Anda di halaman 1dari 38

KEPERAWATAN KELUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASANGAN BARU MENIKAH


Dosen Pembimbing : Umi Setyoningrum S.Kep.,Ns
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatn Keluarga

Disusun Oleh
Kelompok 1 :
1. Ade Isnaini Fadillah (010117A001)
2. Adi Krisna Saputra (010117A003)
3. Devi Ismawati (010117A016)
4. Emma Fianna (010117A025)
5. Fira Ila Mafa Ida (010117A034)
6. Larassati (010117A047)
7. Mutya risty mulyani   (010117A059)

FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
TA.2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tentang “Asuhan Keperawatan Keluarga : Pasangan
Baru Baru Menikah” ini dapat terselesaikan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata
kuliah Keperawatan Keluarga. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Semarang , 5 April 2020

Kelompok 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................4
1.1 LATAR BELAKANG..............................................................................4
1.2 RUMUSAN MASALAH.........................................................................4
1.3 TUJUAN..................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................6
2.1 KELUARGA............................................................................................6
2.1.1 Definisi Keluarga...........................................................................6
2.1.2 Fungsi Keluarga.............................................................................6
2.1.3 Tipe Keluarga.................................................................................7
2.1.4 Tugas Keluaga Dalam Bidang Kesehatan......................................8
2.2 KELUARGA BARU MENIKAH............................................................8
2.2.1 Definisi...........................................................................................8
2.2.2 Tahap – Thap Pasangan Baru Menikah..........................................9
2.2.3 Masalah Yang Biasa Dilakukan Oleh Pasangan Baru Menikah....9
2.2.4 Tugas Perkembangan.....................................................................11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN............................................................16
3.1 PENGKAJIAN.........................................................................................16
3.2 DIAGNOSA.............................................................................................21
3.3 RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN.........................................22
BAB IV PENUTUP...........................................................................................26
4.1 KESIMPULAN........................................................................................26
4.2 SARAN....................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................27
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Keluarga pemula atau baru adalah saat masing-masing individu laki-laki (suami)
dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan keluarga masing-masing (Setiadi, 2008). Fase awal menjalani perkawinan
merupakan masa tersulit dalam kehidupan, angka perceraian tinggi pada bulan-bulan
awal hingga tahun pertama perkawinan. Penyesuaian kepuasan antar pasangan (mutually
satisfactory adjustment) harus dilakuakan sejak awal perkawinan Keadaan akan makin
sulit jika pasangan juga harus melakukan penyesuaian di luar hubungan dengan
suami/isterinya, misal : melanjutkan sekolah, tugas luar kota, mobilitas tinggi, tergantung
kepada orangtua (tempat tinggal, finansial), hubungan dengan keluarga besar. Terkadang
ketidak siapan pasangan untuk memilih jalan menikah dapat menyebabkan
ketidakharmonisan hubungan dalam berumah tangga.
Ketidakmampuan pasangan menyelesaikan masalah pada awal pernikahan akan
meningkatkan angka perceraian. Di Indonesia sendiri tingkat kasus perceraian meningkat
hingga 10% setiap tahunnya sejak tahun 2005. Pada tahun 2010, terjadi 285.184
perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar
paling banyak akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada
tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara (Republika.com).
Keharmonisan pasangan ditentukan oleh kemampuan pasangan untuk saling
beradaptasi satu sama lain di awal pernikahan mereka, sehingga fase awal pernikahan
merupakan fase penting pasangan untuk saling beradaptasi. Jika di awal pernikahan
kemampuan pasangan untuk menjalankan tugas seperti beradaptasi satu sama lain untuk
menjalin kepuasan pasangan, menjalin kekerabatan, merencanaan keturunan dan
meningkatkan perhatian pemeliharaan kesehatan mampu pasangan laksanakan dengan
baik maka masalah pernikahan yang akan cenderung masuk kedalam perceraian dapat
dihindari. Namun disayangkan tidak banyak pasangan yang memahami tugas mereka
sebagai pasangan diawal pernikahan sehingga setiap tahunnya angka kejadian perceraian
semakin meningkat.
Hal inilah yang menjadi tugas perawat keluarga dalam menjaga keseimbangan
kesehatan baik secara emosi ataupun fisik seluruh bagian komunitas termasuk pasangan
keluargan yang baru menikah. Pemberian asuhan keperawatan yang tepat diharapkan
mempu meningkatkan kesejahteraan pasangan dan keluarga yang akan dibangun oleh
pasangan di masa mendatang.
B. Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan keluraga?
2. Apakah yang dimaksud dengan perawatan keluarga?
3. Berapa batasan keluarga yang baru menikah?
4. Sebutkan dan jelaskan tugas keluarga yang baru menikah?
5. Sebutkan masalah yang dihadapi oleh keluarga yang baru menikah?
6. Sebutkan fokus pengkajian data untuk perawatan keluarga baru menikah?
7. Bagaimanakah asuhan keperawatan keluarga yang baru menikah?
C. Tujuan
Tujuan umum
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang asuhan keperawatan keluarga
yang baru menikah.
Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi keluraga
2. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi perawatan keluarga
3. Mahasiswa mampu menjelaskan batasan keluarga yang baru menikah
4. Mahasiswa mampu menjelaskan tugas keluarga yang baru menikah
5. Mahasiswa mampu menjelaskan masalah yang dihadapi oleh keluarga yang baru
menikah
6. Mahasiswa mampu menjelaskan fokus pengkajian data untuk perawatan keluarga
baru menikah
7. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan keluarga yang baru menikah
D. Manfaat
Membantu mahasiswa dalam memahami asuhan keperawatan yang tepat pada
keluarga baru menikah
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Keluarga
Salvicion G. Bailon & Aracelis Maglaya keluarga adalah kumpulan dua orang
atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi,
hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya
dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. Sedangkan, menurut Ferry Efendi
& Makhfudli (2010) keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi
klien (penerima) asuhan keperawatan. Menurut Ferry Efendi & Makhfudli (2010) dalam
bukunya menyebutkan bahwa keluarga memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Terdiri ≥ 2 orang yang diikat oleh hunbungan darah, perkawinan atau adopsi.
b. Anggota keluarga biassanya hidup bersama atau jika terpisah merka tetap
memperhatikan satu sama lain.
c. Anggota keluarga berinteraksi satusama lain dan masing-masing mempunyai
peran sosial seperti peran suami, ibu, anak, kakak, dan adik.
d. Mempunyai tujuan menciptakan dan mempertahankan budaya serta
meningkatkan perkembangan fisisk, psikologis, dan sosial anggota keluarga
yang lain.
B. Tahap perkembangan
Ada perbedaan pembagian tahap perkembangan menurut Carter & McGoldrick
dan Duvall .
Carter & Mcgoldrick Duvall
(family theraphy perspective, 1989) (sociological perspective, 1985)
1. Keluarga antara: masa bebas Tidak diidentifikasikan karena periode
(pacaran) dewasa muda. waktu antara dewasa dan menikah tak
dapat ditentukan
2. Terbentuknya keluarga baru 1. Keluarga baru menikah
melalui suatu perkawinan
3. Keluarga yang memiliki anak 2. Keluarga dengan anak baru
usia muda (anak usisa bayi – lahir (usia anak tertua – 30
usia sekolah) bulan)
3. Keluarga dengan anak
prasekolah (usia anak tertua
2.5 tahun – 5 tahun)
4. Keluarga dengan anak usia
sekolah (usia anak tertua 6-12
tahun)
4. Keluarga yang memiliki anak 5. Keluarga dengan anak remaja
dewasa (usia anak tertua 13-20 tahun)
5. Keluarga yang mulai melepas 6. Keluarga mulai melepas anak
anaknya untuk keluar rumah sebagai dewasa (anak-anaknya
mulai meninggalkan rumah)
7. Keluarga yang hanya terdiri
dari orang tua saja
6. Keluarga lansia 8. Keluarga lansia
C. Tugas Kesehatan Keluarga
Menurut Bailon dan Maglaya yang menyatakan bahwa tugas kesehatan keluarga
adalah sebagai berikut:
a. Mengenal masalah kesehatan
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
d. Memodifikasi lingkungan atau menciptakan susana rumah ynag sehat
e. Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat.
D. Keperawatan keluarga
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan
keperawatan kesehatan keluarga, antara lain:
a. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan
b. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, sehat merupakan tujuan
utama.
c. Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan
kesehatan keluarga.
d. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, peran melibatkan
seluruh peran aktif keluarga dalam merumuskan masalah dan kebutuhan keluarga
dalam mengatasi masalah kesehatan
e. Lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promotif dan preventif dengan tidak
mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
f. Perawat memanfaatkan sumberdaya semaksimal mungkin untuk pemberian asuhan
kepperawatan
g. Sasaranya adalah anggota keluarga secara keseluruhan
h. Pendekatan pemecahan masalah menggunakan proses keperawatan
i. Kegiatan asuhan keperawatan dalam hal ini adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan
keperawatan dasar atau perawatan di rumah
j. Diutamkan keluarga yang resiko tinggi.
E. Keluarga Baru Menikah
Keluarga baru adalah saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan
perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan
keluarga masing-masing (Setiadi, 2010). Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis
karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya. Dua
orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi.
Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan
pasangannya, misalnya makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya (Leny, 2010).
Fase ini dimulai dari saat perkawinan hingga istri hamil. Fase ini merupakan masa
tersulit dalam kehidupan perkawinan, angka perceraian tinggi pada bulan-bulan awal
hingga tahun pertama perkawinan. Pasangan juga harus melakukan penyesuaian
kepuasan (mutually satisfactory adjustment) sejak awal perkawinan Keadaan akan makin
sulit jika pasangan juga harus melakukan penyesuaian di luar hubungan dengan
suami/isterinya, misal : melanjutkan sekolah, tugas luar kota, mobilitas tinggi, tergantung
kepada orangtua (tempat tinggal, finansial), hubungan dengan keluarga besar.
Menurut pendapat Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan
juga marriage and relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap
perkembangan dalam kehidupan perkawinan. Hubungan dalam pernikahan bisa
berkembang dalam tahapan yang bisa diduga sebelumnya. Namun perubahan dari satu
tahap ke tahap berikut memang tidak terjadi secara mencolok dan tak memiliki patokan
batas waktu yang pasti.  Bisa jadi antara pasangan suami-istri, yang satu dengan yang
lain, memiliki waktu berbeda saat menghadapi dan melalui tahapannya. Yaitu:

1) Tahap 1 : Rommantic Love


Merupakan tahap awal dari sebuah perkawinan pasangan suami istri
merasakan cinta yang menggelora yakni masa-masa pengantin baru yang ditandai
dengan eratnya hubungan dan kuatnya nuansa romantis
2) Tahap 2 : disappointment or Distress
Tahapan proses mnyesuaikan mulai terjadi baik karakter, sifat, kebiasaab,
maupun sikap. Biasanya dalam proses ini pasanga suamu-istri mengalami proises
emosional. Muncul rasa kecewa, marah, saling menyalhkan, egois, dan berbagai
bentung persinggungan lain.
3) Tahap 3 : knowledge and Awareness.
Pasangan suami istri sudah memahami bagaimana posisi dan diri
pasangannya, hubungan interpersonal sudah lebih kuat dan matang. Yang
merupakan tahapan transisi dimana hubungan akan memasuki fase yang lebih
stabil.
4) Tahap 4 : Transformation
Tahapan dimana masing-masing individu dalam pasangan berusaha
membuktikan diri sebagai pasangan yang ideal. Sudah berkembang pemahaman
yang relatif komprehensif antar-pasangan dan keduanya juga telah matang dalam
menyikapi perbedaan. Tahapan ini ditandai dengan munculnya sifat menghargai,
empati, dan ketulusan antar pasangan.
5) Tahap 5 : Real Love
Merupakan puncak hubungan dan berada pada kondisi yang matang,
stabil, dan kukuh. Yang ditandai dengan kembalinya keceriaan, kemesraan,
keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan. Pada tahapan ini
muncul dengan bentuk yang telah matang, stabil, dan kuat denga kemauan dan
usaha yang keras dari suatu pasangan.
F. Batasan Keluarga Baru Menikah
Menurut Duvall keluarga baru menikah ataupun biasa disebut dengan keluarga
pasangan baru merupakan pasangan tanpa anak. Sependapat dengan Duvall, menurut
Feldman keluarga baru menikah merupakan pasangan yang masih dalam tahap awal
pernikahan (tanpa anak). Juga menurut Rodgers dan Carter & McGoldrick merupakan
pasangan baru dan belum memiliki anak.

G. Tugas Keluarga Baru Menikah


Pembentukan pasangan melalui ikatan pernikahan menandakan permulaan suatu
keluarga baru dengan pergerakan dari membentuk keluarga asli sampai ke hubungan
intim yang baru. Pasangan baru akan mengalami masa transisi dari kehidupannya, transisi
tersebut meliputi beberapa aspek antara lain perubahan dalam hubungan personal,
perubahan status dan peran, perubahan dalam lingkungan. Pasangan baru menikah akan
mengalami perubahan dalam hubungan personal, tambahan pasangan atau orang penting
lainnya, kehilangan teman bermain, perubahan dalam hubungan keluarga. Pasangan baru
juga mengalami perubahan peran dan status, dari status yang belum menikah, tambahan
peran sebagai orang tua, kemungkinan perubahan dalam pekerjaan dan karir. Serta
mengalami perubahan dalam lingkungan seperti perpindahan rumah.
Karena individu memiliki tugas perkembangan yang harus mereka capai agar
tercapai kepuasan selama tahap perkembangan dan agar mampu berkembang secara
sukses pada tahap berikutnya, setiap tahap perkembangan keluarga memiliki tugas
perkembangan atau harapan peran tertentu. Tugas perkembangan dari tahap keluarga
pasangan baru atau baru menikah ini meliputi :
1) Membentuk pernikahan yang memuaskan bagi kedua belah pihak
Ketika dua orang menikah, mereka akan mengalami perubahan dakam peran serta
fungsi. Pasangan baru ini akan belajar menggabungkan dua pandangan yang berbeda,
dua ide dan dua sifat yang berbeda dari masing-masing karakteristik sehingga satu
sama lain dapat salig memahami.
Belajar untuk hidup bersama sementara menyediakan kebutuhan dasar lain dari
masing-masing pribadi merupakan tugas perkembangan yang penting. Mereka harus
saling mengakomodasi dalam banyak cara. Misalnya, mereka harus mengembangkan
jadwal rutinitas makan, tidur, bangun di pagi hari, berbagi kamar tidur. Dalam proses
akomodasi bersama ini, serangkaian pola transaksi dibentuk dan kemudian
dipertahankan oleh pasangan, dengan setiap pasangan memicu dan memantau
perilaku pasangan lainnya.
Kesuksesan hubungan yang terbentuk tergantung pada bagaimana pasangan bisa
saling melengkapi kekurangan masing-masing dan menoleransi perbedaan-perbedaan
yang ada. Satir menyatakan bahwa dalam hubungan yang sehat, perbedaan dilihat
untuk memperkaya hubungan pernikahan, mencapai hubungan yang memuaskan
bergantung pada perkembangan cara yang memuaskan untuk menangani perbedaan.
Menurut Harley cara sehat untuk mengatasi masalah berhubungan dengan
kemampuan pasangan untuk bersikap empati, saling mendukung, mampu
berkomunikasi secara terbuka dan jujur, serta melakukan pendekatan terhadap konflik
dengan perasaan saling menghargai.
Bowen juga menyatakan bahwa kesuksesan hubungan pernikahan akan
bergantung pada seberapa baik setiap pasangan membedakan atau memisahkan
keluarga masing-masing dari keluarga aslinya.
2) Berhubungan secara harmonis dengan jaringan kekerabatan.
Perpindahan peran dasar terjadi dalam pernikahan pertama, pada saat pasangan
berpindah dari rumah orang tua mereka ke latar tempat yang baru. Secara bersamaan,
mereka menjadi anggota dari tiga buah keluarga – masing-masing keluarga asli
mereka ditambah keluarga mereka sendiri yang baru saja mereka ciptakan. Pasangan
menghadapi tugas perpisahan mereka sendiri dari masing-masing keluarga asal
mereka ke keluarga yang baru dibentuk dan dalam menjalani hubungan yang berbeda
dari orang tua, saudara kandung, dan mertua, karena loyalitas primer kedua pasangan
harus berpindah ke hubungan pernikahan mereka.
Bagi pasangan, bagian yang tidak dapat dihindari ini membentuk hubungan baru
dengan setiap latar belakang orang tua, hubungan yang tidak hanya memungkinkan
untuk memberi dukungan mutual dan kesenangan tetapi juga untuk melindungi
keluarga baru dari pihak luar yang dapat mengganggu hubungan pernikahan mereka.
3) Merencanakan sebuah keluarga
Menghasilkan keturunan adalah salah satu tujuan dari setiap pernikahan.
Menetapkan waktu kehamilan serta memutuskan untuk memiliki ataupun untuk tidak
memiliki anak adalah keputusan keluarga yang sangat penting.
4) Perhatian Kesehatan
Perhatian kesehatan yang dimaksud meliputi perhatian terkait dengan penyesuaian
peran seksual dan pernikahan, penyuluhan dan konseling keluarga berencana, serta
komunikasi. Untuk saat ini, konseling sangat diperlukan debelum pernikahan. Karena
kurangnya informasi dapat menimbulkan berbagai masalah dalam pernikahan., seperti
masalah seksual dan emosional, perasaan bersalah, serta kehamilan yang tidak
direncanakan.
Tugas perkembangan keluarga baru menikah (Rodgers cit Friedman) :
a. Membina hubungan intim yang memuaskan.
 Akan menyiapkan kehidupan bersama yang baru
 Sumber- sumber dari dua orang yang digabungkan.
 Peran berubah. - Fungsi baru diterima.
 Belajar hidup bersama sambil penuhi kebutuhan kepribadian yang
mendasar.
 Saling mensesuaikan diri terhadap hal yang kecil yang bersifat
rutinitas
Keberhasilan dalam mengembangkan hubungan terjadi apabila kedua
pasangan saling menyesuaikan diri dan kecocokan dari kebutuhan dan
minat pasangan.
b. Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis atau membina
hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial Pasangan
menghadapi tugas memisahkan diri dari keluarga asal dan mengupayakan
hubungan dengan orang tua pasangan dan keluarga besar lainnya. Loyalitas
utama harus dirubah untuk kepentingan perkawinannya.
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak atau memilih KB.
H. Masalah Keluarga Baru Menikah
Menurut Zaidin (2009) Masalah kesehatan pada tahap keluarga pemula adalah
1) Penyesuaian seksual dan peran perkawinan
Bagi pasangan yang baru menikah, masa-masa bulan madu terlewatkan dengan
begitu cepat dan membuat pasangan harus menghadapi tekanan dari kehidupan
sehari-hari yang dapat menganggu hasrat seksual. Banyak pasangan mengalami
masalah-masalah penyesuaian seksual, serikali disebabkan oleh ketidaktahuan dan
informasi yang salah yang mengakibatkan kekecewaan dan harapan-harapan yang
tidak realistis. Malahan, banyak pasangan yang membawa kebutuhan-kebutuhan dan
keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi kedalam hubungan mereka, dan hal-hal ini
dapat mempengaruhi hubungan seksual secara merugikan. (Rahmaita, Pranaji, &
Yuliati, 2016)
2) Keluarga Berencana
Apakah memiliki anak atau tidak, penentuan waktu untuk hamil, tempat
konsultasi dan melahirkan, dan jumlah anak merupakan suatu keputusan keluarga
yang sangat penting. . Keluarga berencana yang kurang diinformasikan dan kurang
efektif mempengaruhi kesehatan keluarga dalam banyak cara : mobiditas dan
moralitas ibu-anak ; menelatarkan anak ; sehat sakit orangtua ; masalah-masalah
perkembangan anak, termasuk inteligensia kemampuan belajar dan perselisihan
dalam perkawinan. Pembentukan keluarga dengan sengaja dan terinformasi meliputi
membuat keputusan sendiri tentang kapan dan/atau apakah ingin mempunyai anak,
terlepas dari pertimbangan kesehatan keluarga.
3) Konseling pranatal
Tipe perawatan kesehatan yang didapat keluarga sebagai sebuah unit selama masa
prenatal sangat mempengaruhi kemampuan keluarga mengatasi perubahan-perubahan
yang luar biasa dengan efektif setelah kehamilan bayi.
4) Komunikasi dan informasi
Komunikasi dan informasi : kurangnya informasi dapat mengakibatkan masalah
seksual, emosional, ketakutan, rasa bersalah, kehamilan yang tidak direncanakan,
penyakit kelamin (sebelum dan sesudah pernikahan).
Masalah yang timbul antara lain masalah-masalah seksual dan emosional,
kecemasan, kehamilan yang tidak diinginkan, dan penyakit kelamin baik sebelum
maupun sesudah perkawinan. Untuk mengatasinya perlu ada penyuluhan dan konseling
keluarga berencana, penyuluhan dan konseling prenatal, dan komunikasi. Dan biasanya
juga terjadi perselisihan/keributan dalam keluarga karena kedua pasangan baru menikah
belum bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru, dengan peran dan fungsi
yang berbeda.
I. Fokus Pengkajian Data Keluarga Baru Menikah
Menurut Suprajitno (2003) fokus pengkajian data pada pasangan baru menikah adalah
sebagai berikut:
a. Kapan pertemuan pasangan?
b. Bagaimana hubungan pasangan sebelum menikah?
c. Bagaimana pasangan memutuskan untuk menikah?
d. Adakah halangan terhadap perkawinan mereka?
e. Bagaimana respon anggota keluarga terhadap pernikahan mereka?
f. Bagaimana kehidupan di lingkungan keluarga asal termasuk orientasi keluarga
dari kedua pasangan?
g. Siapa orang lain yang tinggal serumah dengan pasangan setelah menikah?
h. Bagaimana hubungan dengan saudara ipar?
i. Bagaimana keadaan orang tua masing-masing dan hubungannya dengan orang tua
setelah perkawinan?
j. Bagaimana tentang rencana mempunyai anak?
k. Berapa lama waktu berkumpul setiap hari?
l. Bagaimana rutinitas pasangan secara individu setelah menikah?
m. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga?
Friedman (1998: 55) menjelakan proses asuhan keperawatan keluarga terdiri dari lima
langkah dasar meliputi :
1. Pengkajian
Menurut Suprajitno (2004:29) pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang
perawat mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang
dibinanya. Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan
keperawatan keluarga . Agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai
dengan keadaan keluarga , perawat diharapkan menggunakan bahasa ibu (bahasa
yang digunakan sehari-hari), lugas dan sederhana (Suprajitno: 2004). Kegiatan
yang dilakukan dalam pengkajian meliputi pengumpulan informasi dengan cara
sistematis dengan menggunakan suatu alat pengkajian keluarga , diklasifikasikan
dan dianalisa (Friendman, 1998: 56).
a) Pengumpulan data
1) Identitas keluarga yang dikaji adalah umur, pekerjaan, tempat tinggal, dan
tipe keluarga .
2) Riwayat dan Tahap Perkembangan keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga
inti.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh
keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum
terpenuhi.
c. Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi
riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota
keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit (status imunisasi),
sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga serta
pengalaman-pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.
d. Riwayat keluarga sebelumnya
Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan
istri.
3) Latar belakang budaya /kebiasaan keluarga
a. Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ini meliputi jenis makanan yang dikosumsi oleh
keluarga .
b. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Perilaku keluarga didalam memanfaatkan fasilitas kesehatan merupakan
faktor yang penting dalam penggelolaan penyakit.
c. Pengobatan tradisional
Merupakan pilihan bagi keluarga untuk menentukan pengobatan yang
diinginkan ataupun alternative pilihan yang dipilih yaitu pengobatan
tradisional.
4) Status Sosial Ekonomi
a. Pendidikan
Tingkat pendidikan keluarga mempengaruhi keluarga dalam mengenal
suatu penyakit dan pengelolaannya. Berpengaruh pula terhadap pola pikir
dan kemampuan untuk mengambil keputusan dalam mengatasi masalah
dangan tepat dan benar.
b. Pekerjaan dan Penghasilan
Penghasilan yang tidak seimbang juga berpengaruh terhadap keluarga
dalam melakukan pengobatan dan perawatan pada angota keluarga yang
sakit salah satunya disebabkan karena suatu penyakit. ketidakmampuan
keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit salah satunya
disebabkan karena tidak seimbangnya sumber-sumber yang ada pada
keluarga .
5) Tingkat perkembangan dan riwayat keluarga
Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini termasuk riwayat perkembangan
dan kejadian serta pengalaman kesehatan yang unik atau berkaitan dengan
kesehatan yang terjadi dalam kehidupan keluarga yang belum terpenuhi
berpengaruh terhadap psikologis seseorang yang dapat mengakibatkan
kecemasan.
6) Aktiftas
Pola aktifitas yang dipilih oleh suatu keluarga dapat berpengaruh terhadap
terjadinya suatu penyakit dan gaya hidup suatu keluarga .
7) Data Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Cara memodifikasikan lingkungan fisik yang baik seperti lantai rumah,
penerangan dan fentilasi yang baik dapat mengurangai faktor penyebab
terjadinya suatu penyakit.
b. Karakteristik Lingkungan
derajad kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan. Ketenangan lingkungan
sangat mempengaruhi derajat kesehatan.
8) Struktur keluarga
Menurut (Rahmaita et al., 2016)
a. Pola komunikasi
Semua interaksi perawat dengan pasien adalah berdasarkan komunikasi.
Istilah komunikasi teurapetik merupakan suatu tekhnik diman usaha
mengajak pasien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaan.
Tekhnik tersebut mencakup ketrampilan secara verbal maupun non verbal,
empati dan rasa kepedulian yang tinggi.
b. Struktur Kekuasaan
Kekuasaan dalam keluarga mempengaruhi dalam kondisi kesehatan,
kekuasaan yang otoriter dapat menyebabkan stress psikologik.
c. Struktur peran
anggota keluarga menerima dan konsisten terhadap peran yang dilakukan,
maka ini akan membuat anggota keluarga puas atau tidak ada konflik
dalam peran, dan sebaliknya bila peran tidak dapat diterima dan tidak
sesuai dengan harapan maka akan mengakibatkan ketegangan dalam
keluarga .
9) Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif
keluarga harus saling menghargai satu dengan yang lainnya agar tidak
menimbulkan suatu permasalahan maupun stressor tertentu bagi anggota
keluarga itu sendiri.
b. Fungsi sosialisasi .
keluarga memberikan kebebasan bagi anggota keluarga dalam
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Bila keluarga tidak memberikan
kebebasan pada anggotanya, maka akan mengakibatkan anggota keluarga
menjadi sepi. Keadaan ini mengancam status emosi menjadi labil dan
mudah stress.
c. Fungsi kesehatan
Menurut suprajitno (2004) fungsi mengembangkan dan melatih anak untuk
berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan
dengan orang lain diluar rumah. Hal-hal yang perlu dikaji untuk
mengetahui sejauh mana keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan
keluarga adalah :
1. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan,
yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga memahami fakta-fakta
dari masalah kesehatan yang meliputi: pengertian, tanda dan gejala,
faktor penyebab dan yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga
terhadap masalah.
2. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan
mengenai tindakan kesehatan yang tepat, hal yang perlu dikaji adalah ;
 Sejauhmana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan
luasnya masalah
 Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga
 Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang
dialami
 Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari penyakit
 Apakah keluarga mempunyai sikap negatif terhadap masalah
kesehatan.
 Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada.
 Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan.
 Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap
tindakan dalam mengatasi masalah.
3. Mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota
keluarga yang sakit, termasuk kemampuan memelihara lingkungan
dan menggunakan sumber/fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat,
yang perlu dikaji adalah
 Apakah keluarga mengetahui sifat dan perkembangnan perawatan
yang dibutuhkan untuk menanggulangi masalah kesehatan/
penyakit.
 Apakah keluarga mempunyai sumber daya dan fasilitas yang
diperlukan untuk perawatan.
 Keterampilan keluarga mengenai macam perawatan yang
diperlukan memadai.
 Apakah keluarga mempunyai pandangan negatif terhadap
perawatan yang diperlukan
 Adakah konflik individu dan perilaku mementingkan diri sendiri
dalam keluarga
 Apakah keluarga kurang dapat memelihara keuntungan dalam
memelihara lingkungan dimasa mendatang.
 Apakah keluarga mempunyai upaya penuingkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit
 Apakah keluarga sadar akan pentingnya fasilitas kesehatan dan
bagaimana pandangan keluarga akan fasilitas tersebut.
 Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari tindakan
(diagnostik, pengobatan dan rehabilitasi).
 Bagaimana falsafah hidup keluarga berkaitan dengan upaya
perawatan dan pencegahan.
d. Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah :
1) Berapa jumlah anak
2) Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga
3) Metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan
jumlah anggota keluarga
e. Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah :
1) Sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan
papan
2) Sejauhmana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat
sdalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga
10) Stress dan Koping keluarga
1. Stressor jangka pendek dan panjang
 Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan.
 Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor
3. Hal yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga berespon terhadap
situasi/stressor.
4. Strategi koping yang digunakan Strategi koping yang digunakan keluarga
bila menghadapi permasalahan.
5. Strategi adaptasi disfungsional
6. Strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan
11) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggota keluarga . Metode yang
digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di
klinik.
12) Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap
petugas kesehatan yang ada.
13) Pola istirahat tidur
Istirahat tidur seseorang akan terganggu manakala sedang mengalami masalah
yang belum terselesaikan.
14) Pemeriksaan fisik anggota keluarga
Sebagaimana prosedur pengkajian yang komprehensif, pemeriksaan fisik juga
dilakukan menyeluruh dari ujung rambut sampai kuku untuk semua anggota
keluarga . Setelah ditemukan masalah kesehatan, pemeriksaan fisik lebih
terfokuskan.
15) Koping keluarga
Bila ada stressor yang muncul dalam keluarga , sedangkan koping keluarga
tidak efektif, maka ini akan menjadi stress anggota keluarga yang
berkepanjangan.
16) Pengkajian Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, type
rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan sumber
air, sumber air minum yang digunakan serta denah rumah.
b. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat
yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan/kesepakatan penduduk
setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.
c. Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan keluarga
berpindah tempat.
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul
serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana interaksi keluarga
dengan masyarakat.
e. Sistem pendukung keluarga
Yang termasuk dalam sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota
keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk
menunjang kesehatan. Fasilitas mencakup fasilitas fisik, fasilitas
psikologis atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau
dukungan dari masyarakat setempat.
J. Diagnosa yang Sering Muncul
1) Diagnosa keperawatan aktual
Konflik pengambilan keputusan b.d kurangnya informasi yang relefan
2) Diagnosa keperawatan risiko
- Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan berhubungan dengan kurang
Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.
- Ketidakefektifan pola seksualitas b.d riwayat ketidakpuasan pengalaman seksual
3) Diagnosa keperawatan Potensial
- ketidakmampuan Koping keluarga b.d gangguan kemampuan untuk memenuhi
tanggung jawab pean skunder.
(Carpenito, 2013)
K. Intervensi
1. Pra-nikah
a. Konseling pra-nikah
Konseling pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan
dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang
dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan
pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah (Damayanti, 2012).
Tujuan konseling pranikah adalah meningkatkan hubungan sebelum
pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang
stabil dan memuaskan. Konseling pranikah akan membekali pasangan dengan
kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan
informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi
masalah-masalah pernikahan hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat
ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian. Selain hal tersebut
konseling pranikah bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang
dimiliki oleh pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka
inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan
dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan (Damayanti,
2012).
Materi yang diberikan saat konsultasi pra-nikah (Damayanti, 2012)
 Informasi mengenai kehidupan pernikahan kepada pasangan
 Cara meningkatkan kemampuan komunikasi pasangan
 Cara mengembangkan keterampilan menyelesaikan konflik
 Memberi kesempatan pada pasangan untuk mendiskusikan mengenai
topik tertentu yang sensitif, seperti mengenai peran dan tanggung
jawab suami-istri, seks, keuangan, dan hubungan dengan mertua.
b. Pemberian imunisasi TT
Pada calon pengantin sebaiknya menjalani imunisasi TT untuk mencegah
tetanus neonatorum, csetiap pernikahan pasti bertujuan untuk menghasilkan
keturunan sehingga persiapan kehamilan dapat dilakukan semenjak wanita
tersebut akan menikah. Hal ini dikarenakan wanita hamil dengan persalinan
berisiko tinggi paling tidak mendapatkan 2 kali dosis vaksin TT. Dosis TT
kedua sebaiknya diberikan paling tidak 4 minggu setelah pemberian dosis
pertama, dan dosis kedua sebaiknya diberikan paling tidak 2 minggu sebelum
persalinan. Untuk ibu hamil yang sebelumnya pernah menerima TT 2x pada
waktu calon pengantin atau pada kehamilan sebelumnya, maka dapat
diberikan booster TT 1x saja (Cahyono, 2010).
2. Pasca-nikah
a. Konseling prekonsepsi
Konseling prekonsepsi muncul setelah adanya konsepsi prenatal dimana
konseling prekonsepsi ini merupakan konseling pra kehamilan yang betujuan
untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak terencana. Sebelum
kehamilan itu terjadi, prenatal care sudah mulai diterapkan dengan adanya
asuhan prekonsepsi (preconceptional care) pada saat merencanakan
kehamilan. Secara menyeluruh, program ini dilanjutkan dengan penegakan
diagnosis kehamilan yang tepat, evaluasi awal prenatal dan melakukan follow
up atau pemantauan melalui kunjungan prenatal. Tujuan lain dari
pelaksanaan preconceptional care antara lain adalah untuk meningkatkan
pengetahuan, memperbaiki perilaku dan kebiasaan baik dari pihak suami
maupun istri terkait dengan kesehatan prekonsepsi. Juga, untuk memastikan
bahwa seorang wanita berada dalam kondisi kesehatan yang optimal untuk
menjalani masa kehamilan. Apabila sebelumnya pernah terjadi suatu
komplikasi kehamilan, diharapkan dengan adanya asuhan prekonsepsi ini,
kemungkinan terjadinya komplikasi tersebut dapat diminimalisir.
Sebelum konsepsi, konseling akan potensi resiko pada kehamilan dan
strategi pencegahannya sebaiknya dilakukan. Hal ini dikarenakan kebanyakan
wanita baru menyadari bahwa dirinya hamil sekitar 1-2 minggu setelah
melewatkan satu masa haid (tentunya usia kehamilan sudah lebih dari itu).
Padahal, pada masa tersebut, spinal cord atau cikal bakal saraf janin telah
terbentuk dan jantung sudah berdetak. Oleh karena itu, strategi pencegahan
seperti pemberian asam folat untuk mencegah defek tabung saraf sudah tidak
lagi efektif pada masa tersebut. Kondisi kedua yang mendasari pentingnya
konseling tersebut adalah fakta bahwa sekitar setengah dari angka kehamilan
yang terjadi ternyata tidak direncakanan (Fitantra, 2013).
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Keluarga
I. Pengkajian
A. Identitas KK
Nama : Dedi irawan
Umur : 31 tahun
Pendidikan : SI pertanian
Pekerjaan : belum bekerja
Alamat : Jl.Raya Kemabang seri,km 14 Kec.Talang 4 Bengkulu Tengah
B. Komposisi Keluarga

Status
No Nama L/P Umur Hub Pend. Pekerjaan
Kesehatan
1. Dedi Irawan L 31 KK S1 pertanian Belum punya sehat
pekerjaan
2. Jeni Juita P 24 Istri SMA Ibu rumah Sehat
tangga

C. Genogram

Kerinci Bengkulu tengah


31 th 24 th

D. Tipe Keluarga
Tipe keluarga pemula atau baru menikah

E. Suku Bangsa
Keluarga Tn D berasal dari Kerinci sedangkan keluarga Ny.J berasal dari Bengkulu
tengah.Ny.J Mengatakan mempunyai kebiasaan memasak makanan yang bersantan dan
gorengan.
F. Agama
Keluarga memeluk agama isalam dan sering terlibat dalam kegiatan keagamaan
dilingkungan sekitarnya,terutama Ny.J.biasanya Ny.J mengikuti pengkajian RT yang
diadakan setiap seminggu sekali.
G. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Tn.D mengatakan saat ini belum memiliki pekerjaan, dan untuk sementara kebutuhan
keluarga dipenuhi oleh kedua orang tua Ny.J karena mereka masih tinggal satu rumah.
Tn.D mengatakan untuk terus berusaha mencari pekerjaan, supaya tidak terus bergantung
dengan mertuanya.
H. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Pada waktu libur,biasanya mereka berkumpul dirumah sambil menonton televisi dan
terkadang berlibur ke pantai panjang.

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


A. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga dalam tahap Keluarga pemula
B. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menurut Ny.jeni Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi adalah keluarga
berencana(keputusan tentang kedudukan sebagai orangtua)
C. Riwayat Keluarga inti
Kedua orang tua saat ini hidup dilingkungan yang sama.Ny.J mengatakan keluarganya
terbentuk dari pertemuan kemudian berpacaran dan akhirnya menikah pada 08-05-
20011.Ny.J juga mengatakan setelah mereka menikah mereka masih tinggal bersama
orang tua. Saat ini kondisi kesehatan kedua orang tua baik.Tn.D mengatakan dia cemas
karena belum mempunyai pekerjaan yang tetap dan Tn.D memiliki riwayat merokok 1
bungkus sehari.
D. Riwayat keluarga Sebelumnya.
Ny.J mengatakan dulu pernah mengalami kecelakaan bermotor,dan pernah mengalami
penyakit malaria,dan Tn.D juga mengatakan dulu pernah mengalami sakit malaria, tetapi
sampai saat ini tidak pernah sakit malaria lagi.
III. Pengkajian Lingkungan
A. Karakteristik Rumah
Rumah yang ditempati keluarga merupakan rumah orang tua Ny.J menurut Ny.J rumah
yang ditempatinya belum selesai dibangun bagian belakang.kondisi rumah masih terlihat
berantakan karena baru seminggu yang lalu pasca pernikahan.antara rumah Ny.J dengan
yang lainnya tidak terlalu dekat,berjarak lebih kurang 2 meter. Kondisi ventilasi dirumah
baik dan cukup karena setiap kamar ada jendela atau ventilasinya. Sehingga cahaya yang
masuk cukup dan pertukaran udara sangat cukup.
B. Karakteristik Tetangga dan komunitas RW
Lingkungan dimana keluarga tinggal merupakan tempat hunian yang padat.Jarak antara
satu rumah dengan rumah yang lainnya kurang dari 2 meter.Ny.J mengatakan
tetangganya cukup ramah,baik,dan sangat kompak denagn berbagai kegiatan.mereka
terkadang menghabiskan waktu untuk mengobrol diteras salah satu rumah. Jarak masjid
sekitar 500 meter dari rumah Ny.J.Menurut Ny.J diseberang jalan rumahnya ada tempat
praktek bidan,sehingga apabila ada anggota keluarga yang mengalami gangguan
kesehatan,mereka pergi ke tempat praktek bidan tersebut atau kepuskesmas yang berjarak
100 meter dari rumah Ny.J.kegiatan posyandu biasanya diadakan di posyando terpadu
yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah Ny.J Untuk fasilitas umum,lingkungan
rumah Ny.J jauh dari perkotaan.

C. Mobilitas Geografis Keluarga


Keluarga Tn.D Mengatakan mereka sejak menikah masih tinggal di rumah Ny.J di
Bengkulu tengah,dan untuk saat ini belum ada rencana untuk pindah rumah.
D. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat
Keluarga Tn.D Mengatakan berinteraksi sangat baik.Ny.J sering mengikuti pengajian
ma’jlis ta’lim di desa nya.begitu juga dengan Tn.D semenjak tinggal dilingkungan
Bengkulu tengah, mengikuti kegiatan yang ada disana,seperti mengikuti pengajian.
E. Sistem Pendukung Keluarga
Tn.D Mengatakan dukungan dari keluarga besar sangat membantu Tn.D dan Ny.J.apabila
ada diantara mereka yang sakit,maka orang tua dari Ny.J akan membantu pekerjaan
rumah karena mereka berada dalam satu rumah
IV. Latar Belakang Budaya/Kebiasaan Keluarga
A. Kebiasaan makan
Keluarga Tn D Mengatakan Ny. J mempunyai kebiasaan memasak makanan yang
bersantan dan gorengan. Sedangkan Tn D mempunyai kebiasaan makan sayuran.
B. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Keluarga Tn.D dan Ny.J jika ada salah satu anggota keluarganya sakit mereka akan
membawa ke klinik atau pelayanan kesehatan terdekat
C. Pengobatan tradisional
Ny J mengatakan jika tidak suka pengobatan yg berbau tradisional tetapi saat Ny J sakit
fraktur, keluargan Tn D menyarankan dan membawa Ny J ke pengobatan alternatif
V. Status Sosial Ekonomi
A. Pendidikan
Tn D mengatakan bahwa Tn D Pendidikan terakhirnya S1 pertanian dan Ny J
pendidikannya SMA
B. Pekerjaan dan penghasilan
Tn D mengatakan saat ini belum memiliki pekerjaan, dan untuk semestara kebutuhannya
dipenuhi oleh kedua orang tua Ny J karena mereka masih tinggal satu rumah.
Tn D mengatakan untuk terus berusaha mencari pekerjaan supaya tidak terus bergantung
dengan mertuanya.

VI. Aktifitas
Ny J mengatakan jika aktivitas nya dirumah adalah membereskan rumah,. Tn D sering
membantu pekerjaan rumah dan membantu mertuanya, Tn J juga sering mengikuti pengajian
di lingkungannya. Saat liburan, keluarga nya berkumpul, nonton tv bersama dan terkadang
berlibur ke pantai panajng.

VII. Data Lingkungan


A. Karakteristik rumah
Rumah yang ditempati keluarga merupakan rumah orang tua Ny.J menurut Ny.J rumah
yang ditempatinya belum selesai dibangun bagian belakang.kondisi rumah masih terlihat
berantakan karena baru seminggu yang lalu pasca pernikahan.antara rumah Ny.J dengan
yang lainnya tidak terlalu dekat,berjarak lebih kurang 2 meter. Kondisi ventilasi dirumah
baik dan cukup karena setiap kamar ada jendela atau ventilasinya. Sehingga cahaya yang
masuk cukup dan pertukaran udara sangat cukup.
B. karakteristik lingkungan
Lingkungan dimana keluarga tinggal merupakan tempat hunian yang padat.Jarak antara
satu rumah dengan rumah yang lainnya kurang dari 2 meter.Ny.J mengatakan
tetangganya cukup ramah,baik,dan sangat kompak denagn berbagai kegiatan.mereka
terkadang menghabiskan waktu untuk mengobrol diteras salah satu rumah
VIII. Struktur Keluarga
A. Pola Komunikasi
Kluarga Tn.D mempunyai pola komunikasi yang cukup baik,terbuka,Bila timbul masalah
kelurga berusaha mendiskusikan bersama-sama dan memberikan umpan balik yang
tepat.Dan tidak ada pola komunikasi fungsional yang ditemukan keluarga.
B. Struktur Kekuatan
Tn.D Merupakan pemegang kendali rumah tangga,tetapi apabila berkaitan dengan hal
pengambilan keputusan Tn.D bertanggung jawab untuk mengendalikan masalah dengan
mengambil keputusan secara kompromi dengan Ny.J.
C. Strukur Peran
Tn.D sebagai suami, ia bukan merupakan pencari nafkah satu-satunya karena ia masih
tinggal bersama mertuanya. Tn.D merupakan pemimpin keluarga, sedangkan Ny.J
sebagai istri/ibu rumah tangga. Peran Tn. D di dalam keluarga dilakukan dengan sebaik-
baiknya. Menurut Tn.D ia selalu berusaha menjadi suami yang baik. Tn.D pun tidak
pernah mengambil keputusan sepihak, ia selalu melibatkan Ny.J untuk memberikan
masukan.
IX. Fungsi Keluarga
A. Fungsi afektif
Tn.D dan Ny.J selalu berusahha saling memperlihatkan kasih sayang baik anatar mereka
berdua, maupun orang tua dari ny.Jeni. mereka selalu berusaha menerapkan komunikasi
yang terbuka dalam segala hal,sehingga sampai saat ini jarang terjadi masalah. Mereka
tidak sungkan mengemukakan kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan mereka
B. Fungsi sosialisasi
Ny.J mengatakan bahwa ia dan suaminya hidup bersama dan saling menyesuaikan diri
terhadap peran-peran dan fungsi-fungsi baru yang mereka terima, termasuk peran suami
istri. Dengan lingkungan sekitar, keluarga Tn.D mudah berinteraksi dan beradaptasi
dengan lingkungan. Interaksi dan hubungan dalam keluarga berjalan baik dan harmonis.
Keluarga meyakini akan norma keluarga sesuai dengan norma agama dan adat istiadat
sehingga keluarga tetap dalam keadaan harmonis dan sejahtera. Dalam hal mengatur
kebutuhan rumah tangga diserahkan kepada istri(Ny.J) namun apabila nanti ada masalah
yang sulit dan mendesak, mereka akan membicarakan bersama. Kelaurga mengatakan,
bila nanti mempunyai anak, mereka akan mencoba menerapkan kedisiplinan kepada
semua anak mereka.
C. Fungsi kesehatan
Bagi keluarga Tn.D sehat adalah apabila keluarga dapat melaksanakan seluruh aktivitas
sehari-hari dengan baik tanpa ada gangguan seperti demam, batuk filek, hipertensi, dan
lain-lain. Sampai saat ini, kedua pasangan suami istri belum mengalami
sakit/membutuhkan pelayanan perawatan.
X. Fungsi Reproduksi
Keluarga Tn.D saat ini belum memiliki anak, karena baru 1 minggu menikah. Kedua
pasangan suami istri ini berharap nantinya diberi dua orang anak, tetapi mereka juga
mengatakan terserah kepada Yang Kuasa mau member mereka anak berapa, mereka akan
bahagia.
XI. Fungsi Ekonomi
Saat ini keluarga Tn.D belum memiliki pekerjaan. Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari kedua pasangan ini, masih bergantung kepada orang tua. Sehingga mereka memutuskan
untuk tinggal bersama orangtua Ny.J.
XII. Stress dan Koping Keluarga
A. Stressor jangka panjang dan jangka pendek
Keluarga mengatakan ada stressor saat ini, karena mereka belum mempunyai pekerjaan.
Keluarga mengatakan ada perasaan cemas akan masa depan jika terus-terusan bergantung
kepada mertua/orangtua. Mengingat akan kebutuhan kedepanya akan semakin banyak
seperti membuat rumah sendiri, menyekolahkan anak, dan kebutuhan-kebutuhan lainya,
jadi keluarga sedikit berkecil hati dengan keadaan sekarang ini.
B. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
1. Sistem dukungan keluarga sangat kuat. Keluarga besar saling membantu dalam
menyelesaikan masalah keluarga atau kebutuhan-kebutuhan keluarga saat ini.
2. Tempat tinggal yang memadai, dan sarana kesehatan yang mudah di jangkau oleh
keluarga.
3. Pola komunikasi yang baik dalam keluarga.

C. Strategi koping yang digunakan


Strategi koping yang digunakan adalah berdasarkan pengalaman masa lalu. Keluarga
mengatakan mereka nanti akan menggunakan sistem dukungan sosialnya yaitu dari
keluarga besar dalam membantu mereka pada saat membutuhkan pertolongan
dikemudian hari.
D. Strategi adaptasi disfungsional
Keluarga terutama Ny.J secara telah melakukan adaptasi disfungsional yaitu pada saat
banyak pekerjaan mempersiapkan pernikahan, dia sering lupa makan, dan membiarkan
menunda waktu makan, sehingga terjadi penurunan BB drastic pada Ny.J.
XIII. Pemeriksaan Fisik
Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan kepada keluarga, secara umum kondisi kesehatan
secara fisik, Ny.J mengalami penurunan BB drastic dan Tn.Dedi ada masalah cemas terhadap
masa depan dan ada riwayat merokok.

No
Prosedur Hasil Pemeriksaan
.
1. Pemeriksaan Umum
1. Penampilan Umum Saat ini Tn.D yang berperan sebagai kepala keluarga,
terlihat sehat, cara perpakaian rapi, kebersihan baik,
postur badan sedang,BB;48 kg TB:165 cm, TD:120/80
mmHg,RR:18x/i, ND:70x/i.
Sedangkan Ny.j yang berperan sebagai seorang istri
tampak kurus, berpakaian rapi, kebersihan baik,BB=36
kg, TB=158 cm. TD:110/70mmHg, ND;60x/I,
RR:16x/i.
2. Status mental dan Mental kedua suami istri baik, Status emosi Tn.D dan
cara bicara Ny.J mampu berorientasi dengan baik tanpa hambatan.
Berbicara nyambung dengan apa yang dibicarakan.
II. Pemeriksaan kulit,kuku,dan
rambut.
1. Pemeriksaan kulit Baik pada Tn.D maupun Ny.J, Kulit terlihat bersih,
warna kulit merata dan berwarna putih, turgor kulit
baik, tidak terdapat lesi, dn sensivitas baik.

2. Pemeriksaan rambut dan Pemeriksaan rambut pada Tn.D dan Ny.J yaitu:
kulit kepala Rambut dan kulit kepala terlihat bersih, warna rambut
hitam, tipis, tekstur halus, tidak terdapat lesi di kepala

3. Pemeriksaan kepala Pemeriksaan Kepala pada Tn.D dan Ny.J yaitu: Kuku
bersih, rata dan tidak terdapat kelainan
III. Pemeriksaan kepala dan
leher
1. Pemeriksaan kepala Pemeriksaan pada Tn.D dan Ny.J, Kepala terlihat
simetris, bentuk oval, tidak ada lesi. Tidak ada
kelainan pada arteri temporalis.
2. Pemeriksaan kepala Pemeriksaan pada Tn.D dan Ny.J, Kepala terlihat
simetris, bentuk oval, tidak ada lesi. Tidak ada
kelainan pada arteri temporalis.
3. Pemeriksaan muka Pemeriksaan pada Tn.D dan Ny.J, Wajah terlihat
simetris, warna kulit putih. Distribusi merata sesuai
dengan warna kulit. Kekuatan otot temporan normal,
swnsasi wajah normal
4. Pemeriksaan telinga Pemeriksaan pada Tn.D dan Ny j, Bentuk simetris,
tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan.

5. Pemeriksaan mata Pada Tn.D dan Ny.J Warna konjungtiva normal..

6. Pemeriksaan hidung dan Pada Tn.D dan Ny.J pemeriksaan hidung Normal,
sinus tidak ada lesi maupun cairan.

7. Pemeriksaan mulut dan Pada Tn.d dan Ny.J Warna bibir terlihat normal tidak
tenggorokan terdapat caries pada bagian didepan gigi.

8. Pemeriksaan leher Pada Tn.D dan Ny.J, Normal, tidak ada gangguan
fungsi maupun kelainan anatomis.
IV. Pemeriksaan Dada
1. Syistem pernapasan Pada Tn.D dan Ny.J, RR=Normal (napas 24x/i, tidak
menggunakan otot bantu, tidak terdengar bunyi nafas
tambahan)
2. Syistem kardiovaskular Pada Tn.D dan Ny.J, BJ=Normal, BJ 1 dan BJ 2
terdengar, tidak ada BJ tambahan
V. Pemeriksaan Abdomen Pemeriksaan pada Tn.D dan Ny.J,Bising usus
terdengar normal pada kuadrant atas kanan, turgor baik
VI. Pemeriksaan Ekstremitas. Pada Tn.D dan Ny.J, Tidak ada gangguan fungsi
maupun kelainan anatomis

XIV. Harapan Keluarga


Keluarga sangat berharap kepada team pelayanan kesehatan, agar tidak memandang warna,
jenis kelamin, status social, ekonomi dalam melayani pasien/orang-orang yang butuh
pengobatan. Serta berharap Keluarga mendapatkan pekerjaan secepatnya.
XV. Analisa

Analisa Data pada keluarga Tn.D

No Data Interpretasi Data Masalah


1 Ds : Ketidakmampuan Penurunan berat badan
 Menurut Ny. Jeni pekerjaan mengenal masalah setelah pernikahan
persiapan pernikahan terlalu banyak sehingga terjadi mudah
sehingga sering lupa makan lelah pada keluarga Tn.
 Ny. Jeni mengatakan sekarang ini Dedi irawan khususnya Ny.
mudah lelah\ Jeni
 Ny. Jeni mengatakan terjadi
penurunan BB sebanyak 4 kg dari
40 kg menjadi 36 kg dalam 1 bulan
(selama persiapan pernikahan)
Do :
 BB = 36 kg
 TB = 157 cm
 Ny. Jeni tampak kurus
 Badan tidak idealis
2 Ds : Ketidakmampuan Cemas terhadap masa
 Tn. Dedi mengatakan belum mengambil depan karena belum
memiliki pekerjaan keputusan untuk memiliki pekerjaan pada
 Tn. Dedi mengatakan susah melakukan keluarga Tn.Dedi khusus
mendapatkan pekerjaan dan saat ini tindakan yang tepat nya pada Tn.dedi
terus mencari lowongan pekerjaan
 Tn. Dedi mengatakan ada persaan
khwatir terhadap masa depan
keluarga.
D0 :
 Tn. Dedi ada di rumah pada saat
pengkajian pada jam 2, seharusnya
jam kerja
 Tn. Dedi tampak kecewa karena
belum memiliki pekerjaan
3 Ds : Ketidak mapuan Resiko tinggi terjadinya
 Tn.Dedi mengatakan merokok 1 mengenal masalah penyakit akibat merokok
bungkus sehari kesehatan pada keluarga Tn.Dedi
 Tn.Dedi tidak bisa meninggalkan khususnya Tn.Dedi
kebiasaan merokok
 Tn.Dedi mengatakan tersa seperti
ada yang kurang kalau tidak
merokok
Do :
 Tn.dedi merokok saat dikaji

XVI. Perumusan Diagnosa keperawatan Keluarga


1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehingga terjadi Penurunan berat badan
setelah pernikahan menyebabkan mudah lelah, BB jauh dari rentang ideal pada kelaurga
Tn.D khususnya Ny.J B.d ketidakmampuan mengenal masalah kesehatan.
2. Cemas terhadap masa depan karena belum memiliki pekerjaan pada keluarga Tn.D
khususnya pada Tn.D B.d ketidakmampuan mengambil keputusan untuk melakukan
tindakan yang tepat
3. Resiko tinggi terjadinya penyakit akibat merokok pada Tn.dedi khususnya Tn.dedi B.d
ketidakmampuan mengenal masalah kesehatan
XVII. Intervensi
Diagnosa Intervensi
1. Perubahan nutrisi kurang dari  Diskusikan bersama keluarga penurunan
BB drastic
kebutuhan tubuh sehingga terjadi
 Ajak keluarga untuk menceritakan
Penurunan berat badan setelah penyebab-penyebab lain terjadinya
pernikahan menyebabkan mudah penurunan Bb drastic
 Menjelaskan pada keluarga tanda dan
lelah, BB jauh dari rentang ideal pada gejala akibat penurunan BB drastic.
kelaurga Tn.D khususnya Ny.J B.d  Jelaskan pada keluarga dampak dari
penurunan BB drastic jika berkelanjutan.
ketidakmampuan mengenal masalah  Berikan kesempatan keluarga bertanya.
kesehatan.  Bantu keluarga untuk mengulangi apa
yang telah didiskusikan atau dijelaskan
 Beri pujian atas perilaku yang benar.
2. Cemas terhadap masa depan karena  Diskusikan bersama keluarga tentang
pengertian cemas.
belum memiliki pekerjaan pada
 Jelaskan kepada keluarga dampak akibat
keluarga Tn.Dedi khususnya pada cemas yang berkelanjutan.
Tn.Dedi B.d ketidakmampuab  Jelaskan pada keluarga mengenai tuags
perkembangan keluarga pada tahap ini.
mengambil keputusan untuk  Jelaskan pada keluarga masalah-masalah
melakukan tindakan yang tepat yang terjadi pada tahap perkembangan
keluarga saat ini.
 Beri kesempatan pada keluarga untuk
bertanya.
 Bantu keluarga untuk mengulangi apa
yang telah didiskusikan atau dijelaskan.
 Beri pujian untuk perilaku yang benar
3. Resiko tinggi terjadinya penyakit  Diskusikan bersama keluarga tentang
pengertian ketergangungan.
akibat merokok pada Tn.dedi
 Jelaskan pada keluarga tentang penyebab
khususnya Tn.dedi B.d seseorang merokok: karena pengaruh
ketidakmampuan mengenal masalah keluarga, teman, atau karena
kepribadiannya.
kesehatan  Beri kesempatan keluarga untuk bertanya
tentang hal yang tidak dimengerti.
 Bimbing keluarga untuk mengulangi apa
yang telah didiskusikan atau dijelaskan.
 Beri pujian atas kemampuan keluarga
menyebutkan kembali apa yang telah
dijelaskan atau didiskusikan.
DAFTAR PUSTAKA

Rahmaita, R., Pranaji, D. K., & Yuliati, L. N. (2016). Pengaruh Tugas Perkembangan Keluarga
terhadap Kepuasan Perkawinan Ibu yang Baru Memiliki Anak Pertama. Jurnal Ilmu
Keluarga Dan Konsumen, 9(1), 1–10. https://doi.org/10.24156/jikk.2016.9.1.1
Saidiyah, S., & Julianto, V. (2017). Problem Pernikahan Dan Strategi Penyelesaiannya: Studi
Kasus Pada Pasangan Suami Istri Dengan Usia Perkawinan Di Bawah Sepuluh Tahun.
Jurnal Psikologi Undip, 15(2), 124. https://doi.org/10.14710/jpu.15.2.124-133
Tyas, F. P. S., Herawati, T., & Sunarti, E. (2017). Tugas Perkembangan Keluarga dan Kepuasan
Penikahan pada Pasangan Menikah Usia Muda. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen,
10(2), 83–94. https://doi.org/10.24156/jikk.2017.10.2.83

Bagir, Haidar. 2010. Surga Dunia, Surga di Akhirat: Kiat – Kiat Praktis Merawat
Perkawinan. Bandung: Penerbit Mizania
Cahyono, Suharjo B. 2010. Vaksinasi Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta:
KANISIUS
Ferry Efendi & Makhfudli. 2010. Keperawatan Kesehatan komunitas Teori dan Praktik
dalam Keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Fitantra. Bayu. 2013. Antenatal care Konseling Prekonsepsi.
http://www.medicinesia.com/kedokteran-klinis/reproduksi/antenatal-care-anc-
konseling-prekonsepsi-pentingnya-persiapan-kehamilan/. Diakses pada 4 April
2020
Friedman. 2002. Keperawatan Keluarga, Riset, Teori, dan Praktik. Jakarta : EGC
Carpenito, Lynda J-Moyet. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed.13. Jakarta: EGC
L, Jhonson & Leny. R. 2010. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Nuha Medika
Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Graha ilmu
Suprajitno. 2003. Asuhan Keperawatan Keluarga: Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC
Zaidin, Ali. 2009. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC