Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN MANAJEMEN

DI RUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT X

Disusun Oleh :
1. Anista dwi Cahyani P27220019186
2. Chandra Dewi P27220019191
3. Dita Prasetya P27220019199
4. Eldha Ike wahyu Sy P27220019202
5. Fatimah Ema Syahara P27220019207
6. Fariha Nikmah Sholihah P27220019206
7. Fransisca Anggraeni P27220019209
8. Septiani Dian Safitri P27220019236
9. Siti Romadhoni P27220019238

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI PROFESI NERS
TAHUN 2020

1
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan ini telah diperiksa dan disetujui untuk memenuhi Tugas
Praktik Klinik Stase Managemen Keperawatan Program Studi Pendidikan Profesi
Ners Poltekkes Surakarta di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit X, pada :

Hari :
Tanggal

Surakarta, April 2020


Koordinator Kelompok

Siti Romadhoni
NIM. P27220019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik


Program Studi Pendidikan Profesi Ners Ruang hemodialisa
Stase Managemen Keperawatan Rumah Sakit X

Sunarsih Rahayu, Skep., Ns., Mkep


NIP. 19740101 199803 2 001
BAB I
PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit


1. Deskripsi Umum Rumah Sakit
Rumah Sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan
menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan
kesehatan dan pelayanan administrasi. Pelayanan kesehatan mencakup
pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, rahabilitasi medik dan
pelayanan perawatan. Dalam perkembangannya, pelayanan Rumah Sakit
tidak terlepas dari pembangunan ekonomi masyarakat. Rumah sakit sebagai
salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya
kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan
upaya kesehatan.
Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit saat ini tidak saja bersifat kuratif
(penyembuhan) tetapi juga bersifat rehabilitatif (pemulihan). Keduanya
dilaksanakan secara terpadu melalui upaya promosi kesehatan (promotif)
dan pencegahan (preventif). Dengan demikian, sasaran pelayanan kesehatan
Rumah Sakit bukan hanya untuk individu pasien, tetapi juga berkembang
untuk keluarga pasien yang datang atau yang dirawat sebagai individu dan
bagian dari keluarga. Atas dasar sikap seperti itu, pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit merupakan pelayanan kesehatan yang paripurna
(komprehensif dan holistik).
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan di era
global ini dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus direspon oleh
perawat. Oleh karena itu keperawatan di Indonesia pada saat ini dan di masa
akan datang perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan
keperawatan dengan memperhatikan dan mengelola perubahan yang terjadi
di Indonesia secara profesional. Kontribusi pelayanan keperawatan terhadap
pelayanan kesehatan, yang dilaksanakan di sarana kesehatan sangat
tergantung pada manajemen pelayanan perawatan. Manajemen pelayanan
keperawatan merupakan suatu proses perubahan atau transformasi dari
sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan.
2

Manajemen keperawatan menurut Nursalam (2015), merupakan suatu


pelayanan keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola
dengan menjalankan empat fungsi manajemen antara lain perencanaan,
pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian. Keempat fungsi tersebut
saling berhubungan dan memerlukan keterampilan-keterampilan teknis,
hubungan antar manusia, konseptual yang mendukung asuhan keperwatan
yang bermutu, berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat. Hal ini
menunjukkan bahwa manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas
utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan, karena berkaitan
dengan tuntutan profesi dan global bahwa setiap perkembangan serta
perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan
memperhatikan setiap perubahan yang terjadi.
Berdasarkan uraian di atas pelayanan keperawatan sebagai inti
pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan kontribusi perawatannya dapat
membentuk praktek keperawatan yang optimal. Perkembangan praktek
keperawatan ditentukan oleh teknik manajemen dalam pelaksanaan Asuhan
Keperawatan. Manajemen keperawatan sebagai suatu pelayanan profesional
dimana tim keperawatan dikelola dengan pendekatan fungsi-fungsi
manajemen mulai planning, organizing, aktuating dan controlling.
Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dituntut untuk
memiliki kemampuan manajerial yang tangguh, sehingga pelayanan yang
diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien. Kemampuan manajerial
dapat dimiliki melalui berbagai cara salah satunya untuk dapat ditempuh
dengan meningkatkan ketrampilan melalui bangku kuliah yang harus
melalui pembelajaran di lahan praktek. Dalam pelayanan kesehatan,
keberadaan perawat merupakan posisi terdepan yang kontak langsung
dengan pasien, yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa 40-60 % pelayanan
rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan dan hampir semua
pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit
maupun tatanan pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat.
3

2. Tujuan Praktek Manajemen


a. Tujuan umum
Setelah melakukan praktik managemen diharapkan mahasiswa mampu
memahami dan mengaplikasikan manajemen keperawatan di Rumah
Sakit dengan bermacam kasus yang ada
b. Tujuan khusus
Setelah melakukkan praktik manajemen keperawatan di harapkan
mahasiswa mampu :
1) Melakukan pengkajian tentang gambaran umum Rumah Sakit
2) Melakukan analisa dari aspek manajemen di Rumah Sakit
3) Mengidentifikasi dan menyusun prioritas permasalahan yang ada di
Rumah Sakit berdasarkan dengan kasus yang ada
4) Menyusun rencana kegiatan untuk mengatasi permasalahan yang ada
di Rumah Sakit sesuai dengan kasus yang ada
5) Melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan rencana kegiatan yang
telah disusun sesuai prioritas di Rumah Sakit sesuai dengan kasus
yang ada.
3. Sasaran
a. Terciptanya tata kelola rumah sakit yang berhasil dan berdaya guna
terciptanya pelayanan rumah sakit yang unggul.
b. Terselenggaranya pendidikan dokter umum, dokter spesilalis disemua
SMF/Bagian dan tenaga kesehatan lainnya.
c. Terselenggaranya penelitian kesehatan yang berkualitas, terdokumentasi
dan dapat dipublikasikan sehingga dapat digunakan dalam peningkatan
mutu kesehatan.
4. Falsafah
Sejarah singkat RS X merupakan RS tipe A pendidikan, pada tahun 2009 RS
X diresertifikasi oleh pemerintah menjadi RS pendidikan utama. Pada tahun
2004 RS mendirikan pelayanan hemodialisa. Pada tahun 2020 pelayanan
hemodialisa di RS X melayani hemodialisa dengan pembayaran umum, BPJS
PBI dan BPS non PBI, kini RS X menjadi RS pendidikan utama tipe A yang
memiliki pusat pelayanan hemodialisa.
4

RS X memiliki falsafah yang dijadikan sebagai pegangan selama bekerja,


yakni Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Manusia Dalam Pelayanan
Kesehatan, Pendidikan dan Penelitian guna meningkatkan kualitas pelayanan.
5. Motto
Berkerja dengan cepat, tepat dan penuh tanggungjawab
6. Keunggulan Rumah Sakit
a. Menjadi RS pendidikan utama terakreditasi A
b. Menjadi RS pusat pelayanan hemodialisa
c. Menjadi RS ungul dan terpercaya

B. WAKTU DAN TEMPAT


Waktu Praktek Stase Manajemen dilaksanakan selama 4 minggu, dimulai
dari tanggal 6 April 2020 sampai tanggal 25 April 2020. Praktek dilakukan
dengan cara E-Learning dengan cara mengidentifikasi dan menganalisa kasus
yang telah diberikan.

C. CARA PENGAMBILAN DATA


1. Mengidentifikasi kasus
2. Menganalisa kasus
3. Studi Kasus

D. PRAKTEK
Praktikan adalah mahasiswa Program Studi Profesi Ners Keperawatan
Poltekkes Surakarta
BAB II
PENGKAJIAN

A. Gambaran Umum Ruangan


RS “X” merupakan rumah sakit tipe A Pendidikan, pada tahun 2019 disertifikasi
sebagai RS Pendidikan (utama). RS “X” memiliki kapasitas 330 tempat tidur.
Instalasi hemodialisa merupakan bagian dari pelayanan RS “X” yang berdiri
pada tahun 2004. Instalasi Hemodialisa ini memberikan pelayanan kepada klien
hemodialisi atau cuci darah dengan pembayaran umum, BPJS Non PBO dan
PBI. Instalasi Hemodialisa terbagi menjadi 2 yaitu rincian sebagai berikut:
a. Hemodialisa 1 : 19 tempat tidur
b. Hemodialisa 2 : 15 tempat tidur (1 khusus untuk pasien dengan
HbSAg (+))
B. Visi dan Misi Rumah Sakit
1. Visi
Menjadi RS pendidikan utama terakreditasi paripurna yang memberikan
pelayanan terbaik dan sepenuh hati oleh tenaga kerja telatih demi
tercapainya kepuasan pelanggan.
2. Misi
a. Melayani sepenuh hati dengan rasa ikhlas dan penuh tanggung jawab
b. Memberikan pelayanan berstandar nasional dan internasional oleh tenaga
kerja terlatih dan terpilih
c. Memberikan pelayanan dengan menggunakan 3 R + 2 S dan T (rapi,
ramah, resik, sabar, senyum, dan take care) guna meningkatkan kepuasan
pelanggan RS
d. Memberikan pelayanan dengan menggunakan alat-alat medis yang
terpercaya dan berstandar nasional ataupun internasional
e. Melayani dengan cepat, tepat, penuh dengan rasa tanggungjawab

C. Data Sumber Daya dan Kekuatan


Meliputi analisis ketenagaan, jumlah tenaga keperawatan, non keperawatan, latar
belakang pendidikan, status kepegawaian, struktur organisasi, kebutuhan tenaga

5
6

perawat berdasarkan tingkat ketergantungan klien, jumlah penyakit terbanyak,


dan data demografi.
1. Man M1 (Manusia/ Ketenagaan)
a. Struktur organisasi
Struktur organisasi di ruangan hemodialisa terbagi menjadi beberapa staf
yaitu kepala instalasi hemodialisa, kepala ruangan hemodialisa, dokter,
perawat primer, administrasi/billing, dan cleaning service.
b. Ketenagaan Perawat
Dalam pemberian asuhan keperawatan, rumah sakit X memiliki 142
Perawat/Bidan (95 perawat dan 47 Bidan) terdiri dari 3 perawat Magister
Keperawatan, 5 perawat S1-Keperawataan, 67 perawat S1-Keperawatan +
Ners, 13 perawat D4 Keperawatan, 3 perawat SPK, 1 perawat SPR, 3
perawat SPRG, 1 Bidan D4 Kebidanan, 2 bidan AKBID, 1 Bidan D1
Kebidanan dan 2 Bidan SLTA Kebidanan.
Menurut undang-undang nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya keseahtan. Dalam undang-undang
tersebut tenaga kesehatan salah satunya adalah tenaga keperawatan yaitu
perawat.
Standar pendidikan untuk perawatan profesional adalah S-1
Keperawatan dan harus Ners. Dalam hubunganya dengan penerapan
pelayanan keperawatan serta meningkatan pendidikan formal setara S1 dan
pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kasus-kasus yang dirawat di Ruang
hemodialisa yaitu kasus penyakit CKD. Kualifikasi tenaga perawat di RS
X menurut kualifikasi pendidikan formal adalah beberapa masih belum
memenuhi pola ketenagaan yang ditetapkan oleh rumah sakit yakni dengan
pendidikan minimal S1-Keperawatan+Ners
c. Ketenagaan Non-Perawat
Selain tenaga kesehatan perawat terdapat pula tenaga non-medis yang
memegang peranan penting seperti petugas administrasi bertugas
7

bertanggung jawab mengatur, mengurus administrasi yang berada di ruang


hemodialisa yaitu pasien masuk, pasien keluar, billing system computer,
bon kebutuhan ruangan dan segala administrasi di Ruang hemodialisa dan
petugas cleaning servise pendidikan SMA, SMP, SD petugas CS ini
bertugas untuk mengantar pasien dan membersihkan merapikan ruangan
hemodialisa.
d. Ketenagaan Mahasiswa Praktek
Tidak teridentifikasi.
e. Kebutuhan Tenaga Keperawatan
Dalam pemberian asuhan keperawatan, rumah sakit X memiliki 95
perawat terdiri dari 3 perawat Magister Keperawatan, 5 perawat S1-
Keperawataan, 67 perawat S1-Keperawatan + Ners, 13 perawat D4
Keperawatan, 3 perawat SPK, 1 perawat SPR, dan 3 perawat SPRG.
Penetapan jumlah tenaga keperawatan merupakan perencanaan
dalam hal menentukan berapa banyak tenaga yang dibutuhkan dalam
hal menentukan berapa banyak tenaga yang dibutuhkan dalam suatu
ruangan dan kriteria tenaga yang dipakai untuk suatu ruangan tiap
shiftnya.
Menurut Depkes (2002), jumlah perawat yang dibutuhkan di
ruang hemodialisa dengan rata-rata pasien intermediet yang melakukan
HD adalah sebagai berikut :
Jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan :

Jumlah jam perawatan di ruangan/hari


Jam kerja efektif perawat

Klasifikasi pasien :

a. Perawatan minimal : 0 x 2 = 0 jam


b. Perawatan intermediet : 2x 3 = 6 jam
c. Perawatan agak berat : 4 x 4 = 16 jam
d. Perawatan berat : 1 x 6 = 6 jam
28 jam
8

Karena dalam keadaan sedang melakukan hemodialisa, maka jumlah jam


perawatan untuk perawatan intermediet diberikan 5 jam perawatan

1) Di ruang hemodialisa satu 2) Di ruang hemodialisa dua


5 x 19 5 x 15
= 11
= 13
7 7

Dari hasil diatas maka jumlah kebutuhan tenaga perawat di ruang


hemodialisa berjumlah 24 perawat dengan 13 perawat di ruang
hemodialisa satu dan 11 perawat di ruang hemodialisa dua.
Dari berbagai perhitungan diatas, dapat dijadikan tolak ukur dalam
penentuan jumlah ketenagakerjaan ruangan Hemodialisa, yang disesuaikan
dengan aktualisasi dan realisasi kebutuhan di ruangan yang juga
merupakan tugas / kebijakan dari seorang Karu dalam manajemen
ketenagaan ruangannya.
f. Program pengembangan kinerja
Tenaga keperawatan yang berkualitas mempunyai sikap profesional
dan dapat menunjang pembangunan kesehatan, hal tersebut memberi
dampak langsung pada mutu pelayanan di rumah sakit sehingga pelayanan
yang diberikan akan berkualitas dan dapat memberikan kepuasan pada
pasien sebagai penerima pelayanan maupun perawat sebagai pemberi
pelayanan. Pemberdayaan sumber daya manusia mulai dari proses
rekruitmen, seleksi dan penempatan, pembinaan serta pengembangan karir
harus dikelola dengan baik, agar dapat memaksimalkan pendayagunaan
tenaga perawat dan memberikan kepuasan kerja bagi perawat. Untuk dapat
mewujudkan tercapainya pelayanan yang berkualitas diperlukan adanya
tenaga keperawatan yang profesional, memiliki kemampuan intelektual,
tehnikal dan interpersonal, bekerja berdasarkan standar praktek,
memperhatikan kaidah etik dan moral
Program pengembangan kinerja staf dilakukan di Hemodialisa ini
dilakukan dengan cara memberikan usulan mengenai berbagai pelatihan.
Program pelatihan yang akan diusulkan untuk di terapkan kepada tenaga
9

profesional (perawat) ruang hemodialisa meliputi BTCLS, PPDG, BLS


dan pelatihan hemodialisa untuk perawat di ruang hemodialisa yang
menggunakan dana pribadi dari tiap perawat yang hendak memiliki
sertifikat hemodialisa, sehingga masih ada perawat yang belum memiliki
sertifikat HD.Pelatihan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas
Sumber daya Manusia (Perawat) dalam pemberian pelayanan kepada
pasien.
g. Kasus yang sering ditemukan
Berdasarkan data yang telah diperoleh di ruang hemodialisa sebagian besar
pasien yang menjalani cuci darah atau hemodialisa (dialysis) adalah pasien
dengan Chronic Kidney Disease (CKD) atau Gagal ginjal. Namun ada pula
pasien dengan CKD yang memiliki komplikasi lain seperti Hipertensi,
Diabetes Melitus, penyakit jantung dan lain sebagainya.
h. Jumlah pasien
Jumlah pasien untuk satu periode baik yang sudah meninggal ataupun
yang masih hidup, terihitung sejak bulan Januari 2020 sampai bulan April
2020 dengan setiap pasien melakukan 2X hemodialisis dalam satu minggu,
sehingga didapatkan jumlah pasien di ruang hemodialisa dalam satu
periode sebanyak 3.264 pasien.
2. Material/Sarana Prasarana (M2)
a. Kajian teori
Di dalam manajemen keperawatan sangat diperlukan adanya
pengelolaan peralatan sebagai factor pendukung dan penunjang
terlaksananya pelayanan keperawatan. Peralatan kesehatan untuk
pelayanan keperawatan adalah semua bentuk alat kesehatan yang
dipergunakan dalam melaksanakan tindakan untuk menunjang
kelancaran pelaksanaan asuhan keperawatan, sehingga diperoleh tujuan
keperawatan yang efektif dan efisien.
10

b. Kajian data
1) Denah ruangan

2) Komposisi ruangan
Ruang hemodialisa merupakan salah satu ruangan di RS “X” yang
memberikan pelayanan hemodialisis, terdapat dua ruang
hemodialisa yaitu ruang hemodialisa satu yang terdiri dari 19
tempat tidur dan hemodialisa dua yang terdiri dari 15 tempat tidur
dengan satu tempat tidur khusus untuk pasien dengan HbSAg +
c. Inventasi ruangan
1) Alat medis
Inventaris Alat Medis di Ruang Hemodialisa
Kondisi
No Nama Jumlah Observasi
Baik Rusak
Mesin
Hemodialisa
1 umum 33 32 1 33
Mesin
Hemodialisa
2 khusus HbsAg+ 1 1 0 1
3 Infus Pump 8 8 0 3
4 Syring Pump 3 3 0 3
5 ECG 2 2 1 2
11

6 Nebulizer 2 2 0 2
Glucotes/Tes
7 Gula Darah 2 2 0 2
8 Defibrillator 1 1 0 1
Stetoskop
10 Dewasa 3 3 0 2
Bed Side
11 Monitor 34 34 0 34
12 Suction 2 1 1 2
13 Pulse Oksimetri 2 2 0 2
14 Flow meter 34 34 0 34
15 Tensimeter 3 3 1 3
16 Almari Linen 2 2 0 2
17 Bed Pasien 34 34 0 34
18 Kursi Roda 5 5 0 5
19 Lemari Obat 2 2 0 2
Termometer
20 Elektrik 2 2 0 2
21 Pispot 8 8 0 8
22 Tiang Infus 10 10 0 10
23 Ambubag 2 2 0 2
24 Troli injeksi 5 5 0 5
25 Timbangan 2 2 0 2

Analisa :
Berdasarkan dari data pengkajian inventaris alat medis
didapatkan total inventaris alat medis sebanyak 25 jenis, alat medis dan
terdapat beberapa peralatan yang berada dalam kondisi rusak, seperti
mesin hemodialisa yang rusak berjumlah 1 namun demikian dalam
penggunaannya apabila dibutuhkan dapat menggunakaan mesin
hemodialisas untuk pasien cito HD.
2) Alat tenun

Kondisi
No Nama Jumlah Observasi
Baik Rusak
1 Bantal 35 35 0 35
2 Sarung Bantal 35 35 0 34
3 Selimut 35 35 0 35
4 Sprei 72 0 0 72
6 Stik Laken 5 5 0 5
12

Analisa :
Berdasarkan dari data pengkajian diatas alat perlengkapan tenun
total inventaris diruang Hemodialisa sebanyak 6 jenis. Berdasarkan
jumlah tempat tidur di Hemodialisa, perbandingan alat tenun dan jumlah
bed adalah 1 : 1 dan memenuhi kebutuhan ruangan.
3) Alat non medis

Kondisi
No Nama Jumlah Observasi
Baik Rusak
1 APAR 4 4 0 3
2 Jam Dinding 3 3 0 3
3 Kipas Angin 2 2 0 2
4 AC 6 6 0 6
5 Kulkas 2 2 0 2
7 Meja Tulis 7 7 0 7
8 White Board 2 2 0 1
9 Wastafel 4 4 0 4
10 Meja Pasien 34 34 0 34
11 Kursi Penunggu 34 34 0 34
4) Administrasi
penunjang Tidak
teridentifikasi
d. Fasilitas kamar pasien
Terdapat dua ruang hemodialisa yang terdiri dari ruang hemodialisa
satu terdapat 19 tempat tidur dan ruang hemodialisa dua terdapat 15
tempat tidur dengan satu tempat tidur khusus untuk pasien dengan
HbSAg +
e. Fasilitas staff
Fasilitas staf di Ruang Hemodialisa yaitu ruang administrasi, ruang
kepala ruang, ruang perawat/nurse station, ruang tindakan, ruang re-
use untuk membersihkan dialyzer, gudang penyimpanan alat-alat
hemodialisa, kamar mandi perawat, dan ruang obat.
13

3. Method (M3/Metode)
a. MAKP (Model asuhan keperawatan primer) dan Standar prosedur
operasioal
No Fungsi Hasil Pengkajian
Managemen
1 Planning 1. Model asuhan kepewarawatn di
ruang HD tidak teridentifikasi.
2. Ruang HD sudah memiliki uraian
tugas kepala ruangan, ketua tim
sesuai dengan standar prosedur
operasional SPO

2 Organizing 1. Ruang HD sudah meletakan uraian


tugas kepala ruangan, ketua tim di
ruangan perawat
2. Ruang HD memberikan hak kepada
setiap anggota tim untuk
menyampaikan setiap kasus yang
dialami
3 Actuating 1. Ruang HD melakukan timbang
terima setiap pergantian shift operan
2. Ruang HD saat melakukan timbang
terima dihadiri oleh petugas yang
bertugas pada hari itu.
3. Uraian tugas Tim sudah sesuai
dengan penerapan diruangan
4. Penerapan standar metode
keperawatan efektif.
4 Controling 1. Kepala ruangan HD selalu
melakukan controlling di ruangan
sesuai dengan SOP.
Kesimpulan :
1. Penerapam MAKP tidak teridentifikasi, tugas dan
tanggungjawab tiap perawat di ruang Hemodialisa
berjalan sesuai dengan SOP.

b. Ronde Keperawatan dan Operan Jaga


Pelaksanaan ronde keperawatan (interprofesional collaboration) tidak
teridentifikasi. Operan di ruangan dilakukan 3 kali dalam 24 jam, pada
pukul 07.00, 14.00, 21.00 WIB. Operan dilaksanakan selalu tepat waktu.
Apabila shift pagi dilakukan sebelum pukul 07.00 WIB, shift siang
dilakukan pukul 14.00 WIB dan shift malam dilakukan pukul 21.00 WIB.
Operan shift dihadiri oleh semua perawat dari shift sebelumnya dan yang
14

akan memulai shift selanjutnya. Operan jaga pada pagi hari dipimpin oleh
kepala ruangan, sore dipimpin oleh case manager, dan malam oleh
perawat klinik II.
c. Supervisi
Tidak teridentifikasi.
d. Perencanaan pulang (discharge planning)
Perencanaan pulang merupakan suatu proses yang dinamis dan
sistematis dari penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan untuk
memberikan kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan pelayanan
social sebelum dan sesudah pulang. Perencanaan pulang merupakan proses
yang dinamis agar tim kesehatan mendapatkan kesempatan yang cukup
untuk menyiapkan pasien melakukan perawatan mandiri di rumah.
Perencanaan pulang didapatkan dari proses interaksi ketika perawat
professional, pasien dan keluarga berkolaborasi untuk memberikan dan
mengatur kontinuitas keperawatan. Perencanaan pulang diperlukan oleh
pasien dan harus berpusat pada masalh pasien, yaitu pencegahan,
terapeutik, rehabilitatif, serta perawatan rutin yang sebenarnya (Nursalam,
2014).
Discharge planning yang dilakukan perawat Hemodialisa adalah
antara lain menjelaskan tentang obat pasien, diet yang perlu dijalani saat
pasien berada di rumah dan menjelaskan waktu kapan harus kembali
menjalani hemodialisa selanjutnya.
e. Dokumentasi keperawatan
Tidak teridentifikasi.
4. Money (M4)
No Fungsi Hasil Pengkajian
Managemen
1 Planning 1. Untuk kegiatan oprasional, managemen, dan
penggembangan sarana dan prasarana anggaranya tidak
keluar dari ruangan tetapi keluar dari management
Rumah Sakit.
2 Organizing 1. Ruang Hemodialisa memiliki pengawai administrasi.
2. Gaji perawat di Ruang Hemodialisa yaitu berdasarkan
status kepegawaian PNS dan Kontrak.
3. Gaji perawat PNS di ruang Hemodialisa sesuai dengan
Golongan.
15

3 Actuating 1. Pembayaran Tenaga Honor ditanggung oleh pihak


Rumah Sakit
2. Pembayaran Pegawai Negeri Sipil di tanggung dari
Pemerintah
3. Kurangnya pembiayaan untuk perawat yang mengikuti
pelatihan HD sehingga perawat menggunakan dana
sendiri untuk mengikuti pelatihan HD
4. Ruang Hemodialisa mendapatkan tambahan insentif dari
jasa pelayanan yang diperoleh berdasarkan jumlah
pasien.
4 Controling 1. Kepala ruangan HD melakukan monitoring terhadap
anggaran yang masuk ke ruangan.
Kesimpulan :
1. Pembiayaan untuk perawat yang mengikuti pelatihan HD masih belum
maksimal

5. Market-mutu (M5)
Mutu asuhan kesehatan sebuah rumah sakit akan selalu terkait dengan
struktur, proses, dan outcome sistem pelayanan rumah sakit tersebut. Mutu
asuhan pelayanan rumah sakit juga dapat dikaji dari tingkat pemanfaatan
sarana pelayanan oleh masyarakat, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi
rumah sakit. Secara umum aspek penilaian meliputi evaluasi, dokumen,
instrumen, dan audit (EDIA) (Nursalam, 2014).
a. Aspek struktur (input)
Struktur adalah semua input untuk sistem pelayanan sebuah RS yang
meliputi M1 (tenaga), M2 (sarana prasarana), M3 (metode asuhan
keperawatan), M4 (dana), M5 (pemasaran), dan lainnya. Ada sebuah
asumsi yang menyatakan bahwa jika struktur sistem RS tertata dengan
baik akan lebih menjamin mutu pelayanan. Kualitas struktur RS diukur
dari tingkat kewajaran, kuantitas, biaya (efisiensi), dan mutu dari masing-
masing komponen struktur.
b. Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter, perawat, dan tenaga profesi lain
yang mengadakan interaksi secara professional dengan pasien. Interaksi
ini diukur antara lain dalam bentuk penilaian tentang penyakit pasien,
penegakan diagnosis, rencana tindakan pengobatan, indikasi tindakan,
penanganan penyakit, dan prosedur pengobatan.
16

c. Outcome
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter, perawat, dan tenaga profesi
lain terhadap pasien.
d. Gambaran karakteristik pasien
Tidak teridentifikasi.
e. Usaha yang dilakukan ruangan untuk meningkatkan mutu pelayanan
pasien (Keselamatan pasien, angka kejadian pasien jatuh, penyakit
terbanyak, angka kejadian flebitis, angka kejadian medical error).
Tidak teridentifikasi.
f. Gambaran mutu pelayanan
Tidak teridentifikasi
1) Tingkat kepuasan pasien
Tidak teridentifikasi
2) Patient safety
Tidak teridentifikasi
3) Tingkat pengetahuan pasien
Tidak teridentifikasi
4) Pemenuhan kebutuhan personal
hygine Tidak teridentifikasi
5) Bed Occupancy Rate (BOR)
Menurut Depkes RI (2015), Jumlah BOR di Ruang Hemodialisa
pada Januari- April tahun 2020 adalah sebagai berikut:
Jumlah hari perawatan rumah sakit
BOR = X 100%
Jumlah tempat tidur x jumlah hari dalam
periode

3264
BOR = X 100%
34 X 104

BOR = 92.3%
Berdasarkan dari perhitungan di atas di dapatkan jumlah BOR Ruang
Hemodialisa di RS “X” selama satu periode adalah 92,3%. Dengan
17

demikian pemakaian tempat melebihi standart nasional. Menurut


standar nasional Baber Johnson (75-85%).
6) LOS (lama rata-rata hari perawatan)
Menurut Depkes RI (2015), Jumlah LOS di ruang Hemodialisa RS
“X" pada satu tahun/periode adalah sebagai berikut:

Jumlah lama dirawat (dalam periode)


LOS =
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

3536
LOS =
3264
LOS = 1.08x hari = 1 hari

Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan lama rata-rata hari


perawatan (LOS) pasien di Ruang Hemodiaisa pada bulan Januari
sampai bulan April 2020 adalah 1 hari. Hal ini menunjukan bahwa
lama rata-rata hari perawatan di Ruang Mawar tidak memenuhi
standar nasional menurut Barber Johnson (3-4 hari).
7) TOI (waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong)
Jumlah TOI di ruang Hemodialisa pada Januari sampai April tahun
2020 dengan perhitungan menurut Depkes RI (2015) adalah sebagai
berikut:

(Jumlah TT x periode) – hari perawatan


TOI =
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

(34 X 104) - 3536


TOI =
3264
TOI = 0 hari

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, didapatkan hasil waktu rata-


rata tempat tidur Ruang Hemodialisa pada bulan Januari sampai
April 2020 kosong adalah 0 hari. Hal ini menunjukan bahwa waktu
18

belum memenuhi standar nasional menurut Depkes dan Barber


Johnson yaitu (1-3 hari). Semakin kecil angka TOI dapat
memungkinkan meningkatnya kejadian infeksi nosokomial di rumah
sakit. Untuk itu Departemen Kesehatan RI memberikan standar ideal
TOI adalah 1-3 hari (Sudra, 2010).
8) BTO (frekuensi pemakaian tempat tidur)
Berdasarkan perhitungan BTO menurut Depkes RI (2015), frekuensi
pemakaian tempat tidur di Ruang Hemodialisa sebagai berikut:
Jumlah pasien di rawat (hidup +mati)
BTO =
Jumlah TT
3264
BTO =
34
BTO = 96 kali

Berdasarkan perhitungan BTO diatas, didapatkan hasil frekuensi


pemakaian tempat tidur di ruang Hemodialisa pada bulan Januari
sampai April tahun 2020 adalah 96 kali. Hal ini menunjukan BTO
melebihi standart menurut Depkes (5-45 pasien).
BAB III
ANALISA MASALAH

A. Identifikasi Masalah
1. Analisis SWOT
PENG SUB SISTEM SWOT
KAJIAN
INPUT Man Strenght Weakness
Adanya tingkat 1. Terdapat 95 orang perawat 1. Masih adanya pendidikan
pendidikan yang 2. Terdapat perawt dengan terakhir perawat yang belum
belum ter upgreat pendidikan terakhir diupgreat
magister keperaawatan, S1 2. Masih adanya perawat yang
keperawatan + Ners, S1 belum memiliki sertifikat
Keperawatan, D4 pelatihan HD
Keperawatan, SPK, SPR
dan SPRG
3. Jumlah perawat dengan
pendidikan yang lebih
tinngi (magister
keperawatan. Ners, S1
keperawatan. D4
Keperawatan) dapat
menambah wawasan dan
skill dalam tim
4. Terdapat 47 orang bidan
5. Terdapat bidan dengan
pendidikan terakhir D4
Kebidanan sebanyak 1
bidan, D3 kebidanan
sebanyak 42 bidan,
pendidikan AKBID
sebanyak 2 bidan, d1
kebidanan sebanyak 1
bidan dan SLTA
kebidanan sebanyak 1
bidan
Opportunity Threatened
1. Adanya perawat dengan 1 Terdapat daya saing antara
tingkat pendidikan tinggi perawat dengan tingkat
yang dapat memberikan pendidikan berbeda-beda
peluang dalam pelayanan 2 Terdapat daya saing antara bidan
2. Adanya hubungan yang baik dengan tingkat pendidikan
antar Karyawan baik antar terakhir yang berbeda-beda
perawat, antar bidan ataupun 3 Terdapat daya saing antara
antar perawat dan bidan perawat dengan bidan

19
20

Material Strenght Weakness


s 1. Jumlah tempat tidur sudah 1. Jumlah tempat tidur antara
Inventaris tersedia dan dapat ruangan hemodialisa satu dengan
ruangan menunjang pelayanan ruangan hemodialisa kedua tidak
keperawatan. sama banyak
Opportunity Threatened
1. Adanya tempat tidur yang 1. kurangnya tempat tidur yang di
dikususkan untuk pasien khususkan untuk pasien tertentu
HbSAg+ dengan penyakit menular
Methods Strenght Weakness
1. Operan jaga 1. Operan jaga dilakukan tepat 1. Interval pergantin shift dan
waktu kurang tepat antara jaga pagi ke
2. Operan jaga dipimpin oleh siang dan jaga siang ke malam
perawat atau senior yang
memiliki tanggung jawab
lebih dalam kelompok
3. Operan jaga dilakukan 3X
dalam sehari sesuai shft

Opportunity Threatened
1. Adanya perawat yang senior 1. Interval pergantian shift yang
atau perawat yang memiliki tidak imbang antara pagi ke
tanggung jawab lebih di siang dan siang ke malam
setiap shift
2. Adanya hubungan baik
antara karyawan
Money Strenght Weakness
1. Adanya anggaran yang Kurangnya pembiayaan bagi
dikeluarkan dari
perawat yang akan mengikuti
management rumah sakit
2. Adanya pembayaran pelatihan hemodialisa
kepegawaian sesuai dengan
golongan dan kontrak
3. Adanya kepegawaian
administrasi di ruang
hemodialisa
Opportunity Threatened
1. Adanya kepala ruang yang Tidak adanya pendanaan untuk
selalu mengontrol anggaran alokasi pelatihan hemodialisa di
yang masuk ruangan HD

Market Strenght Weakness


Mutu pelayanan 1. Adanya struktur ruangan Kurang maksimal dalam penerapan
yang tertata dengan baik patient safety
2. Adanya proses dalam
interaksi secara profesional
terhadap kesehatan dan
keselamatan pasien
3. Adanya mutu pelayanan
kesehatan dan keselamatan

20
21

bagi pasien (patient safety)


dan tenaga medis

Opportunity Threatened
1. Kepala ruang selalu Terjadi infeksi nasokomial pada saat
melakukan controling pergantian pasien HD karena linen
terhadap mutu ruang. hanya diganti 1kali sehari diakhir
2. Perawat selalu mengontrol shift malam.
keadaan pasien saat
berlangsungnya tindakan HD
PROSES Planning Strenght Weakness
1. Pre 1. Terdapat dukungan seluruh 1. Perbedaan interval jadwal
conference perawat untuk dilakukan pre pertukaran shift antara pagi ke
conference. siang dan siang ke malam.
2. Terdapat komitmen seluruh
perawat melakukan pre
conference
3. pre conference dilakukan
tepat waktu. Sehari 3x sesuai
dengan pergantian shift
Opportunity Threatened
1. Adanya perawat senior yang 1. Interval pergantian shift yang
memiliki tanggung jawab tidak imbang antara pagi ke
yang lebih di setiap tim siang dan siang ke malam.
2. Post Strenght Weakness
conference 1. Terdapat dukungan seluruh 1 Perbedaan interval jadwal
perawat saat dilakukan post pertukaran shift antara pagi ke
conference. siang dan siang ke malam.
2. Terdapat komitmen seluruh
perawat melakukan post
conference
Opportunity Threatened
1. Adanya perawat senior yang 1 Interval pergantian shift yang
memiliki tanggung jawab tidak imbang antara pagi ke
yang lebih di setiap tim siang dan siang ke malam dalam
satu hari.

21
22

2. Analisa Data
Data Fokus Problem Etiologi
1. Terdapat perawat dengan Masih adanya tingkat Kurangnya kesadaran Karyawan
pendidikan terakhir magister pendidikan yang tentang pendidikan, kurangnya
keperaawatan, S1 keperawatan tidak terupgreat motivasi dan reward dari RS untuk
+ Ners, S1 Keperawatan, D4 . meningkatkan pendidikan bagi
Keperawatan, SPK, SPR dan Karyawan yang perlu mengupgreat
SPRG pendidikannya.
2. Terdapat bidan dengan
pendidikan terakhir D4
Kebidanan sebanyak 1 bidan,
D3 kebidanan sebanyak 42
bidan, pendidikan AKBID
sebanyak 2 bidan, d1 kebidanan
sebanyak 1 bidan dan SLTA
kebidanan sebanyak 1 bidan
3. Terdapat perawat yang belum
melakukan pelatihan khusus HD
1 Jumlah tempat tidur antara Kurangnya tempat Keterbatasan tempat
ruangan hemodialisa satu tidur yang
dengan ruangan hemodialisa dikhususkan untuk
kedua tidak sama banyak pasien dengan
2 kurangnya tempat tidur yang di penyakit menular dan
khususkan untuk pasien tertentu tidak samanya jumlah
dengan penyakit menular tempat tidur antar
ruang hemodialisa 1
dengan ruangan
hemodialisa 2
1 Perbedaan interval jadwal Interval pergantian Salah satu upaya agar tidak
pertukaran shift antara pagi ke waktu shift yang terlambat dan lebih disiplin
siang dan siang ke malam. tidak sama antara
2 Adanya perawat senior yang shift pagi ke siang
memiliki tanggung jawab yang dan shift siang ke
lebih di setiap tim malam

22
23

3. Prioritas Masalah
Penetapan prioritas masalah sebagai berikut :
Aspek Yang Dinilai Total
Masalah Skor
M S Mn Nc Af
1 Tingkat pendidikan Karyawan yang kurang
terupgreat 4 4 4 4 4 1024
2 Perbedaan pergantian shift dari pagi ke siang dan
siang ke malam 3 4 4 4 4 768
3 Kurangnya jumlah tempat tidur yang dikhususkan
untuk pasien dengan penyakit menular 3 4 4 4 3 576

23
24

4. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan penyelesaian masalah dibuat dalam bentuk Plan Of Action (POA) yang disusun:
Masalah Tujuan Strategi Sasaran Kegiatan PJ Waktu Kriteria evaluasi
Mengupgret tingkat Meningkatkan kualitas Role play Karu, Katim, 1. Persiapan 06April- Evaluasi Hasil :
pendidikan dan SDM dan perawat primer 1) Melakukan koordinasi 25April - meningakatan
pelaksanaan Pelatihan HD bimbingan dan Perawat dengan KaRu, KaTim, 2020 kinerja perawat
ditanggung oleh Rumah pelaksana dan perawat pelaksana dan kompetensi
Sakit bidang perawat
2.Pelaksanaan HD
- Melakukan pelatihan - meningkatan mutu
HD yang ditanggung pelayanan Rumah
oleh rumah sakit Sakit berfokus
pada keselamatan
3.Bimbingan dan pasien
Pendampingan
- Melakukan bimbingan
dan pendampingan
dalam pelaksanaan
pelatihan HD

4.Evaluasi
- Evaluasi pelaksanaan
pelatihan HD

Perbedaan pergantian Mengoptimalkan Role play KARU, Katim, 1. Persiapan 06 Evaluasi struktur :
shift dari pagi ke siang beban kerja perawat dan perawat primer  Melakukan koordinasi April- a. Seluruh perawat di
dan siang ke malam dan meningkatkan bimbingan dan Perawat dengan KaRu, KaTim, 25 April Ruang Hemodialisa
kualitas perawat dalam Pelaksana Perawat primer dan 2020 ikut

24
25

melakukan perawatan perawat pelaksana aktif dalam


pasien di ruang HD dalam mendiskusikan kegiatan.
pergantian shift b. Penyelenggaraan
perawat dilaksanakan di
Ruang
2. Pelaksanaan Hemodialisa.
 Melakukan diskusi c. Pengorganisasian
mengenai pergantian penyelenggaraan
shift perawat kegiatan dilakukan
 Melakukan role play sebelumnya.
dalam
mengoptimalkan Evaluasi proses :
beban kerja perawat a. Perawat di Ruang
Hemodialisa aktif
dalam kegiatan dan
3. Bimbingan dan ada respon positif.
Pendampingan b. Perawat di Ruang
 Melakukan bimbingan Hemodialisa aktif
dan pendampingan dan mampu
dalam pelaksanaan menyampaikan
pergantian shift gagasan/ saran
 Melakukan bimbingan untuk keberhasilan
dan pendampingan program.
dalam pelaksanaan
diskusi beban kerja Evaluasi hasil :
yang dialami perawat Perawat di Ruang
HD Hemodialisa dapat
mengoptimalkan beban
4. Evaluasi kerja dan
- Evaluasi pelaksanaan meningkatkan kualitas
pergantian shift dalam perawatan

25
26

perawat HD pasien hemodialisa


-
Penambahan tempat tidur Mengupayakan Role play Karu, Katim, 1. Persiapan 06 Evaluasi Hasil :
untuk pasien dengan terpenuhnya dan perawat primer - Melakukan koordinasi April-25 - Meningkatkan
penyakit menular kebutuhan fasilitas bimbingan dan Perawat dengan KaRu, KaTim, dan April kebutuhan alat dan
pelayanan Untuk pelaksana perawat pelaksana dalam 2020 bahan kesehatan
mempermudah dalam penambahan tempat tidur - Penambahan alat
melakukan tindakan khusus untuk pasien dengan dan bahan
penyakit menular kesehatan sesuai
kebutuhan pasien
2.Pelaksanaan
- Melakukan bimbingan
mengenai penambahan alat
dan bahan kesehatan termasuk
tempat tidur untuk pasien
dengan PM

3.Bimbingan dan
Pendampingan
- Melakukan bimbingan dan
pendampingan dalam
pelaksanaan penambahan alat
dan bahan kesehatan termasuk
tempat tidur untuk pasien
dengan PM

4.Evaluasi
- Evaluasi pelaksanaan
penambahan alat dan bahan
kesehatan termasuk tempat
tidur untuk pasien dengan PM

26
27

5. Implementasi
Berdasarkan dari rencana kegiatan atau Plan of Action (POA) yang telah
disusun, maka pelaksanaan dan evaluasi kegiatan menurut masalah di Ruang
Hemodialisa RS X dilakukan sebagai berikut:
a. Pelaksanaan Program Pendidikan Perawat
1) Pelaksanaan Kegiatan
a) Menyiapkan proposal kegiatan penerapan MAKP tim pada tanggal
15 April 2020
b) Memberikan motivasi kepada perawat yang pendidikannya belum
memenuhi standar agar mau dan mampu untuk melanjutkan
pendidikan sesuai standar tanggal 15-17 April 2020
c) Mendiskusikan setiap hambatan seorang perawat untuk
melanjutkan pendidikan sesuai standar tanggal 15-17 April 2020
d) Mensosialisasikan UU mengenai standar pendidikan perawat
profesional tanggal 16-17 April 2020
e) Memberikan solusi yang tepat kepada perawat yang akan
melanjutkan pendidikannya tanggal 17 April 2020
b. Perbedaan interval pergantian shift bagi perawat dinas pagi ke siang dan
siang ke malam
a. Pelaksanaan
1) Memberikan pengertian kepada perawat ruang hemodialisa
mengenai pembagian jam kerja yang sudah efisien pada tanggal 15
April 2020
2) Mendiskusikan interval waktu yg dijalani perawat saat bertugas
pada tanggal 15 April 2020
3) Mendiskusikan beban kerja yang tengah dialami perawat selama
jam dinas berlangsung tanggal 16 April 2020
4) Memberikan solusi yang tepat dalam meningkatkan kualitas dan
kuantitas bagi tenaga kesehatan tanggal 20 April 2020
28

c. Inventaris alat bagi pasien dengan penyakit menular


a. Pelaksanaan
1) Mengobservasi dan pengecekan dilakukan dengan melihat jumlah,
kondisi alat yang tersedia dan melakukan tes pada setiap alat
apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak serta pembuatan
proposal yang dilakukan kepala ruang untuk penambahan alat yang
kurang pada tanggal 17 April 2020
2) Mendiskusikan kepada kepala ruang untuk mengusulkan
pembuatan buku inventaris sarana dan prasarana tanggal 19 April
2020
3) Mendiskusikan tentang pembuatan jadwal rutin kepada perawat
untuk menginventariskan alat kesehatan di ruangan tanggal 14
April 2020
4) Menambahkan label pada setiap alat agar mempermudah dalam
pemantauan tanggal 20 April 2020
5) Mendiskusikan dengan kepala ruang mengusulkan menambahkan
tempat tidur yang dikhususkan untuk pasien dengan penyakit
menular.
6) Mendiskusikan dengan kepala ruang untuk menambah jumlah
tempat tidur antara ruang hemodialisa 1 dengan ruangan
hemodialisa 2 agar sama.

6. Evaluasi
Berdasarkan beberapa implementasi yang dilakukan selama proses
manajemen keperawatan, beberapa pelaksanaan antara lain pelaksanaan
program studi keperawatan, perbedaan interval pergantian shift bagi perawat
dinas, inventaris alat bagi pasien menular, sebagai berikut:
a. Pelaksanaan program studi keperawatan
Berdasarkan rencana kegiatan atau Plan of Action (POA) yang telah
disusun, evaluasi kegiatan diskusi motivasi kepada perawat yang
pendidikannya belum memenuhi standar, mensosialisasikan UU tentang
29

standar pendidikan perawat profesional. Dalam diskusi tersebut dilakukan


dengan baik, mendapat respon yang baik atas wawasan terbaru mengenai
update kebijakan perawat professional. Sehingga dapat memotivasi para
perawat dalam mengupayakan pendidikan yang lebih tinggi.
b. Perbedaan interval pergantian shift bagi perawat
Berdasarkan rencana kegiatan atau Plan of Action (POA) yang telah
disusun, evaluasi kegiatan diskusi mengenai perbedaan interval pergantian
shift bagi perawat ialah beban kerja yang dialami perawat tidak sama rata
dikarenakan kebijakan dari rumah sakit X, kedisiplinan perawat yang baik
walaupun interval shift yang pendek dan panjang telah dilalui dengan baik
serta penerapan beban kerja yang masih sama dan tidak ada perubahan
sesuai dengan arahan kepala ruang dikarenakan waktu yang dibebankan
kepada perawat ruang hemodialisa sudah cukup efisien.
c. Inventaris alat bagi pasien menular
Berdasarkan rencana kegiatan atau Plan of Action (POA) yang telah
disusun, evaluasi kegiatan penyelenggaraan inventaris alat di Ruang
Hemodialisa:
1) Observasi dan pengecekan alat dilakukan secara berkala oleh petugas
2) Telah dibuat buku inventaris sarana dan prasarana
3) Menambahkan label pada setiap alat agar mempermudah dalam
mengetahui pelaksanaan kalibrasi alat
4) Penambahan tempat tidur bagi pasien dengan penyakit menular serta
menyamaratakan jumlah tempat tidur antara ruang hemodialisa 1 dan
2
5) Pembuatan proposal pengajuan sarana dan prasarana oleh kepala
ruang setelah dilakukan pengecekan dan diketahui sarana dan
prasarana mana yang sudah tidak bisa dipakai dan perlu ditambahkan.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengkajian dan implementasi yang telah dilakukan
maka terdapat beberapa kesimpulan yaitu :
1. Pelaksanaan program studi keperawatan
Diskusi dan pembahasan tentang pelaksanaan program studi keperawatan
untuk mengup-date pendidikan dan pelatihan bagi perawat sudah
dilakukan di ruang hemodialisa dan diperoleh kesepakatan perawat akan
melakukan pendidikan dan pelatihan untuk mengup-date tingkat
pendidikan dan skill.
2. Perbedaan interval pergantian shift bagi perawat
Diskusi tentang perbedaan intraval pergantian shift dilakukan di ruang
hemodialisa di pimpin langsung oleh kepala ruang, didapatkan hasil bahwa
pergantian waktu kerja belum dilakukan sebab beban waktu kerja yang
diberikan kepada perawat diruang hemodialisa masih efisien dan belum
perlu di rubah, perawat di ruang hemodialisa diharapkan maklum dan
mengerti tentang perbedaan interval pergantian shift yang diberlakukan di
ruang hemodialisa.
3. Inventaris alat bagi pasien menular
Pelaksanaan inventaris alat bagi pasien dengan penyakit menular mulai
dilakukan dengan pengecekan dan observasi secara rutin sesuai dengan
jadwal yang ditetapkan, kepala ruang akan membuat proposal pengajuan
alat jika ada alat yang rusak ataupun yang perlu ditambahkan, pengajuan
penambahan tempat tidur khusus bagi pasien penyakit menular yang telah
diusulkan disetujui oleh kepala ruang.

30
B. SARAN
Berdasarkan hasil dari pengkajian dan evaluasi management keperawatan di ruang
Hemodialisa oleh mahasiswa mahasiswi Poltekkes Surakarta yang sudah berjalan dengan
baik disarankan agar tetap mempertahankan serta meningkatkan service excellent kepada
pasien.

3
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. 2016. Pengaruh Pelatihan dan supervisi Kepala Ruangan terhadap Kinerja Perawat
Pelaksana Diruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makasar.Mirai
Management. Volume 1 No 2.

Agustina, Yeni. 2017. Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Perawat dalam Pemberian
Asuhan Perkembangan melalui Pelatihan. Persada Husada Indonesia. 4 (13).

Edisyah. 2018. Pengaruh Pelatihan dan Penerapan Penilaian Kinerja Perawat Pelaksana
Terhadap Layanan Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit Swasta Kota Medan. 4 (2).

Novieastari, Jajang, Agustin. 2018. Pelatihan Asuhan Keperawatan Peka Budaya Efektif
Meningkatkan Kompetensi Kultural Perawat. Jurnal Keperawatan Indonesia. Volume 21 No. 1:
27-33

Satriani, Rasyidin, Budiman. 2019. Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (ssDIKLAT) Serta
Insentid Terhadap Kepuasan Kerja Perawat Melalui Motivasi Kerja Di Ruang Rawat Inap
Rumah Sakit Arifin Nu’mang kabupaten Sidenreng Rappang. YUME:Journal of Management.
Volume 2 No 3.
LAMPIRAN
DIALOG ROLE PLAY

PRE DAN POST CONFERENCE DI RUANG HEMODIALISA

RSUD Ir. SOEKARNO SUKOHARJO

Pemeran :

1. Kepala Ruang

2. Katim

3. Perawat Pelaksana

PRE CONFERENCE

Waktu kegiatan : operan shift malam ke shift pagi

Tempat : Ruang hemodialisa

Penanggung jawab : katim

Kegiatan :

1. Kepala ruangan membuka acara

2. Ketua tim menanyakan rencana harian masing-masing perawat pelaksana

3. Ketua tim memberikan masukan dan tindak lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan

saat itu

4. Ketua tim menutup acara

Setelah operan malam ke shift pagi di ruang hemodialisa melakukan pre

conference kepala ruangan membuka acara pre conference.

KARU : “assalamualaikum wr. Wb. Selamat pagi semua…….”


“Puji syukur kita ucapkan kepada Allah swt. Yang telah memberikan kesehatan kepada kita
sehingga kita masih bisa menjalankan tugas kita sebagai seorang Perawat. Baiklah untuk
memulai aktivitas kita awali dengan sama-sama membaca doa. Selanjutnya saya serahkan
kepada ketua tim, seperti biasanya untuk memandu pre conference kita pada pagi hari ini.
KATIM : “ Terimakasih kepada kepala ruangan,
Assalamualikum wr. Wb. Selamat pagi kepada rekan rekan semua, puji dan syukur kita semua
masih diberi kesehatan..
“Ya pada kesempatan pre conference pagi ini tanggal 13 April 2020, di ruang perawatan
Hemodialisa 1 dengan jumlah 8 pasien. Baik langsung saja kepada perawat pelaksana 1 dan 2
silahkan untuk menyampaikan tindakan yang akan dilakukan kepada pasien.
PERAWAT PELAKSANA : Selamat pagi, saya menangani pasien dibed 1 , 2, 4 dan 6 dengan
pasien dengan riwayat sebelumnya sudah pernah 1 kali melakukan tindakan cuci darah rutin.
Tindakan yang akan dilakukan :
08.00 : Memeriksa hasil perkembangn dari tindakan cuci darah sebelumya
08.30 : Konsul kepada dokter mengenai keadaan pasien
09.00 : Memeriksa TTV atau keadaan fisik pasien
09.20 : Menyiapkan alat
9.30 : Pemasangan alat hemodialisa
KATIM : Ya, baiklah terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah menyampaikan
tindakan yang akan dilakukan kepada seluruh pasien. Dilihat dari hasil laporan teman-teman,
semua pasien memerlukan penanganan lebih. Jadi diharapkan, untuk kerjasama antara rekan-
rekan. Baik, waktu saya kembalikan kepada KARU.
KARU : Terimakasih kepada Katim 1 dan rekan-rekan semua atas laporannya.
Terimakasih atas kerja sama rekan-rekan sekalian.

POST CONFERENCE

Waktu kegiatan : operan shift malam ke shift pagi

Tempat : Ruang hemodialisa

Penanggung jawab : katim

Kegiatan :

1. Katim membuka acara

2. Katim menanyakan hasil asuhan keperawatan tiap pasien.

3. Katim menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan.

4. Katim menyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat

shift berikutnya.
5. Katim menutup acara.

KARU : Assalamualaikum wr. Wb


Alhamdulillahirobil’alamin, puji syukur kehadirat Allah swt. Kita masih bertemu lagi dan
berkumpul di penghujung tugas kita. Seperti biasa kita akan melakukan post conference sebelum
di operkan ke shift berikutnya. Langsung saja saya serahkan kepada ketua TIM.

KATIM : Baik terima kasih atas waktu yang diberikan. Baiklah langsung saja bagaimana
hasil tindakan yang telah dilaksanakan oleh rekan-rekan termasuk kendala selama rekan-rekan
melakukan tindakan. Dan untuk dapat dioperkan pada shift berikutnya.

NARATOR : Perawat mulai melaporkan hasil tindakan yang telah dilakukan.

Perawat Pelaksana 1 : Pasien ny.A k/u baik, Edema pada kaki kanan,pitting edema > 10
detik,Ureum 33.8 mg/dL, Kreatinin 2.37 mg/dL dan Klien menjalani HD dengan UF Goal 2500
ml, UF Rate 589 ml/h, dan QB 170 ml/menit. Lanjutkan intervensi!
Perawat pelaksana 2 : Pasien Tn.S k/u baik Hemoglobin 5,54 g/dL,Pasien tampak
pucat,Konjungtiva anemis,Selama HD klien mendapat tranfusi 2 kolf,BB sebelum HD 65 kg.
Klien menjalani HD dengan UF Rate 445 ml, UF Goal 2000 ml, QB 250 ml/menit via afisan,
klien mendapat tranfusi darah 2 kolf.Lanjutkan intervensi!
Perawat pelaksana 3 : Pasien Tn.G K/u baik, Pitting edema derajat 2, Klien tampak
asites,Hb 13.3 g/dL,Ureum 63,4 mg/dL,Kreatinin 6,67 mg/dl, Klien menjalani HD dengan UFG
3250 ml, UFR 1084 ml/h, QB 250 ml/ menit. Lanjutkan intervensi!
Perawat pelaksana 4 : Pasien Ny.W k/u baik, Terpasang oksigen 3 lpm dengan nasal kanul,
TD 146/77 mmHg, Nadi 97 x/menit, Suhu 360C, RR 26 x/ menit, Klien menjalani HD dengan
UFG 1500 ml, UFR 498 ml/h, QB 200 ml/ menit.Lanjutkan intervensi!
Perawat pelaksana 5 : Pasien Tn.P Oedema pada kaki kanan, piting oedema >10detik Ureum
152,9 mg/dL,Kreatinin 8.01mg/dL, Pasien menjalani HD dengan UF Goal: 1500 ml, UF Rate:
354 ml/h dan QB: 150ml/menit.Lanjutkan intervensi!
NARATOR : Masing-masing perawat telah menyampaikan hasil tindakan yang sudah
dilakukan. Kembali ke Katim.
KATIM : Baiklah terima kasih rekan-rekan atas laporan hasil tindakan yang telah
dilakukan. Kita telah melakukan semua rencana tindakan. Selanjutnya saya kembalikan kepada
kepala ruangan.
KARU : Iya, terimakasih kepada rekan-rekan, Puji Tuhan intervensi yang telah
kita lakukan dari pagi sampai siang ini terlaksana dengan lancar dan sesuai prosedur. Terima
kasih atas kerja sama rekan-rekan sekalian, yang sudah bekerja dengan semaksimal mungkin.
Pertahankan terus kinerja rekan-rekan dan alangkah baiknya jika bisa ditingkatkan lagi demi
pencapaian kinerja yang lebih optimal.
Untuk mengakhiri tugas kita pada siang hari ini, marilah kita akhiri dengan berdoa bersama
menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa……. Mulai……. Selesai……
Kita akhiri post conference ini, Selamat Pagi.
ANALISIS EVIDENCE BASED PRACTICE
KEPERAWATAN MANAJEMEN

Tema : Pelatihan perawat untuk meningkatkan kompetensi dan mutu


pelayanan Program Studi : Profesi
Kelompok 11

A. Latar Belakang
Pelayanan keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun
sakit. Pelayanan kesehatan di rumah sakit berupaya untuk memberikan pelayanan yang
berkualitas dengan menerapkan kebijakan, prosedur dan protokol yang sesuai dengan ilmu
pengetahuan serta mengikuti Standar Akreditasi Nasional (UU. No.38, 2014).
Dalam peningkatan kualitas layanan dan juga pengembangan kemampuan perawat,
dibutuhkan penilaian kinerja yang efektif untuk mengukur prestasi kerja perawat secara
objektif. Metode penilaian kinerja tersebut dapat digunakan sebagai dasar bagi penempatan
sumber daya manusia kesehatan pada suatu posisi/jabatan tertentu, serta evaluasi untuk
mendorong setiap perawat untuk meningkatkan produktifitas dan mutu pelayanan kesehatan
khususnya layanan asuhan keperawatan. (Kepmenkes, 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan terhadap Rumah Sakit X ditemukan
bahwa penilaian kinerja perawat pelaksana tidak berjalan dengan baik sehubungan dengan
kurangnya kompetensi, motivasi dan apresiasi terhadap peningkatan pendidikan perawat
pelaksana. Sehingga pelatihan pendidikan serta sosialisasi diperlukan untuk mengatasi
permasalahan ini.
B. PICO
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Agustina dan Rustina (2017), dengan judul
“Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Perawat dalam Pemberian Asuhan
Perkembangan melalui Pelatihan”, dapat diringkas sebagai berikut:
1. Problem
Penelitian ini mengidentifikasi pengaruh pemberian pelatihan asuhan perkembangan
menggunakan video, buku saku dan praktik. Rancangan penelitian menggunakan kuasi
eksperimen pre-test posttest equivalent group melibatkan 34 perawat NICU yang terbagi
dalam 2 kelompok (kontrol dan intervensi), dipilih menggunakan metode total sampling.
Data dianalisis menggunakan software SPSS dengan uji dependent t-test.
2. Intervensi
Desain penelitian adalah quasi experiment dengan dengan rancangan pre-test dan post-
test equivalent group. Tiga puluh empat perawat ikut serta dalam penelitian ini yang
dipilih secara total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan lembar
observasi yang dikembangkan oleh peneliti. Pada kelompok intervensi, sebelum
pemberian edukasi, dilakukan pre-test pengetahuan dan keterampilan dalam merawat
bayi di NICU, selanjutnya selama 5 hari perawat diberikan intervensi mengenai asuhan
perkembangan dan setelah 14 hari pemberian mini pelatihan dilakukan post-test untuk
menilai kembali pengetahuan dan keterampilan perawat. Pada kelompok kontrol setelah
menilai pre-test keterampilan perawat, peneliti datang kembali setelah 14 hari untuk
melakukan post-test keterampilan perawat.
3. Komparasi
a. Pengaruh Pelatihan Dan Penerapan Penilaian Kinerja Perawat Pelaksana Terhadap
Layanan Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit Swasta Di Kota Medan (Ritonga &
Damanik, 2018)
Analisa PICOT
P: Perawat pelaksana yang berada di RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan
(kelompok intervensi) dan perawat pelaksana di RSU Martha Friska Medan
(kelompok kontrol).
I : Penelitian ini menggunakan metode Quasi Exsperiment dengan desain two group
pretest post test. Teknik pengambilan sampel pada populasi perawat pelaksana
dengan random sampling sistematis dengan jumlah sampel pada perawat pelaksana
sebanyak 108 orang, 54 pada kelompok intervensi dan 54 pada kelompok kontrol.
C: Pembanding pada jurnal ini adalah kelompok intervensi yang diberikan intervensi
pelatihan penilaian kinerja perawat pelaksana.
O: Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan antara layanan asuhan keperawatan
sebelum dilakukan pelatihan dan penerapan pada kelompok intervensi dan layanan
asuhan keperawatan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa p = 0,064.0,05.
Dan hasil uji startistik posttest p = 0,000,0,05, dapat disimpulkan bahwa adanya
pengaruh terhadap penelitian yang telah diberikan
T: Pada penelitian ini tidak dijelaskan kapan penelitian dilakukan.
b. Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Serta Insentif Terhadap Kepuasan Kerja
Perawat Melalui Motivasi Kerja Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Arifin Nu’mang
Kabupaten Sidenreng Rappang (Satriani, Abdullah, & Harun, 2019)
Analisa PICOT:
P: Semua perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Arifin Nu’mang Kabupaten
Sidrap sebanyak 131 orang.
I : Desain penelitian Cross Sectional Study dengan teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik total sampling pada populasi semua perawat di ruang rawat
inap Rumah Sakit Arifin Nu’mang.
O: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan serta insentif
berpengaruh positif Tapi tidak signifikan secara langsung terhadap kepuasan kerja
perawat di ruang rawat inap RS Arifin Nu’mang.
T: Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2019.
4. Hasil
4
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan dan keterampilan yang
bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi (p=0,000), serta tidak
terdapat hubungan antara karakteristik perawat (usia, pendidikan, lama bekerja, riwayat
pelatihan) dengan keterampilan (p>0,05). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
terdapat perbedaan selisih peningkatan skor pengetahuan dan keterampilan pada perawat.
Antara kedua kelompok berbeda. Pada kelompok intervensi yang mendapatkan pelatihan
asuhan perkembangan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik daripada
kelompok kontrol yang tidak mendapatkan edukasi.
C. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan yang dapat diambil adalah pendidikan dan pelatihan penting bagi perawat agar
aplikasi asuhan keperawatan dan mutu pelayanan dapat dioptimalkan. Sehingga perlu
perhatian dari berbagai pihak dan kesadaran pegawai yang ada.
Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Perawat dalam Pemberian Asuhan
Perkembangan melalui Pelatihan

Ayuda Nia Agustina1, Yeni Rustina1

Improving Nurses Knowledge and Skills in Providing Developmental Care


Through Training

Abstrak
Aplikasi asuhan perkembangan oleh perawat penting untuk memfasilitasi
pertumbuhan dan perkembangan bayi selama di rawat di RS, namun belum semua perawat
memahami manfaat dan praktik asuhan perkembangan. Penelitian ini mengidentifikasi
pengaruh pemberian pelatihan asuhan perkembangan menggunakan video, buku saku dan
praktik. Rancangan penelitian menggunakan kuasi eksperimen pre-test post- test equivalent
group melibatkan 34 perawat NICU yang terbagi dalam 2 kelompok (kontrol dan intervensi),
dipilih menggunakan metode total sampling. Data dianalisis menggunakan software SPSS
dengan uji dependent t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan
dan keterampilan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi
(p=0,000), serta tidak terdapat hubungan antara karakteristik perawat (usia, pendidikan, lama
bekerja, riwayat pelatihan) dengan keterampilan (p>0,05). Keterampilan yang dilatih yaitu:
pembuatan nesting, memfasilitasi keluarga untuk berkunjung, dan pemberian posisi. Pelatihan
asuhan perkembangan penting bagi perawat agar aplikasi asuhan perkembangan dapat
dioptimalkan.

Kata Kunci: Pelatihan, asuhan perkembangan, keterampilan perawat, NICU.

Abstract
Application of developmental care by nurses are essential to facilitate the growth and
development of infants during care in the hospital, however not all nurses understand the
benefits and practice of developmental care. This study identifies the influence of providing
developmental care training using videos,booklets and practices. The study design used a
quasi-experiment pre and post tests equivalent group involving 34 NICU nurses divided into 2
groups (control and intervention), chosen using total sampling method. Data were analyzed
using SPSS software with dependent t-test. The results showed there is a significant difference
in knowledge and skills between the intervention and control groups (p = 0.000), and there
are no relationship between nurses’ characteristics (age, education, length of work, training
history) against skills (p> 0.05).trained skills namely: nesting creation, families visitation
facilities and positioning. Developmental care training for nurses is important to optimize
developmental care application.

Keywords: training, developmental care, nurses’ skills, NICU.

Pendahuluan
Bayi yang dirawat di rumah sakit akan terpapar lingkungan yang bervariasi dan
stimulus yang berlebihan yang ada di di rumah sakit seperti prosedur, cahaya, suara dan infeksi
(Solhaug, Bjork & Sandtro,2010). Lingkungan fisik NICU juga ikut mempengaruhi
peperawatan bayi di ruang intensif, seperti 1) jarak antar tempat perawatan bayi; 2)
kerahasiaan bayi dan 3) kemanan ruang perawatan (Altimier & Phillips, 2013). Selain itu
adanya perpisahan dengan orangtua juga menjadi sumber stres lainnya dalam lingkungan
perawatan intensif ini (Lissauer & Fanaroff, 2009).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh tim kesehatan guna meminimalkan dampak
negatif seperti stres yang akan diterima oleh bayi selama mereka dirawat di NICU serta
dampak jangka panjang yang mungkin akan diterima oleh bayi baik secara fisik, psikologis
dan emosional akibat pengalaman di rumah sakit setelah di rawat di NICU. Salah satu
upayanya adalah dengan mengaplikasikan asuhan perkembangan. Penelitian oleh Hendrick-
Munoz dan Prendergast (2007) tentang aplikasi asuhan perkembangan perawat oleh perawat.
Data yang ditemukan yaitu belumsemua perawat mengaplikasikan asuhan perkembangan
dalam merawat bayi karena para perawat belum memahami tentang asuhan perkembangan
sehingga merasa kurang percaya diri untuk mengaplikasikan asuhan perkembangan.

Metode
Desain penelitian adalah quasi experiment dengan dengan rancangan pre-test dan post-
tets equivalent group. Tiga puluh empat perawat ikut serta dalam penelitian ini yang dipilih
secara total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan lembar observasi yang
dikembangkan oleh peneliti. Pada kelompok intervensi, sebelum pemberian edukasi, dilakukan
pre-test pengetahuan dan keterampilan dalam merawat bayi di NICU, selanjutnya selama 5
hari perawat diberikan intervensi mengenai asuhan perkembangan dan setelah 14 hari
pemberian mini pelatihan dilakukan post-test untuk menilai kembali pengetahuan dan
keterampilan perawat. Pada kelompok kontrol setelah menilai pre-test keterampilan perawat,
peneliti datang kembali setelah 14 hari untuk melakukan post-test keterampilan perawat. Data
diolah menggunakan program komputer yaitu dependent t-test, independent t-test dan korelasi
pearson. Etika penelitian yaitu memberikan manfaat kepada perawat, memberikan kebebasan
perawat untuk memilih berpartisipasi atau tidak dalam penelitian, menjaga privasi perawat,
mempertahankan kenyamanan dan bersikap adil.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Tabel 1 menunjukkan rerata usia responden adalah 37,62 tahun (95% CI). Rerata lama
bekerja responden adalah 5,915 tahun (95% CI).Hasil analisis uji kesetaraan usia responden
adalah setara (p value>0,05 dan lama bekerja responden adalah tidak setara (p value<0,05).

Tabel 1 Distribusi Rerata dan Hasil Uji Kesetaraan Perawat Menurut Usia dan Lama
Bekerja Perawat di NICU
Variab Mean SD 95% CI p value
el
Usia (intervensi) 38,24 7,51 34,65- 0,635
3 41,47
Usia (Kontrol) 37,0 5,75 34,41-
5 39,65
Lama Bekerja (Intervensi) 6,59 2,99 5,18-7,82 0,000
5
Lama Bekerja (Kontrol) 5,24 1,39 4,53-5,76
3
Tabel 2 Distribusi Frekuensi dan Hasil Uji Kesetaraan Perawat Menurut
Pendidikan dan Riwayat Pelatihan Asuhan Perkembangan Perawat
Kelompo Kelompok Jumla
Variabel k Kontrol h p
value
Intervensi (n=17) (n=34
(n=17) )
N % n % n %
Pendidikan
1.D III Keperawatan 13 76, 15 88, 28 82, 0,656
4 2 4
2.Ners 4 23, 2 11, 6 17,
6 8 6
Riwayat Pelatihan
1.Belum 8 47, 15 88, 23 67, 0,028
1 2 6
2.Pernah 9 52, 2 11, 11 32,
9 8 4

Tabel 2 menunjukkan distribusi frekuensi Keperawatan (82,4%). Riwayat mengikuti


pendidikan dan riwayat mengikuti pelatihan asuhan perkembangan responden
pelatihan. Pendidikan responden mayoritas mayoritas belum pernah (67,6%).
adalah D III
Tabel 3 Hasil Analisis Perubahan Pengetahuan dan Keterampilan Perawat

Kelompok Variabel n Mean SD Min - Max p value


Pengetahuan
Intervensi Sebelum 17 9,71 1,40 7 – 12 0,000*
Setelah 17 16,24 1,25 14 – 18
Kontrol Sebelum 17 10,94 2,30 5 – 14 0,311
Setelah 17 11,24 1,99 8 – 14
Keterampilan
Intervensi Sebelum 17 9,85 0,91 9 – 11,5 0,000*
Setelah 17 16,09 1,25 14 - 18
Kontrol Sebelum 17 10,41 1,18 8,5 – 12,5 0,106
Setelah 17 10,71 1,01 9 – 12.5
*bermakna pada α < 0,05

Tabel 3 menunjukkan hasil analisis bivariat pada kelompok intervensi. Terdapat


perubahan signifikan dari skor pengetahuan dan keterampilan setelah pelatihan(p value =
0,000; α = 0,05). Hasil analisis selanjutnya terdapat perbedaan signifikan dari skor
pengetahuan dan keterampilan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p value =
0,000; α = 0,05) yang ditunjukkan oleh tabel 4. Tabel 5 dan 6 menunjukkan hasil korelasi dari
masing-masing karakteristik responden berdasarkan usia, lama bekerja, pendidikan dan
riwayat pelatihan dengan pengetahuan dan keterampilan perawat yaitu tidak terdapat hubungan
bermakna (p value>0,05).

Tabel 4 Hasil Analisis Perbedaan Pengetahuan dan Keterampilan Perawat


Variabel n Median SD 95% CI (SD) pValue
Pengetahuan
Intervensi 17 6,0 1,372 5,104-6,779 0,000*
Kontrol 17 0,0 0,996
Keterampilan
Intervensi 17 6,5 1,71 4,818-6,65 0,000*
Kontrol 17 0,5 0,71
*bermakna pada α = 0,05
Tabel 5 Hasil Analisis Hubungan Usia dan Lama Bekerja dengan Peningkatan
Pengetahuan dan Keterampilan Perawat NICU
Variabel Variabel R p value

Usia Pengetahuan 0,037 0,834


Keterampilan 0,213 0,227
Pengetahuan 0,037 0,359
Lama Bekerja
Keterampilan 0,12 0,462

Tabel 6 Hasil Analisis Hubungan Pendidikan dan Riwayat Mengikuti Pelatihan dengan
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Perawat NICU
Variabel Variabel Jumlah Mean SD p value
Pendidikan
Pengetahuan 1. DIII Keperawatan 28 13,43 3,132
0,205
2. Ners 6 15,17 2,041
Keterampilan
13,07
1. DIII Keperawatan 28 2,95 0,168
14,91
2. Ners 6 2,65
Riwayat Pelatihan
Pengetahuan 1.Belum pernah 23 15,45 2,382
0,181
2.Pernah 11 12,91 2,983
Keterampilan 1.Belum pernah 23 15,13 2,346
0,219
2.Pernah 11 12,56 2,885
Pembahasan
Hasil analisis menunjukkan perbedaan selisih peningkatan skor pengetahuan dan
keterampilan pada perawat. Antara kedua kelompok berbeda. Pada kelompok intervensi yang
mendapatkan pelatihan asuhan perkembangan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
lebih baik daripada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan edukasi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti setara dengan penelitian yang dilakukan
oleh Altimier, Kenner, dan Damus (2015), menguraikan efektifitas program comprehensive
Wee Care Neuroprotective NICU (Wee Care) pada bayi prematur. Penelitian ini menganalisis
data sekunder hasil pre test dan post-test untuk mengevaluasi hasil program pelatihan.
Diperoleh hasil bahwa program pelatihan memberikan dampak positif terhadap intervensi
asuhan perkembangan. Dijelaskan bahwa perawat yang mendapatkan pelatihan asuhan
perkembangan merasa dirinya lebih percaya diri untuk mengaplikasikannya karena mereka
telah mendapatkan pengetahuan tentang asuhan perkembangan. Hal yang tidak jauh berbeda
juga ditemukan pada penelitian Edwards, Walsh, Courtney, Monaghan, Wilson dan Young
(2007) tentang peningkatan pengetahuan dan sikap perawat terkait

manajemen demam pada anak (2015); Mohammed, Bayoumi dan


menunjukkan bahwa program pendidikan Mahmoud (2014), terdapat kesamaan yaitu
dapat meningkatkan pengetahuan perawat. dalam hal pelatihanasuhan perkembangan
Hal ini dipertegas dengan penelitian yang pada perawat yang spesifik untuk bayi
dilakukan oleh Liaw, Yang, Chang, Chou dengan proses pendekatan restrukturisasi
dan Chao (2009) tentang peningkatan kognitif dan dengan media booklet dan
asuhan keperawatan melalui developmental video serta praktik langsung. Hal yang lebih
supportive care training program spesifik pada penelitian edukasi asuhan
menunjukkan bahwa perawat lebih perkembangan pada perawat di Indonesia
memberikan dukungan pada saat yang tidak terlalu berbeda misalnya
memandikan bayi setelah diberikan pendidikan dan pengalaman bekerja. Secara
pelatihan. Hal tersebut menunjukkan bahwa garis besar, peneliti berasumsi bahwa
ada perubahan perilaku dalam merawat pelatihan asuhan perkembangan pada
bayi setelah mendapatkan pelatihan. perawat di ruang perinatologi adalah salah
Hasil penelitian yang dilakukan satu bentuk proses pembelajaran yang
oleh peneliti dibandingkan dengan bertujuan menguatkan pengetahuan perawat
penelitian Altimier, Kenner, dan Damus tentang asuhan perkembangan sehingga
dapat membangun dan menguatkan rasa
percaya diri perawat untuk menerapkan digunakan dalam edukasi tersebut adalah
asuhan perkembangan pada saat merawat
bayi di NICU dan perinatologi.

Pelatihan asuhan perkembangan


dilaksanakan terdiri dari 5 hari. yaitu hari
pertama menjelaskan konsep asuhan
perkembangan, analisa pengamatan yang
dilakukan peneliti didapatkan bahwa
perawat belum terlalu faham terkait definisi
asuhan perkembangan, apa saja manfaatnya
dan bagaimana cara melakukan asuhan
perkembangan pada bayi yang dirawat di
perinatologi, meskipun mayoritas mengakui
pernah mendapatkan pelatihan asuhan
perkembangan, namun mereka sebenarnya
ragu untuk meyakini bahwa hal tersebut
benar-benar termasuk asuhan
perkembangan atau bukan.

Untuk meningkatkan pemahaman


tentang materi asuhan perkembangan,
selain menggunakan media cetak yaitu
booklet, peneliti juga menggunakan media
elektronik berupa LCD, laptop dan video
cara mengganti posisi pada bayi yang
dirawat di NICU dan Perinatologi, aplikasi
pemberian musik dan family center care di
NICU dan Perinatologi. Hal tersebut
sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Liaw, Yang, Chang, Chou dan Chao
(2009) tentang peningkatan kemampuan
perawat dalam dukungan asuhan
perkembangan dimana metode yang
presentasi dan observasi video tentang perserta didik. Motivasi instrinsik (dalam
asuhan perkembangan. Hal ini terbukti diri) yaitu pemberian informasi dan
efektif dengan adanya peningkatan pengetahuan tentang asuhan
dalam kemampuan perawat perkembangan, sedangkan motivasi
memberikan dukungan perkembangan. ekstrinsi (dari luar) yaitu dukungan dan
Pelatihan yang diberikan lingkungan lahan praktik, selain itu faktor
menggunakan video juga didukung ekstrinsik yang dapat mempengaruhi
dengan penelitian Bandura (2004)
yang meneliti tentang peningkatan
kesehatan dengan
mempromosikan
penggunaan video sebagai salah satu
alat untuk mencapai tujuan
pelatihan. Penggunaan
video bertujuan untuk
meningkatkan efektifitas pelatihan dan
membantu memusatkan perhatian
perawat. Selama periode pembekalan
pengetahuan, perawat pertama
kali mengembangkan
keyakinan diri bahwa para perawat
tersebut nantinya dapat
mengaplikasikan asuhan
perkembangan yang telah mereka
dapatkan melalui program
edukasi. Penggunaan media
edukasi yang sesuai
dapat meningkatkan
penerimaan informasi yang menarik
bagi perawat.

Pada saat melakukan


pembelajaran dipengaruhi oleh
motivasi instrinsik dan ekstrinsik
5
seseorang untuk melakukan perubahan dalam lingkungan adalah penghargaan berupa pujian
dan reward. Penghargaan ini bertujuan untuk memenuhi keinginan agar dapat
mengaktualisasikan diri di lingkungannya (Hariadja, 2007).

Notoatmodjo (2010) menyampaikan bahwa perubahan pengetahuan dan sikap akan


lebih mudah dilakukan melalui multimedia. Media pembelajaran pun mempengaruhi minat
belajar seseorang. Pelatihan yang disampaikan dalam bentuk gambar dan suara dapat
ditangkanp secara mudah oleh peserta didik, karena lebih mudah difahami dan tidak perlu lagi
mengartikan sendiri isi dari pesan yang akan disampaikan karena isi atau pesan tersebut dapat
dengan mudah diingat. Media pembelajaran yang baik hendaknya mengikutsertakan seluruh
pancaindera agar mudah difahami dan diserap, sehingga media pembelajaran pada penelitian
ini tidak hanya menggunakan audio atau visual atau kinestetik saja, namun mengkombinasikan
semuanya.

Penelitian Schlittenhart (2011) yang meneliti tentang video edukasi bagi orang tua juga
mengatakan bahwa penggunaan video sebagai media edukasi dapat menghemat waktu
dibandingkan dengan ceramah, selain itu, penggunaan media video juga mampu
mempertahankan perhatian orangtua untuk memperhatikan edukasi. Hal tersebut dapat dilihat
dengan penggunaan media power point pada saat memberikan konsep asuhan perkembangan,
menggunakan media video pada saat memberikan contoh dan menstimulus perawat agar mau
dan mampu melakukan intervensi asuhan perkembangan serta menggunakan demonstrasi
untuk menginternalisasikan di dalam diri masing- masing akan
pengetahuan yang telah didapatkan dan untuk melengkapi semuanya pada hari pertama
pemberian pelatihan, peneliti membagikan booklet dengan harapan hal tersebut dapat
mempermudah peneliti pada saat menyampaikan materi. Berdasarkan teori pembelajaran,
peneliti juga melakukan observasi tindakan 2 minggu (14 hari) setelah pelatihan asuhan
perkembangan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa skor
pengetahuan dan keterampilan tidak dapat mencapai nilai sempurna dikarenakan dalam proses
belajar membutuhkan waktu untuk meretensi dalam ingatan. Hal tersebut sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Lally, Van Jaarsveld, Potts dan Wardle (2009) tentang
bagaimana suatu kebiasaan baru terbentuk yang menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai kebiasaan dilakukan secara otomatis berkisar antara 18- 224 hari.

Berdasarkan pengamatan peneliti, didapatkan bahwa perawat yang telah mendapatkan


pelatihan asuhan perkembangan terdapat perubahan pengetahuan dan keterampilan yang lebih
baik, hal ini ditandai dari perilaku perawat dalam merawat bayi di perinatologi dan NICU
yang lebih hati-hati, menutup inkubator sampai bagian bawah, rutin mengganti posisi bayi
setiap 4 jam, dan tidak bersuara keras saat di dekat bayi serta meminimalkan menyentuh bayi
apabila tidak jam-nya, menjelaskan perawatan yang telah dilaksanakan kepada bayi dan
mengajak keluarga untuk melakukan KMC serta mengajarkan isyarat bayi secara perlahan-
lahan kepada orangtua.

Peneliti berasumsi bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan keterampilan antara


keompok intervensi yang mendapatkan pelatihan asuhan perkembangan dan kelompok
kontrol yang tidak mendapatkan edukasi asuhan perkembangan. Hal ini dikarenakan bahwa
pada pelatihanasuhan perkembangan tidak hanya mampu meningkatkan pengetahuan para
perawat semata, tetapi juga meningkatkan kesadaran para perawat untuk merawat dan
memperlakukan bayi yang dirawat seperti anak mereka sendiri sehingga dapat ditunjukan
dengan keterampilan para perawat dalam merawat bayi di NICU dan Perinatologi.
Kesimpulan
Pelatihan asuhan perkembangan dapat mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan
perawat dalam memberikan asuhan perkembangan pada bayi selama di rawat di rumah sakit.

Saran
Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu perlu adanya replikasi penelitian dengan
sampel yang lebih besar agar tenaga perawat lebih banyak yang memahami dan
mengaplikasikan asuhan perkembangan, selain itu, perlu dilakukan penelitian untuk menggali
secara mendalam terkait persepsi perawat dan hambatan-hambatan perawat dalam
mengaplikasikan asuhan perkembangan.

Ucapan Terima Kasih


Pihak RSUP Fatmawati dan RSUP Persahabatan tempat penelitian dilaksanakan yang telah
memberikan banyak bantuan terlibat penelitian dan seluruh perawat yang bersedia ikut
berpartisipasi sehingga penelitian ini terselesaikan, serta keluarga yang senantiasa memberikan
dukungan secara materil dan non materi.

Daftar Pustaka
Altimier, L., & Phillips, R. M. (2013). The neonatal integrative developmental care model:
Seven neuroprotective core measures for family-centered developmental care. Newborn &
Infant Nursing Reviews, 13(2013), 9–22.

Altimier, L., Kenner, C., & Damus, K. (2015). The effect of comprehensive developmental
care training program: Wee care neuroprotective program (Wee Care) on seven
neuroprotective core measures for family-centered developmental care of premature
neonates. Newborn and Infant Nursing Review. Doi: 10.1053/j. nainr.2015.01.006.

Bandura, A. (1993). Perceived self-efficacy in cognitive development and function.


Educational Psychologist, 28 (2), 1178.

Bandura, A. (2004). Health promotion by social cognitive means. Health Education and
Behavior, 31, 143-164.
Edwards, H., Walsh, A., Courtney, M., Monaghan, S., Wilson, J., & Young, J. (2007).
Improving paediatric nurses’ knowledge and attitudes in childhood fever management.
Journal of Advanced Nursing, 57(3), 257–269.

Hariandja, M. (2007). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Grasindo.

Hendrick-Munoz, K.D., & Prendergast, C.C. (2007). Barriers to provision of developmental


care in the neonatal intensive care unit: Neonatal nursing perceptions. American Journal of
Perinatology, 24(2), 71-77.

Lally, P., Van Jaarsveld, C. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2009). How are habits formed:
Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40,
998-1009.

Liaw, J.J., Yang, L., Chang, L.H., Chou, H.L., & Chao, S.C. (2009). Improving neonatal
caregiving through a developmentally supportive care training program. Applied Nursing
Research, 22, 86–93.

Lissauer, T., & Fanaroff, A. (2009). At a glance: Neonatologi. Jakarta: Erlangga.

Mohammed, S.A., Bayoumi, M.H., &Mahmoud, F.S. (2014). The effect of developmentally
supportive care training program on nurses' performance and behavioral responses of
newborn infants. Journal of Education and Practice, 5(6), 134-144.

Maguire, C.M., Walther, F.J., Zwieten, P.H., Le Cessie, S., Wit, J.M., & Veen, S. (2008).
Effects of basic developmental care on neonatal morbidity, neuromotor development,
and growth at term age of infants who were born at < 32 weeks. Pediatrics, 121, 239-245.
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018
Solhaug, M., Bjork, I. and Sandtro, H. (2010): Staff perception of one year after
implementation of the newborn individualized developmental care and assessment
Program (NIDCAP). Journal of Pediatric Nursing,25 (2), 89-97.

Zubaidah., Rustina, Y., & Sabri, L. (2012). Pengaruh pemberian informasi tentang asuhan
perkembangan terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan perawat dalam merawat BBLR
di RSUP dr. Kariadi Semarang. (Tesis tidak dipublikasikan). FIK Universitas
Indonesia, Depok.
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

Penelitian
PENGARUH PELATIHAN DAN PENERAPAN PENILAIAN KINERJA
PERAWAT PELAKSANA TERHADAP LAYANAN ASUHAN
KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT SWASTA KOTA MEDAN

1. Edisyah Putra Ritonga; 2. Hamonangan Damanik


1,2. Dosen Prodi S-I Keperawatan, STIKes Imelda, Jalan Bilal

Nomor 52 Medan

E-mail: ediritonga87@gmail.com

ABSTRAK
Penilaian kinerja perawat merupakan suatu cara untuk mengevaluasi kinerja perawat
sesuai dengan standar praktik profesional, peraturan yang berlaku dan untuk menjamin
tercapainya standar praktik keperawatan profesional dan layanan asuhan
keperawatan. Berdasarkan wawancara kepada perawat pelaksana dan observasi,
bahwa layanan asuhan keperawatan yang diberikan kurang maksimal, pengkajian
keperawatan tidak dilakukan secara berkelanjutan, kurangnya modivikasi tindakan
keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi pada pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan penerapan penilaian
kinerja perawat pelaksana terhadap layanan asuhan keperawatan. Jenis penelitian
kuantitatif dengan metode Quasi-Experimental Study dengan desain penelitian two
group pre-test-post test design. Peserta pelatihan adalah kepala ruangan pada
kelompok intervensi yang berada di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia
Medan. Responden penelitian untuk pengukuran layanan asuhan keperawatan pada
penelitian ini adalah sebanyak 108 perawat pelaksana yang terdiri dari kelompok
intervensi yaitu sebanyak 54 orang perawat pelaksana dan pada kelompok kontrol yaitu
Rumah Sakit Umum Martha Friska Medan sebanyak 54 orang perawat pelaksana.
Berdasarkan hasil penelitian dan dengan melakukan uji statistik yang dilakukan pre
test dan post test layanan asuhan keperwatan pada kelompok intervensi dengan uji
paired t-test dengan hasil yaitu p= 0,000<0,05 yang berarti ada pengaruh. Hal ini
menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan meningkatkan kemampuan kepala
ruangan untuk melakukan penilaian
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018
kinerja perawat pelaksana sehingga dapat menigkatakan motivasi dan kinerja perawat
pelaksana dalam melakukan layanan asuhan keperawatan. Hasil pre test dan post test
layanan asuhan keperwatan pada kelompok kontrol dengan menggunakan uji paired t-
test dengan hasil yaitu p= 0,284>0,05, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan antara pre test dan post test. Berdasarkan uji statistik
dengan menggunakan independent tes antara pre test kelompok intervensi dan
kelompok kontrol didapatkan hasil p= 0,064>0,05 dan hasil uji post test kelompok
intervensi dan kelompok kontrol didapatkan hasil p= 0,000<0,05. Pelatihan yang
diberikan kepada kepala ruangan pada kelompok intervensi sangat berpengaruh positif
dalam meningkatkan kemampuan kepala ruangan dalam melakukan penilaian kinerja
perawat pelaksana.

Kata kunci: Pelatihan, penerapan, penilaian kinerja, layanan asuhan keperawatan


PENDAHULUAN
Pelayanan keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional
yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan
pada ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Pelayanan kesehatan
di rumah sakit berupaya untuk memberikan pelayanan yang berkualitas
dengan menerapkan kebijakan, prosedur dan protokol yang sesuai dengan
ilmu pengetahuan serta mengikuti Standar Akreditasi Nasional (UU. No.38,
2014).

Undang-undang. No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan menjelaskan


bahwa perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi
Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh
pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Simamora (2012) mendefinisikan pelayanan keperawat an sebagai bagian
penting dari pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psiko- sosial-
spritual yang komprehensif. Untuk mencapai pelayanan yang
berkualitas, kinerja perawat sangat berpengaruh dalam mendukung
terselenggaranya pelayanan kesehatan di rumah sakit (Marquis & Huston,
2010). Dalam peningkatan kualitas layanan dan juga pengembangan
kemampuan perawat, dibutuhkan penilaian kinerja yang efektif untuk
mengukur prestasi kerja perawat secara objektif. Metode penilaian kinerja
tersebut dapat digunakan sebagai dasar bagi penempatan sumber daya
manusia kesehatan pada suatu posisi/jabatan tertentu, serta evaluasi untuk
mendorong setiap perawat untuk meningkatkan produktifitas dan mutu
pelayanan kesehatan khususnya layanan asuhan keperawatan (Kepmenkes,
2009).

Penilaian kinerja merupakan proses menilai hasil kerja seseorang sesuai


dengan indikator yang telah ditetapkan untuk mengetahui kemampuan
perawat di bidang pengetahuan dan keterampilan khususnya dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan, sebagai dasar dalam pengembangan
perawat, membantu dalam penentuan kompensasi dan mengetahui adanya
penyimpangan dalam pelaksanaan layanan (Rivai, 2011). Penilaian kinerja
perawat juga dapat meningkatkan prestasi kerja dan merangsang minat
dalam pengembangan (Simamora, 2012). Kinerja perawat yang baik
merupakan kunci utama dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Penilaian kinerja perawat merupakan kegiatan mengontrol sumber daya
manusia dan produktifitasnya (Swansburg, 2000), suatu ukuran pengawasan
yang digunakan oleh manajer perawat (Gillies, 2000). Penelitian yang
dilakukan oleh Nikpeyma, dkk (2012) menemukan bahwa penilaian kinerja
perawat dilakukan oleh manejerial rumah sakit yang dilakukan terhadap
perawat dalam peningkatan pelayanan.

Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan merupakan


rumah sakit yang mengharapkan seluruh karyawan khususnya perawat agar
dapat meningkatkan mutu layanan asuhan keperawatan yang diberikan
seluruh klien. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap
kepala bidang keperawatan, dan kepala ruangan di Rumah Sakit Umum
Imelda Pekerja Indonesia Medan, diperoleh hasil yaitu belum
terlaksananya sistem penilaian kinerja perawat pelaksana, kepala ruangan
menyatakan bahwa kurangnya pemahaman mereka tentang cara melakukan
penilaian kinerja perawat sehingga penilaian kinerja perawat tidak
dilaksanakan. Kepala ruangan memerlukan pelatihan penilaian kinerja
perawat pelaksana dalam meningkatkan kemampuan dalam melakukan
penilaian.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan terhadap Rumah Sakit


Umum Martha Friska Medan ditemukan bahwa penilaian kinerja perawat
pelaksana tidak berjalan dengan baik sehubungan dengan kurangnya
kemampuan kepala ruangan dalam melakukan penilaian kinerja terhadap
perawat pelaksana. Berdasarkan wawancara kepada perawat pelaksana dan
observasi, bahwa layanan asuhan keperawatan yang diberikan kurang
maksimal, pengkajian keperawatan tidak dilakukan secara berkelanjutan,
kurangnya modivikasi tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah
keperawatan yang terjadi pada pasien.

METODE

Tujuan dari penelitian ini untuk


mengetahui pengaruh pelatihan dan penerapan penilaian kinerja perawat
pelaksana terhadap layanan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum
Swasta Kota Medan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
dengan menggunakan rancangan penelitian metode Quasi-
Eksperimental Study dengan desain penelitian two group pre-test-post test
design (Polit & Beck. 2012).

Populasi dalam penelitian ini dibagi dalam dua populasi yaitu perawat
pelaksana yang berada di RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan (kelompok
intervensi) dan perawat pelaksana di RSU Martha Friska Medan (kelompok
kontrol). Teknik pengambilan sampel pada populasi perawat pelaksana
dengan random sampling sistematis dengan jumlah sampel pada perawat
pelaksana sebanyak 108 orang, 54 orang pada kelompok intervensi dan 54
orang pada kelompok kontrol.

Pengambilan data dilakukan langsung dari responden yaitu perawat


pelaksana berdasarkan instrumen penelitian yang tentang layanan asuhan
keperawatan dengan cara pre-test dan post-test pada kelompok intervensi
dan pada kelompok kontrol. Analisis data menggunakan analisis univariat,
analisis bivariat dengan uji paired t-test dan independent test. Sebelum
dilakukan penelitian, peneliti menyampaikan informasi yang akan
dilakukan kepada respo nden, yaitu tujuan penelitian, manfaat penelitian,
kegiatan yang dilakukan selama penelitian dan hak-hak responden dalam
penelitian ini. Calon responden yang bersedi a menandatangani lembar
persetujuan (informed consent).

HASIL
Tabel 1. Karakteristik Demografi Perawat Pelaksana (N=108).

F F
Karakteri (Kelom (Kelo
sti k pok % m pok %
Interve Kontr
ns ol
i) )
Umur
21-25 38 70, 12 22,
tahun 4 3
26-30 14 25, 20 37
Tahun 2 9 22 40,7
> 30 tahun 3,7
Jenis
kelami 23 42, 16 29,6
n 31 6 38 70,4
Laki-laki 57,
Perempu 42 4 41 75,9
an 8 1 1,9
Pendidikan 77,
DIII 8
14,8
Keperawat 4 7,4 12 22,2
an S1
Kep Ners
Masa
kerja 1- 27 50 15 27,8
2 tahun 22 40,7 26 47,1
3-5 tahun 5 9,3 13 24,1
> 5 tahun
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa mayoritas umur
responden pada kelompok intervensi antara 21-25 tahun yaitu sebanyak 38
orang (70,4%) dan

minoritas >30 tahun sebanyak 2 orang (3,7%). Berdasarkan jenis kelamin


mayorita sresponden adalah perempuan yaitu sebanyak 31
orang (57,4%), mayoritas pendidikan responden
adalah DIII Keperawatan yaitu sebanyak 42
orang (77,8%) dan mayoritas masa kerja
responden adalah 1-2 tahun yaitu sebanyak 27 orang (50%).

Berdasarkan tabel diatas pada kelompok kontrol mayoritas responden


berumur >30 tahun yaitu sebanyak 22 orang (40,7%) dan minoritas berumur
21-25 tahun

yaitu sebanyak 12 orang (22,3%), mayoritas responden berjenis kelamin


perempuan yaitu sebanyak 38 orang (70,4%), mayoritas pendidikan
responden adalah DIII Keperawatan yaitu sebanyak 41 orang (75,9%) dan
mayoritas masa kerja responden adalah 3-5 tahun yaitu sebanyak 26 orang
(47,1).

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pre Test Laya nan Asuhan Keperawatan


(N=108).
Layanan F F
Asuhan (Inte (%) (Ko (%)
Keperaw r n
ata vens trol
n i) )

Baik 6 11,119 35,2


Kurang 48 89,935 64,8
Jumlah 54 10054 100
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa hasil penelitian yang
telah dilakukan layanan asuhan keperawatan sebelum dilakukan intervensi
(pre test) yang berupa pelatihan penilaian kinerja perawat pelaksan a pada
kelompok intervensi adalah mayoritas kurang yaitu sebanyak 48 orang
(89,9%) dan minoritas adalah baik yaitu sebanyak 6 orang (11,1%). Pre test
layanan asuhan keperawatan pada kelompok kontrol

adalah mayoritas kurang yaitu sebanyak 35 orang (64,8%) dan minoritas


adalah baik yaitu sebanyak 19 orang (35,2%).

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Post Test


Layanan Asuhan Keperawatan (N=108).

Layan F
a n (Int F
Asuha e (%) (Ko (%)
n rven n
Keper s i) trol
a )
watan
Baik 51 94,4 21 38,9
Kurang3 5,6 33 61,1
Jumlah54 100 54 100
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian yang
dilakukan yaitu post test layanan asuhan keperawatan setelah dilakukan
intervensi pelatihan penilaian kinerja perawat pelaksana pada kelompok
intervensi adalah mayoritas baik yaitu sebanyak 51 orang (94,4%) dan
minoritas adalah kurang yaitu sebanyak 3 orang (5,6%). Post test Layanan
asuhan keperawatan pada kelompok kontrol adalah mayoritas kurang yaitu
sebanyak 33 orang (61,1%) dan minoritas adalah baik yaitu sebanyak 21
orang (38,9%).
Tabel 4. Uji Statistik Layanan Asuhan Keperawatan Kelompok Intervensi
(N=54).

Layanan Sig. (2-


Asuha Mean tailed)
n Keperawatan
Sebelum 45.333
0,000
Sesudah 60.277
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa layanan asuhan
keperawatan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan dan penerapan
pada kelompok intervensi ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan dengan menggunakan uji paired t-test dengan hasil yaitu p=
0,000<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan
kepada kepala ruangan sangat berpengaruh positif, kemampuan kepala
ruangan menigkat dalam melakukan penilaian kinerja perawat
pelaksana.
Tabel 5. Uji Statistik Layanan Asuhan Keperawatan Kelompok Kontrol
(N=54).

Layanan Asuhan Keperawatan Mean Sig. (2-


tailed)

Sebelum 47.533
0,284
Sesudah 47.796
Hasil uji statistic diatas menunjukkan bahwa pre test dan post test
layanan asuhan keperawatan pada kelompok kontrol dengan hasil p=
0,284>0,05 dengan arti tidak ada pe rbedaan yang signifikan antara pre
test dan post layanan asuhan keperawatan. Pada kelompok kontrol
tidak ada intervensi yang diberikan sehingga layanan asuhan keperaw
atan tidak perbedaan yang signifikan.

Tabel 6. Uji Statistik Pre Test Layanan Asuhan Keperawatan Kelompok


Intervensi dan Kelompok Kontrol (N=108).

Layanan Asuhan t Sig. (2-tailed)


Keperawatan
Kelompok Intervensi
-1.870 0,064
Kelompok Kontrol
Berdasarkan tabel di atas, dari hasil uji statistik independent tes
menunjukkan bahwa p= 0,064>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan layanan asuhan keperawatan sebelum dilakukan pelatihan dan
penerapan pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.

Tabel 7. Uji Statistik Post Test Layanan Asuhan Keperawatan Kelompok


Intervensi dan Kelompok Kontrol (N=108).

Layanan Asuhan Sig. (2-tailed)


Keperawatan t
Kelompok
Intervensi 10.0
0,000
Kelompok 90
Kontro
Berdasarkan tabel di atas, dari hasil uji statistik yang dilakukan
menunjukkan bahwa p= 0,000<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan layanan asuhan keperawatan pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol. Pelatihan yang diberikan kepada kepala ruangan sangat
berpengaruh positif, kemampuan kepala ruangan menigkat dalam
melakukan penilaian kinerja perawat pelaksana dalam kelompok intervensi
sehingga perawat pelaksana termotivasi dalam melakukan layanan asuhan
keperawatan.

PEMBAHASAN
Layanan Asuhan Keperawatan Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi berdasarkan layanan
asuhan keperawatan sebelum dilakukan intervensi (pre test) pelatihan
penilaian kinerja perawat pelaksana pada kelompok intervensi adalah
mayoritas kurang yaitu sebanyak 48 orang (89,9%) dan minoritas adalah
baik yaitu sebanyak 6 orang (11,1%). Layanan asuhan keperawatan sebelum
dilakukan intervensi (pre test) pelatihan penilaian kinerja perawat pelaksana
pada kelompok kontrol adalah mayoritas kurang yaitu sebanyak 35 orang
(64,8%) dan minoritas adalah baik yaitu sebanyak 19 orang (35,2%).

Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh distribusi frekuensi


berdasarkan layanan asuhan keperawatan setelah dilakukan intervensi (post
test) pelatihan penilaian kinerja perawat pelaksana pada kelompok
intervensi adalah mayoritas baik yaitu sebanyak 51 orang (94,4%) dan
minoritas adalah kurang yaitu sebanyak 3 orang (5,6%). Layanan asuhan
keperawatan setelah dilakukan intervensi (post test) pelatihan penilaian
kinerja perawat pelaksana pada kelompok kontrol adalah mayoritas kurang
yaitu sebanyak 33 orang (61,1%) dan minoritas adalah baik yaitu sebanyak
21 orang (38,9%).

Dalam penelitian ini pengukuran layanan asuhan keperawatan dengan


penerapan standar asuhan keperawatan yaitu standar I pengkajian
keperawatn, standar II diagnosa keperawatan, standar III perencanaan,
standar IV implementasi, dan standar V evaluasi (Potter & Perry, 2009).
Menurut peneliti berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa dalam
memberikan layanan asuhan keperawatan perawat tidak sepenuhnya
menerapkan proses keperawatan terhadap klien, hal ini dapat dilihat juga
dari pendokumentasian yang ditemukan bahwa pelaksanaan asuhan
keperawatan tidak maksimal. Pada proses keperawatan yaitu pengkajian
perawat pelaksana sudah cukup dalam melakukan dan juga melakukan
pendokumentasian, penegakan diagnose keperawatan tidak mencerminkan
rumus diagnosa keperawatan yaitu PE/PES. Pada tindakan keperawatan,
perawat terlihat jarang dalam memberikan pendidikan kesehatan terhadap
klien tentang penyakitnya.

Pelatihan yang diberikan tentang penilaian kinerja perawat pelaksana


sangat berpengaruh terhadap kemampuan kepala ruangan dan bidang
keperawatan dalam melakukan penilaian kinerja perawat pelaksana,
dimana hal ini diharapkan setelah dilakukan penilaian kinerja perawat
dapat meningkatkan motivasi dalam bekerja dan produktivitas dari perawat
pelaksana dalam melakukan layanan asuhan keperawatan yang diberikan
kepada klien. Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari suatu
kinerja pelayanan kesehatan. Profesi perawat sebagai pemberi pelayanan
jasa berada digaris terdepan dan merupakan komponen yang sangat
menentukan baik kurangnya citra rumah sakit.

Perbedaan Layanan Asuhan Keperawatan Pada Kelompok Intervensi


dan Pada Kelompok Kontrol.
Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan antara layanan asuhan
keperwatan sebelum dilakukan pelatihan dan penerapan pada kelompok
intervensi dan layanan asuhan keperawatan pada kelompok kontrol dan
menunjukkan bahwa p= 0,064>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan layanan asuhan keperawatan sebelum dilakukan pelatihan dan
penerapan pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.
Hasil hasil uji statistik yang dilakukan antara layanan asuhan
keperwatan setelah dilakukan pelatihan dan penerapan pada kelompok
intervensi dan layanan asuhan keperawatan post test pada kelompok
kontrol menunjukkan bahwa p= 0,000<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan layanan asuhan keperawatan pada kelompok intervensi
dan kelompok kontrol. Pelatihan yang diberikan kepada kepala ruangan
sangat berpengaruh positif, kemampuan kepala ruangan menigkat dalam
melakukan penilaian kinerja perawat pelaksana dalam kelompok intervensi
sehingga layanan asuhan keperawatan dapat terlaksana dengan baik.

Kemampuan kepala ruangan yang sudah baik sangat diharapkan setelah


dilakukan intervensi terhadap kepala ruangan, penilaian kinerja terhadap
perawat pelaksana diterapkan di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja
Indonesia Medan untuk melihat ataupun mengevaluasi hasil kerja dari
perawat pelaksana dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Penilaian
kinerja dilaksanakan dapat memotivasi perawat pelaksana dalam
meningktatakn kinerja khususnya dalam melakukan asuhan keperawatan,
menunjang kualitas layanan asuhan keperawatan yang baik diberikan
kepada pasien. Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerjasama kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya dan juga upaya
mencapai tujuan oganisasi bersangkutan, secara legal, tidak melanggar
hukum dan sesuai dengan norma dan etika (Buheli, 2010).

Kinerja perawat adalah hasil kerja atau produktivitas yang dilakukan


perawat sesuai dengan standar terhadap tugas dan peranan yang diberikan
(Simamora, 2012). Gillies (1996) menyatakan penilaian kinerja perawat
dilakukan dengan tujuan membantu memperbaiki pelaksanaan kerja
mereka, memberitahu pekerja yang tidak memuaskan bahwa pelaksanaan
kerja mereka kurang serta menganjurkan metode perbaikannya,
mengidentifikasi pegawai yang layak menerima promosi atau kenaikan gaji,
memperbaiki komunikasi antara dirinya sendiri dan bawahan, sebagai salah
satu hal yang memotivasi perawat dalam meningkatkan kinerjanya. Gillies
(1996) menyatakan pelatihan merupakan proses pembentuk karyawan untuk
memperoleh efektivitas dalam pekerjaan dan merupakan salah satu kegiatan
pengembangan staf yang bertujuan untuk meningkatkan mutu sumber daya
manusia. Marquis dan Huston (2010), menyatakan bahwa pelatihan yang
diberikan tentang penilaian kinerja dapat menigkatkan pemahaman dan
kemampuan bagi menejer dalam melaksanakan penilaian kinerja perawat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan memiliki pengaruh


terhadap kinerja perawat, pelatihan merupakan sebuah upaya yang
bertujuan untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan
kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan
kesejahteraan (Simamora, 2006).

Gillies (1996) menyatakan penilaian kinerja perawat dilakukan dengan


tujuan membantu kepuasan pekerja untuk memperbaiki pelaksanaan kerja
mereka, memberitahu pekerja yang tidak memuaskan bahwa pelaksanaan
kerja mereka kurang serta menganjurkan metode perbaikannya,
mengidentifikasi pegawai yang layak menerima promosi atau kenaikan
gaji, mengenal pegawai yang memenuhi syarat penugasan khusus,
memperbaiki komunikasi antara dirinya sendiri dan bawahan, sebagai salah
satu hal yang memotivasi perawat dalam meningkatkan kinerjanya. Selain
itu penilaian kinerja perawat juga bertujuan untuk memotivasi perawat
untuk meningkatkan kinerjanya, untuk mengidentifikasi kebutuhan
perawat tentang pendidikan dan mengkaji kualitas asuhan keperawatan
yang diberikan perawat kepada pasien.

Motivasi adalah sebuah dorongan atau keinginan untuk mencapai


tingkatan usaha yag lebih tinggi ke arah tujuan organisasi atau suatu
keinginan untuk berusaha memberi pemenuhan kebutuhan individu.
Penilaian kinerja yang berdampak pada peningkatan motivasi kerja dalam
penigkatan produktivitas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
kualitas dari layanan asuhan keperawatan yang diberikan dalam suatu
rumah sakit. Layanan keperawatan yang diberikan harus sesuai dengan
standar. Standar pelayanan keperawatan merupakan pedoman untuk
perawat dalam melakukan praktik keperawatan yang digunakan untuk
menentukan apakah perawat telah bertindak sesuai prosedur (Potter &
Perry, 2005).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Buheli Kartin (2010)


bahwa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan asuhan
keperawatan adalah motivasi. Atanay (2008) faktor yang mempengaruhi
layanan asuhan keperawatan pengetahuan, motivasi dan kepemimpinan,
Hasmoko (2008) pengetahuan, sikap, motivasi dan monitoring. Perawat
yang mempunyai motivasi tinggi terdorong untuk lebih giat melaksanakan
tugasnya. Motivasi berkaitan erat dengan dorongan yang kuat untuk
melakukan setiap pekerjaan dengan hasil yang optimal. Berbeda dengan
yang tidak memiliki motivasi tinggi maka ia tidak memiliki hasrat untuk
berkerja semaksimal mungkin serta bersikap apatis terhadap tugasnya yang
mengakibatkan kinerjanya kurang baik.

Menurut penelitifaktor pendidikan responden berpengaruh dalam


layanan asuhan keperawatan, dari hasil penelitian bahwa pendidikan
responden mayoritas DIII Keperawatan. Menurut penelitian Eizenberg,
(2011), menyatakan bahwa faktor yang berhubungan dengan kualitas
asuhan keperawatan diantaranya faktor pendidikan. Sedangkan menurut
Istomina, Razbadaukas, dan Martinkenas, (2014) bahwa usia merupa kan
salah satu faktor yang mempengaruhi layanan asuhan keperawatan. Di sisi
lain responden menyatakan permohonan apabila mereka memiliki kinerja
yang baik dan layanan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien
sudah baik, mereka mengharapkan adanya imbalan ataupun
penghargaan berupa kompensasi/peningkatan gazi.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan antara layanan asuhan
keperwatan sebelum dilakukan pelatihan dan penerapan pada kelompok
intervensi dan layanan asuhan keperawatan pada kelompok kontrol dan
menunjukkan bahwa p= 0,064>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan
yang diberikan kepada kepala ruangan sangat berpengaruh positif,
kemampuan kepala ruangan menigkat dalam melakukan penilaian kinerja
perawat pelaksana dalam kelompok intervensi.

Hasil hasil uji statistik yang dilakukan antara layanan asuhan


keperwatan setelah dilakukan pelatihan dan penerapan pada kelompok
intervensi dan layanan asuhan keperawatan post test pada kelompok control
menunjukka n bahwa p=0,000<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan layanan asuhan keperawatan pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol. Pelatihan yang diberikan kepada kepala
ruangan sangat berpengaruh positif, kemampuan kepala ruangan
menigkat dalam melakukan penilaian kinerja perawat pelaksana.

SARAN

1) Rumah sakit
Diharapkan kepada Rumah Sakit untuk melakukan kontroling dalam
pelaksana an penilaian kinerja perawat pelaksana. Buku panduan dan
instrumen penelitian dapat digunakan oleh rumah sakit untuk
implikasi.

2) Pendidikan keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi
pendidik an keperawatan tentang penilaian kinerja perawat pelaksana
dan layanan asuhan keperawatan di rumah sakit. Diharapkan
pendidikan keperawatan

DAFTAR PUSTAKA
Atanay, R. S. (2008). Analisis faktor–faktor yang mempengaruhi kinerja
perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Rumah Sakit
umum fak- fak. Universitas Diponegoro
Buheli, K, (2010). Faktor yang mempengaruhi kinerja perawat dalam
penerapan proses keperawatan di RSUD Toto Kabupaten Bone
Bolango. Politeknik Kesehatan Kemenkes Gorontalo.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1994). Diakses dari
http://depkes.go.id
/ pada tanggal 17 Januari 2016.

Depkes RI. (2014). Undang-undang republik indonesia Nomor 38 tahun


2014 Tentang Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Eizenberg, M. M. (2011). Implementation of evidence-based nursing
practice: nurses’ personal and professional factors. Journal of
Advanced Nursing, 67(1), 33-42. doi: 10.1111/j.1365-

2648.2010.05488.

Ellis, J. R., & Hartley, C. L. (2012). Nursing in today’s world: trends,

issues and management (10th ed). Philadelphia: Wolters Kluwer.


Gillies, D. A. (1996). Manajemen keperawat an suatu pendekatan sistem.
Edisi Ke Dua. Jakarta.
Hasmoko, E.V. (2008). Analisis faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja
klinis perawat berdasarkan penerapan sistem pengembangan
smanajemen kinerja klinis (spmkk) di ruang rawat inap Rumah Sakit
Panti Wilasa Citarum Semarang. Tesis Universitas Diponegor.

Istomina, N. R.A., & Martinkenas, A. (2014). Evaluations related to the


quality of health and nursing care of patients after abdominal surgery.
Lithuanian Surgery, 123(1), 25-30.

Kepmenkes. RI. 2009. Nomor 857/Menkes/S k/IX/2009 Tentang Pedoman


Penilaian kinerja sumber daya manusia kesehatan di puskesmas.
Jakarta
Marquis, B.L., & Huston, C. J. (2010). Kepemimpinan dan manajemen
keperawatan: teori dan aplikasi. (edisi 4). Jakarta: EGC.
Nikpeyma, N., Saeedi, Z. A., Azargashb, E., & Majd, H. A. (2013).
Problem of clinical nurse performance appraisal system : A qualitative
study. Asian Nursing Research, 300, 1-8.

PPNI, (2005). Standar praktik keperawatan Indonesia. PP-PPNI Melalui


http://www.inna-ppni.or.id.
Polit, D. F., & Beck, C. T. (2012). Nursing: generating and assessing
evidence for nursing practice. (9th ed.). Philadelpia: Lippincott.
Potter & Perry. (2009). Fundamental of nursing. Edisi Ke 7. Buku 1.
Jakarta; Salemba Medika.
Profil RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan. (2015). Tidak dipublikasikan.

Rivai, V, dkk (2010). Performance manage ment dari teori ke praktik.


Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Simamora H. R. (2012). Buku ajar menejemen keperawatan. Jakarta:
EGC.
Swansburg, R.C. (2000). Pengantar kepemi mpinan dan manajemen
keperawatan untuk perawat klinis. Alih bahasa, Suharyati Samba;
editor, Monica Ester. Jakarta: EGC.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38, (2014). Tentang
Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Vasset, F., Marnburg, E., Furunes, T. (2010). Employees’ perceptions of


justice in performance appraisals. Journal Nursing Management, 17
(2),30-34.
Vasset, F., Marnburg, E., Furunes, T. (2011). The effects of performance
appraisal in the Norwegian municipal health services: a case study,
BioMed Central, 9(22). 1-12