Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN PERFORASI MEMBRAN TYMPANI

OLEH

NAMA : SALMA SAFITRI

NIM : 170204072

KELAS : PSIK D3.1

PROGRAM STUDI NERS

FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

MEDAN 2020

KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji dan syukur kehadiran tuhan yang maha esa atas berkat dan rahmat
karunianya sehingga kami dapat menyusun makalah “ASUHAN KEPERAWATAN
PERFORASI MEMBRAN TYMPANI”. Dengan baik selesainya penyusunannya berkat bantuan
moral maupun material dari berbagai pihak pada kesempatan ini kelompok mengucapkan terima
kasih kepada :

1. Perlindungan purba,SH,MM,selaku ketua yayasan sari mutiara Medan


2. Dr. Ivan Elisabeth Purba,M,kes,selaku Rektor universitas sari mutiara Indonesia
3. Taruli Sinaga.SP,M.KM,selaku Dekan Fakultas farmasi dan ilmu kesehatan
4. Ns, Rinco Siregar,S,kep. M, kep, selaku ketua program studi ners fakultas farmasi dan
ilmu kesehatan universitas sari mutiara Indonesia
5. Ns, Amila, M.kep, SpKMB, selaku dosen pengajar yang telah memberikan bimbingan,
arahan, dan saran kepada saya dalam menyelesaikan makalah ini.

Tim penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dari isi
maupun susunanya, untuk tim penulis membuka diri terhadap kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya dibidang keperawatan, akhir kata tim penulis mengucapkan terimakasih.

Medan , 08 April 2020

Salma Safitri

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman judul ………………………………………………………………. i
Kata pengantar ……………………………………………………………… ii
Daftar isi ……………………………………………………………………. iii
Bab I Pendahuluan ………………………………………………………….. 1
A. Latar belakang ………………………………………………….. 1
B. Rumusan masalah ………………………………………………. 2
Bab II Pembahasan
A. Pengertian ………………………………………………………. 4
B. Etiologi …………………………………………………………. 4
C. Anatomi fisiologi ……………………………………………….. 4
D. Patofisiologi …………………………………………………….. 5
E. Manifestasi klinik ………………………………………………. 6
F. Diagnosis penunjang …………………………………………… 7
G. Klasifikasi ……………………………………………………… 8
H. Penatalaksanaan ………………………………………………… 10
1. Medis ……………………………………………………….. 10
2. Asuhan keperawatan ………………………………………. 11
Bab III Penutup …………………………………………………………….. 21
A. Kesimpulan .................................................................................. 21
Daftar pustaka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap mahluk selalu berhubungan dengan dunia luarnya. Untuk mengenali dunia luarnya
itu setiap mahluk dilengkapi dengan alat untuk mengenalnya. Mahluk mempunyai bagian
tubuh yang terdiri dari kumpulan reseptor yang peka (sensitive) terhadap rangsang.

Pancaindera adalah organ-organ akhir yang dikhususkan untuk menerima jenis


rangsangan tertentu. Pada tubuh manusia alat untuk mengenal dunia luar atau sekitar
tubuhnya adalah alat indera. Serabut saraf yang melayaninya merupakan alat perantara yang
membawa kesan rasa dari organ indera menuju keotak, dimana perasaan itu diolah atau
ditafsirkan. Beberapa kesan rasa timbul dari luar seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan,
pembauan, dan suara. Lainnya timbul dari dalam antara lain rasa lapar, rasa haus, dan rasa
sakit.

Alat indera akan berfungsi dengan baik bila tidak terjadi gangguan pada : alat penerima
rangsang (reseptor) yaitu alat indera itu sendiri, saraf penghubung antara reseptor dengan
pusat susunan saraf, dan pusat saraf (otak) yaitu alat yang bertugas menerjemahkan dan
mengelolah ramgsangan.

Dalam segala hal, serabut saraf sensorik dilengkapi dengan ujung akhir khusus guna
mengumpulkan rangsangan perasaan yang khusus itu, dimana setiap organ berhubungan.
Nampaknya kita seakan-akan mengecap dengan ujung saraf pada lidah, mendengar dengan
saraf dalam telinga, dan seterusnya, tetapi sesungguhnya otaklah yang menilai semua
perasaan itu.

Sesuai dengan kata ‘pancaindera’, kita mempunyai lima alat indera yang masing-masing
mempunyai fungsi tertentu dan masing-masing alat sangat peka (sensitif) terhadap jenis
rangsangan tertentu pula.

Salah satu pancaindra yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu telinga dimana
merupakan indera pendengaran (organ auditorik) disini kesan atas sura atau bunyi diterima
dan ditafsirkan. Saraf yang melayani indera ini adalah saraf cranial kedelapan atau nervus
auditorius. Telinga terdiri dari 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan rongga telinga
dalam.

Telinga luar terdiri atas daun telinga, lubang telinga, saluran telinga, kelenjar minyak dan
selaput gendang. Fungsi telinga luar adalah untuk menangkap rangsangan berupa suara atau
bunyi. Ada tiga kelompok otot yang terletak pada bagian depan, atas, dan belakang
telinga.walaupun demikian, manusia hanya sanggup menggerakkan telinganya sedikit
sekali,sehingga hampir-hampir tidak kelihatan.

Telinga tengah atau rongga timpani berupa bilik kecil yang mengandung udara yang
didalamnya terdapat tulang-tulang pendengaran.tulang-tulang pendengaran itu meliputi
tulang martil, tulang landasan, dan tulang sanggurdil. Dari gendang telinga getaran-getaran
suara diteruskan oleh tulang-tulang ini keselaput yang menutupi tingkap/jendela jorong.
Dengan demikian getaran suara sampai ketelinga bagian dalam.

Rongga telinga dalam merupakan bagian yang bertugas menerima rangsangan. Terletak
dalam ruangan dalam tulang karang yang disebut labirin keras. Didalamnya terdapat dua
macam alat yaitu alat pendengar dan alat keseimbangan. Alat pendengar berbentuk seperti
siput dan disebut rumah siput atau koklea. Getaran-getaran suara yangbsampai kealat ini
diterima alat penerima yaitu alat korti. Dari sini suara diteruskan melalui serabut-serabut
saraf kepusat

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari perforasi membran tipani ?

2. Bagaimana anatomi fisiologi dari membrana timpani ?

3. Bagaiman patofisiologi terjadinya penyakit/kelainan pada membrana timpani


berupa perforasi membrana timpani ?

4. Manifestasi klinik apa yang ditemukan pada klien yang menderita perforasi
membran timpani ?

5. Diagnosis penunjang apa yang diberikan pada klian yang menderita perforasi
membran timpani ?

6. Klasifikasi pada perforasi membran timpani ?

7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari perforasi membran timpani ?

8. Bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem


pendengaran berupa perforasi membran timpani ?
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian

Perforasi membrana timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. Sumber
trauma meliputi fraktur tulang tengkorak, cedera ledakan, atau hantaman keras pada telinga.
Perforasi lebih jarang, disebabkan oleh benda asing ( mis lidi kapas, peniti, kunci ) yang
didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksternus. Selain perforasi membrana
timpani, cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini,
jadi,usaha pasien untuk membersihkan kanalis auditorius esternus sebaiknya dilarang.
Selama infeksi, membrana timpani dapat mengalami ruptur bila tekanan dalam telinga tengah
lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus.

B. ETIOLOGI
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis
antara lain:

1. Gangguan fungsi tuba eustacius yang kronis akibat:


a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis dan berulang
b. Obstruksi anatomik tuba eustacius parsial atau total
2. Perforasi membran timpani yang menetap.
3. Terjadinya metaplasia skuamosa atau perubahan patologik menetap lainnya pada telinga
tengah.
4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga tengah atau rongga mastoid. Hal ini dapat
disebabkan oleh jaringan parut, penebalan mukosa, polip, jaringan granulai atau timpano-
sklerosis.
5. Terdapat daerah-daerah osteomielitis persisten di mastoid.
6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan mekanisme
pertahanan tubuh.

C. Anatomi Fisiologi

Telinga tengah tersusun atas membrana timpani ( gendang telinga ) disebelah lateral dan
kapsul otik disebelah medial, celah telinga tengah terletak diantaranya. Membrana timpani
terletak pada akhiran kanalis auditorius esternus dan menandai batas lateral telinga tengah.
Membran ini, yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis, normalnya berwarna kelabu
mutiara dan translusen.

Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli
( tulang telinga tengah ) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring. Juga
berhubungan dengan beberapa sel berisi udara dibagian mastoid tulang temporal. Telingah
tengah mengandung tiga tulang terkecil ( osikuli ) ditubuh : maleus, inkus dan stapes. Osikuli
dipertahankan pada tempatnya oleh persediaan, otot, dan likamin, membantu hantaran suara.
Ada dua jendela kecil( jendela oval) didinding media telinga tengah, yang memisahkan
telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval,
dimana suara dihantarkan ketelinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan keluar getaran
suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis, dan dataran kaki stapes
ditahan oleh anulusyang sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan olehanulus yamg agak
tipis, atau struktur berbentuk cincin. Baik anulus jendela bulat maupun jendela oval sangat
mudah mengalami robekkan. Bila ini terjadi, cairan dari telingah dalam dapat mengalami
kebocoran ketelinga tengah, kondisi ini dinamakan fistura ferilinfe.

Tuba eustachii, yang lebarnya sekitar satu mellimeter dan panjangnya sekitar tiga lima
melimeter, menghubungkan telinga tengah kenasofaring. Normalnya, eustacii selalu tertutup,
namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manufer falsalfa atau
dengan menguap atau menelan. Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi
abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan
atmosfer.

D. Patofisiologi

Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telinga atau melalui tuba eustaci
kemudian menimbulkan infeksi. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan
telinga media, pengaruh yang paling utama ialah mengenai keseimbangan.

Infeksi dari telinga dari telinga luar, otitis eksterna seringkali oleh bakteri (stavilokokus,
gram negatif organisme atau fungus). Sejenis dermatitis seborrhcic dapat disebabkan karena
pemakaian earkone yang lama. Infeksi terjadi pada selaput rongga telinga, membengkak dan
getah radang dapat mengisi saluran. Furunkel dapat juga tumbuh pada saluran. Rasa sakit
terjadi karena tekanan pada kulit yang sangat sensitif, menghebat sakitnya karena tidak ada
ruang untuk menggelembung dalam saluran yang bertulang. Kegiatan berenang terutama
pada air yang terkontaminasi sangat mungkin bisa menimbulkan infeksi telinga luar. Infeksi
telinga tengah, otitis media merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Infeksi bisa
serous, purulen, akut dan kronik, otitis media yang serous dapat terjadi karena terkumpulnya
serum yang steril didalam telinga tengah bila tuba eustacii tersumbat oleh infeksi yang
terdahulu atau alergi. Otitis media urolenta terjadi karena infeksi bakteri bisa akut atau
kronis. Yang kronis bisa menjalar mastoid, menimbulkan mastoiditis kronis menyebabkan
nekrose kepada gendang telinga, atau radang tulang telinga, timbul tuli.

Mastoiditis akut jarang terjadi karena pengobatan otitis media akut dengan antibiotik.
Persaman dengan mastoititis kronik dapat tumbuh cholestheatoma (tumor jinak) yang
merupakan kantong berisi kotoran yang infeksi. Tumor ini bisa timbul kembali bila diangkat.

Otitis media serurosa Otitis media purulenta


Tuba kustacitersumbat Bakteri masuk ketelinga tengah

Melalui tuba eustacii

Udara tidak bisa masuk Radang telinga tengah disertai

ketelinga tengah pembentukkan pus

Terjadi tekanan negatif Pus mengisi telinga tengah pada

telinga tengah

Eksudat yang serius mengisi telinga tengah

E. Manifestasi Klinik

Gejala otitis media dapat berfariasi beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara
atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa, dan mungkin terdapat
otalgia. Spontan membrana timpani atau setelah miringotomi (insisi membrana timpani).
Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga, demam, kehilangan pendengaran, dan
tinitus. Pada pemeriksaan otoskopis, karena auditorius asternus sering tampak normal, dan
tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan. Membrana timpani tampak merah dan sering
menggelembung.

Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh dalam telinga atau
perasaan bendungan, dan bahkan suara letup atau berdering, yang terjadi ketika tuba eustacii
berusaha membuka. Membrana timpani tampak kusam pada ostokopi, dan dapat terlehit
gelembung udarta dalam telinga tengah. Audiogram biasanya menunjukkan adanya
kehilangan pendengaran konduktif.
Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengasran dan terdapat
otorea interniten atau persisten yang berbau busuk biasanya tidak ada nyeri kecuali pada
kasus mastoiditis akut, dimana daerah post-aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah
dan edema. Kolesteatoma, sendiri, biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik
membran timpani memperlihatkan adanya porforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai
masa putih dibelakang membran timpani atau keluar kekanalis eksternus luang perforasi.
Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil
audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran
konduktif atau campuran.

F. Diagnosis Penunjang

Kebanyakkan perforasi membrana timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa


minggu setelah ruptur, meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan.
Selama proses penyembuhan telinga harus dilindungi dari air. Ada perforasi yang menetap
karena terjadi pertumbuhan jaringan parut pada tepi perforasi, sehingga menghambat
penyebaran sel epitel melintasi batas dan akhir penyembuhan. Perforasi yang tak dapat
sembuh dengan sendirinya memerlukan pembedahan. Bila terjadi cedera kepala atau patah
tulang temporal, pasien harus diobservasi bila ada cairan serebrospinal otorea atau rinorea-
cairan jernih cair dari telinga atau hidung.

Pasien harus dilindungi dari air ketika terjadi perforasi membrana timpani. Keputusan
melakukan timpanoplasti ( perbaikan membrana timpani ) biasanya didasarkan pada perlunya
mencegah potensial infeksi dari air yang memasuki telinga atau keinginan memperbaiki
pendengaran pasien. Terdapazt berbagai pembedahan semua pada dasarnya dengan
meletakkan pada lubang porforasi untuk memungkinkan penyembuhan. Pembedahan
biasanya berhasil menutup porforasi secara permanen dan memperbaiki pendengaran,
biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan.

Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung efektifitas terapi (mis dosis antibiotik oral
yang diresepkan dan durasi terapi), virulensi bakteri dan status fisik pasien. Dengan terapi
antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal, otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa
yang serius. Bila terjadi pengeluaran cairan, biasanya perlu diresepkan preparat otik
antibiotika. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut ( mis berlangsung tiga minggu sampai
tiga bulan ), dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. Jarang sekali terjadi
kehilangan pendengaran permanen. Komplikasi sekunder mengenai mastoit dan komplikasi
intrakranier serius, seperti meninitis atau abses otak, dapat terjadi meskipun jarang.

Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis
media akut). Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah
menimbulkan masalah bagi pasien maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung
untuk menjaga telinga tengah tetap terventilasi. Kortikosteroid, dosis rendah, kadang dapat
mengurangi edema tuba eustacii pada kasus barotrauma.

Penanganan meliputi pembersihan hati-hati telinga mengunakan mikroskop dan alat


pengisap. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotik sering membantu bila
ada cairan purulen. Antibiotik sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi
akut.

G. Klasifikasi

1. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. Penyebab utama otitis media
akut adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga yang normalnya steril. Paling
sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustacii seperti obtruksi yang diakibatkan oleh
infeksi saluran pernapasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (mis sinusitis, hipertropi
adenoit), atau reaksi alergi (mis rinitis alergika). Bakteri yang umum ditemuakn sebagai
organisme penyebab adalah streptokokus pneumoniae, hemophylus influensae, dan
maroksella catarhaelis. Cara masuk bakteri pada kebanyakkan pasien kemungkinan
melalui tuba eustacii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. Bakteri juga dapat
masuk telinga tengah bila ada porforasi membran timpani. Eksudat purulen biasanya ada
dalam telinga tengah dan mengakibatkan pendengaran konduktif.

2. Otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan, tanpa adanya
infeksi aktif, dalam telinga tengah. Secara teori, cairan ini sebagai akibat tekanan negatif
dalam telinga tengah disebabkan obstruksi tuba eustacii. Kondisi ini ditemukan terutama
pada anak-anak, perlu dicatat bahwa, bila terjadi pada orang dewasa, penyebab lain yang
mengdasari terjadinya disfungsi tuba eustancii harus dicari. Efusi telinga tengah sering
terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (mis penyelam) dan
pada pasien dengan disfungsi tuba eustacii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas
yang terjadi. Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga
tengah akibat perubahan tekanan barometrik, seperti pada penyelam atau saat pesawat
udara turun, dan cairan terperangkap didalam telinga tengah. Karnisoma yang
menyumbat tuba eustacii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis
media serosa unilateral menetap.

3. Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan
ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut. Sering
berhubungan dengan perforasi menetap membrana timpani. Infeksi kronik telinga tengah
tak hanya mengakibatkan kerusakan membrana timpani. Infeksi kronik telinga tengah tak
hanya mengakibatkankerusakkan membrana timpani tetapi juga dapat menghancurkan
osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid. Sebelum penemuan antibiotika, infeksi
mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. Sekarang, penggunaan antibiotika
yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koaleses akut
menjadi jarang. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang
tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang
tidak ditangani. Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat
mengakibatkan pembentukkan koleosteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit
kedalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ketelinga tengah. Kulit dari
membran timpani literal membentuk kantong luar, yang berisi kulit yang telah rusak dan
bahan sebaseus. Kantong dapat melekat pada struktur telinga tengah dan mastoid. Bila
tidak ditangani olesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis
nerfuspasealis, kehilangan pendengaran sensorik neural dan atau gangguan
keseimmbangan (akibat erosi telinga dalam), dan abses otak.

H. Penatalaksanaan

1. Medis

 Mencari vokal infeksi dihidung, dan dinasofaring dan sekaligus mengobatinya.

 Secara sistemik diberikan antibiotik, analgetik dan antiinflamasi. Untuk stadium tiga
sampai stadium lima diberi antibiotik dosis tinggi.

 Secara lokal: pada stadium hiperemi diberikan antibiotik tetes, kecuali pada bayi
harus segera dilakukan parasintesis bila terdapat bulging lakukan parasintesisuntuk
melancarkan reinase, yaitu dengan membuat insisi kecil pada kuadran bawah.
 Konsevatif

a. Pembersihan sekret diliang telinga (toilet lokal drainage) merupakan


hal yang penting untuk pengobatan otitis kronik.

Ada beberapa membersihkan sekret tersebut :

 Dengan menggunakan kapas lidi. Tindakan ini dianjurkan sesering


seringnya bila ada otore. Dapat dianjurkan pada penderita atau orang tua
penderita yang mempunyai intelegensia yang cukup.

 Displaseme metode dapat dengan menggunakan larutan hidrogen


peroksid (H2O2) 3%, karena adanya gas yang ditimbulkan.

 Bila mungkin sekret dihisap secara hati-hati dengan menggunakan


jarum kecil, plastik, misalnya jarum BWG no 16 dan 18 yang ujungnya diberi
karet kateter nelatom yang kecil atau karet pentil. Semua tindakan
pembersihan tersebut sebaiknya diberikan sambil dilihat dan hati-hati untuk
menghindarkan trauma yang tidak diinginkan.

b. Pengobatan lokal diberikan antibiotik tetes telinga. Pemberian antibiotik tetes


telinga hampir tidak gunanya apabila masih ada otore yang produktif. Karena itu
memberikan antibiotik lokal dianjurkan setelah dilakukan tekhnik lokal. Harus
diterangkan dulu cara pemakain H2O2 3 % kedalam telinga yang sakit kemudian
dibersihkan dengan kapas lidi baru setelah itu masukkan antibiotik tetes telinga
dengan cara kepala dimiringkan dan ragus titekan supaya obat tetes masuk
kedalam.

c. Antibiotik yang adekuat oral atau parenteral. Ini diberikan apabila ada eksaserbasi
akut yang didahului oleh infeksi hidung atau farings.

2. Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

Observasi adanya bukti-bukti OMA :

 Setelah ISPA
 Otalgia (sakit telinga)

 Otorea purulen dapat terjadi

 Demam

 Keluaran pululen dapat ada, dapat juga tidak

 Menangis

 Rewel, gelisah, peka rangsang

 Kecenderungan menggaruk, memegang, atau menarik telinga yang sakit


 Menggeleng-gelengkan kepala dari samping kesamping
 Kehilangan nafsu makan
 Letargi

Pemeriksaan otoskopik pada OMA menunjukkan membran utuh yang tampak merah
terang dan menonjol, tanpa garis tulang yang dapat dilihat atau refleks sinar; pada
OME dapat ditemukan lubang kecil, membran abu-abu dangkal, garis samar-samar,
dan tingkat cairan yang dapat dilihat atau meniskus dibelakang gendang telinga bila
terdapat udara diatas cairan.

Observasi adanya bukti-bukti otitis media kronis :

 Kehilangan pendengaran

 Kesulitan berkomunikasi

 Perasaan penuh, tinitus, vertigo mungkin ada

B.Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan tekanan yang disebabkan oleh


proses inflamasi
Sasaran pasien 1 : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri/ketidaknyamanan sampai
tingkat yang dapat diterima

Intervensi keperawatan/ rasional

a) Beri analgesik/antipiretik untuk mengurangi nyeri dan


demam.

b) Posisikan untuk kenyamanan sesuai kebutuhan individu

c) Pilih tindakan kenyamanan lokal berdasarkan tingkat


kerjasama dan ketentuan-ketentuan untuk mengurangi nyeri yang maksimum

d) Beri kompres panas eksternal (dengan bantalanpanas pada


suhu panas yang rendah, bungkus dengan handuk) diatas telinga dengan berbaring
pada sisi yang sakit untuk meningkatkan rasa nyaman.

e) Beri kantong es diatas telinga yang sakit untuk mengurangi


edema atau tekanan

f) Hindari mengunah dengan memberikan cairan atau


makanan lunak

g) Posisikan dengan telinga yang sakit berada pada posisi


dependen

Hasil yang diharapkan

Tidur dan istirahat dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenyamanan

2) Risiko tinggi infeksi/cedera berhubungan dengan ketidakadekuatan tindakan/adanya


organisme infeksius

Intervensi keperawatan/rasional

a) Tekankan pentingnya mengikuti instruksi, khususnya mengenai pemberian


antibiotik

b) Pertahankan keteraturan pemberian


c) Selesaikan program terapi

d) Jelaskan bahwa meskipun gejala biasanya kurang dalam 24-48 jam,


infeksi tidak akan hilang seluruhnya sampai semua antibiotik yang ditentukn
dihabiskan

e) Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut

f) Gunakan praktik pencegahan

g) Dudukkan dengan tegak untuk pemberian makan

h) Anjurkan untuk meniup hidung denganperlahan selama infeksi pernapasan


atas bukan meniup hidung dengan keras karena resiko pemindahan dari tuba
eustachius ketelingah tengah

i) Gunakan perminan meniup atau mengunyah permen karet untuk


meningkatkan aerasi telinga tengah selama dilakukan UPI

j) Hilangkan asap tembakau dan alergen yang diketahui atau yang potensial dari
lingkungan

Hasil yang diharapkan

 Pasien etap bebas dari infeksi

 Keluarga mematuhi petunjuk

Sasaran pasien 2 : pasien tidak mengalami komplikasi penyakit atau modalitas


tindakan

Intervensi keperawatan/rasional

Melihat sasaran sebelumnya

a) Bersihkan kanalis eksternal dari drainase dengan usapan kapas steril atau lidi
kapas yang dimasukkan kedalam larutan salin normal atau hidrogen peroksida.
b) Jika drainase-nya banyak, bersihkan eksudat dari telinga dan kulit sekitarnya serta
berikan barier pelembab seperti jeli petrolium untuk mencegah ekskoriasi.

c) Jika sumbu atau gulungan kasa kecil telah dimasukkan kedalam telinga setelah
pembedahan :

 Jaga agar kasa atau sumbu tersebut cukup longgar untuk memungkinkan
keluarnya drainase dari telinga karena infeksi dapat berpindah keprosesus
mastoideus

 Jaga agar sumbu tersebut tidak basa ketika mandi atau berkeramas.

d) Jelaskan penggunaan penyumbat telinga jika dianjurkan oleh dokter, jika sedang
memakai selang kontaminasi ketelinga tengah ketika berenang atau mandi.

e) Memberi tahu praktisi bila grommet ( biasanya kecil, putih, selang plastik
berbentuk kumparan ) jatuh keluar dari kanal telinga.

f) Jelaskan bahwa hal ini normal dan tidak memberikan intervensi yang segera.

g) Jelaskan pada keluarga tentang komplikasi OM yang potensial yang dapat terjadi
karena pengobatan yang tidak adekuat :

 Kehilangan pendengaran konduktif

 Perforasi, jaringan parut gendeng telnga

 Mastoiditis ( inflamasi sistem sel udara mastoideus )

 Kolesteatoma ( lesi seperti kista yang dapat masuk dan merusak struktur
auditorius sekitarnya )

 Infeksi intrakranial, seperti meningitis

h) Jelaskan tentang pencegahan ketidaknyamanan telinga selama perjalanan dengan


pesawat :

 Spray pengerut mukosa nasal atau dekongestan oral dapat diberikan bila anak
mengalami ISPA
 Ketika turun dari pesawat dan makan, berikan air, atau permen karet.

Hasil yang diharapkan

Pasien sembuh dari infeksi dan atau pembedahan tanpa komplikasi.

Pasien tetap nyaman selama perjalanan dengan pesawat

3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan


penyakit dan hospitalisasi pasien, kehilangan pendengaran sementara.

Sasaran pasien ( keluarga ) 1 : pasien ( keluarga ) mendapatkan dukungan yang


adekuat

Intervensi keperawatan / rasional

Bila tepat, siapkan keluarga untuk prosedur pembedahan (miringotomi).

Hasil yang diharapkan

Keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang prosedur.

Sasaran pasien ( keluarga ) 2 : keluarga menjukkan perilaku koping yang positif


terhadap pasien

Intervensi keperawatan / rasional

a) Jelaskan bahwa kehilangan pendengaran sementara adalah hal yang


umum pada OM karena keluarga mungkin tidak menyadari hal ini.

b) Beri tahu keluarga tentang kemungkinan perubahan perilaku pada saat


kehilangan pendengaran, termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap bunyi di
lingkungan.

c) Beri tahu keluarga bahwa pasien tidak mengabaikan mereka tau salah
berperilaku, pasien mungkin tidak menyadari ketika sedang diajak bicara.

d) Bicara lebih keras, pada jarak lebih dekat, dan menghadap ke pasien.

Gunakan kesabaran ketika berkomunikasi dengan pasien.


e) Dorong evaluasi lebih lanjut bila kehilangan pendengaran bersifat
menetap melewati tahap akut dari penyakit tersebut.

Hasil yang diharapkan

Keluarga menunjukkan perilaku koping yang posiif terhadap pasien.

Keluarga mencari perawatan kesehatan yang tepat untuk pasien.

C. Intervensi Keperawatan
a. Meningkatkan kenyamanan
1. Berikan tindakan untuk mengurangi nyeri
 Beri analgetik
 Lakukan kompres dingin pada area
 Atur posisi nyaman
2. Beri sedatif secara hati-hati agar dapat istirahat (kolaborasi)
3. Pencegahan penyebaran infeksi
 Mengganti balutan pada daerah luka
 Observasi tanda-tanda vital
 Beri antibiotik yang disarankan tim medis
 Awasi terjadinya infeksi
4. Monitor perubahan sensori
 Catat status pendengaran
 Kaji pasien yang mengalami vertigo setelah operasi
 Awasi keadaan yang dapat menyebabkan injury nervus facial

D. Evaluasi
a. Tak ada infeksi lokal atau CNS
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang
c. Dapat mendengar dengan jelas tanpa atau menggunakan alat bantu pendengaran
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Perforasi membran timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. Sumber trauma
meliputi fraktur tulang tengkorak, cedera ledakan, atau hantaman keras pada telinga.

2. Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) disebelah lateral dan
kapsul otik disebelah medial, celah telinga tengah terletak diantara keduanya. Membran
timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius eksternus dan menandai batas lateral
tengah. Membran ini, yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis, normalnya
berwarna kelabu mutiara dan translusen.

3. Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telnga atau melalui tuba eustaci
kemudian menimbulkan infeksi. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan
telinga media, pengaruh yang paling utama yaitu mengenai keseimbangan.

4. Gejala otitis media dapat berfariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan
sementara atau sangat berat. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran rasa
penuh dalam telinga atau perasaan bendungan dan bahkan suara letup atau berderik, yang
terjadi ketika tuba eustachii berusaha membuka. Gejala dapat minimal, dengan berbagai
derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorea intermiten atau persisten yang berbau
busuk.

5. Kebanyakan perforasi membran timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu
setelah ruptur, meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan. Hasil
penatalaksanaan otitis media tergantung pada efektivitas terapi (mis dosis antibiotika oral
yang diresepkan dan durasi terapi), virulensi bakteri, dan status fisik pasien. Otitis media
serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut).
Penanganan lokal meliputi pembersihan hati-hati telinga menggunakan mikroskop dan
alat pengisap.

6. Perforasi membran timpani meliputi, otitis media akut yaitu infeksi akut telinga tengah,
otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan, tanpa adanya bukti
infeksi aktif, dalam telinga tengah, dan otitis media kronik yaitu kondisi yang
berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena
episode berulang otitis media akut.

7. Penatalaksanaan perforasi membran timpani yaitu mencari vokal infekasi dihidung dan
dinosofaring dan sekaligus mengobatinya. Secara sistematik diberikan antibiotik,
analgetik dan antiinflamasi. Secara lokal, pada stadium hiperemi diberikan antibiotik
tetes.

8. Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien perforasi membran timpani dilakukan
pengkajian dan diagnosa keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Sudarth, 2002, Keperawatan Medical Bedah, Volume 3, Penerbit buku Kedokteran,
EGC,Jakarta

Doengoes M E, dkk,2002, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit buku kedokteran,


EGC, Jakarta

Irianto Kus, 2004, Struktur dan fungsi tubuh manusia untuk paramedik, Yrama widya,
Bandung.

Junadi P, dkk, 1997, Kapita selekta kedokteran, Penerbit Media Aesculapius,


FKUI,Jakarta.

Price A Sylvia, dkk, 2002, Pathofisiologi, Konsep klinis proses proses penyakit, Penerbit
buku kedoktertan, EGC, Jakarta

Wong L. Donna, 2004, Keperawatan pediatrik, Edisi 4, Penerbit buku kedokteran, EGC,
Jakarta