Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM TEKNIK GEOFISIKA

FAKULTAS TEKNOLOGI EKSPLORASI DAN PRODUKSI


UNIVERSITAS PERTAMINA

PRAKTIKUM GP INTERPRETASI SEISMIK REFRLEKSI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2019/2020

M ALDI
101117011
TEKNIK GEOFISIKA

MODUL 3
PICKING HORIZON

TANGGAL PRAKTIKUM

SENIN, 24 FEBRUARI & 16 MARET 2020

JAKARTA – INDONESIA
© 2020 – TEKNIK GEOFISIKA
LAPORAN PRAKTIKUM
Teknik Geofisika, Universitas Pertamina
Modul 3 Picking Horizon
Mata Kuliah GP Interpretasi Seismik Refleksi

Nama : M Aldi
NIM : 101117011
Kelas : GP1
Shift : 1 – Senin, 13.00-15.00 WIB
Tanggal Praktikum : 24 Februari & 16 Maret 2020

I. PENDAHULUAN
1.1. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Melakukan picking fault dan picking horizon
2. Menentukan jenis fault dari hasil picking fault
3. Menentukan cara melakukan picking fault dan picking horizon dengan
benar.

1.2. BATASAN MASALAH


Pada praktikum modul 3 ini hanya akan dibatasi pada hal-hal berikut ini:
1. Pengolahan data ini menggunakan software petrel 2015.
2. Terbatas dengan data sumur, data seismik, dan data checkshoot yang telah
diberikan oleh asistant.
3. Data pada praktikum modul tiga ini merupakan data yang diberika oleh
asistan yang sudah dilakukan picking fault.
II. TINJAUAN PUSTAKA
a. Data Sumur
Data sumur berisikan informasi perekaman fisik parameter-parameter batuan
di dalam lubang sumur. Beberapa data sumur yang digunakan untuk interpretasi
seismik diantaranya log kecepatan, log densitas, log gamma ray, dan log resistivitas.
Log kecepatan berhubungan dengan kecepatan gelombang P dan gelombang S yang
mengenai suatu lapisan batuan yang ada di dalam bumi. Log densitas merupakan
hasil dari densitas total (bulk density) pada formasi batuan. Log resistivitas
merupakan pengukuran tahanan batuan beserta isinya. Data sumur di atas biasanya
disebut dengan wireline log. Adapun data lain yang harus diketahui adalah mud log
dan data checkshot.
b. Data Seismik
Data seismik didapatkan dari akuisisi geofisika yang mencerminkan data
lapisan bawah permukaan bumi. Pada penggambarannya penampang data seismik
ini berupa data two way time (TWT) yang terekam pada data geophone. Data
seismik refleksi terbagi menjadi 2 tipe yaitu data seismik 2 dimensi dan 3 dimensi.
c. Interpretasi Horizon
Interpretasi struktur pada seismik dapat meliputi interpretasi sesar, lipatan,
diapir dan intrusi. Sesar dapat diinterpretasikan dari adanya ketidakmenerusan pada
pola refleksi (offset pada horizon), penyebaran kemiringan yang tidak sesuai dengan
atau tidak berhubungan dengan stratigrafi, adanya pola difraksi pada zona patáhan,
adanya perbedaan karakter refleksi pada kedua zona dekat sesar. Lipatan dapat
diinterpretasikan dari adanya pelengkungan horizon seismik yang membentuk suatu
antiklin maupun sinklin. Diapir (kubah garam) dapat diinterpretasikan dari adanya
dragging effect pada refleksi horizon di kanan atau di kiri tubuh diapir, adanya
penebalan dan penipisan batuan diatas tubuh diapir dan pergeseran sumbu lipatan
akibat dragging effect. Sedangkan intrusi dapat diinterpretasikan dari dragging
effect tidak jelas dan batuan sedimen disekitar intrusi ikut mengalami
meetingInterpretasi struktur pada seismik dapat meliputi interpretasi sesar, lipatan,
diapir dan intrusi. Sesar dapat diinterpretasikan dari adanya ketidakmenerusan pada
pola refleksi (offset pada horizon), penyebaran kemiringan yang tidak sesuai dengan
atau tidak berhubungan dengan stratigrafi, adanya pola difraksi pada zona patán,
adanya perbedaan karakter refleksi pada kedua zona dekat sesar. Lipatan dapat
diinterpretasikan dari adanya pelengkungan horizon seismik yang membentuk suatu
antiklin maupun sinklin. Diapir (kubah garam) dapat diinterpretasikan dari adanya
dragging effect pada refleksi horizon di kanan atau di kiri tubuh diapir, adanya
penebalan dan penipisan batuan diatas tubuh diapir dan pergeseran sumbu lipatan
akibat dragging effect. Sedangkan intrusi dapat diinterpretasikan dari dragging
effect tidak jelas dan batuan sedimen disekitar intrusi ikut mengalami meeting.
Penarikan horizon pada refleksi seismik harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Melakukan picking horizon pada lapisan reflektor yang sama (konsisten).
2. Amplitudo dan frekuensi.
3. Kemenerusan dari lapisan/refleksi seismik.
4. Adanya sesar/bidang patahan, biasa ditandai oleh adanya diskontinuitas.

Gambar 2.1. Interpretasi Horizon dan Patahan (OpendTech)

Salah satu cara untuk memudahkan picking awal , yakni dengan dimulai dari
salah satu line seismik yang memiliki marker seismik paling banyak, sehingga dapat
memudahkan untuk memulai picking interpretasi horizon pertama. Picking fault
dilakukan berbarengan dengan picking horizon seismik. Dengan mengetahui
karakter frakturasi batuan dalam penampang seismik, serta dengan menggunakan
referensi peta geologi, maka fault dapat di-pick untuk menyempurnakan hasil
interpretasi. Tentu saja dengan memperhatikan sudut kemiringan fault, dan naik-
turunnya perlapisan batuan. Salah satu hasil picking fault yang dikompilasi dengan
hasil picking horizon seismik.
III. METODOLOGI
3.1. DATA PENELITIAN
Data penelitian yang digunakan pada modul 3 adalah data sumur dan data
seismik yang sudah diolah pada praktikum sebelumnya yakni data yang sudah
dilakukan well tie seismik.

Gambar 3.1.1 Data Praktikum

3.2. DIAGRAM ALIR

Start

Input Data Seismik Membuat arbitary


line

penentuan Top
Horizon Atur parameter dan pilih
target (warna,
Polygon/Boundary Line,
Inline, xline)

Picking Horizon dan 3D window hasil picking fault


Patahan/Fault
dan horizon

Stop

Gambar 3.2.1 Flowchart


3.3. PENGOLAHAN DATA
1. Buat new folder > new seismic interpretation > klik kanan > new faults
2. Ubah namanya dengan cara klik kanan pada interpretation folder > pilih
info, kamudian rubah namanya menjadi ‘picking faults’.
3. Seismic interpretation > jika ingin melakukan picking terlebih dahulu klik
interpret faults, jika ingin menghapus klik interactive eraser, dan jika
ingin menggeser klik select and edit/add point.

Gambar 3.3.1. Tool Palette


(Sumber: Petre, 2015)

4. Untuk melihat penampang kemenerusannya maka klik player >


intersection player.

Gambar 3.3.2 Players


(Sumber: Petre, 2015)

5. Setiap ingin melakukan picking fault pada daerah yang baru, maka
buatlah terlebih dahulu klik new faults.
Gambar 3.3.3. Fault Interpretation
(Sumber: Petre, 2015)

Gambar 3.3.4. 3D Window


(Sumber: Petre, 2015)

6. Buat 2D window dengan cara klik window pada menu home > klik 2D
window
7. Tampilkan data seismik dan data weel pada window 2D dengan cara
ceklist survey 1 pada toolbar di bagian kiri.
8. Buat arbitary line
9. Hubungkan kedua well dengan cara klik tool palette > klik create
arbitrary composite section > hubungkan well, maka akan terlihat sepert
pada gambar di bawah ini:

Gambar 3.3.5 Tampilan 2D Window


(Sumber: Petre, 2015)

10. Buka interpretation window > buat interpretation folder yang baru pada
bagian seismic untuk melakukan picking horizon.
11. Klik tool palette pada menu home > klik seismic interpretation

Gambar 3.3.6. Tool Palette


(Sumber: Petre, 2015)

12. klik guided autotraking untuk menarik garis horizon yang sesuai dengan
top marker.
Gambar 3.3.7 Hasil Picking Horizon pada Inline
(Sumber: Petre, 2015)

Gambar 3.3.8 Hasil Picking Horizon pada Xline


(Sumber: Petre, 2015)
13. Untuk melihat penampang seismic yang berbeda maka klik players pada
menu home > intersection player.
Gambar 3.3.9 Players (Sumber: Petre, 2015)
14. Klik 3D window untuk menampilkan hasil picking horizon dalam bentung
3D.

Gambar 3.3.10 Hasil Picking Horizon dalam 3D pada Inline dan Xline
(Sumber: Petre, 2015)

Gambar 3.3.11 Hasil Picking Horizon dalam 3D pada Inline, Xline, dan Z
(Sumber: Petre, 2015)
Gambar 3.3.12 Hasil Picking Horizon dan Picking Fault dalam 3D pada
Inline, Xline, dan Z
(Sumber: Petre, 2015)

Gambar 3.3.13 Hasil Picking Horizon dan Picking Fault Pada Interpretasi
Window
(Sumber: Petre, 2015)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil 4 buah picking horizon dapat dilihat pada gambar di atas yaitu pada
gambar 3.3.7 untuk Inline dan gambar 3.3.8 untuk Xline.
4.2 Analisis Horizon

Gambar 4.2.1 Hasil Picking Horizon


(Sumber: Petre, 2015)

Picking Horizon di atas berdasarkan pada line seismic yang memiliki


marker, mulai dari sumur 88-AX sampai sumur 25-AX-28. Cara untuk
melakukan picking horizon ini dengan melihat keteraturan reflector yang
disebabkan adanya perbedaaan nilai impedansi. Penarikan horizon diutamakan
pada refleksi yang memiliki ciri dan penyebaran meluas dan regional dimana
itu dapat mencirikan suatu stratigraphic marker, sehingga dapat mencirikan
adanya formasi pada setiap markernya. Pada Penampang Horizon tersebut
jika ditemukan batas lapisan yang semakin jelas, hal itu mengindikasikan
bahwa pada daerah tersebut memiliki frekuensi yang sangat besar. Dapat
dilihat pada gambar di atas (gambar 4.2.1) terdapat 4 buah horizon, hasil
tersebut menunjukkan bahwa antara horizon 1 dengan horizon yang lainnya
tidak saling tumpang didih, artinya memang benar kemungkinan terdapat 4
horizon pada penampang seismic tersebut atau dengan kata lain hasil picking
horizon nya sudah benar.
4.3 Analisis Fault

Gambar 4.3.1 Fault Interpretation


(Sumber: Petre, 2015)
Gambar 4.3.1 Hasil Picking Horizon dan Picking Fault Pada Interpretasi
Window
(Sumber: Petre, 2015)

Picking fault dilakukan berbarengan dengan picking horizon seismik.


Dengan mengetahui karakter frakturasi batuan dalam penampang seismik,
serta dengan menggunakan referensi peta geologi, maka fault dapat di-pick
untuk menyempurnakan hasil interpretasi. Tentu saja dengan memperhatikan
sudut kemiringan fault, dan naik-turunnya perlapisan batuan. Dapat di lihat
pada gambar 4.3.1 di atas terdapat dua fault, fault tersebut merupakan sesar
turun (normal fault) hal itu dikarenakan Hanging wall nya naik terhadap Foot
wall. Normal fault ini dapat terjadi karena adanya mekanisme geologi berupa
rifting atau extension. Mengapa pada daerah tersebut di tarik fault? Karena
pada daerah tersebut menunjukkan karakter frakturasi batuan atau terdapat
karakter seismik yang patah yang menunjukkan ketidakmenerusan sehingga
pada daerah tersebut di tarik sebagai fault. Dalam petroleum system fault ini
bertindak sebagai perangkap hydrocarbon, untuk mencegah hydrocarbon
keluar dari formasi lain. Hal tersebut dapat diperkuat pada gambar 4.2 di atas,
dimana picking fault dan picking horizon saling mempengaruhi. Pada daerah
tersebut Terjadi ketidakmenerusan saat melakukan picking horizon pada line
seismic 210 karena terdapat normal fault (hasil picking fault).
V. PENUTUP
5.1 SIMPULAN
1. Hasil dari picking fault dan picking horizon dapat di lihat pada gambar di
atas, yaitu pada gambar 3.3.3 dan 3.3.4 untuk hasil dari picking fault dan
gambar 3.3.7 dan 3.3.8 untuk hasil dari picking horizon.
2. Hasil fault dari picking fault di atas merupakan jenis fault ‘normal fault’
atau sesar turun.
3. Untuk melakukan picking fault dan picking horizon dengan benar adalah
Picking fault dilakukan berbarengan dengan picking horizon seismik.
Dengan mengetahui karakter frakturasi batuan dalam penampang seismik,
serta dengan menggunakan referensi peta geologi, maka fault dapat di-pick
untuk menyempurnakan hasil interpretasi. Serta dengan memperhatikan
sudut kemiringan fault, dan naik-turunnya perlapisan batuan.

5.2 MANFAAT
1. Dapat mengoperasikan software petrel 2018.
2. Dapat melakukan picking fault dan picking horizon
3. Dapat menentukan jenis dari hasil picking fault
4. Dapat meentukan bagaimana melakukan picking fault dan picking horizon
dengan benar.
REFERENSI
[1] Dikma, Timur.dkk.2015. Korelasi Data Log Sumur dan Seismik Untuk Penyebaran
Litologi dan Porositas Reservoir Hidrokarbon Formasi Gumai Cekungan Sumatra
Selatan. Jawa Timur: Universitas Brawijaya [23/03/2020].

[2] Ardiyanto,dimas.2019. Aplikasi Seismik Atribut Untuk Menentukan Prospektivitas


Area Eksplorasi “X” Pertamina EP, Jawa Barat. Tersedia:
https://library.universitaspertamina.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/629/lapora
n%20KP%20Dimas%20Ardiyanto%20101116074.pdf?sequence=1&isAllowed=y
[23/03/2020].

[3] Adityo, Haryanto. 2008. Interpretasi Seismik. Tersedia: http://lib.ui.ac.id/file?


file=digital/125449-FIS.023-08-Interpretasi%20data-Analisis.pdf [23/03/2020].