Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH FILSAFAT IPA

“SARANA BERPIKIR ILMIAH: BAHASA, MATEMATIKA, DAN


STATISTIKA”

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. I Ketut Mahardika, M.Si

Oleh:
Leni Eka Putri (170210104043)
Hilma Nurbayanti (170210104059)
Anisa Putri Dianti (170210104061)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2020
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, yang


senantiasa selalu melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya kepada kita semua.
Shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta
sahabat, kerabat dan orang-orang yang mengikuti langkah beliau hingga akhir
zaman. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“Sarana Berpikir Ilmiah: Bahasa, Matematika, dan Statistika”.
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan dalam
rangka memperbanyak ilmu pengetahuan dan juga sebagai salah satu syarat yang
wajib di penuhi. Penyusun sepenuhnya sangat menyadari bahwa penulisan
makalah ini masih banyak kekurangannya di sebabkan keterbatasan pengetahuan
penyusun oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini yang akan
datang.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga makalah yang sederhana ini
dapat bermanfaat bagi diri penyusun dan juga bermanfaat bagi orang lain.

Jember, 24 April 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................... i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
Bab 1. Pendahuluan........................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan......................................................................................................... 2
Bab 2. Pembahasan......................................................................................... 3
2.1 Pengertian sarana berpikir ilmiah............................................................... 3
2.2 Tujuan sarana berpikir ilmiah..................................................................... 4
2.3 Fungsi sarana berpikir ilmiah..................................................................... 4
2.4 Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah........................................................ 5
2.5 Matematika sebagai sarana berpikir ilmiah................................................ 7
2.6 Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.................................................... 9
Bab 3. Penutup................................................................................................ 10
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 10
3.2 Saran........................................................................................................... 10
Daftar Pustaka................................................................................................ 11

ii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia makhluk yang berakal, akal membedakan manusia dengan makhluk
lainnya, seperti hewan dan tumbuhan bahkan jin dan malaikat. Manusia
mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan hidupnya dalam kehidupan
sehari-hari dengan menggunakan akalnya. Manusia dapat membuat peralatan
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemampuan manusia membuat peralatan
bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan begitu saja, tetapi telah melalui proses
pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui menjadi dasar bagi
pembentukan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki manusia
dapat membuat peralatan tersebut.
Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman untuk membuat alat
menyebabkan manusia terus mengembangkan pengetahuannya, untuk
mengembangkan pengetahuannya tersebut dibutuhkan juga alat. Alat yang baik
memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan baru melalui aktivitas berpikir
yang benar. Berpikir benar memerlukan sarana atau alat berpikir. Sarana ini
bersifat pasti, maka aktivitas keilmuan tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir
ilmiah tersebut. Bagi seorang ilmuwan penguasaan sarana berpikir merupakan
suatu keharusan, karena tanpa penguasaan sarana ilmiah tidak akan dapat
melaksanakan kegiatan ilmiah yang baik (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM,
2010:97). Penguasaan sarana ilmiah sangat penting bagi ilmuwan agar dapat
melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana berpikir ilmiah membantu
manusia menggunakan akalnya untuk berpikir dengan benar dan menemukan ilmu
yang benar.
Makalah ini ditulis untuk membahas dan memahami tentang sarana berpikir
ilmiah, meliputi: pengertian sarana berpikir ilmiah, tujuan sarana berpikir ilmiah,
fungsi sarana berpikir ilmiah, bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah, logika
sebagai sarana berpikir ilmiah, matematika sebagai sarana berpikir ilmiah, dan
statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian sarana berpikir ilmiah?
1.2.2 Apa tujuan sarana berpikir ilmiah?
1.2.3 Apa fungsi sarana berpikir ilmiah?
1.2.4 Bagaimana bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah?
1.2.5 Bagaimana matematika sebagai sarana berpikir ilmiah?
1.2.6 Bagaimana statistika sebagai sarana berpikir ilmiah?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian sarana berpikir ilmiah.
1.3.2 Untuk mengetahui tujuan sarana berpikir ilmiah.
1.3.3 Untuk mengetahui fungsi sarana berpikir ilmiah.
1.3.4 Untuk mengetahui mengenai bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah.
1.3.5 Untuk mengetahui mengenai matematika sebagai sarana berpikir ilmiah.
1.3.6 Untuk mengetahui mengenai statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian sarana berpikir ilmiah


Surisumantri (2003:165), ”Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang
membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh”. Sarana
ilmiah merupakan suatu alat, dengan alat ini manusia melaksanakan kegiatan
ilmiah. Pada saat manusia melakukan tahapan kegiatan ilmiah diperlukan alat
berpikir yang sesuai dengan tahapan tersebut. Manusia mampu mengembangkan
pengetahuannya karena manusia berpikir mengikuti kerangka berpikir ilmiah dan
menggunakan alat-alat berpikir yang benar.
Untuk mendapatkan ilmu diperlukan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir
diperlukan untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik dan teratur. Sarana
berpikir ilmiah ada empat, yaitu: bahasa, logika, matematika dan statistika
(Suriasumantri, 2003:167). Sarana berpikir ilmiah berupa bahasa sebagai alat
komunikasi verbal untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain, logika
sebagai alat berpikir agar sesuai dengan aturan berpikir sehingga dapat diterima
kebenarannya oleh orang lain, matematika berperan dalam pola berpikir deduktif
sehingga orang lain lain dapat mengikuti dan melacak kembali proses berpikir
untuk menemukan kebenarannya, dan statistika berperan dalam pola berpikir
induktif untuk mencari kebenaran secara umum.
2.2 Tujuan sarana berpikir ilmiah
Suriasumantri (2003:167), Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk
memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan
mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang
memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Harus
dibedakan antara tujuan mempelajari sarana ilmiah dan tujuan mempelajari ilmu.
Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar dapat melakukan kegiatan
penelaahan ilmiah. Untuk memaksimalkan kemampuan manusia dalam berpikir
menurut kerangka berpikir yang benar maka diperlukan pengetahuan tentang
sarana berpikir ilmiah dengan baik pula. Manusia mempelajari ilmu agar dapat
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupannya.

3
4

Dengan ilmu yang telah dipelajarinya manusia dapat meningkatkan kemakmuran


hidupnya.
2.3 Fungsi sarana berpikir ilmiah
Suriasumantri (2003:167), ”... fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses
metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri”. Sarana ilmiah mempunyai
fungsi-fungsi yang khas dalam kegiatan ilmiah secara menyeluruh dalam
mencapai suatu tujuan tertentu (Suriasumantri, 2003:165). Keseluruhan tahapan
kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu yang berupa sarana berpikir ilmiah.
Sarana berpikir ilmiah hanyalah alat bantu bagi manusia untuk berpikir ilmiah
agar memperoleh ilmu. Sarana berpikir ilmiah bukanlah suatu ilmu yang
diperoleh melalui proses kegiatan ilmiah.
2.4 Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah
Salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lainnya adalah kemampuan
manusia berbahasa. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, termasuk di dalamnya adalah kegiatan ilmiah. Kegiatan
ilmiah sangat berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik
dalam berpikir membantu untuk mengkomunikasikan jalan pikiran kepada orang
lain. Berpikir sebagai hasil kegiatan otak manusia tidak akan ada artinya apabila
tidak diketahui oleh orang lain. Cara untuk mengkomunikasikannya kepada orang
lain adalah menggunakan sarana bahasa.
Bahasa merupakan lambang serangkaian bunyi yang membentuk suatu arti
tertentu (Suriasumantri, 2003:175). Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau
perasaan sebagai alat komunikasi manusia yang terdiri dari kata-kata atau istilah-
istilah dan sintaksis. Kata atau istilah merupakan simbol dari arti sesuatu,
sedangkan sintaksis merupakan cara menyusun kata-kata menjadi kalimat yang
bermakna (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010:98).
Suatu obyek dapat dilambangkan dengan bunyi tertentu. Misalnya, suatu alat
berbentuk runcing yang diisi tinta dan digunakan untuk menulis dilambangkan
dengan bunyi ”pena”. Untuk melambangkan warna yang sama dengan darah
digunakan bunyi ”merah”. Dari kedua kata tersebut (pena dan merah) dapat dibuat
sebuah kalimat bermakna menjadi ”Andi membeli sebuah pena merah”.
5

Unsur-unsur yang terdapat dalam bahasa menurut Bakhtiar (2004:177-179)


adalah:
a. Simbol-simbol
b. Simbol-simbol vokal
c. Simbol-simbol vokal arbitrer
d. Suatu sistem yang terstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer
e. Dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat
bergaul satu sama lain
Bahasa mengandung unsur simbol, sesuatu yang diucapkan oleh manusia
merupakan kegiatan memberi simbol terhadap suatu obyek nyata dalam dunia
praktis. Agar simbol tersebut dapat memenuhi tujuan pembicara maka simbol
tersebut harus diucapkan dengan bunyi tertentu yang dapat didengar oleh orang
yang dituju sehingga memudahkan pendengar untuk mengetahui dengan jelas
obyek yang dimaksud oleh pembicara. Bunyi simbol suatu obyek tidak harus
sama antara ucapan dan makna yang dikandungnya, artinya makna suatu obyek
dapat diucapkan dengan kata yang berbeda untuk daerah atau komunitas yang
berbeda. Para anggota komunitas kelompok sosial menggunakan bahasa untuk
dapat berinteraksi satu sama lainnya.
”Bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan
sikap”. (Suriasumantri, 2003:175) Manusia dapat menyampaikan sesuatu yang
dipikirkan kepada orang lain menggunakan bahasa. Dengan bahasa, orang lain
dapat mengetahui dan mempelajari sesuatu yang sedang dipikirkan. Dengan
bahasa, manusia juga dapat mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya kepada
orang lain. Orang lain dapat mengetahui seseorang sedang sedih atau senang
melalui bahasa yang disimbolkan.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kumpulan pernyataan yang
mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan pemikiran dalam
mendapatkan pengetahuan tersebut. Untuk mampu mengkomunikasikan suatu
pernyataan dengan jelas maka seseorang harus menguasai bahasa yang baik
(Suriasumantri, 2003:182).
6

Ketika manusia telah memperoleh suatu pengetahuan melalui kegiatan ilmiah


yang dilakukan, maka harus mengkomunikasikan hasil yang telah diperoleh
tersebut agar pengetahuannya dapat bermanfaat bagi kemakmuran umat manusia.
Hal-hal yang harus dikomunikasikan tersebut meliputi jalan pemikiran untuk
memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri. Pengkomunikasian
tersebut dituangkan dalam sebuah karya ilmiah. Untuk dapat menyusun sebuah
karya ilmiah, dituntut kemampuan untuk menguasai bahasa yang baik dan benar.
Tanpa menguasai bahasa yang baik, tidak mungkin dapat menyusun sebuah karya
ilmiah.
Sumarna (2008:134), ”Melalui bahasa manusia dengan sesama manusia
lainnya dapat saling menambah dan berbagi pengetahuan yang dimilikinya”.
Bahasa menjadi sarana untuk berbagi dengan sesama manusia. Seseorang dapat
memberitahukan sesuatu yang diketahuinya kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa. Dalam proses berbagi tersebut manusia mengalami
penambahan pengetahuan, menjadi mengetahui sesuatu yang semula belum
diketahui.
Suriasumantri (2003:175), dalam komunikasi ilmiah menonjolkan fungsi
simbolik bahasa. Dalam komunikasi ilmiah proses komunikasi harus terbebas dari
unsur emotif agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara reproduktif,
artinya sama dengan pesan yang dikirimkan.
Bahasa merupakan sarana komunikasi maka segala sesuatu yang berkaitan
dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti halnya berpikir sistematis
dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan
dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar.
Dalam komunikasi ilmiah harus memperhatikan fungsi simbolik bahasa,
karena komunikasi ilmiah dilakukan untuk menyampaikan informasi yang berupa
pengetahuan kepada orang lain. Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik
maka harus menggunakan bahasa yang terbebas dari unsur emotif. Unsur emotif
dalam bahasa hanya akan mengacaukan komunikasi ilmiah sehingga pesan yang
disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh penerima. Komunikasi
simbolik yang bebas dari unsur emotif dapat mencegah salah informasi.
7

Bahasa sebagai sarana ilmiah mempunyai kelemahan. Kelemahan tersebut


menurut Suriasumantri (2003:182-187) antara lain:
a. bahasa bersifat multifungsi,
b. bahasa memiliki arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-
kata yang membangun bahasa,
c. bahasa mempunyai beberapa kata yang memberikan arti yang sama, dan d.
konotasi bahasa yang bersifat emosional.
Keberadaan bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah ternyata memiliki
kelemahan-kelemahan yang melekat pada bahasa tersebut. Bahasa sulit dilepaskan
dari emosi dan sikap seseorang, sedangkan bahasa sebagai sarana ilmiah dituntut
untuk obyektif agar informasi yang dikomunikasikan dapat diterima dengan baik
oleh orang lain. Kelemahan berikutnya adalah sulit untuk mendefinisikan suatu
obyek dengan sejelasjelasnya, terkadang karena keinginan untuk memberikan
penjelasan yang detil tentang suatu obyek, yang terjadi justru komunikasi yang
dilakukan terkesan bertele-tele dan menjadi tidak jelas.
Kelemahan bahasa juga dapat dilihat dari keberadaan beberapa kata yang yang
memiliki arti sama atau sebaliknya beberapa arti cukup menggunakan satu kata
saja. Selain itu, ada kelemahan bahasa lain yaitu bahasa sulit dilepaskan dari
emosional seseorang. Ada makna-makna tertentu yang dapat ditambahkan pada
makna sebenarnya sebagai akibat emosional seseorang.
2.5 Matematika sebagai sarana berpikir ilmiah
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal mempunyai banyak kelemahan, karena
tidak semua pernyataan dapat dilambangkan dengan bahasa. Untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan bahasa tersebut maka digunakanlah sarana matematika.
Suriasumantri (2003:191), ”Matematika adalah bahasa yang berusaha untuk
menghilangkan sifat kubur (pen: kabur), majemuk dan emosional dari bahasa
verbal”.
Matematika sebagai sarana berpikir deduktif menggunakan bahasa artifisial,
yakni murni bahasa buatan manusia. Keistimewaan bahasa ini adalah terbebas dari
aspek emotif dan efektif serta jelas terlihat bentuk hubungannya. Matematika
8

lebih mementingkan kelogisan pernyataanpernyataannya yang mempunyai sifat


yang jelas (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010:107).
Dengan matematika, sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa dapat
dihilangkan. Lambang yang digunakan dalam matematika lebih eksak dan jelas,
lambang-lambang tersebut tidak bisa dicampuri oleh emosional seseorang, suatu
lambang dalam matematika jelas hanya mengandung satu arti sehingga orang lain
tidak dapat memberikan penafsiran selain dari maksud pemberi informasi.
Misalnya, seseorang yang mengatakan: ”Saya punya satu orang adik perempuan”,
orang lain dapat menerima bahwa orang itu mempunyai satu adik, tidak mungkin
orang lain akan mempunyai penafsiran bahwa orang itu mempunyai dua atau tiga
orang adik.
”Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita
untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif” (Suriasumantri, 2003:193).
Matematika biasanya menggunakan bahasa numeric yang menafikan unsur emosi,
kabur dan majemuk seperti yang terdapat dalam bahasa biasa. Melalui unsur ini,
manusia dapat melakukan pengukuran secara kuantitatif yang tidak diperoleh
dalam bahasa yang selalu memberi kemungkinan menggunakan perasaan yang
bersifat kualitatif (Sumarna, 2008:143).
Matematika memungkinkan untuk melakukan pengukuran yang jelas. Untuk
membandingkan tinggi dua buah obyek yang berbeda, misal pohon jagung dan
pohon mangga. Dengan bahasa hanya dapat dikatakan bahwa pohon mangga lebih
tinggi dari pohon jagung, tetapi tidak tahu dengan jelas berapa perbedaan tinggi
kedua pohon tersebut. Dengan matematika maka perbedaan tinggi kedua pohon
tersebut dapat diketahui dengan jelas dan tepat. Misal, setelah diukur ternyata
tinggi pohon jagung 100 cm dan tinggi pohon mangga 250 meter, maka dapat
dikatakan bahwa pohon mangga lebih tinggi 150 cm dari pohon jagung.
Matematika memberikan jawaban yang lebih eksak dan menjadikan manusia
dapat menyelesaikan masalah sehari-harinya dengan lebih tepat dan teliti.
Matematika sebagai sarana berpikir deduktif, memungkinkan manusia untuk
mengembangkan pengetahuannya berdasarkan teori-teori yang telah ada. Misal,
jumlah sudut sebuah lingkaran adalah 3600 . Dari pengetahuan ini dapat
9

dikembangkan, seperti besar sudut keliling lingkaran sama dengan setengah besar
sudut pusat jika menghadap busur yang sama.
2.6 Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah
Suriasumantri (2003:225), ”Statistika harus mendapat tempat yang sejajar
dengan matematika agar keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang
merupakan ciri dari berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik”. Orang yang
ingin mampu melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik tidak boleh memandang
sebelah mata terhadap statistika. Penguasaan statistika sangat diperlukan bagi
orang-orang yang akan menarik kesimpulan dengan sah. Statistika harus
dipandang sejajar dengan matematika. Kalau matematika merupakan sarana
berpikir deduktif maka orang dapat menggunakan statistika untuk berpikir
induktif. Matematika dan statistika sama-sama diperlukan untuk menunjang
kegiatan ilmiah yang benar sehingga akan menghasilkan suatu pengetahuan yang
benar pula.
Suriasumantri (2003:225), Statistika merupakan sarana berpikir yang
diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari
perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan
generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan
bukan terjadai secara kebetulan.
Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah tidak memberikan kepastian namun
memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu
kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Langkah
yang ditempuh dalam logika induktif menggunakan statistika adalah:
a. Observasi dan eksperimen,
b. Memunculkan hipotesis ilmiah,
c. Verifikasi dan pengukuran,
d. Sebuah teori dan hukum ilmiah. (Sumarna, 2008:146)
Untuk mengetahui keadaan suatu obyek, seseorang tidak harus melakukan
pengukuran satu persatu terhadap semua obyek yang sama, tetapi cukup dengan
melakukan pengukuran terhadap sebagian obyek yang dijadikan sampel.
Walaupun pengukuran terhadap sampel tidak akan seteliti jika pengukuran
10

dilakukan terhadap populasinya, namun hasil dari pengukuran sampel dapat


dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Setelah melakukan observasi dan eksperimen kemudian merumuskan suatu
hipotesis untuk dilakukan verifikasi dan uji coba terhadap data dan keadaan yang
sebenarnya di lapangan. Berdasarkan pengkajian-pengkajian terhadap data dan
keadaan di lapangan tersebut dapat dirumuskan suatu kesimpulan yang nantinya
menjadi sebuah teori atau hukum ilmiah. Artinya, kesimpulan yang ditarik
bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi, tetapi telah melalui tahap-tahap berpikir
tertentu dengan melibatkan data dan fakta yang terjadi di lapangan.
11

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang akan ditempuh agar memperoleh pengetahuan
dengan benar. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah agar dapat
melakukan kegiatan penelaahan ilmiah dengan baik untuk memperoleh
pengetahuan yang benar sehingga dapat meningkatkan kemakmuran hidup.
Keseluruhan tahapan kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu yang berupa sarana
berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah berfungsi hanyalah sebagai alat bantu bagi
manusia untuk berpikir ilmiah agar memperoleh ilmu.
Bahasa merupakan sarana mengkomunikasikan cara-cara berpikir sistematis
dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan
dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar. Statistika tidak
boleh dipandang sebelah mata oleh orang yang ingin mampu melaksanakan
kegiatan ilmiah dengan baik. Penguasaan statistika sangat diperlukan bagi orang-
orang yang akan menarik kesimpulan dengan sah. Statistika harus dipandang
sejajar dengan matematika. Kalau matematika merupakan sarana berpikir deduktif
maka orang dapat menggunakan statistika untuk berpikir induktif. Berpikir
deduktif dan berpikir induktif diperlukan untuk menunjang kegiatan ilmiah yang
benar sehingga akan menghasilkan suatu pengetahuan yang benar pula.
3.2 Saran
Guru merupakan pengajar yang harus super aktif didalam pembelajaran.
Karena guru ditugaskan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa baik itu
yang belum diketahuinya ataupun mengingatkannya kembali yang sudah dia
ketahui. Oleh karena itu, guru tidak boleh diam dalam pembelajaran. Kalau guru
diam dalam pembelajaran maka pembelajaran tidak akan efektif. Oleh karena itu
guru harus terampil dalam menjelaskan.
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sumarna, Cecep. 2008. Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press.

Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:


Pustaka Sinar Harapan.

Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2010. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan
Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty.

Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

12
13