Anda di halaman 1dari 10

RANGKUMAN THERMOCOUPLE

JOB 19
THERMOCOUPLE
SEMESTER 4

Disusun oleh:

NAMA : Hafizh Rizkiansyah


NIM : 1803321005
KELAS : EC – 4D
DOSEN : Drs. Syafrizal Syarief, ST.
Pengertian Thermocouple

Thermocouple adalah salah satu jenis sensor suhu yang berfungsi untuk mendeteksi atau
mengukur suhu melalui dua jenis logam konduktor berbeda. Dua jenis logam konduktor tersebut
digabungkan menjadi satu melalui ujungnya sehingga menimbulkan efek yang disebut dengan
Thermo-electric.
Seiring perkembangan waktu, termokopel menjadi populer dan banyak digunakan dalam
berbagai macam rangkaian elektronika ataupun peralatan listrik yang ada kaitannya dengan suhu.
Ada satu alasan mengapa thermocouple dipilih dibanding dengan sensor suhu yang lain, yakni
karena responnya yang cepat terhadap perubahaan suhu.
Selain itu termokopel juga memiliki rentang suhu operasional yang luas, mulai dari -200 derajat
celcius sampai dengan 2.000 derajat celcius. Kelebihan lain yang dimiliki oleh thermocouple
adalah tahan terhadang guncangan atau getaran, serta mudah untuk digunakan baik bagi pemula
sekalipun.

Tujuan Praktikum :
 Mengenal istilah efek Thomson dan efek Peltier.
 Dapat mengerti prinsip kerja Thermocouple.
 Memahami kebutuhan untuk kompensasi untuk digunakan dengan
Thermocouple.

1.1. Daftar Alat dan Bahan


 Modul Instrumentasi TK2941A 1 buah
 Power supply variabel 0-15 V 1 buah
 DC Voltmeter 1 buah
 Heat Bar 1 buah
 Thermocouple 1 buah
 Calibration Tank 1 buah
 Thermometer Secukupnya
1.2. Dasar Teori
Jika dua metal yang berbeda terhubung dalam loop seperti pada fig 5.19.1 dan dua
junction a dan b diadakan pada suhu masing-masing ѳa dan ѳb, akan beredar disekitar
loop.

Gambar .19.1 Dua Metal Yang Berbeda Dihubungkan


Peredaran berdasarkan emf kecil yang dipisahkan oleh dua efek yang cukup terpisah dari
jumlah aljabar.

1.3. Efek peltier


Emf yang dihasilkan pada masing-masing junction, ditampilkan sebagai ѳ a dan ѳb pada
fig 5.19.1. Emf ini bergantung pada ‘temperatur positif’ junction. Jika a lebih panas
daripada b, maka reaksi yang dihasilkan emf, ѳp, dari ѲA – ѲB = P (ѲA – ѲB), dimana p
adalah koefisien peltier.
Sebenarnya ѳp hanya merupakan perkiraan perbandingan perbedaan suhu tetapi
penyimpangan dari linear amat kecil untuk pengukuran suhu normal.

Efek thompson
Tiap wire dalam loop menghasilkan emf kecil, e 1 dan e2 dalam fig 5.19.1, hanya
sebagai hasil dari perbedaan suhu antara ujung-ujungnya. Emf berbeda untuk logam yang
berbeda.
Jika T1 adalah koefisien thompsonuntuk metal 1
Dan T2 adalah koefisien thompsonuntuk metal 2
Maka E1 = T1 (ѲA – ѲB)
E2 = T2 (ѲA – ѲB)
Hasil reaksi emf adalah :
E2 - E1 = (T2 - T1) (ѲA – ѲB)
Dengan menempatkan dua efek bersama-sama kita mendapatkan emf yang dihasilkan
disekitar loop:
(EA – EB)+ (E2 – E1) = E = (P + T2 - T1) (ѲA – ѲB)

Dalam prakteknya, hasil dari t2 dan t1 lebih kecil dari p namun untuk diberikan
sepasang metal(pair of metals) hasil ini dapat disatukan menjadi sebuah konstanta
tunggal, sebut saja k.
Dengan demikian :

E = K (ѲA – ѲB)
Mengacu pada fig 5.19.1, jika total resistan loop adalah R maka berdasarkan
hukum perputaran sirkuit Kirchoff I=E
R

maka i = K (ѲA – ѲB)


R
Sekarang dapat dilihat jika salah satu junction, sebut saja b ditahan pada suhu
tertentu dan disebut cold or reference junction, maka berdasarkan pengukuran i saat ini
kita dapat menentukan suhu lain yang tidak diketahui atau hot junction, asalkan kita
mengetahui nilai dari k dan r.

Intermediate metal = current


Mengukur jenis arus ada beberapa yang harus disertakan didalam loop seperti pada
fig 5.19.2. Kemungkinan arus meter ini memiliki berbagai logam yang digunakan dalam
konstruksi internal – bagaimana penambahan junction ini mempengaruhi hasil emf?

Gambar 19.2 Intermediate Metal


Hukum intermediate metals menyatakan bahwa sejumlah junction dapat disatukan
dalam satu sirkuit yang disediakan dalam suhu yang sama.

Oleh karena itu dalam fig 5.19.2, jaringan emf tidak berubah dengan
dimasukannya arus meter yang disediakan pada poin B dan C dan pada junction lainnya
dalam suhu arus meter yang sama (cold junction).

Meskipun susunan fig 5.19.2 dapat memberikan hasil yang benar namun metal
thermocouple perlu mencapai instrument, yang idealnya harus memiliki jarak yang cukup
jauh dari hot junction agar tidak terpengaruh temperature.

Terkadang ini memang tidak mudah karena beberapa metal secara fisik dan
elektrik tidak cocok untuk long leads, sebagai contoh metal-metal ini mungkin rapuh atau
memiliki daya tahan sensitive yang tinggi atau sangat tinggi; terkadang beberapa metal
bahkan terlalu mahal, contohnya platinum atau rodium untuk digunakan dalam long
leads

Dalam kondisi ini compensating leads khusus yang digunakan terbuat dari logam
yang design untuk menghilangkan kesalahan yang disebabkan oleh junction selama
dalam suhu sedang. Digambarkan dalam ilustrasi fig 5.19.3 dibawah ini.

Gambar 19.3 Thermocouple


Jika hasil emf pada junction 1-3 untuk suhu ѳ x sama dan berlawanan dengan yang
dihasilkan junction 2-4 maka sisipkan compensating leads yang tidak memiliki efek pada
jaringan emf dan cold junction masih berlaku pada arus .
1.4. Gambar Modul dan Rangkaian

Gambar 19.4 Rangkaian Praktik Thermocouple


Prinsip Kerja Thermocouple
Prinip kerja termokopel ini terbilang cukup sederhana. Sebuah termokopel memilki dua buah
kawat logam konduktor berbeda jenis yang digabungkan ujungnya.  Satu logam berfungsi
sebagai referensi dengan suhu konstan (tetap), dan logam yang lain berfungsi untuk mendeteksi
suhu panas. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar berikut.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa persimpangan alias junction memiliki suhu yang sama. Oleh
sebab itu beda potensial atau tegangan listrik yang ada pada persimpangan tersebut adalah nol
(V1 = V2). Namun pada saat persimpangan tersebut diberikan suhu panas, maka terjadi
perbedaan suhu diantara persimpangan tersebut atau bisa dikatakan muncul tegangan listrik.
Nilai beda potensial atau tegangan listrik yang dihasilkan sebanding dengan suhu atau panas
yang diterima oleh logam (V1 – V2). Besar tegangan listrik yang muncul berkisar 1 µV sampai
70µV tiap derajat celciusnya. Besarnya tegangan yang dihasilkan kemudian dikonversikan ke
dalam pengukuran yang dapat dimengerti.

Jenis-jenis Thermocouple
Jika dilihat dari jenis bahan dan juga rentang suhu yang dapat dijangkau, thermocouple dibagi
menjadi beberapa jenis. Pembagian jenis thermocouple tersebut sebenarnya sudah berstandar
internasional. Bagi anda yang ingin tahu, berikut pembagian jenis terkomokopel berdasarkan
standar internasional yang telah ditentukan.
1. Thermocouple Tipe E
 Bahan Logam Positif : Nickel Chromium
 Bahan Logam Negatif : Constantan
 Rentang Suhu : -200˚C sampai dengan 900˚C
2. Thermocouple Tipe J
 Bahan Logam Positif : Iron (Besi)
 Bahan Logam Negatif : Constantan
 Rentang Suhu : 0˚C sampai dengan 750˚C
3. Thermocouple Tipe K
 Bahan Logam Positif : Nickel Chromium
 Bahan Logam Negatif : Nickel Aluminium
 Rentang Suhu : -200˚C sampai dengan 1250˚C
4. Thermocouple Tipe N
 Bahan Logam Positif : Nicrosil
 Bahan Logam Negatif : Nisil
 Rentang Suhu : 0˚C sampai dengan 1250˚C
5. Thermocouple Tipe T
 Bahan Logam Positif : Copper (Tembaga)
 Bahan Logam Negatif : Constantan
 Rentang Suhu : -200˚C sampai dengan 350˚C
6. Thermocouple Tipe U
 Bahan Logam Positif : Copper (Tembaga)
 Bahan Logam Negatif : Copper Nickel
 Rentang Suhu : 0˚C sampai dengan 1450˚C

Contoh Aplikasi
Pengukuran Temperatur Gas
Untuk mengukur temperatur dari gas sebenarnya tidaklah terlalu rumit, karena
temperatur gas lebih mudah seragam dengan lingkungan sekitarnya. Permasalahan
muncul jika temperatur lingkungan atau wadah dari gas tersebut berbeda dengan
temperatur gas itu sendiri, salah satu contoh dari ksus ini adalah temperatur gas panas
hasil pembakaran di dalam furnace boiler. Pembacaan temperatur gas sangat
dipengaruhi oleh temperatur dan kecepatan aliran gas, temperatur lingkungan sekitar
gas, ukuran sensor ukur temperatur yang digunakan, serta konstruksi dari sensor
temperatur yang digunakan.

Pyrometer optik dan pyrometer radiasi tidak didesain untuk mengukur temperatur
gas. Begitu juga dengan thermocouple yang tidak menggunakan cover dengan baik
akan menghasilkan pembacaan yang jauh dari temperatur aktual gas tersebut. Alat
ukur yang cocok untuk mengukur temperatur gas adalah High Velocity
Thermocouple dan Multiple-Shield High Velocity Thermocouple. Keduanya didesain
untuk dapat mengurangi kerugian pengukuran akibat adanya perpindahan panas
radiasi dari gas tersebut. Selain itu alat ini dapat mengukur temperatur gas tinggi di
sekitar lingkungan dengan temperatur rendah atau juga sebaliknya mengukur
temperatur gas rendah di lingkungan yang bertemperatur tinggi.
Contoh Gambar 19.1. Desain Pelindung Untuk High Velocity Thermocouple dan
Multiple-Shield High Velocity Thermocouple

Salah satu desain thermocouple yang digunakan khusus untuk mengukur temperatur


gas panas hasil pembakaran furnace boiler telah dikembangkan juga oleh The
Babcock & Wilcox Company. Thermocouple ini difasilitasi dengan aliran air
pendingin. Sensornya dilindungi dari pengaruh radiasi gas dengan menggunakan
tabung porselen anti radiasi. Gas panas yang dialirkan pada sensor ini dijaga pada
kecepatan aliran 20,34 kg/m2s oleh sebuah orifice. Temperatur perpindahan konveksi
dari gas yang mengalir ke sensor ini sudah mencerminkan temperatur gas panas
tersebut.

Contoh Gambar 19.2. High Velocity Thermocouple Dengan Pendingin Air


PERTANYAAN DAN JAWABAN PERTANYAAN

19.1. Logam mana antara timah biru dan putih yang terhubung dalam slevee ?
Jawab : Logam timah putih

19.2. Junction anatara thermocoule dan perambahan timah yang disolder menggunakan timah
dan akan dipanaskan dalam tingkatan tertentu ketika couple sedang dipanaskan. Apakah
cara ini salah ?
Jawab : Tidak, cara ini benar

19.3. Apakah ketepatan observasi dan penggambaran adalah sebuah grafik garis lurus ?
Jawab : Ya benar

19.4. Jika demikian, lakukan apa yang ada pada microvolt/c ?


Apa sumber kesalahan pada bentuk ini ?
Jawab : Lekukan tersebut adalah sebuah tangki respon terdapat sebuah kesalahan
bersumber pada pembacaan thermocouple