Anda di halaman 1dari 30

TUGAS KELOMPOK MATA

STRABISMUS

Kelompok 7:

ASRI MAULANI 20160811014001

ISAK KASE WAICANG 20160811014002

ADVENIA MERRY BINSYOWI KAPISA 20160811014003

EMANUEL ADVENIA T. BAGA 20160811014005

MELINDA ANASTASYA IRENE BELLA 20160811014006

VITALIA SARUNI RUMKOREM 20160811014008

RUTH CITRA IRIANI PUTRI RAMANDEI 20160811014009

TERLINCE PAHABOL 20160811014010

Dosen Pengampu :

dr. Livia, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2020
SOAL

1. Apa saja otot ekstraokular, inervasi serta aksinya?


2. Ada berapa jenis pergerakan bola mata?
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan strabismus?
4. Jelaskan mengenai hukum Hering dan Sherrington!
5. Apa yang dimaksud dengan Yoke muscles!
6. Apa yang dimaksud dengan penglihatan binokular tunggal?
7. Bagaimana menilai posisi bola mata?
8. Apa perbedaan strabismus paralitik dan non paralitik?
9. Bagaimana penatalaksaan pasien dengan strabismus?
10. Jelaskan mengenai ambliopia, etiologi serta tatalaksananya!

JAWAB

1. Apa saja otot ekstraokular, inervasi serta aksinya?


 Otot-otot ekstraokular terdiri dari 4 otot rektus (inferior-superior dan lateral-
medial),2 otot oblik (superior-inferior ) dan otot levator palpebral superior.
 Inervasi :
Nervus cranialis III (okulomotoris) terdiri dari 2 devisi yaitu upper dan lower.
Devisi upper menginervasi otot rektus superior dan levator
palpebral.Sedangkan lower menginervasi otot rektus medial,rektus inferior
dan oblik inferior.Nervus cranialis IV (trochlearis) menginervasi otot oblik
superior.Nervus cranialis VI (abdusen) menginervasi otot rektus lateralis.
 Suplai darah :
1. Arteri oftalmik cabang muscular superor,muscular inferior,lakrimal
dan supraorbital
2. Arteri maksilaris cabang infraorbital

 Aksi :

Otot primer sekunder tersier

Rektus medial adduksi

Rektus lateral abduksi


Rektus inferior depresi eksiklotorsi adduksi

Rektus superior elevasi insiklotorsi adduksi

Oblik inferior eksiklotorsi elevasi abduksi

Oblik superior insiklotorsi depresi abduksi

Levator palpebra Elevasi palpebral


superior

2. Ada berapa jenis pergerakan bola mata?

Penglihatan 3D tidak dapat dibentuk bila bayangan pada kedua mata tidak
terdapat pada kedua macula lutea serentak. Diperlukan penentuan kedudukan
pergerakan bola mata, dan 9 posisi untuk diagnosis kelainan pergerakan mata.
Dikenal beberapa bentuk kedudukan bola mata :

 Posisi primer  Mata melihat lururs kedepan


 Posisi sekunder  mata melihat :
1. Lurus ke atas
2. Lurus ke bawah
3. Lurus ke kiri dan
4. Lurus ke kanan
 Posisi tersier  mata melihat :
1. Ke atas kanan
2. Ke atas kiri
3. Ke bawah kanan dan
4. Ke bawah kiri
OTOT LUAR BOLA MATA

Pergerakan kedua bola mata dimungkinkan oleh adanya 6 pasang oto mata
luar. Pergerakan bola mata ke segala arah ini bertujuan untuk memperluas lapang
pandangan, mendapatkan penglihatan foveal dan penglihatan binokular untuk jauh
dan dekat.

Otot-otot bola mata ini menggerakkan bola mata pada 3 buah sumbu
pergerakan, yaitu sumbu antero-posterior, sumbu vertikal dan sumbu nasotemporal
(horizontal).

Fungsi masing-masing otot:

 Otot rektus medius  kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau


menggulirnya bola mata ke arah nasal dan otot ini dipersarafi oleh N. III (saraf
Okulomotor). Rektus medius mempunyai origo pada anulus Zinn dan
pembungkus dura safar optik yang sering memberikan dan rasa sakit pada
pergerakkan mata bila terdapat neuritis retrobulbar, dan berinsersi 5 mm di
belakang linbus. Rektus medius merupakan otot mata yang paling tebal
dengan tendon terpendek.
 Otot rektus lateral  kontraksinya akan menghasilkan abduksi atau
menggulirnya bola mata ke arah temporal dan otot ini dipersarafi oleh N. IV
(saraf Abdusen). Rektus lateral mempunyai origo pada anulus Zinn di atas
dan di bawah foramen optik. Rektus lateral dipersarafi oleh N. IV . Dengan
pekerjaan menggerakan mata terutama abduksi.
 Otot rektus superior  kontraksinya akan menghasilkan elevasi, aduksi dan
intorsi bola mata dan otot ini dipersarafi ke III (saraf okulomotor). Rektus
superior mempunyai origo pada anulus Zinn dekat fisura orbita superior
beserta lapis dura saraf optik yang sering memberikan dan rasa sakit pada
pergerakkan mata bila terdapat neuritis retrobulbar. Otot ini berisi 7 mm
dibelakang linbus dan dipersarafi cabang N. II.
o Rektus superior, aksi primer  elevasi dan aduksi
o Sekunder : -intorsi dalam aduksi
-aduksi dalam elevasi

Fungsinya menggerakan mata-elevasi, terutama bila mata melihat ke


lateral; aduksi, terutama bila tidak melihat ke lateral.
- Insiklotorsi

 Otot rektus inferior  kontraksinya akan menghasilkan depresi pada abduksi,


ekstorsi dan pada abduksi, dan aduksi 23 derajat pada depresi. Otot ini
dipersarafi oleh saraf ke III. Rektus inferior mempunyai origo pada anulus
Zinn, berjalan antara oblik inferior dan bola mata atau sklera dan insersi 6
mmdi belakang linbus yang pada persilangan dengan oblik inferior diikat kuat
oleh ligamen lockwood. Rektus inferior membentuk sudut 23 derajat dengan
sumbu penglihatan.
o Rektus inferior, aksi primer  depresi pada abduksi
o Sekunder : -ekstorsi pada aduksi
-aduksi pada depresi
 Otot oblik superior  kontraksinya menghasilkan depresi intorsi bila
berabduksi 39 derajat, depresi saat abduksi 51 derajat, dan bila sedang depresi
akab berabduksi. Otot ini yang dipersarafi saraf ke IV ( saraf troklear). Oblik
superior berorigo pada anulus zinn dan ala parva tulang sfenodi di atas
foramen optik, berjalan menuju troklea dan dikatrol balik dan kemudian
berjaalan diatas otot rektus superior, yaang akan kemudian berinsersi pada
sklera bagian temporal belakang bola mata. Oblik superior dipersarafi oleh
saraf ke IV atau saraf toklear yang keluar dari bagian dorsal susunan saraf
pusat. Mempunyai aksi pergerakan miring dari toklea pada bola mata dengan
kerja utama terjadi bila sumbu aksi dan sumbu penglihatan searah atau mata
melihat ke arah nasal. Berfungsi menggerakan bola mata untuk
depresi(primer) terutama bila mata melihat ke nasal, abduksi dan insiklotorsi.
Oblik superior merupakan otot pergerakan mata yang terpanjang dan tertipis.
 Oblik inferior  dengan aksi primernya ekstorsi dalam abduksi sekunder
oblik inferior adalah elevasi dalam aduksi dan abduksi dalam elevasi. M.
Oblik inferior dipersarafi oleh saraf ke III. 1

Rektus medius Aduksi

Rektus lateral Abduksi

Rektus superior Primer: Sekunder:

 Elevasi dalam  intorsi dalam aduksi


abduksi  aduksi dalam
elevasi
Rektus inferior Primer: Sekunder:

 depresi pada  akstorsi pada aduksi


abduksi  aduksi pada depresi
Oblik superior Primer: Sekunder:

 intorsi pada abduksi  depresi dalam


aduksi
 abduksi dalam
depresi
Oblik inferior Primer: Sekunder:

 ekstorsi dalam  elevasi dalam


abduksi aduksi
 abduksi dalam
elevasi

3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan strabismus?


Strabismus merupakan suatu kelainan kedudukan bola mata yang bisa
terjadi pada arah atau jarak penglihatan tertentu saja, misalnya kelainan
kedudukan untuk penglihatan jarak jauh saja atau kearah atas saja, atau terjadi
pada semua arah dan jarak penglihatan.6 Suatu keadaan dimana kedudukan
kedua bola mata tidak ke satu arah.2 Strabismus merupakan keadaan dimana
salah satu mata tidak sejajar dengan mata yang lain sehingga pada satu waktu
hanya satu mata yang melihat objek yang dipandang.9

Foria dan Tropia


Kelainan kedudukan bola mata dibagi dalam kedudukan yang bersifat
laten dan yang manifes. Kelainan kedudukan laten disebut sebagai ‘Foria’
sedang manifes disebut sebagai “Tropia”, sedang keadaan normal disebut
sebagai ‘ortoforia’.2
Tergantung arah deviasinya kelainan kedudukan bola mata disebut
esoforia/tropia apabila deviasi axis penglihatan berdeviasi ke arah superior
maka disebut sebagai “hipertrofia/tropia” dan bila ke arahinverior maka
disebut sebagai “hipovoria/tropia”. Bila salah satu mata terletak lebih tinggi
dari lainnya disebut sebagai hipertropia dan dinyatakan mata mana yang
terletak lebih tinggi.2
syarat-syarat penglihatan binokuler yang normal 8
1. faal masing-masing mata harus baik, yakin bahwa benda yang menjadi
perhatian bisa difiksir pada kedua fovea, & sebanding
2. posisi kedua mata adalah sedemikian rupa sehingga pada setiap arah
penglihatan, bayangan benda yang menjadi perhatian selalu jatuh tepat
pada kedua fovea. hal ini dicapai karena kerjasama yang baik dari seluruh
otot-otot ekstraokuler kedua mata & terlebih dulu masing-masing otot
mempunyai faal yang normal.
3. harus ada kemampuan susunan syaraf pusat untuk mensintesa kedua
bayangan yang diterima kedua mata menjadi suatu sensasi berupa
bayangan tunggal. hal ini disebut fusi.
kalau diperhatikan syarat-syarat tersebut di atas maka nama lain yang lebih
tepat untuk strabismus adalah “visual sensori motor anomali”.

4. Jelaskan mengenai hukum Hering dan Sherrington!


a. Hukum Hering (Ewald hering, ahli fisiologi jerman 1834-1918)
Pada pergerakan bersama kedua bola mata didapatkan rangsang yang
sama dan simultan pada otot-otot mata agonis dari pusat persarafan
okulogiri untuk mengarahkan kedua mata. Dasarnya adalah dapatnya
persarafan bilateral mata, pesarafan yang sama diteruskan pada kedua
mata sehingga tidak terjadi pergerakan satu mata bebas terhadap yang
lainya.
 Pergerakan Kedua mata
1. Duksi : Pergerakan monokuler,
2. Versi : Pergerakan dari kedua mata ke arah yang sama.
 Dextroversi/Levoversi : Pergerakan dari kedua mata
kekanan/kekiri.
 Supraversi/Infraversi : Pergerakan dari kedua mata ke
atas/kebawah
 Dextrocycloversi : Pergerakan memutar dari kedua mata
ke kanan ( clockwise )
 Levocycloversi : Pergerakan memutar dari kedua mata ke
kiri
3. Vergens : Pergerakkan binokuler yang sinkron dan simetris
dalam arah berlawanan
 Konvergens : Kedua mata bergerak ke arah nasal
 Divergens : Kedua mata bergerak ke arah temporal

Pada pergerakan mata yang terkoodinir , satu otot dari satu mata
bergandengan dengan satu otot dari mata yang lain , untuk melakukan
pergerakan dalam 6 arah jurusan kardinal dari penglihatan. Otot-otot
yang berpasangan itu disebut “ Yoke Muscles “ .
Menurut hukum “ Hering “ : Pada setiap gerakan mata bersama, ke 6
arah kardinal , Yoke Muscles ini mendapat rangsangan kekuatan yang
sama.

 Yoke’s Muscles (Haring’s Law)

Dalam pergerakan bola mata, salah satu otot mata berpasangan dengan
otot mata lain pada bola mata yang lain.

Jurusan
Penglihatan Mata Kanan Mata kiri
Kardinal
Ke atas kanan M. Rectus Superior M. Obliqus inferior

Ke kanan M. Rectus Lateralis M. Rectus medialis

Ke kanan bawah M. Rectus inferior M. Obliqus superior

Ke kiri bawah M. Obliqus superior M. Rectus inferior

Ke kiri M. Rectus medialis M. Rectus lateralis

Ke atas kiri M. Obliqus inferior M. Rectus superior

OD OS

Pergerakan mata lurus ke bawah/ ke atas tidak di anggap sebagai jurusan


penglihatan kardinal, karena tak ada pasangan “ Yoke Muscles ” yang terutama
bertanggung jawab terhadap gerakan ini.
b. Hukum Sherington
Otot mata luar seperti pada otot serat lintang menunjukan persarafan
resiprokal pada otot antagonisnya. Pada kedudukan mata tertentu setiap kontraksi
otot selalu terjadi rangsangan antagonis yang berkekuatan sama mengimbangi
rangsang tersebut. Pada pergerakan mata terjadi rangsangan sama pada otot mata
yang sinergik dan pengendoran rangsangan yang sesuai pada otot antagonistic.
Bila mata kanan yang melakukan gerakan abduksi yang merupakan rangsangan
pada otot rektus lateral kanan maka akan terjadi perlemahan rangsangan pada otot
rektus medius kanan yang antagonis terhadap rektus lateral kanan.
Contohnya : Elevasi dilakukan oleh M. rectus superior dan M. Obliqus
inferior. Kedua otot ini bekerja sinergistik. Otot yang sinergistik untuk suatu
fungsi, mungkin antagonistik untuk fungsi yang lain, seperti pada M. Rectus
superior dan M. Obliqus inferior sinergistik untuk elevasi, tetapi antagonistik
untuk torsi, karena M. Rectus superior menyebabkan intorsi sedang M. Obliqus
inferior melakukan ekstorsi.

5. Apa yang dimaksud dengan Yoke muscles!

Pada setiap gerakan mata yang terkoordinir, otot dari satu mata akan berpasangan
dengan otot pada mata yang lain untuk menghasilkan gerakan mata dalam 6 arah
kardinal. Otot-otot yang berpasangan ini disebut YOKE Muscles dan dalam gerakan
berpasangan ini YOKE Muscles mendapat persyarafan yang sama kuat (Hukum
Hering).

Hukum Hering

” Pada setiap arah gerakan mata secara sadar terdapat rangsangan yang simultan
(bersama-sama) pada setiap otot luar kedua bola mata yang seimbang sehingga
gerakannya lancar dan tepat”

Berikut adalah tabel pergerakan bola mata ;

Arah Gerakan YOKE muscles

 Kanan Atas  Rectus Sup. OD & Obliqus Inf.OS


 Kanan  Rectus Lat.OD & Rectus Med.OS
 Kanan Bawah  Rectus sup.OD & Obliqus inf.OS
 Kiri Atas  Rectus inf.OD & Rectus.Sup.OS
 Kiri  Rectus Med.OD & Rectus Med.
 Kiri bawah OS
 Obliqus Sup.OD & Rectus Inf.OS

6. Apa yang dimaksud dengan penglihatan binokular tunggal?

Penglihatan binokular dapat diartikan sebagai keadaan visual yang simultan,


yang didapat dengan penggunaan yang terkoordinasi dari kedua mata, sehingga
bayangan yang sedikit berbeda dan terpisah yang timbul di tiap-tiap mata dianggap
sebagai suatu bayangan tunggal dengan proses fusi. Dengan demikian penglihatan
binokular menyiratkan fusi, menggabungkan penglihatan dari kedua mata untuk
membentuk suatu persepsi tunggal.
Penglihatan binokular dikatakan normal jika bifoveal dan tidak terdapat
deviasi yang manifes. Penglihatan binokular dikatakan abnormal ketika bayangan dari
obyek yang difiksasi diproyeksikan dari fovea satu mata dan suatu area ekstrafovea
mata yang lain. Suatu strabismus yang manifes oleh karena itu selalu terdapat pada
penglihatan binokular yang abnormal

Penglihatan binokular normal memerlukan:

1. aksis visual yang jernih sehingga menghasilkan penglihatan yang jelas pada
kedua mata,
2. kemampuan elemen - elemen retinokortikal untuk berfungsi dalam
hubungannya dengan satu sama lain untuk mendorong fusi dari dua bayangan
yang sedikit berbeda, disebut fusi sensoris,
3. koordinasi yang tepat dari kedua mata untuk semua arah pandangan, sehingga
elemen retinokortikal yang berkorespondensi terletak pada suatu posisi untuk
mengatur dua bayangan, disebut fusi motoris

Tajam Penglihatan Binokuler Tunggal:

Kemampuan melihat dengan kedua mata serentak untuk memfokuskan sebuah


benda dan terjadi fusi pada kedua bayangan yang menjadi bentuknya di dalam ruang.
Diharapkan dengan ini melihat dengan kedua mata serentak tanpa keluhan diplopia.
Dengan penglihatan binokuler di mungkinkan untuk menentukan kedalaman benda
yang dilihat, yang disebabkan adanya disparitas ringan antara kedua mata.
Penglihatan binokuler dapat dilihat dengan benda yang tertutup pada satu mata tetapi
akan dapat dilihat oleh mata lain sehingga terdapat kesan stereoskopik

Untuk steroskopik retina pada satu mata terdapat titik yang sekoresponden
pada mata lainnya yang akan memberikan bayangan satu benda tunggal bila dilihat
dengan kedua mata

Penglihatan malam, merupakan kemampuan melihat di malam hari dengan


penerangan kurang. Penglihatan malam merupakan hasil fungsi mata beradaptasi
gelap dengan melakukan dilatasi pupil, bertambahnya visual purple dan menurunnya
ambang intensitas.

7. Bagaimana menilai posisi bola mata?


Ortoforia

Adalah kedudukan bola mata dimana kerja otot-otot mata dalam keadaan
seimbang sehingga memungkinkanterjadinya fusi tanpa usaha apapun dan
penyimpangan ini tidak berubah walaupun reflek fusi diganggu. Ortoforia
ideal tak pernah ada (ajaib), pada umumnya selalu ada foria (fisiologis).

Foria fisiologis:

• esoforia 1 – 2 prisma

• eksophoria 1 – 4 prisma

• hiperforia 0. 5 – 1 prisma

Dengan cover test : deviasi terkecil yang masih dapat diketahui 1 derajat.
Deviasi

terkecil yang tampak secara inspeksi adalah 7 derajat.

Gambar 12. Cover Test

Heteroforia

Adalah penyimpangan sumbu penglihatan yang tersembunyi yang masih dapat


diatasi

dengan reflek fusi dan penyimpangan ini menjadi nyata bila reflek fusi
diganggu.
Pemeriksaan dengan Cover-Uncover test (diperhatikan pergerakan mata yang
ditutup) :

- Mata beregerak kedalam (setelah tutup dibuka) : Eksoforia

- Mata bergerak keluar : Esoforia

- Mata bergerak keatas : Hipoforia

- Mata bergerak kebawah : Hiperforia

Gambar 13. Cover – Uncover Test

Heterotropia

Adalah suatu keadaan penyimpangan sumbu bola mata yang nyata dimana
kedua

sumbu penglihatan tidak berpotongan pada titik fiksasi dan penyimpangan ini
tidak adapat

diatasi dengan tenaga fusi.


Pemeriksaan dengan Cover test (diperhatikan mata yang tidak ditutup) :

- Mata bergerak kedalam (setelah satu mata ditutup)  Eksotropia

- Mata bergerak keluar : Esotropia

- Mata bergerak keatas : Hipotropia

- Mata bergerak kebawah : Hipertropia

Kedudukan primer

Adalah kedudukan bola mata pada waktu melihat lurus kedepan pada jarak
minimal 6

meter dengan posisi badan dan kepala tegak.

Duksi

• Abduksi : Peregerakan satu mata keluar/temporal

• Adduksi : Pergerakan satu mata kedalam/nasal

• Supraduksi/elevasi : Pergerakan satu mata keatas

• Infraduksi/depresi : Pergerakan satu mata kebawah

• Insikloduksi/intorsi : Pergerakan satu mata memutar kedalam

• Eksikloduksi/ekstorsi : Pergerakan satu mata memutar keluar


Gambar 14. Duksi

Versi

Adalah pergerakan kedua bola mata kearah yang sama secara bersamaan

- Dekstroversi : Pergerakan kedua mata kearah kanan

- Levoversi : Pergerakan kedua mata kearah kiri

- Supraversi : Pergerakan kedua mata keatas

- Infraversi : Pergerakan kedua mata kebawah

Gambar 15. Versi

Torsi

Adalah pergerakan bola mata dalam bidang sagital dengan sumbu antero-
posterior.

- Dekstrosikloversi : Gerakan kedua mata pada sumbu sagital kekanan

- Levosikloversi : Gerakan kedua mata pada sumbu sagital kekiri

Gambar 16. Torsi


Vergen

Adalah pergerakan kedua mata secara bersamaan dimana sumbu penglihatan

bergerak kearah yang berlawanan.

- Konvergen : Kedua mata bergerak secara bersamaankedalam/nasal.

- Divergen : Kedua mata bergerak secara bersamaankeluar/temporal

- Positif vertical divergen : Mata kanan bergerak keatas dan mata kiri bergerak
kebawah

- Negatif vertical divergen : Mata kanan bergerak kebawah dan mata kiri
bergerak keatas

- Insiklovergen : Kedua mata berputar pada sumbu anteroposterior kearah


dalam/nasal

- Eksiklovergen : Kedua mata berputar pada sumbu anteroposterior kearah


luar/temporal

Gambar 16. Vergen

Menetukan Besar Deviasi

Test Hirschbergh (Corneal Light Reflex)


Pemeriksaan dilakukan dengan menyinari (dengan senter) mata penderita pada
jarak 33 cm. Diperhatikan pantulan sinar pada kornea.

- Normal/tak ada deviasi : Pantulan sinar ditengah pupil kedua mata

- Deviasi 15 derajat : Pantulan sinar dipinggir pupil mata deviasi dan ditengah
pupil mata yang fiksasi

- Deviasi 30 derajat : Pantulan sinar pertengahan pupil dan limbus pada mata
deviasi dan ditengah pupil mata yang fiksasi.

- Deviasi 45 derajat : Pantulan sinar dipinggir limbus mata yang deviasi dan
ditengah pupil mata yang fiksasi.

Gambar 17.

Pada gambar 17 :

A : normal/ortoforia

B : Esotropia OS 15 derajat

C : Esotropia OS 30 derajat

D : Esotropia OS 45 derajat

Test Refleks Prisma Kirmsky


Prisma diletakkan pada mata yang fiksasi dengan basisnya berlawanan dengan
deviasi

(base out untuk esotropia dan base in untuk eksotropia). Kekuatan prisma
dinaikkan sampai

pantulan sinar pada kornea mata yang deviasi kembali ditengah pupil.
Kekuatan prisma

tersebut merupakan besarnya deviasi mata.

Gambar 18. Test Refleks Prisma Kirmsky

Test Prisma Cover

Syaratnya fovea kedua mata masih berfungsi baik, pemeriksaan ini bisa untuk

menentukan besar foria dan tropia.Prisma diletakkan pada salah satu mata
sesuai dengan

arah deviasi (base in untuk eksotropia/ eksoforia dan base out untuk
esotropia/esoforia),

kemudian dilakukan penutupan mata secara bergantian. Kekuatan prisma


dinaikkan sampai

tidak ada lagi pergerakan mata dengan penutupan secara bergantian tersebut.
Besar kekuatan
prisma tersebut merupakan besar deviasi mata.

8. Apa perbedaan strabismus paralitik dan non paralitik?

Strabismus inkomitan atau strabismus paralitik terjadi akibat paralisis otot


pergerak mata, dimana juliang akan bertambah nyata bila mata digerakan ke arah otot
yang lumpuh. Dalam keadaan ini suduh deviasi akan berubah-ubah tergantung kepada
arah penglihatan penderita. strabismus paralitik akibat paralise saraf ke III dapat
terlihat berupa gangguan pergerakan satu otot pergerak mata saja atau bersama-sama
pada otot rektus medius, rektus superior, rektus inferior dan iblik superior. 1

Strabismus non paralitik atau konkomitan, yaitu juling akibat terjadinya


gangguan fusi. Kelainan ini dapat terjadi pada kekeruhan kornea pada satu mata dan
katarak. Mata ini dapat divergen ataupun konvergen, sedangkan gerakan mata masih
dapat bekerja dengan baik. Pada keadaan ini besar sudut juling tetap pada kedudukan
kedua mata berubah. Strabismus konkomitan atau strabismus non paralitik
merupakan tropia dimana besar sudut deviasinya sama pada semua arah penglihatan. 1

Strabismu paralitik Strabismus non paralitik

o Sudut deviasi berubah o Sudut Deviasi Konstan


o Deviasi Primer < Deviasi o Deviasi Primer = Deviasi
Sekunder Sekunder
o Strabismus konstan o Strabismus bisa bergantian
o Mata Strabismus bergerak o Mata Strabismus bergerak normal
terbatas o Diplopia (-)
o Diplopia (+) o Posisi kepala normal
o Posisi kepala abnormal o Proyeksi normal
o Proyeksi semu o Biasanya disertai kelainan refraksi
o Tidak ada hubungan dgn kelainan o Bisa familier, turun temurun
refraksi o Sering terjadi ambliopia
o Tidak familier atau turun temurun o Kontraktur otot antagonis (-)
o Ambliopia (-) o Tanpa kelainan lain
o Kontraktur otot antagonis (+)
o Dapat disertai kelainan SSP/
orbita/ pupil akomodasi
Gambar 19.

Pemeriksaan dengan Amblioskop

Dengan mengatur tangan amblioskop sesuai dengan pantulan sinar dikornea


(dengan

penyinaran bergantian dari amblioskop sehingga pantulan sinar tepat ditengah


kornea pada

kedua mata) bisa dilihat besarnya deviasi pada skala yang ditunjuk pada
amblioskop.

9. Bagaimana penatalaksaan pasien dengan strabismus?

Strabismus merupakan ketidak seimbangan dalam kedudukan bola mata.


Strabismus dapat mengakibatkan sumbu penglihatan terpotong di depan mata
(esotropia-juling dalam) ataupun dibelakang mata (eksotropia-juling kel luar).

 Eksoforia, mata bebakat juling ke luar


Eksoforia atau strabismus divergen laten adalah suatu tendensi
penyimpanan sumbu penglihatan kearah temporal. Untuk pengobatan
ditujukan pada kesehatan secara umum. Bila ada kelainan refraksi
harus diberikan koreksi. Bila mungkin diberikan latihan-latihan
ortoptik. Bila tidak berhasil bisa diberikan prisma base in yang
kekuatanya dibagi dau sama besar untuk masing-masing mata, kiri dan
kanan.
 Esotropia
Juling kedalam atau strabismus konvergen manifest dimana sumbu
penglihatan mengarah ke arah nasal. Pengobatan bias dilakukan
sebagai berikut:
1. Mengetahui dan mengobati kelainan ini secara dini adalah penting
untuk mencegah penyulit sensorik dan motoric.
2. Memeberikan lensa koreksi untuk mengatasi keadaan miopinya.
3. Tindakan operatif pada kasus-kasus dengan penyebab non
akomodatif.
- Esotropia akomodatif refraktif
Kacamata yang tepat waktunya dan penggunaan koreksi
hiperopik memberikan pengobatan yang memmadai untuk
esotropia refraktif pada kebanyakan kasus. Bila kaca mata tidak
cukup segera diberikan atau bila hyperopia itu tidak terkoreksi
dengan penuh, maka esodeviasi itu tidak dapat menjadi sukar
terhadap pengobatan kacamata dan meemrlukan bedah.
- Esotropia akomkdatif non-refraktif
Pengobatan terdiri dari koreksi penuh untuk kelainan refraksi
jarak jauh (kaca minus) dengan tambahan bifocal untuk jarak
dekat.
 Eksotropia
Eksotropia, juling ke luar atau strabismus divergen manifest dimana
sumbu penglihatan kea arah temporal. Pengobatan dengan koreksi
refraksi pada eskotropia merupakan hal yang penting dan harus
dilakukan dengan hati-hati: Bila pasien eksotropia dengan
hipermetropia maka harus diberikan kacamata dengan ukuran yang
kurang dari seharusnya untuk merangsang akomodasi dan
konvergenesi. Namun pada dasarnya pengobatan ialah operasi. Harus
dipertimbangkan sebelumnya hal-hal sebagai berikut:
1. Besarnya sudut deviasi
2. Perbandingan pengukuran deviasi untuk jauh dan dekat.

Operasi pada eksotropia tergantung pada jenis eksotropianya,


biasanya dilakukan resesi otot rektus lateral dan reseksi otot medial
mata yang sama pada pada yang berdeviasi.

 Uju juling
Sudut deviasi dapat diukur dengan melokalisir reflex cahaya (metode
Hirschberg) atau netralisasi dengan suatu prisma yang dipegang di
depan mata berfiksasi dengan meletakan reflex cahaya di sentral pada
mata yang tidak berfikasasi (uji rimsky).
Pada beberapa kasus adalah mungkin untuk melakukan uji tutup mata
berganti dengan satu penutup dan prisma.
Bila seseorang melakukan hal ini, fiksasi monocular harus juga
diperiksa untuk menentukan apakah terdapat suatu sudut kappa positif
atau negative. Terdapat bermacam-macam uji atau pemeriksaan untuk
membuat diagnosis keseimbangan otot gerak mata seperti :
1. Uji Hischberg, reflex kornea
Adanya juling ditentukan dengan menggunakan uji sentolop dan
melihat reflek sinar pada kornea. Bila satu reflex sinar di tengah
pupil sedang pada mata yang lain di nasal berarti pasien juling ke
luar atau eksotropia dan sebaliknya bila reflex sinar sentolop apada
kornea atau esotropia. Setiap pergeseran letak reflex sinar dari
sentral kornea 1 mm berrati ada deviasi bola mata 7 derajat.
2. Uji Krimsky, (untuk menilai derajat deviasi mata)
Mengukur sudut devaisi pada juling dengan meletakakn di temgah
cahaya reflex kornea dengan prisma. Lampu diletakkan 33 cm di
depan penderita. Diletakan prisma pada mata yang berfiksasi yang
kekuatan prismanya ditambah perlahan-lahan sehingga reflex sinar
pada mata yang juling terletak di tengah kornea. Kekuatan prisma
yang diletakkan pada mata yang fiksasi dan memberikan sinar
ditengah pada mata yang juling merpakan beratnya deviasi mata
yang juling.
3. Uji tutup mata
Uji ini digunakan untuk mengetahui tropia atau foria. Uji
pemeriksaan ini dilakukan untuk pemeriksaan jauh dan dekat, dan
dilakukan denan menyuruh mata berfiksasi pada satu obyek. Bila
telah terjadi fiksasi kedua mata maka mata kiri ditutup dengan
lempeng penutup. Di dalam keadaan ini dapat terjadi:
1. Mata kanan bergerak berarti mata tersebut mempunyai
kejulingan yang manifest. Bila mata kanan bergerak ke nasal
berarti mata kanan juling keluar. Bila mata kananbergerak ke
temporal berarti mata kanan juling ke dalam.
2. Mata kanan bergoyang yang berarti mata tersebut mungkin
amblyopia atau tidak dapat berfiksasi.
3. Mata kanan tidak bergerak sama sekali, yang berarti bahwa
mata kanan berjedudukan normal. Lurus atau telah berfiksasi.
4. Uji tutup berganti
Bila satu mata ditutup dan kemudian mata yang lain maka bila
kedua mata berfiksasi normal maka mata yang di buka tidak
bergerak. Bila terjadi pergerakan pada mata yang baru dibuka
berarti terdapat foria atau tropia.
5. Uji tutup buka mata
Sama dengan uji tutup mata, dimana yang dilihat adalah mata yang
ditutup. Mata yang ditutup dan diganggu fusinya sehingga mata
yang berbakat menjadi juling akan mengulir. Bila tutup mata
tersebut ditutup dan dibuka akan terlihat pergerakan mata tersebut.
Pada keadaan ini berarti mata ini mengalami foria atau juling atau
berubah kedudukan bila mata ditutup.

Terjadinya strabismus adalah akibat dari tidak dipenuhinya binokulervision


normal, karena itu tujuan pengobatan strabismus adalah mendapatkan binokulervision
yang baik.

1. Memperbaiki visus masing-masing mata :


a. Dengan menutup mata yang baik.
b. Pemberian kaca mata.
c. Latihan ( oleh orthoptist )
2. Memperbaiki kosmetik :
a. Mata diluruskan dengan jalan operasi.
b. Pemberian kaca mata.
c. Kombinasi keduanya
3. Penglihatan binokuler :
a. Latihan orthoptic.
b. Operasi & orthoptic.
c. Kaca mata & orthoptic

Jadi pengobatan strabismus dapat disimpulkan :

A. Non operatif
1. Kaca Mata
2. Orthoptics :
a. Oklusi Mata yang sehat ditutup dan diharuskan melihat dengan mata
yang ambliopia. Oklusi sebagian juga harus bisa dilakukan dengan
membrane plastik, pita, lensa, atau mata ditutup dengan berbagai cara.
b. Pleopticc.
c. Obat-obatan.
3. Memanipulasi akomodasi
a. Lensa plus / dengan miotik
Menurunkan beban akomodasi dan konvergensi yang menyertai
b. Lensa minus dan tetes siklopegik
Merangsang akomodasi pada anak-anak.
4. Penutup Mata

B. Operatif
a. Melemahkan otot : Recession
b. Memperkuat otot : Recection

10. Jelaskan mengenai ambliopia, etiologi serta tatalaksananya!

Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak mencapai
optimal sesuai dengan usia dan intelegensinya walaupun sudah dikoreksi kelainan
refraksinya. Pada ambliopia terjadi penurunan tajam penglihatan unilateral atau
bilateral disebabkan karena kehilangan pengenalan bentuk, interaksi binokular
abnormal,atau keduanya, dimana tidak ditemukan kausa organik pada pemeriksaan
fisik mata dan pada kasus yang keadaan baik, dapat dikembalikan fungsinya dengan
pengobatan.Ambliopia ini dapat tanpa kelainan organik dan dapt pula dengan
kelainan organik yang tidak sebanding dengan visus yang ada.

Biasanya ambliopia disebabkan oleh kurangnya rangsangan untuk meningkatkan


perkembangan penglihatan. Suatu kausa ekstraneural yang menyebabkan menurunya
tajam penglihatan (seperti katarak,astigmat, strasbismus, atau suatu kelainan reftraksi
unilateral atau bilateral yang tidak dikoreksi) merupakan mekanisme pemicu yang
mengakibatkan suatu penurunan fungsi visual pada orang yang sensitif. Beratnya
ambliopia berhubungan denagan lamanya mengalami kurangnya rangsangan untuk
perkembangan penglihatan makula.

Bila ambliopia ini ditemukan pada usia di bawah 6 tahun maka masih dapat
dilakukan latihan untuk perbaikan penglihatan.Sebab ambliopia adalah anisometropia,
juling, oklusi, dan katarak atau kekeruhan media penglihatan lainnya. Diduga terdapat
2 faktor yang dapat merupakan penyebab terjadinya amliopia yaitu supresi dan
nirpakai (non use).ambliopia nirpakai terjadi akibat tidak dipergunakan elemen visual
retino kortikal pada saat kritis perkembangannya terutama pada usia sebelum 9 tahun.
Supresi yang terjadi pada ambliopia dapat merupakan proses kortikal yang akan
mengakibatakan terdapatnya skotoma absolut pada penglihatan binokuar ( untuk
mencegah terjadinya diplopia pada mata yang juling), atau sebagai hambatan
binokular (monokular kortikal inhibisi) pada bayangan retina yang kabur.

Terdapat beberapa tanda -tanda mata dengan ambliopia seperti :

o Berkurang penglihatan satu mata


o Menurunya tajam penglihatan terutama pada fenomena crowding
o Hilangnya sensitivitas kontras
o Mata mudah mengalami fiksasi eksentrik
o Adanya anisokoria
o Tidak mempengaruhi penglihatan mata
o Biasanya daya akomodasi menurun
o ERG dan EEG penderita ambliopia selalu normal yang berarti tidak
terdapat kelainan organik pada retina maupun korteks serebri.
Pencegahan terdapat ambliopia ialah pada anak berusia kurang 5 tahun perlu
pemeriksaan tajam penglihatan terutama bila memperlihatkan tanda-tanda juling.

Penyebab

Ambliopia terjadi saat otak kesulitan berkomunikasi dengan mata dalam cara
yang benar. Kondisi ini mungkin terjadi saat salah satu mata memilki kekuatan
fokus yang lebih baik mata satunyanya. Ambliopia bisa sulit dideteksi sendirian
karena tidak menyebabkan perubahan visual atau bentuk apapun pada mata. Satu-
satunya cara untuk mendiagnosis mata malas seccara akurat adalah dengan
berkunjung ke dokter mata.

Strasbismus merupakan penyebab utama ambliopia. Strasbismus merupakan


kekacauan pada susunan mata, yang berupa salah satunya mengarah kedalam
(esotropia ), atau (eksotropia), keatas hipertropia, atau ke bawah (hipotropia).
Kondisi ini terkadang disebut dengan istilah “ mata julin”. Pada akhirnya, mata
yang “ lurus” akan mendominasi sinyal-sinyal ke otak, sehingga mengahsilkan
kondisi medis yang disebut dengan “ ambliopia strabismik. Akan tetapi, tidak
semua penyakit mata malas berhubungan dengan strabismus.

Ambliopia juga mungkin terjadi karena sebuah masalah struktural, seperti


kelopak mata yang lemas ( droopy eyelid).

Masalah-masalah lain pada mata, seperti katarak (titik yang “ berwarna” di


mata) atau glakoma , juga dapat menyebabkan mata malas. Ambliopia jenia ini
disebut “ambliopia deprivasi ’’ dan harus diatasnya dengan pembedahan.

Beberapa perbedaan pada pembiasaan disetiap mata juga bisa mengakibatkan


ambliopia. Contonhnya, beberapa orang mengalami rabun dekat di satu mata dan
rabun jauh di mata lainya (kondisi ini disebut dengan anisometropia). Otak akan
memilih salah satu mata untuk digunakan dan mengabaikan mata satunya.
Ambliopia jenis ini disebut “ ambliopia refraktif ’’.

Terkadang, ambliopia bilateral bisa memengaruhi kedua mata. Contonhnya,


seorang bayi mungkin dilahirkan dengan katarak pada kedua matanya. Seorang
tenaga kesehatan profesional bisa mendiagnosis dan menyediakan opsi-opsi
perawat ambliopia jenis ini.

Penyakit mata ini biasanya dimulai ketika satu mata memiliki fokus yang jauh
lebih baik daripada mata lainnya. Sebagai contoh, satu mata mungkin memiliki
banyak silindris atau dapat jelas melihat jauh tapi tidak jelas. Melihat dekat,
sementara mata lainya normal. Ketika otak anak di hadapkan dengan kedua
gambar kabur dan satu yang jelas, maka otak akan mulai mengabaikan gambar
yang buram. Jika hal ini berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun
pada anak, pengelihatan di mata yg melihat gambar buram akan semakin
memburuk.

Penyebab lain adalah amblyopia strabismus,yg merupakan ketidakselarasan mata,


Yang berarti bahwa satu mata bergulir kedalam atau keluar. Hal ini untuk mencegah
mata fokus bersama –sama pada gambar sehingga menyebabkan penglihatan ganda
(melihat sesuatu yang sebenarnya 1 buah tetapi tampak seperti 2 buah). Untuk
mengatasi hal ini, otak anak umumnya memilih untuk mengabaikan gambar dari mata
menyimpang, memyebabkan penglihatan dalam mata memburuk. Ketidak selarasan
mata untuk mengarahkan yang akhirnya disebut amblyopia “ mata malas.”

Dalam kasus lain, seorang anak tidak dapat melihat dengan baik dalam satu mata
karena tetdapat suatu penghalang dari cahaya yang masuk, seperti katarak atau
sejumlah kecil darah didalam mata atau penghalang lain dibagian mata belakang
mata.

Penanganan ambliopia

Ambliopia merupakan kelainan yang reversibel dan akibatnya tergantung pada


saat mulai dan lamanya. Sangat yang rentan adalah bayi pada umur 6 bulan
pertama dan ambliopia tidak akan terjadi sebuah usia lebih dari 5 tahun.
Amblopia bila diketahui dini dapat dicegah sehingga tidak menjadi permanen.
Perbaikan dapat dilakukan bila penglihatan masih dalam perkembanganya. Bila
ambliopia ini ditemukan pada usia di bawah 6 tahun maka masih dapat dilakukan
latihan untuk perbaikan penglihatan.

Pengobatan dapat dengan :

1. Untuk memulihkan kembali ambliopia pada seoarang pasien muda, harus


dilakukan suatu pengobatan antisupresi aktif menyingkirkan faktor
ambliopiagenik.
2. Oklusi pada yang sehat
3. Penalisasi dekat,mata dibiasakan melihat dengan memberi lensa + 2,5 D
dengan mata yang baik diberi atropin
4. Penalisasi jauh dimana mata yang ambliopia dipaksa melihat jauh dengan
memberi atropin pada mata yang baik serta diberi lensa +2,50
5. Latihan ortoptik bila terjadi juling
6. Pencegahan terhadap ambliopia ialah pada anak berusia kurang 5 tahun
perlu pemeriksaan tajam penglihatan terutama bila memperhatikan tanda-
tanda juling.
DAFTAR PUSTAKA

Bahan Ajar Kuliah Mata Semester VIII FKUNCEN 2020

Buku ajar ilmu penyakit mata edisi kelima.

Ilyas, Sidarta dan Yulianti, Sri R. Ilmu Penyakit Mata edisi keempat. Jakarta: FK UI;
2012.

Ilyas S, Yulianti SR. 2015. Ilmu Penyakit Mata, edisi kelima. Jakarta : Badan Penerbit
FKUI.
Iryani Detty. Fisiologi Mata. FK Unand

Perhimpunan dokter Spesialis Mata Indonesia. Ilmu Penyakit Mata edisi kedua.
Jakarta: Sagung Seto; 2007.
Ridwan Muslim. 2013. Buku Strabismus , https://id.scribd.com/doc/128811553/Buku-
Strabismus-Dr-muslim

SMF Ilmu Penyakit Mata. Diktat Kuliah FK UWKS. Surabaya : FK UWKS; 2012

Snell, Richarcd. Anatomi Klinik Edisi Keenam. Jakarta : EGC; 2006.

www.aao.org (American academy of ophthalmology)