Anda di halaman 1dari 9

JAWABAN MID TEKNIK KOROSI DAN PELAPISAN

Nama : Gugun Gultom


Nim : 5171121005
Dosen Pengampu : Ir.Riski Elpari Siregar, M.T.

16. Reaksi redoks spontan adalah reaksi yang dapat langsung terjadi dan potensial sel yang
dihasilkannya bertanda positif. Reaksi redoks spontan terjadi jika   E red – E oks > 0. Ciri-cirinya
yaitu dihasilkannya endapan, terjadi gelembung, perubahan warna, dan perubahan suhu. Reaksi
redoks spontan dapat digunakan sebagai sumber arus, yaitu dalam sel volta, baterai dan aki.

Elektrolisis banyak diterapkan dalam industri, misalnya pengolahan aluminium, produksi NaOH
dan klorin, dan dalam penyepuhan (electroplating).
Kespontanan suatu reaksi redoks dapat ditentukan menggunakan deret volta. Urutan logam-
logam dalam deret volt adalah :
K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Co-Ni-Sn-Pb-(H2)-Sb-Bi-Cu-Hg-Ag-Pt-Au
Jika suatu logam dapat mereduksi unsur-unsur disebelah kanannya, reaksi tersebut berlangsung
spontan. 
Perhatikanlah contoh berikut :
Cu2+ (aq)   +   2e   <====>     Cu(s)       Eo = + 0,34 V
Mg2+ (aq)  +  2e    <====>       Mg (s)     Eo =  -2,34 V
Periksalah  apakah reaksi berikut berjalan spontan pada kondisi standar
Cu(s)   +   Mg2+ (aq)       <====>        Cu2+ (aq)   +  Mg (s)
Jawab :
Pada reaksi itu magnesium mengalami reduksi, sedangkan tembaga mengalami oksidasi.
E sel  = Eo red – Eo oks   = -2,34 V – 0,34 V = -2,68 V
Oleh karena Eo sel bertanda negatif, maka reaksi itu tidak dapat spontan pada kondisi
standar.Jika suatu reaksi redoks tidak spontan, maka reaksi kebalikannya yang berlangsung
spontan. yaitu reaski Mg dengan ion Cu mempunyai potensial + 2,68, dapat berlangsung
spontan.
17. Pada logam terjadinya akibat reaksi kimia yaitu pada temperatur yang tinggi antara logam
dan gas atau terjadi korosi elektrokimia dalam lingkungan air atau udara basah. Reaksi langsung
disebut juga korosi kering dan reaksi penggantian disebut korosi basah.

18. Perpindahan elektron tersebut terjadi karena adanya potensial sel atau yang sering disebut
dalam fisika adalah ggl (gaya gerak listrik ; elektromotive force). Lambangnya adalah E sel.
Untuk tanda Eºsel menunjukkan keadaan potensial elektrode standar yaitu pada suhu 25ºC
dengan konsentrasi ion-ion 1 M dan tekanan gas 1 atm.

DAFTAR POTENSIAL BARU

 Elektrode yang lebih mudah mengalami reduksi dibandingkan elektrode hidrogen (H2)


mempunyai tanda positif (E sel = +)
 Elektrode yang lebih mudah mengalami oksidasi dibandingkan elektrode hidrogen (H2)
dan sukar mengalami reduksi mempunyai tanda negatif (E sel = -)

Potensial elektrode suatu unsur yang mengalami reaksi redoks akan bernilai sama, hanya saja
tandanya yang berbeda. Contoh:

Mg2+|Mg ; E sel = -2,34 volt (mengalami reaksi reduksi) akan bernilai 2,34 volt juga pada reaksi
oksidasi yaitu Mg|Mg2+ ; E sel = +2,34 volt. Atau, jika dijabarkan dengan reaksi seperti berikut:

(Reduksi) Mg2+ + 2e- —> Mg ; E = -2,34 V


(Oksidasi) Mg –> Mg2+ + 2e- ; E = +2,34 V

Untuk mengukurnya, harus adanya nilai potensial di katode dan anode. Hasil selisih keduanya
itulah yang menunjukkan potensial sel volta. Rumusnya : Eº = Eºkatode – Eºanode

19. Selaput elektroda jenis ini mengandung hydrogen yang rendah (kurang dari 0,5 %), sehingga
deposit las juga dapat bebas dari porositas. Elektroda ini dipakai untuk pengelasan yang
memerlukan mutu tinggi, bebas porositas, misalnye untuk pengelasan bejana dan pipa yang akan
mengalami tekanan. Jenis-jenis elektroda hydrogen rendah misalnya E 7015, E 7016 dan E 7018.

20. Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam
dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak
dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan.

Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.

21. Ketika suatu logam tidak berda dalam kesetimbangan larutan yang mengandung ion-ionnya,
potensial elektrodanya berbeda dari potensial korosi bebas dan selisih antara keduanya biasanya
disebut polarisasi.
22.

23. Electroplating
Dalam teknologi pengerjaan logam, proses electroplating dikategorikan sebagai proses
pengerjaan akhir (metal finishing). Secara sederhana, electroplating dapat diartikan sebagai
proses pelapisan logam, dengan menggunakan  bantuan arus listrik dan senyawa kimia tertentu
guna memindahkan partikel logam pelapis ke material yang hendak dilapis.
Pelapisan logam dapat berupa lapis seng (zink), galvanis, perak, emas, brass, tembaga, nikel dan
krom. Penggunaan lapisan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kegunaan masing-masing
material.

Prinsip Dasar
Kita mengenal istilah anoda, katoda, larutan elektrolit. Ketiga istilah tersebut digunakan seluruh
literatur yang berhubungan dengan pelapisan material khususnya. Anoda adalah terminal positif,
dihubungkan dengan kutub positif dari sumber arus listrik. Anoda dalam larutan elektrolit ada
yang
larut dan ada yang tidak. Anoda yang tidak larut berfungsi sebagai penghantar arus listrik
saja., sedangkan anoda yang larut berfungsi selain penghantar arus listrik, juga sebagai
bahan baku pelapis.

 Katoda dapat diartikan sebagai benda kerja yang akan dilapisi, dihubungkan dengan
kutub negatif dari sumber arus listrik.
 Elektrolit berupa larutan  yang molekulnya dapat larut dalam air dan terurai menjadi
partikel-partikel yang bermuatan positf atau negatif.
Karena electroplating adalah suatu proses yang menghasilkan lapisan tipis logam di atas
permukaan logam lainnya dengan cara elektrolisis, maka perlu kita ketahui skema
proses electroplating tersebut.

24

Teori potensial campuran memiliki dua hipotesis yang sederhana yaitu,


1. Reaksi elektro kimia
2. Reaksi listrik

25. Korosi galvanik disebut juga sebagai korosi logam tak


sejenis atau korosi dwilogam. Korosi ini terjadi jika 2 buah logam atau logam paduan yang
berbeda dalam suatu lingkungan yang sama dan saling berhubungan. Hal ini terjadi karena
dihasilkan suatu beda potensial diantara logam tesebut.

26. Deret Galvanik (Galvanic Series) merupakan Urutan relatif logam berdasarkan besarnya


potensial listrik dimulai dari magnesium yang berpotensial anodik dan mudah terkorosi sampai
kepada platina yang berpotensial katodik yang tahan korosi.
Korosi galvanik disebut juga sebagai korosi logam tak sejenis atau korosi dwilogam. Korosi ini
terjadi jika 2 buah logam atau logam paduan yang berbeda dalam suatu lingkungan yang sama
dan saling berhubungan. Hal ini terjadi karena dihasilkan suatu beda potensial diantara logam
tesebut.  Prinsip korosi galvanik sama dengan prinsip elektrokimia yaitu terdapat elektroda
(katoda dan anoda), elektrolit dan arus listrik. Logam yang berfungsi sebagai anoda adalah
logam yang sebelum dihubungkan bersifat lebih aktif atau mempunyai potensial korosi lebih
negatif. Pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi atau reaksi pelarutan sedangkan pada katoda
terjadi reaksi reduksi logam atau tidak terjadi reaksi apa-apa dengan cara proteksi katodik.

27. a)Teori potensial campuran memiliki dua hipotesis yang sederhana yaiti,
1. Reaksi elektro kimia
2. Reaksi listrik
b)Korosi galvanik disebut juga sebagai korosi logam tak sejenis atau korosi dwilogam. Korosi ini
terjadi jika 2 buah logam atau logam paduan yang berbeda dalam suatu lingkungan yang sama
dan saling berhubungan. Hal ini terjadi karena dihasilkan suatu beda potensial
diantara logam tesebut.

28. Intergranular corrosion (IGC) atau intergranular attack (IGA)atau korosi batas butir adalah
serangan korosi pada daerah sepanjang batas butir atau daerah sekitarnya tanpa serangan yang
cukup besar terhadap butirnya sendiri.

29. Intergranular corrosion (IGC) atau intergranular attack (IGA)atau korosi batas butir


adalah serangan korosi pada daerah sepanjang batas butir atau daerah sekitarnya tanpa serangan
yang cukup besar terhadap butirnya sendiri.
Intergranular corrosion
merupakan jenis korosi yang sangat merugikan, karena bentuk dari jenis korosi tidak dapat
dilihat secara langsung. Korosiini hanya dapat dilihat melalui uji lab.
Intergranular corrosion
disebabkankarena susunan kristal pada suatu atom material mengalamai kekosongan
maka akan berakibat mudahnya material mengalami korosi. Hal ini
disebabkan adanya difusi media korosi logam yang meningkat sehingga media korosif
dapat masuk kedalam grain boundary.
30. Dimassa lampau, orang-orang telah malaporkan peihal korosi seng pada kuningan.
Komponen-komponen yang dirancang untuk digunakan baik di air laut maupun di air tawar
seperti kondensor, katup, keran, pipa,termasuk sekrup, mur dan baut, banyak dirusak
akibat korosi selektif .  masalah ini tidak hanya dialami oleh kuningan, masih banyak pada
logam lain.
Korosi Selektif adalah suatu bentuk korosi yang terjadi karena pelarutan komponen tertentu
dari paduan logam (alloynya). Pelarutan ini terjadi pada salah satu unsur pemadu atau komponen
dari paduan logam yang lebih aktif yang menyebabkan sebagian besar dari pemadu tersebut
hilang dari paduannya. Material yang tertinggal telah kehilangan sebagian besar kekuatan
fisiknya (karena berpori-pori). Selektif leaching –nama lain dari Korosi Selektif- bisa terjadi dari
sepasang panduan logam satu fasa dan juga dua fasa. Dalam paduan dua fasa, fasa yang kurang
mulia akan meluruh terlebih dahulu.
Bentuk korosi ini juga disebut pemisahan atau dealloying. Pemadu yang biasaanya
terlarut  dari paduan logamnya adalah  seng (Zn) , alumunium (Al) , kobalt (Co) , nikel (Ni) , dan
crom (Cr).Beberapa  contoh korosi selektif dari paduan logam dengan logam  Cu dapat dilihat
pada table dibawah ini :
 
Bentuk Korosi Selektif Paduan Logam Yng Terlarut
Dezincfikasi Cu – Zn Zn
Dealuminasi Cu – Al Al
Demanganisasi Cu – Mn Mn
Denikelisasi Cu – Ni Ni
Desilikonisasi Cu – Si Si
Decuprifikasi Cu - Ag Cu
 
Tembaga secara khusus jika dikombiasikan dengan unsur-unsur ini. Membentuk suatu
bagian dari paduan logam yang sensitif terhadap leaching. Bentuk korosi ini biasanya
dinamai sesuai dengan element-element yang meluruh, seperti ditulis pada tabel diatas. Pada
paduan logam tembaga-perak fenomena dealloying yang terjadi adalah peluruhan selektif
tembaga yang disebut decuprifikasi.