Anda di halaman 1dari 66

KEBUTUHAN SPIRITUAL DALAM KEPERAWATAN

KEBUTUHAN SPIRITUAL

A.      PENDAHULUAN

Penting sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara spiritual, keyakinan dan
agama guna menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat
dengan pasien. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing
individu.Manusia adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak
perhatian dari masyarakat yang disebut kecerdasan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan
hidup  seseorang. Perawat memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang
komprehensif. Karena selama dalam perawatan, respon spiritual kemungkian akan muncul pada
pasien.
Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan yang holistik
dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
bukan hanya pada masalah secara fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual
diberikan kepada calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.
B.      SPIRITUAL
1.       Pengertian
Spiritual berasal dari bahasa latin spiritus, yang berarti bernafas atau angin. Ini berarti segala
sesuatu yang menjadi pusat semua aspek dari kehidupan seseorang (McEwan, 2005). Spiritual
adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta (Hamid,
1999).

Spiritual merupakan kompleks yang unik pada tiap individu dan tergantung pada budaya,
perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan seseorang (Potter
& Perry, 1999)

Menurut Burkhardt (1993) dalam Hamid (1999) spiritual meliputi aspek sebagai berikut:
a.       Berhubungan dengan sesuatu yang tidk diketahui
b.      Menemukan arti dan tujuan hidup
c.       Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri.
Kepercayaan artinya mempunyai kepercayaan atau komitmen terhadap sesuatu atau seseorang,
sementara agama merupakan sistem ibadah yang teratur dan terorganisasi (Hamid, 1999)

2.       Karakteristik
1.      Hubungan dengan diri sendiri
Kekuatan dalam dan self relience
a.       Pengetahuan diri (siapa dirinya dan apa yang dapat dilakukannya)
b.      Sikap (percaya diri sendiri, percaya pada kehidupan/ masa depan, ketenangan pikiran, harmoni/
keselarasan dengan diri sendiri)
2.      Hubungan dengan alam
Harmoni
a.       Mengetahui tentang alam, iklim, margasatwa
b.      Berkomunikasi dengan alam (berjalan kaki, bertanam), mengabdikan dan melindungi alam
3.      Hubungan dengan orang lain
Harmoni/ Suportif
a.       Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik
b.      Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit
c.       Meyakini kehidupan dan kematian (mengunjungi, melayat)
Tidak harmonis
a.       Konflik dengan orang lain
b.      Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi
4.       Hubungan dengan Ketuhanan
Agamis atau tidak agamis
a.       Sembahyang/ berdoa/ meditasi
b.      Perlengkapan keagamaan
a.       Bersatu dengan alam

3.       Perkembangan spiritual


a.           Bayi dan todler (1-3 tahun)
Tahap awal perkembangan spiritual adalah rasa percaya dengan yang mengasuh dan sejalan
dengan perkembangan rasa aman, dan dalam hubungan interpersonal, karena sejak awal
kehidupan mengenal dunia melalui hubungan dengan lingkungan kususnya orangtua. Bayi dan
todler belum memiliki rasa bersalah dan benar, serta keyakinan spiritual. Mereka mulai meniru
kegiatan ritual tanpa tau arti kegiatan tersebut dan ikut ketempat ibadah yang mempengaruhi
citra diri mereka.
b.           Prasekolah
Sikap orang tua tentang moral dan agama mengajarkan pada anak tentang apa yang dianggap
baik dan buruk.anak pra sekolah belajar dari apa yang mereka lihat bukan pada apa yang
diajarkan. Disini bermasalah jika apa yang terjadi berbeda dengan apa yang diajarkan.
c.           Usia sekolah
Anak usia sekolah Tuhan akan menjawab doanya, yang salah akan dihukum dan yang baik akan
diberi hadiah. Pada mas pubertas, anak akan sering kecewa karena mereka mulai menyadari
bahwa doanya tidak selalu dijawab menggunakan cara mereka dan mulai mencari alasan tanpa
mau menerima keyakinan begitu saja.
Pada masa ini anak mulai mengambil keputusan akan meneruskan  atau melepaskan agama yang
dianutnya karena ketergantungannya pada orang tua. Remaja dengan orang tua berbeda agama
akan memutuska memilih pilihan agama yang dianutnya atau tidak memilih satupun dari agama
orangtuanya.
d.           Dewasa
Kelompok dewasa muda yang dihadapkan pada pertanyaan bersifat keagamaan dari anaknya
akan menyadari apa yang diajarkan padanya waktu kecil dan masukan tersebut dipakai untuk
mendidik anakya.
e.           Usia pertengahan
Usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama dan berusaha
untuk mengerti nilai agama yang di yakini oleh generasi muda.

4.       Konsep kesehatan spiritual.


a.       Spiritualitas
Konsep spiritual memiliki delapan batas tetapi saling tumpang tindih: Energi, transendensi diri,
keterhubungan, kepercayaan, realitas eksistensial, keyakinan dan nilai, kekuatan batiniah,
harmoni dan batin nurani.
1)           Spiritualitas memberikan individu energi yang dibutuhkan untuk menemukan diri mereka, untuk
beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk memelihara kesehatan.
2)           Transedensi diri (self transedence) adalah kepercayaan yang merupakan dorongan dari luar yang
lebih besar dari individu.
3)           Spiritualitas memberikan pengertian keterhubungan intrapersonal (dengan diri sendiri),
interpersonal (dengan orang lain) dan transpersonal (dengan yang tidak terlihat, Tuhan atau yang
tertinggi) (Potter & Perry, 2009)
4)           Spiritual memberikan kepercayaan setelah berhubungan dengan Tuhan. Kepercayaan selalu
identik dengan agama sekalipun ada kepercayaan tanpa agama.
5)           Spritualitas melibatkan realitas eksistensi (arti dan tujuan hidup).
6)           Keyakinan dan nilai menjadi dasar spiritualitas. Nilai membantu individu menentukan apa yang
penting bagi mereka dan membantu individu menghargai keindahan dan harga pemikiran, obysk
dsn prilaku.(Holins, 2005; Vilagomenza, 2005)
7)           Spiritual memberikan individu kemampuan untuk menemukan pengertian kekuatan batiniah
yang dinamis dan kreatif  yang dibutuhkan saat membuat keputusan sulit (Braks-wallance dan
Park, 2004).
8)           Spiritual memberikan kedamaian dalam menghadapi penyakit terminal maupun menjelang  ajal
(Potter & Perry, 2009).
Beberapa individu yang  tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis) atau percaya bahwa tidak ada
kenyataan akhir yang diketahui (Agnostik). Ini bukan berati bahwa spiritual bukan merupakan
konsep penting bagi atheis dan agnostik, Atheis mencari arti kehidupan melalui pekerjaan
mereka dan hubungan mereka dengan orang lain.agnostik menemukan arti hidup dalam
pekerjaan mereka karena mereka percaya bahwa tidak adanya akhir bagi jalan hidup mereka.
b.       Dimensi Spiritual ( Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995)
1)       Mempertahankan keharmonisan / keselarasan dengan dunia luar
2)       Berjuang untuk menjawab / mendapatkan kekuatan
3)       Untuk menghadapi : Stres emosional, penyakit fisik dan menghadapi kematian
c.       Konsep kesejahteraan spiritual ( spiritual well-being)  (Gray,2006; Smith, 2006):
1)       Dimensi vertikal. Hubungan positif individu dengan Tuhan atau beberapa kekuasaan tertinggi
2)       Dimensi horizontal. Hubungan positif individu dengan orang lain

5.       Hubungan antara spiritual – kesehatan dan sakit


Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan prilaku klien. Beberapa pengaruh yang perlu dipahami:
1)      Menuntun kebiasaan sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin
mempunyai makna keagamaan bagi klien, sebagai contoh: ada agama yang menetapkan diet
makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.
2)      Sumber dukungan
Pada saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.  sumber kekuatan
sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan  sakitnya khususnya jika penyakit tersebut
membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.
3)      Sumber konflik
Pada suatu situasi bisa terjasi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan.
Misalnya: ada yang menganggap penyakitnya adalah cobaan dari Tuhan

6.       Manifestasi perubahan fungsi spiritual


a.       Verbalisasi distress
Individu yang mengalami gangguan  fungsi spiritual, biasanya  akan meverbalisasikan yang
dialaminya untuk mendalatkan bantuan.
b.       Perubahan perilaku
Perubahan perilaku juga dapat merupakan manifestasi gangguan fungsi spiritual.  Klien yang
merasa cemas dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil
pemeriksaan mungkin saja sedang menderita distress spiritual. Untuk jelasnya berikut terdapat
tabel ekspresi kebutuhan spiritual.

C.      ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SPIRITUAL

1.       Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data subyektif dan obyektif. Aspek spiritual sangat
bersifat subyektif, ini berarti spiritual berbeda untuk individu yang berbeda pula (Mcsherry dan
Ross, 2002)
Pada dasarnya informasi awal yang perlu digali adalah
a)       Alifiasi nilai;  Partisipasi klien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau tidak,
Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
b)      Keyakinan agama dan spiritual; Praktik kesehatan misalnya diet,  mencari dan menerima ritual
atau upacara agama,  strategi koping

Nilai agama atau spiritual, mempengaruhi tujusn dan arti hidup, Tujuan dan arti kematian,
Kesehatan dan arti pemeliharaan serta Hubungan dengan  Tuhan, diri sendiri dan orang lain

2.        Diagnosa Keperawatan


a)       Distress spiritual
b)      Koping inefektif
c)       Ansietas
d)      Disfungsi seksual
e)       Harga diri rendah
f)       Keputusasaan

3.       Perencanaan
1.      Distress spiritual b.d anxietas
Definisi : gangguan pada prinsip hidup yang meliputi semua aspek dari  seseorang yang
menggabungkan aspek psikososial dan biologis
NOC :
a.       Menunjukkan harapan
b.      Menunjukkan kesejahteraan spiritual:
-          Berarti dalam hidup
-          Pandangan tentang spiritual
-          Ketentraman, kasih sayang dan ampunan
-          Berdoa atau beribadah
-          Berinteraksi dengan pembimbing ibadah
-          Keterkaitan denganorang lain, untuk berbagi pikiran, perasaan dan kenyataan
c.       Klien tenang
 NIC :
-          Kaji adanya indikasi ketaatan dalam beragama
-          Tentukan konsep ketuhanan klien
-          Kaji sumber-sumber harapan dan  kekuatan pasisien
-          Dengarkan pandangan pasien tentang hubungan spiritiual dan kesehatan
-          Berikan prifasi dan waktu bagi pasien untuk mengamati praktik keagamaan
-          Kolaborasi dengan  pastoral
2.      Koping inefektif b.d krisis situasi
Definisi : ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadat stressor, pilihan respon untuk
bertindak secara tidak adekuat dan atau ketidakmampuan menggunakan sumber yang tersedia
NOC:
-          Koping efektif
-          Kemampuan untuk memilih antara 2 alternatif
-          Pengendalian impuls : kemampuan mengendalikan diri dari prilaku kompulsif
-          Pemrosesan informasi : kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan informasi
NIC :
-          Identifikasi pandangan klien terhadap kondisi dan kesesuaiannya
-          Bantu klien mengidentifikasi kekuatan personal
-          Peningkatan koping:
nilai kesesuaian pasien terhadap perubahan gambaran diri
nilai dampak situasi kehidupan terhadap peran
evaluasi kemampuan pasien dalam membuat keputusan
Anjurkan klien menggunakan tehnik relakssi
Berikan pelatihan ketrampilan sosial yang sesuai
-          Libatkan sumber – sumber yang ada untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan

D.    Pelaksanaan
Dilaksanakan sesuai dengan NIC yang telah ditentukan
E.     Evaluasi
Evaluasi dengan melihat NOC yang telah ditentukan , secaara umum  tujuan tercapai apabila
klien ( Hamid, 1999)
1.      Mampu beristirahat dengan tenang
2.      Menyatakan penerimaan keputusan moral
3.      Mengekspresikan rasa damai
4.      Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka
5.      Menunjukkan sikap efektif tanpa rasa marah, rasa berslah dan ansietas
6.      Menunjukkan prilaku lebih positif
7.      Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya

                                                                                         
DAFTAR PUSTAKA
Dochterman, J. M and Bulecheck, G. M., 2004, Nursing Interventions Clasification (NIC), Mosby:
St. Louis, Missouri
Doenges, M. E., Moorhouse. M. F., Geisler. A. C., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC: Jakarta
Hamid, A, Y., 1999, Buku ajar Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya medika: Jakarta
Nurjanah, I, 2010, Intan’s Screening Diagnoses Assesment (ISDA), Mocomedia: Yogyakarta
Nurjanah, I, 2004, Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia: Yogyakarta
NANDA, 2007, Nursing Diagnoses: Definitions and Clasification 2007-2008, Philadelphia
NANDA, 2010, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2009-2010, EGC: Jakarta
Potter, P. A., Perry, A. G., 1999, Fundamental Keperawatan, Salemba medika: Jakarta
Sue Moorhead., Johnson, M., Mass. M., 2004, Nursing Outcomes Clasification (NOC), Mosby: St.
Louis, Missouri
Taylor, Lilis, Lemone, Lyn, 2011, Fundamental of Nursing The art and Sience of Nursing Care, 
lippincott

Kebutuhan Spiritual KDM II

MAKALAH
KEBUTUHAN SPIRITUAL
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok
Mata kuliah kebutuhan dasar manusia (KDM II)

Dosen Pengampu : Eka Muzyanti, S.Kep


Disusun Oleh :

YAYASAN PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN AL-HIKMAH 02


AKADEMI KEPERAWATAN (AKPER) AL-HIKMAH 02
BENDA SIRAMPOG
2012
BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


Klien dalam perspektif keperawatan merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang
memiliki masalah kesehatan dan membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara,
mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya dalam kondisi optimal. Sebagai seorang
manusia, klien memiliki beberapa peran dan fungsi seperti sebagai makhluk individu, makhluk
sosial, dan makhluk Tuhan. Berdasarkan hakikat tersebut, maka keperawatan memandang
manusia sebagai mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis, sosiologis,
psikologis dan spiritual.

           Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada salah satu diantara dimensi di atas akan
menyebabkan ketidaksejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kondisi tersebut dapat dipahami
mengingat dimensi fisik, psikologis, sosial spiritual, dan kultural merupakan satu kesatuan yang
saling berhubungan. Tiap bagian dari individu tersebut tidaklah akan mencapai kesejahteraan
tanpa keseluruhan bagian tersebut sejahtera.

          Kesadaran akan pemahaman tersebut melahirkan keyakinan dalam keperawatan bahwa
pemberian asuhan keperawatan hendaknya bersifat komprehensif atau holistik, yang tidak saja
memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kultural tetapi juga kebutuhan spiritual klien.
Sehingga, pada nantinya klien akan dapat merasakan kesejahteraan yang tidak hanya terfokus
pada fisik maupun psikologis saja, tetapi juga   kesejateraan   dalam  aspek spiritual.
Kesejahteraan spiritual adalah suatu faktor yang terintegrasi dalam diri seorang individu secara
keseluruhan, yang ditandai oleh makna dan harapan. Spiritualitas memiliki dimensi yang luas
dalam kehidupan seseorang sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik dari seorang perawat
sehingga mereka dapat mengaplikasikannya dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien.
B.      Tujuan

1. Tujuan Umum
a.       Untuk memenuhi tugas dari Bapak dosen pembimbing mata kuliah Kebutuhan Dasar manusia I
(KDM I).
b.      Untuk mengetahui dan menambah wawasan lebih banyak pengetahuan KDM I tentang “
Konsep Kesehatan Spiritual “.

2. Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mengetahui konsep kesehatan spiritual
b.      Mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep kesehatan spiritual
c.       Mahasiswa memiliki landasan pengetahuan dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang
berhubungan dengan spiritual.
C.     Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan metode kepustakaan yang kami ambil
dari beberapa buku yang ada di perpustakaan akper Pemkab Kapuas. Selain menggunakan
metode kepustakaan kami juga mencari materi dari internet.
BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pengertian Konsep Kesehatan Spiritual


Spirituality atau spiritual berasal dari bahasa  latin “spiritus” yang berarti nafas atau
udara. spirit  memberikan hidup,menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke hal apa
saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan seseorang( Dombeck,1995).
Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing individu (Farran et al, 1989). Masing-
masing individu memiliki definisi yang berbeda mengenai spiritual, hal ini dipengaruhi oleh
budaya, perkembangan, pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Spiritual
menghubungkan antara intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan
antara diri sendiri dan orang lain), dan transpersonal (hubungan antara diri sendiri dengan
tuhan/kekuatan gaib) . Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan
beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta spiritual juga
merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan dari nilai-nilai dan sistem
kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik bila pemahamannya dibatasi.
Dalam hirarki kebutuhan manusia, kesehatan spiritual tampak untuk pemenuhan yang
mengandung arti dari kebutuhan melebihi tingkat aktualisasi diri. Kesehatan spiritual berkaitan
erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain
(fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural).  Peran   perawat   adalah  bagaimana  perawat
mampu mendorong klien untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga
klien mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang
terjadi pada diri individu tersebut.

B.      Hubungan Spiritual, Sehat, dan Sakit


Agama merupakan petunjuk perilaku karena di dalam agama terdapat ajaran baik dan
larangan yang dapat berdampak pada kehidupan dan kesehatan seseorang, contohnya minuman
beralkohol sesuatu yang dilarang agama dan akan berdampak pada kesehatan bila di konsumsi
manusia. Agama sebagai sumber dukungan bagi seseorang yang mengalami kelemahan (dalam
keadaan sakit) untuk membangkitkan semangat untuk sehat, atau juga dapat mempertahankan
kesehatan untuk mencapai kesejahteraan. Sebagai contoh orang sakit dapat memperoleh
kekuatan dengan menyerahkan diri atau memohon pertolongan dari Tuhannya.

C.     Hubungan Keyakinan dengan Pelayanan Kesehatan


Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan Tuhannya pun semakin dekat,
mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada yang
mampu membangkitkan dari kesembuhan, kecuali Sang Pencipta. Dalam pelayanan kesehatan,
perawat sebagai petugas kesehatan harus memiliki peran utama dalam memenuhi kebutuhan
spiritual. Perawat dituntut mampu memberikan pemenuhan yang lebih pada saat pasien kritis
atau menjelang ajal.
Dengan demikian, terdapat keterkaitan antara keyakinan dengan pelayanan  kesehatan,  di
mana  kebutuhan  dasar  manusia  yang diberikan melalui pelayanan kesehatan tidak hanya
berupa aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual dapat membantu
membangkitkan semangat pasien dalam proses penyembuhan.

D.     Perkembangan Spiritual


Perkembangan Spiritual seseorang menurut Westerhoff’s di bagi ke dalam empat tingkatan
berdasarkan kategori umur, yaitu :

1. Usia anak-anak, merupakan tahap perkembangan kepercayaan berdasarkan pengalaman.


Perilaku yang didapat, antara lain: adanya pengalaman dari interaksi dengan orang lain
dengan keyakinan atau kepercayaan yang di anut, Pada masa ini, anak belum mempunyai
pemahaman salah atau benar. Kepercayaan atau keyakinan pada masa ini mungkin hanya
mengikuti ritual atau meniru orang lain, seperti berdoa sebelum tidur dan makan, dan
lain-lain. Pada masa prasekolh kegiatan keagamaan yang dilakukan belum bermakna
pada dirinya, perkembangan spiritual mulai mencontoh aktivitas keagamaan orang
seakilingnya dalam hal ini keluarga. Pada masa ini anak-anak biasanya sudah mulai
bertanya tentang pencipta, arti doa, serta mencari jawaban tentang kegiatan keagamaan.
2. Usia remaja akhir, merupakan tahap perkumpulan kepercayaan yang di tandai dengan
adanya partisipasi aktif pada aktivitas keagamaan. Pengalaman dan rasa takjub membuat
mereka semakin merasa  memiliki dan berarti akan keyakinannya. Perkembangan
spiritual pada masa ini sudah mulai pada keinginan akan pencapaian kebutuhan spiritual
seperti keinginan melalui meminta atau berdoa kepada penciptanya, yang berarti sudah
mulai membutuhkan pertolongan melalui keyakinan atau kepercayaan. Bila pemenuhan
kebutuhan spiritual tidak terpenuhi, akan timbul kekecewaan.
3. Usia awal dewasa, merupakan masa pencarian kepercayaan dini, diawali dengan proses
npernyataan akan keyakinan atau kepercayaan yang dikaitkan secara kognitif sebagai
bentuk yang tepat untuk mempercayainya. Pada masa ini, pemikiran sudah bersifat
rasional dan keyakinan atau kepercayaan terus dikaitkan dengan rasional. Segala
pertanyaan tentang kepercayaan harus dapat dijawab secara rasional. Pada masa ini,
timbul perasaan akan penghargaan terhadap kepercayaannya.

4. Usia pertengahan dewasa, merupakan tingkatan kepercayaan dari diri sendiri,


perkembangan ini diawali dengan semakin kuatnya kepercatyaan diri yang dipertahankan
walaupun menghadapi perbedaan keyakinan yang lain dan lebih mengerti akan
kepercayaan dirinya.

E.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Spiritual


1.      Perkembangan. Usia perkembangan dapat menentukan proses pemenuhan kebutuhan spiritual,
karena setiap tahap perkembangan memiliki cara meyakini kepercayaan terhadap Tuhan.
2.      Keluarga. Keluarga memiliki peran yang cukup strategis dalam pemenuhan kebutuhan spiritual,
karena keluarga memilki ikatan emosional yang kuat dan selalu berinteraksi dalam kehidupan
sehari-hari.
3.      Ras/suku. Ras/suku memiliki keyakinan/kepercayaan yang berbeda, sehungga proses pemenuhan
kebutuhan spiritual pun berbeda sesuai dengan keyakinan yang dimiliki.
4.      Agama yang dianut. Keyakinan pada agama tertentu yang dimiliki oleh seseorang dapat
menetukan arti pentingnya kebutuhan spiritual.
5.      Kegiatan keagamaan. Adanya kegiatan keagamaan dapat selalu mengingatkan     keberadaan
dirinya    dengan    Tuhan,     dan    selalu  mendekatkan diri kepada
Penciptanya.

F.      Beberapa orang yang membutuhkan bantuan spiritual


1.      Pasien Kesepian. Pasien dalam keadaan sepi dan tidak ada yang menemani akan membutuhkan
bantuan spiritual karena mereka merasakan tidak ada kekuatan selain kekuatan Tuhan, tidak ada
yang menyertainya selain Tuhan.
2.      Pasien Ketakutan dan cemas. Adanya ketakutan atau kecemasan dapat menimbulkan pasien
kacau, yang dapat membuat pasien membutuhkan ketenangan pada dirinya, dan ketenangan yang
paling besar adalah bersama Tuhan.
3.      Pasien menghadapi pembedahan. Menghadapi pembedahan adalah sesuatu yang sangat
mengkhawatirkan karena akan timbul perasaan antara hidup dan mati. Pada saat itulah
keberadaan pencipta dalam hal ini adalah Tuhan sangat penting sehingga pasien selalu
membutuhkan bantuan spiritual.
4.      Pasien yang harus mengubah gaya hidup. Perubahan gaya hidup dapat membuat seseorang lebih
membutuhkan keberadaan Tuhan (kebutuhan spiritual). Pola gaya hidup dapat membuat
kekacauan keyakinan bila ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi bila perubahan gaya hidup kea
rah yang lebih baok, maka pasien akan lebih membutuhkan dukungan spiritual.

G.     Masalah Spiritual


Masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan spiritual adalah distress spiritual,
yang merupakan suatu keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau berisiko
mengalami ganguan dalam kepercayaan atau  sistem  yang  memberikannya kekuatan,  harapan,
dan arti kehidupan, yang ditandai dengan pasien meminta pertolongan spiritual,
mengungkapakan adanya keraguan dalam system kepercayaan, adanya gangguan yang berlebih
dalam mengartikan hidup, mengungkapkan perhatian yang lebih pada kematian dan sesudah
hidup, adanya keputusasaan, menolak kegiatan ritual, dan terdapat tanda-tanda seperti menangis,
menarik diri, cemas, dan marah, kemudian ditunjang dengan tanda fisik seperti nafsu maakan
terganggu, kesulitan tidur, dan tekanan darah meningkat.
Distres spiritual terdiri dari atas :

1. Spiritual yang sakit, yaitu kesulitan menerima kehilangan dari orang yang dicintai atau
dari penderitaan yang berat.
2. Spiritual yang khawatir, yatitu terjadi pertentangan kepercayaan dan sistem nilai seperti
adanya aborsi.
3. Spiritual yang hilang, yaitu adanya kesulitan menemukan ketenangan dalam kegiatan
keagamaan.

H.     Pengkajian Spritual


Pengkajian terhadap masalah kebutuhan spiritual antara lain adanya ungkapan terhadap
masalh spiritual, misalnya arti kehidupan, kematian dan penderitaan, keraguan akan kepercayaan
yang dianut, penolakan untuk beribadah, perasaan yang kosong, dan pengakuan akan perlunya
bantuan spiritual. Beberapa faktor yang menyebabkan masalah spiritual adalah kehilangan salah
satu bagian tubuh, beberapa penyakit terminal, tindakan pembedahan, prosedur invasive, dan
lain-lain.

1. Ketaatan dan keyakinan klien


2. Tanggung Jawab diri dan kehidupan
3. Kepuasan hidup klien
4. Budaya
5. Hubungan dengan masyarakat
6. Praktek keagamaan
7. Pekerjaan
8. Harapan klien

G.   Diagnosa Keperawatan
Distres spiritual berhubungan dengan ketidakmampuan untuk melaksanakan ritual
spiritual, konflik antara keyakinan spiritual dan ketentuan aturan kesehatan dan krisis penyakit,
penderitaan, atau kematian.

H.     Perencanaan Keperawatan


Rencana yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah spiritual antara lain:

1. Memberikan ketenangan atau privasi sesuai dengan kebutuhan melalui berdoa dan
beribadah secara rutin
2. Membantu individu yang mengalami keterbatasan fisik untuk melakukan ibadah.
3. Menghadirkan pemimpin spiritual untuk menjelaskan berbagai konflik keyakinan dan
alternative pemecahannya.
4. Mengurangi atau menghilangkan beberapa tindakan medis yang bertentangan dengan
keyakinan pasien dan mencari alternatif pemecahannya.
5. Mendorong untuk mengambil keputusan dalam melakukan ritual.
6. Membantu pasien untuk memenuhi kewajibannya

I.     Evaluasi Keperawatan


Evaluasi terhadap masalah spiritual secara unun dapat dinilai dari perubahan untuk
melakukan kegiatan spiritual, adanya kemampuan melaksanakan ibadah, adanya ungkapan atau
perasaan yang tenang, dan menerima adanya kondisi atau keberadaannya, wajah yang
menunjukkan rasa damai, kerukunan dengan orang lain, memilki pedoman hidup, dan rasa
bersyukur.
KEBUTUHAN SPIRITUAL

A.    Konsep dasar:


1.    Pengertian
2.    Karakteristik
3.    Perkembangan spiritual
4.    Konsep terkini dalam kesehatan spiritual
5.    Hubungan antara spiritual – kesehatan dan sakit
6.    Manifestasi perubahan fungsi spiritual
7.    Intervensi dalam kesehatan spiritual

B.     Asuhan Keperawatan pada klien dengan kebutuhan spiritual


1.      Pengkajian
2.      Diagnosa
3.      Perencanaan
4.      Pelaksanaan
5.      Evaluasi

PENDAHULUAN
Setiap orang dalam hidupnya pasti akan menghadapi yang namanya masalah, sikap
seseorang dalam menghadapi sangat ditentukan oleh keyakinan mereka masing-masing.
Keyakinan yang dimiliki setiap orang selalu dikaitkan dengan kepercayaan atau agama. Spiritual,
keyakinan dan agama merupakan hal yang berbeda namun seringkali diartikan sama. Penting
sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara Spiritual, keyakinan dan agama guna
menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat dengan pasien.
Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan yang holistik
dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
bukan hanya pada masalah secara fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual
diberikan kepada calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.

SPIRITUAL

A.    Pengertian
1.      Spiritual
Berasal dari bahasa latin spiritus, yang berrti bernafas atau angin. Ini berarti segala sesuatu yang
menjadi pusat semua aspek dari kehidupan seseorang (McEwan, 2005).
Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta
(Achir Yani, 2000).
Spiritual merupakan kompleks yang unik pada tiap individu dan tergantung pada budaya,
perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan seseorang (Mauk
dan Schmidt, 2004 cit  Potter Perry, 2009)
Menurut Burkhardt (1993) spiritual meliputi aspek sebagai berikut:
a.       Berhubungan dengan sesuatu yang tidk diketahui
b.      Menemukan arti dan tujuan hidup
c.       Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri.
2.      Kepercayaan (faith)
Kepercayaan artinya mempunyai kepercayaan atau komitmen terhadap sesuatu atau seseorang
(Achir Yani, 2000)
3.      Agama merupakan sistem ibadah yang teratur dan terorganisasi (Achir Yani, 2000)

B.     Karakteristik
1.      Hubungan dengan diri sendiri
Kekuatan dalam dan self relience
a.       Pengetahuan diri (siapa dirinya dan apa yang dapat dilakukannya)
b.      Sikap (percaya diri sendiri, percaya pada kehidupan/ masa depan, ketenangan pikiran, harmoni/
keselarasan dengan diri sendiri)
2.      Hubungan dengan alam
Harmoni
a.       Mengetahui tentang alam,iklim, margasatwa
b.      Berkomunikasi dengan alam (berjalan kaki, bertanam), mengabdikan dan melindungi alam
3.      Hubungan dengan orang lain
Harmoni/ Suportif
a.       Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik
b.      Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit
c.       Meyakini kehidupan dan kematian (mengunjungi, melayat)
Tidak harmonis
a.       Konflik dengan orang lain
b.      Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi
4.      Hubungan dengan Ketuhanan
Agamis atau tidak agamis
a.       Sembahyang/ berdoa/ meditasi
b.      Perlengkapan keagamaan
a.       Bersatu dengan alam

C.     Perkembangan spiritual


1.      Bayi dan todler (1-3 tahun)
Tahap awal perkembangan spiritual adalah rasa percaya dengan yang mengasuh dan sejalan
dengan perkembangan rasa aman, dan dalam hubungan interpersonal, karena sejak awal
kehidupan mengenal dunia melalui hubungan dengan lingkungan kususnya orangtua. Bayi dan
todler belum memiliki rasa bersalah dan benar, serta keyakinan spiritual. Mereka mulai meniru
kegiatan ritual tanpa tau arti kegiatan tersebut dan ikut ketempat ibadah yang mempengaruhi
citra diri mereka.
2.      Prasekolah
Sikap orang tua tentang moral dan agama mengajarkan pada anak tentang apa yang dianggap
baik dan buruk.anak pra sekolah belajar dari apa yang mereka lihat bukan pada apa yang
diajarkan. Disini bermasalah jika apa yang terjadi berbeda dengan apa yang diajarkan.
3.      Usia sekolah
Anak usia sekolah Tuhan akan menjawab doanya, yang salah akan dihukum dan yang baik akan
diberi hadiah. Pada mas pubertas , anak akan sering kecewa karena mereka mulai menyadari
bahwa doanya tidak selalu dijawab menggunakan cara mereka dan mulai mencari alasan tanpa
mau menerima keyakinan begitu saja.
Pada masa ini anak mulai mengambil keputusan akan meneruskan  atau melepaskan agama yang
dianutnya karena ketergantungannya pada orang tua. Remaja dengan orang tua berbeda agama
akan memutuska memilih pilihan agama yang dianutnya atau tidak memilih satupun dari agama
orangtuanya.
4.      Dewasa
Kelompok dewasa muda yang dihadapkan pada pertanyaan bersifat keagamaan dari anaknya
akan menyadari apa yang diajarkan padanya waktu kecil dan masukan tersebut dipakai untuk
mendidik anakya.
5.      Usia pertengahan
Usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama dan berusaha
untuk mengerti nilai agama yang di yakini oleh generasi muda.

D.    Konsep terkini dalam kesehatan spiritual.


1.      Spiritualitas
Konsep spiritual memiliki delapan batas tetapi saling tumpang tindih:
Energi, transendensi diri, keterhubungan, kepercayaan, realitas eksistensial, keyakinan dan nilai,
kekuatan batiniah, harmoni dan batin nurani.
a.       Spiritualitas memberikan individu energi yang dibutuhkan untuk menemukan diri mereka, untuk
beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk memelihara kesehatan.
b.       Transedensi diri (self transedence) adalah kepercayaan yang merupakan dorongan dari luar yang
lebih besar dari individu.
c.       Spiritualitas memberikan pengertian keterhubungan intrapersonal (dengan diri sendiri),
interpersonal (dengan orang lain) dan transpersonal ( dengan yang tidak terlihat, Tuhan atau yang
tertinggi) (Miner –william, 2006 cit Potter & Perry, 2009)
d.      Spiritual memberikan kepercayaan setelah berhubungan dengan Tuhan. Kepercayaan selalu
identik dengan agama sekalipun ada kepercayaan tanpa agama.
e.       Spritualitas melibatkan realitas eksistensi (arti dan tujuan hidup).
f.       Keyakinan dan nilai menjadi dasar spiritualitas. Nilai membantu individu menentukan apa yang
penting bagi mereka dan membantu individu menghargai keindahan dan harga pemikiran, obysk
dsn prilaku.(Holins, 2005; vilagomenza, 2005
g.      Spiritual memberikan individu kemampuan untuk menemukan pengertian kekuatan batiniah
yang dinamis dan kreatif  yang dibutuhkan saat membuat keputusan sulit (Braks-wallance dan
Park, 2004).
h.      Spiritual memberikan kedamaian dalam menghadapi penyakit terminal maupun menjelang  ajal
(Potter & Perry, 2009).
Ada individu yang  tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis) atau percaya bahwa tidak ada
kenyataan akhir yang diketahui (Agnostik). Ini bukan berati bahwa spiritual bukan merupakan
konsep penting bagi atheis dan agnostik, Atheis mencari arti kehidupan melalui pekerjaan
mereka dan hubungan mereka dengan orang lain.agnostik menemukan arti hidup dalam
pekerjaan mereka karena mereka percaya bahwa tidak adanya akhir bagi jalan hidup mereka.
2.      Dimensi Spiritual ( Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995; Murray & Zentner, 1993 ):
a.       Mempertahankan keharmonisan / keselarasan dengan dunia luar
b.      Berjuang untuk menjawab / mendapatkan kekuatan
c.       Untuk menghadapi : Stres emosional, penyakit fisik, dan menghadapi kematian
3.      Konsep kesejahteraan spiritual ( spiritual well-being)  (Gray,2006; Smith, 2006):
a.       Dimensi vertikal
Hubungan positif individu dengan Tuhan atau beberapa kekuasaan tertinggi
b.      Dimensi horisontal
Hubungan positif individu dengan orang lain

E.     Hubungan antara spiritual – kesehatan dan sakit


1.      Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan prilaku klien. Beberapa pengaruh yang perlu dipahami:
a.       menuntun kebiasaan sehari-hari
praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin
mempunyai makna keagamaan bagi klien, sebagai contoh: ada agama yang menetapkan diet
makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.
b.      sumber dukungan
pada saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.  sumber kekuatan
sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan  sakitnya khususnya jika penyakit tersebut
membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.
c.       sumber konflik
Pada suatu situasi bisa terjasi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan.
Misalnya: ada yang menganggap penyakitnya adalah cobaan dari Tuhan

2.      kepercayaan agama tentang kesehatan


Agama/ Kepercayaan terhadap Respon terhadap Penerapan pada kesehatan
Budaya pelayanan kesehatan penyakit dan perawatan
Hindu Menerima ilmu medis Dosa masa lalu Waktu untuk doa, jimat,
terkini menyebabkan ritual, simbol
penyakit
Shikhis Menerima ilmu medis Wanita diperiksa Waktu untuk doa, jimat,
m terkini wanita ritual, simbol
Melepaskan pakaian
dalam merupakan
tekanan
Buddha Menerima ilmu medis Menolak pengobatan
terkini pada hari suci
Roh non manusia
yang menyerang
manusia
menyebabkan
penyakit

Islam Harus dapat Menggunakan Kesehatan dan spiritual


mempraktikkan 5 kepercayaan saling berhubungan
hukum islam penyembuhan Tidak mempertimbangkan
Terkadang memiliki Tidak melakukan transplantasi organ
pandangan kesehatan eutanasia
yang salah
Yahudi Mempercayai kesucian Eutanasiaa dilarang Percaya penting hidup
hidup sehat
Ibadah hari sabath,
menolak pengobatan
hari sabath
Kristiani Menerima ilmu medis Menggunakan doa, Mendukung donor organ
terkini kuas penyembuhan

F.      Manifestasi perubahan fungsi spiritual


1.      Verbalisasi disstress
Individu yang mengalami gangguan  fungsi spiritual, biasanya  akan meverbalisasikan yang
dialaminya untuk mendalatkan bantuan.
2.      Perubahan perilaku
Perubahan perilaku juga dapat merupakan manifestasi gangguan fungsi spiritual..  Klien yang
merasa cemas dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil
pemeriksaan mungkin saja sedang menderita distress spiritual. Untuk jelasnya berikut terdapat
tabel ekspresi kebutuhan spiritual.

TABEL EKSPRESI KEBUTUHAN SPIRITUAL ADAPTIF DAN MALLADAPTIF


Kebutuhan Tanda pola atau prilaku Tanda pola atau prilaku
adaptif maladaptif
Rasa percaya Rasa percaya terhadap diri Merasa tidak nyaman
sendiri dan kesabaran dengan kesadaran diri
Menerima bahwa yang lain Mudah tertipu
akan mampu memenuhi Ketidakmampuan untuk
kebutuhan terbuka dengan orang lain
Rasa percaya terhadap Merasa bahwa hanya orang
kehidupan walaupun terasa tertentu dan tempat
berat tertentu yang aman
Keterbukaan terhadap Mengharapkan orang tidak
Tuhan berbuat baik dan tidak
tergantung
Ingin kebutuhan dipenuhi
segera tidak dapat
menunggu
Tidak terbuka kepada
Tuhan
Takut terhadap maksud
Tuhan
Kemampuan Menerima diri sendiri dan Merasa penyakit sebagai
memberi orang lain dapat berbuat suatu hukuman
maaf salah Merasa Tuhan sebagai
Tidak mendakwa atau penghukum
berprasangka buruk Merasa maaf hanya
Memandang penyakit diberikan berdasar prilaku
sebagai sesuatu yang nyata Tidak menerima diri
Memaafkan diri sendiri sendiri
Memaafkah orang lain Menyalahkan diri sendari
Menerima pengampunan atau orang lain.
Tuhan.
Pandangan yang realistik
terhadap masa lalu
TABEL EKSPRESI KEBUTUHAN SPIRITUAL ADAPTIF DAN MALLADAPTIF
Kebutuhan Tanda pola atau prilaku Tanda pola atau prilaku
adaptif maladaptive
Mencintai dan Mengekspresikan perasaan Takut akan tergantung
ketertarikan dicintai oleh orang lain dengan orang lain
atau Tuhan Menolak bekerja sama
Mampu menerima bantuan dengan tenaga kesehatan
Menerima diri sendiri Cemas berpisah dengan
Mencari kebaikan dari keluarga
orang lain Menolak diri sendiri serta
angkuh dan mementingkan
diri sendiri
Tidak mampu untuk
mempercayai diri sendiri
dicintai oleh Tuhan, tidak
punya hubungan rasa cinta
dengan Tuhan
Merasa tergantung dan
hubungan bersifat magik
dengan Tuhan. Merasa
jauh dengan Tuhan.
Keyakinan Ketergantungan dengan Mengekspresikan perasaan
anugerah Tuhan ambivalens terhadap
Termotifasi untuk tumbuh Tuhan
Mengekspresikan Tidak percaya terhadap
kepuasan dengan kekuasaan Tuhan
menjelaskan kehidupan Takut kematian
setelah kematian Merasa terisolasi dari
Mengekspresikan kepercayaan masyarakat
kebutuhan untuk sekitar
memasuki kehidupan dan Merasa pahit, frustasi dan
ataui memahami marah terhadap Tuhan
kehidupan manusia dengan Nilai, keyakinan dan
wawasanyang lebih luas tujuan hidup yang tidak
Mengekspresikan jelas
kebutuhan ritual Konflik nilai
Mengekspresikan Tidak mempunyai
kehidupan untuk merasa komitmenm
berbagi keyakinan

TABEL EKSPRESI KEBUTUHAN SPIRITUAL ADAPTIF DAN MALLADAPTIF


Kebutuhan Tanda pola atau Tanda pola atau prilaku
prilaku adaptif maladaptive
Kreatifitas dan harapan Meminta informasi Mengekspresikan
tentang kondisi perasaan takut
Membicarakan kehilangan kendali diri
kondisinya secara Mengekspresikan
realistik kebosanan diri
Menggunakan waktu Tidak mempunyai visi
selama dirawat inap alternatif yang
secara konstruktif memungkinkan
Mencari cara untuk Takut terhadap terapi
mengekspresikan diri Putus asa
Mencari kenyamanan Tidak dapat menolong
batin daripada fisik ayau menerima diri
Mengekspresikan sendiri
harapan tentang masa Tidak dapat menikmati
depan apapun
Terbuka terhadap Telah menunda
kemungkinan pengambilan
mendapatkan keputusan.
kedamaian
Arti dan tujuan Mengekspresikan Mengekspresikan tidak
kepuasan hidup ada alasan bertahan
Menjalani kehidupan hidup
sesuai dengan sistem Tidak dapat menerima
nilai arti penderitaan yang
Menggunakan dialami
penderitaan sebagai Mempertanyakan arti
cara memahami diri kehidupan
Mengekspresikan arti Mempertanyakan
kehidupan/ kematian tujuan penyakit
Mengekspresikan Tidak dapat
komitmen dan merumuskan tujuan
orientasi hidup dan tidak mencapai
Jelas tentang apa yang tujuan
penting Telah menunda
pegambilan keputusan
yang penting.

G.    Intervensi dalam kesehatan spiritual


Tehnik dalam kesehatan spiritual  adalah dengan tehnik meditasi
Tehnik Meditasi:
Tujuan: klien dapat mengungkapkan perasaan  relaksasi dan trandensi diri setelah meditasi
Strategi pengajaran:
1.         Berikan informasi singkat mengenai pengajaran / cara meditasi
2.         Bantu klien mengidentifikasi ruangan dalam  rumah yang tenang dan mempunyai gangguan
minimal
3.         Jelaskan bahwa musik yang tenang dan bunyi yang mendesing dapat mengganggu meditasi
4.         Ajarkan langkah-langkah meditasi, duduk dalam posisi yang nyaman dengan punggung lurus;
bernafas perlahan; dan fokus pada suara, doa atau gambar
5.         Anjurkan pasien untuk melakukan meditasi selama 10-20 menit dua kali sehari
6.         Jawab pertanyaan klien dan perkuat informasi selama diperlukan
Evaluasi:
Ijinkan klien menggambarkan perasaan setelah melakukan meditasi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SPIRITUAL

A.    Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data subyektif dan obyektif
Spiritual sangat bersifat subyektif, ini berarti spiritual berbeda untuk individu yang berbeda pula
(Mcsherry dan ross, 2002)
Pada dasarnya informasi awal yang perlu digali adalah
1.      Alifiasi nilai
a.       Partisipasi klien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau tidak
b.      Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
2.      Keyakinan agama dan spiritual
a.       Praktik kesehatan : diet,  mencari dan menerima ritual atau upacara agama
b.      Strategi koping
Nilai agama atau spiritual, mempengaruhi:
a.       Tujusn dan arti hidup
b.      Tujuan dan arti kematian
c.       Kesehatan dan arti pemeliharaan
d.      Hubungan dengan  Tuhan, diri sendiri dan orang lain
B.     Diagnosa
1.      Distress spiritual
2.      Koping inefektif
3.      Ansietas
4.      Disfungsi seksual
5.      Harga diri rendah
6.      Keputusasaan

C.     Perencanaan
1.      Distress spiritual b.d anxietas
Definisi : gangguan pada prinsip hidup yang meliputi semua aspek dari  seseorang yang
menggabungkan aspek psikososial dan biologis
NOC :
a.       Menunjukkan harapan
b.      Menunjukkan kkan kesejahteraan spiritual:
-          Berarti adlam hidup
-          Pandangan tentang spiritual
-          Ketentraman, kasih sayang dan ampunan
-          Berdoa atau beribadah
-          Berinteraksi dengan pembimbing ibadah
-          Keterkaitan denganorang lain, untuk berbagi pikiran, perasaan dan kenyataan
c.       Klien tenang
 NIC :
-          Kaji adanya indikasi ketaatan dalam beragama
-          Tentukan konsep ketuhanan klien
-          Kaji sumber-sumber harapan dan  kekuatan pasisien
-          Dengarkan pandangan pasien tentang hubungan spiritiual dan kesehatan
-          Berikan prifasi dan waktu bagi pasien untuk mengamati praktik keagamaan
-          Kolaborasi dengan  pastoral
2.      Koping inefektif b.d krisis situasi
Definisi : ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadat stressor, pilihan respon untuk
bertindak secara tidak adekuat dan atau ketidakmampuan menggunakan sumber yang tersedia
NOC:
-          Koping efektif
-          Kemampuan untuk memilih antara 2 alternatif
-          Pengendalian impuls : kemampuan mengendalikan diri dari prilaku kompulsif
-          Pemrosesan informasi : kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan informasi
NIC :
-          Identifikasi pandangan klien terhadap kondisi dan kesesuaiannya
-          Bantu klien mengidentifikasi kekuatan personal
-          Peningkatan koping:
nilai kesesuaian pasien terhadap perubahan gambaran diri
nilai dampak situasi kehidupan terhadap peran
evaluasi kemampuan pasien dalam membuat keputusan
Anjurkan klien menggunakan tehnik relakssi
Berikan pelatihan ketrampilan sosial yang sesuai
-          Libatkan sumber – sumber yang ada untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan

D.    Pelaksanaan
Dilaksanakan sesuai dengan NIC yang telah ditentukan

E.     Evaluasi
Evaluasi dengan melihat NOC yang telah ditentukan , secaara umum  tujuan tercapai apabila
klien ( Achir Yani, 1999)
1.      Mampu beristirahat dengan tenang
2.      Menyatakan penerimaan keputusan moral
3.      Mengekspresikan rasa damai
4.      Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka
5.      Menunjukkan sikap efektif tanpa rasa marah, rasa berslah dan ansietas
6.      Menunjukkan prilaku lebih positif
7.      Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya
                                                                                             
DAFTAR PUSTAKA

Dochterman, J. M and Bulecheck, G. M., 2004, Nursing Interventions Clasification (NIC), Mosby:
St. Louis, Missouri
Doenges, M. E., Moorhouse. M. F., Geisler. A. C., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC: Jakarta
Hamid, Achir Yani, 1999, Buku ajar Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya medika: Jakarta
Intansari Nurjanah, 2010, Intan’s Screening Diagnoses Assesment (ISDA), Mocomedia: Yogyakarta
Intansari Nurjanah, 2004, Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia: Yogyakarta
NANDA, 2007, Nursing Diagnoses: Definitions and Clasification 2007-2008, Philadelphia
NANDA, 2010, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2009-2010, EGC: Jakarta
Potter, P. A., Perry, A. G., Fundamental Keperawatan, Salemba medika: Jakarta
Sue Moorhead., Johnson, M., Mass. M., 2004, Nursing Outcomes Clasification (NOC), Mosby: St.
Louis, Missouri
Taylor, Lilis, Lemone, Lyn, 2011, Fundamental of Nursing The art and Sience of Nursing Care, 
lippincott

ENDAHULUAN Penting bagi perawat untuk memahami konsep yang mendasari kesehatan
spiritual. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia
adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari
masyarakat yang di sebut kecerdesan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan hidup
seseorang. Perawat atau ners memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang
komprehensif. Karena respon spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.
Kompetensi standar yang di capai adalah perawat mampu mengidentifikasi aspek spiritual yang
terjadi pada pasien. Dengan kompetensi dasar sebagai berikut.

1. Perawat mampu mendifinisikan aspek spiritual pada manusia atau pasien.


2. Perawat mampu mengidentifikasi kebutuhan spiritual pada pasien yang sakit.
3. Perawat mampu memberikan alternatif cara untuk memenuhi kebutuhan spiritual.

PENGERTIAN SPIRITUAL
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :
1)      berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan,
2)      menemukan arti dan tujuan hidup,
3)      menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri,
4)      mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi.
Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen
terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama,
kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam,
Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau
kuasa, suatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan
sepenuhnya (action). Harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu
kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang
kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada
individu untuk mencapai sutau prestasi dan berorientasi ke depan. Agama, adalah sebagai sistem
organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas
secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisasi
atau teratur.
Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup,
kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang
berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara
orang lain dan lingkungan) dan transpersonal  (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu
hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur
spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaran spiritual. Dimensi
spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal,
fisiologikal atau fisik, sosiologikal dan spiritual.
Kata “spiritual” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian
spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford English Dictionary, untuk
memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan,
dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan,
sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran
dan perasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi
keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar,
penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan bertingkah laku seseorang .
Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna,
harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati
bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya
sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan
intra-, inter-, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki
dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam
hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).
Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep yang dapat
diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan aspek yang menyatu dan universal
bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual. Dimensi ini mengintegrasi,
memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia.
KETERKAITAN ANTARA SPIRITUAL, KESEHATAN DAN SAKIT
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu di pahami antara lain

1. menuntun kebiasaan hidup sehari-hari

Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin
mempunyai makna keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet.

1. sumber dukungan

Saat stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.

1. sumber kekuatan dan penyembuhan

Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat.

1. sumber konflik

Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan,
seperti  pandangan penyakit.
Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan
tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk
memberikan dan mendapatkan maaf .
KARAKTERISTIK SPIRITUAL
Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana tingkat spiritualitas
seseorang. Karakteristik spiritual tersebut, antara lain

1. hubungan dengan diri sendiri

1)      Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya).


2)      Sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau
keselarasan diri).

1. hubungan dengan alam

1)      Mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa dan iklim.


2)      Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan melindungi
alam.

1. hubungan dengan orang lain

Harmonis
1)      Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik.
2)      Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit.
3)      Menyakini kehidupan dan kematian.
Tidak harmonis
1)      Konflik dengan orang lain.
2)      Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi.

1. hubungan dengan Ketuhanan

Agamis atau tidak agamis


1)      Sembahyang/berdo’a/meditasi.
2)      Perlengkapan keagamaaan.
3)      Bersatu dengan alam.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu :
1)      merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia/kehidupan,
2)      mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu kejadian atau
penderitaan,
3)      menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta,
4)      membina integritas personal dan merasa diri berharga,
5)      merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan,
6)      mengembangkan hubungan antar manusia yang positif.
KONSEP-KONSEP YANG TERKAIT DENGAN SPIRITUAL
Sebuah isu yang sering muncul dalam konsep keperawatan adalah kesulitan dalam membedakan
antara spiritual dengan aspek-aspek yang lain dalam diri manusia, khususnya membedakan
spiritual dari religi. Selain itu perawat juga perlu memahami perbedaan dimensi spiritual dengan
dimensi psikologi, dan memperkirakan bagaimana kebudayaan dengan spiritual saling
berhubungan.

1. Religi

Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek yang berhubungan
dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995). Pargamet (1997) mendefinisikan religi sebagai suatu
pencarian kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan korban atau persembahan.
Seringkali kali kata spiritual dan religi digunakan secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada
perbedaan antara keduanya. Dari definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi
merupakan sebuah konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual lebih
mengacu kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk mencari makna hidup
melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Reed, 1992). Jadi dapat dikatakan religi
merupakan jembatan menuju spiritual yang membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku
serta membantu seseorang menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara
individu mengekspresikan spiritualnya .

1. Dimensi Psikologi

Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling terkait, sangat sulit
membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual. Akan tetapi sebagai perawat harus
mengetahui perbedaan keduanya.Spilka, Spangler, dan Nelson (1983) membedakan dua dimensi
ini dengan mengatakan bahwa dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia
seperti : berduka, kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual
merupakan segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilai-
nilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

1. Kebudayaan

Kebudayaan merupakan kumpulan cara hidup dan berfikir yang dibangun oleh sekelompok
orang dalam suatu daerah tertentu (Martsolf, 1997). Kebudayaan terdiri dari nilai, kepercayaan,
tingkah laku sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga meliputi perilaku, peran, dan praktek
keagamaan yang diwariskan turun-temurun. Menurut Martsolf (1997) ada tiga pandangan yang
menjelaskan hubungan spiritual dengan kebudayaan, yaitu spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh
kebudayaan, spiritual dipengaruhi pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan
kebudayaan, dan spiritual dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup yang tidak
berhubungan dengan kebudayaan.
MANIFESTASI SPIRITUAL
Manifestasi spiritual merupakan cara kita untuk dapat memahami spiritual secara nyata.
Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara seseorang berhubungan dengan diri
sendiri, orang lain, dan dengan Yang Maha Kuasa, serta bagaimana sekelompok orang
berhubungan dengan anggota kelompok tersebut (Koenig & Pritchett, 1998).
Contoh kebutuhan spiritual individu adalah kebutuhan seseorang untuk mencari tujuan hidup,
harapan, mengekspresikan perasaan kesedihan maupun kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk
terus berjuang dalam hidup. Kebutuhan spiritual menyangkut individu dengan orang lain
meliputi keinginan memaafkan dan dimaafkan serta mencintai dan dicintai. Menurut Nolan &
Crawford (1997) kebutuhan spiritual sekelompok orang meliputi keinginan kelompok tersebut
untuk dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya.
Dalam kenyataannya, semua manusia memiliki dimensi spiritual,  semua klien akan
mengekspresikan dan memanifestasikan kebutuhan spiritual mereka kepada perawat. Karena
kurangnya pemahaman tentang kebutuhan spiritual, seringkali perawat gagal dalam mengenali
ekspresi kebutuhan spiritual klien, sehingga perawat gagal dalam memenuhi kebutuhan
tersebut.Kesejahteraan Spiritual,merupakan suatu kondisi yang ditandai adanya penerimaan
hidup, kedamaian, keharmonisan, adanya kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat, dan
lingkungan sehingga menunjukkan adanya suatu kesatuan (Greer & Moberg, 1998). Dalam
hierarki kebutuhan dasar manusia, kesejahteraan spiritual termasuk dalam tingkat kebutuhan
aktualisasi diri .

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SPIRITUAL


Menurut Taylor & Craven (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual seseorang adalah

1. tahap perkembangan seseorang

Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat negara berbeda, ditemukan
bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda
menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak.

1. keluarga
Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Hal yang penting bukan
apa yang diajarkan oleh orang tua pada anak tentang Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari
mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga
merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan
kehidupan di dunia, maka pandangan anak ada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka
dalam berhubungan dengan saudara dan orang tua.

1. latar belakang etnik dan budaya

Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan budaya. Pada umumnya
seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya
menjalankan kegiatan agama termasuk nilai moral dari hubungan keluarga. Akan tetapi perlu
diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja
pengalaman spiritual unik bagi setiap individu.

1. pengalaman hidup sebelumnya

Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat mempengaruhi spiritual
seseorang. Pengalaman hidup yang menyenangkan seperti pernikahan, kelulusan, atau kenaikan
pangkat menimbulkan syukur pada Tuhan. Peristiwa buruk dianggap sebagai suatu cobaan yang
diberikan Tuhan pada manusia untuk menguji imannya.

1. krisis dan perubahan

Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Krisis sering dialami
ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan, dan bahkan
kematian. Bila klien dihadapkan pada kematian, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk
sembahyang atau berdoa lebih meningkat dibandingkan dengan pasien yang berpenyakit tidak
terminal.

1. terpisah dari ikatan spiritual

Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu terpisah atau
kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan hidup sehari-hari juga
berubah antara lain tidak dapat menghadiri acara sosial, mengikuti kegiatan agama dan tidak
dapat berkumpul dengan keluarga atau teman yang biasa memberikan dukungan setiap saat
diinginkan. Terpisahnya klien dari ikatan spiritual beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritual.

1. isu moral terkait dengan terapi

Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan untuk menunjukkan
kebesaranNya walaupun ada juga agama yang menolak intervensi pengobatan. Prosedur medis
seringkali dapat dipengaruhi oleh ajaran agama seperti sirkumsisi, transplantasi organ,
sterilisasi,dll. Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan
tenaga kesehatan.
CARA PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PERAWAT
Perawat diharapkan terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan spiritualnya, sebelum membantu pasien
dalam memenuhi kebutuhan spiritual klien. Dengan hal ini diharapkan perawat dapat lebih
memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
dapat memenuhi kebutuhan spiritual perawat antara lain sebagai berikut.

1. Beribadah dalam suatu komunitas.

Berpartisipasi dalam suatu komunitas rohani dapat meningkatkan spiritualitas. Banyak orang
merasa asing dengan orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan sama. Tetapi dengan
bergabung dalam suatu komunitas rohani dapat menimbulkan rasa nyaman dan dapat
meningkatkan rasa spiritual.

1. Berdoa.

Berdoa, membaca kitab suci, merenungkan berkat dalam hidup dan berserah kepada Yang Maha
Kuasa merupakan cara yang baik dalam meningkatkan spiritual.

1. Meditasi.

Beberapa orang manggunakan yoga atau meditasi untuk kembali menenangkan diri dan
memfokuskan pikiran kembali untuk menemukan makna dari suatu hal.

1. Pembenaran yang positif.

Pembenaran yang positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi stress. Salah satu cara
untuk mendapat pembenaran positif adalah dengan berdiam diri, sambil merenungkan kitab suci
atau nyanyian.

1. Menulis pengalaman spiritual.

Perawat dapat menulis perasaan yang sedang dirasakan, pengalaman spiritual yang dialami, atau
semua inspirasi dan pikiran-pikiran yang timbul. Cara ini sangat bermanfaat bagi perawat untuk
dapat keluar dari situasi stress.

1. Mencari dukungan spiritual.

Dukungan spiritual dapat datang dari mana saja. Perawat dapat mencari dukungan spiritual dari
komunitas rohaninya. Selain itu dukungan spiritual juga dapat diperoleh dari teman, mentor,
ataupun konselor.
Menurut Agus (2002) inti dari pemenuhan kebutuhan spiritual untuk mencapai kecerdasan
spiritual (Spiritual Quotient) adalah proses transendensi dan realisasi. Dalam proses transendensi
(menyendiri), pencerahan-pencerahan spiritual terjadi. Seseorang dapat menjalankan hubungan
yang paling intim dengan hakikat diri terdalamnya atau dengan Tuhannya. Dengan memusatkan
diri untuk sementara waktu dari keributan dunia, seseorang dapat mencurahkan segenap
kemampuannya untuk memahami makna dari apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya
kejadian itu dapat diperbaiki .
Hal serupa juga dikemukakan oleh Danah Zohar & Ian Marshall (2002). Secara umum kita dapat
meningkatkan kecerdasan spiritual dengan meningkatkan proses tersier psikologi kita, yaitu
kecenderungan untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk
membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu. Kita
menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih
sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani.
LATIHAN

1. Anda merawat pasien beragama kristen, kemudian anda melihat pasien yang sudah sakit
lama sedang berdoa, sambil menangis, apa yang harus Anda lakukan sebagai perawat
yang beragama islam?
2. Anda mendengar ibu  pasien berkata “Kenapa anak saya sakit ya Allah, apa dosa saya”?,
jelaskan bagaimana Anda memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
3. Bagaimana Anda mengenal aspek spiritual anda sendiri sebagai seorang perawat.

TEST FORMATIF

1. Jelaskan tentang kebutuhan spiritual pada pasien?


2. Cara-cara perawat memenuhi kebutuhan spiritual pada pasein bagaimana?
3. Mengapa perawat harus memperhatikan aspek spiritual?
4. Bagaimana anda mengetahui bahwa pasien mempunyai masalah spiritual?
5. Prinsip apa yang harus anda pahami dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien?

RANGKUMAN
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan perilaku self care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami ,menuntun kebiasaan hidup
sehari-hari gaya hidup atau perilaku tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan
pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien seperti tentang
permintaan menu diet.
Sumber dukungan, spiritual sering menjadi sumber dukungan bagi seseorang untuk menghadapi
situasi stress. Dukungan ini sering menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima keadaan hidup
yang harus dihadapi termasuk penyakit yang dirasakan.
Sumber kekuatan dan penyembuhan,individu bisa memahami distres fisik yang berat karena
mempunyai keyakinan yang kuat. Pemenuhan spiritual dapat menjadi sumber kekuatan dan
pembangkit semangat pasien yang dapat turut mempercepat proses kesembuhan.
Sumber konflik pada situasi tertentu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien, bisa terjadi
konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan seperti tentang pandangan penyakit
ataupun tindakan terapi. Pada situasi ini, perawat diharapkan mampu memberikan alternatif
terapi yang dapat diterima sesuai keyakinan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Black M. Joyce&Jane H. Hawks. 2005. Medical Surgical Nursing : Clinical Management For
Positive Outcome. 7th edition. St Louis : Elseiver Inc.
Dugan, D.O. (1989). Laughter and Tears: Best Medicine for Stress. Nursing Forum, 24 (1)
: 18

Farland M&Leininger M. 2002. Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research &


Practice. Mc. Grow-Hill Companies.
Leininger M. Madeline. Culture Care Diversity and Universality : A Theory Of Nursing. 1991.
New York : National league for nursing press.
Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, A. (1983). Introduction to Person – Centered Nursing.
Philadelphia : J.B.Lippincott Company.
Meidiana Dwidiyanti. 1998. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan. Edisi 1. Semarang :
Akper Depkes Semarang
Potter, P.A. & Perry, A.G. (1993). Fundamental of Nursing Concept, Process and Practice.
Third edition. St. Louis : Mosby Years Book.
Soekidjo Notoatmodjo. 1993. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Manusia. Edisi revisi.
Jakarta : Rineka Cipta.
Stuart G. W, Laraia M. T. 2001. Principles and Practice Of Psychiatric Nursing. 7th edition. St
Louis : Mosby.

KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL DAN


MENJELANG AJAL Disusun Oleh: Kelompok 7 KEMENTERIAN KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG JURUSAN KEPERAWATAN 2010
KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL DAN
MENJELANG AJAL Disusun Oleh: 1). Ade Putra (09200 041) 2). Andriyadi Jayasinga (09200
043) 3). Artika Halimi (09200 044) 4). Raditya Dwi Pambudi (09200 068) 5). Ruly Triantoro
(09200 071) KEMENTERIAN KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG
KARANG JURUSAN KEPERAWATAN 2010 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat
Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penyusun masih diberi kesehatan sehingga
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul “KONSEP DAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL DAN MENJELANG AJAL” ini
disusun untuk memenuhi tugas mahasiswa dari mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia II di
Jurusan Keperawatan Tanjungkarang. Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih
kepada : 1. Ibu Ratna Dewi, Bsc. SE selaku dosen mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia II yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan demi terselesaikannya makalah ini. 2. Rekan-rekan
dan semua pihak yag telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa mendatang. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dan
semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah pengetahuan para
mahasiswa dan masyarakat dan pembaca. Bandar Lampung, Maret 2010 Penyusun DAFTAR ISI
Halaman Judul ............................................................................................... i
Penyusun ........................................................................................................ ii Kata
Pengantar .............................................................................................. iii Daftar
Isi ........................................................................................................ iv BAB I.
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1 1.2
Tujuan .................................................................................................. 2 1.3
Manfaat ............................................................................................... 2 BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ............................................................................................ 3 2.2 Tahap-tahap
Menjelang Ajal ................................................................ 3 2.3 Tipe-tipe Perjalanan Menjelang
Kematian ........................................... 4 2.4 Tanda-tanda Klinis Menjelang
Kematian ............................................ 4 2.5 Tanda-tanda Klinis Saat
Meninggal .................................................... 5 2.6 Tanda-tanda Meninggal Secara
Klinis ................................................. 5 2.7 Macam Tingkat Kesadaran/Pengertian Pasien dan
Keluarganya Terhadap Kematian ...................................... 6 2.8 Bantuan yang dapat
Diberikan ............................................................ 6 BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN 3.1
Pengkajian ........................................................................................... 10 3.2 Diagnosa
Keperawatan ........................................................................ 11 3.3 Intervensi
Keperawatan ....................................................................... 12 3.4
Implementasi ....................................................................................... 17 3.5
Evaluasi ............................................................................................... 19 BAB IV. PENUTUP 4.1
Kesimpulan .......................................................................................... 20 4.2
Saran .................................................................................................... 20 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berjumpa dengan pasien yang menderita karena
Terminal Ilness (penyakit yang tidak tersembuhkan), merupakan hal yang umum bagi dokter
yang merawat pasien lanjut usia (lansia). Meskipun hal itu umum, namun tugas untuk menangani
orang yang sedang meninggal (menjelang ajal, sakaratul maut, sekarat, dying) tidak mudah.
Tantangan dan stress bagi dokter memang berbeda; sama-sama beratnya, baik telah lama
merawat pasien itu atau belum. Kebanyakan dokter tidak memiliki pendidikan formal yang
langsung berkaitan dengan filosofi atau penomenologi derita manusia, atau sangat sedikit
pelatihan menangani pasien menjelang ajal. Biasanya, pengalaman konkret merawat pasien
menjelang ajal diperoleh ketika dilakukan koas. Namun refleksi mendalam atas kasus terminal
illness dan pendidikan formal sangat jarang. Pendidkan dokter dan perawat pada umumnya tetap
terpusat pada penyembuhan, memperpanjang hidup, dan memulihkan. Agaknya, fungsi utama
pertolongan medis tetap menghilangkan penderitaan. Meskipun “perawatan manusia utuh” sudah
didengungkan, paradigma Cartesian yang memisahkan jiwa dengan raga tetap menguasai
pelatihan klinis dokter. Penderitaan, dianggap sebagai “sakit fisik:”. Bahkan dengan wacana,
fisik pun, dalam teori dan praktik menangani derita atau berbgai sumber-sumber lain, derita
menjelang ajal (dema) memang sangat langka dalam buku dan kurikulum kedokteran dan
keperawatan. Padahal demi kesejahteraan optimal pasien dan kemantapan pelayanan medis,
sesungguhnya pendekatan dan penanganan pasien terminal harus didahului dengan pendidikan
dan pelatihan yang memadai. Banyak masalah legal melingkupi peristiwa kematian, meliputi
definisi dasar dari titik yang aktual dimana seseorang dipertimbangkan meninggal. Hukum
mengidentifikasi kematian terjadi ketika ada penurunan fungsi otak yang hebat, selain fungsi
organ yang lainnya. Ketika klien tidak mengizinkan pemberi pelayanan kesehatan untuk
mencoba menyalamatkan hidup mereka, fokus perawat harus menjadi tujuan perawatan versus
penyembuhan. Pada situasi lain yang melibatkan kematian, perawat memiliki tugas legal yang
khusus. Misalnya, perawat memiliki kewajiban hukum untuk menjaga orang yang meninggal
secara bermartabat. Penanganan yang salah untuk orang yang meninggal dapat membahayakan
emosional bagi orang yang selamat. Asuhan keperawatan klien dengan penyakit terminal sangat
menuntut dan menegangkan. Namun demikian, membantu klien menjelang ajal untuk meraih
kembali martabatnya dapat menjadi salah satu penghargaan terbesar keperawatan. Perawat dapat
berbagi penderitaan klien menjelang jal dan mengintervensi dalam cara meningkatkan kualitas
hidup. Klien menjelang ajal harus dirawat dengan respek dan perghatian. Peningkatan
Kenyamanan bagi klien menjelang ajal termasuk pengenalan dan peredaan distres psikobiologis.
Perawat memberi berbagai tindakan penenangan bagi klien sakit terminal. Kontrol nyeri
terutama penting karena nyeri mengganggu tidur, nafsu makan, mobilitas, dan fungsi psikologis.
Higiene personal adalah bagian rutin dari mempertahankan kenyamann klien dengan penyakit
terminal. Klien mungkin pada akhirnya bergantu ng pada perawat atau keluarganya untuk
pemunuhan kebutuhan dasarnya. 1.2 Tujuan Tujuan Umum Meningkatkan ilmu tentang praktek
keperawatan terutama penanganan terhadap pasien terminal. Tujuan Khusus Sebagai salah satu
syarat dalam menempuh pendidikan keperawatan professional dengan menambah wawasan dan
pengatahuan tentang salah satu penanganan pasien. 1.3 Manfaat Dapat melaksanakan asuhan
keperawatan yang bersifat kuratif paliatif, memperpanjang hidup, mempersiapkan dalam
menghadapi kematian dengan tenang dan bantuan untuk menerima kehilangan/berduka cita
sesuai dengan kebutuhan fisik, psiko-sosial, spiritual dan kultural bagi pasien/klien dengan sakit
terminal beserta keluarganya. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Keadaan Terminal adalah
suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak tidak ada harapan lagi bagi si sakit untuk
sembuh. Keadaan sakit itu dapat disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan.
Kematian adalah suatu pengalaman tersendiri, dimana setiap individu akan
mengalami/menghadapinya seorang diri, sesuatu yang tidak dapat dihindari, dan merupakan
suatu kehilangan. 2.2 Tahap-tahap Menjelang Ajal Kubler-Rosa (1969), telah menggambarkan/
membagi tahap-tahap menjelang ajal (dying) dalam 5 tahap, yaitu: 1. Menolak/Denial Pada fase
ini , pasien/klien tidak siap menerima keadaan yang sebenarnya terjadi, dan menunjukkan reaksi
menolak. Timbul pemikiran-pemikiran seperti: “Seharusnya tidak terjadi dengan diriku, tidak
salahkah keadaan ini?”. Beberapa orang bereaksi pada fase ini dengan menunjukkan keceriaan
yang palsu (biasanya orang akan sedih mengalami keadaan menjelang ajal). 2. Marah/Anger
Kemarahan terjadi karena kondisi klien mengancam kehidupannya dengan segala hal yang telah
diperbuatnya sehingga menggagalkan cita-citanya. Timbul pemikiran pada diri klien, seperti:
“Mengapa hal ini terjadi dengan diriku?” Kemarahan-Kemarahan tersebut biasanya
diekspresikan kepada obyek-obyek yang dekat dengan klien, seperti:keluarga, teman dan tenaga
kesehatan yang merawatnya. 3. Menawar/bargaining Pada tahap ini kemarahan baisanya mereda
dan pasien malahan dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang terjadi dengan
dirinya. Pada pasien yang sedang dying, keadaan demikian dapat terjadi, seringkali klien berkata:
“Ya Tuhan, jangan dulu saya mati dengan segera, sebelum anak saya lulus jadi sarjana”. 4.
Kemurungan/Depresi Selama tahap ini, pasien cen derung untuk tidak banyak bicara dan
mungkin banyak menangis. Ini saatnya bagi perawat untuk duduk dengan tenang disamping
pasien yang sedangan melalui masa sedihnya sebelum meninggal. 5.
Menerima/Pasrah/Acceptance Pada fase ini terjadi proses penerimaan secara sadar oleh klien dan
keluarga tentang kondisi yang terjadi dan hal-hal yang akan terjadi yaitu kematian. Fase ini
sangat membantu apabila kien dapat menyatakan reaksi-reaksinya atau rencana-rencana yang
terbaik bagi dirinya menjelang ajal. Misalnya: ingin bertemu dengan keluarga terdekat, menulis
surat wasiat, dsbg. 2.3 Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian Ada 4 tipe dari perjalanan
proses kematian, yaitu: 1. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya
perubahan yang cepat dari fase akut ke kronik. 2. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa
diketahui, baisanya terjadi pada kondisi penyakit yang kronik. 3. Kematian yang belum pasti,
kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya terjadi pada pasien dengan operasi radikal karena
adanya kanker. 4. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. Terjadi pada pasien dengan
sakit kronik dan telah berjalan lama. 2.4 Tanda-tanda Klinis Menjelang Kematian 1. Kehilangan
Tonus Otot, ditandai: a. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun. b. Kesulitan dalam
berbicara, proses menelan dan hilangnya reflek menelan. c. Penurunan kegiatan traktus
gastrointestinal, ditandai: nausea, muntah, perut kembung, obstipasi, dsbg. d. Penurunan control
spinkter urinari dan rectal. e. Gerakan tubuh yang terbatas. 2. Kelambatan dalam Sirkulasi,
ditandai: a. Kemunduran dalam sensasi. b. Cyanosis pada daerah ekstermitas. c. Kulit dingin,
pertama kali pada daerah kaki, kemudian tangan, telinga dan hidung. 3. Perubahan-perubahan
dalam tanda-tanda vital a. Nadi lambat dan lemah. b. Tekanan darah turun. c. Pernafasan cepat,
cepat dangkal dan tidak teratur. 4. Gangguan Sensori a. Penglihatan kabur. b. Gangguan
penciuman dan perabaan. Variasi-variasi tingkat kesadaran dapat dilihat sebelum kematian,
kadang-kadang klien tetap sadar sampai meninggal. Pendengaran merupakan sensori terakhir
yang berfungsi sebelum meninggal. 2.5 Tanda-tanda Klinis Saat Meninggal 1. Pupil mata
melebar. 2. Tidak mampu untuk bergerak. 3. Kehilangan reflek. 4. Nadi cepat dan kecil. 5.
Pernafasan chyene-stoke dan ngorok. 6. Tekanan darah sangat rendah 7. Mata dapat tertutup atau
agak terbuka. 2.6 Tanda-tanda Meninggal Secara Klinis Secara tradisional, tanda-tanda klinis
kematian dapat dilihat melalui perubahan-perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada
tahun 1968, World Medical Assembly, menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi
kematian, yaitu: 1. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total. 2. Tidak adanya
gerak dari otot, khususnya pernafasan. 3. Tidak ada reflek. 4. Gambaran mendatar pada EKG.
2.7 Macam Tingkat Kesadaran/Pengertian Pasien dan Keluarganya Terhadap Kematian Strause
et all (1970), membagi kesadaran ini dalam 3 tipe: 1. Closed Awareness/Tidak Mengerti Pada
situasi seperti ini, dokter biasanya memilih untuk tidak memberitahukan tentang diagnosa dan
prognosa kepada pasien dan keluarganya. Tetapi bagi perawat hal ini sangat menyulitkan karena
kontak perawat lebih dekat dan sering kepada pasien dan keluarganya. Perawat sering kal
dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan langsung, kapan sembuh, kapan pulang, dsbg. 2.
Matual Pretense/Kesadaran/Pengertian yang Ditutupi Pada fase ini memberikan kesempatan
kepada pasien untuk menentukan segala sesuatu yang bersifat pribadi walaupun merupakan
beban yang berat baginya. 3. Open Awareness/Sadar akan keadaan dan Terbuka Pada situasi ini,
klien dan orang-orang disekitarnya mengetahui akan adanya ajal yang menjelang dan menerima
untuk mendiskusikannya, walaupun dirasakan getir. Keadaan ini memberikan kesempatan
kepada pasien untuk berpartisipasi dalam merencanakan saat-saat akhirnya, tetapi tidak semua
orang dapat melaksanaan hal tersebut. 2.8 Bantuan yang dapat Diberikan 1. Bantuan Emosional
a). Pada Fase Denial Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan denial dengan cara
mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan pasien dapat mengekspresikan perasaan-
perasaannya. b). Pada Fase Marah Biasanya pasien akan merasa berdosa telah mengekspresikan
perasaannya yang marah. Perawat perlu membantunya agar mengerti bahwa masih me rupakan
hal yang normal dalam merespon perasaan kehilangan menjelang kamatian. Akan lebih baik bila
kemarahan ditujukan kepada perawat sebagai orang yang dapat dipercaya, memberikan ras aman
dan akan menerima kemarahan tersebut, serta meneruskan asuhan sehingga membantu pasien
dalam menumbuhkan rasa aman. c). Pada Fase Menawar Pada fase ini perawat perlu
mendengarkan segala keluhannya dan mendorong pasien untuk dapat berbicara karena akan
mengurangi rasa bersalah dan takut yang tidak masuk akal. d). Pada Fase Depresi Pada fase ini
perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh pasien. Akan lebih
baik jika berkomunikasi secara non verbal yaitu duduk dengan tenang disampingnya dan
mengamati reaksi-reaksi non verbal dari pasien sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
e). Pada Fase Penerimaan Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang, damai. Kepada
keluarga dan teman-temannya dibutuhkan pengertian bahwa pasien telah menerima keadaanya
dan perlu dilibatkan seoptimal mungkin dalam program pengobatan dan mampu untuk menolong
dirinya sendiri sebatas kemampuannya. 2. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Fisiologis a).
Kebersihan Diri Kebersihan dilibatkan unjtuk mampu melakukan kerbersihan diri sebatas
kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut, mulut, badan, dsbg. b). Mengontrol Rasa
Sakit Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada klien dengan sakit terminal,
seperti morphin, heroin, dsbg. Pemberian obat ini diberikan sesuai dengan tingkat toleransi nyeri
yang dirasakan klien. Obat-obatan lebih baik diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra
Muskular/Subcutan, karena kondisi system sirkulasi sudah menurun. c). Membebaskan Jalan
Nafas Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih baik dan pengeluaran
sekresi lendir perlu dilakukan untuk membebaskan jalan nafas, sedangkan bagi klien yang tida
sadar, posisi yang baik adalah posisi sim dengan dipasang drainase dari mulut dan pemberian
oksigen. d). Bergerak Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk bergerak,
seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur untuk mencegah decubitus dan dilakukan secara
periodik, jika diperlukan dapat digunakan alat untuk menyokong tubuh klien, karena tonus otot
sudah menurun. e). Nutrisi Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan
peristaltik. Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea dan merangsang nafsu makan
serta pemberian makanan tinggi kalori dan protein serta vitamin. Karena terjadi tonus otot yang
berkurang, terjadi dysphagia, perawat perlu menguji reflek menelan klien sebelum diberikan
makanan, kalau perlu diberikan makanan cair atau Intra Vena/Invus. f). Eliminasi Karena adanya
penurunan atau kehilangan tonus otot dapat terjadi konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat
laxant perlu diberikan untuk mencegah konstipasi. Klien dengan inkontinensia dapat diberikan
urinal, pispot secara teratur atau dipasang duk yang diganjti setiap saat atau dilakukan
kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar perineum, apabila terjadi lecet, harus
diberikan salep. g). Perubahan Sensori Klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien
biasanya menolak/menghadapkan kepala kearah lampu/tempat terang. Klien masih dapat
mendengar, tetapi tidak dapat/mampu merespon, perawat dan keluarga harus bicara dengan jelas
dan tidak berbisik-bisik. 3. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Sosial Klien dengan dying akan
ditempatkan diruang isolasi, dan untuk memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat
melakukan: a). Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk bertemu dengan klien
dan didiskusikan dengan keluarganya, misalnya: teman-teman dekat, atau anggota keluarga lain.
b). Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya dan perlu diisolasi. c).
Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan kunjungan teman-teman
terdekatnya, yaitu dengan memberikan klien untuk membersihkan diri dan merapikan mdiri. d).
Meminta saudara/teman-temannya untuk sering mengunjungi dan mengajak orang lain dan
membawa buku-buku bacaan bagi klien apabila klien mampu membacanya. 4. Bantuan
Memenuhi Kebutuhan Spiritual a). Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya
dan rencana-rencana klien selanjutnya menjelang kematian. b). Menanyakan kepada klien untuk
mendatangkan pemuka agama dalam hal untuk memenuhi kebutuhan spiritual. c). Membantu
dan mendorong klien untuk melaksanakan kebutuhan spiritual sebatas kemampuannya. BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian 1) Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan
sekarang Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang b. Riwayat kesehatan
dahulu Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit
yang sama c. Riwayat kesehatan keluarga Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit
yang sama dengan klien 2) Head To Toe Perubahan fisik saat kematian mendekat: 1. Pasien
kurang rensponsif. 2. Fungsi tubuh melambat. 3. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak
sengaja. 4. Rahang cendrung jatuh. 5. Pernafasan tidak teratur dan dangkal. 6. Sirkulasi
melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah. 7. Kulit pucat. 8. Mata memelalak dan
tidak ada respon terhadap cahaya. 3.2 Diagnosa Keperawatan a) Ansietas/ ketakutan (individu ,
keluarga ) yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi
yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup. b)
Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan
fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain. c) Perubahan proses keluarga
yang berhubungan dengan gangguan kehidupan keluarga,takut akan hasil ( kematian ) dengan
lingkungnnya penuh dengan stres ( tempat perawatan ). d) Resiko terhadap distres spiritual yang
berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak
mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian. KRITERIA HASIL a) Klien atau keluarga
akan : 1. Mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan gangguan. 2. Menceritakan
pikiran tentang efek gangguan pada fungsi normal , tanggung jawab peran dan gaya hidup. b)
Klien akan : 1. Mengungkapkan kehilangan dan perubahan. 2. Mengungkapkan perasaan yang
berkaitan kehilangan dan perubahan. 3. Menyatakan kematian akan terjadi. Anggota keluarga
akan melakukan hal berikut : Mempertahankan hubungan erat yang efektif, yang dibuktikan
dengan cara berikut: a. Menghabiskan waktu bersama klien. b. Memperthankan kasih sayang ,
komunikasi terbuka dengan klien. c. Berpartisipasi dalam perawatan. c) Anggota keluarga atau
kerabat terdekat akan: 1. Megungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien. 2.
Mengungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan. 3. Melaporkan fungsi
keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien. d) Klien akan mempertahankan
praktik spritualnya yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian. 3.3
Intervensi Keperawatan Diagnosa I Ansietas / ketakutan ( individu , keluarga ) yang
berhubungan dengan situasi yang tak dikenal. Sifat kondisi yang tak dapat diperkirakan takut
akan kematian dan efek negative pada gaya hidup. Criteria Hasil Klien atau keluarga akan :
Mengungkapkan ketakutannya yang berhubungan dengan gangguan. Menceritakan tentang efek
gangguan pada fungsi normal, tanggung jawab, peran dan gaya hidup. No Intervensi Rasional 1
Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya : a. Berikan kepastian dan kenyamanan b. Tunjukkan
perasaan tentang pemahman dan empti, jangan menghindari pertanyaan c. Dorong klien untuk
mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobatannya d.
Identifikasi dan dukung mekanisme koping efektif Klien yang cemas mempunyai penyempitan
lapang persepsi dengan penurunan kemampuan untuk belajar. Ansietas cendrung untuk
memperburuk masalah. Menjebak klien pada lingkaran peningkatan ansietas tegang, emosional
dan nyeri fisik. 2 Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah atau
sedang. Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat dihilangkan
dengan memberikan informasi akurat. Klien dengan ansietas berat atau parah tidak menyerap
pelajaran. 3 Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan mereka.
Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan memberiakan kesempatan untuk
memperbaiki konsep yang tidak benar. 4 Berikan klien dan keluarga kesempatan dan penguatan
koping positif. Menghargai klien untuk koping efektif dapat menguatkan renson koping positif
yang akan datang. Diagnosa II Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang
akan dihadapi penurunan fungsi, perubahan konsep diri dan menark diri dari orang lain Klien
akan : 1. Mengungkapakan kehilangan dan perubahan. 2. Mengungkapakan perasaan yang
berkaitan kehilangan dan perubahan. 3. Menyatakan kematian akan terjadi. Anggota keluarga
akan melakukan hal berikut : mempertahankan hubungan erat yang efektif , yang dibuktikan
dengan cara sbb: a. Menghabiskan waktu bersama klien. b. Mempertahankan kasih sayang ,
komunikasi terbuka dengan klien. c. Berpartisipasi dalam perawatan. d. No Intervensi Rasional 1
Berikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan, didiskusikan
kehilangan secara terbuka , dan gali makna pribadi dari kehilangan.Jelaskan bahwa berduka
adalah reaksi yang umum dan sehat. Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang
dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat menyebabkan menimbulkan perasaan
ketidak berdayaan, marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya. Diskusi
terbuka dan jujur dapat membantu klien dan anggota keluarga menerima dan mengatasi situasi
dan respon mereka terhadap situasi tersebut. 2 Berikan dorongan penggunaan strategi koping
positif yang terbukti yang memberikan keberhasilan pada masa lalu. Stategi koping fositif
membantu penerimaan dan pemecahan masalah. 3 Berikan dorongan pada klien untuk
mengekpresikan atribut diri yang positif. Memfokuskan pada atribut yang positif meningkatkan
penerimaan diri dan penerimaan kematian yang terjadi. 4 Bantu klien mengatakan dan menerima
kematian yang akan terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur. Proses berduka, proses
berkabung adaptif tidak dapat dimulai sampai kematian yang akan terjadi di terima. 5 Tingkatkan
harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan.
Penelitian menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai tindakan keperawatan
berikut : a. Membantu berdandan. b. Mendukung fungsi kemandirian. c. Memberikan obat nyeri
saat diperlukan dan d. Meningkatkan kenyamanan fisik ( Skoruka dan Bonet 1982 ). Diagnosa III
Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan takut akan hasil
( kematian ) dan lingkungannya penuh stres ( tempat perawatan ). Anggota kelurga atau kerabat
terdekat akan : 1. Mengungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien. 2.
Mengungkapkan kekhawatirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan 3. melaporkan
fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien. No Intervensi Rasional 1
Luangkan waktu bersama keluarga atau orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang
empati. Kontak yang sering dan mengkmuikasikan sikap perhatian dan peduli dapat membantu
mengurangi kecemasan dan meningkatkan pembelajaran. 2 Izinkan keluarga klien atau orang
terdekat untuk mengekspresikan perasaan, ketakutan dan kekawatiran. Saling berbagi
memungkinkan perawat untuk mengintifikasi ketakutan dan kekhawatiran kemudian
merencanakan intervensi untuk mengatasinya. 3 Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU
Informasi ini dapat membantu mengurangi ansietas yang berkaitan dengan ketidaktakutan. 4
Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan berikan informasi
spesifik tentang kemajuan klien. 5 Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam
tindakan perawatan. Kunjungan dan partisipasi yang sering dapat meningakatkan interaksi
keluarga berkelanjutan. 6 Konsul dengan atau berikan rujukan kesumber komunitas dan sumber
lainnya. Keluarga dengan masalah-masalah seperti kebutuhan financial , koping yang tidak
berhasil atau konflik yang tidak selesai memerlukan sumber-sumber tambahan untuk membantu
mempertahankankan fungsi keluarga. Diagnosa IV Resiko terhadap distres spiritual yang
berhubungan dengan perpisahan dari sistem pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak
mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian Klien akan mempertahankan praktik
spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian. No Intervensi
Rasional 1 Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual keagamaan
atau spiritual yang diinginkan bila yang memberi kesempatan pada klien untuk melakukannya.
Bagi klien yang mendapatkan nilai tinggi pada doa atau praktek spiritual lainnya, praktek ini
dapat memberikan arti dan tujuan dan dapat menjadi sumber kenyamanan dan kekuatan. 2
Ekspesikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik religius
atau spiritual klien. Menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu mengurangi kesulitan klien
dalam mengekspresikan keyakinan dan prakteknya. 3 Berikan prifasi dan ketenangan untuk ritual
spiritual sesuai kebutuhan klien dapat dilaksanakan. Privasi dan ketenangan memberikan
lingkungan yang memudahkan refresi dan perenungan. 4 Bila anda menginginkan tawarkan
untuk berdoa bersama klien lainnya atau membaca buku keagamaan. Perawat meskipun yang
tidak menganut agama atau keyakinan yang sama dengan klien dapat membantu klien memenuhi
kebutuhan spritualnya. 5 Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religius atau rohaniwan
rumah sakit untuk mengatur kunjungan. Jelaskan ketidak setiaan pelayanan ( kapel dan injil RS ).
Tindakan ini dapat membantu klien mempertahankan ikatan spiritual dan mempraktikkan ritual
yang penting ( Carson 1989 ). 3.4 Implementasi Diagnosa I 1. Membantu klien untuk
mengurangi ansientasnya : a. Memberikan kepastian dan kenyamanan. b Menunjukan perasan
tentang pemahaman dan empati, jangan menghindari pertanyaan. c Mendorong klien untuk
mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobotannya. d.
Menditifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif. 2. Mengkaji tingkat ansientas klien.
Merencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah atau sedang. 3. Mendorong keluarga dan
teman untuk mengungkapkan ketakutan atau pikiran mereka. 4. Memberikan klien dan keluarga
dengan kepastian dan penguatan prilaku koping positif. 5. Memberikan dorongan pada klien
untuk menggunakan teknik relaksasi seperti paduan imajines dan pernafasan relaksasi. Diagnosa
II 1. Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan,
diskusikan kehilangan secara terbuka dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan bahwa
berduka adalah reaksi yang umum dan sehat. 2. Memberikan dorongan penggunaan strategi
koping positif yang terbukti memberikan keberhasilan pada masa lalu. 3. Memberikan dorongan
pada klien untuk mengekpresikan atribut dari yang positif. 4. Membantu klien menyatakan dan
menerima kematian yang akan terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur. Meningkatkan
harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan ketidaknyamanan dan dukungan.
Diagnosa III 1. Meluangkan waktu bersama keluarga/orang terdekat klien dan tunjukkan
pengertian yang empati. 2. Mengizinkan keluarga klien/orang terdekat untuk mengekspresikan
perasaan, ketakutan dan kekhawatiran. 3. Menjelaskan akan lingkungan dan peralatan itu. 4.
Menjelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan memberikan
informasi spesifik tentang kemajuan klien. 5. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan
berpartisipasi dalam tindakan keperawatan. 6. Mengkonsul atau memberikan rujukan ke sumber
komunitas dan sumber lainnya. Diagnosa IV 1. Menggali apakah klien menginginkan untuk
melaksanakan praktik atau ritual keagamaan atau spiritual yang diizinkan bila ia memberikan
kesempatan pada klien untuk melakukannya. 2. Mengekpresikan pengertian dan penerimaan
anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien. 3. Memberikan
privasi dan ketenangan untuk ritual, spiritual sesuai kebutuhan klien dan dapat dilaksanakan. 4.
Menawarkan untuk menghubungi religius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur
kunjungan menjelaskan ketersediaan pelayanan misalnya : alqur’an dan ulama bagi yang
beragama islam 3.5 Evaluasi a). Klien 1. Klien merasa nyaman (bebas dari rasa sakit) dan
mengekpresikan perasaannya pada perawat. 2. Klien tidak merasa sedih dan siap menerima
kenyataan. 3. Klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakkal dan klien sadar bahwa
setiap apa yang diciptakan Allah SWT akan kembali kepadanya. b). Keluarga Klien: 1. Keluarga
dapat mengekspresikan perasaan-parasaan, seperti : sedih, marah, kehilangan, dll. Dapat
mengutarakan pengalaman-pengalaman emosionalnya. Dapat melakukan kegiatan yang biasa
dilakukannya. Dapat membentuk hubungan baru dengan orang lain. BAB IV PENUTUP 4.1
Kesimpulan Dari penjelasan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa penyakit terminal adalah suatu
penyakit yag tidak bisa disembuhkan lagi. Kematian adalah tahap akhir kehidupan. Kematian
bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti priode sakit yang panjang . Terkadang
kematian menyerang usia muda tetapi selalu menunggu yang tua. Perawatan pasien yang akan
meninggal tetap harus dilakukan. Perawatan yang komprehensif tentang orang yang menjelang
ajal sangat jarang menuntut lebih dari manajemen symptom yang hati-hati dan – perhatian
terhadap kebutuhan dasar fisik pasien – secara perorangan – sebagai pribadi --- dan keluarganya.
Di samping menangani manajemen symptom, intervensi perawatan paliatif dan hospis dapat
ditujukan untuk menolong seseorang untuk mencapai perasaan beres dalam dimensi social dan
relas antar pribadi, untuk membangun atau memperdalam perasaan bermakna dan menemukan
perasaan keunikan mereka sendiri dalam makna hidup. Yang paling mendasar adalah, perawat
dapat melayani dengan cara menghadirkan diri secara penuh. Mungkin kita tidak memiliki
jawaban untuk pertanyaan eksistensial tentang hidup dan kematian lebih daripada orang yang
sedang meninggal. Mungkin kita tidak dapat mengurangi semua perasaan menyesal dan takut
menghadapi ketidaktahuan. Namun, bukan tugas kita untuk menjawab semua masalah itu. Tugas
utama seorang perawat adalah berdiri di samping pasien, terus menerus menyediakan perawatan
fisik dan psikososial yang diperlukan, sementara itu pasien sendiri berjuang untuk mencari
jawabannya. 4.2 Saran Hal yang paling diperlukan dalam penanganan pasien dalam fese terminal
adalah pendekatan secara moral, social dan spiritual. Peran utama perawat dalam keadaan ini
ditekankan pada kemampuan untuk mempersiapkan pasien secara utuh dalam menerima
keadaanya dan mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian secara damai. DAFTAR
PUSTAKA Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
1990. Asuhan Keperawatan pada Pasien/Klien yang tidak ada Harapan Sembuh, Jilid IV, Edisi I.
Jakarta [diakses tanggal 27 Maret 2010] [diakses tanggal 27 Maret 2010] [diakses tanggal 27
Maret 2010] [diakses tanggal 27 Maret 2010]

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/detra18/kebutuhan-dasar-manusia-ii-konsep-dan-
asuhan-keperawatan-pada-pasien-terminal-dan-menjelang-ajal_552bc1ae6ea834027a8b4616
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL

A PENGERTIAN
Penyakit terminal adalah suatu penyakit yag tidak bisa disembuhkan lagi. Kematian adalah tahap
akhir kehidupan. Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti priode sakit
yang panjang . Terkadang kematian menyerang usia muda tetapi selalu menunggu yang tua.

B. TAHAP-TAHAP BERDUKA
Dr.Elisabeth Kublerr-Ross telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi pada
pasien menjelang ajal :
1. Denial ( pengingkaran )
Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat menerima
informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan mungkin mengingkarinya
2. Anger ( Marah )
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal
3. Bergaining ( tawar-menawar )
Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien
mencoba menawar waktu untuk hidup
4. Depetion ( depresi )
Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati.ia sangat sedih
karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman.
5. Acceptance ( penerimaan)
Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia akan meninggal.
Ia akan berusaha keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum terselesaikan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL

A. PENGKAJIAN

1) Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang

b. Riwayat kesehatan dahulu


Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien

2) Head To Toe
Perubahan fisik saat kematian mendekat
1. pasien kurang rensponsif
2. fungsi tubuh melambat
3. pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja
4. rahang cendrung jatuh
5. pernafasan tidak teratur dan dangkal
6. sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah
7. kulit pucat
8. mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Ansietas/ ketakutan individu , keluarga ) yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang
tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek
negatif pada pada gaya hidup
b) Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan
fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain
c) Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan keluarga,takut
akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres ( tempat perawatan )
d) Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung
keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian

KRITERIA HASIL

a) Klien atau keluarga akan :


1. mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan gangguan
2. menceritakan pikiran tentang efek gangguan pada fungsi normal , tanggung jawab peran dan
gaya hidup
b) Klien akan :
1. mengungkapkan kehilangan dan perubahan
2. mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilang dan perubahan
3. menyatakan kematian akan terjadi

Anggota keluarga akan melakukan hal berikut :


Mempertahankan hubunag erat yang efektif, yang dibuktikan dengan cara berikut:
a. menghabiskan waktu bersama klien
b. memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien
c. berpartisipasi dalam perawatan
c) Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan:
1. Megungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien
2. Mengungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan
3. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien
d) klien akan mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan
terhadap ancaman kematian

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa I
Ansietas / ketakutan ( individu , keluarga ) yang berhubungan denga situasi yang tak dikenal.
Sifat kondisi yang tak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negative pada gaya
hidup.

Criteria Hasil
Klien atua keluarga akan :
1. mengunkapkan ketakutannya yang brhubungan dengan gangguan
2. menceriktakan tentang efek ganmguan pada fungsi normal, tanggungn jawab, peran dan gaya
hidup
No Intervensi Rasional
1 Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya :
a. berikan kepastian dan kenyamanan
b. tunjukkan perasaan tentang pemahman dan empti, jangan menghindari pertanyaan
c. dorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan
pengobtannya
d. identifikasi dan dukung mekaniosme koping efektif Klien yang cemas mempunbyai
penyempitan lapang persepsi denagn penurunan kemampuan untuk belajar. Ansietas cendrung
untuk memperburuk masalah. Menjebak klien pada lingkaran peningkatan ansietas tegang,
emosional dan nyeri fisik
2 Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan pernyuluhan bila tingkatnya rendah atau sedang
Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat dihilangkan denga
memberikan informasi akurat. Klien dengan ansietas berat atauparah tidak menyerap pelajaran
3 Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan mereka Pengungkapan
memungkinkan untuk saling berbagi dan memberiakn kesempatan untuk memperbaiki konsep
yang tidak benar
4 Berika klien dan keluarga kesempatan dan penguatan koping positif Menghargai klien untuk
koping efektif dapat menguatkan renson koping positif yang akan datang

Diagnosa II
Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang akan dihadapi penurunan
fungsi, perubahan konsep diri dan menark diri dari orang lain

Klien akan :
1. Mengungkapakan kehilangan dan perubahan
2. Mengungkapakan perasaan yang berkaitan kehilangan dan perubahan
3. Menyatakan kematian akan terjadi

Anggota keluarga akan melakukan hal berikut : mempertahankan hubungan erat yang efektif ,
yang dibuktikan dengan cara sbb:
a. menghabiskan waktu bersama klien
b. memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien
c. berpartisipasi dalam perawatan
-*
No Intervensi Rasional
1 Berikan kesempatan pada klien da keluarga untuk mengungkapkan perasaan, didiskusikan
kehilangan secara terbuka , dan gali makna pribadi dari kehilangan.jelaskan bahwa berduka
adalah reaksi yang umum dan sehat Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang
dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat menyebabkan menimbulkan perasaan
ketidak berdayaan, marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya. Diskusi
terbuka dan jujur dapat membantu klien dan anggota keluarga menerima dan mengatasi situasi
dan respon mereka terhdap situasi tersebut
2 Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang terbukti yang memberikan
keberhasilan pada masa lalu Stategi koping fositif membantu penerimaan dan pemecahan
masalah
3 Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut diri yang positif Memfokuskan
pada atribut yang positif meningkatkan penerimaan diri dan penerimaan kematian yang terjadi
4 Bantu klien mengatakan dan menerima kematian yang akan terjadi, jawab semua pertanyaan
dengan jujur Proses berduka, proses berkabung adaptif tidak dapat dimulai sampai kematian
yang akan terjadi di terima
5 Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan ketidak nyamanan dan
dukungan Penelitian menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai tindakan
keperawatan berikut :
a. Membantu berdandan
b. Mendukung fungsi kemandirian
c. Memberikan obat nyeri saat diperlukandan
d. meningkatkan kenyamanan fisik ( skoruka dan bonet 1982 )

DIAGNOSA III
Perubahan proses keluarga yang berhubunga dengan gangguan kehidupan takut akan hasil
( kematian ) dan lingkungannya penuh stres ( tempat perawatan )

Anggota kelurga atau kerabat terdekat akan :


1. megungkpakan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien
2. menungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkkunagntempat perawatan
3. melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selam perawatan klien

No Intervensi Rasional
1 Luangkan waktu bersama keluarga atau orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang
empati Kontak yang sering dan me ngkmuikasikan sikap perhatian dan peduli dapat membantu
mengurangi kecemasan dan meningkatkan pembelajaran
2 Izinkan keluarga klien atau orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan, ketakutan dan
kekawatiran. Saling berbagi memungkinkan perawat untuk mengintifikasi ketakutan dan
kekhawatiran kemudian merencanakan intervensi untuk mengatasinya
3 Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU
Informasi ini dapat membantu
mengurangi ansietas yang berkaitan

dengan ketidak takutan


4 Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan berikan
informasi spesifik tentang kemajuan klien
5 Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan perawan Kunjungan dan
partisipasi yang sering dapat meningakatkan interaksi keluarga berkelanjutan
6 Konsul dengan atau berikan rujukan kesumber komunitas dan sumber lainnya Keluarga
denagan masalah-masalh seperti kebutuhan financial , koping yang tidak berhasil atau konflik
yang tidak selesai memerlukan sumber-sumber tambahan untuk membantu mempertahankankan
fungsi keluarga

Diagnosa IV
Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung
keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian
Klien akan mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap
ancaman kematian

No Intervensi Rasional
1 Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual keagamaan atau
spiritual yang diinginkan bila yang memberi kesemptan pada klien untuk melakukannya Bagi
klien yang mendapatkan nilai tinggi pada do,a atau praktek spiritual lainnya , praktek ini dapat
memberikan arti dan tujuan dan dapat menjadi sumber kenyamanan dan kekuatan
2 Ekspesikan pengertrian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik
religius atau spiritual klien Menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu mengurangi
kesulitan klien dalam mengekspresikan keyakinan dan prakteknya
3 Berikan prifasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai kebutuhan klien dapat dilaksanakan
Privasi dan ketenangan memberikan lingkungan yang memudahkan refresi dan perenungan
4 Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdo,a bersama klien lainnya atau membaca buku ke
agamaan Perawat meskipun yang tidak menganut agama atau keyakinan yang sama dengan klien
dapat membantu klien memenuhi kebutuhan spritualnya
5 Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religius atau rohaniwan rumah sakit untuk
mengatur kunjungan. Jelaskan ketidak setiaan pelayanan ( kapel dan injil RS ) Tindakan ini
dapat membantu klien mempertahankan ikatan spiritual dan mempraktikkan ritual yang penting (
Carson 1989 )
D. IMPLEMENTASI
Diagnosa I
1. Membantu klien untuk mengurangi ansientasnya :
a. memberikan kepastian dan kenyamanan
b menunjukan perasan tentang pemahaman dan empati ,jangan menghindari petayaan
c mendorong klien untuk mengungkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan
pengobotannya.
d. menditifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif
2. Mengkaji tingkat ansientas klien .merencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah atau
sedang
3. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan atau pikiran mereka
4. Memberikan klien dan keluarga dengan kepastian dan penguatan prilaku koping positif
5. Memberikan dorongan pada klien unyuk menggunakan teknik relaksasi seperti paduan
imajines dan pernafasan relaksasi

Diagnosa II
1. Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga unyiuk mengungkapkan
perasaan,diskusikan kehilangan secara terbuka dan gali makna pribadi dari kehilangan.jelaskan
bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.
3. Memberikan dorongan penggunaam strategi koping positif yang terbukti memberikan
keberhasilan pada masa lalu
4. Memberikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut dari yang positif
5. Membantu klien menyatakan dan menerima kematian yang akan terjadi,jawab semua
pertanyaan dengan jujur
6. Meningkatkan harapan dengan perawtan penuh perhatian , menghilangkan ketidak nyamanan
dan dukungan

Diagnosa III
1. Meluangkan waktu bersama keluarga / orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang
empati
2. mengizinkan keluarga klien / orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan ,ketakutan dan
kekhwatiran
3. Menjelaskankan lingkungan dan peralatan itu
4. Menjelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan
memberikaninformasi spesifik tentang kemajuan klien
5. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan keperawatan
6. Mengkonsul atau memberikan rujukan ke sumber komunitas dan sumber lainnya

Diagnosa IV
1. Menggali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktik atau ritual keagamaan atau
spiritual yang diizinkan bila ia memberikan kesempatan pada klien untuk melakukannya
2. mengekpresikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik
religius atau spiritual klien
3. Memberika privasi dan ketenangan untuk ritual, spiritual sesuai kebutuhan klien dan dapat
dilaksanakan
4. Menawarkan untuk menghubungi r eligius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur
kunjungan menjelaskan ketersediaan pelayanan misalnya : alqur’an dan ulama bagi yang
beragama islam

EVALUASI
1. klien merasa nyaman dan mengekpresikan perasaannya pada perawat
2. klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan
3. klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakkal
4. klien sadar bahwa setiap apa yang diciptakan Allah SWT akan kembali kepadanya
Peran perawat sangat komprehensif dalam menangani klien karena peran perawat adalah
memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual klien. Namun peran spiritual
ini sering kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk
pasien terminal yang didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut.
Menurut Dadang Hawari (1977,53) “ orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang
sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian
sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”.
Pasien terminal biasanya dihinggapi rasa depresi yang berat, perasaan marah akibat
ketidakberdayaan dan keputusasaan. Dalam fase akhir kehidupannya ini, pasien tersebut selalu
berada di samping perawat. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan spiritual dapat meningkatkan
semangat hidup klien yang didiagnosa harapan sembuhnya tipis dan dapat mempersiapkan diri
pasien untuk menghadapi alam yang kekal.
Menurut konsep Islam, fase akhir tersebut sangat menentukan baik atau tidaknya kematian
seseorang dalam menuju kehidupan alam kekal dan perawat sendiri kelak akan diminta
pertanggungjawaban oleh ALLAH SWT karena upaya pemenuhan kebutuhan pasien di rumah
sakit mutlak diperlukan.
Perawat hendaknya meyakini bahwa sesuai dengan ajaran islam dalam menjalani fase akhir dari
kehidupan manusia di dunia terdapat fase sakaratul maut. Fase sakaratul maut seringkali di
sebutkan oleh Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkan sehingga kita
diajarkan do’a untuk diringankan dalam fase sakaratul maut.
Gambaran tentang beratnya sakaratul maut dijelaskan dalam Al Qur,an dan hadis. “ Kalau
sekiranya kamu dapat melihat malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir seraya memukul
muka dan belakang mereka serta berkata “rasakan olehmu siksa neraka yang membakar”
(niscaya kamu akan merasa sangat nyeri) (QS Al Anfal: 50). Alangkah dasyatnya sekiranyakamu
melihat diwaktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan
para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) “keluakanlah nyawamu!)” Pada hari
ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan
terhadap ALLAH perkataan yang tidak benar dankarena kamu selalu menyombongkan diri
terhadap ayat-ayat-Nya” (QS. Al An’am :93)
Cara malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan
bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada ALLAH maka malaikat Izrail
mencanut nyawanya dengan kasar. Sebaliknya bila terhadap orang sholeh cara mencabutnya
dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa
dengan raga tetap amat menyakitkan. “ Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali
sakitnya di pukul pedang. “ ( HR. Ibnu Abu Dunya)
Melihat batapa sakitnya sakaratul maut maka perawat harus melakukan upaya –upaya sebagai
berikut :
1. Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT. Pada sakaratul maut perawat
harus membimbing agar berbaik sangka kepada Allah sebagaimana Hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Muslem. Jangan sampai seorang dari kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik
sangka kepada Allah, selanjutnya Allah berfirman dalam hadist qudsi, Aku ada pada sangka-
sangka hambaku, oleh karena itu bersangkalah kepadaKu dengan sangkaaan yang baik .
Selanjutnya Ibnu Abas berkata, Apabila kamu melihat seseorang menghadapi maut, hiburlah dia
supaya bersangka baik pada Tuhannya dan akan berjumpa dengan Tuhannya itu. Selanjutnya
Ibnu Mas´ud berkata : Demi Allah yang tak ada Tuhan selain Dia, seseorang yang berbaik
sangka kepada Allah maka Allah berikan sesuai dengan persangkaannya itu. Hal ini
menunjukkan bahwa kebaikan apapun jua berada ditangannya.
2. Mentalkinkan dengan Kalimat Laailahaillallah. Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah
laaillallah dapat dilakukan pada pasien terminal menjelang ajalnya terutama saat pasien akan
melepaskan nafasnya yang terakhir.

Wotf, Weitzel, Fruerst memberikan gambaran ciri-ciri pokok klien terminal yang akan
melepaskan nafasnya yang terakhir, yaitu penginderaan dan gerakan menghilang secara
berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki.
Meskipun suhu tubuh pasien biasanya tinggi ia terasa dingin dan lembab mulai pada kaki tangan
dan ujung hidung, kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat. Nadi mulai tak teratur, lemah
dan pucat. Terdengar suara ngorok disertai gejala nafas cyene stokes. Dengan menurunnya
tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi
hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi
mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.
Dalam keadaan yang seperti itu peran perawat disamping memenuhi kebutuhan fisiknya juga
harus memenuhi kebutuhan spiritual pasien muslim agar diupayakan meninggal dalam keadaan
Husnul Khatimah. Perawat membimbing pasien dengan mentalkinkan (membimbing dengan
melafalkan secara berulang-ulang), sebagaimana Rasulullah mengajarkan dalam Hadist Riwayat
Muslim,
Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat Laailahaillallah karena
sesungguhnya seseoranng yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah
bekalnya sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka
itulah bekalnya menuju surga . Selanjutnya Umar Bin Ktahab berkata Hindarilah orang yang
mati diantara kami dan dzikirkanlah mereka dengan ucapan Laailahaillahllah, maka
sesungguhnya mereka (orang yang meninggal) melihat apa yang tidak bisa, kamu lihat .
3. berbicara yang Baik dan Do´a untuk jenazah ketika menutupkan matanya. Di samping
berusaha memberikan sentuhan (Touching) perawat muslim perlu berkomunikasi terapeutik,
antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda: Bila kamu datang
mengunjungi orang sakit atau orang mati, hendaklah kami berbicara yang baik karena
sesungguhnya malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan. Selanjutnya
diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah bersabda apabila kamu menghadiri orang yang
meninggal dunia di antara kamu, maka tutuplah matanya karena sesungguhnya mata itu
mengikuti ruh yang keluar dan berkatalah dengan kata-kata yang baik karena malaikat
mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan.
Berdasarkan hal diatas perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien merasa
yakin bahwa Allah Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya, mendo’akan
dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas, dari jasadnya.
Panduan bagi pasien sakaratul maut

Bimbingan rohani pasien merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam
upaya pemenuhan kebutuhan bio-Psyco-Socio-Spritual ( APA, 1992 ) yang komprehensif,
karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual ( Basic spiritual
needs, Dadang Hawari, 1999 ).
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang
menyatakan bahwa aspek agama ( spiritual ) merupakan salah satu unsur dari pengertian
kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itu dibutuhkan dokter, terutama perawat untuk
memenuhi kebutuhan spritual pasien.

Perawat memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan
spiritual klien. Akan tetapi, kebutuhan spiritual seringkali dianggap tidak penting oleh perawat.
Padahal aspek spiritual sangat penting terutama untuk pasien yang didiagnosa harapan
sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut dan seharusnya perawat bisa menjadi
seperti apa yang dikemukakan oleh Henderson, “The unique function of the nurse is to assist the
individual, sick or well in the performance of those activities contributing to health or its
recovery (or to a peaceful death) that he would perform unaided if he had the necessary strength
will or knowledge”,maksudnya perawat akan membimbing pasien saat sakaratul maut hingga
meninggal dengan damai.

Biasanya pasien yang sangat membutuhkan bimbingan oleh perawat adalah pasien terminal
karena pasien terminal, pasien yang didiagnosis dengan penyakit berat dan tidak dapat
disembuhkan lagi dimana berakhir dengan kematian, seperti yang dikatakan Dadang Hawari
(1977,53) “orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak
mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual,dan krisis kerohanian sehingga pembinaan
kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”. Sehingga, pasien
terminal biasanya bereaksi menolak, depresi berat, perasaan marah akibat ketidakberdayaan dan
keputusasaan. Oleh sebab itu, peran perawat sangat dibutuhkan untuk mendampingi pasien yang
dapat meningkatkan semangat hidup klien meskipun harapannya sangat tipis dan dapat
mempersiapkan diri pasien untuk menghadapi kehidupan yang kekal.

Dalam konsep islam, fase sakaratul maut sangat menentukan baik atau tidaknya seseorang
terhadap kematiannya untuk menemui Allah dan bagi perawat pun akan dimintai
pertanggungjawabannya nanti untuk tugasnya dalam merawat pasien di rumah sakit. Dan fase
sakaratul maut adalah fase yang sangat berat dan menyakitkan seperti yang disebutkan
Rasulullah tetapi akan sangat berbeda bagi orang yang mengerjakan amal sholeh yang bisa
menghadapinya dengan tenang dan senang hati.
Ini adalah petikan Al-Quran tentang sakaratul maut,,
” Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.”(QS.50:19).
“ Alangkah dahsyatnya ketika orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul
maut.” (QS. 6:93)
Dalam Al-hadits tentang sakaratul maut..
Al-Hasan berkata bahwa Rasulullah SAW pernah mengingatkan mengenai rasa sakit dan duka
akibat kematian. Beliau bertutur, “Rasanya sebanding dengan tiga ratus kali tebasan pedang.”
(HR.Ibn Abi ad-Dunya)

Begitu sakitnya menghadapi sakaratul maut sehingga perawat harus membimbing pasien dengan
cara-cara,seperti ini:

1. Menalqin(menuntun) dengan syahadat

Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,


“Talqinilah orang yang akan wafat di antara kalian dengan, “Laa illaaha illallah”. Barangsiapa
yang pada akhir ucapannya, ketika hendak wafat, ‘Laa illaaha illallaah’, maka ia akan masuk
surga suatu masa kelak, kendatipun akan mengalami sebelum itu musibah yang akan
menimpanya.” Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah laaillallah dapat dilakukan pada
pasien muslim menjelang ajalnya terutama saat pasien akan melepaskan nafasnya yang terakhir
sehingga diupayakan pasien meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Para ulama berpendapat,” Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal dengan satu
bacaan talqin, maka jangan diulangi lagi. Kecuali apabila ia berbicara dengan bacaan-bacaan
atau materi pembicaraan lain. Setelah itu barulah diulang kembali, agar bacaan La Ilaha Illallha
menjadi ucapan terakhir ketika menghadapi kematian. Para ulama mengarahkan pada pentingnya
menjenguk orang sakaratul maut, untuk mengingatkan, mengasihi, menutup kedua matanya dan
memberikan hak-haknya.” (Syarhu An-nawawi Ala Shahih Muslim : 6/458)

Ciri-ciri pokok pasien yang akan melepaskan nafasnya yang terakhir, yaitu :

1. penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota
gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan
lembab,
2. kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat.
3. Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat.
4. Terdengar suara mendengkur
disertai gejala nafas cyene stokes.
5. Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada
biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot
rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah
menerima.

Meninggal dengan membaca syahadat

2. Hendaklah mendo’akannya dan janganlah mengucapkan dihadapannya kecuali kata-kata yang


baik

Berdasarkan hadits yang diberitakan oleh Ummu Salamah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah bersabda.

Artinya : “Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau orang yang hampir mati,
maka hendaklah kalian mengucapkan perkataan yang baik-baik karena para malaikat mengamini
apa yang kalian ucapkan.” Maka perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien
merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya,
mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas dari jasadnya.

3. Berbaik Sangka kepada Allah

Perawat membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT, seperti di dalam hadits
Bukhari“ Tidak akan mati masing-masing kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah
SWT.” Hal ini menunjukkan apa yang kita pikirkan seringkali seperti apa yang terjadi pada kita
karena Allah mengikuti perasangka umatNya

4. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut

Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang sedang
sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi
bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa
sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas
tersebut setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul
maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat.
(Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)

5. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat

Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut kearah kiblat.
Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Saw., hanya saja
dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut.
Para Ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat :

1. Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinya dihadapkan


kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap kearah
kiblat.
2. Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke kiblat.
Dan Imam Syaukai menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar.
Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut berbaring
kearah manapun yang membuatnya selesai.

WARNING ALERT

Sebagian orang terbiasa membaca Al-Qur’an didekat orang yang sedang menghadapi sakaratul
maut dengan berdasarkan pada hadits :

“bacalah surat Yaasiin untuk orang-orang yang meninggal dunia”

Dan hadits :

“tidak ada seorang manusia yang mati, kemudian dibacakan surat yaasiin untuknya, kecuali
Allah mempermudah segala urusannya”

Padahal kedua hadits tersebut dianggap sebagai hadits dha’if, tidak boleh memasukkannya
kedalam kitab Hadits.

Bahkan, Imam Malik telah mengatakan bahwa hokum membaca Al-Qur’an disisi mayat adalah
makruh. Dalam Kitabnya ‘Syarhu As-Syaghiir’(1/220):,”Dimakruhkan membaca salah satu ayat
dalam al-qur’an ketika datang kematian. Karena, tindakan tersebut tidak pernah dilakukan oleh
para salafus shalih. Sekalipun, semua itu diniatkan sebagai do’a, memohon ampun, kasih sayang
dan mengambil pelajaran,”.
Tuntunan dalam Mengurus Jenazah bagi Wanita

Alloh ‘azza wa jalla telah menuliskan kematian atas setiap jiwa. Sedangkan kekekalan hanyalah
khusus bagi Alloh. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman-Nya,
“Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai
kebesaran dan kemuliaan.” QS. Ar-Rahman ; 26-27
Bagi jenazah anak cucu Adam terdapat hukum-hukum khusus yang wajib dipenuhi dan
dilaksanakan oleh orang-orang yang masih hidup. Kami sebutkan didalam bab ini tentang hal-hal
yang berkaitan dengan pengurusan jenazah bagi wanita, diantaranya :

1. Para wanita wajib menguasai tata cara memandikan mayat perempuan dan tidak
diperbolehkan bagi laki-laki untuk memandikannya, kecuali suami karena ia berkewajiban
memandikan istrinya. Sebab Ali radhiyallohu ‘anhu memandikan istrinya, Fathimah bintu
Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam. Dan diperbolehkan bagi wanita memandikan mayit
suaminya, sebab Asma’ bintu Umais radhiyallohu ‘anha memandikan suaminya, Abu Bakar Ash
Shiddiq radhiyallohu ‘anhu.

2. Disunnahkan mengkafani mayat perempuan dengan 5 lembar kain putih yang terdiri dari
sarung, kerudung kepalanya, baju yang dipakainya, dan 2 kain lipatan yang melilit seluruh kain-
kain sebelumnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Laila ats-Tsaqafiyah, beliau berkata :
“Saya berada bersama para wanita yang memandikan Ummu Kultsum bintu Rosulullah ketika
wafatnya, dan pertama-tama yang Rosulullah berikan adalah sarung kemudian baju besi (jubah
muslimah atau sejenisnya), selanjutnya penutup kepala (kerudung/jilbab) kemudian selimut
kemudian dilipatkan setelah itu didalam pakaian yang lain.” HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud

3. Yang diperbuat dengan rambut kepala mayat wanita adalah menjadikannya 3 pintalan dan
mempertemukannya di bagian belakang, seperti hadits Ummu Athiyah tentang cara memandikan
putri Nabi sholallohu ‘alahi wasallam :“Maka kami pintal rambutnya menjadi 3 cabang dan kami
pertemukan dibelakangnya.” HR. Bukhari-Muslim.Hukum wanita mengiring jenazah.

4. Dari Ummu Athiyah radhiyallohu ‘anha berkata : “Kami dilarang (oleh Rosulullah sholallohu
‘alaihi wasallam) mengiringi jenazah namun tidak ditekankan (larangan tsb) kepada kami.” HR.
Bukhari – Muslim

5. Wanita dilarang menziarahi kubur.


Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam
melaknat wanita-wanita peziarah kubur.” HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan
dishohihkan olehnya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Telah diketahui bahwa perempuan apabila berziarah kubur, maka dia akan berkeluh kesah,
menangisi dan meratapi (mayat). Padahal kesemuanya itu menyiratkan kelemahan dan sedikitnya
kesabaran. Dengan menangisi (si mayat) hal ini dapat juga menyebabkan tersiksanya si mayat.
Bahkan dengan suara (tangisannya) dan pola tingkahnya tsb akan dapat menimbulkan daya tarik
bagi laki-laki (di sekitarnya). Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :
“Maka kalian (para wanita) telah menjadi penyebab timbulnya fitnah bagi yang hidup dan
menjadikan tersiksa bagi yang mati.”
Kemudian diharamkannya permasalahan ini (wanita berziarah kubur) adalah untuk membatasi
(menutupi) jalan fitnah, sebagaimana diharamkan memandang perhiasan yang terselip karena
akan menimbulkan fitnah. Hal itu -yakni wanita berziarah kubur- bukanlah suatu maslahah (yang
mendatangkan kebaikan), kecuali wanita tsb mendoakan bagi si mayat, dan ini memungkinkan
bila dilakukan didalam rumahnya.” [Majmu’ Fatawa ; 24/335-336]

6. Haram meratapi mayat, yaitu mengangkat suara dengan menangis, meratap dan merobek-
robek baju, menampar-nampar pipi, mengacak-acak rambut, menghitamkan wajah dan
melukainya sbg ungkapan keluh kesah atas si mayat, memanggil-manggil dengan perkataan
celaka (kasar) dan selainnya. Semua itu menunjukkan atas keluh kesah dari ketentuan Alloh dan
kekuasaan-Nya, serta tidak ada kesabaran pada dirinya. Maka hal tsb adalah haram dan dosa
besar sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahihain.
Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukan dari golongan kami orang yang
menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah dan
selainnya.”
“Sesungguhnya beliau sholallohu ‘alaihi wasallam berlepas (diri) dari shaliqah, haliqah, dan
syaaqah.”
Shaliqah : wanita yang mengangkat suaranya (berteriak) ketika tertimpa musibah.
Haliqah : Wanita mencukur rambutnya ketika mendapatkan musibah.
Syaaqah : Wanita yang merobek-robek pakaiannya ketika mendapatkan musibah.

Maka sebuah kewajiban atasmu, wahai muslimah, untuk menjauhkan perbuatan-perbuatan haram
ini ketika mendapatkan musibah dan kewajibanmu adalah (tetap dalam) kesabaran dan
introspeksi diri. Sehingga musibah ini menjadi renungan atas dosa-dosa dari keburukan-
keburukan yang telah dilakukan dan pahala-pahala dari kebaikan-kebaikan yang telah kamu
kerjakan.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang
yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘innaa
lillahi wa inna ilaihi raaji’uun’ mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan
rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. Al-
Baqarah ; 155-157
Dalam perkara ini diperbolehkan menangis yang tidak disertai ratapan dan perbuatan-perbuatan
yang diharamkan serta tidak marah terhadap ketentuan dan kekuasaan Alloh.

-diringkas dari kitab “Tanbihaat ‘ala Ahkam Takhtashu bil Mu’minaat” karya Syaikh Sholih Al
Fauzan-
Kewajiban Mengurus Jenazah

Kewajiban muslim dalam mengurus jenazah adalah fardhu kifayah, dimana ketika ada jenazah
dan sudah ada satu orang yang menghandle mengurus jenazah mulai memandikan hingga
menguburkan, maka muslim tidak perlu harus menghandle
nya. Melihat hukumnya ini maka sangat jarang pekerjaan pengurus jenazah ditemukan. Padahal
pekerjaan ini sangat mulia kenapa tidak jadi rebutan orang untuk berlomba-lomba
melakukannya, padahal jika kita dapat mengurus jenazah orang2 sholeh dan orang-orang yang
berjihad di jalan Allah sungguh menyenangkan, yang semoga banyak keutamaan dan pelajaran
darinya agar kitapun berharap mampu seperti mereka.
Beranikah kita menghadapi jenazah? Kalau takut jangan deh nanti malah kebawa mimpi.
kemudian pengurus jenazah tidak boleh jijik akan kondisi mayat, karena dalam kondisi di
lapangan mayat itu kondisinya bermacam-macam. Bisa jadi kondisi mayat penuh luka, atau bau
dan lain-lain. Jadi harus siap menghadapi ini. Seperti halnya dokter atau perawat yang tidak jijik
terhadap kondisi pasien dan tukang sampah yang tidak geli terhadap sampah.Diperlukan
ketelatenan juga bagi seseorang untuk mengurusi mayat, dimana kita harus mampu
memperlakukan mayat dengan baik tidak boleh kasar dan harus selembut mungkin, dan didalan
kondisi di lapangan mayat bermacam-macam seperti k

aku, melotot dan lain-lain. Selain itu diperlukan ketelatenan pula mulai dari menyiapkan hal-hal
yang diperl

ukan untuk proses mengurus jenazah, memandikan, menkafani hingga menguburkan. Sehingga
diperlukan pengetahuan yang benar sesuai dengan syariat yang dicontohkan rasul agar tidak
mengandung bid’ah. Dan semuanya ini dilakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

LANTAS APA PERAN PERAWAT DALAM MENANGANI JENAZAH MUSLIM????

Peran perawat sangat komprehensif dalam menangani klien karena peran perawat adalah
memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual klien. Namun peran spiritual
ini sering kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk
pasien terminal yang didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut.
Menurut Dadang Hawari (1977,53) “ orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang
sakaratul maut lebih banyak mengalami p

enyakit kejiwaan, krisis spiritual,dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien
menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”.
Pasien terminal biasanya dihinggapi rasa depresi yang berat, perasaan marah akibat
ketidakberdayaan dan keputusasaan. Dalam fase akhir kehidupa

nnya ini, pasien tersebut selalu berada di samping

perawat. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan spiritual dapat meningkatkan semangat hidup
klien yang didiagnosa harapan sembuhnya tipis dan dapat mempersiapkan diri pasien untuk
menghadapi alam yang kekal.

Menurut konsep Islam, fase akhir tersebut sangat menentukan baik

atau tidaknya kematian seseorang dalam menuju kehidupan alam kekal dan perawat sendiri kelak
akan diminta pertanggungjawaban oleh ALLAH SWT karena upaya pemenuhan kebutuhan
pasien di rumah sakit mutlak diperlukan.
Perawat hendaknya meyakini bahwa sesuai dengan ajaran islam dalam menjalani fase akhir dari
kehidupan manusia di dunia terdapat fase sakaratul maut. Fase sakaratul maut seringkali di
sebutkan oleh Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkan sehingga kita
diajarkan do’a untuk diringankan dalam fase sakaratul maut.
Gambaran tentang beratnya sakaratul maut dijelaskan dalam Al Qur,an dan hadis. “ Kalau
sekiranya kamu dapat melihat malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir seraya memukul
muka dan belakang mereka serta berkata “rasakan olehmu siksa neraka yang membakar”
(niscaya kamu akan merasa sangat nyeri) (QS Al Anfal: 50). Alangkah dasyatnya sekiranyakamu
melihat diwaktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan
para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) “keluakanlah nyawamu!)” Pada hari
ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan
terhadap ALLAH perkataan yang tidak b

enar dankarena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS. Al An’am :93)
Cara malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan
bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada ALLAH maka malaikat Izrail
mencanut nyawanya dengan kasar. Sebaliknya bila terhadap orang sholeh cara mencabutnya
dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa
dengan raga tetap amat menyakitkan. “ Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali
sakitnya di pukul pedang. “ ( HR. Ibnu Abu Dunya)

Melihat batapa sakitnya sakaratul maut maka perawat harus melakukan upaya –upaya sebagai
berikut :
1. Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT. Pada sakaratul maut perawat
harus membimbing agar berbaik sangka kepada Allah sebagaimana Hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Muslem. Jangan sampai seorang dari kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik
sangka kepada Allah, selanjutnya Allah berfirman dalam hadist qudsi, Aku ada pada sangka-
sangka hambaku, oleh karena itu bersangkalah kepadaKu dengan sangkaaan yang baik .
Selanjutnya Ibnu Abas berkata. Apabila kamu melihat seseorang menghadapi maut, hiburlah dia
supaya bersangka baik pada Tuhannya dan akan berjumpa dengan Tuhannya itu. Selanjutnya
Ibnu Mas´ud berkata : Demi Allah yang tak ada Tuhan selain Dia, seseorang yang berbaik
sangka kepada Allah maka Allah berikan sesuai dengan persangkaannya itu. Hal ini
menunjukkan bahwa kebaikan apapun jua berada ditangannya.

2. Mentalkinkan dengan Kalimat Laailahaillallah. Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah


laaillallah dapat dilakukan pada pasien terminal menjelang ajalnya terutama saat pasien akan
melepaskan nafasnya yang terakhir.
Wotf, Weitzel, Fruerst memberikan gambaran ciri-ciri pokok klien terminal yang akan
melepaskan nafasnya yang terakhir, yaitu penginderaan dan gerakan menghilang secara
berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki.
Meskipun suhu tubuh pasien biasanya tinggi ia terasa dingin dan lembab mulai pada kaki tangan
dan ujung hidung, kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat. Nadi mulai tak teratur, lemah
dan pucat. Terdengar suara ngorok disertai gejala nafas cyene stokes. Dengan menurunnya
tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi
hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi
mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.
Dalam keadaan yang seperti itu peran perawat disamping memenuhi kebutuhan fisiknya juga
harus memenuhi kebutuhan spiritual pasien muslim agar diupayakan meninggal dalam keadaan
Husnul Khatimah. Perawat membimbing pasien dengan mentalkinkan (membimbing dengan
melafalkan secara berulang-ulang), sebagaimana Rasulullah mengajarkan dalam Hadist Riwayat
Muslim,Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat Laailahaillallah
karena sesungguhnya seseoranng yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka
itulah bekalnya sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya
maka itulah bekalnya menuju surga . Selanjutnya Umar Bin Ktahab berkata Hindarilah orang
yang mati diantara kami dan dzikirkanlah mereka dengan ucapan Laailahaillahllah, maka
sesungguhnya mereka (orang yang meninggal) melihat apa yang tidak bisa, kamu lihat .

3. berbicara yang Baik dan Do´a untuk jenazah ketika menutupkan matanya. Di samping
berusaha memberikan sentuhan (Touching) perawat muslim perlu berkomunikasi terapeutik,
antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda: Bila kamu datang
mengunjungi orang sakit atau orang mati, hendaklah kami berbicara yang baik karena
sesungguhnya malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan. Selanjutnya
diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah bersabda apabila kamu menghadiri orang yang
meninggal dunia di antara kamu, maka tutuplah matanya karena sesungguhnya mata itu
mengikuti ruh yang keluar dan berkatalah dengan kata-kata yang baik karena malaikat
mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan.Berdasarkan hal diatas perawat harus berupaya
memberikan suport mental agar pasien merasa yakin bahwa Allah Pengasih dan selalu
memberikan yang terbaik buat hambanya, mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang
terbuka saat roh terlepas, dari jasadnya.