral dan mengikatnya dengan benang. Selang tersebut
menuju ke beaker glass.

Membuka kran infuse dan membiarkan CUB atau CLB mengalir melalui usus dan
keluar menuju beaker glass sampai cairan yang keluar jernih. Menghentikan pengaliran
apabila salah satu larutan CUB yang keluar telah jernih. Melarutkan 500 mg parasetamol
dengan 50 ml CUB di dalam beaker glass. Setelah itu memasukkan larutan tersebut ke dalam
infus yang berisi CUB dan menambahkan CUB sampai batas tanda 500 ml. Mengaliri usus
selama 30 menit dengan kecepatan infuse satu tetes per detik. Mencatat volume CUB yang
tertampung pada beaker glass dan mementukan kecepatan alirnya (Q) yaitu volume terukur /
30 menit. Kemudian itu memotong usus tikus antara ke dua ujung selang dan mengukur
panjangnya menggunakan penggaris. Data yang terukur sebagai l. Selanjutnya mengikat
ujung usus dan memasukkan aquades melalui ujung yang lain sampai usus menggelembung
maksimal dan mengukur keliling dari usus tersebut. Kemudian melakukan perhitungan untuk
mendapatkan jari-jari usus.

Melakukan penetapan kadar parasetamol dalam CUB serta CLB sebagai konsentrasi
awal (C0) dengan memasukkan nilai absorbansi C0 pada persamaan regresi. Nilai absorbansi
C0 adalah 0,458 (CUB) C0 0,409 (CLB). Kemudian melakukan penetapan kadar parasetamol
dalam CUB dan CLB yang telah dialirkan melalui usus tikus dan tertampung di beaker glass
sebagai konsentrasi akhir (C1). Pengenceran yang dilakukan adalah 200 kali pada masing-
masing CUB atau CLB dengan cara mengambil 1,0 ml larutan yang tertampung dan
menambahkan 100 ml C0 sehingga didapatkan nilai absorbansi C1 0,331 (CUB) C1 0,515
(CLB). Untuk selanjutnya digunakan menghitung kadar parasetamol pada C0 dan C1
menggunakan persamaan kurva kalibrasi. Yang terakhir adalah melakukan perhitungan Papp
(CUB) menggunakan data yang telah didapat dengan memasukkan pada persamaan Papp.

Kemudian selanjutnya membahas absorpsi Paracetamol secara teoritis. Secara umum,


absorpsi atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul obat kedalam tubuh
atau menuju ke peredaran darah tubuh setelah melewati sawar biologik. Absorpsi obat adalah
peran yang terpenting untuk akhirnya menentukan efektivitas obat. Agar suatu obat dapat
mencapai tempat kerja di jaringan atau organ, obat tersebut harus melewati berbagai
membran sel. Pada umumnya, membran sel mempunyai struktur lipoprotein yang bertindak
sebagai membran lipid semipermeabel. Sebelum obat diabsorpsi, terlebih dahulu obat itu
larut dalam cairan biologis. Kelarutan (serta cepat-lambatnya melarut) menentukan
banyaknya obat terabsorpsi. Dalam hal pemberian obat per oral, cairan biologis utama adalah
cairan gastrointestinal; dari sini melalui membran biologis obat masuk ke peredaran sistemik.
Disolusi obat didahului oleh pembebasan obat dari bentuk sediaannya.

Banyak faktor mempengaruhi kecepatan dan besarnya absorbsi, termasuk bentuk


dosis, jalur/rute masuk obat, aliran darah ke tempat pemberian, fungsi saluran pencernaan
(gastrointestinal), adanya makanan atau obat lain, dan variable lainnya. Bentuk obat
merupakan penentu utama bioavailability ( bagian dosis obat yang mencapai sirkulasi
sistemik dan mampu bekerja pada tubuh sel). Dalam bentuk obat intravena hampir 100%
bioavailable; obat oral hamper selalu kurang dari 100% bioavailablenya karena beberapa
tidak diserap dari saluran cerna dan beberapa menuju hati dan sebagian di metabolism
sebelum mencapai sistem sirkulasi.

Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik dan


analgesik. Parasetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas badan yang disebabkan
olehkarena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu, parasetamol juga dapat digunakan
untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Secara teoritis
parasetamol memiliki pH antara 5,5 – 6,5. Hal ini mengartikan bahwa parasetamol bersifat
asam lemah dan hampir mendekati netral/ basa. Absorbsi parasetamol tergantung pada pH
lambung dan usus. Absorbsi parasetamol lebih cepat dalam pH basa usus dibandingkan
dengan pH asam pada lambung. Adanya makanan di dalam lambung akan sedikit
memperlambat absorbsi dari parasetamol.

Absorpsi obat tergantung dari sifat fisika dan kimia obat yang berbeda-beda tiap
senyawa, dan tempat absorpsi obat yang menentukan pH lingkungan absorpsi seperti
lambung memiliki pH rendah (asam), usus pH tinggi (basa). Selain itu ada pengaruh bentuk
obat, yang berbentuk partikel kecil sangat mudah/cepat absorpsinya. Begitu juga dengan
bentuk obat yang tersedia di lokasi absorpsi, apakah bentuk ion atau molekul. Hanya obat
dalam bentuk molekul yang akan mengalami absorpsi karena bentuk molekul yang larut
dalam lipid akan mudah menembus membran tubuh tempat absorpsi obat (membran tubuh
bersifat lipid bilayer).

Oleh karena itu, tempat absorpsi obat dapat diperkirakan berdasarkan pH obat. Obat
bersifat asam seperti akan mengalami absorpsi di lambung. Karena dalam lambung yang
bersuasana asam obat-obat asam akan mengalami bentuk molekul yang lebih banyak
dibandingkan bentuk ionnya (bentuk ion larut air mudah diekskresikan, bukan diabsorpsi).
Selama proses absorpsi, obat mengalami penurunan jumlah karena tak semua obat diabsorpsi.
Selain itu selama proses absorpsi, jika obat diberikan secara oral maka akan mengalami siklus
enterohepatik (perjalanan dari pembuluh darah di usus ke portal hepar di mana terdapat
enzim beta-glikosidase yang mengolah sebagian obat sebelum sampai di reseptornya).

Kecepatan absorbsi obat sangat dipengaruhi oleh keofisien partisi. Hal ini disebabkan
oleh komponen dinding usus yang sebagian besar terdiri dari lipida. Dengan demikian obat-
obat yang mudah larut dalam lipida akan dengan mudah melaluinya. Sebaliknya obat-obat
yang sukar larut dalam lipida akan sukar diabsorpsi. Obat-obat yang larut dalam lipida
tersebut dengan sendirinya memiliki koefisien partisi lipida-air yang besar, sebaliknya obat-
obat yang sukar larut dalam lipid akan memiliki koefisien partisi yang sangat kecil.Pada
umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau basah lemah. Jika obat tersebut dilarutkan
dalam air, sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang terionkan tergantung pH
larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan (unionized) lebih mudah larut dalam lipida,
sebaliknya yang dalam bentuk ion kelarutannya kecil atau bahkan praktis tidak larut, dengan
demikian pengaruh pH terhadap kecepatan absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa
lemah sangat besar.

Koefisien partisi minyak – air adalah suatu petunjuk sifat lipofilik atau hidrofobik dari
molekul obat. Lewatnya obat melalui membran lemak dan interaksi dengan makromolekul
pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik dengan koefisien partisi oktanol / air dari
obat (Martin, dkk, 1990). Papp (app = apparent) merupakan tetapan permeabilitas yang
nilainya bervariasi terhadap pH. Jika suatu senyawa, asam atau basa mengalami ionisasi
sebesar 50% (pH=pKa) maka koefisisen partisinya setengah dari koefisien partisi obat yang
tidak mengalami ionisasi (Gandjar, dkk, 2007).

Persamaan tetapan permeabilitas :

c (1) −2. rl
ln c (0)
= Q x Papp

Dimana :

C(0) = Kadar larutan obat mula-mula

C(1) = Kadar larutan obat setelah dialirkan melalui intestine sepanjang l cm

r = jari-jari usus

l = panjang usus dalam cm

Q = Kecepatan alir larutan obat dalam mL menit-1

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai jari-jari dan panjang usus maka
nilai Papp yang diperoleh kecil (berbanding terbalik). Semakin rendah nilai Papp maka
permeabilitasnya rendah maka obat akan cepat keluar dan efek yang diinginkan tidak dicapai
sebaliknya jika nilai Papp semakin tinggi maka waktu obat didalam membran untuk
diabsorbsi semakin lama sehingga efek yang diinginkan dicapai.
Berdasarkan hasil percobaan didapat nilai Papp untuk CUB sebesar 0,0411 cm/menit
sedangkan untuk CLB sebesar -0,0218 cm/menit. Dari hasil tersebut ketika usus tikus dialiri
dengan CUB memiliki permeabilitas lebih tinggi dibanding dengan CLB, hal tersebut
menunjukkan bahwa absorbsi terbesar tejadi pada usus yang dialiri oleh CUB. Usus yang
memiliki pH basa lemah yang di aliri dengan CUB yang bersifat basa pula menyebabkan obat
masih dalam bentuk molekul sehingga mudah untuk diabsorbsi, sedangan ketika usus yang
memiliki pH basa yang dialiri CLB yang cenderung asam obat kan mengalami ionisasi
sehingga tidak dapat di absorbsi oleh usus. Dilihat dari hasil. Perbedaan nilai + dan – tersebut
dipengaruhi oleh perbedaan rumus perhitungan Papp yang digunakan. Hasil Papp CLB dan
CUB tersebut sesuai dengan teoritis karena paracetamol dalam CUB berbentuk tak terion
sehingga kemampuan obat untuk bertahan pada permukaan membran untuk diabsorbsi juga
besar dibandingkan dalam CLB. Hal ini juga berarti karena nilai Papp (tetapan permeabilitas
semu) CUB lebih besar yakni 0,0411 cm/menit daripada CLB -0,0218 cm/menit.
Menunjukan bahwa waktu obat paling lama bertahan dalam membrane untuk diabsorpsi
adalah pada CUB sebaliknya obat yang paling cepat keluar adalah pada CLB.

IX. Kesimpulan

Metode in-situ memiliki kelebihan dibandingkan metode in-vitro yaitu laju dari
metode ini lebih realistik dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan metode in-vitro.
Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan dalam dua kondisi uji yaitu pada kondisi asam
menggunakan cairan lambung buatan (CLB) tanpa enzim pH 1,2 dan pada kondisi basa
menggunakan cairan usus buatan (CUB) tanpa enzim pH 7,4 untuk mengamati pengaruh pH
terhadap absorbsi parasetamol melalui difusi pasif. Secara teoritis parasetamol memiliki pH
antara 5,5 – 6,5 yang berarti bahwa parasetamol bersifat asam lemah dan hampir mendekati
netral/ basa sehingga absorbsi parasetamol lebih cepat dalam pH basa usus dibandingkan
dengan pH asam pada lambung. Papp (app = apparent) merupakan tetapan permeabilitas yang
nilainya menunjukkan suatu kemampuan obat untuk berada pada membran, semakin tinggi
nilai Papp yang diperoleh maka semakin baik obat untuk terabsorbsi pada membran. Nilai
Papp bervariasi terhadap pH. Pada praktikum kali ini didapatkan nilai Papp pada CLB
-0,0218 cm/menit adalah, sedangkan CUB adalah 0,0411 cm/menit. Perbedaan nilai + dan –
tersebut dipengaruhi oleh perbedaan rumus perhitungan Papp yang digunakan. Hasil Papp
CLB dan CUB tersebut sesuai dengan teoritis karena paracetamol dalam CUB berbentuk tak
terion sehingga kemampuan obat untuk bertahan pada permukaan membran untuk diabsorbsi
juga besar dibandingkan dalam CLB.

X. Daftar Pustaka
Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608,
700, Jakarta, UI Press.

Gandjar, Ibnu Gholib, Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Anaisis, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.

Husniati, dkk, 2008, Studi Bioaktivitas Dari Pengaruh Lipofilitas Senyawa Anti
Kanker Analog UK-3A Secara In-Vitro dan In-Silico, Teknologi Indonesia,
Vol (I), No 31, Hal. 57.

Martin, Alfred, dkk, 1990, Farmasi Fisik. Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu
Farmasetik, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Shargel, Leon dan A.B.C. Yu. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya : Airlangga University Press.