Anda di halaman 1dari 22

KONSEP WILMS TUMOR/NEFROBLASTOMA

DAN ASUHAN KEPERAWATAN WILMS TUMOR

Untuk Memenuhi Tugas Mata Keperawatan Anak


Dosen Pengampu : Ns. Nurona Azizah, S.Kep, M.Biomed

Di Susun Oleh :
Farizka A. Aisyah (195070209111005)
Agresia L. puspita (195070209111008)
Bella Nove K (195070209111010)
Bella G. Pratitis (195070209111014)
Alvin F. Hendika (195070209111025)
Inggit F. Ashari (195070209111026)
Pesta Marni Silaban (195070209111040)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan
tugas Konsep Wilms Tumor/Nefroblastoma Dan Asuhan Keperawatan Wilms
Tumor sebagai salah satu tugas untuk mata kuliah Keperawatan Anak.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ns. Nurona Azizah, S.Kep, M.Biomed
selaku koordinator mata kuliah ini serta kepada pihak-pihak yang telah
membantu penulis selama proses pembuatan makalah ini, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah

Sebagai manusia yang dhaif, apapun yang ada dan tertera pada makalah
ini tentunya memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman semua agar
kedepannya penulis bisa lebih baik lagi dan meningkatkan pengetahuan serta
pengalaman dalam menyelesaikan makalah selanjutnya.

Atas kritik dan sarannya penulis mengucapkan terima kasih. Semoga ilmu
yang tertuang dalam makalah ini bisa mendatangkan manfaat bagi saya
terutama sebagai penulis dan bagi teman-teman semua yang membacanya.

Malang, 15 November 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN..............................................................................................4
1.1 Latar belakang........................................................................................4
1.2 Rumusan masalah...................................................................................4
1.3 Tujuan.....................................................................................................4
BAB 2 LANDASAN KEPUSTAKAAN............................................................................5
2.1 Laporan Pendahuluan.............................................................................5
2.1.1 Definisi............................................................................................5
2.1.2 Etiologi...........................................................................................5
2.1.3 Faktor Resiko..................................................................................5
2.1.4 Epidemologi...................................................................................6
2.1.5 Patofisiologi....................................................................................6
2.1.6 Manifestasi Klinis...........................................................................8
2.1.7 Klasifikasi........................................................................................9
2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik.................................................................9
2.1.9 Tatalaksana Medis.......................................................................10
2.2 Askep Teori...........................................................................................11
2.2.1 Pengkajian....................................................................................11
2.2.2 Diagnosa Keperawatan................................................................13
2.2.3 Konsep Rencana Keperawatan....................................................14
2.2.4 Implementasi Keperawatan.........................................................18
2.2.5 Evaluasi Keperawatan..................................................................19
BAB 3 Penutup.......................................................................................................20
3.1 Kesimpulan...........................................................................................20
3.2 Saran.....................................................................................................20
Daftar pustaka........................................................................................................21

iii
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk menyusun makalah dengan


Judul " Konsep Wilms Tumor/Nefroblastoma Dan Asuhan Keperawatan Wilms Tumor

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan masalah yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam


makalah adalah Bagaimana konsep wilms tumor/nefroblastoma dan asuhan
keperawatan wilms tumor

1.3 Tujuan

Untuk mengatahui gambaran Konsep wilms tumor/nefroblastoma dan asuhan


keperawatan wilms tumor.

4
BAB 2 LANDASAN KEPUSTAKAAN

2.1 Laporan Pendahuluan


2.1.1 Definisi

Tumor ginjal tumbuh di embrional primitif sering ditemukan pada bayi dan anak.
Penampakan makroskopis ginjal akan tampak membesar dan keras, sedangkan pada
gambaran histopatologi menunjukkan pembentukan dari abortif glomelurus, gambaran
otot polos, otot serat lintang, tulang rawan dan tulang.

Wilm’s Tumor umumnya terjadi pada anak yang berusia 3-5 tahun. Prognosis dari
anak laki-laki maupun perempuan sama dari semua ras. Biasanya bersifat unilateral dan
bilateral sebanyak 3-10%. Wilms’ Tumor dapat bermetastase ke paru, hati, ginjal sisi
yang lain dan jarang terjadi ke tulang. Tumor tersebut dapat menghasilkan eritopoetin
menyebabkan polisitemia, hiperkalasemia sekunder.

2.1.2 Etiologi

Mekanisme genetik yang berkaitan dengan penyakit ini, belum sepenuhnya


diketahui. Pada penderita sindrom WAGR (tumor Wilms, aniridia, malformasi genital
dan retadasi mental) memperlihatkan adanya delesi sitogenetik pada kromosom 11,
daerah p13. Pada beberapa penderita, ditemukan gen WT1 pada lengan pendek
kromosom 11, daerah p13. Gen WT1 secara spesifik berekspresi di ginjal dan dikenal
sebagai faktor transkripsi yang diduga bertanggung jawab untuk berkembangnya tumor
Wilms.

Gambaran umum yang terjadi pada Wilm’s tumor adalah berkaitan dengan
anomali kongenital yang paling umum anomali urogenital (4,4%), hemihipertrofi (2,9%),
dan aniridia sporadik (1,1%).

2.1.3 Faktor Resiko

1. Usia
2. Gen

5
3. Ras

2.1.4 Epidemologi
Terjadinya tumor Wilms di Amerika Serikat dan di seluruh dunia adalah sebagai berikut:
 Tumor Wilms mempengaruhi sekitar 10 anak-anak dan remaja per 1 juta
sebelum usia 15 tahun.
 Oleh karena itu, kanker ini menyumbang 6-7% dari semua kanker anak di
Amerika Utara.
 Akibatnya, sekitar 450-500 kasus baru didiagnosis setiap tahun di benua ini.
 Tumor Wilms tampaknya relatif lebih umum di Afrika dan paling jarang di Asia
Timur.
 Tumor Wilms relatif lebih umum pada orang kulit hitam daripada pada orang
kulit putih dan jarang terjadi di Asia Timur.
 Diperkirakan 6-9 kasus per juta orang-tahun pada orang kulit putih, 3-4 kasus
per juta orang-tahun di Asia Timur dan lebih dari 10 kasus per juta orang-tahun
di antara populasi kulit hitam.
 Di antara pasien dengan tumor Wilms unilateral yang terdaftar di semua
protokol NWTSG, rasio pria-wanita adalah 0,92: 1

2.1.5 Patofisiologi

Tumor Wilms adalah tumor campuran ganas yang mengandung metastone

blastoma, stromal, dan turunan epitel. Ada mutasi gen WT1 pada kromosom 11 dan

nefroblastematosis (persistensi blastema ginjal dalam jaringan ginjal. Tumor terdiri dari

tumor komponen epitel (tubulus abortif dan glomeruli) yang dikelilingi oleh

metanephric blastema dan tumor stroma sel spindle yang belum matang. Stroma

mungkin termasuk dibedakan (otot, tulang rawan, tulang, jaringan lemak, jaringan

fibrosa) atau elemen anaplastik. Tumor menekan parenkim ginjal normal. Tumor Wilms

ini terjadi pada parenkim ginjal. Tumor tersebut tumbuh dengan cepat di lokasi yang

dapat unilateral atau bilateral. Pertumbuhan tumor tersebut akan meluas atau

6
menyimpang ke luar renal. Mempunyai gambaran khas berupa glomerulus dan tubulus

yang primitif dan abortif dengan ruangan bowman yang tidak nyata, dan tubulus abortif

dikelilingi stroma sel kumparan.

Pertama-tama jaringan ginjal hanya mengalami distorsi, tetapi kemudian di invasi

oleh sel tumor. Tumor ini pada sistem memperlihatkan warna yang putih atau keabu –

abuan homogen, lunak dan encepaloid. Tumor tersebut akan menyebar hingga ke

abdomen dan dikatakan sebagai suatu massa abdomen. Akan teraba pada abdominal

dengan dilakukan palpasi. Wilms Tumor seperti pada retinoblastoma disebabkan oleh

dua trauma mutasi pada gen supresor tumor. Mutasi pertama adalah inaktivasi alel

pertama dari gen supressor tumor yang menyangkut aspek prozigot dan postzigot.

Mutasi kedua inaktivasi alel kedua dari gen tumor supresor spesifik. Munculnya tomor

wilms sejak dalam perkembangan embrio dan akan tumbuh dengan cepat setelah lahir.

Pertumbuhan tumor akan mengenai ginjal atau pembuluh vena renal dan menyembur

ke organ lain. (Belleza, 2018)

7
Pathway

2.1.6 Manifestasi Klinis

Umur median pada waktu diagnosis Wilms’ tumor sekitar 3 tahun.


Tanda yang umu ditemukan pada tumor tersebut ialah massa di abdomen atau
pinggang yang tidak bergejala.

8
Massa tersebut halus kenyal. Ukuran bervariasi, dalam satu seri diamter
rata-rata mencapai 11 cm, massa pada abdomen rata-rata diketahui orang tua
pada saat pemeriksaan rutin. Kira-kira sebanyak 50% anak mengalami nyeri
perut dan muntah. Umumnya, kondisi pada klien dengan wilm’s tumor sedikit
lebih tua dan tampak lebih sakit daripada klien yang menderita neuroblastoma.
Sekitar 60% penderita mengalami hipertensi hal tersebut dikarenakan
dampak dari iskemia ginjal, biasanya cenderung disebabkan oleh iskemia ginjal,
hipertensi yang berat dan lama menyebabkan klien mengalami gagal jantung.
Pada klien dengan Wilms’ Tumor cenderung memiliki keluhan utama
berupa benjolan pada perut. Jarang mengalami nyeri perut dan hematuria, nyeri
perut dapat timbul pada klien dengan Wilms’ Tumor apabila telah bermetastase
pada ginjal, sedangkan terjadi hematuria apabila tumor tersebut menembus
sistem palveokalises. Kondisi demam seringkali terjadi pada klien dengan Wilms’
Tumor dikarenakan sebagai reaksi analfilaksis tubuh terhadap protein tumor,
lebih dari 50% kasus disertai hipertensi yang sebabnya belum diketahui.

2.1.7 Klasifikasi

Tahap 1.
Tumor terbatas pada ginjal dan sepenuhnya direseksi; kapsul ginjal utuh; tumor
tidak pecah atau dibiopsi sebelum diangkat; pembuluh sinus ginjal tidak terlibat,
dan tidak ada bukti tumor hadir pada atau di luar batas reseksi.
Tahap 2.
Tumor sepenuhnya direseksi; tidak ada bukti tumor pada atau di luar batas
reseksi dicatat; dan tumor melampaui ginjal (penetrasi kapsul ginjal,
keterlibatan sinus ginjal).
Tahap 3.
Sisa, tumor nonhematogen hadir setelah operasi dan terbatas pada perut;
kelenjar getah bening positif di perut atau panggul dicatat; penetrasi melalui
permukaan peritoneum diamati; hadir implan peritoneum; tumor kotor atau
mikroskopis tetap pasca operasi, termasuk margin positif reseksi; dicatat adanya
tumpahan tumor, termasuk biopsi; tumor diobati dengan kemoterapi pra
operasi; dan tumor diangkat dalam lebih dari 1 bagian.

9
Tahap 4.
Metastasis hematogen (mis., Metastasis paru, hati, tulang, otak) atau kelenjar
getah bening di luar perut atau panggul dicatat.
Tahap 5.
Keterlibatan ginjal bilateral oleh tumor hadir saat diagnosis

2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik

 Pemeriksaan laboratorium. Hitung darah lengkap, profil kimia,


urinalisis, studi koagulasi, dan studi sitogenik dilakukan untuk
menentukan tumor Wilms; hasil dapat mengungkapkan penghapusan
11p13, seperti pada sindrom WAGR, atau duplikasi alel paternal 11p15,
seperti pada sindrom Beckwith-Wiedemann (BWS).
 Ultrasonografi ginjal. Ultrasonografi ginjal sering merupakan studi awal
karena tidak memaparkan anak-anak pada efek radiasi yang merugikan.
 CT scan. Pemindaian computed tomography (CT) abdomen membantu
dalam menentukan asal tumor, keterlibatan kelenjar getah bening,
keterlibatan ginjal bilateral, invasi ke pembuluh darah besar (mis.,
Inferior vena cava), dan metastasis hati.
 Pemindaian MRI. Abdominal magnetic resonance imaging (MRI)
dilaporkan sebagai modalitas pencitraan paling sensitif untuk penentuan
patensi kavaleri dan mungkin penting dalam menentukan apakah vena
cava inferior secara langsung diserang oleh tumor.

2.1.9 Tatalaksana Medis

1. Pembedahan : Menurut protokol NWTSG, langkah pertama dalam terapi


tumor Wilms adalah menentukan stadium penyakitnya, diikuti dengan
nefrektomi radikal, jika memungkinkan. Dalam penatalaksanaan tumor Wilms,
kunci kesuksesannya terletak pada terapi secara multimodal, yang terdiri dari
operasi, radiasi, dan kemoterapi. NWTSG merekomendasikan kemoterapi
preoperatif dalam kondisi-kondisi seperti berikut ini
a. Perluasan tumor ke dalam vena cava. Kondisi ini didapatkan pada
5% kasus tumor Wilms, dan berhubungan dengan terjadinya
komplikasi bedah (40% kasus), meskipun ditangani oleh ahli bedah

10
yang berpengalaman. kemoterapi setelah menentukan stadium
penyakit dan biopsi dapat menurunkan ukuran tumor dan
trombus, sehingga menurunkan pula insidens komplikasi bedah
hingga 25%.
b. Tumor-tumor yang tidak dapat dioperasi (inoperable). Tumor-
tumor yang berukuran besar dan melibatkan struktur-struktur
vital membuat reseksi menjadi sulit, insidens komplikasinya tinggi
dan insidens pecahnya tumor juga tinggi. Walaupun demikian,
ukuran tumor dapat diperkecil dengan kemoterapi sehingga
insidens pecahnya tumor dapat diturunkan hingga 50%.

c. Tumor Wilms bilateral


Reseksi tumor dilakukan dengan dibuatnya insisi abdominal
transversa dan eksplorasi abdomen. Eksplorasi harus mencakup organ ginjal
kontralateral dengan memobilisasi kolon ipsilateral dan membuka fascia
Gerota. Jika terdapat tumor bilateral, nefrektomi tidak dilakukan tetapi
dilakukan pengambilan spesimen untuk biopsi. Jika terdapat tumor
unilateral, dilakukan nefrektomi dan diseksi atau pengambilan sampel dari
nodul kelenjar getah bening regional. Biopsi dilakukan jika tumor tidak dapat
direseksi dan nefrektomi ditunda hingga kemoterapi, yang pada sebagian
besar kasus dapat mengecilkan ukuran tumor.

Pada tumor Wilms bilateral (5% kasus), dilakukan eksplorasi


bedah, biopsi dari kedua sisi, dan penentuan stadium tumor yang akurat.
Tindakan ini diikuti dengan kemoterapi selama enam minggu sesuai dengan
stadium dan histologi tumor. Selanjutnya dilakukan Dimulainya pemeriksaan
ulang menggunakan pemeriksaan penunjang, yang diikuti dengan operasi
definitif.

2. Terapi ajuvan Protokol kemoterapi dan radioterapi pasca operasi yang dilakukan
berdasarkan penentuan stadium saat operasi. Terapi radiasi pada tumor Wilms

11
dilakukan dalam kurun waktu dua minggu setelah dilakukannya nefrektomi. Radiasi
lokal, tumor bed dan kelenjar paraaorta dengan batas 1 cm menjadi bagian dalam
Clinical Target Volume (CTV). Dosis yang dianjurkan adalah 10,8 Gy dalam 6 fraksi.
Dalam kasus dimana terjadi ruptur pre operasi, penyebaran ke peritoneum, atau
pecahnya tumor pada saat operasi, keseluruhan abdomen harus diradiasi dengan
dosis 10,5 Gy dalam 7 fraksi. Lapangan radiasi keseluruhan abdomen ini harus
mengikutsertakan seluruh vertebra untuk mencegah terjadinya scoliosis.(Hartanto,
2014).

2.2 Askep Teori

2.2.1 Pengkajian

a. Identitas Klien
b. Riwayat penyakit sekarang : Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian
daging, bengkak sekitar mata dan seluruh tubuh. Tidak nafsu makan, mual ,
muntah dan diare. Badan panas hanya satu hari pertama sakit
c. Riwayat kesehatan dahulu : Apakah klien pernah mengeluh kelainan pada
ginjal sebelumnya, atau gejala-gejala tumor wilms.

d. Riwayat kesehatan keluarga : Apakah ada riwayat keluarga klien pernah


mengidap kanker atau tumor sebelumnya.

e. Pengkajian Perpola

1]. Pola nutrisi dan metabolik :

Suhu badan normal hanya panas hari pertama sakit. Klien mudah
mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya mual , muntah
dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat.

2]. Pola eliminasi :

Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi uri : gangguan pada


glumerulus menyebakan sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresi dan terjadi

12
penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus yang tidak mengalami
gangguan yang menyebabkan oliguria sampai anuria ,proteinuri, hematuria.

3]. Pola Aktifitas dan latihan :

Pada Klien dengan kelemahan malaise, kelemahan otot dan kehilangan


tonus karena adanya hiperkalemia. Dalam perawatan klien perlu istirahat karena
adanya kelainan jantung dan dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu dan
mobilisasi duduk dimulai bila tekanan ddarah sudah normal selama 1 minggu.
Adanya edema paru maka pada inspeksi terlihat retraksi dada, pengggunaan
otot bantu napas, teraba , auskultasi terdengar rales dan krekels , pasien
mengeluh sesak, frekuensi napas. Kelebihan beban sirkulasi dapat menyebabkan
pemmbesaran jantung [ Dispnea, ortopnea dan pasien terlihat lemah] , anemia
dan hipertensi yang juga disebabkan oleh spasme pembuluh darah. Hipertensi
yang menetap dapat menyebabkan gagal jantung. Hipertensi ensefalopati
merupakan gejala serebrum karena hipertensi dengan gejala penglihatan kabur,
pusing, muntah, dan kejang-kejang. GNA munculnya tiba-tiba orang tua tidak
mengetahui penyebab dan penanganan penyakit ini.

4]. Pola tidur dan istirahat :

Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena adanya
uremia. keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus

5]. Kognitif & perseptual :

Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan rasa


gatal. Gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi ensefalopati
hipertensi. Hipertemi terjadi pada hari pertama sakit dan ditemukan bila ada
infeksi karena inumnitas yang menurun.

6]. Persepsi diri : Anak berharap dapat sembuh kembali seperti semula

13
7]. Hubungan peran : Anak tidak dibesuk oleh teman – temannya karena
jauh dan lingkungan perawatann yang baru serta kondisi kritis menyebabkan
anak banyak diam.

f. Pengkajian fisik

1) Keadaan umum : lemah


a) Kesadaran : Composmentis
b) TTV :…..
2) Pemeriksaan Fisik Head to Toe
Melakukan pemeriksaan TTV pada klien, melakukan pemeriksaan secara head to
toe yang harus diperhatikan adalah palpasi abdomen yang cermat dan pengukuran
tekanan darah pada klien. Tumor dapat memproduksi renin atau menyebabkan
kompresi vaskuler sehingga mengakibatkan hipertensi pada anak.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan metastase tumor


2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
muntah
3. Intoleransi kativitas berhubungan dengan kelelahan
4. Resiko kekurangan volume cairan ditandai dengan hematuria

14
2.2.3 Konsep Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan No. 1


Nyeri akut berhubungan dengan metastase tumor
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1 x 24 jam nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi oleh klien
NOC: Tingkat Nyeri NIC
Skala outcome 1 2 3 4 5 Pain Management (4092)

Ekspresi wajah 1. Lakukan pengkajian komprehensif mengenai nyeri klien


2. Minimalkan faktor yang menimbulkan nyeri pada klien
Nyeri yang dilaporkan
3. Ajarkan mengenai managemen nyeri (teknik distraksi
Menggunakan tindakan
pengurangan nyeri tanpa misalnya, napas dalam)
analgesik/non farmakologi 4. Ajarkan klien untuk memonitor nyeri (respon yang dilami
Penggunaan analgesic oleh pasien sendiri dapat diidentifikasi)
5. Anjurkan untuk istirahat agar meminimalkan nyeri
Keterangan penilaian
1: sangatberat/tidak pernah menunjukkan 6. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan professional untuk
2: berat/jarang menunjukkan
pemberian analgesic efektif untuk Pereda nyeri
3: cukup/ kadang menunjukkan
4: Ringan/sering menunjukkan
5: Tidakada/konsisten

15
Diagnosa Keperawatan No. 2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
NOC: Status nutrisi NIC
Skala outcome 1 2 3 4 Konseling nutrisi (5246)
Asupan makanan 1. Anjurkan keluarga untuk mendampingi anak pada saat makan
2. Pantau adanya mual dan muntah
Energy 3. Timbang BB setiap hari
4. Berikan informasi pada keluarga tentang diet klien TKTP
Resiko BB/TB
5. Berikan makanan sedikit tapi sering
6. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk diet klien
Asupan gizi
Keterangan penilaian
1: sangatberat/tidak pernah menunjukkan
2: berat/jarang menunjukkan
3: cukup/ kadang menunjukkan
4: Ringan/sering menunjukkan
5: Tidakada/konsisten

16
Diagnosa Keperawatan No. 3
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
Tujuan :setalah dilakukan tindakan x24 jam diharapkan mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan
Kriteria Hasil :
NOC: toleransi terhadap aktivitas NIC
Skala outcome 1 2 3 4 Manajemen energi (0180)

Saturasi O2 ketika beraktivitas 1. Pertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat
2. Seimbangkan istrahat dan aktivitas bila ambulasi
Frekuensi nadi ketika 3. Rencanakan dan berikan aktivitas tenang
beraktivitas 4. Instruksikan anak untuk istirahat bila ia mulai merasa lelah

Frekuensi pernafasan ketika


beraktivitas
Warna kulit
Keterangan penilaian
1: sangatberat/tidak pernah menunjukkan
2: berat/jarang menunjukkan
3: cukup/ kadang menunjukkan
4: Ringan/sering menunjukkan
5: Tidakada/konsisten

17
Diagnosa Keperawatan No. 4
Resiko kekurangan volume cairan ditandai dengan hematuria

Tujuan : setalah dilakukan tindakan 2 x24 jam diharapkan tidak terjadi kekurangan cairan
Kriteria Hasil :
NOC: Keseimbangan Cairan NIC
Skala outcome 1 2 3 4 Pencegahan Perdarahan (4010)

tekanan darah
1. Monitor dengan ketat resiko terjadinya perdarahan pada pasien
2. Catat nilai HB dan hematokrit
denyut nadi radial
3. Monitor TTV Ortostatik
keseimbangan intake dan 4. Pertahankan agar pasien tetap tirah baring jika terjadi perdarahan aktif
output 24 jam 5. Beritahu keluarga pasien untuk pencegahan tindakan invasif
turgor kulit 6. Kolaborasi pemberian tranfusi trombosit (TC) atau plasma segar beku
(FFP)
hematokrit

Pusing
Keterangan penilaian
1: sangatberat/tidak pernah menunjukkan
2: berat/jarang menunjukkan

18
3: cukup/ kadang menunjukkan
4: Ringan/sering menunjukkan
5: Tidakada/konsisten

2.2.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan langkah ke empat dalam tahap proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai
strategi keperawatan yang telah direncanakan dalam perencanaan. Tahap tindakan keperawatan :
a. Persiapan
b. Pelaksanaan
c. Dokumentasi

19
2.2.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari
rencana keperawatan. Jenis evaluasi :
1. Evaluasi formatif
Merupakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi
2. Evaluasi sumatif
Merupakan rekapitulasi dan hasil observasi dan analisis status pasien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan
pada tahap perencanaan.

20
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tumor Wilms (Nefroblastoma) adalah tumor ginjal yang tumbuh dari sel
embrional primitive diginjal. Tumor Wilms biasanya ditemukan pada anak-anak
yang berumur kurang dari 5 tahun, tetapi kadang ditemukan pada anak yang
lebih besar atau orang dewasa. Tumor Wilms merupakan tumor ginjal padat
yang sering dijumnpai pada anak dibawah umur 10 th dan merupakan kira-kira
10% keganasan pada anak. Paling sering dijumpai pada umur tiga tahun dan
kira-kira 10% merupakan lesi bilateral

3.2 Saran

Kita hendaknya lebih memahami Tumor Wilms dalam meningkatkan pelayanan


pada penderita/ anak khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan.

Kita hendaknya mampu dan mau mempelajari makalah “Laporan Pendahuluan


dan Asuhan Keperawatan Anak Dengan Tumor Wlims”, untuk menambah
pengetahuan dibidang ilmu keperawatan khususnya, dan dibidang pelayanan
pemberian asuhan keperawatan pada umumnya.

Demikian saran dari kami semoga apa yang kami suguhkan dapat bermanfaat
bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya

21
Daftar pustaka

Belleza, Marianne. 2018. Wilms Tumor (Nephroblastoma)

Hartannto, Sugandi. 2014. Radioterapi & Onkologi Indonesia

Behrman, Kliegman & Arvin Nelson, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta:EGC

Bulechek, M.G dkk.2013. Nursing Interventions Classification (NIC), 6 th Indonesian


edition. Indonesia: Mocomed

Moorhead Sue, dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC), 5 th Indonesian


edition. Indonesia: Mocomedia

22