Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Genetika dan Evolusi


Yang dibina oleh Ibu Erti Hamimi, S.Pd, M.Si
Dan Ibu Dwi Listyorini, Dra., M.S.i, D.Sc

Oleh :
Anis Azizah (180351619056)
Linda Aprilianingtyas (180351619019)
Rosamita Shery Monika (180351619010)
Sih Wilujeng Dewi Masitoh (180351619078)
Ulwiyatu Nisya (180351619040)
Wahyu Lely Anggraini (180351619005)
Offering C / Kelompok 5

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
Maret 2020
PEMBELAHAN SEL DAN POLIPLOIDI PADA AKAR BAWANG (Allium cepa L.)

A. TANGGAL PERCOBAAN : Rabu, 4 Maret 2020


B. TUJUAN
1. Mendeskripsikan fase- fase pembelahan mitosis pada akar bawang merah (Allium
cepa L).
2. Mengetahui pengaruh perbedaan waktu pemotongan akar abawang merah (Allium
cepa L) terhadap fase – fase pembelahan mitosis yang teramati.
3. Mendiskripsikan adanya perbedaan jumlah kromosom pada akar bawang merah
(Allium cepa L) yang di beri perlakuan kolkhisin.
4. Menganalisis proses terjadinya perubahan jumlah kromosom pada akar bawang
merah (Allium cepa L) yang di beri perlakuan kolkhisin.

C. DASAR TEORI
Tumbuhan mengalami pembelahan sel secara tidak langsung yang di sebut juga
dengan mitosis. Mitosis adalah pembelahan duplikasi dimana sel memproduksi dirinya
sendiri dengan jumlah kromosom sel induk. Mitosis mempertahankan pasangan kromosom
yang sama melalui pembelahan inti dari sel somatic secara berturut-turut. Peristiwa ini
terjadi bersama-sama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel dan
memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan hampir semua organisme.
Mitosis memiliki beberapa tahapan meliputi profase, metafase, anafase dan telofase,
(Campbell,2000).
Mitosis terjadi di dalam sel somtaik yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang
hidup terutama sel-sel yang tumbuh (ujung akar dan ujung batang). Proses pembelahan sel
secra mitosis menghasilkan dua sel anak yang identik dan bertujuan untuk
mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan inti secara berturut-
turut. Mitosis pada tumbuhan terjadi selama mualai dari 30 menit sampai beberapa jam dan
merupakan bagian dari suatu yang berputar dan terus menerus, (Campbell,2000).
Menurut Suryo (2004), mitosis berlangsung dalam beberapa fase ialah :
1. Interfase. Sel siap untuk mulai membelah, tetapi belum memperlihatkan kegiatan
membelah. Inti sel Nampak keruh, lambat laun nampak benang-benang kromatin
yang halus.
2. Profase. Benang-benang kromatin makin memendek, sehingga menjadi tebal.
Terbentuklah kromosom-kromosom. Tiap kromosom lalu membelah memanjang
dan anakan kromosom ini dinamakan kromatid. Dinding inti mulai menghilang.
Sentriol (bentuk seperti bintang dalam sitoplasma) juga membelah.
3. Metafase. Kromosom-kromosom menempatkan diri di bidang tengah dari sel.
4. Anafase. Sentromer membelah dan kedua buah kromatid memisahkan diri dan
bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan. Tiap kromatid hasil pembelahan
itu memiliki sifat keturunan yang sama. Mulai saat ini kromatid-kromatid itu
berlaku sebagai kromosom baru.
5. Telofase. Ditiap kutub sel terbentuk sel kromosom yang identik. Serabut gelendong
inti lenyap dan dinding inti terbentuk lagi. Kemudian plasma sel terbagi menjadi
dua bagian, proses ini disebut sitokinesis.
Pada makhluk hidup tingkat tinggi,sel somatik (sel tubuh), kecuali sel kelamin
mengandung satu sel kromosom yang berasal dari induk betina bentuknya serupa dengan
yang berasal dari induk betina. Maka sepasang kromosom tersebut di sebut dengan
kromosom homolog. Oleh karena itu jumlah kromosom dalam sel tubuh di namakan
diploid (2n). sel kelamin (gamet) hanya mengandung separuh dari jumlah kromosom yang
terdapat dalam sel somatic, karena itu jumlah kromosom dalam gamet di namakan haploid
(n). satu sel kromosom haploid dari satu spesies dinamakan genom, (Permana, 2004).
Setiap makhluk hidup terjadi mulai dari sebuah sel tunggal yang di sebut zigot,
akan tetapi perbesaran dan perbanyakan dari sel tunggal itu sangat di perlukan agar
makhluk itu mencapai ukuran yang semestinya. Pembelahan sel lengkap di bedakan atas
dua proses yaitu pembelahan inti sel (karyokinesis) dan pembelahan sitoplasma
(sitokinesis). Makhluk yang membiak secara seksual mengenal dua macam pembelahan
biasa (mitosis) dan pembelahan reduksi (meiosis), (Suryo, 2001).
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu anggota dari familia
Liliaceae. Tanaman ini merupakan tanaman semusim dan memiliki umbi yang berlapis.
Tanaman mempunyai akar serabut, dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi
terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan
fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari
lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan
umbi sejati seperti kentang atau talas.
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan sayuran umbi yang multiguna,
dapat digunakan sebagai bumbu masakan, sayuran, penyedap masakan, di samping sebagai
obat tradisional karena efek antiseptic senyawa anilin dan alisin yang dikandungnya
(Rukmana, 1994). Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak
bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat
tradisional (Deptan, 2005). Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari sikloaliin,
metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin, (Muhlisah dan Hening S, 2009).
Bagian utama sebuah sel terdiri atas nukleus dan sitoplasma. Di dalam nukleus
terdapat benang-benang halus yaitu kromatin yang kemudian jika sel siap membelah,
kromatin akan membentuk kromosom. Kromosom merupakan alat transportasi materi
genetik (gen atau DNA) yang sebagian besar bersegregasi menurut hukum mendel,
kromosom adalah struktur makromolekul yang berisi berisi DNA di mana informasi
genetik dalam sel disimpan, (Sastrosumarjo, 2006).
Akar bawang merah digunakan sebagai preparat praktikum karena akar bawang
merah memiliki kromosom yang besar, jumlah kromosom yang tidak terlalu banyak,
mudah didapat, dan mudah dilakukan untuk mempelajari analisis mitosis (Stack, 1979).
Kolkisin (C22H25O6N) merupakan alkaloid yang mempengaruhi penyusunan
mikrotubula, sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan penggandaan jumlah
kromosom tanaman (terbentuk tanaman poliploid). Larutan kolkisin pada konsentrasi kritis
tertentu akan menghalangi penyusunan mikrotubula dari benang-benang spindle yang
mengakibatkan ketidakteraturan pada mitosis. Apabila benang-benang spindle tidak
terbentuk pada pembelahan mitosis sel diploid, kromosom yang telah mengganda selama
interfase gagal memisah pada anaphase. Sebuah membrane inti kemudian terbentuk
mengelilingi dua sel kromosom diploid yang seharusnya menghasilkan dua sel anak,
menghasilkan sel dengan empat selkromosom (tetraploid). Pembelahan sel secara mitosis
yang mengalami modifikasi ini disebut C-mitosis, dan hasilnya adalah sel-sel yang
mengandung genom dua kali lipat dari jumlah genom semula. Jika pengaruh kolkisin pada
konsentrasi krisis ini dibiar-kan berlanjut, maka kromosom akan mengganda seperti deret
ukur 4n, 8n, 16n,32n dst. Selain itu pemberian kolkisin menyebabkan ukuran sel
tanaman kacang hijau lebih besar namun menjadi lebih pendek. (Haryanti, dkk. 2010).
Mansyurdin, et al. (2002) memaparkan bahwa semakin tingi konsentrasi kolkisin makin
tinggi persentase sel yang tetraploid,tetapi persentase kematian kecambah makin tinggi
pula.
Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu alkaloid berwarna putih yang diperoleh
dari umbi tanaman Colchichum autumnale L. (Familia Liliaceae). Senyawa ini dapat
menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel sehingga
menyebabkan terbentuknya individu poliploidi (Eigsti dan Dustin, 1957; Suryo, 1995).
Apabila kolkisin digunakan pada konsentrasi yang tepat maka jumlah kromosom
akan meningkat, sehingga tanaman bersifat poliploid. Tanaman yang bersifat poliploid
umumnya memiliki ukuran morfologi lebih besar dibandingkan tanaman diploid. Dengan
demikian kualitas tanaman yang diberi perlakuan diharapkan lebih baik dibandingkan
tanaman diploid. Umumnya kolkisin akan bekerja efektif pada konsentrasi 0,01-1% untuk
jangka waktu 6-72 jam, namun setiap jenis tanaman memiliki respon yang berbedabeda
(Eigsti dan Dustin, 1957; Suryo, 1995).
D. ALAT DAN BAHAN

ALAT :

 Mikroskop cahaya
 Kaca benda
 Kaca penutup
 Pipet tetes
 Pinset
 Silet berkarat
 Botol flakon

BAHAN :

 Alkohol 70%
 HCL 1 N
 Kertas hisap
 Acetocarmin
 Kolkhisin 0,05% dan 0,03%
 FAA
 Akuades
 Gelas ukur
E. LANGKAH KERJA
A. Persiapan Media dan Penumbuhan Akar Bawang

Mempersiapkan media dan penumbuhan akar bawang

Memotong bagian tengah dua buah botol air mineral 1 L secara vertikal

Merebahkan botol sehingga bagian berlubang menghadap ke atas

Mengisi air pada rongga botol sekitar 4/5 bagian

Memilih 3 buah suing bawang merah

Menusuk bagian atas bawang merah lalu meletakkan ke dalam media


tanam (memastikan 1/3 bagian bawang merah terendam air)

Merendam suing bawang merah selama 3 hari

Hasil
B. Pembelahan Sel pada Akar Bawang

Memotong akar bawang merah yang tumbuh dengan menggunakan silet


berkarat dihari ke-empat pada pukul 21.00 WIB, 24.00 WIB, 03.00 WIB

Merendam potongan akar dalam botol flakon yang berisi larutan FAA

Pelaksanaan Masesari
a) Mengambil potongan akar bawang merah yang telah direndam larutan
FAA menggunakan pinset dan meletakkan diatas kaca benda.
b) Menetesi akar bawang dengan alkohol 70% sampai terendam selama 2
menit lalu alcohol dihisap dengan kertas hisap.
c) Memasesari cuplikan potongan akar bawang menggunakan larutan HCL
1 N selama 7 menit, lalu menghisap dengan kertas hisap, akan tampak
bagian berwarna putih pada ujung akar.

Pewarna Cuplikan
a) Memotong bagian warna putih pada ujung akar 2 mm menggunakan silet
berkarat lalu meletakkan dikaca benda yang lain.
b) Memberi cuplikan acetocarmin lalu mencacah sampai halus
menggunakan silet berkarat.

Pembuatan Preparat
Menutupi cuplikan dengan kaca penutup dan sedikit menekan dengan
kertas hisap

Pengamatan Fase-Fase Mitosis


a) Mengamati preparat dibawah mikrosop cahaya pada perbesaran 40x10
b) Mengidentifikasi fase-fase mitosis pada 3 bidang pandang yang berbeda
c) Menghitung jumlah sel yang mengalami fase pembelahan mitosis yang
teramati

Hasil
C. Poliploidi Pada Akar Bawang

Memilih umbi bawang merah yang telah tua kemudian menumbuhkan


dalam media tanam yang berisi air hingga akarnya tumbuh.

Pada hari ke-empat, mengambil sebagian umbi bawang merah kemudian


merendam dalam kolkhisin 0,05% selama 24 jam pada suhu kamar. Tetap
menumbuhkan sebagian umbi yang lain dalam medium yang berisi air.

Pada hari ke-lima, mencuci bersih masing-masing perlakuan pada bawang


merah (kontrol dan perendaman dalam kolkhisin 0,05%). Memotong akar
bawang merah yang telah tumbuh menggunakan silet berkarat pada bagian
ujungnya, kira-kira 2-3 mm. Memasukkan potongan-potongan tersebut ke
dalam botol flakon yang berisi larutan kholkisin 0,03% selama 24 jam
pada suhu kamar.

Pada hari ke-enam, menghisap larutan kholkisin 0,03% pada masing-


masing botol flakon (kontrol dan perendaman dalam kolkhisin 0,05%)
menggunakan pipet penghisap dan dibuang ke dalam gelas ukur
selanjutnya mencucinya dengan menggunakan aquades sebanyak 3 kali.
Berikutnya, merendam potongan akar dalam botol flakon yang telah berisi
larutan FAA.

Pelaksanaan Maserasi
a) Mengambil potongan akar bawang yang telah direndam dalam larutan
FAA menggunakan pinset dan meletakkannya di atas kaca benda.
b) Menetesi alcohol 70% sampai terendam selama 2 menit, lalu menghisap
alcohol menggunakan kertas hisap.
c) Memasesari cuplikan potongan akar bawang menggunakan larutan HCL
1 N selama 7 menit, lalu menghisap dengan kertas hisap, akan tampak
bagian berwarna putih pada ujung akar.
Pewarna Cuplikan
a) Memotong bagian warna putih pada ujung akar 2 mm menggunakan silet
berkarat lalu meletakkan dikaca benda yang lain.
b) Memberi cuplikan acetocarmin lalu mencacah sampai halus
menggunakan silet berkarat.

Pembuatan Preparat
Menutupi cuplikan dengan kaca penutup dan sedikit menekan dengan
kertas hisap.

Mengamati Preparat di bawah Mikroskop


a) Mengamati preparat di bawah mikroskop cahaya pada perbesaran
40x10.
b) Mengidentifikasi dan membandingkan perbedaan akar bawang merah,
baik fenotip maupun kromosomnya, yang direndam dalam kolkhisin.

Hasil
F. DATA PENGAMATAN
Perlakuan Hasil Pengamatan
Pembelahan sel pada akar bawang pukul
21.00 WIB

Pembelahan sel pada akar bawang pukul


24.00 WIB

Pembelahan sel pada akar bawang pukul


03.00 WIB

Poliploidi pada akar bawang, perlakuan


merendam dalam kolkhisin 0,05 %
selama 24 jam kemudian merendam pada
kolkhisin 0,03%

Poliploidi pada akar bawang, perlakuan


merendam dalam air selama 24 jam
kemudian merendam pada kolkhisin
0,05%
G. ANALISIS DATA
Pada percobaan pembelahan sel pada akar bawang dapat dianalis bahwa setelah
didapatkan akar bawang merah yang telah direndam selama tiga hari. Pada hari ke empat,
dipotong akar tersebut pada jam 21.00, 24,00, dan 03.00 WIB lalu dimasukkan ke botol
flakon yang berisi larutan FAA.
Untuk melalukan pengamatan dilakukan dengan cara mengambil akar yang
direndam dengan FAA kemudian diletakkan diatas kaca benda dengan ditetesi alkohol 70%
selama 2 menit, setelah alkohol dihisap menggunakan kertas saring. Langkah selanjutnya
yaitu ditetesi larutan HCl 1N selama 7 menit dan dihisap dengan kertas saring. Ketika
tampak warna putih dibagian ujung akar segera potong akar sekitas 2 mm dan diletakkan
di kaca benda lain sambil ditetesi acetocarmin lalu dicacah sampai halus menggunakans
silet berkarat. Selanjutnya yaitu pembuatan preparat dengan menutupi hasil cacahan
menggunakan kaca penutup dan sedikit ditekan dengan kertas hisap. Ketika preparat sudah
jadi, langsung dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop cahaya pada perbesaran
40×10. Bagian yang dicari yaitu pada fase-fase pembelahan mitosis pada akar bawang
merah, seperti interfase, profase, metafase, anafase, dan telofase. Serta menghitung jumlah
sel yang mengalami fase pembelahan mitosis yang teramati.
Pada percobaan kali ini sama sekali tidak ditemukan fase-fase pembelahan mitosis.
Fase interfase, profase, metafase, anafase, dan telofase tidak terlihat pada mikroskop.
Sehingga dapat dikatakan bahwa percobaan ini tidak berhasil atau gagal. Jadi jumlah sel
pada setiap fase pembelahan mitosis tidak dapat ditentukan.
Percobaan selanjutnya, poliploidi pada akar bawang dengan tujuan
mendeskripsikan adanya perbedaan jumlah kromosom pada akar bawang merah yang
diberi perlakuan kolkhisin dan menganalisis proses terjadinya perubahan jumlah
kromosom pada akar bawang merah yang diberi perlakuan kolkhisin. Setelah didapatkan
akar bawang merah yang telah tumbuh kurang lebih selama 3 hari, pada hari ke empat,
dipotong akar tersebut kemudian dilakukan dua perlakuan. Yang satu dimasukkan ke
dalam botol flakon yang berisi kolkhisin 0,05% selama 24 jam, yang satunya lagi direndam
dalam air selama 24 jam. Keesokan harinya, akar bawang merah yang dimasukkan ke
dalam botol flakon yang berisi kolkhisin 0,05% dipindahkan ke dalam botol flakon yang
berisi kolkhisin 0,03% sedangkan akar bawang yang direndam dalam air juga dipindahkan
ke dalam botol flakon yang berisi kolkhisin 0,05%.
Ketika melakukan pengamatan dilakukan dengan cara mengambil akar yang telah
direndam kolkhisin 0,03% maupun yang telah direndam kolkhisin 0,05%, masing-masing
dimasukkan ke dalam botol flakon yang berisi FAA. Selanjutnya diletakkan diatas kaca
benda dengan ditetesi alkohol 70% dan di biarkan selama 2 menit, kemudian ditetesi
larutan HCl 1N dan dibiarkan selama 7 menit. Ketika tampak warna putih dibagian ujung
akar, akar dipotong sekitar 2 mm dan diletakkan di kaca benda lain sambil ditetesi
acetocarmin kemudian dicacah sampai halus menggunakan silet berkarat. Selanjutnya
pembuatan preparat dengan menutupi hasil cacahan menggunakan kaca penutup dan
sedikit ditekan dengan kertas hisap. Ketika preparat sudah siap, dilakukan pengamatan
menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 40x10. Bagian yang dicari yaitu
jumlah kromosom pada akar bawang merah yang diberi perlakuan berbeda.
Pada percobaan ini tidak ditemukan bentuk kromosom pada perlakuan yang
direndam kolkhisin 0,05% maupun yang direndam air. Sehingga dapat dikatakan
percobaan poliploidi akar bawang merah dengan perlakuan berbeda ini gagal atau tidak
berhasil. Jadi perbedaan jumlah kromosom ataupun perubahan jumlah kromosom tidak
dapat ditentukan.
H. PEMBAHASAN
Praktikum yang berjudul pembelahan sel dan poliploidi pada akar bawang ini
bertujuan untuk mendeskripsikan fase-fase pembelahan mitosis pada akar bawang merah
(Allium cepa L), mengetahui pengaruh perbedaan waktu pemotongan akar bawang merah
(Allium cepa L) terhadap fase – fase pembelahan mitosis yang teramati, mendiskripsikan
adanya perbedaan jumlah kromosom pada akar bawang merah (Allium cepa L) yang di beri
perlakuan kolkhisin, serta menganalisis proses terjadinya perubahan jumlah kromosom
pada akar bawang merah (Allium cepa L) yang di beri perlakuan kolkhisin.
Pada praktikum ini dilakukan pemotongan pada bagian akar tanaman bawang
merah dengan menggunakan cutter berkarat, akar tanaman yang sudah dipotong ini
digunakan untuk mengamati proses mitosis pada tanaman bawang, hal ini sesuai dengan
teori yang dinyatakan menurut Campbell (2000) bahwa mitosis terjadi di dalam sel somatik
yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang hidup terutama sel-sel yang tumbuh (ujung
akar dan ujung batang).
Pada praktikum ini tidak ditemukan tahapan-tahapan mitosis, sehingga tidak sesuai
dengan teori menurut Suryo (2004) bahwa proses terjadinya mitosis terbagi ke dalam 5
fase, yaitu interfase, profase, metafase, anafase, telofase. Hal ini dikarenakan adanya
beberapa faktor kesalahan diantaranya pada saat pemotongan akar bawang mengalami
keterlambatan dan cutter yang digunakan kurang berkarat sehingga fase-fase mitosis yang
seharusnya tampak pada mikroskop tidak dapat diamati, serta penggunaan mikroskop yang
sebelumnya tidak dikalibrasi terlebih dahulu.
Pada percobaan poliploidi yang diuji yaitu bagian akar bawang dikarenakan akar
bawang merah memiliki kromosom yang besar, jumlah kromosom yang tidak terlalu
banyak, mudah didapat, dan mudah dilakukan untuk mempelajari analisis mitosis akar
bawang. Percobaan ini mempunyai tujuan untuk mendiskripsikan adanya perbedaan
jumlah kromosom dan fenotip pada akar bawang merah (Allium cepa L) yang di beri
perlakuan kolkhisin dan menganalisis proses terjadinya perubahan jumlah kromosom pada
akar bawang merah (Allium cepa L) yang di beri perlakuan kolkhisin.
Percobaan poliploidi akar bawang ini terdapat dua perlakuan yang pertama pada
hari ke 4 akar bawang dipotong 2 cm menggunkan silet berkarat, lalu potongan akar
bawang didiamkan di air selama 24 jam lalu hari ke 5 akar bawang diambil dan dimasukkan
dalam kolkisin 0,05%.Perlakuan kedua pada hari ke 5 ujung akar bawang dipotong 2 mm
menggunkan silet berkarat, lalu potongan akar bawang didiamkan di dalam botol flakon
yang berisi larutan kolkisin 0,05% selama 24 jam, lalu hari ke 5 akar bawang diambil dan
dimasukkan dalam kolkisin 0,03%. Larutan kolkisin pada percobaan ini berguna untuk
mempengaruhi penyusunan mikrotubula, sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan
penggandaan jumlah kromosom.
Setelah itu potongan akar pada dua perlakuan dimasukkan ke dalam masing-masing
tabung flakon yang berisi larutan FAA. Larutan FAA merupakan larutan fiksatif yang bisa
menahan sel untuk tidak melakukan pembelahan lagi. Akar dikeluarkan dari tabung
flakon dan dibersihkan dari FAA dengan mencuci menggunakan air kran, kemudian setiap
potongan akar diletakkan di gelas arloji ditetesi dengan alkohol 70% selama 2 menit
dengan tujuan untuk membersihkan potongan akar dari mikroba serta mengawetkan
potongan tersebut.
Kemudian alkohol dihilangkan dengan cara diserap menggunakan kertas tisu.
Selanjutnya setiap potongan akar tersebut ditetesi beberapa tetes larutan HCL 1 N dan
dibiarkan selama 7 menit. Golongan asam kuat seperti asam klorida (HCL) digunakan
untuk melunakkan jaringan yang akan diamati. Perendaman ini bertujuan untuk
memperjelas dan untuk membedakan antara bagian tudung dengan bagian akar
lainnya.Bagian tudung akar akan tampak lebih cerah daripada bagian akar lainnya. Selain
itu, perendaman tersebut bertujuan untuk melunakkan dinding sel akar bawang merah.
Setelah terlihat jelas batas antara tudung akar dengan bagian akar lainnya, pada bagian
tersebut dipotong dengan menggunakan silet. Tudung akar tersebut kemudian dipindahkan
ke kaca benda dan ditetesi acetokarmin, supaya sel-sel terlihat lebih jelas ketika diamati.
Setelah itu proses pencacahan setiap tudung akar menggunakan silet berkarat
dilakukan sampai halus dan sampai ada perubahan warna pada pewarna. Alasan mengapa
menggunakan silet berkarat adalah kandungan besi (Fe) teroksidasi dapat membantu
proses pengikatan warna yang dilakukan oleh kromosom. Korosi besi merupakan
elektrokimia. Ion besi (II) yang terbentuk selanjutnya teroksidasi menjadi ion besi (III)
yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi Fe2O3, yaitu karat besi. Setelah
bercampur dengan acetocarmin akan terjadi penyerapan warna. Ditutup hasil pencacahan
tersebut dengan kaca penutup. Pemberian tekanan pada preparat bertujuan supaya
preparat dalam kondisi rata dan lebih tipis. Preparat diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 40 x 10 secara bergantian.
Dalam percobaan ini praktikan tidak mendapatkan adanya kromosom sehingga
tidak sesuai dengan teori Haryanti bahwa setelah preparat diberikan larutan kolkisin maka
kromosom akan mengganda seperti deret ukur 4n, 8n, 16n, 32n dst, dikarenakan larutan
kolkisin pada konsentrasi kritis tertentu akan menghalangi penyusunan mikrotubula dari
benang-benang spindle yang mengakibatkan ketidakteraturan pada mitosis. Apabila
benang-benang spindle tidak terbentuk pada pembelahan mitosis sel diploid, kromosom
yang telah mengganda selama interfase gagal memisah pada anaphase. Sebuah membrane
inti kemudian terbentuk mengelilingi dua sel kromosom diploid yang seharusnya
menghasilkan dua sel anak, menghasilkan sel dengan empat sel kromosom (tetraploid).
Pembelahan sel secara mitosis yang mengalami modifikasi ini disebut C-mitosis, dan
hasilnya adalah sel-sel yang mengandung genom dua kali lipat dari jumlah genom semula.
Selain itu menurut Mansyurdin, et al. (2002) memaparkan bahwa semakin tingi
konsentrasi kolkisin makin tinggi persentase sel yang tetraploid, tetapi persentase kematian
kecambah makin tinggi pula. Menurut Haryanti (2010) terdapat perubahan fenotip pada
ujung akar bawang setelah diberi larutan kolkisin yaitu menyebabkan ukuran sel lebih
besar dikarenakan adanya peningkatan jumlah kromosom yang dapat menekan dinding
sel ke arah luar dan meningkatkan luas permukaan sel.
I. KESIMPULAN
1. Pembelahan mitosis pada bawang merah terdiri atas 5 tahap, yaitu interfase, profase,
metaphase, anaphase, dan telofase.
2. Pemotongan dilakukan pada jam-jam tertentu karena fase-fase mitosis terdapat pada
jam-jam tertentu, hal ini dikarenakan pada ujung akar bawang merah banyak sel yang
mengalami aktifitas pembelahan.
3. Kolkhisin merupakan alkaloid yang mempengaruhi penyusunan mikrotubola,
sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan penggandaan jumlah kromosom
tanaman (berbentuk tanaman poliploid).
4. Larutan kolkhisin pada konsentrasi kritis tertentu akan menghalangi penyusunan
mikrotubola dari benang-benang spindle yang mengakibatkan ketidakteraturan pada
mitosis. Kolkhisin ini dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindle pada
pembelahan sel sehingga menyebabkan terbentuknya individu poliploidi. Semakin
tinggi konsentrasi kolkhisin semakin tinggi pula presentase sel yang tetraploid, tetapi
presentase kematian kecambah makin tinggi pula.

J. SARAN
Alangkah lebih baiknya ketika praktikum dilakukan, praktikan didampingi oleh dosen
pengampu mata kuliah tersebut atau asisten dosen yang telah diberi arahan agar
mengurangi faktor kesalahan hingga diperoleh data yang dapat dianalisis.
K. DAFTAR PUSTAKA

BPPP Deptan. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agrobisnis Bawang Merah.
Jakarta. 25 hal.
Campbell, dkk. 2000. Biologi. Jakarta : Erlangga
Daryono B. S.1998. Pengaruh kolkisin terhadap pembentukan sel-sel melon tetraploid.
Buletin Agro Industri. (5) : 2 – 11

Eigsti, O.J. dan Dustin, P. 1957. Colchicine in Agriculture, Medicine, Biology and
Chemistry. AmesIowa: The Iowa State College Press.

Haryanti, Sri Dkk. Pengaruh Kolkisin Terhadap Pertumbuhan, Ukuran Selmetafase Dan
Kandungan Protein Biji Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata (L) Wilczek).
Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 10, No. 2, 2009: 112 – 12.

Mansyurdin, Hamru, dan D. Murni. 2002. Induksi tetraploid pada tanaman cabai merah

keriting dan cabai rawit dengan kolkhisin. Stigma. 12 (3) : 297-300

Muhlisah, Fauziyah dan Hening, Sapta. 2009. Sayur Dan Bumbu Dapat Berkhasiat Obat.

Jakarta : Penebar Swadaya

Permana, Agus dkk.2004. Biologi. Jakarta: PT Lima Enam Tujuh

Rukmana, R. 1994. Bawang Merah, Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen.

Yogyakarta : Kanisius

Sastrosumarjo, S., Yudiwanti, S. I., Aisyah, S., Sujiprihati, M., Syukur, R. Yunianti.

2006. Panduan Laboratorium Sitogenetika Tanaman. IPB Press, Bogor.

Stack, S. M. and D. E. Comings. 1979. The chromosomes and DNA of Allium cepa.

Chromosoma. 70: 161-181.

Suryo. 1995. Sitogenetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Suryo,2001. Genetika. Yogyakarta : UGM Press

Suryo,2004. Genetika. Yogyakarta : UGM Press


L. LAMPIRAN