Anda di halaman 1dari 11

Sifat Bahan KG

1. Amalgam merupakan kombinasi alloy dengan merkuri yang diproses melalui


suatu proses yang disebut amalgamasi. Dental amalgam sendiri adalah salah satu
bahan restorasi keras yang digunakan dalam kedokteran gigi. Walaupun demikian,
diketahui bahwa dental amalgam dapat mengalami creep di bagian gigi yang
direstorasi, terutama pada pasien yang sering mengkertakan giginya.
a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Creep!
 Creep adalah sifat viskoelastik yang menjelaskan perubahan dimensi
secara bertahap yang terjadi. Ketika material diberi tekanan atau beban
seperti tumpatan pada amalgam saat mengunyah yang berulang dan bisa
mengakibatkn creep. Amalgam yang mempunyai kandungan tembaga
yang tinggi mempunyai nilai creep jauh lebih rendah. Tingkat maksimum
creep hanya 1%.

b. Jelaskan mengapa Dental amalgam dapat mengalami Creep!


 Jika creep alloy terlalu tinggi atau jika manipulasi cenderung
mengakibatkan creep, potensi terjadinya kerusakan tepi yang bertambah
besar. Kondensasi pada amalgam juga mempengaruhi sifat amalgam
seperti terjadinya creep. Dental amalgam mengandung 42-52% merkuri
dari massanya dan mulai melebur [ada suhu sedikti diatas suhu kamar,
karena kelelehannya rendah, amalgam dapat mengalami creep dilokasi gigi
yang direstorasi, bila mendapat tekanan terus menerus.

c. Jelaskan hubungan antara kebiasaan “mengkertakan gigi” dengan terjadiya


creep?
 Jika mengkertakkan gigi terjadi secara terus menerus maka sama seperti
tekanan diberikan pada amalgam terjadi terus menerus yang dimana dapat
terjadi creep.

2. Salah satu syarat utama dari bahan restoratif dalam aplikasi kedokteran gigi
adalah harus resisten terhadap deformasi, retak, atau fraktur yang disebabkan oleh
aktivitas mekanis di lingkungan mulut. Untuk memenuhi syarat ini, faktor penting
yang harus diperhatikan dalam mendesain protesa gigi adalah kekuatan dan sifat
mekanis dari suatu material, sehingga dapat menjalankan fungsi secara efektif dan
aman selama periode waktu yang lama.
a. Jelaskan sifat-sifat mekanik yang menentukan resistensi deformasi dari bahan
restoratif!
 Stress (tensile, compressive, shear, flexura),
Gaya internal yang dikeluarkan oleh suatu bahan untuk menahan gaya atau
beban eksternal yang diberikan yang menyebabkan deformasi.
 Tensile stress
Terjadi ketika suatu material diberikan sepasang gaya yang arahnya
bertolak belakang satu sama lain dalam garis lurus.
 Compressive stress
Terjadi ketika suatu material diberikan dua gaya yang searah dalam
garis lurus dan menyebabkan bahan memendek.
 Shear stress
Hasil dari dua pasang gaya yang diarahkan sejajar satu sama lain,
secara parallel (tidak sepanjang garis lurus yang sama)
 Flexural stress (torsi dan bending)
Torsi : terjadi ketika suatu materi diberikan dua gaya dengan arah
berlawanan, seperti Gerakan memuntir
Bending : terjadi ketika suatu materi diberi gaya dengan Gerakan
menekuk

 Strain (elastic, plastic),


Strain adalah deformasi relative suatu bahan yang disebabkan oleh stress,
didefinisikan sebagai perubahan panjang per satuan panjang
 Elastic strain
Deformasi yang terjadi akibat dari stress, dimana suatu material
mengalami perubhan bentuk yang reversible atau tidak permanen
 Plastic strain
Deformasi yang terjadi akibat stress, dimana material mengalami
perubahan bentuk yang tidak reversibole atau permanen
 Batas proporsional,
Merupakan tegangan maksimum dimana tegangan tersebut setara atau
sebanding dengan regangan. Apabila melewati batas ini, maka terjadi
deformasi plastis dari suatu material.
 Yield point
Merupakan titik dimana stress menyebabkan material mengalami
deformasi permanen, yield point sedikit ebih tinggi dari batas
proporsional, dan bahan tidak Kembali elastis ketika stress dihilangkan.
 Modulus elastisitas,
Merupakan kekakuan relative atau rigiditas suatu material, disebut juga
modulus young. Modulus elastisitas diukur dari kemiringan kruva
tegangan dan regangan, semakin rendah regangan untuk tegangan yang
diberikan, semakin besar modulus elastisitasnya dengan satua
gganewton/m2 (GPa)
 Flexibilitas,
Didefinisiikan sebagai regangan lentur yang terjadi ketika suatu material
diletakan hingga batas proporsionalnya. Bahan yang digunakan untuk
membuat peralatan gigi dan restorasi harus memiliki nilai batas elastis
yang tinggi. Ini dibutuhkan karena struktur diharpkan dapat Kembali
kebntuk aslinya setelah ditekan dan gaya dihilangkan.
 Ketahanan,
Ketika jarak interatomic meningkat, energi internal meningkat. Selama
stress tidak lebih besar dari batas proporsionalnya, energi ini dikenal
sebagai resilence atau ketahanan. Yang dimana merupakan jumlah energi
per satuan volum e yang diserap oleh suatu bahan ketika ditekan hingga
batas proporsionalnya. Bahan-bahan yang mempunyai tingkat elastisitas
lebih besar makan memiliki juga tingkat kethanan yang besar, dan ketika
restorasi gigi berubah bentuk selama mastikasi, ia menyerap energi.
 Rasio poisson,
Dalam rentang elastis, strain lateral ke aksial disebut poisos rasio. Rasio
poisson adalah nilai tanpa satuan karena mempunyai 2 strain, sebagaian
besar bahan kaku sepeerti enamel, dentin, amalgam, komposit, dll
menunjukkan poison rasio sekitar 0,3.
 Strenghth dan Weakness,
 Strength adalah tegangan maksimum pada titik terjadinya fraktur
atau atah, jika bagian longitudinal dari kurva lebih panjang maka
itu artinya materialnya kuat, sedangkan jika pendek maka material
itu tidak kuat.
 Shear dan Flexural Strength,
 Shear strength : tengan geser maksimum pada titik fraktur
 Flexural strength atau bending : gaya per satuan luas pada titik
fraktur ketika suatu materal mengalami flexural loading atau
diberikan tekanan
 Fatigue strength,
 Kerusakan tiba-tiba pada struktur suatu bahan yang mengalami
tekanan berulang atau siklik dibawah batas proporsionalnya.
Material yang rapuh dan permukaanya kasar memiliki batas daya
tahan yang rendah.
 Impact strength,
 Adalah eneergi yang dibutuhkan untuk memecah atau mematahkan
suatu material yang diberikan gaya benturan atau impact force
dengan satuannya adalah joule
 Toughness,
 Energi yang dibutuhkan untuk memecah suatu material,
ketangguhan mengambarkan betapa sulitnya memecah material.
Ditentukan juga oleh luas permukaan total dibawah kurva tegangan
regangan.
 Ductility,
 Ductility atau daktilitas adalah kemampuan bahan untuk berubah
bentuk secara plastis akibat tekanan Tarik sebelum mengalami
patah, seperti logam ditarik dengan mudah ke kawat tipis panjang.
 Malleability (sifat lunak),
 Kemampuan bahan untuk mempertahankan deformasi plastic,
tanpa mengalami fraktur akibat kompresi atau tekanan
 Brittleness (kerapuhan)
 Ini berlawanan dengan ketangguhan, ketika suatu material patah
atau dekat dengan batas proporsionalnya. Porcelain, dental stone
dan semen adalah contoh yang rapuh

b. Pilih 3 jenis material Kedokteran Gigi dan jelaskan sifat-sifat mekanis dari
ketiga bahan tersebut.
 Resin akrilik
 Pemrosesan yang baik pada resin akrilik akan menghasilkan
dimensi stabilitas yang bagus proses pengerutan akan diimbangi
oleh ekspansi yang disebabkan oleh penyerapan air.
 Resin akrilik polimerisasi panas menunjukkan stabilita warna yang
baik dibandingkan self-cured acrylic resin karena adanya oksidasi
oleh termitary amine, dan dapat dicegah dengan menambah
stabilizing agent.
 Bahan ini lebih kuat dibandingkan self-cured acrylic resin yaitu
dengan nilai compressive strength 75 Mpa dan tensile strength 52
Mpa.
 Reaksi alergi pada bahan resin akrilik jarang sekali terjadi dalam
RM.
 Resin akrilik memilik kekerasan yang rendah sehingga udah
tergores dan terabrasi.
 Resin akrilik stabil secraa kimia pada panas sampai di suatu titik.
Dan resin akrilik bahan yang tidak bagus untuk mengantarkan
panas dan listrik.
 Resin akrilik memiliki kekuatan Modulus of Elasticity dengan nilai
2400Mpa yang mencukupi untuk digunakan sebagai gigi tiruan
penuh.

 Dental semen
 Standar konsistensi luting dari dental semen harus memperlihatkan
minimal compressive strength setelah 24 jam sebesar 70Mpa.
 Dental semen juga mempunyai sifat solubilitas dalam air dan
cairan mulut.
 Konsistensi semen dapat ditentukan dengan mengukut
viskositasnya. Temperature dan waktu yang meningkat akan
meningkatkan viskositas beberapa semen.
 Setting time yang pas akan mengakibatkan semen yang baik atau
hasil yang baik.
 Ketebalan film sangat menentukan adaptasi restorasi dengan
struktur gigi, semakin tinggi konsitensi semen maka semakin tebal
film yang terjadi sehingga kedudukan semen kurang sempurna.

 Amalgam
 Amalgam adalah material yang cepat rapuh. Kekuatan tensile lebih
rendah dibandingkan kekuatan compressive. Rendahnya kekuatan
tensile akan menyebabkan mudahnya fraktur.
 Kekuatan Tarik dari amalga dengan kadungan tembaga yang tinggi
tidak jauh beda dengan amalgam yang memiliki kandungan
tembaga yang rendah dan dipengaruhi oleh beberapa factor.
 Difusi termal amalgam adalah 40x lebih besar dari dentin
sedangkan koefisien ekspansi termal amalgam 3x lebih besar dari
dentin yang mengakibatkan microleakage dan sekunder karies.

Soal untuk Biokompatibilitas

1. Biokompatibilitas merupakan kemampuan suatu bahan untuk memicu respon


biologis yang tepat ketika diaplikasikan ke dalam tubuh. Sifat ini merupakan salah
satu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh suatu material kedokteran gigi.
a. Jelaskan hubungan antara biokompatibilitas material dan Kedokteran gigi!
 Agar tidak membahayakan pasien dengan berbagai perawatan, semua
bahan kedokteran gigi pasti diuji, tujuannya untuk mengeliminasi
komponen bahan yang berpotensi merusakan jaringan mulut dan membuat
pasien dengan nyaman.

b. Sebutkan dan jelaskan syarat biologis dari material KG!


 Tidak membahayakan pulpa dan jaringan lunak
 Tidak mengandung bahan toksik yang dapat berdisfui, terlepas dan
diabsorbsi dalam sirkulasi
 Bebas dari agent yang dapat menyebabkan reaksi alergi
 Tidak berpotensi sebagai bahan karsiogenik
 Tidak beracun bagi tubh
 Tidak mudah mengalami biodegredasi

c. Sebutkan dan jelaskan faktor yang menentukan biokompatibilitas suatu bahan!


 Sifat material
Stress yang diberikan ke bahan penting bagi respon biologis, stress dapat
berupa fisik, kimia, thermal di alam. Stress jangka oendek atau jangka
Panjang dan kelelahan menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan Ketika
menilai efek stress terhapad kinerja biologi material.

 Durasi paparan
Durasi yang lama memberikan waktu ang cukup bagi bahan untuk
mempengaruhi tubuh dan sebaliknya. Biokompabilitas sangat penting
untuk material yang dipakai dalam jangka waktu lama.

 Lokasi
Lokasi bahan penting untuk keseluruhan respon biology. Pada material
yang berinteraksi melalui epitel atay terletak dibawah epitel , respon
biologis merupakan aspek sangat penting daripada bahan yang tidak
menembus epitel. Demikian pula, bahan yang menmebus enamel gigi
akan menbutuhkan lebih banyaj pengawasa terhadap bahan ang tidak
menmebus enamel.

 Kesehatan host atau pasien


Keehatan host berpengaruh terhadap respon bioogis yang diberikan pada
pasien. System imun oral berperan memberikan respon terhadap berbagai
material di mulut.
2. Ketika seorang dokter gigi memutuskan untuk memasang implan atau
merestorasi gigi pasiennya, ada kemungkinan bahwa bahan yang digunakan dapat
memicu terjadinya reaksi yang tidak diinginkan baik pada tingkat lokal maupun
sistemik. Apa itu efek lokal dan sistemik dari material KG? jelaskan perbedaan
dari keduanya!
 Efek local adalah efek yang dikendalikan oleh zat yang dilepas dari bahan
dan respon biologis terhadap zat tersebut. Efek local dapat terjadi di
jaringan pulpa, dalam periodonsium, di puncak akar, atau di jaringan
mulut terdekat seperti mukosa dan lidal bukal.
 Efek sistemik adalah efek sistemik dari bahan gigi juga merupakan akibat
distribusi zat yang dilepaskan dari bahan gigi, dengan beberapa factor
yaitu; konstreasi zat, waktu paparan, laju eksresi zat, situs tempat paparan.

3. Jelaskan bagaimana korosi mempengaruhi biokompatibilitas suatu logam?


 Korosi dipengaruhi oleh lingkungan, yang dimana logam paling muda
terjadinya korosi. Proses perkaratan besi yang membentuk oksida besi.
Secara elektrokimia, proses perkaratan besi adalah peristiwa
teroksidasinya logam besi oleh oksigen yang berasal dari udara, dengan
berbagai factor. Dan korosi yang terjadi didalam RM dapat
mempengaruhi respon imun local dan sistemik.

4. Jika suatu material KG yang digunakan dalam restorasi gigi tidak memenuhi
syarat biokompatibilitas, maka dapat menyebabkan timbulnya reaksi Toksisitas,
Inflamasi, dan Alergi.
a. Jelaskan tentang ketiga reaksi ini!
 Toksisitas, merupakan kemampuan material untuk merusak system
biologis melalui agen kimia, penempatan material asing dalam tubuh
berpotensi membahayakan tubuh, dental material juga dapat melepaskan
senyawa tertentu yang bersifat toksik.
 Inflamasi, melibatkan aktivasi system kekebalan tubuh host untuk
menangkal beberapa tantangan atau ancaman. Terjadi akibat trauma,
alergi, atau toksik.
 Alergi, terjadi Ketika tubuh mengenali suatu material sebagai benda asing,
dan tubuh meresponnya secara tidak proporsional dengan jumlah material
yang ada.

b. Berikan contoh kasus dari ketiga reaksi diatas (dalam kedokteran gigi)!
 Untuk contoh kasus ditig oenyakit ini sangat nyambung atau
berkaitan dimana jika terdapat toksin dan alaergi maka terdapat
juga inflamasi. Yang dimana contohnya stomatitis kontak alaergi,
yang dimana ini adalah reaksi merugikan yang paling umum
terhadap bahan kedokteran gigi bisa terjadi lesi local maupun
sistemik, dengan penyebab seperti kromium, kobalt,merkuri,
eugenol, komponen bahan berasis resin dan formaldehida atau
zinfosfat. Yang dimana setelah terjadi kontak alergi maupun toksin
dari bahan KG maka inflamasi pun akan mengikuti setelahnya.

Gambar : kontak alergi dengan zinc fosfat

5. Jika kalian diberikan suatu material baru, yang belum pernah digunakan pada
manusia, bagaimana cara kalian menentukan apakah material tersebut aman
sebagai bahan restorasi gigi?
 Diuji terlebih dahulu, yang dimana pengujiannya seperti uji in vitro, uji
sitotoksisitas, uji pemeabilitas membrane, uji yang menggunakan barrier,
dentin disc barrier test, muategeness assey, animal test, tes implantasi,
usage test, tes iritasi pulpa dan gigi, tes oenggunaan mukosa dan gingiva.
Dimana jenis-jenis tes ini mempunyai fungsi sendiri atau berbeda.
 Uji invitro
Dilakukan diluar organisme hidup dan memerlukan penempatan
bahan atau komponen bahan yang kontak dengan enzim sel atau
system biologis terisolasi lainnya terdapat direct maupun indirect.
Direct, bahan kontak dengan system sel tanpan ahmbatan. Indirect,
penghalang semacam antara bahan dan sistemsel.
 Uji sitotokssitas
Uji yang dilakukan dengan mengamati kematin sel akibat material
 Uji permebilitas membrane
Mengukur sitotoksisitas denga kemudahan pewarna dapat melewati
membrane sel, ermeabilitas membrane atalah kematian sel.
Dengan menggunakan aktivitas biosintetik atau enzimatk sel untuk
meniai respon sitotoksik, biasanya menilai sintesis DNA atau jenis
sistesis protein lainnya seperti MTT, XTT, NBT, dan WST
 Dentin Disc Barrier Test
Dentin membentuk penghalangan antara materi uji dan sel target,
komponen bahan dapat berdisfusi melalui dentin dan efek medium
pada metabolisme sel kemudian dapat diukur.
 Mutagenesis Assay
Menilai efek dari biomaterial pada materi genetic sel, dengan
menggunakan tes Ames dan Styles Cell Tranformation Test.
 Animal test
Melibatkan mamalia seperti tikus, mecit, hamster, atau kelinci
percobaan. Tes iritasi selaput lender ; menentukan apakah suatu
bahan menyebabkan peradangan pada selaput ledir atau kulit yang
terkelupas. Uji kepekaan kulit ; bahan disuntikkan secara
intradermal untuk menguji perkembangan reaksi hipersensitivitas
kulit, diikuti dengan perawatan sekunder dengan tambalan perekat
mengandung zat uji. Biasanya dua test ini menggunakan marmot ;
uji maksimalisasi dan uji buehler.
 Usage test
Test ini dilakukan pada hewan dan manusia, dengan bahan
ditempatkan dalam kondisi yang identic dengan tujuan penggunan
klinisnya. Biasanya menggnakan hewan yang lebih besar yang
memiliki lingkungan oral yang mirip dengan manusia seperti
monyet, anjing, babi.