Anda di halaman 1dari 27

www.teammedical.co.

cc

www.calvariatmc.blogspot.com

BAB I

PENDAHULUAN

Mata kadang-kadang dipandang sebagai sasaran khusus untuk proses imunologi.


Dalam kenyataannya kelainan imunologik lebih banyak tampak pada mata dibanding
dengan organ lain di badan, sebab organ lain pada saat terjadi serangan tetap dalam
keadaan "tenang". Kelainan mata yang dijumpai akibat proses imunologik dapat berupa
konjungtiva yang hiperemi, khemosis, dan disertai rasa sakit. Jika proses imunologik
menyangkut kornea, dapat ditandai oleh hiperemi konjungtiva, epifora, fotofobia, dan
kabur, kadang-kadang timbul rasa sakit. Kekaburan yang berat akibat proses imunologik
pada kornea dapat menyebabkan kebutaan.
Beberapa peneliti telah melaporkan tentang ketidakberhasilan menangani berbagai
keratitis. Suwono (1988) menerangkan, bahwa dari 8 kasus ulkus kornea dengan hipopion
pada tahun 1987 terdapat 6 kasus sembuh, sedangkan 2 kasus mengalami eviserasi karena
endoftalmitis. Syawal (1988) meneliti 25 penderita ulkus kornea antara tahun 1984-1987
dan 4 penderita di antaranya mengalami eviserasi. Panda dan Gupta (1991) meneliti 91
mata dengan ulkus kornea karena bakteri stafilokokus yang menunjukkan, bahwa lebih
dari 60% specimen resisten terhadap pemberian kloramfenikol dan kloksasilin dan 2 mata
terjadi endoftalmitis. Selanjutnya Rahman dan Dhaka (1991) melaporkan, bahwa keratitis
jamur hanya 35% yang responsif terhadap pengobatan anti-jamur baik sistemik maupun
lokal. Hoetaryo (1988) meneliti 183 penderita keratitis herpes simpleks menyatakan,
bahwa peradangan kornea di sini akibat reaksi hipersensitivitas yang timbul karena adanya
sel yang rusak. Ishikawa (1991) memeriksa 50 kasus keratitis diskiformis dengan angka
kekambuhan 30% dalam periode 2 tahun setelah pengobatan antiviral dan kortikosteroid.
Tokushima (1991) menyatakan, bahwa keratitis virus merupakan penyakit yang banyak
terjadi, dan merupakan penyakit yang sukar diobati.
Karena berbagai permasalahan mengenai keratitis yang tidak memuaskan, maka
perlu dipikirkan kemungkinan adanya proses imunologik yang ikut berperan. Tulisan ini
bertujuan

1
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

untuk menelaah beberapa kelainan kornea yang melibatkan proses imunologik. Dengan
demikian diharapkan dalam penanganan keratitis memiliki dimensi yang lebih luas namun
lebih terarah.
Permukaan mata secara regular terpajan ligkungan luar dan mudah mengalami
trauma, infeksi, dan reaksi alergi yang merupakan sebagian besar penyakit ada jaringan
ini. Kelainan kornea sering menjadi penyebab timbulnya gejala pada mata. Keratitis
merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang
terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.

2
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

BAB II

PEMBAHASAN

I. Keratitis

1.1 Definisi

Keratitits adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti


bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun
dewasa. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun
beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma
pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat
menurunkan mekanisme pertahanan kornea.

Beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain:

• Perawatan lensa kontak yang buruk; penggunaan lensa kontak yang berlebihan

• Herpes genital atau infeksi virus lain

• Kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain

• Higienis yang tidak baik

• Nutrisi yang kurang baik (terutama kekurangan vitamin A)

1.2 Penyebab

Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat


menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex, tipe 1. Selain
itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat
terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif

3
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan
penggunaan lensa kontak yang kurang baik.

1.3 Gejala Umum

Gejala keratitis antara lain:

• Keluar air mata yang berlebihan


• Nyeri
• Penurunan tajam penglihatan
• Radang pada kelopak mata (bengkak, merah)
• Mata merah
• Sensitif terhadap cahaya

1.4 Pengobatan

Antibiotik, anti jamur dan anti virus dapat digunakan tergantung organisme
penyebab. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil
laboratorium sudah menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti.
Terkadang, diperlukan lebih dari satu macam pengobatan. Terapi bedah laser terkadang
dilakukan untuk menghancurkan sel yang tidak sehat, dan infeksi berat membutuhkan
transplantasi kornea.

Obat tetes mata atau salep mata antibiotik, anti jamur dan antivirus biasanya
diberikan untuk menyembuhkan keratitis, tapi obat-obat ini hanya boleh diberikan dengan
4
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

resep dokter. Pengobatan yang tidak baik atau salah dapat menyebabkan perburukan
gejala. Obat kortikosteroid topikal dapat menyebabkan perburukan kornea pada pasien
dengan keratitis akibat virus herpes simplex.

Pasien dengan keratitis dapat menggunakan tutup mata untuk melindungi mata dari cahaya
terang, benda asing dan bahan iritatif lainnya. Kontrol yang baik ke dokter mata dapat
membantu mengetahui perbaikan dari mata.

1.5 Pencegahan

Pemakai lensa kontak harus menggunakan cairan desinfektan pembersih yang steril
untk membersihkan lensa kontak. Air keran tidak steril dan tidak boleh digunakan untuk
membersihkan lensa kontak. Pemeriksaan mata rutin ke dokter mata disarankan karena
kerusakan kecil di kornea dapat terjadi tanpa sepengetahuan kita. Jangan terlalu sering
memakai lensa kontak. Lepas lensa kontak bila mata menjadi merah atau iritasi. Ganti
lensa kontak bila sudah waktunya untuk diganti. Cuci tempat lensa kontak dengan air
panas, dan ganti tempat lensa kontak tiap 3 bulan karena organisme dapat terbentuk di
tempat kontak lensa itu.

Makan makanan bergizi dan memakai kacamata pelindung ketika bekerja atau
bermain di tempat yang potensial berbahaya bagi mata dapat mengurangi resiko terjadinya
keratitis. Kacamata dengan lapisan anti ultraviolet dapat membantu menahan kerusakan
mata dari sinar ultraviolet.

II. Keratitis Bakteri

2.1 Definisi

Keratitis bakteri adalah gangguan penglihatan yang mengancam. Ciri-ciri khusus


keratitis bakteri adalah perjalanannya yang cepat. Destruksi corneal lengkap bisa terjadi
dalam 24 – 48 jam oleh beberapa agen bakteri yang virulen. Ulkus kornea, pembentukan
abses stroma, edema kornea dan inflamasi segmen anterior adalah karakteristik dari
penyakit ini.

2.2 PATOFISIOLOGI

5
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Awal dari keratitis bakteri adalah adanya gangguan dari epitel kornea yang intak
dan atau masuknya mikroorganisme abnormal ke stroma kornea, dimana akan terjadi
proliferasi dan menyebabkan ulkus. Factor virulensi dapat menyebabkan invasi mikroba
atau molekul efektor sekunder yang membantu proses infeksi. Beberapa bakteri
memperlihatkan sifat adhesi pada struktur fimbriasi dan struktur non fimbriasi yang
membantu penempelan ke sel kornea. Selama stadium inisiasi, epitel dan stroma pada area
yang terluka dan infeksi dapat terjadi nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil)
mengelilingi ulkus awal dan menyebabkan nekrosis lamella stroma.
Difusi produk-produk inflamasi (meliputi cytokines) di bilik posterior, menyalurkan sel-
sel inflamasi ke bilik anterior dan menyebabkan adanya hypopyon. Toksin bakteri yang
lain dan enzim (meliputi elastase dan alkalin protease) dapat diproduksi selama infeksi
kornea yang nantinya dapat menyebabkan destruksi substansi kornea.
Grup bakteri yang paling banyak menyebabkan keratitis bakteri adalah Streptococcus,
Pseudomonas, Enterobacteriaceae (meliputi Klebsiella, Enterobacter, Serratia, and
Proteus) dan golongan Staphylococcus. Lebih dari 20 kasus keratitis jamur (terutama
candidiasis) terjadi komplikasi koinfeksi bakteri.

2.3 ANGKA KEJADIAN

Di Amerika Serikat kira-kira 25.000 penduduk Amerika setiap tahun menderita


penyakit ini. Secara global, insidensi keratitis bakteri bervariasi secara luas, dimana negara
dengan industrialisasi yang rendah menunjukkan angka pemakai soft lens yang rendah
sehingga bila dihubungkan dengan pemakai soft lens dan terjadinya infeksi menunjukkan
hasil penderita yang rendah juga.

2.4 ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN

Untuk kasus inflamasi yang berat, ulkus yang dalam dan abses stromal dapat
bergabung sehingga menyebabkan tipisnya kornea dan pengelupasan stroma yang
terinfeksi. Proses-proses ini menyebabkan komplikasi berikut ini:

1. LEUKOMA KORNEA: jaringan parut dengan munculnya vaskularisasi


kornea, timbul sebagai akhir dari keratitis bakteri. Tergantung dari lokasi dan
dalamnya perkembangan stroma, menyebabkan timbulnya leukoma kornea
yang secara jelas terlihat signifikan memerlukan bedah korna untuk rehabilitasi
6
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

visual (meliputi phototherapeutic keratectomy (PTK) atau penetrating


keratoplasty [PK])
2. ASTIGMATISME IREGULER: komplikasi lain yang mungkin terjadi karena
infeksi ini tidak rata penyembuhan stromanya sehingga menyebabkan
astigmatisme ireguler (membutuhkan lensa kontak gas-permeable atau PTK
untuk meningkatkan penglihatan)
3. PERFORASI KORNEA: ini merupakan komplikasi yang paling banyak dari
keratitis bakteri yang secara sekunder menyebabkan endophthalmitis dan
hilangnya penglihatan.

2.5 PEMERIKSAAN KLINIS

Pasien dengan keratitis bakteri biasanya mengeluh nyeri dengan oncet cepat,
fotophobia dan menurunnya visus. Penting untuk mengetahui riwayat penyakit sistemik
lengkap dan riwayat penyakit mata pada pasien tersebut untuk mengidentifikasi factor
resiko potensial yang mungkin mengakibatkan perkembangan infeksi seperti:

• Pemakaian lensa kontak (catat tipe lensa, waktu penggunaan dan cara disinfeksi)
• Trauma (meliputi bedah kornea sebelumnya)
• Penggunaan obat-obatan mata
• Penurunan imunitas tubuh
• Kekurangan cairan air mata
• Penyakit kornea sebelumnya (keratitis herpetic, keratopathy neurotrophik)
• Perubahan structural dan malposisi kelopak mata

Pemeriksaan luar dan biomikroskopik pasien menampakkan hal-hal berikut ini:

• Ulserasi epitel ; infiltrate kornea dengan hilangnya jaringan yang tidak signifikan ;
tebal, inflamasi stroma supuratif dengan tepi tidak jelas ; hilangnya jaringan
stromal dan edema sekeliling stroma.
• Meningkatnya reaksi bilik anterior dengan atau tanpa hypopyon
• Lipatan di membran descemen
• Edema kelopak mata atas
• Sinekhia posterior

7
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

• Inflamasi sekeliling kornea fokal atau difus


• Hiperemi konjungtiva
• Eksudat mukopurulen
• Plak inflamasi endothelial

2.6 ETIOLOGI

Agen-agen yang menyebabkan kerusakan epitel kornea adalah penyebab potensial


atau factor resiko untuk keratitis bakteri. Lebih jauh lagi, pajanan penetrasi beberapa
bakteri virulen ke epitel intak (contoh: Neisseria gonorrhoeae) dapat menyebabkan
keratitis bakteri.

Penyebab utama trauma epitel kornea dan sebagai factor resiko utama keratitis
bakteri adalah penggunaan lensa kontak, terutama sekali penggunaan lensa kontak lama.
Dari semua penderita keratitis bakteri, 19 – 42% adalah pengguna lensa kontak. Insidensi
keratitis bakteri sekunder akibat penggunaan lensa kontak lama adalah sekitar 8.000 kasus
per tahun. Insidensi keratitis bakteri untuk pengguna lensa kontak harian adalah 3 kasus
per 10.000 penduduk per tahun.

• Penggunaan obat-obatan mata yang terkontaminasi dan cairan lensa kontak.


Menurunnya system pertahanan tubuh sekunder akibat malnutrisi, alcoholism dan
diabetes (Moraxella).
• Kekurangan cairan air mata.
• Penyakit kornea sebelumnya (meliputi keratitis herpetic,♥ keratopathy
neurotrophik).
• Perubahan structural dan malposisi♥ kelopak mata (meliputi entropion dengan
trichiasis dan lagophthalmus) .
• Dakrosistitis kronis
• Penggunaan kortikosteroid topical

2.7 DIAGNOSIS BANDING

• Blepharitis
• Conjunctivitis Viral
• Endophthalmitis Bacterial
8
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

• Entropion
• Gonococcus
• Herpes Simplex
• Herpes Zoster
• Keratitis Fungal
• Keratitis Herpes Simplex
• Keratitis Interstitial
• Keratoconjunctivitis, Atopic
• Keratoconjunctivitis, Epidemic
• Keratopathy, Band
• Keratopathy, Neurotrophic
• Keratopathy, Pseudophakic Bullous
• Obstruksi duktus Nasolacrimal
• Ocular Rosacea
• Scleritis
• Ulkus kornea

2.8 PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan dilakukan dengan menggores ulkus kornea juga bagian tepinya


dengan menggunakan spatula steril kemudian ditanam di media cokelat, darah dan agar
Sabouraud.

• Kaca mikroskop digunakan untuk pengecatan dengan Gram, Giemsa dan


pengecatan tahan asam atau acridine oranye/ calcofluor putih (jika curiga jamur
atau Acanthamoeba).
• Sample dari kelopak mata atau konjungtiva, obat-obatan topical mata, lensa kontak
dan cairan-cairan untuk mata sebaiknya dikultur
• Jika pasien sudah diterapi maka penggunaan terapinya ditunda 12 jam sebelum
dilakukan kultur kornea atau konjungtiva untuk meningkatkan sensitifitas kultur
yang positif

9
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

• Swab yang mengandung asam lemak dapat menghambat efek pertumbuhan


bakteri. Kalsium alginate dengan trypticase soy broth dapat digunakan untuk
menginokulasi bahan secara langsung ke media kultur
• Anestesi topical (proparacaine hydrochloride 0.5%) sebaiknya digunakan untuk
menganestesi pasien sebelum dilakukan kultur karena tidak ada efek
penghambatan terhadap bakteri, namun penggunaan tetrakain dan kokain
mempunyai efek bakterostatik.
• Kultur ulangan dapat dilakukan jika hasilnya negatif dan ulkus tidak membaik.
• Biopsy kornea dilakukan jika kultur negative dan tidak ada perbaikan secara klinis
dengan menggunakan trephine kecil atau blade kornea bila ditemukan infiltrate
dalam di stroma.

2.9 PEMERIKSAAN FOTOGRAFI


Pemeriksaan fotografi dengan slit lamp dapat membantu dalam melihat
perkembangan keratitis dan pada beberapa kasus dimana penyebabnya apa diragukan,
pemeriksaan ini dilakukan sebagai pilihan lain, terutama pada kasus yang tidak merespon
terapi antimikroba.
Pemeriksaan ultrasound A B-scan dapat dilakukan pada ulkus kornea yang berat
dan dicurigai adanya endophthalmitis.
Cara pemeriksaan biopsy kornea dengan eksisi lamella dalam dapat digunakan
dengan trephine kornea Elliot. Bagian superficial kornea diinsisi dan diperdalam dengan
blade bedah sampai kira-kira 200 mikron. Kemudian dilakukan diseksi lamella dan bahan
yang dikultur dimasukkan langsung ke kultur media. Bahan juga bisa dikirim untuk
pemeriksaan histology.

2.10 PEMERIKSAAN HISTOLOGI


Selama stadium awal, epitel dan stroma di area yang terinfeksi atau terkena trauma
akan membengkak dan nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil) akan mengelilingi
ulkus awal ini dan menyebabkan nekrosis lamella stroma. Pada beberapa inflamasi yang
lebih berat, ulkus yang dalam dan abses stroma yang lebih dalam dapat bergabung
sehingga menyebabkan kornea menipis dan mengelupaskan stroma yang terinfeksi.

10
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Sejalan dengan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, respon imun seluler
dan humoral digabung dengan terapi antibacterial maka akan terjadi hambatan replikasi
bakteri. Mengikuti proses ini akan terjadi fagositosis organism dan penyerapan debris
tanpa destruksi selanjutnya dari kolagen stroma. Selama stase ini, garis batas terlihat pada
epitel ulkus dan infiltrate stroma berkonsolidasi dan tepinya tumpul
Vaskularisasi kornea bisa terjadi jika keratitis menjadi kronis. Pada stase
penyembuhan, epithelium berganti mulai dari area tengah ulserasi dan stroma yang
nekrosis diganti dengan jaringan parut yang diproduksi fibroblast. Fibroblast adalah
bentuk lain dari histiosit dan keratosit. Daerah kornea yang menipis diganti dengan
jaringan fibrous. Pertumbuhan pembuluh darah baru langsung di area ulserasi akan
mendistribusikan komponen imun seluler dan humoral untuk penyembuhan lebih lanjut.
Lapisan Bowman tidak beregenerasi tetapi diganti dengan jaringan fibrous.
Epitel baru akan mengganti dasar yang ireguler dan vaskularisasi sedikit demi
sedikit menghilang. Pada keratitis bakteri yang berat, stadium lanjut dimana terjadi
stadium regresi merupakan proses penyembuhan. Pada beberapa ulkus yang berat,
keratolisis stroma dapat berkembang menjadi perforasi kornea. Pembuluh darah uvea
dapat berperan pada perforasi yang nantinya akan menyebabkan leukoma yang
tervaskularisasi.

2.11 PERAWATAN BEDAH


 Penyebab tersering perforasi kornea adalah infeksi bakteri, virus atau jamur yang
diperkirakan 24 – 55% dari semua kasus perforasi, dimana infeksi bakteri adalah
yang tersering. Potongan sklerokornea atau aplikasi jaringan cyanoacrylat yang
adhesive merupakan penyebab perforasi pada kornea.
 Penggunaan antibiotic intravena (biasanya digunakan ciprofloxacin 500 mg per
oral 2x sehari) sebaiknya dimulai sejak ulkus kornea mengalami perforasi dan 3
hari setelah pemberian PK
 Pelindung mata plastic sebaiknya dipasang pada mata
 Penggunaan anestesi umum biasanya dipilih pada operasi keratoplasti. Anestesi
topical dapat digunakan untuk aplikasi jaringan adhesive
 Ukuran transplant sebaiknya ukuran terkecil yang sesuai dengan tempat perforasi
dan ulkus yang terinfeksi. Donor sebaiknya berukuran lebih dari 0.5 mm

11
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

 Penghilangan katarak sebaiknya ditinggalkan karena resiko perdarahan tiba-tiba


dan endophthalmitis
 Sinekhia anterior dan posterior sebaiknya diperlakukan hati-hati
 Bilik anterior diirigasi untuk menghilangkan debris nekrotik dan inflamasi
 Donor kornea sebaiknya terkunci dengan jahitan putus putus 16 menggunakan
nilon 10-0
 Injeksi subkonjungtiva dengan antibiotic dapat diberikan tanpa injeksi steroid
 Tindakan postoperative digunakan antibiotic fortified topical. Penggunaan
kortikosteroid 4x sehari dapat digunakan segera setelah bedah jika eksisi infeksi
sudah lengkap. Steroid bisa tidak diberi untuk beberapa hari untuk memonitor
infeksi. Jika periode postoperative akut berakhir, perawatan lanjutan sama seperti
pada keratitis yang tidak berkomplikasi
 Konsultasi dengan ahli vitreoretinal membantu dalam diagnosis endophthalmitis

2.12 PENGOBATAN
Antibiotic topical merupakan terapi utama pada kasus keratitis bakteri dan terapi
antibiotic sistemik digunakan hanya pada kasus perforasi atau organism spesifik (N.
gonorrhoeae). Penggunaan kortikosteroid topical terdapat beberapa kontroversi: tetapi bila
digunakan sesuai guideline memberikan hasil yang baik pada pasien.
Aminoglikosid mempunyai aktivitas bakteri spectrum luas, terutama kuman
batang gram negatif. Antibiotik ini mempunyai afinitas pada ribosom 30S dan 50S bakteri
untuk memproduksi komplek 70S nonfungsional yang dapat menginhibisi sintesis sel
bakteri. Tidak seperti bakteri lain yang mengganggu sintesis protein, antibiotic ini lebih
mempunyai sifat bakterisid. Aktivitas klinis mereka terbatas pada kondisi anaerob dan
mempunyai ratio toksisitas rendah.
Cephalosporin mempunyai aktivitas spectrum luas meliputi aksi melawan
Haemophillus yang efektif. Antibiotic ini mempunyai cincin beta laktam seperti penisilin
dan cincin dihydrothiazin yang membuat resisten terhadap penisilinase yang dihasilkan
staphlyocococcus. Antibiotic ini menginhibisi pembentukan sel dinding pada stadium ke 3
dan terakhir dengan berikatan pada protein yang terikat penisilin di membrane sitoplasmik
dibawah sel dinding. Antibiotic ini ditoleransi baik secara topical.

12
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Chloramphenicol biasanya digunakan pada infeksi yang spesifik disebabkan oleh


H influenzae. Penggunaannya dibatasi karena sifat toksiknya dan juga dapat mendepresi
sumsum tulang.
Makrolid adalah agen bakteriostatik (erythromycin, tetracycline) yang dapat
menekan pertumbuhan gram positif kokus. Kelompok ini bekerja dengan menginhibisi
sintesis protein.
Glikopeptid mempunyai aktivitas melawan bakteri gram positif dan kuman
resistant penicillin dan methicillin. Antibiotic ini menghambat biosintesis polimer selama
stadium kedua pembentukan sel dinding, yang berbeda dari antibiotic beta laktam.
Antibiotic ini juga mempunyai aktivitas yang baik melawan kuman basilus gram positif.
Sulfonamide mempunyai struktur sama dengan PABA (para -aminobenzoic acid
(PABA), yaitu precursor yang dibutuhkan bakteri untuk sintesis asam folat. Sehingga
mereka menghambat secara kompetitif pembentukan asam dihidropteroik, yaitu precursor
asam dihiropteroik dari pteridin PABA. Inhibisi ini tidak berefek pada sel mamalia karena
kurangnya mensintesis asam folat dan membutuhkan asam folat bentuk akhir. Antibiotic
ini aktif melawan gram positif dan gram negative juga merupakan obat pilihan untuk
melawan keratitis Nocardia
Fluoroquinolones secara bervariasi melawan aksi DNA gyrase bakteri yaitu enzim
esensial untuk sintesis DNA. Obat ini mempunyai aktivitas melawan kebanyakan bakteri
gram negative dan beberapa gram positif. Penelitian ditujukan pada resistensi
Fluoroquinolones pada staphylococcus. Resistensi ini dilaporkan pada kasus infeksi mata
dan selain mata pada isolasi. Obat ini juga terbatas melawan streptococci, enterococci,
non-aeruginosa Pseudomonas, and anaerobes. 2 penelitian yang membandingkan efikasi
solusio ciprofloxacin 0.3% dan ofloxacin 0.3% dengan kombinasi cefazolin dan
tobramycin memperlihatkan efikasi yang lebih baik dengan monoterapi menggunakan
Fluoroquinolones. Obat ini juga mempunyai toksisitas lebih rendah, penetrasi yang baik di
permukaan mata dan penetrasi lebih lama pada air mata. Monoterapi keratitis bakteri
dengan obat ini terbukti efektif pada percobaan yang lebih luas meski sudah ada laporan
resistensi Fluoroquinolones.

2.13 KOMPLIKASI

13
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Komplikasi yang paling ditakutkan adalah penipisan kornea, descemetocele


sekunder dan perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophthalmitis dan hilangnya
penglihatan

2.14 PROGNOSIS
Prognosis bergantung pada beberapa faktor :
 Virulensi organisme
 Lokasi dan perluasan ulkus kornea
 Vaskularisasi dan deposit kolagen
 Diagnosis awal dan terapi tepat dapat membantu mengurangi kejadian hilangnya
penglihatan

III. KERATITIS PUNGTATA

Permukaan mata secara regular terpajan ligkungan luar dan mudah mengalami
trauma, infeksi, dan reaksi alergi yang merupakan sebagian besar penyakit ada jaringan
ini. Kelainan kornea sering menjadi penyebab timbulnya gejala pada mata. Keratitis
merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang
terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.
Keratitis pungtata dapat disebabkan karena sindrom dry eye, blefaritis,
konjungtivitis kronis, keracunan obat, sinar ultraviolet, atau dapat juga karena infeksi
sekunder. Pada keratitis pungtata superficial biasanya penyembuhan berlangsung
sempurna, apabila disebabkan oleh virus tidak perlu diberikan pengobatan karena
penyembuhan dapat terjadi dalam 3 minggu. Gejala klinisnya dapat berupa, mata merah,
rasa silau, dan merasa kelilipan. Gejala lainnnya yang mungkin ditemukan adalah mata
terasa perih, gatal dan mengeluarkan kotoran.
Keratitis pungtata diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Keratitis pungtata superfisial
Keratitis pungtata superfisial adalah suatu keadaan dimana sel-sel pada permukaan kornea
mati. Penyebabnya dapat berupa :
14
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

 Infeksi virus, virus yang memberikan gambaran infiltrate halus bertitik-titik


misalnya keratitis pada herpes simplek dan herpes zoster.
 Infeksi bakteri, bakteri yang menyebabkan keratitis yaitu stapilococcus,
pseudomonas, dan enterobacteriacia.
 Mata kering (sindrom dry eye), reflek mengedip yang dapat merangsang reaksi
sekresi mata sering air.
 Sinar ultraviolet ( sinar matahari, sinar lampu, sinar dari las listrik)
 Iritasi akibat pemakaianlensa kontak jangka panjang.
 Iritasi atau alergi terhadapa obat tetes mata.

2. Keratitis Pungtata Sub Epitel


Keratitits yang terkumpul di daerah membrane bowman, pada kerattitits pungtata
subepitel berjalan kronis tanpa meperlihatkan gejala konjungtiva ataupun tanda akut.

3.1 GEJALA
Mata biasanya terasa nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan
penglihatan menjadi sedikit kabur. Jika penyebabnya adalah sinar ultraviolet, maka gejala-
gejala biasanya munculnya agak lambat dan berlangsung selama 1-2 hari. Jika
penyebabnya adalah virus, maka kelenjar getah bening di depan telinga akan membengkak
dan nyeri bila ditekan. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih,
gatal dan mengeluarkan kotoran.

3.2 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah :
• Pemeriksaan tajam penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan
setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan
kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan.
• Uji dry eye
Pemeriksaan mata kering atau dry eye termasuk penilaian terhadap lapis film air
mata ( tear film ), danau air mata ( teak lake ), dilakukan uji break up time
tujuannya yaitu untuk melihat fungsi fisiologik film air mata yang melindungi

15
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

kornea. Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu
pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik
menunjukkan film air mata tidak stabil.
• Ofthalmoskop
Tujuan pemeriksaan untuk melihat kelainan serabut retina, serat yang pucat atropi,
tanda lain juga dapat dilihat seperti perdarahan peripapilar.
• Keratometri ( pegukuran kornea )
Keratometri tujuannya untuk mengetahui kelengkungan kornea, tear lake juga
dapat dilihat dengan cara focus kita alihkan kearah lateral bawah, secara subjektif
dapat dilihat tear lake yang kering atau yang terisi air mata.
• Tonometri digital palpasi
Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau
sulit dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea ireguler dan infeksi kornea. Pada
cara ini diperlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat factor subjektif, tekanan
dapat dibandingkan dengan tahahan lentur telapak tangan dengan tahanan bola
mata bagian superior.

3.3 PENGOBATAN
Keratitits pungtata superficial penyembuhannya dapat berakhir dengan sempurna,
apabila virus yang menjadi penyebabnya, keratitis tidak perlu mendapatkan pengobatan
yang khusus karena biasaya dapat sembuh lebih kurang dalam 3 minggu. Pemberian cendo
citrol tetes mata (6 x 1 tetes) yang diindikasikan kortikosteroid dapat menekan infeksi
sekunder. Pada kasus ini pasien juga diberikan kloramphenikol salep mata yang mana
fungsinya juga dapat menekan infeksi mikroba dan mengurangi perluasan peradangan,
akan tetapi masa kerja kloramphenikol salep mata berlangsung lebih lama dibandingkan
cendo xitrol tetes. Kloramphenikol salep mata efektif digunakan pada malam hari pada
saat mau tidur.
Jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Jika penyebabnya adalah
mata kering, diberikan salep dan air mata buatan. Jika penyebabnya adalah sinar
ultraviolet atau lensa kontak, diberikan salep antibiotik dan obat untuk melebarkan pupil.
Jika penyebabnya adalah reaksi terhadap obat-obatan, maka sebaiknya pemakaian obat
dihentikan.
16
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

3.4 PROGNOSIS
Keratitis pungtata superficial penyembuhan biasanya berlangsung baik meskipun
tanpa pengobatan. Imunitas tubuh merupakan hal yang penting dalam kasusu ini karena
diketahui reaksi imunologik tubuh pasien sendiri yang memberikan respon terhadap virus
ataupun bakteri.

IV. KERATITIS ULSERATIVA PERIFER


4.1 DEFINISI
Keratitis Ulserativa Perifer adalah suatu peradangan dan ulserasi (pembentukan
ulkus) pada kornea yang seringkali terjadi pada penderita penyakit jaringan ikat (misalnya
artritis rematoid).

4.2 PENYEBAB
Keratitis ulserativa perifer bisa disebabkan oleh:
• Penyakit non-infeksi
 Artritis rematoid
 Lupus eritematosus sistemik
 Sarkoidosis
 Rosasea
 Arteritis sel raksasa
 Penyakit peradangan saluran pencernaan
 Kelainan metabolisme
 Blefaritis
 Keratitis marginalis
 Pemakaian lensa kontak
17
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

 Cedera mata karena bahan kimia, trauma ataupu pembedahan

• Penyakit infeksi
 Tuberkulosis
 Sifilis
 Hepatitis
 Disentri basiler
 Keratitis (karena virus, bakteri, jamur maupun akantamuba).
Faktor resiko utama terjadinya penyakit ini adalah penyakit jaringan ikat dan
penyakit pembuluh darah.

Keratitis akibat jamur Aspergilus


4.3 GEJALA
Terjadi gangguan penglihatan, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan penderita merasa ada
benda asing di matanya.
Gejala lainnya adalah:
- mata berair
- peradangan konjungtiva dan episklera.

4.4 DIAGNOSA
 Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata serta
pemeriksaan fisik.

4.5 PENGOBATAN
Pengobatan lokal bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan kornea,
sedangkan pengobatan sistemik diberikan untuk mengatasi penyebabnya.
Untuk mengatasi penyebabnya, diberikan steroid sistemik dan obat penekan sistem
18
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

kekebalan (immunosupresan); obat tersebut juga efektif dalam mengontrol peradangan


mata dan sistemik.
Immunosupresan yang diberikan biasanya adalah cyclophosphamide.
Jika diduga penyebabnya adalah penyakit infeksi, maka diberikan antibiotik.
Beberapa teknik pembedahan yang dilakukan untuk mengatasi keratitis ulserativa perifer:
• Perekat jaringan (misalnya lem sianoakrilat) digunakan pada ancaman perforasi
dan perforasi yang berukuran kurang dari 1-2 mm.
• Prosedur tektonik, yaitu keratoplasti, keratoplasti penetrasi dan pencangkokan
bercak korneoskleral.

V. KERATITIS HERPES SIMPLEKS


Pada dasarnya ketidakseimbangan imunitas penderita dapat menyebabkan
terjadinya aktivasi virus herpes dan selanjutnya mampu menimbulkan keratitis. Suatu
keratitis dendritika yang akut kadang-kadang disertai dengan riwayat depresi pertahanan
penderita mengenai kesehatannya maupun imunosupresi penderita oleh penyakit yang
mendasari. Kadang-kadang seseorang penderita dapat menerangkan riwayat sires yang
bersifat psikogenik, adanya demam, dan lain-lain. Kondisi imunosupresi dapat juga terjadi
akibat penggunaan kortikosteroid sistemik yang menimbulkan aktivasi keratitis herpes
simpleks.
Pada infeksi virus mula-mula kadar IgM meningkat, kemudian kadar IgG dalam
darah juga meningkat dan akhirnya tampak antibodi IgA dalam sekresi mukosa.
Selanjutnya dikatakan, bahwa antibodi menghancurkan virus ekstraseluler. Virus yang
bergabung dengan antibodi terutama dengan IgA akan dicegah perlekatannya dengan sel
membran dan menginfeksi jaringan. Reaksi hipersensitivitas tipe II (sitotoksik) yang
ditingkatkan oleh IgG antibodi memudahkan fagositosis dan netralisasi virus. Dalam
keratitis virus herpes simpleks yang kambuh, terjadi kelainan kornea yang khas ialah
keratitis dendritik yang kadang- kadang sebagai keratitis marginal. Virus herpes simpleks
yang stromal disertai oleh reaksi tipe IV dapat terjadi pada penderita yang mengalami
depresi sistem imun akibat penggunaan kortikosteroid, karena usia lanjut, atau karena
penyakit sistemik.

19
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Keratitis diskiformis dapat merupakan hasil reaksi tipe IV terhadap antigen virus
herpes. Dengan pemberian kortikosteroid sedikit dapat menghasilkan kejemihan kornea
sebagian atau seluruhnya akibat hilangnya udem dan infiltrat. Penanganan dilakukan
dcngan melakukan debridemen atau khemoterapi topikal atau keduanya akan mampu
mencegah sintesa virus, terutama untuk yang akut. Obat-obat antiviral seperti asiklovir dan
kortikosteroid dapat diberikan untuk keratitis stromal. Pemberian vitamin A akan
mcningkatkan sintesis antibodi dan dapat diberikan bersama-sama dengan pemberian
hidrokortison.

Keratitis herpetik

20
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit Buku
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. 147-6.
2. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes : Opthalmologi. Edisi 9. Jakarta Penerbit
Erlangga Medikal Series; 2006. 66-0.
3. Webmaster. Keratitis Pungtata Superfisialis. Diunduh dari :
http://www.indonesiaindonesia.com/f/13182-keratitis-pungtata-superfisialis/, pada
tanggal : 25 Maret 2010.
4. Webmaster. Keratitis Pungtata Superfisialis. Diunduh dari :
http://medicastore.com/penyakit/869/Keratitis_Pungtata_Superfisialis.html, pada
tanggal : 25 Maret 2010.
5. BPP ISFI. ISO Indonesia vulome 41. Jakarta : BPP ISFI; 2006. 450-2.
6. Ilyas S. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2. Jakarta :
Balai Penerbit Buku Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003. 45-7, 73-4,
180-5, 223-4.

21
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

PRESENTASI KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn.D

Umur : 48 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Suku : Aceh

Agama : Islam

Pekerjaan : Tukang Bangunan

Alamat : Blower, B. Aceh

Tanggal Pemeriksaan : 7 Mei 2010

II. ANAMNESA
Keluhan Utama : Mata berair dan merah

Keluhan Tambahan : rasa mengganjal di mata, silau

Riwayat Penyakit Sekarang :

22
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Pasien datang berobat ke poli mata RSUDZA dengan keluhan terkena serpihan
keramik ± 3 hari yang lalu. Keluhan ini dialami pasien saat sedang bekerja
memasang keramik pada salah satu rumah di kawasan B. Aceh. Saat itu, pasien
memotong keramik dengan mesin pemotong dan pecahan keramik tersebut masuk ke
mata pasien hingga menimbulkan rasa sakit, berair serta merah. Keluhan ini
dirasakan sangat mengganggu dan menyebabkan pekerjaan pasien terganggu.

Riwayat Penyakit Dahulu : (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti ini.

Riwayat Pemakaian Obat : disangkal

PEMERIKSAAN FISIK

Status Present

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos mentis

Nadi : 72 x/menit

Pernapasan : 20 x/menit

Suhu : 36,5 0C

Status Internus

Kulit : Sawo matang, turgor (dbn), pucat (-)

Mata : Lihat pada status Oftalmikus

Telinga : Auris eksterna (dbn), nyeri (-)

Leher : JVP (dbn), Pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-)

Paru-paru

23
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Inspeksi : Simetris, retraksi (-/-)

Palpasi : Stem fremitus (dbn)

Perkusi : Sonor (+/+)

Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi : cardiac bulging (-)

Palpasi : Ictus cordis (+) di ICS IV Linea Midclavicula Sin.

Perkusi : Batas-batas jantung (dbn)

Auskultasi : BJ I > BJ II, reguler, bising (-)

Abdomen

Inspeksi : Simetris, asites (-), distensi (-)

Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi : Timpani (+)

Auskultasi : Peristaltik (dbn)

Ekstremitas

Superior : Edema (-/-), sianosis (-/-)

Inferior : Edema (-/-), sianosis (-/-)

III. STATUS OFTALMIKUS


OD OS

24
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Injeksi
konj.

OD OS

Visus 5/6 5/12

Pergerakan Bebas Bebas

Palpebra Superior Edema (-) Edema (-)

Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Palpebra Inferior Edema (-) Edema (-)

Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konj. Tarsalis Sup. Edema (-) Edema (-)

Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konj. Tarsalis Inf. Edema (-) Edema (-)

Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konj. Bulbi Kemosis (-) Kemosis (-)

Hiperemis (+) Hiperemis (+)

Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-)

Injeksi konjunktiva (+) Injeksi konjunktiva (-)

Kornea Bulat, Jernih, Arcus Bulat, keruh, Arcus


senilis (-) senilis (-)

COA Kedalaman cukup Kedalaman dangkal

Pupil Bulat (+), RC (+) Sulit dinilai

25
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Iris Kripta jelas (+) Kripta sulit dinilai

Lensa Jernih Sulit dinilai

Shadow Test (-) (-)

TIO N Meningkat

IV. DIAGNOSA
OS keratitis

V. PENATALAKSANAAN
- Rawat jalan
- Eye fresh ED tiap jam
- Chloramfenicol ED 4 x 1 tetes
- Ciprofloxacin 2 x 500 mg
- Eye drop 4 x 1 tetes

VI. ANJURAN PEMERIKSAAN


- Slit Lamp

- Tonometri

- Oftalmoskop

- Pemeriksaan darah

VII. PROGNOSIS
Quo ad visam : Dubia ad malam

Quo ad sanam : Dubia ad bonam

26
www.teammedical.co.cc

www.calvariatmc.blogspot.com

Quo ad vitam : Dubia ad bonam

Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam

27