Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN

(VERTIGO)

Disusun untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat


Pada Program Diploma III Keperawatan

Oleh :

TONGAT
NIP : 191440200 RPL

POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENTRIAN KESEHATANPANGKALPINANG
JURUSAN KEPERAWATAN
APRIL 2020
PENDAHULUAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN

(VERTIGO)

A. PENGERTIAN VERTIGO

Vertigo adalah ilusi gerakan, yaitu pasien merasa bahwa ia sedang


berputar dialamraya (vertigo subyektif) atau bahwa sekelilingnya berputar
disekitar dirinya ( vertigo objektif). Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani
vertere yang artinya memutar. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau
rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain,
terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh
Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan
kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatic (nistagmus,
unstable), otonomik (pucat, Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk
gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Banyak system atau
organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan mempertahankan
keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai sistem
diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato sensorik
(propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka
sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik.
Pada vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya
bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar
namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi
bidang vertikal. Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya
nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata
(Lumban Tobing, 2003). dingin,mual, muntah) dan pusing.

Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan


penderita sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa
berputar atau bergerak naik turun dihadapannya. Keadaan ini sering disusul
dengan muntah-muntah, bekringat, dan kolaps. Tetapi tidak pernah kehilangan
kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga lainnya. (Manjoer,
Arif, dkk. 2002)
Vertigo juga dapat terjadi pada berbagai kondisi, termasuk kelainan
batang otak yang serius, misalnya skelerosis multiple, infark, dan tumor.
(Muttaqin, Arif. 2008).

B. ETIOLOGI
Menurut (Burton, 1990: 170) yaitu:

1. Lesi vestibula:
a. Fisiologik
b. Labirinitis
c. Meniere
d. Obat ; misalnya quinine, salisilat.
e. Otitis media
f. “Motion sickness”
g. “Benign post-traumatic positional vertigo”
2. Lesi saraf vestibularis
a. Neuroma akustik
b. Obat ; misalnya streptomycin
c. Neuronitis
d. vestibular
3. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
a. Infark atau perdarahan pons
b. Insufisiensi vertebro-basilar
c. Migraine arteri basilaris
d. Sklerosi diseminata
e. Tumor
f. Siringobulbia
g. Epilepsy lobus temporal

4. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :


a. Telinga bagian luar: serumen, benda asing.
b. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta
akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa
dengan perdarahan.
c. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular,
alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
d. Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
e. Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli
posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
5. Penyakit SSP:
a. Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,
hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan
insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok
jantung.
b. Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
c. Trauma kepala/ labirin.
d. Tumor.
e. Migren.
f. Epilepsi.
6. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula
adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
7. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
8. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
9. Intoksikasi.

C. PATOFISIOLOGI
1. Anatomi vetigo

Jaringan saraf yang terkait dalam proses timbulnya sindrom vertigo:


a. Reseptor alat keseimbangan tubuh yang berperan dalam proses transduksi
yaitu mengubah rangsangan menjadi bioelektrokimia:
1) Reseptor mekanis divestibulum
2) Resptor cahaya diretina
3) Resptor mekanis dikulit, otot dan persendian (propioseptik)
b. Saraf aferen, berperan dalam transmisi menghantarkan impuls ke pusat
keseimbangan di otak:
1) Saraf vestibularis
2) Saraf optikus
3) Saraf spinovestibulosrebelaris.
c. Pusat-pusat keseimbangan, berperan dalam proses modulasi, komparasi,
integrasi/koordinasi dan persepsi: inti vestibularis, serebelum, kortex
serebri, hypotalamusi, inti akulomotorius, formarsio retikularis.

2. Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang
disampaikan kepusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem
ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus
menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan
ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei
vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan
vestibulospinalis. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan
ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor
vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul
kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah
proprioseptik. Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat
integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan
proprioseptik kanandan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam
keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul
berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan
bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya
terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer
atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang
gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan
terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu,
respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan
abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/
berjalan dan gejala lainnya.

Pathway vertigo
D. KLASIFIKASI VERTIGO
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok:
1. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak,
berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna;
tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan,
penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi:
a. Yang disertai keluhan telinga: Termasuk kelompok ini adalah: Morbus
Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom
Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/odontogen.
b. Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah: Serangan
iskemisepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen,
Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger
labyrinth).
c. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini
adalah: Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional
paroksismal benigna. 2. Vertigo kronisYaitu vertigo yang menetap,
keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia KedokteranNo. 144, 2004: 47)
serangan akut, dibedakan menjadi:
d. Yang disertai keluhan telinga: Otitis media kronika, meningitis Tb,
labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor
serebelopontin.
e. anpa keluhan telinga: Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom
pascakomosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel,
kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan
kardiovaskuler, kelainan endokrin.
2. Vertigo yang dipengaruhi posisi: Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
3. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-
angsur mengurang, dibedakan menjadi:
a. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus,
labirintitis akuta,perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada
auditiva interna/arteriavestibulokoklearis.
b. Tanpa keluhan telinga: Neuronitis vestibularis, sindrom arteria
vestibularisanterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika,
sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior
posterior.
Ada pula yang membagi vertigo menjadi :
1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.

E. TANDA DAN GEJALA VERTIGO


1. Vertigo Sentral
Gejala yang khas bagi gangguan di batang otak misalnya diplopia,
paratesia, perubahan serisibilitas dan fungsi motorik. Biasanya pasien
mengeluh lemah, gangguan koordinasi, kesulitan dalam gerak supinasi dan
pronasi tanyanye secara berturut-turut (dysdiadochokinesia), gangguan
berjalan dan gangguan kaseimbangan. Percobaan tunjuk hidung yaitu pasien
disuruh menunjuk jari pemeriksa dan kemudian menunjuk hidungnya maka
akan dilakukan dengan buruk dan terlihat adanya ataksia. Namun pada pasien
dengan vertigo perifer dapat melakukan percobaan tunjuk hidung sacara
normal. Penyebab vaskuler labih sering ditemukan dan mencakup insufisiensi
vaskuler berulang, TIA dan strok. Contoh gangguan disentral (batang otak,
serebelum) yang dapat menyebabkan vertigo adalah iskemia batang otak,
tumor difossa posterior, migren basiler.
2. Vertigo perifer
Lamanya vertigo berlangsung:
a. Episode (Serangan ) vertigo yang berlangsung beberapa detik. Vertigo
perifer paling sering disebabkan oleh vertigo posisional berigna (VPB).
Pencetusnya adalah perubahan posisi kepala misalnya berguling sewaktu
tidur atau menengadah mengambil barang dirak yang lebih tinggi. Vertigo
berlangsung beberapa detik kemudian mereda. Penyebab vertigo
posisional berigna adalah trauma kepala, pembedahan ditelinga atau oleh
neuronitis vestibular prognosisnya baik gejala akan menghilang spontan.
b. Episode Vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam. Dapat
dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang. Penyakit
meniere mempunyai trias gejala yaitu ketajaman pendengaran menurun
(tuli), vertigo dan tinitus. Usia penderita biasanya 30-60 tahun pada
permulaan munculnya penyakit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
penurunaan pendengaran dan kesulitan dalam berjalan “Tandem” dengan
mata tertutup. Berjalan tandem yaitu berjalan dengan telapak kaki lurus
kedepan, jika menapak tumit kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya
dan membentuk garis lurus kedepan. Sedangkan pemeriksaan
elektronistagmografi sering memberi bukti bahwa terdapat penurunan
fungsi vertibular perifer. Perjalanan yang khas dari penyakit meniere ialah
terdapat kelompok serangan vertigo yang diselingi oleh masa remisi.
Terdapat kemungkinan bahwa penyakit akhirnya berhenti tidak kambuh
lagi pada sebagian terbesar penderitanya dan meninggalkan cacat
pendengaran berupa tuli dan timitus dan sewaktu penderita mengalami
disekuilibrium (gangguan keseimbangan) namun bukan vertigo. Penderita
sifilis stadium 2 atau 3 awal mungkin mengalami gejala yang serupa
dengan penyakit meniere jadi kita harus memeriksa kemungkinana sifilis
pada setiap penderi penyakit meniere.
c. Serangan Vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggu. Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering dijumpai
pada penyakit ini mulanya vertigo, nausea, dan muntah yang menyertainya
ialah mendadak. Gejala ini berlangsung  beberapa hari sampai beberapa
minggu. Sering penderita merasa lebih lega namun tidak bebas sama sekali
dari gejala bila ia berbaring diam. Pada Neuronitis vestibular fungsi
pendengaran tidak terganggu kemungkinannya disebabkan oleh virus.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai nistagmus yang menjadi lebih basar
amplitudonya. Jika pandangan digerakkan menjauhi telinga yang terkena
penyakit ini akan mereda secara gradual dalam waktu beberapa hari atau
minggu. Pemeriksaan elektronistagmografi (ENG) menunjukkan
penyembuhan total pada beberapa penyakit namun pada sebagian besar
penderita didapatkan gangguan vertibular berbagai tingkatan. Kadang
terdapat pula vertigo posisional benigna. Pada penderita dengan serangan
vertigo mendadak harus ditelusuri kemungkinan stroke serebelar.
Nistagmus yang bersifat sentral tidak berkurang jika dilakukan viksasi
visual yaitu mata memandang satu benda yang tidak bergerak dan
nigtamus dapat berubah arah bila arah pandangan berubah. Pada nistagmus
perifer, nigtagmus akan berkurang bila kita menfiksasi pandangan kita
suatu benda contoh penyebab vetigo oleh gangguan system vestibular
perifer yaitu mabok kendaraan, penyakit meniere, vertigo pasca trauma.

N VERTIGO PERIFERAL VERTIGO SENTRAL


O (VESTIBULOGENIK) (NON-VESTIBULER)
1 Pandangan gelap Penglihatan ganda
2 Rasa lelah dan stamina Sukar menelan
3 menurun Kelumpuhan otot-otot
4 Jantung berdebar wajah Sakit kepala yang parah
5 Hilang keseimbangan Kesadaran terganggu
6 Tidak mampu berkonsentrasi Tidak mampu berkata-kata
7 Perasaan seperti mabuk Hilangnya koordinasi
8 Otot terasa sakit Mual dan muntah-muntah
9 Mual dan muntah-muntah Tubuh terasa lemah
10 Memori dan daya pikir
11 menurun
Sensitif pada cahaya terang dan
Suara
Berkeringat
F. MANIFESTASI KLINIS

Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan


reaksi dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun,
lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness),
nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah
tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan fisik :
a. Pemeriksaan mata
b. Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c. Pemeriksaan neurologik
d. Pemeriksaan otologik
e. Pemeriksaan fisik umum.
2. Pemeriksaan khusus :
a. ENG (elektronistagmografi)
b. Audiometri dan BAEP
c. Psikiatrik
3. Pemeriksaan tambahan :
a. Laboratorium
b. Radiologik dan Imaging
c. EEG, EMG, dan EKG.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48):
Terdiri dari:
1. Terapi kausal.
2. Terapi simtomatik.
3. Terapi rehabilitatif.

I. PENCEGAHAN
1. Melatih posisi duduk. Dalam posisi duduk, pegang sebuah benda sejajar
dengan mata, lalu meliriklah ke kanan dan ke kiri. Masih dengan memegang
benda sejajar dengan mata, coba untuk menoleh ke kanan dan ke kiri.
Lakukanlah latihan ini secara berulang-ulang.
2. Melatih posisi berdiri. Dengan posisi berdiri, cobalah untuk mengayunkan
badan ke depan dan ke belakang. Jika belum stabil, bisa juga memanfaatkan
tembok untuk sedikit menopang tubuh . Lakukanlah cara ini secara rutin setiap
hari.
3. Latihan duduk dengan balance ball. Dengan menggunakan bola keseimbangan
yang biasa digunakan pada senam pilates, cobalah untuk duduk di atasnya.
Secara perlahan, angkat kaki tak menyentuh tanah sehingga tampak seperti
dalam posisi duduk melayang. lakukan latihan ini secara rutin setiap pagi.
4. Latihan berdiri dan berjalan dengan trampolin. Berdirilah di atas trampolin,
dan ayun tubuh ke depan dan ke belakang. Jika ingin berjalan, maka lakukan
gerakan tersebut dengan tatapan menghadap ke depan. Lalu bergantian
lakukan gerakan tersebut dengan menatap ke samping kanan, lalu coba
menatap ke kiri.
5. Latihan melempar dan menangkap bola. Latihan ini sangat membantu
mengembalikan keseimbangan dinamis. Agar lebih menyenangkan, Anda bisa
lakukan latihan ini bersama anak atau teman.
6. Latihan cross over step. lakukan latihan ini dengan cara menyilangkan kaki di
depan lalu melangkah ke samping. Praktik seperti ini juga biasa dilakukan
dalam latihan dansa.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN VERTIGO


A. Pengkajian

1. Aktivitas / Istirahat
a. Letih, lemah, malaise
b. Keterbatasan gerak
c. Ketegangan mata, kesulitan membaca
d. Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
e. Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca.
2. Sirkulasi
a. Riwayat hipertensi
b. Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
c. Pucat, wajah tampak kemerahan.
3. Integritas Ego
a. Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
b. Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
c. Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
d. Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
4. Makanan dan cairan
a. Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju,
alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG
(pada migrain).
b. Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
c. Penurunan berat badan
5. Neurosensoris
a. Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
b. Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
c. Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
d. Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
e. Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
f. Perubahan pada pola bicara/pola pikir
g. Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
h. Penurunan refleks tendon dalam
i. Papiledema.
6. Nyeri/ kenyamanan
a. Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain,
ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
b. Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
c. Fokus menyempit
d. Fokus pada diri sendiri
e. Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
f. Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7. Keamanan
a. Riwayat alergi atau reaksi alergi
b. Demam (sakit kepala)
c. Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
d. Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
8. Interaksi sosial
a. Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan
dengan penyakit.
9. Penyuluhan / pembelajaran
a. Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
b. Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone,
menopause.

B. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)

1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan


syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan
nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola
tidur, gelisah.
2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan
relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal
informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-
adekuatannya mengikuti instruksi.

C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan
menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi,
perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan: Nyeri hilang atau berkurang.
Kriteria hasil:
a. klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
b. Tanda-tanda vital normal.
c. Pasien tampak tenang dan rileks.

Intervensi Rasional
1. Pantau tanda tanda vital, 1.Mengenal dan memudahkan dalam
intensitas/skala nyeri. melakukan tindakan keperawatan.
2. Anjurkan klien istirahat 2.Istirahat untuk mengurangi intensitas
ditempat tidur. nyeri.
3. Atur posisi pasien senyaman
3.Posisi yang tepat mengurangi penekanan
mungkin.
dan mencegah ketegangan otot serta
4. Ajarkan teknik relaksasi,
mengurangi nyeri.
distraksi dan nafas dalam.
5. Kolaborasi dengan dokter
4. Relaksasi mengurangi ketegangan dan
dalam pemberian analgetik.
membuat perasaaan lebih nyaman.

5.Analgetik berguna untuk mengurangi


nyeri sehingga pasien menjadi lebih
nyaman.

2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan


relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria hasil :
a. Mengidentifikasi perilaku yang tidak efektif.
b. Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang dimiliki.
c. Mengkaji situasi saat ini yang akurat.
d. Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang
tepat.
Intervensi rasional

1. Kaji kapasitas fisiologis yang 1. Mengenal sejauh dan


bersifat umum. mengidentifikasi
2. Sarankan klien untuk penyimpangan fungsi
mengekspresikan fisiologis tubuh dan
perasaannya. memudahkan dalam
3. Berikan informasi mengenai melakukan tindakan
penyebab sakit kepala, keperawatan.
penenangan dan hasil yang 2. Klien akan merasa kelegaan
diharapkan. setelah mengungkapkan
4. Dekati pasien dengan ramah segala perasaannya dan
dan penuh perhatian, ambil menjadi lebih tenang.
keuntungan dari kegiatan 3. Agar klien mengetahui
yang diajarkan. kondisi dan pengobatan
yang diterimanya dan
memberikan klien harapan
dan semangat untuk pulih
kembali.
4. Untuk membuat klien
merasa lebih berarti dan
dihargai.

3. Kurang pengetahuan (kenutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan


pengobatan berhubungan dnegan keterbatasan kognitif, tidak mengenal
informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi,
ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur
dan proses pengobatan.

Kriteria hasil :
a. Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari
suatu tindakan.
b. Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam
regimen perawatan.

intervensi rasional
1. Kaji tingkat pengetahuan klien 1. Mengetahui seberapa jauh
dan keluarga tentang pengalaman dan pengetahuan
penyakitnya. klien dan keluarga tentang
2. Berikan penjelasan pada klien penyakitnya.
tentang penyakitnya dan 2. Dengan mengetahui penyakit
kondisinya sekarang. dan kondisi nya sekarang,
3. Diskusikan penyebab klien dan keluarganya akan
individual dari sakit kepala merasa tenang dan
bila diketahui. mengurangi cemas.
4. Minta klien dan keluarga 3. Untuk mengurangi kecemasan
mengulangi kembali tentang klien serta menambah
materi yang telah diberikan. pengetahuan klien tentang
5. Diskusikan mengenai penyakitnya.
pentingnya posisi atau letak 4. Mengetahui seberapa jauh
tubuh yang normal. pemahaman klien dan
6. Anjurkan pasien untuk selalu keluarga serta menilai
memperhatikan sakit kepala keberhasilan dari tindakan
yang dialaminya dan faktor yang dilakukan.
faktor yang berhubungan. 5. Agar klien mampu melakukan
dan mengubah posisi/letak
tubuh yang kurang baik.
6. Dengan memperhatikan faktor
yang berhubungan klien dapat
mengurangi sakit kepala
sendiri dengan tindakan
sederhana, seperti berbaring,
beristirahat pada saat
serangan.

D. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan


pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan
lainnya. (Carpenito, 1999:28).

Tujuan Pemulangan pada vertigo adalah:

1. Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.


2. Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah
kekambuhan.
3. Memahami kebutuhan atau kondisi proses penyakit dan kebutuhan
terapeutik.

DAFTAR PUSTAKA
Carpernito L.J, 1999.Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan,
DiagnosisKeperawatan dan Masalah Kolaboratif , ed. 2, EGC, Jakarta.
Doenges M. E 1999,Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan
danpendokumentasian pasien, ed.3, EGC, Jakarta.
http://www.kalbefarma.com/Tanggal 6 April 2011Kang L S, 2004.
www.scribd.com/doc/52456463/laporan-pendahuluan-vertigo#scribd Diakses pada hari
sabtu,21 maret 2015 pukul 19:00 wita.
http://hidayat2wordpress.com/2009/04/23/askep-vertigo/ Diakses pada hari sabtu,21 maret
2015 pukul 19.00 wita.
http://odesyafar.wordpress.com/tag/askep-gangguan-sistem-persyarafan-pada-pasien-vertigo/
Diakses pada hari sabtu,221 maret 2015 pukul 20:00 wita.
Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur , Cermin Dunia Kedokteran , Jakarta,
William &Wilkins, 2008.Nursing: Menafsirkan tanda-tanda dan gejala penyakit,
indekspermata puri media, Jakarta.
Manjoer, Arif, dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran, Ed 3. EGC : Jakarta
Muttaqin, Arif. (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai