Anda di halaman 1dari 6

UJIAN TENGAH SEMESTER

MANAJEMEN KEUANGANGAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN

Konsentrasi
Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Dosen:
Dr. Dra. Chriswardani Suryawati, M. Kes

Oleh:
Ainun Nadzifatul Amalia Hafidz
NIM: 25000119410020

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2020
BAB I

A. Pendahuluan
Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) semula berawal dari kota Wuhan, China. Infeksi
virus ini tidak memandang negara, status sosial dan kondisi fisik. Organisasi Kesehatan Dunia
(World Health Organization) telah menyatakan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai
pandemi pada sebagian besar negara-negara di seluruh dunia (207 negara), termasuk di
Indonesia yang menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu dan telah menimbulkan korban
jiwa.
Berdasarkan data dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia pada
tanggal 18 April 2020, terdapat 6.248 kasus positif, 631 diantaranya sembuh, dan 535 orang
meninggal. Pandemi ini menimbulkan kerugian material yang semakin besar, sehingga
berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.
Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu segera mengambil
kebijakan dan langkah-langkah luar biasa dalam rangka penyelamatan perekonomian nasional
dan stabilitas sistem keuangan negara di Indonesia.

B. Permasalahan
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) secara nyata telah mengganggu
aktivitas ekonomi dan membawa implikasi besar bagi perekonomian sebagian besar negara-
negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan
menurun dari 3% (tiga persen) menjadi hanya 1,5% (satu koma lima persen) atau bahkan lebih
rendah dari itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan menurun mencapai 4%
(empat persen) atau lebih rendah, tergantung kepada seberapa lama dan seberapa parah
penyebaran pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) mempengaruhi atau bahkan
melumpuhkan kegiatan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Terganggunya aktivitas ekonomi akan berimplikasi kepada perubahan dalam postur
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2020 baik sisi Pendapatan
Negara, sisi Belanja Negara, maupun sisi Pembiayaan. Implikasi pandemi Corona Virus Disease
2019 (COVID-19) juga berdampak terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional,
penurunan penerimaan negara, dan peningkatan belanja negara dan pembiayaan. Sistem
keuangan yang semakin memburuk ditunjukkan dengan penurunan berbagai aktivitas ekonomi
domestik sehingga perlu dimitigasi bersama oleh Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) untuk melakukan tindakan antisipasi forward looking dalam rangka menjaga
stabilitas sektor keuangan.
Untuk menghadapi risiko pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), diperlukan
respon kebijakan keuangan negara dan fiskal antara lain berupa peningkatan belanja untuk
mitigasi risiko kesehatan, melindungi masyarakat dan menjaga aktivitas usaha. Tekanan pada
sektor keuangan akan mempengaruhi APBN Tahun Anggaran 2020 terutama sisi Pembiayaan.
BAB II
Pembahasan

Pemerintah dan lembaga terkait telah mengambil kebijakan dan langkah-langkah luar
biasa dalam rangka penyelamatan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan
melalui Instruksi Presiden (Inpres) dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Republik Indonesia (Perppu).
Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Inpres Nomor 4 tahun 2020
tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam
rangka Percepatan Penanganan COVID-19. Instruksi Presiden mulai berlaku pada tanggal 20
Maret 2020.(1)
Beberapa poin penting yang terkandung dalam Inpres Nomor 4 tahun 2020 diantaranya
adalah :
• Mengutamakan penggunaan alokasi anggaran yang telah ada untuk kegiatan-kegiatan
yang mempercepat penanganan Corona VIrus Disease 2019 (COVID-
19) (Refocussing kegiatan, dan realokasi anggaran) dengan mengaju pada protokol
penanganan Corona Virus Diesease 2019 (COVID-19) di
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah dan rencana operasional percepatan
penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang ditetapkan oleh Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
• Mempercepat refocussing kegiatan dan realokasi anggaran melalui mekanisme revisi
anggaran dan segera mengajukan usulan revisi anggaran kepada Menteri Keuangan
sesuai dengan kewenangannnya.
• Mempercepat pelaksanaan pengadaan barang dan jasa untuk mendukung percepatan
penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dengan mempermudah dan
memperluas akses sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun
2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, Peraturan Presiden Nomor
16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, dan Peraturan
Presiden Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
dalam Keadaan Tertentu.
• Melakukan pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan penanganan Corona
Virus Disease 2019 (COVID-19) dengan melibatkan Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang/ Jasa Pemerintah serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
• Melakukan pengadaan barang dan jasa alat kesehatan dan alat kedokteran untuk
penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dengan memperhatikan barang dan
jasa sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
• Menteri Keuangan diperintahkan untuk memfasilitasi proses revisi anggaran secara
cepat, sederhana, dan akuntabel.
Presiden Joko Widodo juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang Republik Indonesia (Perppu) Nomor 1 tahun 2020 pada tanggal 31 Maret 2020 tentang
Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi
Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang
Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.(2)
Sejumlah kebijakan diambil seperti mengalokasikan tambahan belanja dan pembiayaan
APBN Tahun 2020 untuk penanganan Covid-19. Untuk keperluan tersebut, pemerintah
mengucurkan anggaran sebesar Rp450,1 triliun yang selanjutnya akan diperuntukkan kepada
sejumlah bidang penanganan mulai dari sisi kesehatan hingga dampak ekonomi yang
ditimbulkannya.
Besaran belanja wajib yang dapat disesuaikan oleh Pemerintah dalam Perppu 1 tahun 2020
tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman
yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan antara lain:
a. Anggaran kesehatan sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja
negara di luar gaji, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.(3)
b. Anggaran untuk desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
sebesar 10% (sepuluh persen) dari dan di luar dana Transfer Daerah, yang diatur dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.(4)
c. Besaran Dana Alokasi Umum terhadap Pendapatan Dalam Negeri Bersih sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah.(5)
Penyesuaian besaran belanja wajib (mandatory spending) sebagaimana dimaksud dalam
pasal 2 ayat (1) huruf b Perppu 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas
Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau
dalam rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau
Stabilitas Sistem Keuangan ini tidak dilakukan terhadap pengalokasian anggaran pendidikan
sebesar 2O% (dua puluh persen) dalam tahun berjalan sebagaimana diamanatkan dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Terhadap daerah yang dilanda maupun yang belum dilanda pandemi Corona Virus Disease
2019 (COVID-19) dapat menggunakan sebagian atau seluruh belanja infrastruktur sebesar 25%
(dua puluh lima persen) dari Dana Transfer Umum (DTU) untuk penanganan pandemi Corona
Virus Disease 2019 (COVID-19), baik untuk sektor kesehatan maupun untuk jaring pengaman
sosial (social safety net) dalam bentuk penyediaan logistik beserta pendistribusiannya dan/atau
belanja lain yang bersifat mendesak yang ditetapkan Pemerintah
BAB III

Kesimpulan dan Saran

Inpres 4 tahun 2020 tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta PBJ dalam
rangka Percepatan Penanganan COVID-19 ini akan membuat alokasi yang dulunya tidak ada
menjadi ada khusus untuk Penanganan Virus Corona di Indonesia. Kebijakan ini terasa berat
namun perlu dilakukan demi kesehatan rakyat dan keselamatan perekonomian Indonesia.
Namun tidak menutup kemungkinan adanya celah penyalahgunaan anggaran penanggulangan
bencana ini dapat terjadi, sehingga pada pelaksanaannya perlu diawasi sejauhmana keterbukaan
dan transparansi penggunaan anggaran tersebut dilakukan oleh para penyelenggara negara.
Dengan adanya Inpres 4 tahun 2020, dapat dijadikan dasar hukum bagi pemerintah
daerah untuk menggunakan alokasi anggaran yang telah ada untuk kegiatan-kegiatan yang
mempercepat penanganan Covid-19. Selain itu, pengadaan barang dan jasa alat kesehatan dan
kedokteran dapat dipercepat. Pemerintah daerah diharapkan tidak takut lagi melakukan belanja
anggaran, sepanjang itu untuk kepentingan masyarakat dan penanganan Covid-19 mengingat
keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi (Salus Populi Suprema Lex Esto).
Dengan adanya Perppu Nomor 1 tahun 2020 pada tanggal 31 Maret 2020 tentang
Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan diharapkan mampu mengatasi
ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan di negara
indonesia.
Penecegahan penularan Covid-19 ini bukan hanya tugas pemerintah. Perlu dukungan
dari masyarakat untuk menyelamatkan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan
negara di Indonesia dengan mengikuti protokol pencegahan penyebaran Covid-19, misalnya
dengan menerapkan physical distancing.
DAFTAR PUSTAKA

1. Pemerintah Indonesia. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020


tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa
dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
2020;(022698):22698–701.
2. Pemerintah Indonesia. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 1 Tahun 2020 tentang Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid- 19) dan/atau dalam Rangka Menghadapi
Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Na. 2020;(023780).
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. 2014;
4. Pemerintah Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa. 2014;(1):45–54.
5. Pemrintah Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 2004;55.