Anda di halaman 1dari 3

Nama : Aziz Rizal Cahyanto

NIM : 1709511078
Kelas : C
Tugas Gangguan Sendi Matakuliah Ilmu Bedah Umum Veteriner
- Perbedaan antara subluksasi dan luksasi dilihat dari aspek etiologi, patofisiologi,
gejala klinis, diagnosis, dan penanganan.

a. Etiologi
- Subluksasi: subluksasi merupakan dislokasi inkomplit atau parsial pada
persendian. Menurut WHO, subluksasai merupakan perpindahan struktur yang
jelas dan selalu terlihat pada pemindian X-ray. Kemungkinan disebabkan oleh
distribusi berat badan yang tidak seimbang antara 4 ekstermitas. Namun,
terdapat kemungkinan tinggi pada hewan, seperti anjing, yang memakai kalung
ketika berjalan pada tulang servikalis. Dan juga dapat terjadi pada hewan yang
obesitas.
- Luksasi: merupakan hasil dari trauma atau luka pada struktur persendian. Ketika
persendia ter-luksasi kartilago artikular dan jaringan sekitarnya akan terluka saat
terjadi trauma dan setelah luksasi. Lubrikasi dan nutrisi biasannya disediakan
oleh cairan synovial yang juga hilang dan bisa memperparah kerusakan
kartilago. Trauma yang menyebabkan luksasi persendian juga dapat
menyebabkan luka lain, seperti diafragmatik, hernia, luka saluran kencing,
myokarditis traumatik, hemoragi internal, luka neurologi, dan fraktur
(McLaughlin. 1995).
b. Patofisiologi
- Subluksasi: Subluksasi pada tulang belakang dapat terjadi degenerasi diskus
intervertebral, difungsi sendi posterior, kompresi atau pelebaran dari struktur
vital seperti saraf, saraf tulang belakang, pembuluh darah perispinal, dan rantai
simpatetik.
- Luksasi: Luksasi dapat disebabkan oleh trauma ataupun dari penyakit
degeneratif seperti luksasi patellar. Trauma yang cukup keras dapat
menyebabkan pergeseran pada sendi dan membuat jaringan sekitanya
mengalami radang. Pada luksasi patellar, fibrokartilago berepran pada satbilitas
posisi dari patella yang normal. Pada kasus non-traumatik, fascia latae dan
retinakulum menjadi longgar karena ketidaksejajaran dari mekanisme ekstensor
dari persendian. Menurut Putman pada tesisnya di tahun 1968, berhipotesis
behawa, coxa vara (berkurangnya sudut kemiringan daru leher femur, atau sudut
collo-diafisis yang lebih lurus) bersama dengan berkurangnya anteversi leher
femur, yaitu retroversi relatif (caput femur mengarah ke kaudal daripada ke arah
kranial) (Putman, 1968).
c. Gejala Klinis
- Subluksasi:Jika subluksasi terjadi pada tulang belakang, maka dapat
menyebabkan berubahnya cara berjalan hewan. Terjadi lumpuh, atau
kelemahan, ketidakmauan untuk bejalan atau melompat, kesakitan saat sendi
disentuh atau digerakkan, sendi yang membengkak dan hangat saat dipalpasi,
menjilati area persendian yang terluka, berkurangnya nafsu maakan, dan
berkurangnya aktifitas.
- Luksasi: bagian persendian yang terkena akan membengkak dan sakit saat
disentuh. Gejala yang terjadi juga hampir sama dengan gejala subluksasi
persendian, yaitu, tidak mau berjalan atau melompat, lemah, berkurang nafsu
makan, menjilati persendian, dan berkurangnya aktifitas.
d. Diagnosis
- Subluksasi: Diagnosa dapat dilakukan menggunakan pemeriksaan fisik seperti
palpasi, atau menggunakan X-ray CT (computed tomograhpy) scan, atau MRI
(magnetic resonance imaging).
- Luksasi: diagnosa didasarkan dari pemeriksaan fisik. Sakit dan membengkaknya
daerah persendian, perhubungan sendi, perpindahan struktur tulang, dan
difungsi mekanis merupakan indikasi trauma luksasi. Radiografi pada
persendian yang terkena akan menkonfirmasi diagnosis, dan menyediakan
informasi terakit fraktur artikular, fraktur non-artikular di dekat persendian ter-
luksasi, dan penyakit persendian degeneratif yang sudah ada.
e. Penanganan
- Subluksasi: Jika cedera terjadi di tulang belakang, dapat dilakukan chiropraktik
pada tulang belakang hewan. Chiropraktik dilakukan dengan mengaplikasikan
tekanan menggunakan tangan pada persendian hewan yang terkena untuk
meningkatkan pergerakan atau mengurangi rasa sakit (Roecker. 2011). Dapat
juga dilakukan operasi open reduction yaitu pembukaan sendi untuk
memindahkan tulang ter-dislokasi sebagian.
- Luksasi: sendi yang ter-luksas harus di-reduksi sesegera mungkin setelah luka
untuk mengurangi kerusakan kartilago dan sebelum spastisitas otot dan fibrosis
mencegah relokasi yang mudah. Penting untuk membuat pasien mudah
ditangani dan di-stabilkan sebelum dilakukan reduksi sendi.