Anda di halaman 1dari 23

Analisis Laporan Keuangan

MAKALAH
Analisis Aktiva Jangka Panjang dan Aktiva Tak Berwujud

DOSEN PENGAMPU:
ULFA NURHAYANI, SE., M.Si.

DISUSUN OLEH :
YENITA SIHALOHO (7173142035)
PERETDI LUMBANSIANTAR (7173342039)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI KELAS B


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang kami
buat ini merupakan tugas Rutin pada mata kuliah Analisis Laporan Keuangan pada
Semester VI.

Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen ULFA
NURHAYANI, SE., M.Si. selaku Dosen pengampu yang telah memberikan
penjelasan mengenai penyusunan makalah ini.

Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan dari berbagai pihak khususnya dari Dosen pengampu, agar dapat
bermamfaat bagi kami untuk penyusunan makalah kedepannya.

Medan, 09 Maret 2020

Kelompok 7

II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................I
DAFTAR ISI...................................................................................................................................II
BAB I...............................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan...................................................................................................................1
1.3 Manfaat Penulisan..................................................................................................................1
BAB II.............................................................................................................................................2
PEMBAHASAN..............................................................................................................................2
2.1 Aset Tetap..............................................................................................................................2
2.2 AKUNTANSI AKTIVA JANGKA PANJANG....................................................................8
2.3 ASET TETAP DAN SUMBER DAYA ALAM.................................................................11
2.5 ASET TIDAK BERWUJUD...............................................................................................15
BAB III..........................................................................................................................................19
PENUTUP.....................................................................................................................................19
3.1 KESIMPULAN....................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................21

III
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Aktiva jangka panjang merupakan sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan
penghasilan operasi (mengurangi biaya operasi) untuk lebih dari satu periode. Bentuk aktiva
jangka panjang yang paling umum adalah aktiva tetap berwujud seperti bangunan, pabrik, dan
peralatan. Aktiva jangka panjang juga mencakup aktiva tak berwujud seperti paten, merk
dagang, copyright, good will dan sumberdaya alam (Wild dan Subramanyam, 2010).
Aktiva tetap yang mempunyai masa penggunaan terbatas harus disusutkan setiap periode agar
tersaji nilai yang sebenarnya. Dalam menentukan penyusutan aktiva dapat menggunakan metode
garis lurus, metode menurun ganda, metode jumlah angka tahun, metode satuan jam kerja, atau
metode satuan hasil produksi. Apapun metode yang digunakan, sangat tergantung dengan
kondisi yang ada.Artinya, metode yang digunakan adalah yang sesuai dengan kondisi perusahaan
yang memiliki aktiva tetap berwujud tersebut.
Aktiva tetap memerlukan pencatatan akuntansi, mulai dari saat perolehan, penyusutan,
perawatan, penghentian pemakaian, penjualan, maupun pertukaran.Pencatatan dimaksudkan agar
nilai buku aktiva tetap selalu ter-update.Sehingga bagi pengguna laporan keuangan selalu
menapatkan informasi yang benar mengenai nilai buku aktiva tetap.
1.2 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan akuntansi aktiva jangka panjang
2. Menjelaskan asset tetap dan sumber daya alam
3. Menjelaskan asset tidak berwujud

1.3 Manfaat Penulisan


1. Mengetahui apa itu akuntansi aktiva jangka panjang
2. Mengetahui apa itu asset tetap dan sumber daya alam
3. Mengetahui apa itu asset tidak berwujud

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Aset Tetap


Aktiva tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk administratif dan
diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode (SAK, 2011:16.2). Aktiva tetap
adalah aktiva berwujud yang mempunyai umur relatif permanen (memberikan manfaat kepada
perusahaan selama bertahun-tahun) yang dimiliki dan digunakan untuk operasi sehari-hari dalam
rangka kegiatan normal dan tidak dimksudkan untuk dijual kembali (bukan barang dagangan)
serta nilainya relatif material (Munawir 2002). Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang
memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, dan diperoleh perusahaan
untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual kembali (Mulyadi 2001). Ikatan
Akuntan Indonesia dalam bukunya Standar Akuntansi Keuangan menerangkan bahwa Aktiva
tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih
dahulu yang digunakan dalam operasi perusahaan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka
kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun ( IAI 2009).
Menurut difinisi diatas, suatu aktiva tergolong sebagai aktiva tetap jika dia memiliki tiga
karektristik secara simultan. Pertama, memiliki wujud fisik seperti tanah, bangunan, dan
peralatan. Kedua, digunakan untuk memproduksi atau menyediakan barang/jasa, disewakan
kepada pihak lain atau untuk tujuan administratif. Mesin pabrik merupakan contoh aktiva yang
digunakan untuk memproduksi barang sehingga dapat terkatagori sebagai aktiva tetap. Ketiga,
memiliki umur manfaat lebih dari satu priode akuntansi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam
siap pakai atau dibangun terlebih dahulu serta memiliki masa manfaat ekonomis lebih dari satu
tahun dan digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan ataupun untuk
disewakan kepada pihak lain dan bukan untuk dijual kembali.
Aktiva tetap berwujud merupakan salah satu bagian dari harta (assets) perusahaan yang
dapat menunjang kegiatan operasional perusahaan dimana besar kecilnya suatu perusahaan atau
kuat tidaknya suatu perusahaan antara lain dapat dilihat dari aktiva yang dimiliki oleh
perusahaan tersebut. Pada umumnya setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya

2
menggunakan aktiva tetap seperti tanah, gedung, mesin, peralatan yang terlibat langsung dalam
proses produksi. Aktiva tetap merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena
aktiva tetap sangat berpengaruh terhadap kegiatan operasional perushaan.
Haryono Jusup (2005;155) menerangkan bahwa aktiva tetap digolongkan menjadi 4 (empat)
kelompok yakni:
1. Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung-gedung perusahaan.
2. Perbaikan tanah, seperti jalan-jalan disekitar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan,
tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
3. Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, took, pabrik, dan gudang.
4. Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan dan meubel.
Dari macam-macam aktiva tetap berwujud tersebut, untuk tujuan akuntansi dilakukan
pengklasifikasian sebagai berikut:
1. Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas seperti tanah untuk letak perusahaan, pertanian,
peternakan.
2. Aktiva tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya bisa
diganti dengan aktiva yang sejenis, misalnya bangunan, mesin-mesin, alat-alat, meubel,
kendaraan dan lain-lain.
3. Aktiva tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya tidak bisa
diganti dengan aktiva yang sejenis, misalnya sumber alam seperti bahan tambang, hutan dan
lain-lain.
Aktiva tetap dicatat sebesar harga perolehannya, Harga perolehan meliputi semua
pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan aktiva tetap dan pengeluaran-pengeluaran lain
agar aktiva siap untuk digunakan (Haryono Jusup, 2005; 155). Terdapat berbagai cara dalam
memperoleh aktiva tetap, yang akan mempengaruhi penentuan harga perolehan. Berbagai cara
tersebut antara lain: pembelian secara tunai; pembelian kredit; pembelian dengan wesel bunga;
pembelian gabungan (dalam satu paket); membangun sendiri aktiva dan adanya sumbangan dari
pihak lain.
1. Pembelian tunai
Dalam pembelian secara tunai, harga perolehan adalah harga belibersih setelah dikurangi
potongan tunai ditambah dengan pengeluaran-pengeluaran.
2. Pembelian dengan Kredit

3
Pembelian secara kredit jangka panjang pada umumnya melibatkan bunga. Bunga dapat
ditetapkan secara eksplisit dan secara implisit. Bunga eksplisit dalam pembelian kredit
adalah bunga yang ditetapkan secara jelas/terus terang, sedangkan Bunga implisit yaitu
bunga yang ditetapkan tidak secara terus terang sehingga harus mencari terlebih dahulu
bunganya.
Baik secara eksplisit maupun secara implisit bunga tidak boleh dimasukkan dalam
menghitung harga perolehan karena bunga bukan merupakan pengorbanan untuk
memperoleh aktiva tetap, tetapi pengorbanan untuk menggunakan dana pihak lain.
3. Pembelian dengan Menggunakan Wesel Berbunga
Dalam pembelian aktiva dengan jumlah rupiah yang besar, kadang-kadang perusahaan
membayarnya dengan wesel erbunga. Biasanya pembeli diwajibkan membayar uang muka
dan sisanya dibayar dengan wesel berbunga dimana bunga wesel dibayar pada saat jatuh
tempo wesel tersebut. Harga perolehan aktiva dihitung dengan jumlah uang muka ditambah
nilai nominal wesel. Sedangkan biaya bunga merupakan biaya pendanaan (financing cost)
yang dicatat dengan mendebet rekening biaya bunga.
4. Pembelian dalam satu paket (gabungan)
Pembelian dalam satu paket (gabungan) sering disebut sebagai pembelian secara lump-sum.
Harga paket (borongan)didasarkan pada harga perolehan masing-masing aktiva tetap yang
ditentukan dengan harga pasar.
5. Membangun sendiri
Perusahaan terkadang membangun sendiri aktiva tetapnya. Misalkan perusahaan
membangun sendiri kantornya, garasi ataupun gudangnya. Harga perolehan aktiva yag
dibangun sendiri oleh perusahaan terdiri dari harga material atau bahan bangunan yang
dipakai, upah tenaga kerja, dan biaya lain-lain meliputi listrikdan depresiasi aktiva tetap
perusahaan yang digunakan untuk membangun. Dimunkinkan pula adanya biaya bunga jika
perusahaan dala membangun meminjam dari pihak luar sehingga biaya bunga dimasukkan
dalam unsur harga perolehan tetapi hanya biaya bunga selama masa konstruksi saja. Jika
setelah masa konstruksi belum lunas maka biaya bunga dibebankan sebagai biaya periodik
dalam kelompok biaya diluar usaha dalam laporan laba rugi.

4
Jika harga perolehan aktiva dengan membangun sendiri lebih kecil dari (lebih rendah) dari
harga aktiva sejenis, perusahaan tidak diperkenankan mengakui adanya keuntungan akibat
membangun sendiri.
6. Sumbangan
Aktiva tetap dapat diperoleh dari sumbangan, misalnya sumbangan dari pemerintah atau
lembaga lain. Meski untuk memperoleh sumbangan tidak ada pengorbanan yang
dikeluarkan, akuntansi tetep mencatatnya karena akuntansi merupakan alat
pertanggugjawaban. Aktiva tetap dari sumbangan didebit dan akun lawannya adalah modal
sumbangan. Nilainya adalah sebesar nilai wajar pada saat sumbangan itu diterima.
Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas tidak perlu dilakukan penyusutan terhadap harga
perolehannya, sedangkan untuk aktiva tetap yang umurnya terbatas perlu dilakukan penyusutan
terhadap harga perolehannya. Aktiva tetap yang dapat diganti dengan aktiva sejenis maka
penyusutannya disebut depresiasi, sedangkan untuk aktiva tetap yang tidak dapat diganti dengan
aktiva lain seperti sumber-sumber alam maka penyusutan disebut deplasi.
“Depresiasi adalah salah satu komponen biaya tetap yang timbul karena digunakannya
aktiva tetap, dimana biaya tersebut dapat dikurangkan dari revenue penghasilan” (Syamsuddin,
2011:24). Ada empat metode untuk menghitung depresiasi (Soemarso, 2003: 25) yaitu:
a. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
b. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
c. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Years Digit Method)
d. Metode Unit Produksi (Unit of Production Method)
Menurut PSAK No 19, Aktiva tak berwujud (in tangible asset) adalah aktiva tak lancar
(noncurrent asset) dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada
pemiliknya dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva
yang lain. Menurut Gamayuni (2015) ciri khas aset tidak berwujud yang paling utama adalah
tingkat ketidakpastian mengenai nilai dan manfaatnya di kemudian hari. Namun tidak semua
jenis aset tidak berwujud diakui dan disajikan dalam laporan keuangan (neraca).
Aset tidak berwujud atau intangible assets yang dapat dikelola secara maksimal akan
memberikan pengaruh signifikan pada pengambilan keputusan investor sehingga memberikan
kontribusi positif pada laba bersih perusahaan dan meningkatkan nilai perusahaan terutama pada
nilai pasarnya (Daulay, 2017).

5
Berdasarkan eksistensinya, aktiva tak berwujud dapat dikelompokkan dalam 2 (dua)
kategori yakni:
- Aktiva tak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundangundangan,
peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau sifat dari aktiva tersebut,
misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, franchise yang terbatas, lisensi.
- Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat dipastikan masa
berakhir nya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia, perpetual franchise,
goodwill.
Secara umum Aktiva tetap tidak berwujud adalah Patent, Hak cipta (copy right), Merek
dagang, Franchise, goodwill, dan lain-lain.
1. Patent
Patent adalah suatu hak yang diberikan kepada pihak yang menemukan sesuatu hal baru
untuk membuat, menjual atau mengawasi penemunnya selama jangka waktu 17 tahun.
2. Hak Cipta ( copy right )
Hak cipta adalah hak yang diberikan kepada pengarang atau pemain (artis/aktor) untuk
menerbitkan, menjual atau mengawasi karangannya, musik atau pekerjaan pementasan.
3. Merek Dagang
Merek dagang/cap dagang bisa didaftarkan sehingga akan dilindungi oleh undang-undang.
Hak untuk merek dagang adalah tak terbatas.
4. Franchises
Franchises adalah hak yang diberikan oleh suatu pihak (disebut Franchisor) kepada pihak
lain untuk menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh franchisor.
5. Goodwill
Yang dimaksud dengan goodwill adalah semua kelebihan yang terdapat dalam suatu usaha
seperti letak perusahaan yang baik, nama yang terkenal, pimpinan yang ahli dal lain-lain.
Penilaian aktiva tak berwujud tergantung pada tujuan pelaporannya, kalau tujuannya adalah
untuk mengukur dan melaporkan aktiva tak berwujud secara keseluruhan dalam rangka
penggabungan usaha, maka biasanya digunakan cara dengan menilai perusahaan secara
keseluruhan dan kemudian mengurangi jumlah tersebut dengan nilai aktiva lain yang dapat
diukur secara langsung. Cara seperti ini sifatnya subyektif, kecuali kalau nilai perusahaan dapat

6
ditentukan secara obyektif di bursa saham. Sedangkan kalau tujuannya untuk melaporkan aktiva
tertentu, maka pengukuran secara independen akan lebih bermanfaat.
Aktiva tetap tak berwujud dicatat sebesar harga perolehannya, jika aktiva tersebut diperoleh
dengan cara dibeli maka harga perolehannya sebesar jumlah uang yang dikeluarkan dalam
pembelian. Sedangkan jika aktiva tetap tak berwujud diperoleh dari penukaran dengan aktiva
maka harga perolehannya sebesar harga pasar aktiva yang dipakai sebagai penukar.
Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara satuan harus dicatat sebesar harga perolehan
pada tanggal perolehannya. Harga perolehan tersebut dinilai berdasarkan jumlah pembayaran
yang dilakukan, nilai wajar dari aktiva lain yang diperoleh, nilai tunai dari kewajiban yang ada
atau nilai wajar dari aktiva yang diterima untuk saham yang dikeluarkan. Aktiva tak berwujud
yang diperoleh secara kelompok atau sebagai bagian dari perusahaan yang diakuisisi, harus
dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal perolehannya. Penilaian atas harga perolehan
tergantung pada apakah aktiva tak berwujud tersebut dapat diidentifikasikan secara khusus atau
tidak. Harga perolehan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan adalah merupakan
bagian dari jumlah harga perolehan sekelompok aktiva dari perusahaan yang diakuisisi. Harga
perolehan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan tidak boleh dimasukkan dalam
goodwill.
Umumnya karakteristik sumber daya alam terbagi menjadi dua, yakni sumber daya alam
yang tidak dapat diperbarui seperti minyak bumi, gas dan mineral. Sumber daya alam yang dapat
diperbarui atau aset biologis seperti tumbuhan hasil perkebunan dan peternakan misalnya
peternakan susu sapi. Aset biologis merupakan jenis aset berupa hewan dan tumbuhan hidup,
seperti yang didefinisikan dalam IAS 41: “Biological asset is a living animal or plant” Jika
dikaitkan dengan karakteristik yang dimiliki oleh aset, maka aset biologis dapat dijabarkan
sebagai tanaman pertanian atau hewan ternak yang dimiliki oleh perusahaan yang diperoleh dari
kegiatan masa lalu.
Harga perolehan aset tetap sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui dihitung mulai
dari eksplorasi sampai dengan eksploitasi. Harga perolehan aset biologis contohnya pengolehan
susu sapi meliputi harga pembelian bibit, biaya pemeliharaan hingga menghasilkan yaitu biaya
pakan rumput, konsentrat, susu, jerami dan pakan tambahan ampas tahu.

7
Alokasi biaya dari aset tetap sumber daya alam yang terbagi secara rasional dan sistematik
disebut dengan deplesi. Istilah deplesi sama halnya dengan istilah penyusutan pada aset tetap
berwujud.

2.2 AKUNTANSI AKTIVA JANGKA PANJANG

A. Pengertian Aktiva Jangka Panjang


Aktiva jangka panjang merupakan sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan
penghasilan operasi (mengurangi biaya operasi) untuk lebih dari satu periode. Bentuk aktiva
jangka panjang yang paling umum adalah aktiva tetap berwujud seperti bangunan, pabrik, dan
peralatan. Aktiva jangka panjang juga mencakup aktiva tak berwujud seperti paten, merk
dagang, copyright, good will dan sumberdaya alam (Wild dan Subramanyam, 2010).
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam siap pakai atau dibangun terlebih
dahulu serta memiliki masa manfaat ekonomis lebih dari satu tahun dan digunakan oleh
perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan ataupun untuk disewakan kepada pihak lain
dan bukan untuk dijual kembali.
Aktiva tak berwujud (in tangible asset) adalah aktiva tak lancar (noncurrent asset) dan tak
berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan
keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain.
B. Akuntansi Aktiva jangka panjang
Proses akuntansi aktiva jangka panjang mencakup 3 (tiga) bagian terpisah: kapitalisasi,
alokasi, dan penurunan nilai.
1. Kapitalisasi
Kapitalisasi merupakan proses penangguhan biaya yang terjadi pada periode berjalan, tetapi
manfaatnya diharapkan dapat berlangsung selama beberapa periode dimasa depan. Aturan
akuntansi untuk kapitalisasi dibatasi untuk memenuhi tujuan relevan dan andal. Tujuan andal
berarti aturan kapitalisasi menjadi konservatif dan dalam beberapa kasus, tidak konsisten.
Umumnya, suatu biaya akan dikapitalisasi jika memenuhi kriteria berikut:
a) Aktiva arus kas berasal dari transaksi atau kejadian masa lalu, kriteria ini menghasilkan
perlakuan yang tidak konsisten antara aktiva tidak berwujud yang dibeli dengan yang
diciptakan internal. Misalnya goodwill yang dibeli dikapitalisasi, tetapi goodwill yang
diciptakan sendiri (yang nilainya jauh lebih besar) tidak dapat dikapitalisasi.
8
b) Aktiva harus menghasilkan kemungkinan manfaat masa depan yang dapat di identifikasi dan
layak. Kriteria ini menghasilkan pembebanan pengeluaran litbang dengan segera, meskipun
litbang merupakan salah satu dari aktiva yang paling berharga bagi perusahaan teknologi
tinggi.
c) Aktiva memberikan pemiliknya pengendalian (khusus) atas manfaat masa depan. Kriteria ini
(dan lainnya) tidak memungkinkan kapitalisasi teknologi atau modal manusia karena
kepemilikan tidak dapat dipaksakan secara hukum.
Seorang analisis harus menyadari kriteria ini, dan penekanannya terhadap keadaan, untuk
distorsi potensial terhadap laporan keuangan yang mungkin ditimbulkan. Analisis harus
membuat penyesuaian terhadap adanya efek distorsi, seperti mengapitalisasi beban litbang jika
dianggap layak.
Salah satu area yang sangat bermasalah untuk profesi akuntansi adalah kapitalisasi biaya
pengembangan software. GAAP membedakan antara dua jenis biaya: biaya pengembangan
software untuk pemakaian internal dan biaya pengembangan software untuk dijual atau
disewakan. Biaya software komputer yang dikembangkan untuk pemakaian internal harus
dikapitalisasi dan diamortisasi sepanjang masa manfaat yang diharapkan. Faktor penting dalam
penentuan masa manfaat software adalah perkiraan keusangan. Software yang dikembangkan
untuk dijual atau disewakan pada pihak lain dikapitalisasi dan diamortisasi hanya jika software
tersebut telah mencapai fisibilitas teknologi. Sebelum tahap pengembangan tersebut, software
dianggap litbang dan karenanya dibebankan langsung.
2. Alokasi (Allocation)
Alokasi merupakan proses pembebanan biaya tangguhan (aktiva) secara periodic sepanjang
lebih dari satu atau lebih dari periode manfaat yang diharapkan. Proses alokasi ini disebut
penyusutan untuk aktiva jangka panjang berwujud, dan amortisasi untuk aktiva jangka panjang
yang tidak berwujud, serta deplesi untuk aktiva jagka panjang yang berbentuk sumber daya alam.
Alokasi biaya merupakan proses untuk mengaitkan biaya asset dengan manfaatnya dan bukan
merupakan proses valuasi. Nilai tercatat asset (nilai kapitalisasi dikurangi alokasi biaya
kumulatif) tidak perlu mencerminkan nilai wajar.
3. Penurunan nilai
Penurunan nilaai (impairment) merupakan proses penurunan nilai buku dari aktiva saat arus
kas yang diharapkan tidak lagi cukup untuk menutupi biaya yang tersisa yang masih tercatat

9
dalam neraca. Proses penurunan merupakan proses dimana arus kas yang dimiliki perusahaan
untuk aktiva yang tercatat di dalam neraca memiliki nilai yang lebih kecil. Untuk itu aktiva yang
tercatat dalam neraca perlu diturunkan dan dinyatakan dalam niali wajar. Dampaknya adalah
untuk mengurangi nilai wajar aktiva, akan menyebabkan biaya penurunan aktiva tersebut yang
membebani laba rugi perusahaan. Selain itu perusahaan harus merubah alokasi dari penyusutan
atas umur manfaat asset yang masih tersisa. Permasalahan terletak pada konservativisme yang
diterapkan oleh akuntansi, apabila perusahaan mengalami penurunan nilai dari asset tetapnya,
perusahaan dapat membebankan atau mengaitkan biaya operasi perusahaan dalam laporan laba
rugi, namun apa yang terjadi apabila nilai aktiva perusahaan mengalami peningkatan, asset
jangka panjang perusahaan tidak dapat dinaikkan meskipun taksiran arus kasnya lebih besar dari
yang tercatat. Atas permasalahan ini memungkinkan terdapat distorsi dari akuntansi itu sendiri
yakni:
1) Bias konservatif medistori penilaian aktiva jangka panjang karena nilai aktiva jangka
panjang datap diturunkan namun tidak dapat dinaikkan.
2) Pengakuan penurunan nilai aktiva tetap memiliki dampak besar yang mendistorsi laba
bersih, namun atas pengukuran penurunan ini mampu meningkatkan kegunaan nilai pada
aktiva yang tersaji dalam laporan keuangan.
Perhatikan bahwa penurunan aktiva tetap masih merupakan proses alokasi, bukan
perpindahan kea rah penilaian. Atau penurunan nilai aktiva diakui saat ekspektasi manajer
mengenai manfaat masa depan lebih kecil dari nilai tercatat. Hal ini menghasilkan penghapusan
langsung dengan tujuan untuk dapat mengaitkan lebih baik alokasi blaya masa depan dengan
manfaat masa depan.
C. Kapitalisasi Versus Pembebanan: Dampak terhadap Laporan Keuangan dan Rasio
Kapitalisasi merupakan bagian penting dari akuntansi modern. Kapitalisasi mempengaruhi
baik laporan keuangan maupun rasionya. Kapitalisasi juga membuat laba menjadl lebih unggul
dibandingkan arus kas sebagai pengukuran kinerja keuangan.
1. Dampak Kapitalisasi terhadap Laba
Kapitalisasi memiliki dua dampak terhadap laba. Pertama, kapitalisasi menangguhkan
pengakuan biaya. Sehingga menghasilkan laba yang lebih tinggi selama periode akuisisi
namun laba yang rendah pada periode berikutnya jika dibandingkan dengan pembebanan
biaya. Kedua, kapitalisasi menghasilkan serial perataan laba.

10
2. Dampak Kapitalisasi terhadap Tingkat Pengembalian lnvestasi
Kapitalisasi mempengaruhi laba maupun basis investasi dari rasio tingkat pengembalian
investasi. Sebaliknya, membebankan biaya aset menghasilkan basis investasi yang lebih
rendah dan meningkatkan fliuktuasi laba. Peningkatan fluktuasi laba diperbesar dengan
digunakannya basis investasi, yang mengarah pada rasio tingkat pemgembalian yang lebih
berfliktuasi dan kurang bermanfaat. Pembebanan juga menghasilkan bias terhadap
pengukuran laba, karena laba dinyatakan terlalu rendah pada tahun akuisisi dan terlalu tinggi
pada tahun-tahun berikutnya.
3. Dampak Kapitalisasi terhadap Rasio Solvabilitas
Biaya aset secara langsung, rasio solvabilitas, seperti rasio utang terhadap ekuitas
mencerminkan kondisi perusahaan yang lebih buruk dari kondisi sebenarnya. Hal ini terjadi
karena pembebanan biaya langsung menyebabkan ekuitas dinyatakan terlalu rendah untuk
perusahaan yang memiliki aset produktif.
4. Dampak Kapitalisasi terhadap arus Kas Operasi
Ketika biaya aset dibebankan langsung, biaya ini dilaporkan sebagai arus kas keluar
aktivitas operasi. Sebaliknya, jika aset dikapitalisasi, biaya ini dilaporkan sebagai arus kas
keluar aktivitas investasi. Hal ini berarti pembebanan langsung biaya aset akan menyatakan
arus kas keluar operasi yang terlalu tinggi dan arus kas keluar investasi terlalu rendah pada
tahun akuisisi dibandingkan dengan kapitalisasi biaya.

2.3 ASET TETAP DAN SUMBER DAYA ALAM


Properti, pabrik, dan peralatan (atau aset tetap) merupakan aset berwujud tak lancar yang
digunakan dalam proses mengukur, penjualan, atau jasa untuk menghasilkan pendapatan dan
arus kas selama lebih dari satu periode. Oleh karena itu, aset ini memiliki periode manfaat yang
diharapkan (masa manfaat) yang meliputi lebih dari satu periode. Aset ini diperoleh untuk
digunakan dalam aktivitas operasi dan bukan untuk dijual pada aktivitas usaha biasa.
Nilai atau potensi jasa yang dimiliki akan berkurang karena di gunakan, dan aset ini
biasanya merupakan aset operasi yang terbesar. Properti terkait dengan biaya real estate: pabrik
mengacu pada bangunan dan struktur operasi: dan peralatan mengacu pada mesin yang
digunakan dalam operasi. Properti, pabrik, dan peralatan disebut juga aset produktif, aset model,
dan aset tetap.

11
a. Menilai Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
1. Menilai Properti, Pabrik, dan Peraalatan
Biaya ini mencakup beban apapun yang diperlukan agar aset tersebut berada dalam
lokasi dan kondisi siap digunakan atau siap memberikan jasa seperti biaya angkut, instalasi,
pajak, dan biaya pemasangan (set up). Seluruh biaya akuisisi dan persiapan dikapitalisasi
pada saldo akun aset. Alasan digunakan biaya historis terutama sehubungan dengan
objektivitasnya. Penilaian aset tetap dengan biaya historis, jika diterapkan secara konsisten,
biasanya tidak menghasilkan distorsi yang serius. Bagian ini akan mempertimbangkan
beberapa masalah khusus yang akan terjadi saat menilai aset.
2. Menilai Sumber Daya Alam
Sumber daya alam yang digunakan disebut aset yang dihabiskan (wasting asset),
merupakan hak untuk mengambil atau mengonsumsi sumber daya alam. Juga sering kali
terdapat biaya cukup tinggi untuk menemukan sumber daya yang dikapitalisasi dalam neraca,
dan biaya ini langsung dibebankan saat sumber daya tersebut kemudian dipindahkan,
dikonsumsi, atau dijual. Perusahaan biasanya mengalokasikan biaya sumber daya alam pada
jumlah estimasi unit cadang yang tersedia.
b. Penyusutan
Prinsip dasar penyusutan laba adalah, laba yang mendapatkan manfaat dari penggunaan aset
jangka panjang, harus menanggung bagian proporsional dan biaya aset tersebut. Penyusutan
merupakan alikasi biaya bangunan dan peralatan (tanah tidak disusutkan) sepanjang masa
manfaatnya. Meskipun penambahan kembali dalam laporan arus kas atau nenan non kas,
penyusutan tidak menghasilkan dana bagi penggantian aset. Hal ini merupakan kesalahan konsep
yang umum terjadi. Pendanaan dari biaya modal dicapai melalui kegiatan arus kas operasi
maupun pendanaan.
1. Tingkat Penyusutan
Tingkat penyusutan tergantung pada dua faktor, masa manfaat dan metode alokasi.
Umur masa manfaat. Kerusakan flsik merupakan faktor penting yang membatasi masa
manfaat, dan hampir seluruh aset mengalaminya. Frekuensi dan kualitas pemeliharaan
mempengaruhi kerusakan lisik. Pemeliharaan dapat memperpanjang masa manfaat namun
tidak bisa membuat masa manfaat menjadi tak terbatas. Faktor pembatas lainnya adalah
keusangan, yang mengurangi masa manfaat melalui perkembangan teknologi, pola konsumsi

12
dan kekuatan ekonomi. Keusangan bisa terjadi jika perkembangan teknologi membuat aset
menjadi tidak eflsien atau tidak ekonomis sebelum masa manfaatnya habis.
Metode Alokasi. Keragaman penyusutan secara signifikan disebabkan oleh metode yang
dipilih. Kita akan melihat ada dua jenis metode yang biasa digunakan, garis lurus dan di
percepat.
a) Garis Lurus. Metode penyusutan garis lurus (straight line) mengalokasikan biaya aset
pada masa manfaat berdasarkan beban periodik yang sama. Bangunan dibandingkan
untuk mesin dimana penggunanya merupakan faktor yang lebih penting. Penentu
penyusutan lain, keusangan, tidak selalu terjadi seragam sepanjang waktu. Namun karena
tidak adanya informasi mengenai tingkat penyusutan yang mungkin, metode garis lurus
memiliki keunggulan karena sederhana. Karakteristik ini, memungkinkan yang
menjadikan metode ini popular, dibandingkan karakteristik lainnya. Analisis kita harus
mewaspadai kelemahan konseptual penyusutan garis lurus. Penyusutan garis lurus secara
implisit mengasumsikan bahwa penyusutan pada tahun-tahun awal sama dengan tahun
berikutnya saat mungkin aset telah kurang eflsien dan membutuhkan pemeliharaan yang
lebih tinggi. Penyusutan garis lurus menghasilkan bias yang makin besar pada pola
tingkat pengambilan aset sepanjang waktu. Meskipun biaya pemeliharaan dapat
menurunkan laba sebelum penyusutan, biaya ini tidak menghilangkan dampak
meningkatnya pengembalian seiring waktu. Tentunya, peningkatan aset yang sudah tua
tidak tercermin pada sebagian besar perusahaan.
b) Dipercepat. Metode penyusutan yang dipercepat (acceleranted) mengalokasikan biaya
aset sepanjang masa manfaat dengan pola yang semakin menurun. Daya penarik metode
ini untuk tujuan pajak adalah percepatan alokasi biaya dan berikut penangguhan laba
kena pajak. Semakin cepat aset dihapuskan untuk tujuan pajak semakin besar
penangguhan pajak untuk masa depan, dan semakin banyak dana yang tersedia langsung
untuk operasi. Konsep yang mendukung metode dipercepat adalah padangan bahwa
beban penyusutan yang semakin kecil sepanjang waktu merupakan kompensasi atas (1)
peningkatan biaya perbaikan dan perawatan, (2) penurunan pendapatan dan efisiensi
operasi, serta (3) peningkatan ketidakpastian pendapatan atas aset berumur dimasa depan
(karena keusangannya)

13
Dua metode penyusutan dipercepat yang paling umum adalah saldo menurun dan
jumlah angka tahun. Metode saldo menurun (declining~balance method) mengenakan
tarif tetap terhadap saldo akun yang semakin turun (nilai tercatat). Dalam praktik,
perkiraan tingkat amortisasi beban penyusutan yang makin turun adalah dengan
menggunakan tarif ganda (sering kali dua kali lipat) dari tarif garis lurus.
c) Khusus. Metode penyusutan khusus ditentukan pada industri tertentu seperti baja dan
mesin berat. Persamaan metode ini adalah dikaitkannya beban penyusutan pada aktivitas
penggunaan asset. Jika metode aktivitas atau yang biasa juga disebut sebagai metode unit
produksi ditetapkan, perlu menelaah estimasi masa manfaat secara periodik.
2. Deplesi
Deplesi merupakan alokasi biaya sumber daya alam berdasarkan tingkat pemungu tan.
Deplesi tergantung pada produksi, menghasilkan lebih banyak produksi berarti
mengeluarkan biaya deplesi yang lebih pula.
3. Menganalisis Asset Tetap Dan Sumber Daya Alam
Valuasi asset tetap dan sumberdaya alam menekankan objektivitas biaya historis. Namun,
biaya historis tidak relevan dalam menilai asset pengganti. Juga biaya ini tidak dapat
dibandingkan untuk beberapa lampiran keuangan perusahaan, dan tidak terlalu bermanfaat
untuk mengukur biaya kesempatan atau dalam menilai kegunaan alternative dana. Dalam
periode tingkat dana meningkat, biaya historis mencerminkan daya beli yang bebeda.
Penilaian nilai asset tetap menjadi sebesar nilai pasar tidak diperbolehkan dalam akuntansi.
Namun, konservatisme mengizinkan adanya penghapusan nilai karena penurunan nilai yang
permanen. Penurunan nilai menghilangkan beban yang terkait dengan aktivitas operasi pada
periode masa depan.
Aturan akuntansi untuk menurunkan nilai asset jangka panjang mewajibkan perusa haan
untuk secara berkala menelaah kejadian atau perubahan kondisi yang merupakan penurunan
nilai. Penurunan asset setelahnya dapat mendistorsi hasil yang dilaporkanIika taksiran arus
kas tidak lebih kecil dari nilai yang tercatat asset, maka nilai asset diturunkan. Kerugian
penurunan nilai dihitung sebagai S'elisih nilai tercatat asset dengan nilai wajamya.
c. Menganalisis Penyusutan dan Deplesi
Sebagian besar perusahaan menggunakan aset produktf jangka panjang pada aktivitas
operasi mereka, dan penyusutan merupakan beban utama. Salah satu faktor yang harus di

14
perhatikan dalam hal ini adalah adanya revisi masa manfaat asset. Biasanya tidak ada
pengungkapan mengenai hubungan antar tingkat penyusutan dan ukuran kelompok asset,
maupun antara tingkat tersebut dan metode akuntansi. Tantangan lain bagi analisis ini berasal
dari perbedaan metode alokasi yang digunakan untuk pelaporan keuangan dan tujuan pajak. Tiga
kemungkinan yang umum adalah:
1. Penggunaan garis lurus baik dalam pelaporan keuangan maupun tujuan pajak
2. Penggunaan garis lurus untuk lampiran keuangan dan metode dipercepat untuk pajak.
Dampak pajak menguntungkan berasal dari penangguhan pembayaran pajak yang
menghasilkan penggunaan dana gratis.
3. Penggunaan metode dipercepat baik untuk pelaporan keuangan maupun tujuan pajak. Hal ini
mengakibatkan penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal, yang dapat
diperpanjang selama beberapa tahun bagi perusahaan yang sedang ekspansi.
Meskipun terdapat kelemahan, informasi penyusutan tidak boleh diabaikan. Kesalahan
konsep lain dalam penyederhanaan arus kas adalah bahwa penyusutan hanya merupakan beban
tata buku dan berbeda dari beban lain seperti tenaga kerja dan bahan baku, oleh karena itu, boleh
dikeluarkan dan dianggap tidak sepenting beban lainnya.
Menganalisa suatu penyusutan membutuhkan evaluasi kelayakan. Evaluasi ini dapat
menggunakan pengukuran seperti rasio penyusutan terhadap asset total atau penyusutan terhadap
faktur yang terkait dengan ukuran lainnya. Terdapat beberapa pengukuran yang terkait dengan
umur aset tetap yang berguna untuk membandingkan kebijakan penyusutan antar periode dan
antar perusahaan diantaranya rata-rata jangkauan total, umur rata-rata dan umur sisa rata-rata.
Pengukuran tersebut memberikan estimasi yang layak untuk perusahaan yang menggunakan
penyusutan garis lurus tetapi tidak terlalu bermanfaat bagi perusahaan yang menggunakan
metode dipercepat. Pengukuran lain yang sering digunakan dalam analisis ini adalah:
Rata-rata jangkauan waktu total = umur rata-rata + umur sisa rata-rata
Tiap pengukuran dapat membantu menilai kebijakan dan keputusan penyusutan sepanjang
waktu. Umur rata-rata bagunan dan perlengkapan berguna untuk mengevaluasi beberapa faktor
seperti margin laba dan persyaratan pendanaan masa depan.

15
2.5 ASET TIDAK BERWUJUD
Aset tidak berwujud merupakan hak, istimewa, dan manfaat kepemilikan atau pengendalian.
Dengan karakteristik umum tingginya ketidakpastian masa manfaat dan tidak adanya wujud
fisik. Asset tidak berwujud sering kali tidak dapat dipisahkan dari suatu perusahaan atau
segmennya, masa manfaat yang tidak terhingga, dan mengalami perubahan penilaian yang besar
karena kondisi yang kompetitif. Terdapat berbedaan penting antar akuntansi aset berwujud dan
tak berwujud. Jika perusahaan menggunakan bahan baku dan tenaga kerja untuk menciptakan
asset berwujud, perusahaan akan mengkapitalisasi biaya dan menyusutkannya sepanjang masa
manfaat. Sebaliknya jika perusahaan meng habiskan uang untuk mengiklankan suatu produk atau
melatih agen penjualan perusahaan tidak dapat mengkapitalisasi biaya ini meskipun terdapat
manfaat masa depan.
a. Akuntansi Asset Tak Berwujud
1. Asset tak berwuiud yang dapat diidentilikasikan
Asset tak berwujud yang dapat diidentifiksikan merupakan asset tak berwujud yang dapat
diidentifikasi terpisah dan dikaitkan dengan hak tertentu atau keistimewaan selama periode
manfaat yang terbatas.
2. Asset tak berwujud yang tidak dapat diidentiiikasikan
Asset tidak berWujud yang tidak dapat diidentifikasikan merupakan asset yang dapat
dikembangkan secara internal atau dibeli namun tidak dapat diidentiflkasikan dan seringkali
memiliki masa manfaat yang tak terhingga. Misalnya good will, perusahaan harus
membebankan biaya pengembangan, pemeliharaan dan pemulihan asset tak berwujud saat
terjadinya, kecuali good will.
b. Amortisasi Asset Tak Berwujud
Saat kapitalisasi biaya asset tak berwujud yang dapat atau tidak dapat diidentifikasi, biaya
tersebut selanjutnya harus diamortisasi sepanjang periode masa manfaat asset. Jangka masa
manfaat tergantung pada dari jenis, kondisi permintaan, situasi kompetitif, hukum, kontrak,
aturan atau batasan ekonomis lainnya. Misalnya, hak paten merupakan hak eksekutif yang
diberikan pemerintah kepada investor selama periode tertentu.
Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu, sehingga harga
perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran masa

16
manfaatnya. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu aktiva tak
berwujud adalah sebagai berikut:
- Ketentuan hukum atau perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum.
- Kemungkinan untuk memperpanjang atau memperbaharui batas masa manfaat yang
semula telah ditentukan.
- Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan dan faktor keekonomian lain dapat
mengurangi masa manfaat.
- Perkiraan tindakan yang akan dilakukan oleh saingan yang dapat mempengaruhi
keunggulan komparatif perusahaan tersebut.
- Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas dan manfaat yang diharapkan tidak
dapat ditaksir secara wajar.
- Suatu aktiva tak berwujud mungkin terdiri dari beberapa unsur yang mempunyai masa
manfaat yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Harga perolehan untuk setiap aktiva tak berwujud harus diamortisasi berdasarkan taksiran
masa manfaat aktiva tersebut dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode perolehan.
Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar, hal-hal yang dikemukakan
sebelumnya harus dianalisa terlebih dahulu. Periode amortisasi tidak boleh melebihi 20 (dua
puluh) tahun. Periode 20 tahun ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa dalam jangka waktu
20 tahun sudah banyak perkembangan yang terjadi sehingga setelah lewat waktu 20 tahun aktiva
tak berwujud tersebut diperkirakan tidak ada manfaat ke ekonomiannya lagi. Apabila analisa
pada saat perolehan suatu aktiva tak berwujud dapat menunjukkan bahwa sesungguhnya aktiva
tak berwujud tersebut mempunyai masa manfaat melebihi 20 (dua puluh) tahun, masa manfaat
sebagai dasar amortisasi setinggi-tingginya adalah 20 (dua puluh) tahun.
Metode amortisasi aktiva tidak tetap tak berwujud adalah metode garis lurus (straight line),
kecuali jika suatu perusahaan mempunyai metode lain yang lebih sesuai dengan kondisi
perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan harus mengungkapkan metode dan periode
amortisasi aktiva tak berwujud yang digunakan.
Perusahaan harus dapat mengevaluasi periode amortisasinya secara teratur untuk
menentukan apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan taksiran masa
manfaat yang telah ditentukan tersebut. Jika taksiran masa manfaat berubah, maka jumlah harga
perolehan yang belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa manfaat setelah

17
kenaikan/penurunan masa manfaat tersebut dengan syarat jumlah masa manfaat tidak boleh
melebihi 20 (dua puluh) tahun dari tanggal perolehan. Taksiran nilai dan manfaat di masa akan
datang atas suatu aktiva tak berwujud dapat menunjukkan bahwa nilai aktiva tak berwujud yang
belum diamortisasikan tersebut harus dikurangi sejumlah tertentu (write-down) sebagai beban
usaha dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Kerugian pada satu atau beberapa
tahun tertentu secara berurutan tidak dapat dijadikan alasan untuk membebankan semua atau
sebagian harga perolehan yang belum diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa, dan jika ada,
harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
c. Menganalisis Asset Tak Berwujud
Analisis sering kali mencurigai asset tak berwujud saat menilai laporan keuangan. Asset tak
berwujud sering kali merupakan salah satu asset berharga yang dimiliki perusahaan dan sering
kali terjadi kesalahan penilaian yang serius. Misalnya, good will dicatat hanya pada saat akuisisi,
sebagian besar good will mungkin terdapat pada neraca. Namun, sering kali good will tercermin
dalam kelebihan laba. Jika kelebihan laba tidak terbukti, maka good will baik dibeli maupun
tidak, hanyalah bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai. Dalam menganalisis asset tidak
berwujud, diperlukan suatu estimasi sendiri mengenai penilaian asset. Analisis juga harus
waspada terhadap komposisi, penilaian, dan di posisi good will. Good will dihapus jika
kelebihan laba mendasari eksistensinya tidak ada lagi.
d. Asset Tidak Berwuiud Dan Kontinjensinya Yang Tak Tercatat
Salah satu asset penting dalam kategori ini adalah good will yang diciptakan secara internal.
Pengeluaran untuk menciptakan good will sering kali dibebankan saat terjadinya. lika good will
diciptakan dan dapat dijual dan menghasilkan laba yang lebih besar, laba saat ini terlalu rendah
karena pembebanan pengembangan. Salah satu asset tak tercatat yang terkait dengan
pembebanan yang terkait dengan elemen jasa atau ide. Sebagai contoh adalah program televisi
yang dicatat sebesar biaya tersembunyi untuk menghasilkan penghasilan lisensi yang bernilai
jutaan.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan bahwa Bentuk aktiva jangka panjang yang paling umum adalah
aktiva tetap berwujud dan Aktiva jangka panjang.
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam siap pakai atau dibangun terlebih
dahulu serta memiliki masa manfaat ekonomis lebih dari satu tahun dan digunakan oleh
perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan ataupun untuk disewakan kepada pihak lain
dan bukan untuk dijual kembali yang termasuk dalam aktiva tetap yakni bangunan, pabrik, dan
peralatan..
Aktiva tak berwujud (in tangible asset) adalah aktiva tak lancar (noncurrent asset) dan tak
berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan
keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain, yang termasuk dalam
aktiva tak berwujud yakni paten, merk dagang, copyright, good will dan sumber daya alam.
Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas tidak perlu dilakukan penyusutan terhadap harga
perolehannya, sedangkan untuk aktiva tetap yang umurnya terbatas perlu dilakukan penyusutan
terhadap harga perolehannya. Aktiva tetap yang dapat diganti dengan aktiva sejenis maka
penyusutannya disebut depresiasi, sedangkan penyusutan untuk aktiva yang tak berwujud disebut
amortisasi, dan untuk aktiva tetap yang tidak dapat diganti dengan aktiva lain seperti sumber-
sumber alam maka penyusutan disebut deplasi.
Pengukuran dalam analisis penyusustan dan deplesi memberikan estimasi yang layak untuk
perusahaan yang menggunakan penyusutan garis lurus tetapi tidak terlalu bermanfaat bagi
perusahaan yang menggunakan metode dipercepat. Adapun pengukuran yang sering digunakan
dalam analisis adalah: Rata-rata jangkauan waktu total = umur rata-rata + umur sisa rata-rata
Tiap pengukuran dapat membantu menilai kebijakan dan keputusan penyusutan sepanjang
waktu.

19
DAFTAR PUSTAKA

Al Haryono Jusuf. 2005. Dasar-dasar Akuntansi Jilid II. Edisi 7, Yogyakarta: STIE YKPN
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Jakarta:
Salemba Empat.
Ikhsan Dkk. 2018. Analisa Laporan Keuangan. Medan: Madenatera
Ismail, 2010. Akuntansi Bank Teori Dan Aplika.si Dalam Rupiah, Jakarta: Penerbit Kencana
Prenada Media.
Lasmi, Dewi, Dkk. 2016. Modul Paket Keahlian Akuntansi SMK. Jakarta: Kemendikbud.
Maruta, Heru. Akuntansi Aktiva Tetap Berwujud. STIE Syariah Bengkulu
Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi, Cet. Ketiga, Jakarta: Salemba Empat
Pahala Nainggolan. 2005. Akuntansi Keuangan Yayasan dan Lembaga Nirlaba Sejenis. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Slamet Sugri. 2009. Akuntansi pengantar 2, Yogyakarta : Unit Penerbit Dan Percetakan YKPN.
S.Munawir. 2002. Akuntansi Keuangan Dan Manajemen, edisi pertama, cetakan pertama,
Yogyakarta: BPFE-JAKARTA.
Sukrisno Agoes, dan Estralita Trisnawati. 2001. Akuntansi Perpajakan. Edisi II. Jakarta:Selemba
Empat.

21

Anda mungkin juga menyukai