Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Warisan budaya pada intinya adalah suatu pengetahuan yang dapat berfungsi
menghdapi tantangan kehidupannya. Dalam masyarakat tradisional pengetahuan umumnya
diperoleh dengan cara belajar dan mewarisinya secara turun-temurun dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Sebagai salah satu unsur kebudayaan daerah yang bersifat universal
yang telah diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat pendukungnya, diantaranya
adalah pengetahuan yang berkenaandengankesehatankhususnyapengobatantradisional.
Pengobatan-pengobatan di Indonesia sangatlah beraneka ragam salah satunya
dengan memanfaatkan tanaman obat, dengan keragaman yang Indonesia miliki banyak
jenis tanaman obat yang dapat ditemukan di Indonesia menjadikan Negara kita menjadi
salah satu pusat tanaman obat didunia, itu yang menjadi alasan kami mengangkat tema
kupas tuntas pengobatan tradisional.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa keunggulanpengobatantradisional?
2. Bagaimanacara pengobatan tanamantradisional?
3. Apa saja khasiat dari pengobatan tradisional?
4. Bagaimanapotensi efeksamping padapengobatantradisional?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut :
1. Mendiskripsikan keunggulan pengobatan tradisional.
2. Mengetahui cara pengobatan tanaman tradisional.
3. Mengetahui khasiat dari pengobatan tradisional.
4. Mengetahui potensi efeksamping pada pengobatan tradisional.

1
1.4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuanpenulisandi atas, dapat dirumuskan manfaat sebagai berikut :
1. Memberi tambahan pengetahuan pengobatan tradisional.
2. Memberi tambahan pengetahuan cara pengobatan tanaman tradisional.
3. Memberi tambahan pengetahuan khasiat dari pengobatan tradisional.
4. Memberitambahanpengetahuanpotensiefeksampingpengobatantradisional.

1.5 Metode Penulisan


Metode Studi Pustaka
Penulis pada karya ilmiah ini didasarkan pada fakta yang penulis ambil dari
beberapa sumber yang relevan terhadap pokok pembahasan. Pada metode ini,
penulis banyak membaca literatur-literatur mengenai kupas tuntas pengobatan
tradisional dan acuan yang dapat penulis jadikan pedoman.

1.6 Sistematika Penulisan


Makalah ini disusun secara sistematika yang terdiri dari empat bab yaitu :
BAB I : Berisi tentang pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II : Berisi tentang kajian pustaka, yang berisi tentang definisi tentang
pengobatan tradisional, macam-macam tanaman tradisional, dan
kandungan tanaman dalam pengobatan tradisional.
BAB III : Berisi tentang pembahasan, yang berisi tentang keunggulan
pengobatan tradisional, cara pengobatan tradisional, khasiat
pengobatan tradisional, dan efeksampingpengobatantradisional.

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pengobatan Tradisional


Menurut WHO (2000), Pengobatan tradisional adalah jumlah total
pengetahuan, keterampilan, praktik-praktik yang berdasarkan pada teori-teori,
keyakinan, pengalaman masyarakat yang mempunyai adat budaya yang berbeda, baik
dijelaskan atau tidak, digunakan dalam pemeliharaan kesehatan serta dalam
pencegahan, diagnosa, perbaikan atau pengobatan penyakit secara fisik dan juga
mental. Selain itu, menurutAsmino (1995), Pengobatan tradisional juga salah satu
cabang pengobatan alternatif yang bisa didefinisikan sebagai cara pengobatan sebagai
yang dipilih oleh seseorang apabila cara pengobatan tidak memberikan hasil
memuaskan.
2.2 Macam-macam Pengobatan Tradisional
a. Bratawali
Deskripsi
Tanaman ini menyukai tempat panas, berupa perdu pemanjat, tinggi
batang sampai 2,5 m. Batang sebesar jari kelingking, berbintil-bintil rapat
yang rasanya pahit. Daun tunggal, bertangkai, berbentuk seperti jantung
atau agak bundar seperti telur dengan ujung lancip, panjang 7-12 cm, lebar
5-10 cm, bunga kecil, dan berwarna hijau muda.1
Nama Daerah
Antawali, bratawali, putrawali, dan gadel (Jawa), andawali
(Sunda),danantawai (Bali).2

1
WinkandaAfinPutra.Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal75.

2
Ibid.

3
b. Jahe
Deskripsi
Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30-100 cm.
Akarnya berbentuk rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga
kemerahan dengan bau menyengat. Daun menyirip dengan panjang 15-23
mm dan panjang 8-15 mm.Tangkai daun berbulu halus. Bunga jahe tumbuh
dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 - 5 cm dan lebar
1,5 - 1,75 cm. Gagang bunga bersisik sebanyak 5-7 buah. Bunga berwarna
hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik berwarna ungu. Tangkai
putih berjumlah dua.1
Nama Daerah
Jahe (Sunda), jae (Jawa), dan jhai (Madura).2
c. Kencur
Deskripsi
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran
rendah atau tanah pegunungan yang tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian
daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan, tumbuh
menjalar diatas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk
dengan kuntum bunga berjumlah antara 4-12 buah, bibir bunga (labellum)
berwarna putih lebih dominan.3
Nama Daerah
Kencur (Indinesia, Jawa), cikur (Sunda), ceuko (Aceh), kencor
(Madura), cekuh (Bali), kencur dan sukung (Minahasa), umpa (Ambon), dan
cekir (Sumba).4

1
WinkandaAfin Putra.Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal122.

2
Ibid.

3
Ibid. 173.

4
Ibid.

4
d. Kunyit
Deskripsi
Kunyit termasuk salah satu tanaman rempah dan obat, habitat asli
tanaman ini meliputi wilayah Asia khususnya Asia Tenggara. Tanaman ini
kemudian mengalami persebaran ke daerah Indonesia,Malaysia dan Afrika.
Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah
mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu
makanan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.1
Nama Daerah
Saffon (Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia), kunir
(Jawa), koneng (Sunda), dan konyet (Madura).2
e. Temulawak
Deskripsi
Temulawak merupakan jenis tanaman berbatang semu dengan tinggi
hingga lebih dari 1-2 m. Rimpang berbentuk dengan sempurna, bercabang
kuat, berukuran besar, bercabang-cabang, berwarna cokelat kemerahan dan
berwarna kuning tua atau berwarna hijau gelap. Tiap tunas dari rimpang
membentuk daun 2-9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai
bangun lanset, warna daun hijau atau cokelatkeungunan terang sampai gelap,
panjang daun 30-84 cm, dan lebar 10-18 cm, panjang tangkai daun termasuk
helaian 43-80 cm. Pada setiap helaian dihubungkan dengan pelepah dan
tangkai daun agak panjang. Bunganya berwarna kuning tua, berbentuk unik
dan bergerombol yaitu perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik
berbentuk garis, panjang tangkai 8-23 cm, lebar 4-6 cm. Berdaun pelindung
banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga.

1
AfinMurtie.Kupas Tuntas Pengobatan Tradisional (Yogyakarta, 2013), 177.

2
Ibid.

5
Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8-13 mm, mahkota bunga
berbentuk tabung, dengan panjang keseluruhan 4,5 cm. Helaian bunga
berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna
merah dadu atau merah, panjang 1,25-2 cm dan lebar 1 cm.Sedangkan
daging rimpangnya berwarna jingga tua atau kecokelatan, beraroma tajam
yang menyengat dan rasanya pahit.1
Nama Daerah
Temulawak (Jawa), koneng gede (Sunda), temulabak (Madura).2

2.3 Kandungan Tanaman dalam Pengobatan Tradisional

a. Bratawali
Alkaloid,damar lunak, glikosida pikroretosid, zat pahit pikroretin, harsa,
berberin, alkaloid berberin, dan kolumbin.3
b. Jahe
Minya asiri zingiberena (zingirona), zingiberol, bisabolena, kurkumen,
gingerol, filanrina, dan resin.4
c. Kencur
Pati (4,14%,), mineral (13,73%), dan minyak asiri (0,02%) berupa sineol,
asam metil kanil dan pentadekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam sinamic,
borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid, dan gom. 5

1
WinkandaAfin Putra.Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 279.

2
Ibid. hal 280.

3
Ibid. hal 76.

4
Ibid. hal 122.

5
Ibid. hal 173.

6
d. Kunyit
Kurkumin,desmetoksikumin,bisdesmetoksikurkumin, ketonsesquiterpen,
turmeron, tumeon, zingiberen, felandren, sabinen, borneoldan sineil.1
e. Temulawak
Fellandrean, turmerol, minyak asiri, kamfer, glukosida, foluymetik
karbinol.2

1
WinkandaAfin Putra.Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 177.

2
Ibid. hal 280.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Keunggulan Pengobatan Tradisional

Pengobatan tradisional Indonesia terus berkembang dengan pesat beriringan dengan


pengobatan modern. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat masih banyak yang
mempercayai pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan penyakit mereka.1

Berbagai keunggulan pengobatan tradisional Indonesia sehingga masih tetap eksis


sampai saat ini :

a. Pengobatan tradisional Indonesia sudah mendarah daging dan menjadi bagian


dari kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia
Semenjak zaman awal adanya kerajaan di Indonesia, telah ditemukan
prasasti tentang pengobatan tradisional sebagaimana yang kita bahas diatas. oleh
karenanya, lebih dari seribu tahun semenjak masa itu, pengobatan tradisional tetap
memiliki penggemar di antara sejumlah masyarakat, baik di daerah perkotaan
maupun perdesaan. Bahkan, jamu gendong saat ini mulai dijual dengan mobil toko,
sampai dengan dikemas rapi dalam bentuk kering. Peminatnya sangat banyak dari
berbagai kalangan. Inilah yang disebut mendarah daging ke urat nadi budaya
bangsa. Siapa yang tidak mengenal kerikan? atau mungkin siapa yang tidak
mengenal sinom dan beras kencur? hampir dipastikan seluruh masyarakat jawa pada
khususnya Indonesia pada umumnya mengenal pengobatan tradisional dan herbal
jamu tersebut.

1
AfinMurtie. Kupas Tuntas Pengobatan Tradisional (Yogyakarta, 2013), hal26-30.

8
b. Pengobatan tradisional lebih menjangkau keseluruh Indonesia dibandingkan
dengan pengobatan modern dengan akses terbatas
Rumah sakit dan klinik memang banyak terdapat di kota-kota besar seluruh
nusantara, tetapi tidak di desa apalagi luar pulau semacam NTT, Maluku,
Kalimantan, dan Papua yang masih memiliki daerah-daerah terpencil dan sulit
dijangkau. Pengobatan tradisional terbukti lebih terjangkau, dengan jumlah orang
yang mendalaminya yang masih bertambah setiap tahunnya.
c. Pengobatan tradisional terbukti mampu menangani beberapa penyakit yang
tidak bisa di sembuhkan dengan cara pengobatan modern
Sebagai mana contoh penderita radang amandel yang bisa sembuh tanpa
operasi dengan ramuan dari daun sirih, demikian juga beberapa penyakit lainnya.
Ada juga beberapa penyakit yang justru dapat disembuhkan dengan pengobatan
tradisional. Misalnya diare yang justru lebih manjur disembuhkan dengan daun
jambu biji. Saat ini pengobatan tradisional yang biasa juga dinamakan dengan
pengobatan alternatif juga banyak dipakai di Yayasan Kanker sebagai alternatif
penyembuhan penyakit tersebut.
d. Pengobatan tradisional mudah dipelajari dan dibuat sendiri oleh masyarakat
sehingga meminimalkan biaya pengobatan
Banyaknya tentang pengobatan tradisional indonesia terutama jamu
membuat banyak masyarakat bisa mempelajari pengolahannya sendiri. Dari sinilah
kemudian pengobatan tradisional semakin menyebar dari orang tua ke anak, dari
kakek nenek ke para cucu mereka.
e. Gerakan kembali ke alam yang juga mencakup gerakan pengobatan
tradisional
Tidak ada bahan pengobatan tradisional yang ditanam dengan menggunakan
pestisida sebagai penghalau hama. Tanaman tradisional untuk obat ditanam dengan
cara alami, dimedia tanah gembur yang diberi pupuk kandang, dan dikembangkan
secara alami. Inilah yang dijadikan pengobatan tradisional memiliki efeksamping
yang cenderung sedikit.

9
3.2 Cara pengobatan tanaman tradisional
a. Bratawali1
1. Rheumatik
1 jari batang bratawali dicuci dan potong-potong seperlunya, direbus
dengan 3 gelas air sampai menjadi 1 ½ gelas. Setelah dingin disaring, dan
ditambah madu (diminum sehari 3 x ½ gelas).
2. Demam
2 jari batang bratawali direbus dengan 2 gelas air, sampai menjadi
1gelas, setelah dingin, diminum dengan madu secukupnya (2 x ½ gelas).
3. Kencing Manis
1/3 genggam daun sambiloto, 1/3 genggam daun kumis kucing, ¾
jari ± 6 cm batang bratawali dicuci dan dipotong-potong, direbus dengan 3
gelas air sampai menjadi 2 gelas(diminum setelah makan, sehari 2 x 1
gelas).
4. Kudis
3 jari batang bratawali, belerang sebesar kemiri, dicuci dan ditumbuk
halus, diremas dengan minyak kelapa seperlunya. Dipakai untuk melumas
kulit yang terserang kudis. Dan diulang 2x sehari.
5. Luka
Daun bratawali ditumbuk halus, letakkan pada luka, diganti 2x per
hari.
Untuk mencuci luka, memakai air rebusan batang bratawali.
b. Jahe2
1. Mulas
Rimpang jahe merah (parut) diperas. Diminum 3x sehari satu sendok
teh (diulang selama 3 hari).

1
WinkandaAfin Putra. Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 77.

2
Ibid. hal 123.

10
Rimpang jahe, 2 biji bunga cengkih, 4 biji buah kemukus, 3 biji buah cabai
jawa, 1 ruas jari tangan sereh, 1/5 butir biji pala, ½ lembar daun jeruk purut,
sedikit kulut kayudan gula aren secukupnya. Dibuat infus atau diseduh
dengan air 200 ml. Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum
100 ml(diulang selama 4 hari).
2. Selesma
1 rimpang jahe merah , 1 genggam herba poko segar, 6 butir buah
kumukus, 2 biji jintan hitam dan air sedikit. Dipipis hingga berbentuk pasta.
Pindahkan ramuan ke kain bersih dan ikat dengan tali, kemudian masukkan
kedalam cuka hangat dan oleskan ke seluruh badan, agar mempercepat
keluarnya keluarnya keringat.
c. Kencur1
1. Radang Lambung
Ramping kencur kencur sebesar ibu jari, dikuliti sampai
bersih(diulangi sampai sembuh).
2. Influenza Bayi
Rimpang kencur sebesar ibu jari dan 2 lembar daun
kemukusditumbuk halus, kemudian ditambah beberapa sendok air
hangat (dioleskan di seputar hidung).
3. Masuk Angin
1 piring kencur sebesar ibu jari dan garam secukupnya dimakan secara
bersamaan. Setelah itu kemudian minum 1 gelas air putih(dilakukan 2 kali
sehari).
4. Sakit Kepala
2.3 lembar daun kencur ditumbuk sampai halus. Dioleskan (sebagai
kompres atau pilis) pada dahi.

1
WinkandaAfinPutra. Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 174.

11
d. Kunyit1
1. Diabetes Melitus
Rimpang kunyit dan ½ sendok teh garam direbus dengan 1 liter air
sampai mendidih, kemudian disaring (2 kali seminggu ½ gelas).
2. Tifus
Rimpang kunyit, 1 lembar sere, 1 lembar daun sambiloto ditumbuk
halus dan dipipis, kemudian ditambah 1 gelas masakyang hangat dan
disaring (diminum dan dilakukan selama 1 minggu berturut-turut).
3. Usus Buntu
Rimpang kunyit diparut dan jeruk nipis diperas, kemudian dicampur
dengan 1 potong gula kelapa atau aren dan garam secukupnya. Diseduh
dengan 1 gelas air panas, kemudian disaring(diminum setiap pagi setelah
makan, secara teratur).
4. Keputihan
Rimpang kunyit, 1 gengam daun beluntas, 1 gagang daun asam, 1
potong gula kelapa/aren direbus dengan 1 litar air sampai medidih kemudian
dsaring(diminum 1 gelas sehari).
5. Haid Tidak Lancar
Rimpang kunyit, 1/2 sendok teh ketumbar, ½ sendok teh, ½ genggam
daun srigading ditumbuk halus kemudian direbus dengan 1 liter air sampai
mendidih, kemudian disaring (diminum 1 gelas sehari).
6. Memperlancarkan ASI
Rimpang kunyit ditumbuk sampai halus (dioleskan sebagai kompres
diseputar buah dada 1 kali setiap 2 hari).

1
WinkandaAfin Putra. Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 178.

12
e. Temulawak1
1. Sakit Pinggang
Rimpang temulawak, 1 rimpang kunyit sebesar ibu jari, 1 genggam
daun kumis kucing direbus dengan 1 liter air, dan disaring (diminum 1 kali
sehari 1 gelas).
2. Asma
1 ½ rimpang temulawak diiris tipis-tipis, dikeringkan. Setelah kering
direbus dengan 5 gelas air ditambah 1 potong gula aren sampai mendidih
ingga tinggal 3 gelas, kemudian disaring.
3. Maag
Rimpang diiris tipis-tipis dan diangin-anginkan, kemudian direbus
dengan 5-7 gelas air sampai mendidih dan disaring (diminum 1 kali
sehari 1 gelas).
3.3 Khasiat Dari Pengobatan Tradisional
a. Bratawali
Khasiatnya adalah menghilangkan sakit (analgetik), penurun panas
(antipiretik).2
b. Jahe
Khasiatnya adalah karminatif, stomakik, stimulans dan diaforetik.3
c. Kencur
Khasiatnya adalah mengobati radang lambung, radang anak telinga,
influenza pada bayi, masuk angin, sakit kepala, batuk, menghilangkan darah kotor,
diare, memperlancar haid, mata pegal dan lelah.4

1
WinkandaAfin Putra. Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 280

2
Ibid. hal 76.

3
Ibid. hal 122.

4
Ibid. hal 174.

13
d. Kunyit
Khasiatnya adalah untuk mengobati diabetes militus, tifus, usus buntu, sakit
keputihan, haid tidak lancar, memperlancar ASI, dan amandel.1
e. Temulawak
Khasiatnya adalah acnevulgares, anti inflamasi dan antihepototoksik.2
3.4 Potensi Efek Samping Dari Pengobatan Tradisional
Pemanfaatan obat-obatan tradisional tentunya ditujukan untuk memperoleh aksi
terapeutik yang sesuai. Seperti halnya obat-obatan sintesis buatan pabrik, obat
tradisional mampu menimbulkan efek farmakologis dikarenakan adanya kesesuaian
aksi (onset) terhadap mekanisme yang dituju, seperti inhibisi atau penghambatan
enzimatik, pelapisan kelenjar, mekanisme kompetisi, lisis (kematian) sel, dan lain
sebagainya. Obat-obatan tradisional relatif lebih aman dibandingkan dengan obat
sintetik, karena struktur herbal masih besar sehingga masih dapat dicerna oleh tubuh.
Alasan lain yang mendukung mengapa obat-obatan tradisional lebih aman adalah pada
obat-obatan tradisional struktur kimia dari sediaan yang digunakan masih komplek.
Meskipun obat tradisional lebih aman dibandingkan obat sintesis, akan tetapi tidak
serta merta menghilangkan potensi munculnya efek samping yang dapat merugikan
kesehatan. Kandungan tradisional tentunya sama dengan kandungan yang ada pada
obat-obatan sintesis sehingga memungkinkan pula timbulnya efek samping
sebagaimana terapi dengan menggunakan obat-obatan sintesis.3

1
WinkandaAfin Putra. Kitab Herbal Nusantara (Yogyakarta,2015), hal 178.

2
Ibid. hal 280.

3
Ibid. hal 14-16.

14
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan efek yang tidak
diinginkan adalah :
1. Keamanan obat herbal pada umumnya.
2. Kandungan racun yang mungkin dikandung tanaman tradisional yang
digunakan.
3. Efek yang merugikan pada organ tertentu, seperti sistem kardiovaskuler, sistem
saraf, hati, ginjal dan kulit.
4. Keamanan obat-obatan tradisional untuk pengguna yang rentan, misalnya anak-
anak dan remaja, lansia, wanita selama kehamilan dan menyusui, pasien dengan
kanker, dan pasien bedah.
5. Interaksi yang mungkin terjadi diantara komponen obat tradisional.
6. Waktu penggunaan yang tepat.

15
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Pengobatan tradisional merupahkan segala jenis tumbuh-tumbuhan yang


mempunyai khasiat atau kegunaan sebagai obat. Seperti tanaman obat bratawali, jahe,
kencur, kunyit dan temulawak. Cara pengobatan tradisional masih sederhana. Dalam
penggunaan tanaman obat tradisional tetap membutuhkan dosis yang tepat. Dalam segi
penyembuhan tanaman tradisional lebih lambat dalam pengobatan penyakit dibandingkan
penyembuhan menggunakan obat-obatan kimia, namun pengobatan secara tradisional
menggunakan tanaman tradisional jauh lebih aman bagi tubuh dengan sedikit efek samping
yang ditimbulkannya, bebas racun, mudan diproduksi mudah diperoleh dan mempunyai
banyak khasiat.

4.2 Saran

Sebagai warga indonesia yang memiliki keragaman tumbuhan lebih


mengoptimalkan pemanfaatan pengobatan tanaman tradisional. Dengan teknologi semakin
maju seharusnya dalam pengolahan pengobatan tanaman bisa dilakukan dengan berbagai
cara pengobatan yang dapat memaksimalkan kandungan yang terdapat dalam tanaman obat.

16
DAFTAR PUSTAKA

Faiha, Andari. 2015. Apotek Hidup. Yogyakarta: Genius Publisher.

Murtie, Afin. 2013. Kupas Tuntas Pengobatan Tradisional. Yogyakarta: Cahaya Atma
Pustaka.

Putra, Winkanda. 2015. Kitab Herbal Nusantara. Yogyakarta: Cemerlang Publishing.

17
GLOSARIUM

Perdu adalah nama sekelompok pohon yang memiliki ketinggian di bawah 6 m (20 kaki).

Pestisida adalah bahan atau zat kimia yang digunakan untuk membunuh hama, baik yang
berupa tumbuhan, serangga, maupun hewan lain di lingkungan kita.

Rimpang adalah modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah


permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya.

Sinom adalah minuman tradisional khas jawa yang sudah ada sejak jaman kerajaan dulu.

18