Anda di halaman 1dari 2

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Kepemimpinan Administrator


Angkatan : Angkatan I Tahun 2020
Nama Mata Pelatihan : Ceramah: Wawasan Kebangsaan
Kepemimpinan Pancasila dengan
Memperhatikan Potensi Kearifan Lokal
Nama Peserta : Murliadi Palham, S.T., M.Eng
Nomor Daftar Hadir : 34
Lembaga Penyelenggara : Pusbangkom PIMNAS dan Manajerial ASN
Lembaga Administrasi Negara RI

A. Pokok Pikiran

Manusia pada hakekatnya saling terkoneksi baik pada level pribadi


maupun pada level sebagai bangsa yang seyogyanya harus saling berbagi.
Namun sifat promordial, egoisme pribadi, dan egoisme kelompok sering
memutus koneksi tersebut.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jaring-jaring koneksifitas
yang sangat luas dan kompleks, serta penduduk yang sangat banyak dan
majemuk (agama, suku, bahasa, dan adat istiadat).
Sila-sila Pancasila menggambarkan keragaman tersebut, yaitu:
 Sila pertama menggambarkan keberagaman agama,
 Sila kedua menggambarkan keberagaman ras.
 Sila ketiga menggambarkan keberagaman suku dan adat istiadat.
 Sila keempat menggambarkan keberagaman aliran partai politik.
 Sila kelima menggambarkan keberagaman lapisan sosial.
Agar keberagaman tersebut tetap dapat terkoneksi, maka para
penyelenggara negara termasuk ASN harus memiliki keluasan mental
seluas indonesia dan kekayaan rohani sebanyak dan semajemuk
Indonesia.
Untuk membangun Indonesia yang luas ini, selain dibutuhkan modal
finansial, sumber daya alam, dan modal keterampilan, juga diperlukan
modal sosial yaitu jaringan-jaringan konektivitas dan inklusivitas sosial
yang tersambung dan mampu menyatukan keragaman kepingan-
kepingan kepentingan pribadi dan kelompok ke dalam suatu komunitas
persaudaraan bersama, yang menjadi tumpuan rasa saling percaya.
Untuk menjadi kekuatan kolektif yang kohesif, konektivitas dan
inklusivitas ini harus diikat oleh kesamaan basis moralitas (shared
values) yang menjadi titik temu semua keberagaman yang ada yaitu
Pancasila.
Selain sebagai Titik Temu, Pancasila juga merupakan Titik Tumpu dan
Titik Tuju. Sebagai Titik Tumpu Pancasila menjadi dasar segala peraturan
perundangan dan sebagai Titik Tuju Pancasila menjadi tujuan kemana
Bangsa Indonesia akan diarahkan.
Inti dari Pancasila adalah semangat gotong royong (golden rule). Dengan
gotong royong akan membuat kita rela bekerja sama, tolong menolong,
dan saling berbagi satu sama lain. Semangat gotong royong tersebut telah
ada di masyarakat Indonesia, baik di masing-masing suku maupun
agama.
Relasi kasih manusia dengan Tuhan pencipta, dengan sesama manusia,
dan dengan alam semesta (tanah air dan segala pergaulan hidupnya)
merupakan esensi dari sila pertama, kedua, dan ketiga Pancasila.
Sedangkan sila keempat dan kelima merupakan perwujudan dan
implementasi sila kesatu, kedua, dan ketiga.
Dengan demikian, sila kesatu, kedua, dan ketiga merupakan landasan
etis Pancasila, sila keempat merupakan landasan institusional, dan sila
kelima sebagai materi dengan kooperatif yang berorientasi pada keadilan
hidup bersama.
Di balik setiap krisis termasuk pandemi covid-19 selalu ada harapan dan
peluang bagi yang sukma dan cakrawalanya terbuka.

B. Penerapan
Semangat kebersamaan dan kegotongroyongan harus terus
dikembangkan dan didayagunakan sebagai nilai penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan dalam rangka penguatan integritas
sosial serta untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan
memperkuat NKRI yang harus tetap dikembangkan dan dilestarikan.

Beberapa bentuk kegiatan yang dilandasi semangat gotong royong guna


meningkatkan kinerja pembangunan seperti:
 Sinergitas Pemda dan TNI dalam membangun desa, memperbaiki
jalan, membangun jembatan, membuat TPS (Tempat Pembuangan
Sampah) sementara, bersih-bersih sungai, dan pembenahan rumah
ibadah.
 Penyelenggaraan program dan kegiatan padat karya untuk
dilaksanakan secara gotong royong.
 Penyelenggaraan pembangunan infrastruktur secara swakelola.
 Pencanangan dan penyelenggaraan Bulan Bhakti Gotong Royong dan
Jumat Bersih.