Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH EDUKASI

PENGGUNAAN OBAT ANTI DIABETIK ORAL (OAD) DAN PENGGUNAAN INSULIN


DENGAN BENAR, SERTA PENANGANAN HIPOGLIKEMIA DAN HIPERGLIKEMIA
KEPADA PASIEN DIABETES MELLITUS PADA POLI PENYAKIT DALAM DI
RUMAH SAKIT
ANGKATAN LAUT DR. RAMELAN

Disusun oleh:
Dian Nugra Nuzulul Fitri
Eka Putri Minanga
Fatimah Shila Hasan
Nikmatur Rohmah
Titi Annisa Bella

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2020
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan endokrin kronis, ditandai dengan hiperglikemia
akibat gangguan sekresi insulin atau gangguan kerja dari insulin. Diabetes mellitus
diklasifikasikan berdasarkan 2 jenis yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Diabetes
Mellitus tipe 1 lebih diakibatkan oleh karena berkurangnya sekresi insulin akibat kerusakan
sel β-pankreas. Diabetes Mellitus Tipe 2 lebih diakibatkan oleh karena ganguan fungsi
insulin (resistensi insulin) (WADA, 2015). Diabetes Mellitus ditandai dengan kadar glukosa
darah melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl,
dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl. Keluhan khas DM yaitu
poliuria, polidipsia, polifagia dan keluhan lainnya seperti kesemutan, gatal, mata kabur, dan
impotensia pada pria, prioritis vulva pada wanita. Pada penyakit DM dapat terjadi beberapa
penyulit yaitu penyulit akut berupa hipoglikemia dengan gejala berdebar, banyak keringat,
gemetar, dan rasa lapar. Penyulit menahun seperti macroangiopati yaitu penyempitan
pembuluh darah besar seperti pada penyakit jantung coroner, dan mikroangiopati
(penyempitan pembuluh darah kapiler) jika pada retina mata disebut retinopati diabetik dan
jika pada ginjal disebut nefropati diabetik, jika terjadi kelainan urat saraf akibat DM disebut
neuropati diabetik (Misnadiarly, 2006).
Menurut WHO pada tahun 1980 penderita diabetes mellitus telah meningkat dari 108 juta
menjadi 422 juta pada tahun 2014. Diabetes adalah penyebab utama kebutaan, gagal ginjal,
serangan jantung, stroke, dan amputasi tungkai bawah. Pada tahun 2016, diperkirakan 1,6
juta kematian disebabkan oleh diabetes. Hampir setengah dari semua kematian yang
disebabkan oleh hiperglikemia terjadi sebelum usia 70 tahun. WHO memperkirakan bahwa
diabetes adalah penyebab utama ketujuh kematian pada tahun 2016 (WHO, 2018).
Di Indonesia prevalensi DM berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥ 15
tahun hasil Riskesdas 2018 meningkat menjadi 2%. Prevalensi DM berdasarkan diagnosis
dokter dan usia ≥ 15 tahun yang terendah terdapat di Provinsi NTT, yaitu sebesar 0,9%,
sedangkan prevalensi DM tertinggi di Provinsi DKI Jakarta sebesar 3,4% (Pusat Data dan
Informasi Kemenkes RI, 2019). Data Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) menunjukkan
bahwa prevalensi pasien diabetes provinsi Jawa Timur masuk 10 besar se-Indonesia dengan
prevalensi 6,8% dan Surabaya adalah prevalensi DM tertinggi di provinsi Jawa Timur
(Kominfo Jatim, 2015).
DM merupakan penyakit menahun. Untuk mengontrol kadar glukosa darah, pasien
diberikan terapi. Terapi untuk pasien DM seperti Obat Anti Diabetik oral dan pemberian
insulin harus digunakan dengan tepat untuk meningkatkan efektivitas dan menghindari
risiko efek samping dan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD).
Case study pada jurnal American Diabetes Association seorang wanita berusia 58 tahun
terkadang "mengambil sedikit lebih banyak" insulin ketika hasil pembacaan glukosa darah
tinggi yang diinisiasi sendiri tanpa anjuran dokter (Yarborough P et al, 2003). Sebagai
kesimpulan bahwa masih ada pasien DM yang belum terlalu memahami mengenai terapi
yang diberikan.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perlu dilakukan edukasi terkait
penggunaan Obat Anti Diabetik oral (OAD), penggunaan insulin dengan benar, dan
penanganan hipoglikemia dan hiperglikemia kepada pasien dan keluarga di Poli penyakit
dalam di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan khususnya pasien diabetes mellitus.

1.2 Tujuan
1. Pasien dan keluarga di Poli penyakit dalam di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr.
Ramelan khususnya pasien diabetes mellitus dapat memahami penggunaan Obat Anti
Diabetik oral (OAD)
2. Pasien dan keluarga di Poli penyakit dalam di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr.
Ramelan khususnya pasien diabetes mellitus dapat memahami penggunaan insulin
dengan benar
3. Pasien dan keluarga di Poli penyakit dalam di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr.
Ramelan khususnya pasien diabetes mellitus dapat memahami penanganan
hipoglikemia dan hiperglikemia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Definisi Diabetes Mellitus


Diabetes mellitus merupakan suatu gangguan metabolic yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresi insulin dan
kerja insulin (Smeltzer et al, 2013). Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit yang
ditandai dengan kadar glukosa di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan
atau menggunakan insulin secara adekuat. Kadar glukosa darah setiap hari bervariasi, kadar
gula darah akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar
glukosa darah normal pada pagi hari sebelum makan atau berpuasa adalah 70-110 mg/dL
darah. Kadar gula darah normal biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah
makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun mengandung karbohidrat (Irianto,
2015).

2.2 Macam-macam Obat Anti Diabetik Oral (OAD)


Berdasarkan cara kerjanya, obat antihiperglikemia oral dibagi menjadi 5 golongan:
1. Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue)
a) Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel
beta pankreas. Efek samping utama adalah hipoglikemia dan peningkatan berat
badan. Hati-hati menggunakan sulfonilurea pada pasien dengan risiko tinggi
hipoglikemia (orang tua, gangguan faal hati, dan ginjal).
b) Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan
penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri
dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid
(derivat fenilalanin). Obat ini diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara
oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat mengatasi
hiperglikemia post prandial. Efek samping yang mungkin terjadi adalah
hipoglikemia.
2. Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin
a) Biguanida (contoh Metformin)
Metformin mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), dan memperbaiki ambilan glukosa di jaringan perifer.
Metformin merupakan pilihan pertama pada sebagian besar kasus DMT2. Dosis
Metformin diturunkan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (GFR 30- 60
ml/menit/1,73 m2 ). Metformin tidak boleh diberikan pada beberapa keadaan
sperti: GFR<30 mL/menit/1,73 m2, adanya gangguan hati berat, serta
pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit
serebrovaskular, sepsis, renjatan, PPOK,gagal jantung [NYHA FC III-
IV]). Efek samping yang mungkin berupa gangguan saluran
pencernaanseperti halnya gejala dispepsia.

b) Tiazolidindion (TZD).
Tiazolidindion merupakan agonis dari Peroxisome Proliferator Activated
Receptor Gamma (PPAR-gamma), suatu reseptor inti yang terdapat antara lain di
sel otot, lemak, dan hati. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi
insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga
meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer. Tiazolidindion meningkatkan
retensi cairan tubuh sehingga dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal
jantung (NYHA FC III-IV) karena dapat memperberat edema/retensi cairan. Hati-
hati pada gangguan faal hati, dan bila diberikan perlu pemantauan faal hati secara
berkala. Obat yang masuk dalam golongan ini adalah Pioglitazone.

3. Penghambat Absorpsi Glukosa di saluran pencernaan:


a) Penghambat Alfa Glukosidase.
Obat ini bekerja dengan memperlambat absorbsi glukosa dalam usus
halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah
makan. Penghambat glukosidase alfa tidak digunakan pada keadaan:
GFR≤30ml/min/1,73 m2 , gangguan faal hati yang berat, irritable bowel
syndrome. Efek samping yang mungkin terjadi berupa bloating (penumpukan gas
dalam usus) sehingga sering menimbulkan flatus. Guna mengurangi efek samping
pada awalnya diberikan dengan dosis kecil. Contoh obat golongan ini adalah
Acarbose.
4. Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl PeptidaseIV)
Obat golongan penghambat DPP-IV menghambat kerja enzim DPP-IV
sehingga GLP-1 (Glucose Like Peptide-1) tetap dalam konsentrasi yang tinggi
dalam bentuk aktif. Aktivitas GLP-1 untuk meningkatkan sekresi insulin dan
menekan sekresi glukagon bergantung kadar glukosa darah (glucose dependent).
Contoh obat golongan ini adalah Sitagliptin dan Linagliptin. e. Penghambat
SGLT-2 (Sodium Glucose Cotransporter
5. Obat golongan penghambat SGLT-2
Merupakan obat antidiabetes oral jenis baru yang menghambat penyerapan
kembali glukosa di tubuli distal ginjal dengan cara menghambat kinerja
transporter glukosa SGLT-2. Obat yang termasuk golongan ini antara lain:
Canagliflozin, Empagliflozin, Dapagliflozin, Ipragliflozin. Dapagliflozin baru saja
mendapat approvable letter dari Badan POM RI pada bulan Mei 2015.
Tabel 2.1 Profil obat antihiperglikemia oral yang tersedia di Indonesia
Tabel 2.2 Obat antihiperglikemia oral
2.3 Insulin
2.3.1 Insulin diperlukan atau digunakan pada keadaan (Perkeni, 2015):
a. Jika nilai HbA1C > 9% dengan kondisi dekompensasi metabolik.
b. Terjadi penurunan berat badan yang cepat.
c. Kondisi hiperglikemia berat disertai ketosis.
d. Krisis hiperglikemia.
e. Gagal dengan pengobatan/terapi OHO dosis optimal.
f. Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut dan stroke).
g. Kehamilan dengan DM/Diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali.
h. Gangguan fungsi ginjal atau gangguan hati berat.
i. Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO.
j. Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi.

2.3.2 Jenis dan Lama Kerja Insulin (Perkeni, 2015):


Berdasarkan lama kerja, insulin dibagi menjadi 5 jenis yaitu insulin kerja cepat
(Rapid acting insulin), insulin kerja pendek (Short acting insulin), insulin kerja
menengah (Intermediate acting insulin), Insulin kerja panjang (Long acting insulin),
insulin kerja ultra panjang (Ultra long acting insulin), insulin campuran tetap yaitu
dengan kerja pendek dengan menengah dan kerja cepat dengan menengah (Premixed
insulin). Berikut ini adalah tabel jenis dan lama kerja insulin (Perkeni, 2015:
No Jenis Insulin Contoh Nama Dagang Onset Waktu Waktu
. kerja penggunaan
1. Insulin kerja Insulin Lispro Humalog 5-15 4-6 jam Disuntikkan
cepat Insulin Aspart Novorapid menit 5-10 menit
(Rapid acting) Insulin Apidra sebelum
Glulisin makan
2. Insulin kerja Insulin reguler Humulin R 30-60 6-8 jam Disuntikkan
pendek Actrapid menit 30 menit
(Short acting) sebelum
makan
3. Insulin kerja NPH Humulin N 1,5-4 8-12 jam Disuntikkan
menengah Insulatard jam sebelum tidur
(Intermediate Insuman basal yang
acting) berfungsi
sebgi insulin
basal
4. Insulin kerja Insulin glargin Lantus 1-3 12-24 Disuntikkan
panjang Insulin detemir Levemir jam jam sebelum tidur
Lantus 300 Lantus 300
(Long acting) yang
berfungsi
sebgi insulin
basal
5. Insulin campuran 70% NPH, 70/30 Humulin 12-30 Disuntikkan
(Human 30% reguler menit pada saat
premixed) 70% NPH, 70/30 Mixtard makan atau
30% reguler segara setelah
75% protamin 75/25 makan
lispro, 25% humalogmix
lispro
70% protamine 70/30 novomix
aspart, 30%
aspart

2.3.3 Analogue Insulin dan Human Insulin


Human insulin diproduksi oleh teknologi DNA rekombinan dan identik dengan
insulin yang diproduksi secara endogen. Human insulin tersedia dalam dua bentuk yaitu
short acting (regular) dan intermediate acting (NPH). Beberapa contoh human insulin:
1. Regular (short acting): Humulin S, Actrapid, Insuman Rapid
2. NPH (intermediate acting): Humulin I, Insuman basal, Insulatard
3. Premixed human insulins: Humulin M2, M3 and M5, Insuman Comb 15, 25 and
50
Primexed human insulin terdiri dari campuran insulin reguler dan NPH. Premixed
insulins sebelumnya tersedia dalam sejumlah rasio pencampuran yang berbeda.
Misalnya Humulin M3 adalah dari 30% short-acting dan 70% intermediate acting,
sedangkan Humulin M5 terdiri dari 50% dari short-acting dan intermediate acting.
Insulin short-acting (reguler) mulai bekerja sekitar 30 menit setelah injeksi, dengan aksi
puncaknya terjadi antara 2 dan 3 jam setelah injeksi. Durasi hingga 10 jam.Insulin
intermediate acting (NPH) membutuhkan sekitar 2 hingga 4 jam untuk mulai bertindak,
memiliki aktivitas puncak antara 4 dan 10 jam dan memiliki durasi hingga 18 jam.
Analogue insulin adalah sub-group human insulin, tersedia dalam dua bentuk
yaitu, rapid-acting dan long-acting. Contoh insulin analog
1. Rapid acting: Humalog, NovoRapid
2. Long acting: Lantus, Levemir, Tresiba
3. Premixed analogue insulins: Humalog Mix 25, Humalog Mix 50, NovoMix
Premixed analogue insulin adalah penggabungan rapid-acting dan long-acting,
Misalnya, Humalog Mix 25 terdiri dari 25% rapid-acting dan long-acting 75%.

2.3.4 Farmakodinamik
Farmakodinamik insulin reguler utamanya ditujukan untuk mengatur metabolisme glukosa.
Insulin dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan cara menstimulasi ambilan/uptake glukosa
darah di perifer dan menghambat produksi glukosa oleh hepar. Selain daripada itu, insulin juga
menghambat proses lipolisis dan proteolysis, serta meningkatkan sintesis protein. Target organ
insulin adalah pada jaringan otot skeletal, hepar, dan jaringan adiposa.
Insulin memiliki efek dose-dependent, yaitu semakin besar dosis akan menyebabkan
keterlambatan untuk mencapai kadar puncak dan meningkatkan lama kerjanya.

2.3.5 Farmakokinetik
Aspek famakokinetik insulin reguler cukup baik. Absorpsi melalu injeksi subkutan di abdomen
diabsorpsi dengan cepatdan baik. Metabolisme insulin reguler terjadi di hepar, ginjal, dan
jaringan adipose atau otot, sedangkan eliminasinya terutama di urin.
1. Absorpsi
Insulin reguler biasanya disuntikkan sekitar 30 menit (kisaran 20─45 menit) sebelum makan
dengan tujuan untuk mengatasi kadar gula darah yang meningkat setelah makan. Cara
penyuntikkan yang disarankan adalah secara subkutan di abdomen karena absorpsi dengan
cara tersebut dua kali lebih cepat daripada daerah tubuh lainnya. Insulin reguler sediaan 100
UI diabsorpsi lebih cepat dibandingkan sediaan 500 UI dengan bioavailabilitas sekitar
55─77% per subkutan. Konsentrasi puncak insulin reguler dalam plasma terjadi setelah 30
menit, selama dua jam, kemudian aktivitasnya akan menurun dan berakhir 3─4 jam
kemudian.
Rute injeksi insulin reguler secara intravena memiliki onset 10─30 menit, dengan
waktu puncak dicapai dalam 15─30 menit dan lama kerja 30─60 menit. Sedangkan rute
injeksi insulin reguler secara subkutan memiliki onset 30─60 menit, dengan waktu puncak
dicapai dalam 2─4 jam, dan lama kerja 5─7 jam.
2. Distribusi
Volume distribusi insulin reguler sama dengan insulin endogenus, yaitu sebanding
dengan volume cairan ekstraseluler, atau sekitar 0,26─0,36 L/kgBB. Insulin reguler beredar di
plasma sebagai monomer bebas yang akan berdifusi ke dalam jaringan dan dapat menembus
sawar darah otak (blood-brain barrier).
3. Metabolisme
Metabolisme insulin reguler terjadi di hepar sebanyak 50─60%, di ginjal sebanyak
35─45%, dan pada jaringan adiposa atau otot sebanyak 20%. Waktu paruh biologis insulin
reguler adalah 30 – 60 menit.
4. Eliminasi
Eliminasi insulin reguler utamanya diperantarai oleh hepar dan ginjal. Normalnya, hepar
mendegradasi 50-60% insulin yang diproduksi pankreas ke vena porta, kemudian ginjal 35-45%
sisanya lalu diekskresikan melalui urin. Namun, apabila insulin dimasukkan secara eksogen,
seperti pada penggunaan insulin reguler, profil degradasi akan berubah karena insulin tidak lagi
melewati vena porta, sehingga mayoritas eliminasi akan dilakukan melalui ginjal. Karena ginjal
memiliki peran dalam proses eliminasi insulin, maka gangguan fungsi ginjal akan munurunkan
klirens insulin dan memperpanjang efeknya.

2.4 Teknik Injeksi Insulin


1. Perangkat pen insulin seharusnya dalam kondisi baik dengan posisi jarum yang menunjuk
ke atas; aliran insulin perlu diamati di ujung jarum tiap sebelum penyuntikan kemudian
diatur dosis sesuai kebutuhan pasien lalu diinjeksikan
2. Tiap perangkat pen dan cartridge hanya untuk satu pasien dan tidak boleh digunakan
secara bergantian dengan pasien lain, risiko kontaminasi silang.
3. Jarum pen sebaiknya hanya digunakan 1x untuk menurunkan risiko kerusakan kulit,
penyumbatan jarum, komplikasi (lipohipertrofi, abses), serta ketidaktepatan dosis.
4. Setelah menekan tombol pen, pasien perlu menghitung (± 10 detik) sebelum menarik
jarum agar dosis penuh dan mencegah kebocoran. Hitungan bisa > 10 jika dosis lebih
besar.
5. Perangkat pen yg dilengkapi dengan dose window perlu dicek tiap kali selesai
penyuntikan; harusnya terlihat angka “0” jika dosis yg disuntikkan sesuai. Jika angka yg
terlihat selain “0”, artinya dosis insulin yang sesungguhnya belum disuntikkan
6. Jarum harus segera dibuang dengan aman setelah pemakaian dan tidak dibiarkan tetap
terpasang di pen insulin.
Penyuntikan dengan panjang jarum lebih pendek (4 mm, 5 mm, 6 mm) sebaiknya
diberikan pada pasien dewasa dengan sudut 90o terhadap permukaan kulit.
Pencubitan kulit untuk mencegah injeksi i.m di lengan atau perut yang kurus, bahkan
ketika digunakan jarum lebih pendek.
Jika menggunakan jarum 8 mm penyuntikan dilakukan pada cubitan kulit dengan
posisi 90o (lihat gambar 4).
Untuk mencegah penyuntikan secara I.M pasien kurus disuntik pada cubitan kulit
dengan posisi 45o (lihat gambar 5). Metode ini juga dilakukan pada penyuntikan
menggunakan jarum 6 mm, terutama untuk pasien kurus.

Penyuntikan Subkutan (S.C)


Jika penyuntikan dilakukan secara benar, jaringan di bawah kulit (s.c) tampak normal,
insulin tidak disuntikkan terlalu dalam. Jika ada darah dan/atau memar di area kulit bekas
suntikan, kapiler minor telah tertusuk jarum, tanpa menyebabkan efek absorpsi insulin

2.5 Efek Samping Insulin


Hipoglikemia adalah suatu keadaan kadar gula menurun hingga <70mg/dl dengan dan
tanpa gejala pada organ, pada keadaan hipoglikemia seseorang mungkin akan
mengalami gejala seperti pucat, takikardi, widened pulse pressure, hipotermia, dan
hingga paling berat adalah kejang dan koma. Pengawasan kadar glukosa pada pasien
hipoglikemia harus dilakukan paling sedikit 1-3 hari, pengawasan glukosa juga dapat
dilakukan pada pasien hipoglikemia dengan komplikasi gagal ginjal kronis dan yang
mendapatkan terapi obat hipoglikemia oral contoh sulfonil urea. hipoglikemia paling
sering disebabkan oleh penggunaan insulin dan obat anti diabetes golongan sulfonil urea
(PERKENI, 2015).
Hipoglikemia dapat dibagi menjadi lima jenis berdasarkan keparannya :
1. Hipoglikemia berat : Biasanya pasien harus dibantu orang lain untuk intake
karbohidrat, glukagon dan resusitasi cairan
2. Hipoglikemia simtomatik : yaitu kadar gula darah sewaktu <70mg/dl yang juga
disertai dengan gejala hipoglikemia seperti pucat, gemetar, takikardi
3. Hipoglikemia asimtomatik : ditandai dengan kadar gula sewaktu <70 mg/dl tanpa
disertai gejala hipoglikemia
4. Hipoglikemia relatif : jika kadar gula darah sewaktu >70mg/dl dengan gejala
hipoglikemia
5. Probable hipoglikemia apabila ada gejala hipoglikemia tanda pemeriksaan GDS
(PERKENI, 2015).
2.6 Penanganan Efek Samping Insulin
Rekomendasi penanganan hipoglikemia menurut konsensus dibagi menjadi dua
berdasarkan ringan dan berat nya hipoglikemia
Hipoglikemia ringan
1. Pemberian konsumsi makanan tinggi glukosa/ karbohidrat sederhana seperti
nasi atau roti. Dapat juga diberikan glukosa murni merupakan pilihan utama
karena dapat menaikkan kadar gula darah dengan cepat, namun bentuk
karbohidrat lain yang berisi glukosa juga efektif untuk menaikkan glukosa
darah.
2. Mengurangi makanan yang mengandung lemak karena dapat memperlambat
respon kenaikkan glukosa darah.
3. Glukosa yang dibutuhkan adalah 15–20g (2-3 sendok makan) yang dilarutkan
dalam air adalah terapi pilihan pada pasien dengan hipoglikemia yang
masih sadar
4. Pemeriksaan glukosa darah dengan glukometer harus dilakukan setelah 15
menit pemberian upaya terapi. Jika setelah monitoring glukosa darah
hipoglikemia masih tetap ada, pengobatan dapat diulang kembali. Namun
Jika hasil pemeriksaan glukosa darah kadarnya sudah mencapai normal,
pasien diminta untuk makan atau mengkonsumsi snack untuk mencegah
berulangnya hipoglikemia (PERKENI, 2015).

Hipoglikemia berat
1. Pada hipoglikemia berat bisa disertai Neuroglikopenia, Jika didapat gejala
neuroglikopenia, terapi parenteral diperlukan berupa pemberian cairan
dekstrose 20% sebanyak 50 cc (bila terpaksa bisa diberikan dextore 40%
sebanyak 25 cc), diikuti dengan infus D5% atau D10%.
2. Cek glukosa darah 15 menit setelah pemberian i.v tersebut. Bila kadar
glukosa darah belum mencapai target, dapat diberikan ulang pemberian
dextrose 20% sebanyak 50cc.
3. Dilakukan monitoring glukosa darah setiap 12 jam kalau masih terjadi
hipoglikemia berulang pemberian Dekstrose 20% sebanyak 50cc secara i.v
dapat diulang kembali
4. Lakukan evaluasi terhadap pemicu utama hipoglikemi berat (PERKENI,
2015).

2.7 Tanda Hipoglikemia


Hipoglikemia menghasilkan gejala-gejala yang khas akibat aktivitas sistem saraf pusat
dan disertai neuroglikopenia yaitu irritabilita, kebingungan, sulit berpikir, sulit berbicara,
ataxia, parestesia, sakit kepala, stupor, jika hipoglikemia sangat berat bisa kejang dan
koma (PERKENI, 2015). Gejala hipoglikemia dibagi menjadi tiga fase yaitu fase sub
luminal dengan kadar gula darah 60-50mg/dl mengakibatkan rasa lapar dan lemas. Fase
aktivasi dengan kadar gula darah 50-20mg/dl yang ditandai dengan palpitasi, keringat
dingin, tremor, mual dan muntah. Fase gangguan neurologi dengan kadar gula darah <20
mg/dl yang mengakibatkan gangguan sungsi otak, pusing, pandangan kabur, gangguan
kesadaran dan pola pikir, dan pingsan.

2.8 Hiperglikemia
a. Definisi Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa
dalam darah melebihi batas normal. Hiperglikemia merupakan salah satu tanda khas
penyakit diabetes mellitus (DM), meskipun juga mungkin didapatkan pada beberapa
keadaan yang lain.
b. Penyebab Hiperglikemia
Menurut Smeltzer & Bare (2003), Hiperglikemia dapat terjadi pada penderita Diabetes
dan Non Diabetes dengan etiologi sebagai berikut
1. Dosis insulin tidak tepat
2. Asupan makanan ber>>an
3. Aktivitas <<
4. Stress (fisik maupun emosional)
5. Infeksi
c. Tatalaksana Hiperglikemia
Kadar Gula Darah Regulasi Cepat Intravena Regulasi Cepat Subkutan
(sebelum RC) (Rumus Minus Satu) (Maintenance) (Rumus kali
2)
200 – 300 1 x (@ 4 unit/jam) 3 x 4 Unit
300 – 400 2 x (@ 4 unit/jam) 3 x 6 unit
400 – 500 3 x (@ 4 unit/jam) 3 x 8 unit
500 – 600 4 x (@ 4 unit/jam) 3 x 10 Unit
600 – 700 5 x (@ 4 Unit/jam) 3 x 12 Unit

2.9 Diabetes dengan Ibadah Puasa


Jika pasien diabetes melitus berkeinginan menjalankan ibadah puasa ramadhan, maka
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Satu-dua bulan sebelum menjalankan ibadah puasa, sebaiknya pasien melakukan
pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi kada glukosa darah, tekanan
darah dan kadar lemak darah sekaligus menentukan resiko yang akan terjadi jika
pasien berpuasa.
2. Sebaiknya pasien memantau kadar glukosa darah secara teratur, terutama pada
pertengahan hari dan menjelang berbuka puasa.
3. Pasien disarankan untuk tidak melakukan ibadah puasa jika merasa tidak sehat.
4. Perlu dilakukan penyesuaian dosis serta jadwal pemberian obat/insulin oleh dokter.
5. Hindari melewatkan waktu makan atau mengkonsumsi karbohidrat atau minuman
manis secara berlebihan untuk menghindari terjadinya hiperglikemia post pandrial
yang tidak terkontrol.
6. Menghindari aktivitas fisik yang berlebihan, terutama saat menjelang buka puasa.
7. Segera membatalkan puasa jika kadar glukosa darah < 60 mg/dl (3.3 mmol/L).
Pertimbangan membatalkan puasa jika kadar glukosa darah < 80 mg/dl (4.4 mmol/L)
atau glukosa darah meningkat sampai lebih dari 300 mg/dl untuk menghindari
terjadinya ketoasidosis diabetikum.

BAB 3
METODE
3.1 Sasaran
Pasien dan keluarga di Poli penyakit dalam
3.2 Metode
Metode yang digunakan yaitu ceramah/penyuluhan. Mekanisme penyuluhan yaitu
dengan memberikan pre test diawal sesi dan post test di akhir sesi guna mengetahui tingkat
pemahaman pasien terkait materi yang diberikan. Pemberian materi diberikan secara lisan
dengan media bantu yaitu power point dan leaflet, mayoritas berisi dengan gambar dan
kalimat efektif sebagai komponen media yang efektif dalam mendukung pemahaman pasien
terkait materi yang disampaikan.
3.3 Sarana
Power point, leaflet
3.4 Materi
1. Macam-macam jenis insulin
2. Tanda-Tanda Hipoglikemia dan Hiperglikemia
3. Macam-macam OAD(Obat AntiDiabetes)
4. Mekanisme kerja obat AntiDiabetes
3.5 Kegiatan penyuluhan
Waktu Kegiatan
08.30 – 09.00 Pengkondisian ruangan, penyiapan layar,
proyektor, dan berkas administrasi seperti absensi
peserta, leaflet
09.05 – 09.10 Pembukaan
09.10 – 09.20 Pre Test
09.20 – 09. 40 Penyampaian materi oleh mahasiswa PKP
Apoteker Universitas Brawijaya
09.41 – 10.00 Tanya jawab
10.01 – 10.05 Post test
10.06 – 10.15 Pengkondisian kembali ruangan, mengembalikan
peralatan yang digunakan

3.6 Evaluasi
Evaluasi program edukasi ini yaitu dengan menilai peningkatan nilai dari post test
dibandingkan pre test. Kategori evaluasi pemahaman pasien sebagai berikut:
Nilai Kategori
0-59 Kurang
60-79 Cukup
80-100 Baik

3.7 Kuesioner
Identitas Responden
Nama :
Usia :
Jenis kelamin : P/L
HDaftar Kuesioner
Berilah tanda (✓) pada setiap pernyataan sesuai dengan jawaban yang dianggap benar.

No Pernyataan Benar Salah


.
1. Insulin Humalog/Novorapid/Apidra digunakan setelah
makan.
2. Hiperglikemia adalah terjadinya peningkatan kadar
gula darah di atas normal ditandai dengan gejala
seperti sering buang air kecil, rasa haus dan lapar
meningkat.
3. Tanda-tanda terjadinya penurunan kadar gula darah
dibawah nilai normal yaitu lemas, pusing, keringat
dingin.
4. Ketika terjadi penurunan kadar gula darah dibawah
nilai normal , dapat diatasi dengan minum teh manis.
5. Obat Metformin diminum sebelum makan.
6. Mekanisme kerja obat Glibenclamide yaitu dengan
meningkatkan sekresi insulin.
Daftar Pustaka

Donner, T., Insulin –Pharmacology, Therapeutic Regimens and Principles of Intensive


Insulin Therapy [Updated 2015 Oct 12], in Endotext [Internet], L.J. De Groot, G.
Chrousos, and K. Dungan, Editors. 2000, MDText.com, Inc.: South Dartmouth
(MA).

Kominfo Jatim. 2015. Prevalensi Diabetes di Jatim, (Online),


(http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/masih-tinggi-prevalensi-diabetes-di-
jatim- diakses pada tanggal 26 Februari 2020)
Misnadiarly. 2006. Diabetes Mellitus. Edisi 1, Pustaka Populer Obor, Jakarta.
PERKENI (2015). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus tipe 2 di
Indonesia. Jakarta. PB PERKENI.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2019. Hari Diabetes Sedunia, Jakarta,
hal.5
World Anti-Doping Program. 2015. TUE Physician Guidelines Medical Information to
Support the Decisions of TUE Committees Diabetes Mellitus, hal 1.
WHO. 2018. Diabetes, (Online), (https://www.who.int/news-room/fact-
sheets/detail/diabetes, diakses pada tanggal 26 Februari 2020).
Yarborough P., PharmD, MS, BC-ADM, CDE, FAPP, FASHP, NAP., Case Study: A Patient
With Type 2 Diabetes Working With an Advanced Practice Pharmacist to Address
Interacting Comorbidities. American Diabetes Association, 2003.

Lampiran
Leaflet